Minggu, 28 Januari 2018

Ihwal Penundaan Pelantikan IPNU-IPPNU di Sumenep

Sumenep, Haedar Nashir. Ketua Pimpinan Cabang Ikatan Pelajar Nahdlatul Ualama (PC IPNU) Kabupaten Sumenep, Ubaidillah, melakukan klarifikasi seputar warta di Haedar Nashir (17/11) terkait ditundanya pelantikan PAC IPNU-IPPNU Bluto, Sumenep. Menurutnya, kabar bahwa pelantikan tersebut tertunda gara-gara LSM Fajar Nusantara (Fans), tidak benar adanya.

“Yang benar adalah, acara pelantikan tersebut ditunda karena ada sisi teknis yang belum matang dalam kepanitiaan,” terang Ubaidillah kepada Haedar Nashir melalui telepon selulernya, Senin (18/11) siang.

Ihwal Penundaan Pelantikan IPNU-IPPNU di Sumenep (Sumber Gambar : Nu Online)
Ihwal Penundaan Pelantikan IPNU-IPPNU di Sumenep (Sumber Gambar : Nu Online)

Ihwal Penundaan Pelantikan IPNU-IPPNU di Sumenep

Ditambahkan Ubaidillah, Anwar Nuris yang menyebar kabar penyebab tertundanya pelantikan di jejaring sosial, bukanlah salah seorang pengurus PAC IPNU Bluto. Karenanya, apa yang disampaikan Anwar Nuris tidak sesuai dengan fakta di lapangan.

Haedar Nashir

“Anwar Nuris ini berada di luar struktur kepengurusan PAC IPNU Bluto,” ungkapnya.

Haedar Nashir

Kepada Haedar Nashir, Ubaidillah menceritakan kronologi tertundanya pelantikan yang sedianya akan dilangsungkan pada Jumat (15/11) lalu itu. Pihaknya menekankan betapa hal itu tidak ada kaitannya dengan LSM Fans.

“LSM Fans ini yang mengelola murni adalah Syaiful Harir. Dia minta bantuan ke teman-teman cabang (PC IPNU Sumenep, red) untuk mengurus acara. persiapan segala sesuatunya dilakukan secara bersama-sama,” ujarnya.

Pada saat itu, Ketua PAC IPNU Bluto Abdul Wahid memberitahukan kepada Ubaidillah melalui telepon, bahwa acara pelantikan PAC IPNU-IPPNU Bluto dilangsungkan ba’da Jumat.

“Dan saya menyampaikan ke rekan-rekan PAC IPNU-IPNNU Bluto bahwa di cabang ada acara. Saya juga sampaikan bahwa apabila acara pelantikan itu memang sudah disepakiti, mohon tidak ditunda. Kami tetap akan hadir,” tambah Ubaidillah.

Tak berlangsung dari pemberitahuan yang pertama itu, Ubaidillah menerima pemberitahuan kedua. Pemberitahuan kedua ini menegaskan acara pelantikan PAC IPNU-IPPNU Bluto ditunda, atas kesepakatan panitia.

“Diberitahukan kembali ke saya, acaranya diundur. Saya jawab tidak apa-apa walau diundur. Ketika saya tanyai alasannya, jawabannya karena ada sisi teknis yang belum matang. Mereka menghendaki acara sangat sukses,” pungkasnya.

Untuk diketahui, hasil rapat pengurus PAC IPNU-IPNU Bluto, Jumat lalu, di Masjid Baiturrahman Gilang Bluto, pelantikan dan orasi Ke-IPNU-IPPNU-an akan ditunda sampai pada tanggal 22 November 2013 bertempat di Kantor MWC NU Bluto dengan tema “Menelaah Kembali Visi-Misi IPNU-IPPNU”. (Hairul Anam/Anam)

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Pondok Pesantren, Ahlussunnah Haedar Nashir

Jumat, 26 Januari 2018

Mengenal KH Usman Abdurrahman Mranggen

KH Usman adalah putra pertama KH Abdurrohman Mranggen Demak, yang pada awalnya dididik langsung oleh orangtuanya sebelum disuruh mondok ke Brumbung Mranggen Demak yang di asuh oleh KH Ibrohim.

