Minggu, 03 Desember 2017

Berkhidmah Pembeda Pesantren dan Sekolah

Demak, Haedar Nashir. Pondok Pesantren Putri Nurul Burhany Mranggen Demak melantik pengurus pondok Pesantren masa khidmah 2014/2015. Pelantikan diikuti seluruh santri dan dewan asatidz. Sebagai kepala terpilih; Aida Qonitatul Muna menggatikan Nur Aeni.

Pengasuh pesantren Nurul Burhany, KH. Helmi Wafa Mahsuni dalam pengarahannya menjelaskan, semua santri baik yang menjadi pengurus maupun yang tidak menjadi pengurus mempunyai dua kewajiban.

Berkhidmah Pembeda Pesantren dan Sekolah (Sumber Gambar : Nu Online)
Berkhidmah Pembeda Pesantren dan Sekolah (Sumber Gambar : Nu Online)

Berkhidmah Pembeda Pesantren dan Sekolah

Menurut dia, kewjiban pertama adalah belajar atau mengaji dan  kewajiban untuk berkhidmah atau mengabdi, baik khidmah kepada kiai maupun khidmah kepada santri.

Haedar Nashir

Khidmah inilah yang membedakan antara pendidikan di pesantren dan pendidikan di luar pesantren. Disini santri dididik untuk ikhlas mengabdi, walaupun tanpa gaji ataupun imbalan apapun.

KH. Helmi Wafa Mahsuni memprosentase waktu bagi santri sebagai berikut; untuk kalangan pengurus 50% untuk belajar atau mengaji dan 50% untuk berkhidmah, sedangkan untuk kalangan santri, 75% untuk belajar dan 25% untuk berkhidmah.

Haedar Nashir

Selanjutnya pengasuh berharap, dengan dibiasakannya santri khidmah di pondok pesantren, setelah nanti pulang di kampung halaman masing-masing, santri dapat berkhidmah kepada masyarakat.

Khidmah bisa dilakukan melalui berbagai organisasi yang ada di lingkungan masing-masing, baik melalui jama’ah tahlilan, Fatayat NU, IPPNU dan lain sebagainya, “tentunya harus didasari dengan rasa ikhlas,” tegasnya. (Abdus Shomad/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Internasional, Sejarah Haedar Nashir

Kehadiran Internet Marketers NU Didukung Ketua PCNU Tasikmalaya

Tasimalaya, Haedar Nashir. Pengurus Internet Marketers Nahdlatul Ulama (IMNU) Kota Tasikmalaya bersilaturahim ke kediaman Ketua PCNU Kota Tasikmalaya KH Didi Hudaya Bukhori  di Pesantren Bustanul Ulum, Sumelap, Tamansari, Kota Tasikmalaya, Rabu (25/10).

Pertemuan yang berlangsung sekitar dua jam itu berlangsung khidmat dalam suasana penuh keakraban. 

Kehadiran Internet Marketers NU Didukung Ketua PCNU Tasikmalaya (Sumber Gambar : Nu Online)
Kehadiran Internet Marketers NU Didukung Ketua PCNU Tasikmalaya (Sumber Gambar : Nu Online)

Kehadiran Internet Marketers NU Didukung Ketua PCNU Tasikmalaya

Kiai Didi merespons positif kehadiran IMNU. Ia berpesan melalui IMNU tetap bisa menjaga tali shilaturahim melalui media internet sebagai fasilitas untuk saling berbagi dan berdakwah khususnya menjaga kultural nahdliyah yang menjadi salah satu ruh kekuatan dan keunikan NU.

“Dengan hadirnya IMNU ini bisa mengimbangi arus informasi yang tidak jelas sumbernya seperti hoals, yang justru bisa merusak tali persaudaraan antar umat islam terlebih khusus bagi warga Nahdliyin itu sendiri,” kata Kiai Didi.

