Sabtu, 25 November 2017

Zakat sebagai Wahana Redistribusi Harta Kekayaan

Ramadhan, selain identik dengan bulan puasa, mengingatkan Muslim untuk membayar zakat, sekalipun tidak ada ketentuan bahwa zakat harus dibayarkan pada Ramadhan, kecuali zakat fitrah. Lembaga-lembaga pengelola zakat, infak, dan sedekah pada bulan ini meningkatkan kampanyenya tentang membayar salah satu rukun Islam itu. Di antara rukun Islam yang lima, mungkin zakat menjadi kewajiban yang paling tidak populer dan paling rendah pemenuhannya, khususnya zakat mal.

Memang berat untuk menyisihkan sebagian harta yang kita cari dengan susah payah. Apalagi dalam masyarakat yang semakin mengagungkan materialisme. Bukannya berbagi dengan orang lain, pikiran yang ada dalam banyak kepala orang adalah kalau bisa terus menumpuk harta, yang tiada batas kepuasannya. Tak ada batas untuk keserakahan. Rasulullah pernah membuat sebuah ibarat, jika kita memiliki satu gunung emas, kita menginginkan yang kedua, ketiga, dan seterusnya.

Zakat sebagai Wahana Redistribusi Harta Kekayaan (Sumber Gambar : Nu Online)
Zakat sebagai Wahana Redistribusi Harta Kekayaan (Sumber Gambar : Nu Online)

Zakat sebagai Wahana Redistribusi Harta Kekayaan

Bukti dari rendahnya pembayaran zakat terlihat dari, hanya segelintir Muslim kaya atau superkaya yang secara rutin mengeluarkan zakat mal-nya dan diketahui oleh publik. Qur’an dan hadits secara khusus menyebut beberapa nama orang kaya yang enggan membayar kewajiban zakat, di antaranya adalah Qarun dan Tsa’labah. Khalifah Abu Bakar Asshiddiq dengan tegas memerangi orang yang tidak mau membayar zakat.

Muslim Indonesia merasa lebih bangga jika bisa melakukan umrah berkali-kali atau bahkan merutinkannya setiap tahun sekali, sekalipun statusnya sebagai ibadah sunnah. Dulu ketika antrean haji belum begitu mengular, hal yang lumrah bagi orang berpunya untuk menunaikannya lebih dari satu kali. Perilaku inilah yang dikritik dengan tajam oleh KH Ali Musthofa Ya’kub, pakar hadits di Indonesia sebagai haji pengabdi setan.

Haedar Nashir

Mengapa begitu? Karena dengan menggunakan uangnya untuk ibadah haji, ia tidak memperuntukkannya pada hal-hal yang lebih bermanfaat bagi masyarakat umum. Ia tetap membiarkan keluarga atau tetangganya miskin, ia tetap membiarkan lingkungan sekitarnya dalam kebodohan, atau ia membiarkan orang lain menderita sakit. Ini menunjukkan kepekaan sosial yang rendah. Jika uang untuk perjalanan haji yang sifatnya tidak wajib atau umrah yang kesekian kalinya digunakan untuk menolong orang lain yang lebih membutuhkan, tentu lebih bermanfaat. Ada banyak sekali hal lainnya yang bisa dilakukan dibanding sekedar ibadah individual yang dampaknya secara sosial minim. Zakat merupakan ibadah yang memiliki dampak sosial secara langsung yang tinggi dibandingkan dengan ibadah lainnya.

Haedar Nashir

Perlu upaya lebih untuk meningkatkan kesadaran masyarakat Muslim Indonesia untuk membayar kewajiban zakatnya. Kini sudah ada regulasi yang mengatur, pembayaran zakat bisa mengurangi pajak. Sejumah lembaga zakat yang dikelola secara profesional juga sudah berdiri sehingga tata kelola zakat lebih baik. Pemerintah di tingkat pusat ataupun daerah juga sudah ada badan amil zakat (bazis) yang menerima dan menyalurkan pembayaran ZIS. Di samping kemajuan-kemajuan dalam tata kelola tersebut, capaian pengumpulan ZIS masih sangat jauh dari potensi yang ada. ?