Selepas dari Brumbung, ia meneruskan belajar di pondok pesantren Lasem yang diasuh oleh KH Kholil dan KH. Mashum. Sekembalinya dari pesantren Lasem, pada tahun 1926 beliau berusaha mengembangkan pesantren Futuhiyyah dan pada tahun 1927 diserahi tanggung jawab mengelola pesantren di bawah pengawasan KH. Abdurrohman.

Usaha dawah yang dilaksanakan oleh beliau lebih banyak yang berorientasi keluar, dalam arti lebih sering melakukan dakwah keliling. Dawah keliling yang beliau lakukan berbentuk masrokhiyah (seni teater, sandiwara) dengan musik rebana yang dipandu dengan tarian zipin dan pencak silat yang disisipi ceramah agama.

Beliau lebih terkenal sebagai sosok seorang pendekar yang alim, karena pada saat itu wilayah Mranggen lebih dikenal dengan kaum abangan, jadi dawah dengan teater lebih menguntungkan.

Mengenal KH Usman Abdurrahman Mranggen (Sumber Gambar : Nu Online)
Mengenal KH Usman Abdurrahman Mranggen (Sumber Gambar : Nu Online)

Mengenal KH Usman Abdurrahman Mranggen

Pada tahun 1927 ia dibantu oleh adiknya, KH Muslih, berusaha mendirikan madrasah yang kemudian diberi nama Futuhiyyah atas usulan adiknya. Namun madrasah yang baru berjalan satu tahun ini diminta NU untuk merealisasikan progam pendidikannya, tetapi perkembangan tersendat sendat dan akhirnya hilang. Selanjutnya tahun1929 beliau mendirikan madrasah lagi, namun tidak lama dibedol lagi oleh NU cabang Mranggen, dan nasibnya pun sama.

Sekitar tahun 1931, pimpinan diserahakan kepada KH. Muslih dan berhasil mendirikan madrasah tidak boleh dipindah atau dibedol. Setelah itu KH. Muslih pergi mondok lagi dan kepemimpinan pondok diserahkan lagi kepada KH. Usman dan madrasah diserahkan kepada KH Murodi beserta para guru.

Setelah KH Muslih pulang dari Termas sekitar tahun 1935 kepemimpinan pondok diserahkan kepadanya. Hal ini karena ia lebih memusatkan perhatiannya da’wah keliling dan NU cabang Mranggen, sedangkan KH. Murodi melanjutkan belajar di Makkah.

Haedar Nashir

Disamping itu ia juga membuka pesatren khusus putri yang diberi nama An Nuriyyah, sampai akhir hayat beliau tetap membantu pengajaran di pondok Futuhiyyah meski ia sudah memiliki pesantren sendiri. Beliau wafat pada tahun 1967 dengan menorehkan berbagai kemajuan selama masa kepemimpinan beliau di Futuhiyyah. Kemajuan selama masa kepemimpinan KH Usman diantaranya penataan manajemen pesantren, penataan manajeman madrasah, dan pendidikan seni dan keterampilan.

Selain itu masih banyak kemajuan kemajuan dan peran sertanya dalam pendidikan pesantren atau dalam perjuangan meraih kemerdekaan.

?

Haedar Nashir

Abdus Shomad, Pondok Pesantren Futuhiyyah Mranggen Demak

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Santri, Berita Haedar Nashir

Islam Politik dan Pudarnya Toleransi

Oleh Yudi Latif



Saudaraku, tahun 638 Masehi, ketika Khalifah Umar dipandu menyusuri Yerusalem oleh Patriarch Sophoronius, Sang Khalifah menolak untuk menunaikan shalat di Anastasis; yang dipercaya sebagai tempat kematian dan kebangkitan Kristus. Ia khawatir, jika ia salat di sana, kaum Muslim akan mengubahnya menjadi tempat peribadatan Islam.

Islam Politik dan Pudarnya Toleransi (Sumber Gambar : Nu Online)
Islam Politik dan Pudarnya Toleransi (Sumber Gambar : Nu Online)

Islam Politik dan Pudarnya Toleransi

Tidak hanya itu. Al-Qur’an adalah kitab suci yang sangat menonjol dalam mengakui keabsahan agama-agama lain. Di bawah kejayaan Islam, orang Yahudi dan Nasrani dilindungi sebagai ahli kitab dan diberi kebebasan (relatif) untuk menjalankan agamanya.