Selain silaturahim, melalui internet juga dapat dimanfaatkan menjaga dan memelihara nilai-nilai ajaran Nahdliyyah.

Haedar Nashir

“Sehingga keutuhan umat lebih bisa lebih terjaga dan terpelihara,” tegas Kiai Didi. (Chenk Rahman/Kendi Setiawan)

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Ulama, Daerah, Warta Haedar Nashir

Haedar Nashir

Sabtu, 02 Desember 2017

Ormas-Ormas Temanggung Nyatakan Tolak ISIS

Temanggung,Haedar Nashir. Sejumlah organisasi kemasyarakatan di Kabupaten Temanggung menolak Islamic State of Iraq and Syiria (ISIS) masuk wilayah itu. Sebab, organisasi tersebut diprediksikan akan mengganggu stabilitas keamanan lantaran ideologi yang diusung tidak sesuai dengan dasar negara.

"Secara tegas kami menolak keberadaannya. Apapun ISIS tidak boleh masuk di wilayah kami. Organisasi tersebut tidak sesuai dengan Pancasila dan UUD 1945, bahkan dalam Islam sendiri tidak demikian. Kami melihat mereka sangat tidak tepat berada di negara kita," kata Ketua GP Ansor Temanggung, Yami Blumut.

Ormas-Ormas Temanggung Nyatakan Tolak ISIS (Sumber Gambar : Nu Online)
Ormas-Ormas Temanggung Nyatakan Tolak ISIS (Sumber Gambar : Nu Online)

Ormas-Ormas Temanggung Nyatakan Tolak ISIS

Penolakan yang dilayangkan Yami bukan tanpa alasan. Pihaknya mengaku telah mendalami tentang organisasi tersebut dari referensi yang ditemukan. Hasilnya, ISIS dinilai akan justru menyebabkan keruntuhan NKRI ketimbang memperkuatnya.

Haedar Nashir

"Bagi kami, NKRI harga mati, tidak hanya slogan, tetapi sudah menjadi ideologi bagi kami. Untuk itu, kami akan menolak mereka yang akan menghancurkan NKRI," terang pria yang anggota KPU Temanggung ini.

Haedar Nashir

Yami menjelaskan, terkait dengan ISIS ini, pihaknya sebagai pucuk pimpinan organisasi sayap Nahdlatul Ulama ini telah menyosialisasikan kepada seluruh anggotanya. Setelah sosialisasi terhadap anggota dirampungkan, pihaknya kemudian meminta seluruh anggota GP Ansor dan Banser untuk menyosialisasikan kepada masyarakat tentang bahaya ISIS. "Tidak hanya menolak, kami telah melakukan sesuatu sebagai bentuk penolakan tersebut," lanjutnya.

Penolakan serupa dilayangkan oleh Jaringan GUSDURian Temanggung. Organisasi yang konsen meneterjemahkan dan mengaplikasikan pemikiran KH. Abdurrahman Wahid ini menilai ISIS justru akan menyebabkan kegoyahan NKRI. "Ini sudah menyangkut ketahanan negara, bukan lagi soal keamanan. Karena mereka mau mengganti ideologi negara," kata juru bicaranya, Azrul Ahsani.

Dijelaskan, penolakan terhadap ISIS yang dilakukan oleh komunitas lintas iman ini, didasari atas kenyataan bahwa kekayaan primordial di Indonesia harus dijaga keragamannya, bukan untuk diseragamkan. Untuk itu, menghargai para pendiri bangsa, penolakan ISIS merupakan hal yang harus dilakukan. "Temanggung saja sudah beragam agama dan etnisnya, apalagi seluruh Indonesia yang lebih luas. Ini akan sangat berbahaya," tandasnya.

