Selasa, 12 Desember 2017

Tanamkan Cinta Al-Qur’an pada Anak, RSINU Tadarus Bersama Hafiz Cilik Nasional

Tanamkan Cinta Al-Qur’an pada Anak, RSINU Tadarus Bersama Hafiz Cilik Nasional

Demak, Haedar Nashir - Dalam menyambut bulan suci Ramadhan 1437 H Rumah Sakit Islam (RSI) NU Demak menggelar tablig akbar dengan tema” RSI NU Demak Bertadarus “di masjid Islamic Center Jogoloyo, Wonosalam, Demak, Sabtu (14/5). Pada pengajian akbar ini RSI NU Demak mengahdirkan hafiz cilik Muhammad Abdul Rasyid asal Pekan Baru Riau.

Tanamkan Cinta Al-Qur’an pada Anak, RSINU Tadarus Bersama Hafiz Cilik Nasional (Sumber Gambar : Nu Online)
Tanamkan Cinta Al-Qur’an pada Anak, RSINU Tadarus Bersama Hafiz Cilik Nasional (Sumber Gambar : Nu Online)

Tanamkan Cinta Al-Qur’an pada Anak, RSINU Tadarus Bersama Hafiz Cilik Nasional

Di tengah acara Direktur RSI NU dr H Abdul Azis mengatakan, kegiatan tadarus bersama anak anak dimaksudkan untuk menginspirasi dan memotivasi masyarakat dan keluarganya dalam kecintaannnya pada Al-Qur’an sejak dini. Menurutnya untuk memotivasi anak-anak RSI NU sengaja mengundang sebagai hafidz Indonesia 2014 RCTI, aksi junior 2015 Indosiar dan memiliki 18 irama imam besar dunia.

“Kami? sengaja mengundang Abdul Rasyid yang biasa dipanggil Syekh Rasyid untuk menginspirasi anak-anak sampai orang tua agar cinta Al-Qur’an, gemar bertadarus dan menghafal Al-Qur’an,” tutur dr Azis.

Haedar Nashir

Di saat yang sama Ketua panitia pelaksana Muslih mengatakan, panitia sementara melibatkan 40 lembaga pendidikan yang berada di sekitar rumah sakit karena keterbatasan waktu dan sebagai uji kesuksesan pelaksanaan kegiatan, kehadiran mereka rata-rata didampingi guru pengampunya dari sekolah masing-masing.

Haedar Nashir

“Sementara kami baru melibatkan sedikit sekolahan karena faktor waktu dan teknis, karena ini baru pertama kali,” kata Muslih.

Selama memimpin tadarus Rasyid sengaja melemparkan pertanyaan dengan cara melanjutkan ayat Al-Qur’an yang dibacanya untuk disempurnakan oleh penjawab mulai dari surat-surat pendek sampai ayat pada surat yang panjang. Usai acara Muhammad Rasyid yang didampingi direksi dan karyawan rumah sakit melanjutkan sembahyang jamaah bersama di Masjid Agung Demak. Usai berjamaah mereka berziarah ke makam Sunan Kali Jaga dan diakhiri kunjungan ke bangsal dengan mendoakan pasien.

Acara yang diikuti seribu lima ratus siswa dan jamaah umum ini dihadiri pula pengurus Yayasan Rumah Sakit Hasyim Asy’ari H Sa’dullah, Direktur dr H Abdul Azis, dan jajaran Direksi RSI NU Demak serta pengurus NU Demak. (A Shiddiq Sugiarto/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Kajian, Kyai Haedar Nashir

Pemkab Bondowoso: NU Berjasa Ciptakan Ketenteraman

Bondowoso, Haedar Nashir - Pemerintah Kabupaten Bondowoso melalui wakil bupati setempat,H Salwa Arifin, mengucapkan selamat hari lahir ke-94 Nahdlatul Ulama (NU). Ia memuji peran Nahdlatul Ulama (NU) dalam mewujudkan kehiudupan yang harmonis di masyarakat. Menurutnya, kiprah ini tak bisa disepelekan.