"Sekali menyerah," tulis Karen Amstrong, "tak ada pembunuhan, tak ada perusakan properti, tak ada pembakaran simbol agama lain, tak ada pengusiran atau perampasan, dan tak ada usaha memaksa penduduk setempat untuk memeluk Islam." Ditambahkan oleh Montgomary Watt, "Secara keseluruhan, lebih banyak toleransi yang lebih jujur (genuine) bagi non-Muslim di bawah Islam, ketimbang bagi non-Kristen di bawah Kristen pada zaman pertengahan."

Haedar Nashir

Kedamaian memang tidak selamanya mewarnai sejarah Islam, tapi setidaknya ada monumen pencapaian. Semenanjung Iberia sering dirujuk sejarawan sebagai pusat teladan. Kedamaian Cordoba menarik orang-orang dari latar multikultur dan menjadi melting pot bagi seni dan kerajinan, ragam bahasa, budaya, filsafat, dan tradisi keagamaan. Raja Al-Hakam II terkenal sebagai patron para penyair, penulis, dan penari. Toledo dikenal sebagai kota tiga budaya, sebagai kristalisasi perjumpaan damai dari tiga agama (Islam, Kristen, Yahudi).

Haedar Nashir

Namun, hari ini, warisan luhur seperti itu lebih sering digunakan kalangan Islam sebagai alasan untuk menyudutkan lawan ketimbang sebagai sumber inspirasi untuk mempertahankan toleransi Islam. "Sekalipun sejarah Islam menunjukan toleransi yang kuat," ujar Trevor Mostyn (2002), "Islam politik belakangan cenderung menolak toleransi."

Di bawah politisasi agama oleh Islam politik, "pedang Tuhan" tidak hanya mengancam kebebasan orang/kelompok agama yang berbeda, melainkan juga sesama penganut Islam sendiri.

Dalam dua dekade terakhir, dunia mencatat beberapa landmark dari aksi-aksi kekerasan dan pembungkaman kebebasan di dunia Muslim. Terjepit di antara kekerasan negara, kekerasan pasar, dan kekerasan kelompok keagamaan, membuat watak sejati Islam kehilangan ekspresinya.

Dalam bayangan murung seperti itu, Indonesia banyak dipuji dunia sebagai komunitas Muslim yang paling menjanjikan. Dalam belasan tahun terakhir, represi negara terhadap kebebasan sipil dan politik berkurang secara drastis. Namun ancaman baru muncul berupa kekerasan dan fanatisisme kelompok-kelompok "sipil" (yang sebenarnya uncivil).

Di sini terbukti, masyarakat sipil tidaklah homogen seperti yang dibayangkan. Melainkan menjadi pertarungan di antara kelompok-kelompok ideologis yang berlawanan. Jika kata civil society itu merujuk pada istilah "societas civilis" yang menjunjung tinggi keadaban, maka benarlah pandangan para pemikir pencerahan bahwa kata civil society tidaklah diperhadapkan dengan "negara", melainkan dengan "fanatisisme".

Fanatisisme adalah paham yang melakukan penolakan terhadap representasi. Bentuk paling eksplisit dari penolakan tersebut adalah ikonoklasme: kebencian dan perusakan terhadap ikon dan citra.

Dalam seni, fanatisisme menolak representasi dengan melamurkan pandangan terhadap adanya "aesthetic gap" yang memisahkan realitas sungguhan dengan realitas rekaan sebagai karya seni. Padahal, interes seni terletak pada fakta bahwa tak ada aturan yang tetap dan diterima secara umum yang menghubungkan realitas yang direpresentasikan dengan representasi karya seni. Dengan menolak prinsip representasi yang memungkinkan seniman mengembangkan interpretasi dan rekaan, fanatisisme telah membunuh kreativitas imajinatif sebagai nyawa kesenian.