Prinsip-prinsip tata kelola yang baik seperti transparansi dan akuntabilitas bisa meningkatkan kepercayaan masyarakat bahwa ZIS yang mereka bayarkan bisa tersalurkan dengan baik kepada yang berhak. Tanpa hal tersebut, jangan harap lembaga zakat mendapat kepercayaan masyarakat. Struktur masyarakat berubah memaksa lembaga zakat mengandalkan sistem yang lebih baik.

Dalam sistem tradisional, orang kaya menitipkan zakatnya kepada kiai atau ulama yang dipercayainya untuk mendistribusikan ZIS-nya, atau kadang kala bahkan dibagikan sendiri. Pola seperti itu sudah tidak lagi memadai di masa kini dan masa mendatang untuk mengelola ZIS dengan baik karena sifatnya ad hoc, dibentuk kepanitiaan sementara yang bubar setelah berakhirnya Ramadhan. Pola itu sekedar bagi-bagi uang, tidak membuat dana ZIS menjadi dana produktif, tidak bisa membuat mustahik (penerima zakat) menjadi muzakki (pembayar zakat). Beberapa tahun lalu, pembagian zakat yang dilakukan secara personal kepada masyarakat luas malah membawa korban nyawa karena adanya desak-desakan saat pembagian zakat.

Penafsiran atas apa yang wajib dizakati juga perlu diperluas. Dalam kitab fikih klasik yang hingga kini masih menjadi rujukan, tak semua pekerjaan atau penghasilan dikenai zakat. Tetapi dalam konteks redistribusi harta kekayaan, ketika dunia sudah berubah dari sektor pertanian ke sektor industri dan jasa dengan pendapatan yang menggiurkan dibandingkan dengan sektor pertanian, tetapi dalam khazanah fikih klasik belum dikategorikan wajib zakat, maka mereka layak masuk dalam kategori wajib dizakati.

Negara memiliki tugas untuk menciptakan keadilan melalui mekanisme panarikan pajak dari orang kaya yang kemudian dimanfaatkan untuk kepentingan publik. Ada perdebatan apakah pajak masuk kategori zakat atau bukan, tetapi prinsip distribusi kekayaannya sama. Negara, tidak mampu mengelola seluruh kewajibannya dalam mensejahterakan masyarakat. Sektor filantropi, yang di dalamnya termasuk zakat, merupakan upaya masyarakat untuk membantu sesama, mendukung program yang sudah dijalankan oleh pemerintah.

Jika sistem pembayaran zakat, mulai dari upaya mengingatkan masyarakat untuk membayarnya, termasuk kemungkinan sebuah mekanisme yang bisa ‘memaksa’ orang untuk membayar zakat sampai dengan pendistribusiannya bisa berjalan dengan baik, maka capaian ZIS akan lebih banyak sehingga semakin meningkat jumlah orang yang mendapatkan manfaat dari harta tersebut. (Ahmad Mukafi Niam)



Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Ahlussunnah Haedar Nashir

KH Maruf Amin: Slamet Effendy Yusuf Sosok Organisatoris

Jakarta, Haedar Nashir. Rais Aam PBNU yang juga menjabat sebagai Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI), KH Maruf Amin mengaku merasa kehilangan dengan meninggalnya Wakil Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Slamet Effendy Yusuf yang dikenal sebagai sosok organisatoris.

KH Maruf Amin: Slamet Effendy Yusuf Sosok Organisatoris (Sumber Gambar : Nu Online)
KH Maruf Amin: Slamet Effendy Yusuf Sosok Organisatoris (Sumber Gambar : Nu Online)

KH Maruf Amin: Slamet Effendy Yusuf Sosok Organisatoris

"Slamet adalah seorang organisatoris dengan pengalamannya di organisasi," kata Kiai Ma’ruf saat dihubungi dari Jakarta, Kamis, (3/12)

Menurut Maruf, Slamet banyak bergerak di berbagai organisasi seperti pernah menjadi Ketua Umum Gerakan Pemuda Ansor. Selain itu, masih kata Maruf, Slamet juga menjadi Ketua Komisi Pengawas Haji Indonesia (KPHI).

