Jumat, 01 Desember 2017

Pesan Maulid NU Subang: Hormati Orang Tua, Patuhi Ibu

Subang, Haedar Nashir. Diantara misi yang dibawa oleh Rasulullah SAW ke alam dunia ini adalah mengangkat derajat wanita yang pada saat itu tidak ada harga dirinya. Sehingga Rasulullah menyampaikan ajaran kepada umat Islam untuk selalu taat, patuh dan menghormati kepada kedua orang tua terlebih lagi kepada seorang ibu.

Pesan Maulid NU Subang: Hormati Orang Tua, Patuhi Ibu (Sumber Gambar : Nu Online)
Pesan Maulid NU Subang: Hormati Orang Tua, Patuhi Ibu (Sumber Gambar : Nu Online)

Pesan Maulid NU Subang: Hormati Orang Tua, Patuhi Ibu

Demikian disampaikan KH Musyfiq Amrullah, Ketua PCNU Kabupaten Subang, Jawa Barat saat mengisi kegiatan Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW yang diprakarsai oleh Jamaah Jimat (Pengajian Malam Jumat) di Desa Rancabango, Patokbeusi, Subang, Kamis (28/12) malam

Dikatakan Kiai Musyfiq, Ibu merupakan sosok penting dalam lingkungan keluarga khususnya dalam rangka melaksanakan proses pendidikan bagi anak, karena melalui kreatifitas seorang ibu, anak bisa menjadi sholeh dan berguna bagi umat manusia dan ataupun bisa juga malah sebaliknya.?

Untuk menguatkan argumentasi tersebut, Pengasuh Pesantren Attawazun itu mengutip kisah yang ada di dalam Al-Quran.

Haedar Nashir

"Kita lihat kisah Nabi Musa, beliau hidup dan dibesarkan di lingkungan istana Firaun yang kafir bahkan dia sendiri mengaku sebagai Tuhan, tapi kenapa Nabi Musa malah menjadi anak shaleh bahkan diangkat menjadi Nabi?" tanya Kiai Musyfiq yang kemudian langsung disampaikan jawabannya.

Nabi Musa, lanjut Kiai Musyfiq, menjadi anak yang shaleh karena mendapat pendidikan dari seorang ibu angkat bernama Asiyah binti Muzahim, walaupun pada saat itu ia menjadi Istri Firaun yang dzalim, namun Asiyah mempunyai budi pekerti yang luhur sehingga ia berhasil mendidik dan membesarkan Nabi Musa menjadi seorang anak yang shaleh.

"Sebaliknya kita bisa lihat pada kisah Kanan putera Nabi Nuh, walaupun Kanan hidup di lingkungan seorang Nabi tetapi dia malah durhaka kepada ajaran yang dibawa oleh ayahnya sendiri, itu terjadi karena Kanan mendapat pendidikan dari seorang ibu yang tiada lain adalah istri Nabi Nuh yang durhaka dan tidak beriman kepada ajaran yang dibawa oleh suaminya sendiri,” tegasnya.

Haedar Nashir

Kiai Musyfiq pun menambahkan, sosok ibu dalam keluarga bisa dikatakan cukup penting dalam menentukan kepribadian seorang anak, untuk itu ia berpesan kepada para ibu agar senantiasa selalu mendidik dan membesarkan anaknya dengan baik supaya bisa menghasilkan generasi muslim yang sholeh, beriman, kuat dan bermartabat. (Aiz Luthfi/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir RMI NU, Kajian Haedar Nashir

Makna Haji Mabrur dan Kesalehan Sosial Kita

Oleh Chepry Hutabarat



“… Tidak ada balasan bagi Haji Mabrur kecuali Surga.” (Muttafaqun ‘Alaih)

Makna Haji Mabrur dan Kesalehan Sosial Kita (Sumber Gambar : Nu Online)
Makna Haji Mabrur dan Kesalehan Sosial Kita (Sumber Gambar : Nu Online)