Dalam politik, fanatisisme menolak representasi dengan mengabaikan adanya "ruang antara" yang memungkinkan interpretasi manusiawi, antara "kota Tuhan" dan "kota duniawi", antara agama dan negara, antara teks-teks kitab suci dan konteks-konteks yang spesifik, antara rakyat dan lembaga-lembaga perwakilan. Dengan menolak prinsip representasi dalam politik, fanatisisme menghadirkan Tuhan dalam wajah yang bengis, membunuh akal pikiran, membungkam perbedaan pendapat, dan memaksakan hukum besi.

Fanatisme, yang lahir dari ketidakpercayaan diri untuk menghadapi perbedaan pikiran, merendahkan kemuliaan bani Adam. Kebebasan berekspresi (al-hurriyah al-ray wa al-tabir) merupakan unsur konstitutif kemuliaan itu. Al-Qur’an menyatakan bahwa martabat dan hak asasi manusia harus dijunjung tinggi: "Dan sesungguhnya telah Kami muliakan anak-anak adam" (Q.S. 17: 70). Dengan begitu, menjaga martabat manusia lebih penting dari semua hambatan rasial, sosial, atau religius yang mengotak-ngotakkan kemanusiaan.

Syariat menjamin kebebasan ekspresi selama itu tidak meluncurkan fitnah, penistaan, penghinaan, dan kebohongan (manipulasi dan distorsi informasi) serta tidak membangkitkan kemerosotan moral (keadaban publik), korupsi, dan permusuhan.

Saatnya menghormati perbedaan!

Penulis adalah pemikir bidang keagamaan dan kenegaraan; penulis buku "Negara Paripurna: Historitas, Rasionalitas, Aktualitas Pancasila"



Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Halaqoh, Daerah Haedar Nashir

Umi Azizah : Muslimat Perkuat Ketahanan Keluarga

Tegal, Haedar Nashir.



Umi Azizah : Muslimat Perkuat Ketahanan Keluarga (Sumber Gambar : Nu Online)
Umi Azizah : Muslimat Perkuat Ketahanan Keluarga (Sumber Gambar : Nu Online)

Umi Azizah : Muslimat Perkuat Ketahanan Keluarga

Ketua PC Muslimat NU Kabupaten Tegal Dra Hj Umi Azizah menjamin Muslimat NU mampu memperkuat ketahanan keluarga. Pasalnya, seluruh anggota yang terlibat mampu membentengi diri dan keluargannya dari virus virus negative perkembangan zaman. Bahkan lewat Muslimat NU, mampu mengantarkan menjadi keluarga yang sakinah mawadah warohmah.

Demikian disampaikan Umi Azizah dalam perbincangan dengan Haedar Nashir di ruang kerjanya kantor Wakil Bupati Tegal, Kamis (8/12).?

Menurutnya, ketahanan keluarga sangat vital karena berpengaruh langsung terhadap ketahan negara. Bila keluarga rapuh, maka Negara akan ambruk. Peranan itu, tentu saja sangat bergantung kepada seorang Ibu, Wanita yang merupakan tiang Negara.?

Haedar Nashir

Muslimat NU Tegal, lanjutnya, dalam menjaga ketahanan keluarga melalui berbagai bidang program. Seperti bidang pendidikan, social, ekonomi, lingkungan hingga dakwah. ? Dari bidang bidang tersebut, diarahkan untuk menjaga delapan fungsi keluarga sebagai pusat agama, social, cinta kasih, perlindungan, ekonomi, pelestari lingkungan dan fungsi reproduksi. “Dengan memanfaatkan fungsi fungsi tersebut, akan tercipta keluarga yang berkualitas, berdaya guna dengan hiasan anak yang saleh saleha,” ucapnya.?

Tidak dipungkiri, kata Wakil Bupati Tegal ini, perubahan dunia menjadi tantangan yang tidak ringan bagi seorang ibu, termasuk organisasi kewanitaan seperti Muslimat NU. Juga lahirnya gerakan radikalisme dan bahaya narkoba, menjadi pekerjaan rumah tersendiri agar anak-anak kita tidak terpengaruh. “Upaya penguatan sebagai benteng dan filter dari berbagai tantangan tersebut, menjadi fardlu ain bagi Muslimat NU,” tegasnya.