Haedar Nashir

Almarhum Slamet Effendy Yusuf sebelumnya juga pernah lama berkecimpung di dunia politik sebagai kader dan pengurus Partai Golkar.

Haedar Nashir

Dia pernah menjabat Ketua MPR-RI periode 1988-1993 dan anggota DPR-RI periode 1992-2009 dari Partai Golkar.

Slamet juga pernah menjabat sebagai Ketua DPP Partai Golkar dan sempat pula menjabat Ketua PBNU periode 2010-2015, Ketua MUI pada periode 2009-2014 dan Waketum MUI 2015-2020.

"Jadi pengabdian almarhum begitu besar kepada bangsa dan negara serta agama," kata Kiai Ma’ruf.

Slamet Effendy Yusuf meninggal dunia pada Rabu (2/12) malam sekitar pukul 23.00 WIB di Bandung, Jawa Barat, dalam usia 67 tahun. (Antara/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Habib Haedar Nashir

Protes Israel, PMII Surabaya Ingatkan Pernyataan Soekarno soal Palestina

Surabaya, Haedar Nashir. Pengurus Cabang Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Kota Surabaya menyampaikan keperihatinan mendalam atas tindakan biadab militer Israel dengan membombardir Jalur Gaza yang menewaskan puluhan warga sipil Palestina.

Protes Israel, PMII Surabaya Ingatkan Pernyataan Soekarno soal Palestina (Sumber Gambar : Nu Online)
Protes Israel, PMII Surabaya Ingatkan Pernyataan Soekarno soal Palestina (Sumber Gambar : Nu Online)

Protes Israel, PMII Surabaya Ingatkan Pernyataan Soekarno soal Palestina

Sebagai bentuk protes dan keperihatinan, ratusan kader PMII dari berbagai perguruan tinggi di Surabaya, Jumat (11/72014) malam, menggelar aksi damai dengan menjalankan salat ghaib dan membakar bendera Israel di depan Grahadi Surabaya.

"Kami mengutuk keras atas tindakan biadab militer zionis Israel terhadap bangsa Palestina. Segera hentikan," ujar Ketua Umum PC PMII Kota Surabaya Ahmad Zairudin, dalam orasinya di hadapan kader PMII.

Haedar Nashir

Zairudin mengatakan, PMII Surabaya juga mendesak Pemerintah Indonesia untuk ikut terlibat aktif dalam upaya menciptakan perdamaian dunia. Yakni dengan cara terus mendesak PBB untuk mengeluarkan resolusi damai serta menghentikan agresi militer zionis Israel terhadap bangsa Palestina.

Haedar Nashir

"Pemerintah harus menyerukan bahwa Israel adalah penjahat perang dan kemanusian. Jika pemerintah diam, kami yang akan turun ke jalan melakukan perjuangan," seru Zairudin.

Zairudin lalu menyitir pernyataan Presiden RI pertama Soekarno pada tahun 1962, "Selama kemerdekaan bangsa Palestina belum diserahkan kepada orang-orang, maka selama itulah bangsa Indonesia berdiri menantang penjajahan Israel."

Selain itu, Zairudin juga meminta kepada semua tokoh masyarakat, terutama para ulama, untuk mendorong kaum muslimin melawan kedzaliman yang dilakukan Israel kepada bangsa Palestina.

Sejauh ini hingga lima hari agresi militer Israel di Jalur Gaza, sudah lebih 100 warga sipil Palestina meninggal. Mayoritas yang menjadi korban kebiadaban zionis Israel itu adalah para wanita dan anak-anak tak berdosa. Nyawa mereka melayang sia-sia dan ribuan orang terluka. (Abdul Hady JM/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Syariah, Ulama Haedar Nashir

Jumat, 24 November 2017

Serambi Al-Muayyad Kampanyekan “Ayo Mondok”

Solo, Haedar Nashir. Pengurus IPMA Pesantren Al-Muayyad menerbitkan Majalah Serambi Al-Muayyad (MSA) edisi terbaru. Edisi kedelapan yang mengkampanyekan gerakan Ayo Mondok! tersebut akan dirilis pada Haul KH Umar Abdul Mannan, Selasa (7/7).