Selain melayangkan penolakan, pihaknya juga mendukung langkah aktif yang dilakukan TNI/Polri untuk memberantas aktivis organisasi yang berbasis di Timur Tengah ini. Menurutnya, tidak hanya harus menghukum para aktivisnya, melainkan karena merupakan bentuk organisasi terlarang, pemerintah juga harus mengeluarkan regulasi yang menegaskan larangan organisasi yang hendak mengubah dasar negara. "Tidak hanya ISIS, apa pun organisasinya yang hendak mengubah dasar negara dari Pancasila ke ideologi manapun, kita harus menolaknya. Bukan karena sentimen keagamaan, melainkan atas dasar menjaga keragaman Indonesia," tandasnya.

PC PMII Temanggung juga mengajukan penolakan atas ISIS. Penolakan tersebut dengan alasan ISIS merupakan kelompok radikal yang akan memperburuk citra Islam di mata dunia. Untuk menghentikan citra tersebut berkembang, langkah pematahan sejak dini harus dilakukan. "Indonesia dikenal dengan citra Islam moderat, jangan sampai dikotori dengan Islam yang radikal seperti ISIS," tandas Ketua PC PMII Temanggung, Rozakul Yazid.

"Pengaruh dari gerakan-gerakan radikal ini perlu diwaspadai secara mendalam, karena mampu tumbuh diberbagai aspek, agama, politik, ekonomi, sosial, budaya, bahkan psikologi. Oleh karena itu perlu dipahami arti kata radikal sendiri," kata Kasdim Mayor Infantri Hufron, di sela acara "Seminar Revitalisasi dan Aktualisasi Nilai-nilai Pancasila" dihadapan perwakilan pelajar SMA/SMK dan mahasiswa yang dihelat di aula Hotel Kintamani.

Untuk mendukung upaya menangkal ISIS sendiri, peran ormas-ormas Islam yang ada di Temanggung juga sangat diharapkan dalam upayanya mendeteksi dini serta mengantisipasi salah satu gerakan radikal ini.

"Perlu diwaspadai pergerakan ISIS ini tertutup. Selain pelajar, ormas-ormas Islam yang ada di Temanggung juga patut meningkatkan Ukhuwah Islamiyah dan segera mendeklarasikan seruan anti ISIS karena mampu memecah belah Islam secara umum. Ini berbahaya bagi umat Islam. Apalagi di kabupaten ini pernah digunakan sebagai lokasi persembunyian teroris beberapa saat lalu," kata Kasi Politik dan Kewaspadaan Nasional Kesbangpol Kabupaten Temanggung, Sri Widodo. (zah/alw)

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Anti Hoax Haedar Nashir

Para Tokoh Berikan Penghormatan Terakhir Kepada Slamet Effendy

Jakarta, Haedar Nashir. Para tokoh, baik dari lingkungan NU maupun non-NU, silih berganti mengunjungi rumah duka keluarga H Slamet Effendy Yusuf di perumahan Citra Grand Cibubur, Kamis (3/12).

Para Tokoh Berikan Penghormatan Terakhir Kepada Slamet Effendy (Sumber Gambar : Nu Online)
Para Tokoh Berikan Penghormatan Terakhir Kepada Slamet Effendy (Sumber Gambar : Nu Online)

Para Tokoh Berikan Penghormatan Terakhir Kepada Slamet Effendy

Rais Aam PBNU KH Ma’ruf Amin dan Mantan Ketua Umum PBNU KH Hasyim Muzadi tiba dalam waktu yang hampir bersamaan untuk memberi penghormatan kepada mendiang Slamet Effendy. Mereka bersalaman dan menyapa satu sama lain.

Kiai Said dan jajaran pengurus PBNU lainnya juga memberikan penghormatan dan menyampaikan  pesan terakhir sebelum jenazah diberangkatkan menuju Pesantren Tahfidzul Qur’an di Purwakarta Purwakarta, pesantren yang diasuhnya. 