Makna Haji Mabrur dan Kesalehan Sosial Kita



Pada hakikatnya seluruh ibadah-ibadah yang diwajibkan atas manusia oleh Allah SWT adalah sebuah sarana untuk melatih kepekaan manusia atas keadaan di lingkungan sosialnya. Seperti shalat misalnya, dalam anjuran shalat berjamaah terkandung sebuah makna tentang bagaimana sikap seorang pemimpin (imam) dan orang yang dipimpin (makmum). Begitu pun ibadah zakat dan berpuasa, di dalamnya sarat dengan kandungan moral sosial. Puasa dan zakat adalah sarana untuk melatih dan membangun kepekaan sosial kita selaku umat Muslim atas apa yang dirasakan oleh mereka yang kehidupannya kurang beruntung. Lantas timbul pertanyaan, bagaimana dengan ibadah haji?

Seperti ibadah-ibadah lainnya, ibadah haji juga adalah sebuah praktik olahraga dan olah spiritual guna menjadikan kita melek atas kenyataan sehari-hari yang kita alami di sekitar kita selama hidup. Haji merupakan ibadah yang sangat penting bagi umat Muslim sedunia. Keutamaan ibadah haji salah satunya tercermin dari sabda Rasulullah, “Sebaik-baik amal ialah; Iman kepada Allah SWT dan Rasul-Nya, kemudian jihad fi sabilillah, kemudian haji mabrur.” Keberadaan haji sebagai ritual keagamaan pada akhirnya bertujuan untuk membuang sifat kebinatangan yang ada di dalam diri manusia, setelah melaksanakan haji diharapkan manusia menjadi lebih bersih dan suci.

Haedar Nashir

Makna dari kata hilangnya sifat kebinatangan di dalam diri manusia dan menjadi pribadi yang lebih baik dan bersih inilah yang disebut sebagai mabrur dalam terminologi haji. Dilihat dari akar katanya, kata “mabrur” berasal dari kata “barra” yang berarti berbuat baik dan patuh. Dari kata barra ini kita bisa mendapatkan kata “birrun, al-birru” yang artinya kebaikan. Berangkat dari pemahaman ini, kita seharusnya menyadari dengan penuh, bahwasannya ibadah haji merupakan momentum bagi setiap pribadi Muslim untuk lebih meningkatkan kepedulian mereka atas lingkungan sekitarnya. Hal ini juga berarti, jika setelah melaksanakan ibadah haji seseorang tidak meningkat kesalehan sosialnya, maka dapat dikatakan bahwa ibadah haji yang telah dilaksanakanya belum berhasil atau haji yang mardud (ditolak).

Haedar Nashir

Ibadah haji oleh para ulama ditempatkan sebagai rukun Islam yang kelima. Haji menjadi rukun terakhir ibadah seorang hamba pada Tuhan. Ibadah haji yang dilaksanakan atas dasar istitha’ah (mampu) ini jangan direduksi maknanya. Kata mampu (istitha’ah) bagi sebagian besar umat Muslim (di Indonesia khususnya), hanya diartikan sebagai kemampuan secara materi. Kita cenderung menghilangkan bahwa kata mampu juga bermakna kemampuan kita secara spiritual. Pemahaman yang parsial inilah yang menyebabkan ibadah haji seperti hilang hakikat spiritual dan fungsi sosialnya. Mereka yang berangkat haji, hanya menjadikan kemampuan materi sebagai standar untuk menjalankan ibadah haji. (Taufik Abdullah:1989)

Wajar jika di negeri ini banyak koruptor yang menggunakan uang hasil korupsinya untuk berhaji, dan hasilnya adalah tidak ada kesinambungan batiniyah yang berakibat langsung pada kehidupan sosial pasca mereka pulang dari berhaji. Sejatinya, sebagai rukun Islam terakhir, haji menjadi semacam perayaan dari perjalanan ruhaniah yang begitu panjang, yang dilakukan oleh umat Muslim. Ini menekankan kepada kita bahwa ibadah haji merupakan tahap akhir sekaligus titik awal bagi diri kita (kesalehan individual) menuju pribadi Muslim yang lebih baik sekaligus mampu memberikan kebaikan kepada orang lain (kesalehan sosial). (Amirul Ulum: 2015)

