Jumat, 12 Januari 2018

Setelah Lebaran Usai, Lalu Apa Selanjutnya?

Puasa Ramadhan berakhir dengan masuknya 1 Syawal yang merupakan peringatan Idul Fitri, hari raya yang diperingati sangat meriah di Indonesia. Seluruh konsentrasi publik terfokus pada acara tersebut. Baju baru harus dibeli, rumah perlu ditata ulang atau dirapikan untuk menyambut tamu. Berbagai macam hidangan juga harus disiapkan. Tentu itu semua ada ongkosnya, beruntung ada tunjangan hari raya (THR) bagi karyawan. Pemerintah dengan segala daya upayanya berusaha agar perayaan tersebut berjalan dengan lancar, tanpa kurang satu apapun karena jika gagal akan menghadapi kritik pedas dari publik. Begitulah perhatian dari masyarakat dalam menyambut Idul Fitri.?

Kini Lebaran yang jatuh pada 6 Juni 2016 telah berlalu. Yang mudik ke kampung halamannya sudah mulai kembali ke rumahnya masing-masing. Ada kebahagiaan bisa bertemu orang tua dan sanak famili, tapi rasa capek karena perjalanan jauh tampaknya belum juga hilang, ongkos yang melebihi anggaran juga menjadi perhatian, badan yang melar karena kebanyakan mengkonsumsi makanan berlemak juga menjadi ingatan, dan masih ada sejumlah persoalan lain yang belum terselesaikan. Belum sempat istirahat kembali, kini kita harus mempersiapkan diri untuk kembali menjalani rutinitas sebagaimana biasanya untuk sebelas bulan ke depan.?

Dalam prinsip manajemen waktu, rehat dari sebuah aktfitas sangat penting sebagai sarana untuk melakukan evaluasi. Rutinitas yang terus-menerus menyebabkan kita bisa kehilangan perspektif yang lebih besar sehingga kita rentan terjebak semakin dalam pada persoalan yang sama. Karena terjebak rutinitas, kita tidak menyadari bahwa dunia luar sudah berubah atau kita baru tersadar bahwa kita ternyata telah menghabiskan banyak waktu untuk aktifitas tersebut dengan tingkat produktifitas yang rendah, sementara usia sudah semakin menua, padahal setiap harinya sudah disibukkan dengan berbagai tenggat yang tak ada habisnya.

Setelah Lebaran Usai, Lalu Apa Selanjutnya? (Sumber Gambar : Nu Online)
Setelah Lebaran Usai, Lalu Apa Selanjutnya? (Sumber Gambar : Nu Online)

Setelah Lebaran Usai, Lalu Apa Selanjutnya?

Dari perspektif itu, Lebaran merupakan rehat nasional karena hampir semua orang keluar dari rutinitas yang tiada habisnya tersebut. Lebaran menjadi sarana untuk refleksi, sebagaimana peringatan tahun baru, Masehi atau Hijriah, 17 Agustus, dan lainnya.

Toh, dengan sedemikian banyak momen untuk berefleksi, kita tetap saja tidak banyak berubah. Berefleksi bahkan juga sudah menjadi sebuah rutinitas tersendiri. Resolusi yang kita bikin segera saja terlupakan seminggu atau dua minggu kemudian. Kita, sebagai sebuah bangsa memang melakukan perbaikan, tapi kecepatan perbaikan tersebut tidak terjadi sebagaimana bangsa lain berubah. Berbagai indeks dalam bidang pendidikan, kesehatan, ekonomi, dan lainnya yang dirilis oleh lembaga-lembaga internasional setiap tahunnya menunjukkan bahwa kita berada dalam posisi medioker. Kita memang bukan yang terburuk, tetapi kita juga belum mampu menunjukkan prestasi gemilang di hadapan bangsa lain. Jika dilihat dari potensi yang kita miliki, seperti melimpahnya sumberdaya alam, jumlah penduduk yang besar, posisi geografis yang strategis, dan banyak faktor pendukung lainnya, seharusnya kita bisa mencapai prestasi jauh lebih baik daripada yang kita capai saat ini. Kita memang pandai dalam membuat rencana, tetapi lemah dalam implementasi dan evaluasi. ?

