Kamis, 16 November 2017

Kiai Langitan-Kiai Kampung Distorsikan Kiai

Surabaya, Haedar Nashir. Ketua Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Jawa Timur Dr KH Ali Maschan Moesa MSi menilai sebutan kiai Langitan, kiai kampung, dan sejenisnya pada hakekatnya mendistorsikan (mengaburkan makna) kiai/ulama.

"Kiai Langitan, Kiai Kampung, dan sebagainya itu hanya sebutan atau identitas yang sifatnya untuk kepentingan sesaat seperti halnya sebutan kiai plat merah atau kiai plat kuning di masa lalu," ujarnya di Surabaya, (20/2).

Doktor bidang Ilmu Sosial yang alumnus Universitas Airlangga (Unair) Surabaya itu mengemukakan hal itu menanggapi mobilisasi para kiai dalam berbagai kegiatan partai politik dengan istilah yang berbeda.

Kiai Langitan-Kiai Kampung Distorsikan Kiai (Sumber Gambar : Nu Online)
Kiai Langitan-Kiai Kampung Distorsikan Kiai (Sumber Gambar : Nu Online)

Kiai Langitan-Kiai Kampung Distorsikan Kiai

Menurut pengasuh Pesantren Luhur Al-Husna, Jemurwonosari, Surabaya itu, sebutan yang sesaat akan mendistorsikan eksistensi kiai, karena sebutan yang ada akan membenturkan dunia spiritual dengan dunia politis.

"Para kiai hendaknya tidak terjebak ke dalam kepentingan sesaat, melainkan tetap istiqomah dalam eksistensi kekiaian, sebab kepentingan sesaat yang menyentuhkan agama dengan politik akan mengandung dua resiko yang berbahaya," ungkapnya.

Haedar Nashir

Dosen IAIN Sunan Ampel Surabaya itu menyatakan dua resiko sebagai dampak dari persentuhan agama dengan politik adalah agama menjadi instrumen (alat) politik dan munculnya kecenderungan radikalisasi atau kekerasan atas nama agama.

"Eksistensi kiai itu sesungguhnya tidak bersifat sesaat, melainkan sosok yang tetap istiqomah (konsisten) dalam lima kriteria seperti dikatakan filosof Imam Ghozali," paparnya.

Lima kriteria kiai adalah alim (mumpuni dalam keilmuan), abidan (ahli ibadah), zuhud (hidup sederhana), waro’ (menghindari hal-hal yang subhat atau tidak jelas status halal-haramnya), dan memiliki komitmen kerakyatan (mengasihi orang kecil).

"Tugas NU adalah mengajak para kiai untuk kembali kepada ajaran Islam bahwa Allah itu tidak melihat wajah (identitas), melainkan perilaku (eksistensi), namun ajakan itu tidak mudah, apalagi mendekati Pilkada, Pilgub, Pilpres, atau Pemilu," ucapnya.

Haedar Nashir

Oleh karena itu, katanya, NU mengimbau para kiai untuk mampu menjaga eksistensi diri dengan tidak terlalu dekat atau terlalu jauh dari politik, sehingga agama justru dikorbankan menjadi sebatas instrumen dalam politik praktis. (ant/mad)



Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Hikmah, Jadwal Kajian, Daerah Haedar Nashir

Gelar Aksi 2015, Gusdurian Libatkan 40 Komunitas

Solo, Haedar Nashir. Jaringan Gusdurian Indonesia menggelar kegiatan bertajuk “15 Pesan untuk Masa Depan Aksi/2015” yang diadakan secara serentak di berbagai daerah di Indonesia, Kamis (15/1).

Gelar Aksi 2015, Gusdurian Libatkan 40 Komunitas (Sumber Gambar : Nu Online)
Gelar Aksi 2015, Gusdurian Libatkan 40 Komunitas (Sumber Gambar : Nu Online)

Gelar Aksi 2015, Gusdurian Libatkan 40 Komunitas

Menurut perwakilan dari Seknas Jaringan Gusdurian Indonesia, Tata, dalam sebuah acara kongkow bareng para relawan dari Gusdurian mengajukan satu pertanyaan yang sama kepada warga yang lewat di sekitar lokasi kongkow: "Selain kesejahteraan ekonomi, apa hal penting yang harus diperhatikan pemerintah untuk memakmurkan rakyatnya?"