Untuk itu, lanjutnya, program yang dijalankan Muslimat pun selalu berpihak pada kepedulian kebutuhan Nahdliyin. Diantaranya, menggelar kursus pra nikah untuk memberi pencerahan kepada calon pengantin tentang kesehatan reproduksi. Apalagi trend pernikahan dini tidak bisa dibendung. Padahal, pernikahan dini rentan dengan peningkatan Angka Kematian Ibu atau Maternal Mortality Ratio (MMR), Angka Kematian Anak (AKA), Angka Kematian Bayi (AKB) Angka Kematian Ibu (AKI).

Muslimat juga membantu keluarga tak jelas, dengan menggelar sidang terpadu itsbat nikah. Atau menetapkan Akad Nikah yang telah dilaksanakan sesuai dengan Syari’at Islam (Hukum Munakahah) akibat poligami misalnya, agar tercatat dalam Register Nikah di Kantor Urusan Agama Kecamatan yang berwenang. “Dengan demikian, hak-hak anak akan terpenuhi. Muslimat NU juga membantu percepatan pembuatan akte kelahiran yang ditangani PAC,” ujarnya.

Selain itu, Umi gembira karena Muslimat lebih intensif dalam menyelenggarakan pengajian. Istilah Tegalnya, laka dina gabuk (tiada ada hari kosong) dalam hal pengajian. PC pun menyelenggarakan Pengajian keliling ke 19 PAC. Yang paling menggembirakan se Kabupaten Tegal ada 987 majelis taklim.

Haedar Nashir

Program lain, pelatihan ketrampilan hasil usaha kreatif. Dari kelompok usaha terbentuklah Kelompok Usaha Bersama (KUBE), hingga mencapai 319 Kube di seluruh ranting se Kabupaten Tegal. “Koperasi Anisa Muslimat, turut membantu pemasaran dan penyertaan modalnya juga,” terang ibu dari 6 anak ini,?

Di bidang social, masih kata Umi, Muslimat NU Tegal menangani Pendidikan Anak Usia Dini, Tercatat ada 97 Taman Kanak-kanak (TK) Muslimat NU, 67 Kelompok Bermainn (KB), dan 39 Raudlatul Athfal (RA) serta 548 Taman Pendidikan Al Quran (TPQ).?

Karya Muslimat NU berupa Metode Asyifa telah direkomendasikan oleh Yayasan pendidikan Muslimat NU (YPM NU) pusat, untuk dijadikan bahan pembelajaran resmi di TPQ TPQ seluruh Indonesia. “Metode Asyifa telah digunakan di Tegal sejak Juni 2002 dan tahun 2016 baru direkomendasikan untuk digunakan di berbagai TPQ seluruh Indonesia,” ucapnya bangga.?

Untuk Yayasan Kesejahteraan Muslimat NU (YKM NU) telah mendirikan Darul Yatama dengan ratusan anak yatim piatu yang diasuh. Yayasan Haji Muslimat NU (YHM NU) juga terus berkembang. Pada musim haji 2016, KBIH YHM NU memberangkatkan 160 jamaah haji. Sedangkan untuk tahun 2017, sudah masuk 137 calhaj yang tergabung ke KBIH YHM NU. Tapi biasanya, akan terus bertambah jumlah calhaj yang tergabung ketika mendekati manasik,” tuturnya.?

Kepada para ibu-ibu muda maupun sepuh, Umi mengajak untuk tidak jemu-jemu berorganisasi di Muslimat ataupun Fatayat. Karena nilai faedahnya lebih besar jika dibandingkan dengan mudlaratnya. “Yang penting tidak melupakan pendidikan anak-anaknya dan selalu menjadi pendamping suami setia,” pungkasnya. (wasdiun).

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Kajian, Humor Islam Haedar Nashir

Jelang Perdagangan Bebas, HIPSI Jatim Sinergikan Potensi Santri

Jombang, Haedar Nashir. Himpunan Pengusaha Santri Indonesia (HIPSI) Jawa Timur mengingatkan anggotanya akan tantangan ke depan khususnya menjeleng perdagangan bebas kelak. Banjirnya produk luar negeri dan tenaga kerja asing ke Tanah Air hanya dapat ditangani dengan penguatan jaringan pengusaha santri.