Haedar Nashir

Sejumlah menteri juga hadir seperti Menteri Agama Lukman Hakim Syaifuddin, Menteri Sosial Khofifah Indar Parawansa, Menteri Pemuda dan Olahraga Imam Nahrawi, Menteri Tenaga Kerja Hanif Dakhiri, Menteri Agraria dan Tata Ruang Fery Mursidan Baldan, dan Kapolda Metro Jaya Tito Karnavian. 

Hadir pula Ketua Umum Partai Golkar Aburizal Bakrie, Mantan Ketua MPR Hidayat Nur Wahid, Mantan Menteri Kelautan dan Perikanan Fadel Muhammad, Fuad Bawazier, dan lainnya. 

Haedar Nashir

Dalam pesan di watsapp, jenazah akan diberangkatkan dari rumah duka pukul 12 siang, tetapi dimajukan menjadi sekitar 11.30 mengingat permintaan keluarga di Purwokerta agar pemberangkatan jenazah dipercepat sebagaimana dikatakan oleh Isfah Abidah Aziz, wakil sekjen PBNU yang merupakan mantan staffnya di DPR RI. Akibatnya, beberapa pelayat tidak sempat bertemu dengan jenazah, apalagi jalan Alternatif Cibubur yang padat merayap.

Sebelum pulang, Hidayat Nur Wahid sempat menanyakan soal pelaksanaan tahlil. Ketika dijelaskan bahwa tahlil akan diselenggarakan selama tujuh hari di masjid An Nahdlah PBNU, ia berjanji untuk menyempatkan diri untuk hadir.(Mukafi Niam) 

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Internasional, Sholawat, Budaya Haedar Nashir

Pangeran Saudi Dieksekusi karena Pembunuhan

Dubai, Haedar Nashir



Pangeran Arab Saudi, Turki Saud al-Kabir, telah menjalani eksekusi pada Selasa setelah pengadilan menyatakan ia bersalah menembak hingga mati seorang warga Saudi, kata laporan media resmi.?

Pangeran Saudi Dieksekusi karena Pembunuhan (Sumber Gambar : Nu Online)
Pangeran Saudi Dieksekusi karena Pembunuhan (Sumber Gambar : Nu Online)

Pangeran Saudi Dieksekusi karena Pembunuhan

Laporan tidak menyebutkan dengan cara apa eksekusi terhadap Pangeran Turki itu dilakukan. Namun, sebagian besar orang yang dihukum mati di kerajaan Arab Saudi menjalani hukuman dengan cara kepala mereka dipenggal dengan pedang.?

Pangeran Turki sebelumnya telah menyatakan bersalah menembak hingga tewas Adel al-Mohaimeed setelah perkelahian, kata kementerian dalam negeri dalam pernyataan yang dimuat oleh kantor berita SPA.?

Para anggota keluarga kerajaan Arab Saudi yang sedang berkuasa jarang terkena eksekusi. Salah satu kasus paling mengemuka di kalangan kerajaan adalah ketika Faisal bin Musaid al Saud, yang membunuh pamannya Raja Faisal, menjalani eksekusi pada 1975.?

Keluarga kerajaan diperkirakan beranggotakan beberapa ribu orang.?

Haedar Nashir

Mereka menerima tunjangan bulanan dan sebagian besar pangeran senior memiliki kekayaan dalam jumlah besar serta kekuasaan politik.?

Namun, hanya sebagian kecil dari keluarga kerajaan yang memiliki jabatan-jabatan penting pada pemerintahan.?