“Selama ini, banyak target-target pembangunan yang tidak sesuai karena minimnya keterlibatan berbagai pihak terutama pihak rakyat sebagai pihak penerima manfaat. Target pembangunan hanya dibahas dan diimplementasikan oleh kelompok elit selama ini,” paparnya.

Haedar Nashir

Tata menambahkan, kegiatan ini melibatkan 40 lebih komunitas. “Komunitas Gusdurian juga ikut turun untuk aksi serentak di 20 kota. Tapi sebagian juga ada yang turun pada tanggal lain,” terangnya saat dihubungi Haedar Nashir.

Haedar Nashir

Seperti halnya di Kota Solo yang akan mengadakan Program Aksi 2015 ini pada Ahad (18/1) mendatang. Koordinator Gusdurian Jawa Tengah, Hussein Syifa, menjelaskan Komunitas Gusdurian di Solo akan turun pada acara car free day. “Kemungkinan pengumpulan data juga akan dilanjutkan pada acara khataman di Pesantren Al-Muayyad akhir Januari ini,” ujarnya.

Lebih lanjut ditambahkan Hussein, hasil pendataan tersebut, nantinya akan dikumpulkan ke Seknas Gusdurian, untuk kemudian dikristalkan menjadi 15 pesan yang dapat dijadikan sebagai bekal untuk mengadakan program advokasi di masing-masing daerah. (Ajie Najmuddin/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Pertandingan Haedar Nashir

Kelas Desain Grafis Diminati Pelajar IPPNU Banyuwangi

Banyuwangi, Haedar Nashir - Sejumlah kader Ikatan Pelajar Putri Nahdlatul Ulama (IPPNU) Banyuwangi mengikuti kelas desain grafis di basecamp Genteng, Ahad (8/1). Kelas pelatihan ini dihadiri oleh 13 peserta yang terdiri dari pengurus cabang dan beberapa pengurus anak cabang IPPNU Banyuwangi.

Menurut Ketua Panitia, Fitriyah, kelas desain grafis ini akan dilaksanakan 3 kali pertemuan agar peserta mampu mengenal dasar-dasar desain grafis dan dapat mempraktikkan setelah mengikuti kelas tersebut. Jumlah peserta yang mengikuti kelas desan grafis ini dibatasi agar pelatihan dapat berjalan secara efektif.

Kelas Desain Grafis Diminati Pelajar IPPNU Banyuwangi (Sumber Gambar : Nu Online)
Kelas Desain Grafis Diminati Pelajar IPPNU Banyuwangi (Sumber Gambar : Nu Online)

Kelas Desain Grafis Diminati Pelajar IPPNU Banyuwangi

Pertemuan pertama yang dibimbing oleh pemateri Fahmi Nuris Syafaat. Peserta diajarkan menginstal salah satu aplikasi desain grafis corel draw dan pengenalan sejumlah komponen di dalamnya. Selanjutnya, materi pengoperasian corel draw dan membuat desain akan diajarkan pada pertemuan selanjutnya, 15 Januari 2017.

Salah satu program yang dicetuskan oleh IPPNU Banyuwangi ini mendapatkan apresiasi besar dari kader-kader IPPNU di Banyuwangi. Pasalnya, penguasaan terhadap teknologi informasi dan komunikasi memang sangat dibutuhkan oleh pemuda khususnya di kalangan Nahdlatul Ulama.

Haedar Nashir

Haedar Nashir

Kelas pelatihan desain grafis ini menjadi salah satu program unggulan. IPPNU Banyuwangi membutuhkan banyak desainer visual grafis guna mewujudkan beberapa program lainnya seperti halnya pembuatan poster lomba, membuat meme yang bernilai syiar dan edukasi.