Hal itu ia sampaikan saat memberikan kata sambutan dalam peringatan harlah ke-94 NU yang digelar Pengurus Cabang NU (PCNU) Kabupaten Bondowoso, Kamis (13/4) sore.

Pemkab Bondowoso: NU Berjasa Ciptakan Ketenteraman (Sumber Gambar : Nu Online)
Pemkab Bondowoso: NU Berjasa Ciptakan Ketenteraman (Sumber Gambar : Nu Online)

Pemkab Bondowoso: NU Berjasa Ciptakan Ketenteraman

“Saya harus ucapkan terimakasih kepada NU," ucapnya di alua pendopo kantor Bupati Bondowoso, Kabupaten Bondowoso, Jawa Timur.

Haedar Nashir

Baginya, peran NU terbesar adalah mempu menciptakan ketenteraman baik di tingkat pusat, provinsi maupun kabupaten.

Haedar Nashir

PCNU Kabupaten Bondowoso memperingati harlah kali ini dengan Taushiyah Khusus Penguatan Kelembagaan. Kegiatan tersebut diikuti jajaran ketua, rais, seketaris, bendahara dari tingkatan Ranting, Majalis Wakil Cabang Nahdlatul Ulama (MWCNU), dan lembaga serta badan otonom NU se-kabupaten Bondowoso.

Ketua PCNU Bondowoso H Abdul Qodir Syam mengatakan, kegiatan harlah ke-94 PCNU Bondowoso dimulai sejak keikutsertaannya dalam acara Istighotsah Kubro yang dihelat PWNU Jawa Timur di Sidoarjo. (Ade Nurwahyudi/Mahbib)

?

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Habib Haedar Nashir

Senin, 11 Desember 2017

Ke Kongres, Pelajar NU Jatim Dilepas Majelis Alumni

Surabaya, Haedar Nashir? . Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama dan Ikatan Pelajar Putri Nahdlatul Ulama (IPNU) Jawa Timur dilepas Ketua Majelis Alumni IPNU H Muzammil Syafii dari Surabaya pada Jumat (4/12) untuk berangkat kongres kedua organisasi tersebut yang belangsung di di Asrama Haji Donohudan, Boyolali, Jawa Tengah.

Sebelum diberangkatkan para pelajar NU terlebih dahulu apel bersama di depan gedung PWNU Jatim, Jl Masjid Al Akbar Timur No 9 Surabaya. Pada kesempatan itu Muzammil berpesan kepada pelajar NU supaya menjaga etika dan akhlak, jangan sampai mencederai nama Jawa Timur. "Jatim itu barometer nasional," katannya.

Ke Kongres, Pelajar NU Jatim Dilepas Majelis Alumni (Sumber Gambar : Nu Online)
Ke Kongres, Pelajar NU Jatim Dilepas Majelis Alumni (Sumber Gambar : Nu Online)

Ke Kongres, Pelajar NU Jatim Dilepas Majelis Alumni

Selain Muzammil hadir juga Sudirman Ali, Abdul Mujib dan Hj Aisyah Lilia Agustina. Mereka juga anggota Majelis Alumni IPNU dan IPPNU Jatim.

Haedar Nashir

Hj Aisyah Lilia Agustina yang akrab disapa Mbak Icha itu berpesan kepada kader-kader IPNU dan IPPNU supaya di kongres nanti jangan sampai menggebrak meja atau kursi. "Sampaikan argumen kalian dengan sopan dan santun pelajar NU tidak perlu melakukan itu di kongres nanti," lanjut perempuan yang juga anggota DPRD Jatim itu.

IPNU dan IPPNU Jatim adalah satu kesatuan yang akan membawa visi misi pelajar NU. Haikal Atiq Zamzami mengatakan untuk membawa nama baik NU Jatim. "Kita adalah satu komando dan satu tujuan untuk pelajar NU," jelasnya.

Haedar Nashir

Abdullah Muhdi, korlap pemberangkatan kongres, mengatakan, bahwa IPNU dan IPPNU Jatim bergabung dalam satu rombongan. Mereka berjumlah 300 orang dari 25 PC IPNU se Jatim.