"Pemerintah... bertekad untuk menjaga ketertiban, menstabilkan keamanan serta menjunjung tinggi keadilan dengan menerapkan aturan-aturan yang ditentukan oleh Allah (Tuhan, red)...," kata pernyataan kementerian itu, demikian dilansir Reuters. (Antara/Mukafi Niam)

Haedar Nashir

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Budaya, Pahlawan Haedar Nashir

KH Muhammad Yahya, Mursyid Tarekat Penggerak Perang Gerilya

”Manusia dilahirkan dalam keadaan mengangis, sementara orang di sekelilingnya tertawa bahagia atas kelahirannya. Maka pada saat ia meninggal, harusnya yang terjadi adalah sebaliknya. Ia meninggal dalam keadaan senyum, sementara orang di sekelilingnya menangis bersedih atas kepergiannya.” Mungkin syair inilah yang tepat untuk menggambarkan kepergian sosok kiai kharismatik yang terkenal dengan nilai-nilai kesufiannya, Almagfurlah KH Muhammad Yahya, 23 November 1971 lalu.

Bagi kaum tarekat di Indonesia, khususnya pengikut Thariqah Qodiriyyah wa Naqsyabandiyyah (TQN), nama KH Muhammad Yahya tentu sudah sangat masyhur. Keberadaannya sebagai salah seorang mursyid TQN membuat murid-muridnya menyebut Kiai Yahya sebagai Syekhul Mursyidin.

KH Muhammad Yahya, Mursyid Tarekat Penggerak Perang Gerilya (Sumber Gambar : Nu Online)
KH Muhammad Yahya, Mursyid Tarekat Penggerak Perang Gerilya (Sumber Gambar : Nu Online)

KH Muhammad Yahya, Mursyid Tarekat Penggerak Perang Gerilya

Dilahirkan tahun 1900 M di Desa Jetis, Kecamatan Dau, Kabupaten Malang, Jawa Timur, KH Muhammad Yahya sejak kecil sudah bersentuhan dengan ilmu agama melalui pendidikan khas ala pesantren yang diajarkan langsung oleh ayahnya, Kiai Qoribun dan ibunya, Nyai Ratun. Hidup di tengah keluarga yang religius, Kiai Yahya juga mengikuti pendidikan dasar agama yang diasuh oleh pamannya, yaitu Kiai Abdullah yang juga salah satu mursyid Thariqah Kholidiyah. Di surau pesantren pamannya inilah Kiai Yahya mengenal dasar-dasar aqidah, bimbingan ibadah dan doktrin etika agama. Penguatan dasar agama di masa kecil ini menjadikannya kuat dan kokoh dalam mempertahankan prinsip.

Haedar Nashir

Kiai Yahya kecil hingga remaja memang terkenal sangat mencintai ilmu. Terbukti, tidak kurang dari enam pesantren menjadi jujugan-nya dalam menuntut ilmu selama kurun waktu 20 tahun. Mulai dari Pesantren Bungkuk Singosari, Pesantren Cempaka Blitar, Pesantren Kuningan Blitar, Pesantren Siwalan Panji Sidoarjo, Pesantren Kiai Asy’ari Tulungagung hingga Pesantren Jampes Kediri. Keenam pesantren tersebut telah memberi maziyah keilmuan tersendiri bagi Kiai Yahya.

Setelah dirasa cukup, di tahun 1930 atas restu Kiai Ihsan, akhirnya Kiai Yahya boyong ke kota kelahirannya di Malang. Dan di tahun itu pula, Kiai Yahya diambil menantu oleh Kiai Isma’il, dan dinikahkan dengan putri angkat beliau yang bernama Siti Khodijah. Kiai Isma’il mengambil putri angkat dari kemenakannya sendiri, yaitu Kiai Abdul Majid. Kedua ulama ini merupakan pengasuh generasi kedua Pondok Pesantren Gadingkasri Malang, nama Pondok Pesantren Miftahul Huda saat itu, yang sekarang lebih dikenal dengan Pondok Gading. Namun, baru lima tahun usia pernikahanannya, Kiai Abdul Majid dan Kiai Isma’il wafat. Akhirnya, Kiai Yahya mengemban tugas ganda, baik sebagai pengasuh pesantren maupun sebagai kepala keluarga.