“Saya bangga ber-IPPNU. Di IPPNU bukan hanya kita diajak berorganisasi, tapi kita di sini belajar dan mengasah potensi diri. Salah satunya dengan adanya kelas desain ini semoga bisa menarik perhatian kader-kader untuk aktif di IPPNU,” ujar Vina Zuhria, salah satu peserta kelas desain grafis. (Aidy Firda/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Meme Islam Haedar Nashir

Ansor Ponorogo Tangani Pasar Rakyat PBNU

Ponorogo, Haedar Nashir. Rangkaian kegiatan pasar rakyat PBNU untuk etape ke-47 akan diselenggarakan di Ponorogo. PBNU akan menunjuk PCNU sebagai panitia lokal, dalam hal ini PCNU Ponorogo yang melimpahkan kepanitiaan kepada PC GP Ansor Ponorogo.

Menurut Fatchul Aziz, MA ketua PCNU Ponorogo, GP Ansor telah berkali-kali menangani event-event massif dengan dukungan sponsor baik tingkat nasional dan lokal. Sebut saja kegiatan jalan sehat sarungan bareng Gus Ipul tahun lalu.

Ansor Ponorogo Tangani Pasar Rakyat PBNU (Sumber Gambar : Nu Online)
Ansor Ponorogo Tangani Pasar Rakyat PBNU (Sumber Gambar : Nu Online)

Ansor Ponorogo Tangani Pasar Rakyat PBNU

“Kami percaya PC GP Ansor akan lebih pas jika menangani kegiatan massif semacam pasar rakyat ini,” kata Aziz, panggilan pria yang juga sedang menjabat sebagai Ketua KPUD Ponorogo ini.

Haedar Nashir

Pasar rakyat sendiri akan dilaksanakan pada tanggal 23-24 Pebruari 2013 di lapangan Seblabur Kelurahan Setono. Pasar rakyat ini akan mengenalkan produk-produk milik NU hasil kerjasama dengan beberapa produsen nasiona.l

Selain itu salah satu sponsor rokok Apache dalam rangka promo produknya juga akan menggelar hiburan musik yang menampilkan artis nasional. Direncanakan akan tampil penyanyi KDI dan Opick. Pihak PBNU juga memberi ruang kepada banom NU untuk ikut menggelar stand.

Haedar Nashir

Menurut Idam Mustofa Ketua PC GP Ansor Ponorogo (Pjs.) yang bertindak sebagai Ketua Panitia, pihaknya telah menjalin kerjasama dengan Pemda Ponorogo untuk ikut melibatkan UMKM di bawah binaan Satker terkait untuk ikut menggelar stand.

“Bapak Bupat telah menyetujui Satker terkait dengan UMKM untuk ikut mendukung pasar rakyat ini. Beliau juga akan memfasilitasi penampilan reyog Ponorogo binaan Dinas Pariwisata Pemkab untuk tampil memeriahkan acara pembukaan. Kami sedang berusaha untuk dapat menghadirkan Gus Ipul untuk hadir di Ponorogo guna membuka pasar rakyat,” kata pria berkacamata ini.

Selama dua hari penuh, pasar rakyat akan diisi dengan pelatihan kewirausahaan dan broadcasting, penjualan sembako murah, pameran produk PBNU dan UMKM serta banom NU, aneka game dan pertunjukan musik persembahan rokok Apache.

Pada acara pembukaan akan digelar parade budaya dan drumband sekolah-sekolah di bawah naungan LP Ma’arif Ponorogo. Selain itu, PC IPNU-IPPNU Ponorogo juga akan memanfaatkan momentum ini untuk menggelar pelantikan bersama.

Masih pada rangkaian pasar rakyat, PC Muslimat NU akan menggelar perpotoan Kartanu bagi anggotanya sekaligus belanja paket sembako. Jadilah pasar rakyat ini bak ajang pesta warga NU.