Haedar Nashir

Agama mengajarkan, jika hari ini sama dengan kemarin, maka kita termasuk golongan yang merugi, bahkan jika hari ini kita lebih dari kemarin, maka kita termasuk golongan yang celaka. Kebutuhan ? untuk berinovasi dan melakukan perbaikan-perbaikan dengan sungguh-sungguh semakin mendesak karena bangsa lain juga melakukan yang sama. Kalau tidak, kita akan menjadi pencundang. Dengan menyadari adanya keterdesakan bahwa orang lain, bangsa lain atau umat dari agama lain sudah bertindak lebih baik, hal ini akan memacu kita untuk bertindak lebih baik pula. Semoga pencapaian untuk setahun ke depan, kita jauh lebih baik daripada setahun sebelumnya. (Mukafi Niam)

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Cerita, Nahdlatul Haedar Nashir

Haedar Nashir

Sandal Khusus Kamar Mandi

Kamar mandi, kamar kecil, toilet, WC, dan berbagai sebutan lainnya merupakan tempat khusus yang dipergunakan manusia untuk membersihkan diri dari kotoran. Sehingga kamar mandi dan sejenisnya selalu identik dengan najis. Oleh karena itu wajar sekali jika seseorang sering merasa ragu akan kesuciannya ketika selesai mandi, buang air besar maupun kecil.

Kebanyakan keraguan seseorang bersumber dari telapak kaki sebagai anggota badan yang langsung bersentuhan dengan lantai kamar mandi. Sehingga seringkali seseorang berjalan dengan berjinjit sangat hati-hati. Merasa seolah lantai kamar mandi itu tidak bebas dari najis, padahal tidak demikian, jika memang lantai kamar mandi telah disiram berulang-ulang dengan air yang suci.

Namun demikian, keraguan adalah keraguan yang ada dalam hati yang susah untuk dihilangkan. Untuk menyiasati hal ini sebaiknya seseorang menyeidakan satu sandal khusus untuk ke kamar mandi, agar telapak kaki tidak bersentuhan langsung dengan lantai kamar mandi yang dianggap najis. Mengenai hal ini Imam Nawawi dalam Kitab Al-Majmu’ Syarhul Muhaddzab pernah menjelaskan,

Sandal Khusus Kamar Mandi (Sumber Gambar : Nu Online)
Sandal Khusus Kamar Mandi (Sumber Gambar : Nu Online)

Sandal Khusus Kamar Mandi

? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

Diperbolehkan berihthiyath (berhati-hati) dalam masalah ibadah dan yang lain sehingga tidak mengakibatkan waswas.

Penekanan Ihthiyath (kehati-hatian) lebih diutamakan pada masalah ini, dikarenakan bersuci dari najis adalah salah satu syarat sahnya shalat, jika saja ada najis yang mengenai pakaian seseorang, maka akan menjulur pada keabsahan shalat itu sendiri.

Sedangkan maksud dan tujuan dari memakai sandal sendiri adalah untuk menghindari keragu-raguan, najis dan kotoran itu sendiri. Maka jika terpenuhinya maksud tersebut adalah dengan memakai sandal, maka hal itu dianjurkan sebagai sarana terwujudnya maksud dan tujuan. Imam Nawawi melanjutkan penjelasannya, dalam kitab yang sama, 

Haedar Nashir

? ? ? ? ? ?

Diperbolehkan juga berhati-hati untuk terpenuhinya maksud dan tujuan.