Kesalehan Sosial

Terdapat sebuah kisah tentang makna sosial haji yang terkenal dalam tradisi sufi. Alkisah ketika sedang menjalankan ibadah haji, ada seseorang yang tertidur ketika sedang melakukan wukuf di tengah panasnya padang Arafah. Dalam tidurnya seseorang itu kemudian bermimpi berjumpa dengan Rasulullah SAW. Menyadari bahwa ia sedang berhadapan dengan kekasih Allah SWT yang tidak tiap orang dapat menjumpainya, ia kemudian memberanikan diri bertanya kepada Rasulullah. “Wahai kekasih Allah SWT, siapakah di antara kami semua yang sedang melaksanakan haji ini, diterima ibadahnya dan menjadi haji yang mabrur oleh Allah SWT?” Rasulullah SAW kemudian dengan nada berat menjawab “Tak seorang pun dari kalian yang diterima hajinya, kecuali seorang tukang cukur tetanggamu”. Mendengar jawaban dari Baginda Rasululah SAW, orang tersebut termenung, betapa tidak, ia sadar bahwa tukang cukur yang dimaksud adalah tetangganya yang miskin dan tidak pergi berhaji saat ini.

Tak lama kemudian ia terbangun, dan dengan perasaan gundah gulana, ia merenung mencari makna di balik mimpi yang dialaminya itu. Sekembali dari Mekkah, segera ia menemui tukang cukur yang dimaksud Rasulullah SAW dalam mimpinya itu. Ia menceritakan segala pengalaman selama berhaji dan pengalaman spiritual lewat mimpi yang dialaminya itu. Lantas ia akhirnya bertanya pada tukang cukur itu, “Amalan dan ibadah apakah yang telah anda lakukan, sehingga Baginda Rasulullah SAW mengatakan bahwa anda telah menjadi haji yang mabrur?”

Mendapati cerita dan pertanyaan dari tetangganya itu, si tukang cukur kemudian terharu dan sujud syukur, kemudian dia menjelaskan bahwa sebenarnya ia telah lama mengidamkan untuk menunaikan ibadah haji. Bertahun-tahun ia menabung guna mewujudkan cita-citanya itu, dan pada saat tabungannya telah cukup untuk berangkat haji, bersiap-siaplah ia untuk berangkat melaksanakan haji. Tapi kemudian, belum lagi ia berangkat, ia mendapat kabar bahwa salah seorang tetangganya tertimpa musibah: seorang anak yatim sedang sangat membutuhkan pertolongan guna pengobatan atas sakit parah yang dialaminya. Mendapati kenyataan tersebut, ia kemudian mengurungkan niatnya untuk haji, dan menyumbangkan seluruh tabungannya guna menyelamatkan anak yatim tetangganya itu. (Said Agil Siroj: 2015)

Mendengar cerita si tukang cukur itu, orang yang baru selesai melaksanakan haji itu kemudian tertunduk malu. Ia sadar, kita kadang begitu mengebu-gebu dalam mencari ridha Allah SWT, dan karenanya menutup mata kita atas apa yang terjadi atas diri orang lain. Ibadah-ibadah kita kemudian menjadi tidak suci lagi, karena di dalamnya tersemat egoisme, ditumpangi nafsu dan jauh dari hakikat ibadah itu sendiri, yaitu rahmatan lil’alamin.

Berangkat dari cerita di atas, kita seharusnya belajar, untuk kembali memaknai ibadah haji yang selama ini kita pahami. Ibadah haji dalam konteks hari ini, sangat naïf jika hanya dipandang sebagai ritual keagamaan yang sifatnya individual, kita harus juga mampu menjadikan haji sebagai ibadah sosial. Di dalam ritual haji, semua umat Muslim menjadi sama, tidak ada yang membedakan secara tampilan fisik satu sama lain. Hal ini mengajarkan pada kita bahwa kita sebagai umat manusia pada satu titik adalah satu. Ke-satu-an di tengah pluralitas inilah yang seharusnya kita maknai untuk saling peduli dan memperhatikan satu sama lain. Pernahkah kita terpikir, di saat ratusan ribu umat Muslim di negeri ini melaksanakan ibadah haji, di sisi yang lain kebodohan dan kemiskinan masih juga menjadi masalah terbesar di republik ini. Terlebih kepada mereka yang melaksanakan haji lebih dari sekali, hal ini sungguh memilukan. Alangkah zalimmnya perbuatan tersebut. Di tengah krisis perekonomian negeri ini, masih begitu banyak yang umat Muslim yang tertutup pintu hatinya, semata hanya mengejar derajat kesalehan individualnya semata dengan berangkat berhaji. Alangkah bijak dan mabrurnya mereka yang menunda ritual haji mereka, kemudian menyumbangkan uang dan bekal untuk berhaji mereka guna kemaslahatan orang banyak.