Jelang Perdagangan Bebas, HIPSI Jatim Sinergikan Potensi Santri (Sumber Gambar : Nu Online)
Jelang Perdagangan Bebas, HIPSI Jatim Sinergikan Potensi Santri (Sumber Gambar : Nu Online)

Jelang Perdagangan Bebas, HIPSI Jatim Sinergikan Potensi Santri

Demikian disampaikan Ketua HIPSI Jatim Sulayman yang akrab disapa Pak Leman dalam Rapat Koordinasi Wilayah (Rakorwil) sekaligus silaturahim dan pelatihan Informasi dan Teknologi di Pondok Pesantren Al-Ilahiyah Ngoro Jombang, Jawa Timur, Sabtu (30/11).

Pak Leman yang juga pengusaha kertas bekas di Jombang ini mengingatkan tantangan berat itu dapat dilawan dengan mempererat tali silaturahmi dan kelengkapan struktur organisasi HIPSI di setiap kota dan kabupaten.

Haedar Nashir

Sejumlah kepengurusan di tingkat pusat dan wilayah harus juga diimbangi dengan kelengkapan kepengurusan di level kecamatan hingga desa. Karena, bila hal itu dapat dilakukan, maka ketersediaan barang dan jasa dari sejumlah pengusaha santri dapat disinergikan dan didistribusikan hingga level paling bawah, lanjutnya.

Senada dengan Leman, Ketua Umum HIPSI Muhammad Ghozali yang hadir pada kegiatan itu juga mengingatkan pentingnya sinergi sejumlah potensi ekonomi para santri yang sebenarnya berpotensi sangat besar.

Haedar Nashir

“Kita prihatin karena negeri ini hanya dikuasai orang kaya yang tidak berlatar belakang santri,” katanya saat memaparkan hasil survey sebuah majalah yang menampilkan sejumlah orang kaya di Tanah Air.

Tampilnya pengusaha kaya dari kalangan nonsantri dan bukan warga negara kita mengindikasikan bahwa pemilik negeri ini adalah ternyata orang lain, ungkapnya.

Dengan sejumlah fakta itu, ia mengajak para pengurus untuk terus bergerak mengisi kesempatan untuk bakti kepada bangsa dan masyarakat. Kalau saya mengibaratkan, kita adalah setetes air mata. Bila diakumulasikan, maka akan menjadi lautan samudera, terangnya.

Dengan visi menciptakan satu juta santri pengusaha di tahun 2022 kelak, HIPSI akan terus bergerak dalam upaya melengkapi kepengurusan di berbagai kawasan. Kita optimis akan lahir pengusaha besar nasional dari kalangan santri, imbuhnya.

Di HIPSI ada jabatan ketua, sekretaris, wakil sekretaris, bendahara, dan ketua bidang. Sedangkan kepengurusan dibedakan dengan tugas organisasi dan pengkaderan, pendidikan wirausaha dan pembinaan usaha pemula, usaha, koperasi dan UKM, bidang IT, publikasi dan media, industri kreatif dan seni, kerjasama luar.

Ada juga hubungan pesantren dan sosial kemasyarakatan, perdagangan dan perindustrian, pertanian serta peternakan, properti dan konstruksi, dan pemberdayaan wanita. ? Kami juga memiliki bidang koordinator kampus, serta penelitian dan pengembangan, lanjut Ghazali. (Syaifullah/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Lomba, Bahtsul Masail, Kajian Haedar Nashir

Habib Luthfi: Sebaiknya Uang Masjid Jangan Diatasnamakan Wakaf atau Sedekah Jariyah

Pekalongan, Haedar Nashir. Habib Luthfi bin Yahya menyarankan, uang yang masuk ke masjid jangan diatasnamakan wakaf atau sedekah jariyah, sebab nanti alokasinya hanya akan kembali ke masjid saja. Jika diatasnamakan wakaf atau sedekah jariyah, maka kas masjid akan menumpuk karena tidak bisa dialokasikan ke yang lain. 