Lebih baiknya seseorang menyediakan sandal khusus kamar mandi dan tidak dipakai kecuali hanya ketika hendak masuk kekamar mandi. Terlebih lagi jika kamar mandi tersebut tidak ada tempat cucian kaki, maka sandal khususu kamar mandi adalah solusinya. (Pen. Fuad H/Red. Ulil H)

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir

Haedar Nashir Hikmah, Amalan Haedar Nashir

Pencak Silat NU Pagar Nusa Kian Semarak di Sekolah-madrasah NU

Jakarta, Haedar Nashir - Pengurus Pusat Pencak Silat NU Pagar Nusa memotret banyak perkembangan dunia persilatan NU di daerah-daerah terutama di lingkungan pendidikan NU. Pengurus Pagar Nusa melihat banyak sekolah dan madrasah di lingkungan LP Maarif NU menjadikan pencak silat NU Pagar Nusa sebagai kegiatan ekstrakulikuler para siswa baik putra maupun putri.

Demikian disampaikan Sekretaris Umum PP Pencak Silat NU Pagar Nusa H Nabil Haroen di hadapan ratusan pendekar pada pembukaan Kerjurnas II dan Festival Pencak Silat NU Pagar Nusa di Padepokan Silat Taman Mini Indonesia Indah (TMII), Ahad (21/8) sore.

Pencak Silat NU Pagar Nusa Kian Semarak di Sekolah-madrasah NU (Sumber Gambar : Nu Online)
Pencak Silat NU Pagar Nusa Kian Semarak di Sekolah-madrasah NU (Sumber Gambar : Nu Online)

Pencak Silat NU Pagar Nusa Kian Semarak di Sekolah-madrasah NU

“Ada begitu banyak perkembangan menggembirakan di daerah-daerah. Minat orang-orang, khususnya di lingkungan Nahdlatul Ulama untuk menitipkan putra-putrinya pada gemblengan Pagar Nusa kian meningkat,” kata H Nabil pada upacara pembukaan Kejurnas II Pagar Nusa.

Menurut Nabil, lembaga-lembaga pendidikan di lingkungan LP Maarif NU dan sekolah-madrasah yang dikelola warga NU banyak yang mulai peduli untuk merintis dan mengembangkan pencak silat di lembaga mereka.

Haedar Nashir

Haedar Nashir

Sejak diresmikan menjadi salah satu Badan Otonom NU tahun 2004 pada Muktamar Ke-31 NU di Boyolali, Pagar Nusa terus melakukan pembenahan. Pengurus Pagar Nusa hingga kini terus mengonsolidasi diri, terus menempa diri agar bisa menjadi organisasi pendekar pencak silat yang mumpuni.

“Semua itu membuat permintaan akan pelatih pencak silat juga meningkat.”

Ia berharap Kejuaraan Nasional Kedua dan Festival Pencak Silat NU Pagar Nusa kali ini berlangsung lancar.

“Saya sampaikan selamat kepada pendekar sekalian yang telah menyedekahkan waktu untuk bisa menjalin tali kaasih di antara kita dalam perhelatan ini. Ahlan wa Sahlan. Selamat bertanding. Selamat beratraksi dalam festival,” tandas Nabil. (Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Humor Islam, Nusantara Haedar Nashir

Rabu, 10 Januari 2018

Cerita Rasulullah tentang Tiga Pria Terjebak dalam Gua

Sebagaimana tercatat dalam hadits riwayat Imam Bukhari dan Imam Muslim, Rasulullah pernah berkisah tentang tiga orang pria pada masa pra-Islam yang terjebak dalam sebuah gua. Cerita dimulai ketika hujan turun dan mereka berteduh dalam gua di suatu gunung.

“Bleg!” Tiba-tiba saja sebongkah batu besar jatuh menutup mulut gua dan mengurung ketiga laki-laki tersebut. Mereka tak cukup tenaga untuk menggeser batu raksasa itu. Yang paling bisa mereka lakukan hanyalah berdoa.

Cerita Rasulullah tentang Tiga Pria Terjebak dalam Gua (Sumber Gambar : Nu Online)
Cerita Rasulullah tentang Tiga Pria Terjebak dalam Gua (Sumber Gambar : Nu Online)

Cerita Rasulullah tentang Tiga Pria Terjebak dalam Gua

“Coba ingat-ingat amal baik kalian yang betul-betul tulus karena Allah, lalu berdoalah lewat perantara amal tersebut. Semoga Allah memberi jalan keluar,” kata salah seorang dari mereka.