"Kita nanti akan berhenti di beberapa titik, diantaranya Jombang, Nganjuk dan Madiun, di tiga tempat itu kita nanti akan konsolidasi dengan Pimpinan Cabang IPNU IPPNU," pungkasnya. [Rof Maulana/Abullah Alawi]

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Hadits, Humor Islam Haedar Nashir

Dakwah yang Beradab

Oleh M. Haromain



Dakwah merupakan satu bagian yang tidak dapat ditinggalkan dalam kehidupan umat beragama. Dalam ajaran Islam, ia merupakan suatu kewajiban yang dibebankan oleh agama kepada pemeluknya, baik yang sudah menganutnya ataupun belum.

Dakwah yang Beradab (Sumber Gambar : Nu Online)
Dakwah yang Beradab (Sumber Gambar : Nu Online)

Dakwah yang Beradab

Syeikh Ali Mahfudh dalam kitabnya Hidayah al-Mursyidin, sebagaimana dikutip oleh KH Sahal Mahfudh, menetapkan definisi dakwah sebagai ”Mendorong (memotivasi) untuk berbuat baik, mengikuti petunjuk Allah, menyuruh orang mengerjakan kebaikan, melarang mengerjakan kejelekan, agar dia bahagia di dunia dan akhirat”.

Sementara dakwah menurut Quraish Shihab adalah seruan atau ajakan kepada keinsafan atau usaha mengubah situasi kepada situasi yang lebih baik dan sempurna, baik terhadap pribadi ataupun masyarakat.

Dalam merealisasikan kewajiban dakwah ini, para da’i atau muballigh menggunakan banyak media dan metode, misalnya ceramah, diskusi, bimbingan penyuluhan, penerbitan buku, majalah dan lain sebagainya.

Haedar Nashir

Disini perlu ditegaskan bahwa masing masing media dan metode dakwah ini memiliki kelebihan, keistemewaan dan kekurangan, sehingga dibutuhkan kejelian penggunaan media dakwah tertentu sesuai dengan kondisi sasaran dakwah yang dihadapi. Ini dimaksudkan supaya kita tidak fanatik (ta’assub) kepada salah satu media dakwah dan menyepelekan kepada media dakwah lainnya.

Kegiatan dakwah dengan memahami dua definisi dakwah di atas, sepintas lalu tampak begitu mudah dan ringan bahkan nyaris tanpa hambatan. Tetapi kegiatan dakwah dalam tahap implementasi atau praktek di lapangan ternyata tidak sesederhana dan semudah itu.

Barangkali kalau sekadar menyampaikan materi atau pesan dakwah saja banyak yang mampu. Namun untuk mencapai keberhasilan atau kesuksesan dakwah, yang ditandai salah satunya lewat penerimaan secara sadar dari sasaran dakwah terhadap materi atau pesan dakwah yang kita sampaikan, maka di sinilah letak kesulitannya.

Hal itu membuktikan bahwa dalam menyampaikan materi atau pesan dakwah para juru dakwah terkadang tidak cukup hanya menyampaikan materi dakwahnya secara blak-blakan, lurus, dan transparan. Sebab penyampaian dakwah secara transparan (eksplisit) dan apa adanya ini kadang berpotensi besar menyudutkan tradisi, budaya, atau nilai-nilai yang diagungkan oleh masyarakat yang menjadi objek dakwah. Padahal sudah menjadi naluri manusia adalah tidak mau dipersalahkan. Dan orang akan mempertahankan diri secara emosional manakala mereka diserang atau dipojokkan secara psikologis. Bagaimana masyarakat bersedia menerima seruan dakwah jika mubalighnya tidak bisa menghargai mereka?

Haedar Nashir

Ketika seorang da’i dakwahnya tidak mendapat simpati dari masyarakat, janganlah keburu ia menuduh masyarakat tersebut sebagai komunitas masyarakat yang bebal hatinya, tidak mempan oleh nasihat. Justru pertama kali yang harus dikoreksi oleh da’i tersebut adalah cara, sikap, dan strateginya dalam menyampaikan dakwah. Sudah tepat dan benarkah metode yang ia sampaikan?