“Tema khusus MSA Edisi 08 adalah Ayo Mondok,” terang salah satu redaktur MSA, Miftahul Abrori, Sabtu (4/7) lalu.

Serambi Al-Muayyad Kampanyekan “Ayo Mondok” (Sumber Gambar : Nu Online)
Serambi Al-Muayyad Kampanyekan “Ayo Mondok” (Sumber Gambar : Nu Online)

Serambi Al-Muayyad Kampanyekan “Ayo Mondok”

Menurut Miftah hal tersebut merupakan wujud dukungan para santri Al-Muayyad kepada RMI dalam menggalakkan Gerakan Nasional Ayo Mondok. “Wujud dukungan MSA terkait Ayo Mondok, sesuai dengan yang kami mampu adalah mewartakan melalui tulisan di majalah dengan harapan bisa dibaca masyarakat,” ujar dia.

Haedar Nashir

Pada edisi ini, juga akan menyajikan tulisan “Menafsir Bait-bait Shalawat Wasiat Mbah Umar” yang ditulis Dosen UNU Surakarta, Drs. Muhammad Ishom, yang menafsirkan dan menjelaskan makna yang tersembunyi dari shalawat yang dikarang oleh Mbah Umar.

Haedar Nashir

Miftah menjelaskan, selama kegiatan Haul Mbah Umar, majalah yang memiliki slogan Melanggengkan Tradisi, Melanjutkan Silaturrahim ini akan dipajang pada stand bazar IPMA. “Para pengunjung yang berminat, bisa membeli langsung di sana dengan harga Rp. 15.000,” papar dia. (Ajie Najmuddin/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Pesantren Haedar Nashir

Tentang ‘Jihad’ yang Jahat: Catatan Asia Interfaith Forum

Bogor, Haedar Nashir

Pembahasan terkait tema jihad tampak belum menunjukkan tanda akan segera berakhir, terutama dengan berkembangnya wacana yang menyebut bahwa jihad sama dengan aksi-aksi kekerasan. Bedanya, jihad adalah kekerasan yang dilakukan atas nama agama. Beberapa pengamat dan peneliti dunia bahkan menyebut bahwa konsepsi jihad adalah anti-thesis untuk perdamaian.

Tentang ‘Jihad’ yang Jahat: Catatan Asia Interfaith Forum (Sumber Gambar : Nu Online)
Tentang ‘Jihad’ yang Jahat: Catatan Asia Interfaith Forum (Sumber Gambar : Nu Online)

Tentang ‘Jihad’ yang Jahat: Catatan Asia Interfaith Forum

Hal ini sebagaimana disampaikan oleh Direktur International Center for Islam dan Pluralism (ICIP) Syafiq Hasyim saat berbicara di Asia Interfaith Forum yang digelar oleh Pusat Studi Pesantren (PSP) di Bogor, siang ini, Selasa (17/10).

Bahkan belakangan, konsepsi jihad disebutnya sudah identik dengan kekerasan. Hal ini diperparah dengan fakta adanya kelompok-kelompok teroris semacam Al Qaedah dan ISIS yang mengklaim diri sebagai pelaksana ajaran Islam. Artinya, kelompok-kelompok ini mengklaim semua kekerasan yang mereka lakukan sebagai bentuk pelaksanaan perintah jihad.

Bagi Syafiq, anggapan seperti ini tentu tidak bisa diterima, meski ia juga mengakui bahwa pandangan semacam ini sudah menyebar dan dipercayai oleh banyak kalangan. “Pertanyaannya adalah, apakah mereka melakukan mis-interpreatasi terhadap makna jihad, atau terhadap konteks jihad? Saya cenderung melihatnya sebagai kesalahan dalam memahami konteks jihad,” ungkapnya. 