Haedar Nashir

Aktif di Medan Tempur

Saat memimpin Pesantren Gading inilah, Kiai Yahya terpanggil untuk mendarmabaktikan jiwa dan raga untuk membela kehormatan bangsa. Kiai yang memiliki sebelas anak ini ikut terlibat aktif dalam upaya heroik membela bumi pertiwi. Bersama seorang komandan batalyon tentara Badan Keamanan Rakyat (BKR) bernama Mayor Sulam Syamsun, Kiai Yahya turut serta merancang, menyusun strategi dan menggerakkan santri dan rakyat untuk melakukan perang gerilya di Kota Malang dan sekitarnya. Bahkan, saat Rais Akbar Nahdlatul Ulama Hadratussyekh KH Hasyim Asy’ari menyerukan Resolusi Jihad pada 10 November 1945, Kiai Yahya juga termasuk salah satu dari ratusan ribu pejuang yang ikut bertempur di garis depan. Keikutsertaannya di pertempuran tersebut atas permintaan khusus dari Panglima BKR Divisi Untung Soeropati, Mayor Jenderal Imam Soedja’i.

Semasa perang gerilya berlangsung, Pondok Pesantren Gading dijadikan sebagai markas pasukan dalam melakukan penyerangan ke jantung kota. Karena letaknya yang strategis dan dianggap sebagai netral zone (daerah netral), hal ini membuat pasukan merasa aman dan leluasa merancang dan merencanakan serangan. Selain itu, Pondok Gading juga terkenal di kalangan para pejuang sebagai tempat yang aman bagi berkumpulnya pimpinan dalam melakukan pertemuan dan briefing.

Hal ini sesuai dengan pernyataan KH Abdurrahman Yahya (putra ke-5 Kiai Yahya) saat ditemui penulis di kediamannya, Minggu (5/7) lalu yakni, “Walaupun terhitung lebih dari sepuluh kali mortir (bom) jatuh di darah Gading namun tidak pernah terjadi ledakan yang membahayakan,” ujar Mbah Kiai Man, sapaan akrab KH Abdurrahman Yahya.

Demikian pula? ketika meletusnya pemberontakan DI/TII di Jawa Barat yang mana hal tersebut dikhawatirkan bakal merembet ke daerah lain, maka KH Abdul Wahid Hasyim sebagai wakil pemerintah dan petinggi Nahdlatul Ulama memilih berkunjung ke Pondok Gading. Didampingi Kepala Staf Divisi VII Surapati Kolonel Iskandar Sulaiman, di pondok inilah diadakan rapat terbatas bersama Komandan Batalyon Hamid Rusdi, Sullam Syamsun, Abdul Manan, Kapten? Yusuf bin Abu Bakar dan Kiai Yahya yang menekankan kepada seluruh pejuang untuk tidak terpengaruh oleh provokasi DI/TII yang ingin memisahkan diri dari Republik Indonesia.

Kiai Yahya di kalangan para pasukan juga sangat terkenal dengan sikap pemberaninya. Setelah agresi Militer Belanda 1 yang memaksa pejuang Indonesia dipukul mundur. Dari pihak Indonesia, Mayor Sullam memikul tugas berat untuk merebut kembali Kota Malang yang sudah terlanjur dikuasai oleh pasukan asing. Disiapkanlah strategi perang gerilya. Semua kekuatan dikerahkan, termasuk potensi dan kharisma Kiai Yahya. Ada empat tugas khusus yang harus dilakukan Kiai Yahya. Di antaranya, tugas motivator, tugas intelejen, tugas logistik, dan tugas teritorial. Meski tergolong berat, namun tugas tersebut dijalankan dengan baik oleh Kiai Yahya yang mampu menggerakkan santri dan masyarakat sekitar. Tidak heran jika Kiai Yahya dikenal sebagai seorang ahli strategi dan mobilisator yang tangguh, istiqomah, tegas dan cerdas.