Oleh karena itu, demi tercapainya keberhasilan dakwah, supaya pesan dakwah dapat diterima dan dipraktekkan oleh objek dakwah diperlukan seni, metode, dan pendekatan yang benar. Dan strategi yang sering menjadi pedoman golongan ahlussunnah wal jama’ah dan merupakan manhaj dakwahnya salafusshaleh ? adalah metode dan cara pendekatan yang sangat bagus dan persuasif, yaitu dengan hikmah, mauidzah hasanah, dan diskusi atau dialog dengan cara yang lebih baik. Metode ini digali dari Al-Qur’an surat an-Nahl ayat 125.

KH Ahmad Shiddiq mengutip dari tafsir Al-Khazin menerangkan lebih detail tiga metode di atas. Mengajak dengan hikmah, artinya memberi keterangan yang mantap, kokoh, dan benar. Atau menggunakan dalil-dalil yang benar yang mengungkapkan kebenaran dan menghilangkan keragu-raguan.

“Mauidzah hasanah” artinya memberi petunjuk yang menggairahkan kepada kebenaran serta menunjukkan bahaya atau akibat perbuatan buruk, yang mengesankan rasa kasih sayangnya perawat bagi pasiennya. Metode dialog atau debat yang lebih baik artinya menggunakan pendekatan yang lemah lembut.

Kenapa penulis artikel ini mengatakan bahwa dakwah dengan ketiga metode diatas adalah metode terbaik dan persuasif? Karena dengan modal metode seperti itu, seperti apapun keadaan sasaran dakwah, sang da’i sedapat mungkin tetap menghargai meraka, memosisikan mereka sebagai manusia yang tidak hanya memiliki akal tetapi juga emosi dan perasaan yang tidak boleh diperlakukan seenaknya layaknya patung. Dan inilah istilah yang penulis sebut sebagai dakwah yang beradab.

Dengan demikian karena objek dakwah merasa dihargai dan diperlakukan selayaknya manusia lainnya, maka penerapan dakwah dengan metode hikmah, mauidzah hasanah dan mujadalah bi ahsan ini punya peluang lebih besar untuk diterima dan mendapat simpati dari masyarakat obyek dakwah.

Berbeda dengan metode dakwah yang disampaikan dengan jalan kekerasan, paksaan dan cara-cara yang bersifat sarkastik lainnya, alih-alih masyarakat akan bersimpati dan menerimanya, justru perlawanan dan permusuhanlah yang akan dikobarkan oleh mereka. Atau seandainya mereka mau menerima, besar dugaan penerimaan mereka itu karena keterpaksaan yang semu sifatnya, bukan penerimaan atas dasar kesadaran diri. Wallahu A’lam

*Penulis adalah alumnus MHM Lirboyo Kediri dan Unsiq Wonosobo

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Quote, Kiai, Lomba Haedar Nashir

GP Ansor Pamekasan Perkuat Kaderisasi Bela Negara dan Antinarkoba

Pamekasan, Haedar Nashir

Beberapa bulan terakhir ini, Pimpinan Cabang GP Ansor Pamekasan, Jawa Timur memperkuat kaderisasi. Di samping memajukan organisasi, juga dimaksudkan untuk meneguhkan bela negara dan penanggulangan narkoba.

GP Ansor Pamekasan Perkuat Kaderisasi Bela Negara dan Antinarkoba (Sumber Gambar : Nu Online)
GP Ansor Pamekasan Perkuat Kaderisasi Bela Negara dan Antinarkoba (Sumber Gambar : Nu Online)

GP Ansor Pamekasan Perkuat Kaderisasi Bela Negara dan Antinarkoba

Demikian penegasan Ketua PC GP Ansor Pamekasan, Fathorrahman kepada seorang tentara utusan Kodim Pamekasan yang melakukan pendataan dan koordinasi di sekretariat Ansor Jalan R Abd Aziz, Jumat (8/4).