Redaktur ? ? : A. Khoirul Anam

Kontributor: Rheza Aswaja

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Kyai, Sholawat, Nahdlatul Ulama Haedar Nashir

Perihal Polemik Shalat Tiga Waktu

Oleh M Alim Khoiri

Beberapa waktu yang lalu, Pondok Pesantren Urwatul Wutsqa (PPUW) yang terletak di Jombang, Jawa Timur sempat membuat heboh masyarakat akibat kebijakan kontroversialnya yang menerapkan hukuman cambuk untuk para santrinya yang melanggar peraturan. Seolah belum ‘kapok’, kini PPUW kembali membuat ulah kontroversial dengan menyebar stiker ajakan untuk melaksanakan shalat tiga waktu.

Tak ayal, stiker berukuran kecil tersebut langsung membuat gempar masyarakat. Dalam stiker tersebut tertulis keterangan bahwa shalat 3 waktu disebut shalat jama’. Misalnya, shalat Dzuhur dan Ashar dilaksanakan di waktu Dzuhur, kemudian Maghrib dan Isya’ dikerjakan di waktu Maghrib. Ketentuan tersebut di dalam fiqih sebetulnya bukanlah hal aneh. Yang menjadikan edaran stiker tersebut sedikit berbeda adalah adanya tambahan keterangan bahwa shalat jama’ bisa dilakukan meski tidak sedang dalama keadaan ‘safar’ (bepergian). Jadi, Pedagang kaki lima, petani atau tukang becak diperbolehkan melaksanakan shalat 3 waktu saja.

Perihal Polemik Shalat Tiga Waktu (Sumber Gambar : Nu Online)
Perihal Polemik Shalat Tiga Waktu (Sumber Gambar : Nu Online)

Perihal Polemik Shalat Tiga Waktu

Di dalam hukum Islam atau yang lebih dikenal dengan istilah fiqh, shalat jama’ diakui keberadaan dan kebolehannya. Hampir semua fuqaha’ sepakat tentang itu. Namun, terkait dengan ‘illah (alasan) diberbolehkannya terdapat beberapa pandangan.

Haedar Nashir

Abdur Rahman al-Jaziri dalam al-Fiqh ‘ala Mazhahib al-Arba’ah, menyebutkan bahwa shalat jama’ hukumnya jawaz (boleh). Sedangkan sebabnya terdapat khilaf di antara para ulama. Ulama Malikiyah mengatakan bahwa sebab diperbolehkan menjama’ shalat antara lain; bepergian (baik jauh maupun dekat), sakit, hujan atau kondisi jalan yang penuh lumpur dan suasana gelap. Ulama Syafi’iyyah –sebagaimana dikutip Wahbah az-Zuhailiy–berpendapat bahwa illah (alasan dasar) shalat jama’ hanyalah safar (bepergian), hujan dan saat haji di Arafah dan Muzdalifah. Ulama Hanabilah menyebutkan bahwa shalat jama’ diberbolehkan ketika dalam keadaan safar thawil (bepergian jauh), sakit, sedang menyusui, tidak menemukan air atau debu untuk bersuci, tidak mengetahui masuk waktu shalat dan wanita yang sedang istihadlah. Sedangkan ulama Hanafiyah berpendapat bahwa tidak diperbolehkan menjama’ shalat kecuali pada saat di Arafah dan Muzdalifah.

Haedar Nashir

Dari berbagai pandangan ulama di atas, sementara dapat disimpulkan bahwa shalat jama’ atau bisa juga disebut “shalat tiga waktu” adalah legal dengan beberapa syarat tertentu. Permasalahan kemudian muncul, bagaimana jika shalat jama’ dilaksanakan dengan tanpa adanya udzur seperti yang telah disebutkan di atas? Saat bekerja, narik becak, sedang sibuk seminar atau kuliah misalnya. Dalam masalah ini, para ulama pun sebetulnya sudah melakukan kajian. Hasilnya, ternyata khilaf.

Polemik boleh-tidaknya jama’ shalat tanpa udzur ini bermula dari sebuah riwayat Ibnu ‘Abbas, bahwa Rasulullah pernah melakukan shalat Dzuhur dan Ashar secara jama’ di Madinah padahal beliau tidak sedang ketakutan atau bepergian. Riwayat inilah yang kemudian dijadikan dasar untuk? memperbolehkan jama’ shalat pada saat ada hajah muthlaq (semua keperluan) tetapi dengan syarat tidak menjadi kebiasaan. Di antara ulama yang berpendapat demikian adalah Ibnu Sirin, Rabi’ah, Ibnu Mundzir dan al-Qaffal.