Sesaat kemudian temannya mengadu kepada Allah dan mulai menyebutkan amal perbuatan baiknya.

Haedar Nashir

“Ya Allah ya Tuhanku, aku mempunyai dua orang tua yang sudah lanjut usia, juga seorang istri dan beberapa orang anak yang masih kecil. Aku menghidupi mereka dengan menggembalakan ternak. Apabila pulang dari menggembala, aku pun segera memerah susu dan aku dahulukan untuk kedua orang tuaku. Lalu aku berikan air susu tersebut kepada kedua orang tuaku sebelum aku berikan kepada anak-anakku. Pada suatu ketika, tempat penggembalaanku jauh, hingga aku pun baru pulang pada sore hari. Kemudian aku dapati kedua orang tuaku sedang tertidur pulas. Lalu, seperti biasa, aku segera memerah susu dan setelah itu aku membawanya ke kamar kedua orang tuaku. Aku berdiri di dekat keduanya serta tidak membangunkan mereka dari tidur. Akan tetapi, aku juga tidak ingin memberikan air susu tersebut kepada anak-anakku sebelum diminum oleh kedua orang tuaku, meskipun mereka, anak-anakku, telah berkerumun di telapak kakiku untuk meminta minum karena rasa lapar yang sangat. Keadaan tersebut aku dan anak-anakku jalankan dengan sepenuh hati hingga terbit fajar. Ya Allah, jika Engkau tahu bahwasanya aku melakukan perbuatan tersebut hanya untuk mengharap ridla-Mu, maka bukakanlah suatu celah untuk kami hingga kami dapat melihat langit!”

Doa tersebut terkabulkan. Allah subhanahu wa Taala membuka celah lubang gua tersebut. Namun, satu pun dari mereka bertiga belum ada yang bisa keluar dari celah tersebut.

Haedar Nashir

Salah seorang dari mereka berdiri sambil berkata, “Ya Allah ya Tuhanku, kepada putri pamanku aku pernah jatuh cinta layaknya seorang pria yang begitu menggebu-gebu menyukai wanita. Suatu ketika aku pernah mengajaknya untuk berbuat mesum, tetapi ia menolak hingga aku dapat memberinya uang seratus dinar. Setelah bersusah payah mengumpulkan uang seratus dinar, akhirnya aku pun mampu memberikan uang tersebut kepadanya. Ketika aku berada di antara kedua pahanya (telah siap untuk menggaulinya), tiba-tiba ia berkata; Hai hamba Allah, takutlah kepada Allah dan janganlah kamu membuka cincin (menggauliku) kecuali setelah menjadi hakmu. Lalu aku bangkit dan meninggalkannya. Ya Allah ya Tuhanku, sesungguhnya Engkau pun tahu bahwa aku melakukan hal itu hanya untuk mengharapkan ridhla-Mu. Oleh karena itu, bukakanlah suatu celah lubang untuk kami!”

Allah pun membukakan sedikit celah lagi untuk mereka bertiga. Tapi lagi-lagi mereka masih belum bisa keluar dari gua. Giliran seorang teman lagi yang berdiri lalu memanjatkan doa:

“Ya Allah ya Tuhanku, dulu aku pernah menyuruh seseorang untuk mengerjakan sawahku dengan cara bagi hasil. Ketika ia telah menyelesaikan pekerjaannya, ia pun berkata, Berikanlah hakku! Namun aku tidak dapat memberikan kepadanya haknya tersebut hingga ia merasa sangat jengkel. Setelah itu, aku pun menanami sawahku sendiri hingga hasilnya dapat aku kumpulkan untuk membeli beberapa ekor sapi dan menggaji beberapa penggembalanya. Selang berapa lama kemudian, orang yang haknya dahulu tidak aku berikan datang kepadaku dan berkata; Takutlah kamu kepada Allah dan janganlah berbuat zalim terhadap hak orang lain! Lalu aku berkata kepada orang tersebut, Pergilah ke sapi-sapi dan para penggembalanya itu dan ambillah semuanya untukmu! Orang tersebut menjawab, Takutlah kepada Allah dan jangan mengejekku! Kemudian aku katakan lagi kepadanya, Sungguh aku tidak bermaksud mengejekmu. Oleh karena itu, ambillah semua sapi itu beserta para pengggembalanya untukmu!’ Akhirnya orang tersebut memahaminya dan membawa pergi semua sapi itu. Ya Allah, sesungguhnya Engkau telah mengetahui bahwa apa yang telah aku lakukan dahulu adalah hanya untuk mencari ridla-Mu. Oleh karena itu, bukalah bagian pintu gua yang belum terbuka!