Dalam kesempatan itu, pihak Kodim meminta data kepengurusan cabang dan PAC di 13 kecamatan. Permintaan tersebut dilayani langsung oleh Sekretaris PC GP Ansor Pamekasan, Abd Latif.

"Dua bulan lagi, Insyaallah kami menggelar Diklat Banser," terang Mas Paonk, panggilan akrab Fathorrahman.

Haedar Nashir

Dosen Universitas Madura tersebut menambahkan, saat ini pihaknya sedang mengirim 4 kader ke Blitar guna mengikuti provost. Selain itu, 4 kader sudah dipastikan ikut PKL Ansor se-Jawa Timur di Kabupaten Sumenep, Sabtu-Ahad (9-10/4). (Hairul Anam/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir

Haedar Nashir Aswaja, Lomba Haedar Nashir

Mendefenisikan Ulang Makna Ilmu, Ulama, dan Mu’allim

Oleh: Najib Mubarok

Akhir-akhir ini kita dihadapkan pada permasalahan-permasalahan yang tidak biasa. Biasanya, suatu masalah timbul karena kebodohan. Namun, yang terjadi akhir-akhir ini permasalahan terjadi justru karena orang-orang berilmu, lulusan pendidikan tinggi.Timbul perdebatan-perdebatan tak berujung tentang akar masalah. Namun tidak ditemukan solusi dikarenakan masing-masing pihak menganggap dirinya paling benar. 

Atau mungkin yang sebenarnya terjadi bukanlah demikian. Mungkin permasalahan-permasalahan yang timbul semuanya disebabkan karena kebodohan. Namun, tidak satu pun yang menyadari dirinya dalam kebodohan, orang bodoh yang bodoh akan kebodohannya.

Mendefenisikan Ulang Makna Ilmu, Ulama, dan Mu’allim (Sumber Gambar : Nu Online)
Mendefenisikan Ulang Makna Ilmu, Ulama, dan Mu’allim (Sumber Gambar : Nu Online)

Mendefenisikan Ulang Makna Ilmu, Ulama, dan Mu’allim

Sebelum masa kerasulan Muhammad SAW, bangsa arab berada dalam kerusakan moral, ketidakadilan, bahkan penindasan dalam wujud perbudakan dan kepemimpinan yang lalim. Satu masa yang disebut zaman kebodohan, zaman jahiliyah. Disebut zaman kebodohan tidak lain karena kerusakan-kerusakan yang terjadi adalah akibat ketidaktahuan. Di masa penjajahan, bangsa Indonesia sangat mudah diperalat menjadi boneka-boneka kolonial, diadu domba, diperbudak penjajah. Akar permasalahan paling utama adalah kurangnya wawasan, ketidaktahuan, minimnya informasi karena minimnya pendidikan. 

Lalu, zaman pun berubah dan bergerak maju, dari kebodohan menuju keilmuan. Pendidikan sekolah tidak lagi menjadi barang langka, sebaliknya menjadi kwajiban bahkan kebutuhan. Wawasan dan akses informasi yang dahulu amat mahal, sekarang menjadi mudah atau bahkan terlalu mudah untuk didapatkan. Namun, semua seperti fatamorgana. Kemajuan-kemajuan dalam bingkai modernisasi di zaman ini seakan tidak menemukan tujuannya. Kita mengatakan zaman ini maju dalam keilmuan jauh dari kebodohan. Namun kerusakan-kerusakan yang terjadi di zaman kebodohan masih terulang, bahkan boleh jadi lebih rusak lagi. Jika dahulu kerusakan terjadi akibat ketidaktahuan, maka sekarang terjadi justru karena mengetahui dan bersengaja melakukan kerusakan. Mungkin bisa dikatakan, kerusakan yang terjadi dizaman ini dilakukan oleh mereka dengan pengetahuan dan wawasan luas, dilakukan dengan sengaja dan terencana, sangat sulit diperbaiki karena para pelakunya bersembunyi dalam kedok intelektualitas. 