Sedangkan sebagian ulama lainnya memahami riwayat tersebut dari sudut pandang yang berbeda. Imam Nawawi misalnya, menyatakan bahwa saat itu boleh jadi Rasulullah sedang dalam keadaan sakit. Ada pula yang memahami bahwa jama’ yang dimaksud dalam riwayat di atas adalah adalah jama’ shuriy, yaitu menunda pelaksanaan shalat sampai pada batas akhir waktu kemudian melanjutkan shalat berikutnya di awal waktu. Sekilas shalat seperti ini mirip shalat jama’ pada umumnya, tetapi sebenarnya masing-masing shalat dikerjakan pada waktunya.

Kesimpulan terakhirnya, bahwa shalat tiga waktu dengan tetap menggunakan 17 raka’at adalah sah dengan beberapa syarat tertentu.? ? ?

*) M Alim Khoiri, Pengajar di STAIN Kediri Jawa Timur

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Berita, Ulama, Hadits Haedar Nashir

Rabu, 15 November 2017

Tembang Tombo Ati Diracik dari Syekh Ibrahim Al-Khawas

Islam, begitu lekat dengan Nusantara. Sekarang saja, Indonesia menjadi negara terbesar penduduk beragama Muslim. Namun hebatnya, hal itu tidak membuat Indonesia lantas mengubah citranya menjadi "kearab-araban".?

Memang, Islam dibawa Rasulullah Muhammad salallahu alaihi wasallam yang berkebangsaan Arab. Namun, Islam di Nusantara bisa menyatu dengan santun dengan budaya lokal yang tak bertentangan dengan Islam.?

Tembang Tombo Ati Diracik dari Syekh Ibrahim Al-Khawas (Sumber Gambar : Nu Online)
Tembang Tombo Ati Diracik dari Syekh Ibrahim Al-Khawas (Sumber Gambar : Nu Online)

Tembang Tombo Ati Diracik dari Syekh Ibrahim Al-Khawas

Hal ini tentu tak lepas dari peran seorang dai sejati. Adalah Wali Songo yang merupakan cikal bakal kebesaran islam di Nusantara. Mereka paham betul dengan firman Alah dalam Surah An-Nahl ayat 125:

? ? ? ? ? ? ?...

Haedar Nashir

Artinya: "Dan serulah (manusia) ke jalan Tuhanmu dengan Hikmah (kebijaksanaan) dan nasehat yang baik"

Oleh karena itu, mereka tidak semena-mena dalam berdakwah. Salahsatu bukti dari kebijaksanaan mereka tercermin apik lewat sejarah tembang "Tombo Ati" gubahan Sunan Bonang.?

Haedar Nashir

Ya, sudah menjadi tradisi Nusantara, khususnya orang jawa. Adalah menyusupkan pelajaran-pelajaran tentang peri kehidupan lewat lagu. Hal itu bukan tanpa sebab, melainkan telah terbukti bahwa cara tersebut lebih mudah dipaham dan dihafal oleh masyarakat nusantara.?

Sehingga, merasuknya nasihat akan lebih cepat ke dalam hati dan keberhasilan dakwah pun berpeluang besar. Inilah kutipan teks tembang "Tombo Ati" oleh Sunan Bonang:

“Tombo ati iku limo perkarane

kaping pisan moco Qur’an lan maknane

kaping pindo shalat wengi lakonono

kaping telu wong kang sholeh kumpulono

kaping papat kudu weteng ingkang luwe





kaping limo dzikir wengi ingkang suwe

salah sawijine sopo biso ngelakoni

mugi-mugi Gusti Allah njembatani” ?