Akhirnya Allah pun membukakan sisanya hingga mereka dapat keluar dari dalam gua yang terhalang batu besar tersebut.

Hadits tersebut mengungkap pesan bahwa doa yang disertai tawasul melalui amal saleh memiliki faedah yang nyata. Memprioritaskan berbakti kepada kedua orang tua dibanding yang lain, keberanian untuk keluar dari godaan berat berbuat zina, dan kewajiban memenuhi hak buruh, sebagaimana dipaparkan dalam kisah tersebut adalah contoh dari sekian banyak kebajikan lain yang mampu menjadi “solusi” tatkala kita dalam situasi terdesak. Hanya saja, amal-amal baik apa pun tentu tak berarti apa-apa kecuali tujuan pokoknya hanya untuk mencari ridha Allah. Wallâhu a‘lam. (Mahbib)



Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Ubudiyah Haedar Nashir

Tingkatkan Kualitas Kader, IPPNU Demak Gelar Lakut

Demak, Haedar Nashir. Pengurus IPPNU Demak di akhir masa kepengurusannya terus menggalakkan kaderisasi serta memaksimalkan kualitas kadernya. Mereka melibatkan pengurus aktifnya yang ada di tingkat kecamatan pada Latihan Kader Utama di aula Masjid Besar Baitul Muttaqin Kauman Mranggen Demak, Jumat-Ahad (29-31/8).

“Kegiatan Lakut ini bertujuan mempersiapkan kader pada kepengurusan mendatang. Dengan materi Lakut ini, mereka diharapkan bisa mandiri dan professional,” ujar Ketua IPPNU Demak Fitriyah di tengah kaderisasi tingkat lanjut ini.

Tingkatkan Kualitas Kader, IPPNU Demak Gelar Lakut (Sumber Gambar : Nu Online)
Tingkatkan Kualitas Kader, IPPNU Demak Gelar Lakut (Sumber Gambar : Nu Online)

Tingkatkan Kualitas Kader, IPPNU Demak Gelar Lakut

Kaderisasi ini menghadirkan beberapa senior andal dan pengisi pelatihan yang professional. Program seperti ini, kata Fitriyah, merupakan kewajiban yang harus dilaksanakan di semua tingkatan.

Haedar Nashir

“Secara formal kaderisasi berbentuk pelatihan dan kegiatan lain sudah jalan. Hanya pada Lakut ini saya merasa lega karena sudah ada gambaran kader-kader penerus saat konferensi nanti,” jelas Fitriyah.

Haedar Nashir

Dalam pelaksanaan Lakut ini, IPPNU Demak menggandeng antara lain lembaga pendidikan di Demak, Ma’arif NU Demak, dan 14 PAC IPNU-IPPNU sekabupaten Demak. (A Shiddiq Sugiarto/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Halaqoh, Nahdlatul Ulama Haedar Nashir

PCNU Way Kanan Tegaskan Keikhlasan Mengurus NU

Way Kanan, Haedar Nashir. Ketua PCNU Way Kanan KH Nur Huda mengingatkan pengurus NU beserta lembaga dan banomnya untuk tetap bersemangat mengurus NU. Kendati bukan organisasi yang berorientasi profit, keberkahan di dunia dan di akhirat akan selalu memayungi kehidupan pengurus NU.