Haedar Nashir

Dalam upaya perbaikan dengan disertai niatan introspeksi oleh setiap diri dari kita, hal pertama yang dapat diupayakan adalah menanyakan kembali pemahaman kita tentang ilmu dan semua variabelnya, menanyakan kembali sudahkah upaya-upaya kita dalam mengamalkan ilmu menemukan tujuannya. Setidaknya terdapat tiga hal yang sangat penting untuk kita renungkan lagi makna dan pemahamannya, cakupan dan tujuannya. Ilmu, ulama sebagai subjek ilmu, dan mu’allim sebagai pengemban amanat ilmu, perlu kita kaji ulang berdasarkan fakta-fakta praktik di lapangan. Dan tentu saja, disertakan pula firman Allah SWT dan sabda rasulullah SAW sebagai dasar pijakan berpikir. 

Ada tiga nash Al-Quran dan Hadits yang saya gunakan dalam tulisan ini. Penggunaan nash Al-Quran dan Hadits tidak saya maksudkan untuk saya tafsirkan, karena saya mengakui tidak memiliki kemampuan cukup untuk menafsirkan. Penggunaan nash Alquran dan Hadits kita gunakan sebagai refleksi atas fakta pemahaman yang terjadi, sebagai parameter sudahkah pemahaman kita terkait ilmu dan variabelnya menemukan tujuan pensyariatannya. Terdapat hal menarik pada nash-nash yang disertakan dalam tulisan ini. Semuanya mengandung ‘adatul qashri “?”  yang memiliki arti “anging pestine” dalam bahasa Jawa. 

Berkenaan dengan ilmu, saya teringat dengan cerita seorang teman saat dia hendak berangkat kuliah dan mendapat nasehat dari ayahnya, “Niatkan kuliahmu untuk menuntut ilmu, menghilangkan kebodohan, lillahi ta’ala.” Cerita berbeda saya dapatkan dari salah satu teman saya yang lain saat berkonsultasi dengan keluarganya terkait rencana pilihan jurusan kuliahnya. “Kalau kamu ambil jurusan itu kamu mau kerja apa nanti?” Tanya sang ayah. Mungkin demikianlah yang saat ini dialami oleh kebanyakan dari kita. Kita mengalami degradasi standar nilai untuk memaknai sesuatu, terutama ilmu. Seakan-akan, ilmu dimaknai hanya dari sudut pandang potensi materialistisnya, peringkat nilai, ijazah, kemudahan kerja, kedudukan sosial dan kemapanan finansial. Terdapat sebuah hadits riwayat Imam Bukhari yang dapat kita gunakan untuk mengantarkan kita pada pemahaman yang lebih baik tentang ilmu.

Haedar Nashir

? ?:? ? ? ? ? ? ?: ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? 

Artinya: “Imam Bukhari berkata: Rasulullah SAW bersabda: Barangsiapa yang Allah kehendaki terhadapnya kebaikan, maka Allah akan memahamkannya di dalam agama, dan bahwasannya ilmu itu diperoleh hanya dengan belajar.” 

Ilmu dan belajar tidak dapat dipisahkan. Satu-satunya cara agar kita berada di jalan menuntut ilmu adalah dengan belajar, hanya dengan belajar. Belajar memiliki banyak dimensi. Membaca buku atau mendengarkan ceramah hanya bentuk formalnya. Belajar muncul dari kerendahan hati merasa bodoh. Karena merasa bodohlah seseorang mampu meniatkan diri belajar. Karena merasa bodohlah seseorang yang belajar tidak akan mungkin menemukan keangkuhan dalam perjalanan menuntut ilmu. Lalu, siapakah mereka orang-orang di belakang kedok intelektualitas yang dengan angkuhnya mudah memberi label salah dan sesat kepada sesamanya?. 

Ilmu yang hanya bisa didapat dengan belajar mengajarkan kita berorientasi pada usaha dan proses menuntut ilmu, mengajarkan tidak adanya jalan pintas. Peringkat nilai, ijazah, gelar akademik, bahkan kedudukan dan pekerjaan dapat diperoleh dengan jalan pintas. Namun ilmu tidak. 