Pada akhirnya penulis berharap agar kita terus memaknai keberadaan kita sebagai khalifah di muka bumi ini. Semoga dengan adanya ibadah haji yang tiap tahun dilaksanakan ini, mengajarkan kepada kita untuk terus meningkatkan kesalehan individual kita menuju kesalehan sosial, karena sebaik-baiknya manusia, adalah mereka yang bermanfaat bagi orang lain. Wallahu’alam.

Referensi

Shahih at-Targhib, No. 1096

Taufik Abdullah, Islam Dan Pembentukan Tradisi di Asia Tenggara, Jakarta: LP3ES, 1989, Cet. I, hlm. 58.

Amirul Ulum, Muassis Nahdhatul Ulama, Yogyakarta: Pustaka Musi, 2015, Cet I, hlm 45.

Baca KH said Agil Siroj, “Urgensi Kajian Islam Nusantara” dalam Harianto Oghie dan Fatkhu Yasik (ed.), Islam Nusantara: Meluruskan Kesalahpahaman, Jakarta: LP Ma’arif Pusat, 2015, Cet. I, hlm. 29.

* Penulis adalah Founder #PoskoNoesantara; tinggal di Sukarame, BandarlampungDari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Nasional Haedar Nashir

PMII Pamekasan Nilai Umat Lupakan Visi Hijriyah

Pamekasan, Haedar Nashir. Sekitar 70 kader Pengurus Cabang Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Kabupaten Pamekasan, Jawa Timur, menerangi Kota Pamekasan dengan seratus obor. Tak hanya itu, untuk menyambut tahun baru Hijriyah tersebut, mereka menabuh rebana pada Senin (4/11) malam.

Mahasiswa mahasiswi itu mulai bergerak dari Kantor PC PMII di Jalan Brawijaya. Kemudian beriringan menuju monumen Arek Lancor di jantung kota Pamekasan. Mereka mengelilingi monumen itu sembari membuat lingkaran. Di sini, dilakukan orasi kebangsaan secara bergantian. Istighasah juga didengungkan guna mendoakan para pejuang Islam di gugur di Pamekasan.

PMII Pamekasan Nilai Umat Lupakan Visi Hijriyah (Sumber Gambar : Nu Online)
PMII Pamekasan Nilai Umat Lupakan Visi Hijriyah (Sumber Gambar : Nu Online)

PMII Pamekasan Nilai Umat Lupakan Visi Hijriyah

“Arek Lancor ini, merupakan salah satu monument bersejarah. Di sinilah tak sedikit para pejuang Islam mati di medan laga melawan para penjajah,” ungkap Ketua Umum PC PMII Pamekasan, Didik Ahmad.

Haedar Nashir

Ia mengatakan, umat Islam selama ini cenderung memaknai hijrah sebatas pada tataran tekstual dan konseptual saja. Hijrah lebih dipahami sebagai fenomena historis yang muaranya pudar seiring perkembangan zaman.

“Kesesuaian dari uraian tersebut bisa dikait-hubungkan pada kebiasaan umat Islam ketika menyambut perubahan kalender Hijriyah yang lebih menitiktekankan pada "sambutan seremonial" daripada "sambutan substansial". Akibatnya, ruh dari fenomena hijrah kian tak terasa dalam kehidupan nyata,” terang Didik.

Haedar Nashir

Bila dicermati, katanya, hijrah memiliki visi reformatoris dalam konteks kehidupan sosio-kultural yang melampaui batas ruang dan waktu. Visi reformatoris tersebut terbukti dengan lahirnya Piagam Madinah yang jadi landasan kehidupan bersama masyarakat yang dipimpin Nabi Muhammad di Madinah. Piagam itu muncul sebagai bagian dari agenda besar fenomena hijrahnya Nabi beserta umatnya.