Ternyata, tembang tersebut dibuat bukan asal mengarang, melainkan senada dengan perkataan Syekh Ibrahim Al-Khawash radhiyallahu anhu ? yang termaktub jelas dalam kitab At Tibyan fi Adabi Hamalatil Quran karya Syaikh Abi Zakariya Yahya bin Syarafuddin An Nawawi As Syafii. Dalam kitab tersebut dijelaskan:





? ? ? ? ? ?, ? ? ? ? ? ?: ? ? ?: ? ? ?, ? ?, ? ?, ? ? ?, ? ?.

Artinya: Telah berkata tuan mulia yang memiliki beberapa karunia dan ilmu kemakrifatan, Ibrahim Al Khawash Radiyallahu taala anhu: Obat hati itu ada lima: mambaca Quran dengan bertadabbur (memikir-mikir) makananya, mengosongkan perut (puasa), menegakkan malam (dengan beribadah), berdzikir khusuk di waktu sahur, dan bergaul dengan orang-orang sholih.

Demikianlah Islam Nusantara, Islam yang santun. Sudah tidak saatnya lagi untuk memperdebatkan: mana dalilnya? Apakah Rasul juga melakukannya? Dan lain sebagainya. Yang perlu disadari dan digarisbawahi adalah bahwa Islam di Nusantara telah dibawa oleh orang-orang pilihan Allah. Para kekasih Allah, waliyullah. Para Wali Songo. Yang tentu, tidak diragukan lagi tingkat kealiman dan keihlasannya dalam berdakwah.?

Kalaupun toh kita merasa belum menemukan dalilnya, berhusnudzanlah, itu berarti memang ilmu kita yang memang sedikit sekali. Percayalah! (Ulin Nuha Karim/Abdullah Alawi)?

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Daerah, Kyai, Anti Hoax Haedar Nashir

Ranting IPNU-IPPNU Ini Lahirkan Dua Karya Film Dokumenter

Pati, Haedar Nashir. Pimpinan Ranting Ikatan Pelajar NU (IPNU) dan Ikatan Pelajar Putri NU (IPPNU) Dukuh Wonokerto, Desa Pasucen, Kecamatan Trangkil, Pati, Jawa Tengah, mampu menunjukkan kreativitasnya dalam pembuatan film dokumenter.

"IPNU dan IPPNU Ranting Wonokerto sudah membuat dua film dokumenter, yang pertama judulnya Laila-Majnun dan Rindu Tanah Air Beta," kata Lilik Nur Khasannah, pembimbing IPNU-IPPNU ranting setempat di sekretariat IPPNU Wonokerto, Jumat (12/9).

Ranting IPNU-IPPNU Ini Lahirkan Dua Karya Film Dokumenter (Sumber Gambar : Nu Online)
Ranting IPNU-IPPNU Ini Lahirkan Dua Karya Film Dokumenter (Sumber Gambar : Nu Online)

Ranting IPNU-IPPNU Ini Lahirkan Dua Karya Film Dokumenter

Film dokumenter garapan para pelajar NU ini dihasilkan secara mandiri baik dari segi pembiayaan, pembuatan, maupun proses pengeditan. Lilik menambahkan, dulu awalnya adalah bahan untuk membuat sebuah pentas drama di salah satu acara NU, tapi gagal. Akhirnya pihaknya memutuskan untuk membuat film karena sudah terlanjur menyewa bahan-bahan untuk pentas.

Haedar Nashir

“Dengan modal seadanya kami menyelesaikan film dokumenter yang berjudul Laila-Majnun. Karena saat itu kami sangat senang. Film yang kedua pun di buat dan selesai pada Februari tahun lalu,” tuturnya.

Haedar Nashir

Lilik berharap, IPNU-IPPNU Wonokerto bisa lebih kreatif dalam melahirkan karya. Kehidupan desa tak boleh membuat mereka kalah dari mereka yang ada di kota.

"IPNU-IPPNU di desa ini memang sangat terbatas kemapuannya, ditambah anggota yang kurang solid, tapi saya merasa sedikit senang, dengan kerja keras yang sudah ada hasilnya ini, film dokumenter kami," ucap Ina Roisyah, ketua Pimpinan Ranting IPPNU Wonokerto. (Ahmad Syaefudin/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir News, Quote Haedar Nashir