Ulama sebagai subjek ilmu, pelaku dari suatu cabang ilmu. Dia yang ahli dalam ilmu ekonomi adalah ulama ekonomi. Dia yang ahli dalam ilmu matematika adalah ulama matematika. Dia yang ahli dalam ilmu tambal ban adalah ulama tambal ban. Dia yang ahli memungut sampah, yang dengan baju kumuh dan gerobak sampahnya ahli mengelola sampah, adalah ulama bidang ilmu persampahan. 

Namun sepertinya, pemahaman tentang ulama di lapangan berkata lain. Ulama adalah sebutan bagi mereka yang ahli beretorika, yang memiliki keahlian menuai tepuk tangan dari setiap kalimatnya.

Seseorang disebut ulama hanya dilihat dari gelar dan kepintaran otaknya. Akibatnya, tidak sedikit ulama ilmu keuangan menjadi pelaku korupsi, tidak sedikit ulama ilmu kedokteran menjadikan orang sakit tidak lebih sebagai lahan ekonominya, tidak sedikit ulama -ulama yang menjabat di pemerintahan melupakan rakyatnya. Firman Allah SWT dalam surah Al-Fathir:28, sebagai berikut:

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

Artinya: “Dan demikian (pula) diantara manusia, binatang-binatang melata, dan binatang-binatang ternak ada yang bermacam-macam warnanya (dan jenisnya). Bahwasannya yang takut kepada Allah dari hamba-hamba-Nya hanyalah para ulama. Sesungguhnya Allah maha perkasa lagi maha pengampun.”

Sangat menarik bagaimana Allah SWT menghubungkan antara ketakutan kepada-Nya dan ulama. Ulama menjadi manusia khusus dari hamba-hamba-Nya yang mampu merasa takut kepada Allah SWT. Satu-satunya yang mampu merasa takut kepada-Nya adalah ulama, hanya ulama. Ulama yang memiliki akar kata yang sama dengan ilmu, yang berasal dari kata dasar “mengetahui”. Dalam pengertian formal, mengetahui memang hanya terkait dengan hasil tangkapan indera dan otak. Namun dalam pengamalan dan implikasi-implikasinya, seorang berilmu diharuskan memiliki kontrol hati, kontrol laku, dan berujung pada ketaqwaan dan ketakutan kepada Allah SWT. Lalu, masihkah kita mampu untuk mengatakan kepada mereka dengan kepintaran dan gelarnya, yang menjadi oknum pejabat yang korup, menjadi oknum dokter pegawai bayaran, menjadi oknum pemimpin yang lali, sebagai orang yang berilmu?.

Mu’allim adalah orang yang mengajarkan ilmu, seorang pengajar, seorang guru. Mengajarkan ilmu adalah kwajiban, amanat bagi siapapun sebagai wujud mengamalkan ilmu. Mu’allim adalah sifat yang melekat bagi siapapun, karena setiap orang memiliki kwajiban mengajarkan ilmu sesuai kadar ilmu yang dipunyai. Namun seiring perubahan zaman, makna mu’allim pun bergeser maknanya. Mu’allim yang semula bermakna sifat yang merupakan amanat, berubah menjadi satu profesi menjanjikan, satu profesi yang menjamin kemapanan finansial dan kedudukan sosial. Tentu saja, masih banyak dari mereka yang berprofesi sebagai pengajar dan tetap berorientasikan pada penyampaian alanat ilmu. Namun, tidak sedikit pula yang menjadikan mengajar sebagai formalitas dalam rangka kegiatan ekonomi. Hadits riwayat Imam Bukhari berikut ini dapat kita jadikan pembelajaran tentang kearifan seorang yang mengajarkan ilmu.

? ? ?: ? ? ? ? ? ? ?: ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?...