“Ada banyak mutiara hikmah yang bisa digali dari Piagam Madinah tersebut untuk kemudian dikontekstualisasikan ke dalam berbagai kehidupan di era saat ini. Di antara isi Piagam Madinah yang sangat menarik direnungkan di tengah kehidupan globalisasi ini adalah pertama, pentingnya memelihara kehidupan bersama, gotong royong dalam memecahkan berbagai problematika kehidupan yang dihadapi,” ungkap Ketua KOPRI Pamekasan, Zahratun.

Mahasiswi akhir Universitas Islam Madura (UIM) melanjutkan, setiap warga berkewajiban untuk menjaga dan mempertahankan teritorial dan keamanan komunitas atau negaranya dari agresi negara lain yang berusaha untuk mencampuri dan atau menguasainya.

Ia melanjutkan, pentingnya sikap keterbukaan merupakan visi reformatoris yang ketiga. Dan yang keempat adalah kebebasan menganut suatu agama sesuai dengan keyakinannya masing-masing.

“Visi reformatoris hijrah tadi tentu sangat penting untuk diapresiasi dalam segala zaman. Jauh sebelum negara-negara modern kini mendeklarasikan pentingnya kebebasan beragama, melalui Piagam Madinah, sejatinya Nabi telah menyemaikan satu pesan abadi terbentuknya pilar-pilar kehidupan masyarakat yang berperadaban (civil society),” tukas Zahroh, panggilan akrab Zahratun.

Dalam konteks tersebut, sela Sudarsono, aktivis PMII lainnya, visi reformatoris hijrah itu menjadi sangat penting untuk direnungkan serta dikontekstualisasikan dalam rangka menciptakan masyarakat yang berperadaban. Tentu saja, masyarakat berperadaban itu tercapai manakala visi reformatoris hijrah bisa diterjemahkan ke dalam berbagai sisi kehidupan: social, budaya, ekonomi, politik, dan sebagainya.

“Dalam arti kata, prinsip-prinsip hijrah tersebut mesti ditarik ke dalam universalitas kehidupan sehingga bisa mewarnai hingga masyarakat berperadaban yang dicitakan sebagai masyarakat ideal menjadi kenyataan,” tukasnya. (Hairul Anam/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Nahdlatul, Warta Haedar Nashir

Menlu Iran: Era Senjata Nuklir Sudah Berakhir

Tehran, Haedar Nashir. Menteri Luar Negeri Iran Manouchehr Mottaki mengungkapkan bahwa era senjata nuklir saat ini sudah berakhir karena sudah tidak lagi bisa membawa perubahan dan mengatasi berbagai krisis.



Menlu Iran: Era Senjata Nuklir Sudah Berakhir (Sumber Gambar : Nu Online)
Menlu Iran: Era Senjata Nuklir Sudah Berakhir (Sumber Gambar : Nu Online)

Menlu Iran: Era Senjata Nuklir Sudah Berakhir

Pernyataan itu dikemukakan Mottaki dalam sebuah pertemuan dengan Ketua Standing Committe Masalah Luar Negeri Norwegia Olan Akselsen di Tehran, Selasa (26/6).

"Program nuklir Iran adalah untuk tujuan damai," terang Mottaki dalam pembicaraannya dengan Akselsen.

Haedar Nashir

Mottaki mengatakan, kerjasama antara pemerintah Iran dan Norwegia adalah untuk memperkuat hubungan kedua negara.

Haedar Nashir

"Sejarah menunjukkan bahwa bangsa Iran selalu mengutamakan dialog dan tidak mempunyai catatan sebagai bangsa yang arogan dan melakukan agresi terhadap negara-negara lain," kata Mottaki.

Menlu itu juga mengatakan bahwa setidaknya 130 rencana penanganan krisis di Palestina telah mengalami kegagalan selama 60 tahun terakhir ini karena kurangnya perhatian terhadap akar-akar masalah penyebab krisis.