Ia menjelaskan, secara teks, kata jihad dapat ditemukan di banyak tempat baik di dalam Al-Qur’an maupun hadist, namun pemaknaan terhadap konteks ini tidak selalu sama. Pandangan yang umum terjadi adalah penyamaan konsep jihad dengan peperangan (qital), sehingga jihad cenderung dipahami secara sempit hanya sebagai anjuran atau perintah untuk melakukan perang. Pandangan seperti di atas didukung oleh banyak ulama klasik seperti Imam Malik dalam karyanya Mudawanah, Imam Syafi’I dalam Al Umm, Ibn Qudamah dalam Al Mughni, dan seterusnya.  

Haedar Nashir

Namun demikian, Syafiq menjelaskan bahwa konsep jihad tidak hanya terbatas pada pemaknaan di sisi tekstualnya saja, melainkan juga perlu pemaknaan yang seimbang di sisi konteksnya. Argumen dasarnya adalah, perubahan pada konteks seharusnya berimbas pada perubahan makna teksnya. “Berdasarkan pada situasi kita sekarang, konsep jihad perlu memiliki interpretasi yang baru,” jelasnya.

Haedar Nashir

Ia pun menyebut bahwa tantangan yang dihadapi oleh umat Islam sekarang sudah berubah. Di zaman awal, jihad bisa saja menjadi pilar utama dalam beragama, tetapi di masa sekarang, pilar utama bukan lagi sebatas jihad.

Syafiq menyebut tiga hal yang menjadi poin penting, yakni jihad, ijtihad dan mujahadah. Di masa-masa awal penyebaran agama Islam, konsepsi jihad menempati posisi utama, tetapi di masa sekarang sudah tidak lagi. Konsepsi utama yang harus dipegang oleh umat Islam bukan lagi jihad, melainkan ijtihad.

“Pemaknaan jihad sebagaimana terjadi di periode klasik Islam tidak akan bisa merespon kebutuhan masyarakat zaman sekarang… prinsip relevan untuk kehidupan kita saat ini bukan lagi tuntutan untuk melakukan peperangan, melainkan kebutuhan untuk menciptakan keadilan sosial dan kemakmuran bersama,” lanjutnya.  

Sebagai penegas, ia menyatakan, “Jihad bukanlah memerangi orang, tetapi memerangi kemiskinan dan kurangnya pendidikan.”

Khoirul Anam, Senior Officer Media dan Kampanye Wahid Foundation

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Internasional Haedar Nashir

JK Dorong Gerakan Sertifikasi Masjid

Jakarta, Haedar Nashir. Wakil Presiden Republik Indonesia yang juga merupakan Ketua Umum Dewan Masjid Indonesia Jusuf Kalla (JK) mengatakan bahwa bangunan yang banyak di Tanah Air ini selain rumah atau tempat tinggal, adalah masjid. Sayangnya, saat ini masih sangat sedikit masjid yang asset tanahnya bersertifikat. Karena itu, ia mendorong gerakan sertifikasi masjid.

Hal ini dikatakan JK saat membuka acara Lokakarya Nasional Pengelolaan Wakaf dan Aset-Aset Masjid Indonesia serta Penyerahan Penghargaan sayembara Arsitektur Desain Masjid, di Istana Negara Wakil Presiden RI, Jakarta Pusat, Senin (25/05). Tampak hadir dalam acara tersebut, Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin, Menteri Agraria dan Tata Ruang/Kepala BPN Ferry Mursyidan Baldan, Menkominfo Rudi Antara, Menteri Sosial Khofifah Indar Parawansa, beberapa Duta Besar negara sahabat, Ketua DMI KH. Masdar F Mas’udi, Sekjen DMI Imam Addarqutni, para Ulama dan pengurus Dewan Masjid seluruh Indonesia. Demikian laporan yang dilansir oleh situs kemenag.go.id

JK Dorong Gerakan Sertifikasi Masjid (Sumber Gambar : Nu Online)
JK Dorong Gerakan Sertifikasi Masjid (Sumber Gambar : Nu Online)

JK Dorong Gerakan Sertifikasi Masjid

Dalam sambutannya, JK menyampaikan juga bahwa dari sekian banyaknya bangunan masjid di Indonesia baru sekitar 1 persen yang bersertifikat. “Karena apa? Itu karena lebih aman, sebab tidak bisa dijaminkan ke Bank, dan macam-macam,” kata JK disambut tawa para peserta lokakarya.