PCNU Way Kanan Tegaskan Keikhlasan Mengurus NU (Sumber Gambar : Nu Online)
PCNU Way Kanan Tegaskan Keikhlasan Mengurus NU (Sumber Gambar : Nu Online)

PCNU Way Kanan Tegaskan Keikhlasan Mengurus NU

“Jangan berpikir uang dalam mengurus NU. Jalankan saja dengan ikhlas,” ujar Ketua PCNU Way Kanan KH Nur Huda, di Blambangan Umpu, sekitar 220 km sebelah utara Kota Bandarlampung, Jumat (7/11).

Menurut Kiai Huda, pengurus NU mesti yakin akan ganjaran Allah. "Karena itu, saya mengingatkan kader NU di Way Kanan yang meyakini pilihan bergiat aktif di organisasi ini untuk mempercayakan segalanya kepada Allah.”

Haedar Nashir

Menjadi pengurus NU tidak ada gajinya. Mengurus NU itu berjuang, ujar Ketua PCNU Way Kanan periode 2011-2016.

Haedar Nashir

KH Huda mengajak kader dan warga NU di daerah yang berabatasan dengan Kabupaten Ogan Komering Ulu (OKU) Timur Sumsel itu untuk selalu menegakkan panji-panji Aswaja. (Gatot Arifianto/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Ahlussunnah Haedar Nashir

Selasa, 09 Januari 2018

IPNU-IPPNU Gondanglegi Rayakan Harlah NU dengan Pelatihan Jurnalistik

Malang, Haedar Nashir

Pimpinan Anak Cabang Ikatan Pelajar NU (IPNU) dan Ikatan Pelajar Putri NU (IPPNU) Kecamatan Gondanglegi, Kabupaten Malang, Jawa Timur, mengadakan pelatihan jurnalistik di Gedung Aula MA Khairuddin, Jalan Murcoyo 1 Gondanglegi, Kabupaten Malang.

Kegiatan yang berlangsung Ahad (31/1) ini dihadiri oleh pengurus Majelis Wakil Cabang NU (MWCNU) Gondanglegi, kepala MA Khairuddin, para pengurus Pimpinan Ranting se-Kecamatan Gondanglegi dan para pelajar tingkat SLTA/sederajat se-Gondanglegi.

IPNU-IPPNU Gondanglegi Rayakan Harlah NU dengan Pelatihan Jurnalistik (Sumber Gambar : Nu Online)
IPNU-IPPNU Gondanglegi Rayakan Harlah NU dengan Pelatihan Jurnalistik (Sumber Gambar : Nu Online)

IPNU-IPPNU Gondanglegi Rayakan Harlah NU dengan Pelatihan Jurnalistik

“Kegiatan ini merupakan program kerja awal di tahun ini di bidang Departemen Litbang dan Media IPNU-IPPNU Kecamatan Gondanglegi masa khidmah 2015-2017,” kata ketua pelaksana, Muhammad Fathoni.

Haedar Nashir

IPNU-IPPNU Gondanglegi menggelar kegiatan ini untuk mengembangkan kreativitas pelajar-pelajar NU dalam mengasah bakat dalam penulisan berita, karya ilmiah, artikel dan lain-lain.

Haedar Nashir

Pelatihan jurnalistik yang mengusung tema "Mencetak Kader-Kader Jurnalis yang Berhaluan Ahlussunnah wal Jamaah" ini dirangkai dengan tasyakuran dan doa bersama dalam rangka hari lahir (harlah) ke-90 NU yang jatuh pada 31 Januari 2016.

Ketua PAC IPNU Gondanglegi HasanuddinKhozin mengapresiasi panitia yang telah menyukseskan kegiatan ini. “Semoga pelajar NU Gondanglegi ke depannya bisa lebih bermanfaat bagi agama bangsa dan negara,” tuturnya.

Hasan menambahkan, untuk program kegiatan IPNU-IPPNU Gondanglegi selanjutnya adalah makesta akbar yang akan dilaksanakan di Desa Ganjaran dan diikuti semua pimpinan ranting se-Kecamatan Gondanglegi. (Ansori/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir AlaNu, Tokoh, Sholawat Haedar Nashir