Mottaki menunjuk adanya upaya-upaya yang sengaja dibuat yang menyebabkan perpecahan di Lebanon dan mengatakan bahwa "sebuah pengertian di antara kelompok-kelompok di Lebanon akan menjadi satu-satunya solusi atas krisis di negara tersebut."

Dia mengingatkan bahwa tindakan-tindakan teroris saat ini dapat menjadi bagian dari sebuah konspirasi besar yang digunakan untuk menebarkan ketidakamanan di kawasan.

Mottaki mendesak Eropa segera memainkan peranan yang lebih aktif di Lebanon. Demikian sumber Irna melaporkan.

Sementara itu, Akselsen menekankan pentingnya meningkatkan saling pengertian mengenai Islam dan Barat, dan mengatakan upaya ini adalah salah satu agenda dari kepentingan kedua negara.

Anggota parlemen Norwegia itu meminta Iran untuk mempengaruhi kelompok-kelompok Lebanon guna mengatasi krisis di negara tersebut. (dar)Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Cerita, Khutbah, RMI NU Haedar Nashir

Kamis, 30 November 2017

Kader Ansor Tak Boleh Meniru Karakter Itik

Pamekasan, Haedar Nashir - Syahdan, itik tidak mampu menyerap dengan baik “hasil rapat” dengan bebek dan angsa terkait kesinambungan anak-cucunya. Akibatnya, itik hingga kini sembarangan dalam bertelur.

"Para kader Gerakan Pemuda Ansor tidak boleh meniru karakter itik yang ketinggalan informasi cara bertelur yang baik dan benar," ujar Kiai Jaman saat memberi pengarahan di sela-sela kolom bulanan Majelis Dzikir dan Shalawat (MDS) Rijalul Ansor PAC GP Ansor Kadur Kabupaten Pamekasan, Jumat (14/1) malam.

Kader Ansor Tak Boleh Meniru Karakter Itik (Sumber Gambar : Nu Online)
Kader Ansor Tak Boleh Meniru Karakter Itik (Sumber Gambar : Nu Online)

Kader Ansor Tak Boleh Meniru Karakter Itik

Salah satu Dewan Penasehat GP Ansor Kadur tersebut menambahkan, agar tidak seperti karakter itik, kader GP Ansor mesti banyak belajar pada sejarah. Utamanya bagaimana sepak terjang para ulama pendiri NU.

Haedar Nashir

"Kalau sampai ada kader GP Ansor yang karakter dan sikapnya keluar dari rel organisasi, berarti dia tidak jauh beda dengan itik," tegas Dosen STAI Al-Khairat itu.

Karenanya, Kiai Jaman mengetengahkan pemahaman betapa kader GP Ansor harus selalu belajar dalam banyak hal. Kepada yang lebih tua dan pengalaman, jangan sungkan untuk minta nasihat yang bermanfaat.

Haedar Nashir

"Manusia tidak bisa tahu tanpa peran orang lain," tegasnya.

Kiai Jaman juga mengimbau agar kader GP Ansor tidak seperti siput linu atau lemar; matanya melotot dan penuh semangat, tetapi tersenggol sedikit langsung kerdil.

"Karenanya, jangan jadikan jabatan sebagai andalan. Jangan berlebih-lebihan. Kita punya kelebihan dan kelemahan. Hidup bagai roda berputar," tegas Kepala SMA Islam Yaspimu Pamekasan tersebut.

Saat ini marak fitnah di dunia nyata maupun maya. Kader GP Ansor, tegas Kiai Jaman, jangan sampai termakan isu-isu negatif. Teman dengan teman di internal pengurus, mudah terjadi fitnah.

"Jika ada potensi fitnah di internal kepengurusan maupun keanggotaan, cepat tangani. Jangan seperti membiarkan tambak yang bocor. Kalau dibiarkan, akan makin besar dan membahayakan. Segeralah koordinasi," paparnya.

Alumnus Pesantren Annuqayah Guluk-Guluk Sumenep ini menambahkan, sukses itu hanya sekali seumur hidup. Siapa pun orangnya. Selebihnya karena dipertahankan.