Pagi, 4 Syawal 1392 H atau bertepatan pada tanggal 23 November 1971 M sekitar pukul 09.30 WIB, Kiai Yahya mengembuskan nafas terakhir, menghadap Allah SWT pada usia 71 tahun. Ada yang berpendapat ia meninggal pada usia 68 tahun karena Kiai Yahya lahir pada 1903. Namun, menurut saksi hidup, KH Abdurrahman Yahya, saat ditemui penulis, yang lebih valid adalah Kiai Yahya lahir tahun 1900, sehingga umur beliau 71 tahun. Terlepas dari itu semua, kepergiannya yang mendadak dan begitu mudah, membuat keluarga ndalem, tetangga dan santri setengah tidak percaya, termasuk Nyai Khodijah dan KH Abdurrahman Yahya yang mendampingi hingga detik-detik terakhir. Namun Allah SWT Maha Kuasa dan Maha Berkehendak untuk menciptakan makhluk sekaligus mengambilnya. Akhirnya, Kiai Yahya wafat meninggalkan ilmu, pesan, teladan dan kenangan tiada terukur bagi siapa pun.

Muhammad Faishol, mantan wartawan Jawa Pos Radar Malang yang saat ini menjadi Koordinator Redaktur Media Santri NU (MSN) Malang; Santri Sholawatul Qur’an Banyuwangi dan Sabilurrosyad Gasek Malang. ?



Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Sholawat, Pesantren Haedar Nashir

30 Tahun Beristighfar atas Ucapan Alhamdulillah

Seorang arif biLlah, Syekh Sariy Saqathy (wafat th. 253 H./967 M.) murid sufi besar Ma’ruf Karkhy, pernah berkata: “Tiga puluh tahun aku beristighfar, memohon ampun kepada Allah atas ucapanku sekali ‘Alhamdulillah’!”

“Lho, bagaimana itu?” tanya seseorang yang mendengarnya.

30 Tahun Beristighfar atas Ucapan Alhamdulillah (Sumber Gambar : Nu Online)
30 Tahun Beristighfar atas Ucapan Alhamdulillah (Sumber Gambar : Nu Online)

30 Tahun Beristighfar atas Ucapan Alhamdulillah

“Begini. Terjadi kebakaran di Baghdad,” kata Syekh menjelaskan, “lalu ada orang yang datang menemuiku dan mengabarkan bahwa tokoku selamat tidak ikut terbakar. Aku waktu itu spontan mengucap, Alhamdulillah! Maka ucapan itulah yang kusesali selama 30 tahun ini. Aku menyesali sikapku yang hanya mementingkan diri sendiri dan melupakan orang lain.”

Tiga puluh tahun Syekh Sariy menyesali ucapan Alhamdulillahnya. Beliau menyesal karena sadar—sekejab setelah melafalkan ungkapan syukurnya itu—bahwa dengan ungkapan syukurnya itu berarti beliau masih sangat tebal perhatiannya kepada diri sendiri. Begitu tebalnya hingga menindih kepekaan perhatiannya kepada sesama.

Haedar Nashir

Sekejab beliau tersadar: alangkah degilnya orang yang mensyukuri keselamatan sebuah toko pada saat keselamatan sesama dan harta benda mereka terbakar habis. Alangkah musykilnya orang yang sanggup menyatakan kegembiraan di saat musibah menimpa sebagian besar saudara-saudaranya.

Meski saya, atau mungkin juga anda, bukan wali Allah yang bersih; adalah sangat mudah memahami penyesalan mulia orang suci --paman Bapak para sufi Al-Junaid—itu. Kecuali bila hati kita memang sudah sedemikian membatu oleh kecintaan kita yang berlebihan kepada diri sendiri dan dunia. Na’udzubillah

Haedar Nashir





Cerita ini disampaikan KH A Mustofa Bisri (Gus Mus) di akun Facebook pribadinya pada 24 Mei 2009

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Sholawat, Sejarah Haedar Nashir