Haedar Nashir

“Hari ini kita sudah meminta amal ibadahnya Menteri Agraria dan Tata Ruang/Kepala BPN Ferry Mursyidan Baldan bersama Menteri Agama, dan Dewan Masjid Indonesia memberikan gerakan untuk sertifikat masjid dan yang mewakafkan,” tambahnya.

JK juga menyinggung soal penataan sound system di masjid. Menurutnya, dalam setiap kesempatan khutbah Jum’at atau pengajian, orang yang berada dalam masjid 80 persen tidak bisa mendengarkan suaranya dengan baik. Jadi, sudah seharusnya kualitas sound system yang ada di masjid bisa diperbaiki.

Haedar Nashir

“Kita menginginkan sound system yang fungsional, masjid yang baik dan bersih,” imbuh JK.

Untuk mendukung kualitas suara yang baik dari dalam masjid, JK menyampaikan kepada segenap peserta lokakarya yang keseluruhan adalah merupakan pengurus masjid se Indonesia bahwa bulan depan akan membagikan sound system untuk masjid ke seluruh daerah di Indonesia.

Selain itu, dalam acara tersebut juga diberikan penghargaan kepada juara-juara sayembara arsitek masjid Nusantara, penandatanganan nota kesepahaman antara Kementerian Agama dan Kementerian Agraria dan Tataruang, penandatanganan nota kesepahaman antara Kemenag dengan Pimpinan Pusat DMI, pendatanganan nota kesepahaman antara Kementerian Agraria dan Tataruang dengan DMI, serta peluncurarn website masjid www.dmi.or.id.?

Yang tidak kalah penting bagi JK adalah menghubungkan masjid dengan mubaligh, karena tanpa mubaligh yang ampuh, masjid yang dibangun megah tak akan berfungsi dengan baik. (mukafi niam)

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Lomba Haedar Nashir

Pengamat Sepak Bola: Persaingan di LSN 2017 Lebih Ketat

Bandung, Haedar Nashir

Pengamat sepak bola M Kusnaeni menilai persaingan antar-kesebelasan Liga Santri Nusantara (LSN) 2017 dari tahun-tahun sebelumnya. Karena, tiap kesebelasan semakin berupaya mempersiapkan diri jauh hari sebelumnya.

“Persaingannya lebih ketat, tim lebih serius mempersiapkan diri,” ungkap pria yang akrab disapa Bung Kus itu di stadion Siliwangi, Kota Bandung, Jawa Barat, Senin sore (23/10).

Pengamat Sepak Bola: Persaingan di LSN 2017 Lebih Ketat (Sumber Gambar : Nu Online)
Pengamat Sepak Bola: Persaingan di LSN 2017 Lebih Ketat (Sumber Gambar : Nu Online)

Pengamat Sepak Bola: Persaingan di LSN 2017 Lebih Ketat

Ia menambahkan, kesenjangan kualitas antartim juga terlihat lebih tipis. Banyak pertandingan yang hasilnya seimbang. Hal itu berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya. Biasanya tim dari Jawa jauh lebih dominan dari tim luar Jawa.

Haedar Nashir

“Kalau sekarang kita lihat pertandingan-pertandingannya tipis. Ada yang memang menang besar karena memang melawan tim relatif baru di Liga Santri, sepertinya tim itu kaget, wah kok persaingannya bagus-bagus. Persaingan lebih ketat,” jelasnya.

Liga Santri Nusantara (LSN) 2017 mulai bergulir sejak akhir Agustus lalu itu diikuti sekitar 22 ribu santri dari 1048 pondok pesantren seluruh Indonesia. Mereka berkompetisi di 32 region untuk mendapatkan tiket ke Seri Nasional.  

Haedar Nashir

Pada LSN tahun pertama, 2015, kompetisi diikuti 400 pondok pesantren. Tahun kedua meningkat dua kali lipat, yaitu 826 pondok pesantren, begitu juga di tahun ketiga. (Abdullah Alawi)



Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Ubudiyah, Sholawat, Syariah Haedar Nashir