"Dari nol sampai puncak kesuksesan berpotensi menurun. GP Ansor jangan sampai menurun. Sukses banyak hambatan. Ketika hampir sukses, akan muncul masalah yang lain. Bagaikan bulunya badan; dicukur bulunya kumis, bulu hidung lebat. Bulu hidung dicukur, bulu kumis tumbuh," katanya penuh analogi.

Penempatan pengurus dalam organisasi harus disesuaikan dengan porsi jabatan yang diemban. "Selaku ketua, tentu harus belajar ada rambut kepala; melebihi rambut yang lain tanpa ada arogansi. Lihai dan lentur sangat perlu dalam memimpin organisasi," tegas Kiai Jaman.

Persatuan pengurus juga penting. Jika ada persoalan, segera koordinasi. Selain itu, Kiai Jaman juga mengarahkan tiap kali GP Ansor menyelenggarakan acara, mesti undang tokoh masyarakat. Karena itu bisa memperkuat sistem organisasi.

Target kegiatan apa untuk masyarakat banyak, imbuhnya, juga perlu diperjelas oleh GP Ansor. Apa sebatas hanya berkumpul, bekerja di balik meja, tapi tidak merembet ke masyarakat, atau bagaimana? Jangan jadi raksasa tidur yang hanya besar tapi nihil peran.

"Kita juga mesti apental syahadat, asapok iman, apajung Allah. Sisa hidup kita gunakan untuk berjuang. Karena suatu saat, kita akan meninggalkan kesan setelah meninggalkan alam fana ini," tandasnya. (Hairul Anam/Mahbib)



Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir AlaSantri, Kajian Islam Haedar Nashir

Putra KH Wahab Chasbullah Ingatkan Sepak Terjang Wahabi

Jombang, Haedar Nashir. KH Hasib Abdul Wahab putra salah seorang pendiri NU, KH Abdul Wahab Chasbullah mengingatkan bahaya paham Wahabi yang semakin gencar melakukan propaganda melalui sejumlah kanal media.?

Hal ini disampaikan Gus Hasib saat membuka kegiatan Pelatihan Kepemimpinan Dasar (PKD) ? Pimpinan Anak Cabang GP Ansor Jombang di Tambakberas, Jombang, Jawa Timur, Sabtu (11/3).

Putra KH Wahab Chasbullah Ingatkan Sepak Terjang Wahabi (Sumber Gambar : Nu Online)
Putra KH Wahab Chasbullah Ingatkan Sepak Terjang Wahabi (Sumber Gambar : Nu Online)

Putra KH Wahab Chasbullah Ingatkan Sepak Terjang Wahabi

"Tantangan ideologi dari kelompok non-NU yang ada sekarang semakin gencar. Salah satunya gerakan Wahabi, mereka menggunakan media dan bahkan menguasai media dalam gerakannya," tutur Gus Hasib kepada kader-kader Ansor.

Gus Hasib yang juga salah satu Ketua PBNU ini mengungkapkan, kelompok Wahabi dalam gerakannya di tengah masyarakat juga banyak mengaku Sunni, bahkan mengaku beraliran Ahlussunah wal Jamaah sebagaimana NU.?

"Mereka sudah masuk hingga ke desa-desa mengaku Sunni seperti kita. Karenanya untuk membedakan itu, PBNU mempertegas Aswaja yang dianut adalah Aswaja An-Nahdliyyah," imbuhnya.

Haedar Nashir

Karenanya, lanjut Ketua Dewan Pengasuh Pesantren Bahrul Ulum ini menambahkan, Pengkaderan semacam PKD Ansor ini sangat penting. Pengkaderan dalam organisasi menurutnya tidak hanya dilakukan GP Ansor, PBNU juga melakukan pengkaderan.

"Bahkan di beberapa pengkaderan yang dilakukan PBNU, Banom diharuskan mengikuti termasuk juga lembaga-lembaga yang ada," tandasnya.

Haedar Nashir

Sementara itu, Ketua PC GP Ansor Jombang, Zulfikar D. Ikhwanto mengatakan, pelaksanaan PKD di Jombang sudah memasuki angkatan ke-4.?