Artinya: “Dari Muawiyah berkata: saya mendengar nabi SAW bersabda: Barangsiapa yang Allah kehendaki terhadapnya kebaikan, maka Allah akan memahamkannya di dalam agama. Dan bahwasannya saya hanyalah pembagi, Allah yang memberi...”

Rasulullah SAW memberikan teladan bagaimana semestinya seseorang mengajar. Hal terpenting untuk diperhatikan oleh seorang pengajar adalah kwajiban dalam menyampaikan amanat ilmu, hanya itu. Bahkan, bukan menjadi tanggung jawab seorang pengajar kepahaman mereka yang diajar. Tanggung jawab utama dari seorang pengajar adalah mengajar semaksimal mungkin. Dan tentu saja tidak semestinya, seorang pengajar menjadikan faktor ekonomi sebagiai orientasinya.

Seakan sudah menjadi suatu keniscayaan, mereka dengan pengetahuan dan kecakapan berfikir yang baik akan menempati kedudukan penting dalam kehidupan, posisi-posisi penting yang menjadi garda depan kehidupan. Tentu sangat disayangkan, jika mereka yang berada di garda depan tidak benar-benar berilmu, tidak benar-benar ulama, dan tidak benar-benar mampu memberi keteladanan ilmu. Mungkin sudah terlambat untuk berharap pada zaman saat ini. Namun, kita masih bisa berharap pada generasi muda, generasi berikutnya yang kita semogakan mampu benar-benar berilmu dengan segala

cakupannya. Semoga kelak negeri ini berjalan maju dipimpin oleh mereka para ulama sejati dengan semua kelengkapan moralnya. Semoga kelak generasi-generasi ulama sejati akan terus berlanjut secara kontinu karena terus diwariskan oleh para mu’allim dari generasi ke generasi.

*

Penulis adalah dosen Ekonomi Syariah di Sekolah Tinggi Agama Islam NU (STAINU) Temanggung

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Pemurnian Aqidah Haedar Nashir

Begini Cara Menjaga “Kualitas” Calon Bayi Kita

Malang, Haedar Nashir - Pengasuh Pondok Pesantren Sabilur Rosyad Malang, KH Marzuki Mustamar menyampaikan, calon bayi yang dikandung oleh ibu dari sang ayah tentu akan berbeda kualitasnya dengan orang tuanya. Karena itu jangan sampai para orang tua mengurangi kualitas calon bayi tersebut.

“Agar kualitasnya tidak berkurang, marilah kita menjaga makanan kita dari hal-hal yang syubhat apalagi haram. Bibit yang bagus dengan perawatan yang baik insyaallah akan menjadi baik,” demikian disampaikan KH Marzuki Mustamar dalam satu acara resepsi pernikahan Agus Habibullah dan Ning Aminah di Malang, Ahad (28/2) kemarin.

Begini Cara Menjaga “Kualitas” Calon Bayi Kita (Sumber Gambar : Nu Online)
Begini Cara Menjaga “Kualitas” Calon Bayi Kita (Sumber Gambar : Nu Online)

Begini Cara Menjaga “Kualitas” Calon Bayi Kita

Wakil Rais Syuriyah PWNU Jawa Timur itu melanjutkan taushiyahnya. Setelah menjaga diri dari hal-hal yang syubhat, para calon orang tua juga harus memilih “bibit” yang baik atau pasangan yang baik agar kebaikan itu bisa menjadi penuh seutuhnya.

Haedar Nashir

Lalu setelah anak terlahir ke dunia, para orang tua harus menyiapkan lingkungan yang baik untuk menjadi tempat berkembangnya akhlak.

Salah satu cara menyiapkan lingkungan yang baik yang disarankan oleh KH Marzuki adalah memondokkan atau memasukkan anak ke pondok pesantren. Di pondok pesantren, anak-anak akan berada di lingkungan yang paling baik.

Haedar Nashir

“Di sana seorang anak akan dididik dengan guru-guru yang ikhlas dan tanpa pamrih. Semuanya juga muslim dan shalih,” demikian KH Marzuki Musytamar. (Abu Husam/Anam)

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Habib Haedar Nashir