"Alhamdulillah kali ini PKD didekatkan pada pendiri NU dan Ansor, yakni di Pesantren Tambakberas yang merupakan kelahiran Pendiri NU KH Wahab Chasbullah," ujarnya.

Kegiatan PKD PAC GP Ansor Jombang Kota yang digelar di Stikes An-Najiah Bahrul Ulum Tambakberas Jombang diikuti sekitar 80 kader. Mereka berasal dari pengurus Anak Cabang Jombang Kota, dan ranting.?

"Kita sempat khawatir, karena kemarin kader-kader baru mengikuti DTD Banser. Tapi Alhamdulillah semangat kader Ansor masih tinggi. Terbukti pesertanya tidak hanya dari PAC Jombang Kota, PAC Kudu, PAC Jogoroto, juga PAC Wonosalam mengirimkan kader untuk PKD di sini," katanya. (Muslim Abdurahman/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir News, Sholawat, Pendidikan Haedar Nashir

KUA Cihideung Tasikmalaya Canangkan Program Nikah Gratis

Tasikmalaya, Haedar Nashir. Baru satu hari diangkat menjadi Kepala Kantor Urusan Agama (KUA) Kecamatan Cihideung Kota Tasikmalaya Jawa Barat, Husna Mustofa yang juga Sekretaris GP Ansor Kota Tasikmalaya langsung mencanangkan program "Nikah Gratis".

KUA Cihideung Tasikmalaya Canangkan Program Nikah Gratis (Sumber Gambar : Nu Online)
KUA Cihideung Tasikmalaya Canangkan Program Nikah Gratis (Sumber Gambar : Nu Online)

KUA Cihideung Tasikmalaya Canangkan Program Nikah Gratis

Dengan menggandeng GP Ansor Kota Tasikmalaya, Kepala KUA termuda di Jawa Barat ini akan memprioritaskan anggota Ansor/Banser yang belum menikah untuk mengikuti program nikah massal gratis yang dilakukan KUA Kecamatan Cihideung.

"Awal tahun 2017 sudah kita programkan. Sekaligus dalam memperingati Harlah NU pada 31 Januari," kata Husna di Kantor KUA Cihideung, Senin (14/11).

Menurut Husna, data base Ansor Kota Tasikmalaya ada sekira 300 anggota yang belum menikah. Dari usia 20 sampai 40 tercatat masih bujang termasuk ada yang duda.

"Maka program awal saya untuk Ansor itu. Nikah massal gratis," ujarnya.

Haedar Nashir

Husna pun mengaku sudah berkomunikasi denga jajaran pengurus Ansor dan seluruh pegawai KUA Cihideung agar program tersebut menjadi agenda rutin tahunan dalam rangkah memperingati Harlah NU.

"Waktu tiga bulan dari sekarang cukup untuk persiapan. Bayar nikah di luar kantor 600 ribu. Nikah di kantor nol rupiah. Nikah di luar kantor bisa nol rupiah asal ada surat keterangan miskin dari desa atau kelurahan setempat," ucapnya.

Ketua GP Ansor Kota Tasikmalaya, Ricky Assegaf mengatakan rencana program nikah massal gratis itu sudah masuk agenda kerja 2017. Kebetulan ada kader Ansor yang jadi Kepala KUA sehingga dengan mudah akan terealisasi.

"Ya klop saja langsung. Istilahnya gayung bersambut karena kader ansor ada yang jadi Kepala KUA. Tinggal tekhnis dan saya wajibkan yang belum menikah agar segera menikah. Biar biaya ditanggung Ansor," tuturnya. Program Nikah Gratis ini, kata Ricky, berlaku bagi umum juga tak mesti harus anggota Ansor.

Haedar Nashir

Sebelumnya, Kantor Kementerian Agama Kota Tasikmalaya melakukan pelantikan Kepala KUA baru pada Jumat (11/11/2016). Dari tiga yang dilantik, salah satunya Husna Mustofa yang berusia 30 tahun menjadi Kepala KUA Kecamatan Cihideung Kota Tasikmalaya. Husna merupakan Sekretaris GP Ansor Kota Tasikmalaya periode 2015-2019. (Nurjani/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Meme Islam, Kajian Haedar Nashir