Habib Luthfi: Sebaiknya Uang Masjid Jangan Diatasnamakan Wakaf atau Sedekah Jariyah (Sumber Gambar : Nu Online)
Habib Luthfi: Sebaiknya Uang Masjid Jangan Diatasnamakan Wakaf atau Sedekah Jariyah (Sumber Gambar : Nu Online)

Habib Luthfi: Sebaiknya Uang Masjid Jangan Diatasnamakan Wakaf atau Sedekah Jariyah

"Sebaiknya uang masjid diatasnamakan dana sosial saja, supaya pihak takmir lebih leluasa mengelolanya dan bisa mengalokasikan labanya kepada selain masjid," jelas Habib Luthfi di majelis Jumat Kliwon yang berlangsung di Kanzus Sholawat Pekalongan, Jawa Tengah, Jumat (5/1).

Dikatakan Habib Luthfi, melalui dana sosial yang terkumpul di masjid tersebut, dapat dibuat untuk mendirikan supermarket, toko kecil-kecilan, sampai bisa membeli lahan sawah atau kebun. Tanamilah lahan itu dengan singkong atau padi. 

"Hasil dari usaha itu semua bisa untuk kepentingan umum masyarakat, seperti membantu biaya pemakaman, membelikan sarung untuk jamaah masjid yang tidak punya sarung, membantu modal usaha, dan lain-lain," ujarnya.

Haedar Nashir

Habib Luthfi kurang setuju jika dana masjid menumpuk karena diatasnamakan wakaf, namun kaum fakir-miskin masyarakat setempat tidak terurus. Nanti kalau ada missionaris masuk dengan membawa mie instan, beras dan lain-lain, baru geger.

Bukannya kita ingin memanjakan kaum fakir-miskin, tapi ingin memberdayakan mereka. Jangan beri mereka ikan, tetapi berilah kail agar mereka bisa mencari ikan sendiri.

Selanjutnya Habib Luthfi mempersilahkan dana yang masuk ke masjid atau musholla dimanfaatkan untuk mendirikan lembaga keuangan mikro tanpa riba. 

"Jika saya memberi penjelasan lebih, mungkin sedikit akan menyinggung perasaan sebagian orang. Mereka yang sering umroh, mungkin dalam setahun bisa 2 atau 3 kali, coba uangnya dialokasikan saja untuk kesejahteraan umat. Taruhlah jika biaya umroh 1 kali adalah 20 juta, maka sudah berapa dana yang akan terkumpul ? Itu baru 1 orang, bagaimana jika dari banyak orang? Kalau umroh mungkin hanya untuk mendapat nama saja, agar disebut mampu umroh berkali-kali," tandasnya.

menurut Habib Luthfi, biaya yang akan digunakan umroh tersebut bisa digunakan untuk memberi pinjaman modal pada tetangganya yang kekurangan, dengan tanpa bunga dan pengembaliannya dibebaskan kapan saja, jangan sampai bisa umroh berkali-kali namun tetangga kanan-kirinya kelaparan. (Abdul Muiz/Fathoni)

Haedar Nashir

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Nahdlatul Haedar Nashir

Kamis, 25 Januari 2018

Kiai Said Tegaskan Shalat Jumat di Jalanan Tidak Sah

Jakarta, Haedar Nashir. Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Said Aqil Siroj menegaskan bahwa shalat Jumat di jalan raya tidak sah, bahkan bisa haram jika menggangu ketertiban umum dan masalah sosial.

"NU melalui Lembaga Bahtsul Masail sudah mengeluarkan fatwa, Jumatan di jalan tidak sah," ujar Ketua Umum PBNU Said Aqil Siradj saat memberikan sambutan dalam Kongres ke-17 Muslimat NU di Asrama Haji Pondok Gede, Jakarta Timur, Kamis (24/11).

Kiai Said Tegaskan Shalat Jumat di Jalanan Tidak Sah (Sumber Gambar : Nu Online)
Kiai Said Tegaskan Shalat Jumat di Jalanan Tidak Sah (Sumber Gambar : Nu Online)

Kiai Said Tegaskan Shalat Jumat di Jalanan Tidak Sah

(Baca: Ini Pandangan Fiqih PBNU Soal Shalat Jumat di Jalanan)

Kiai Said menjelaskan kembali kepada awak media usai memberikan sambutan bahwa fatwa itu didasarkan pada kajian kiai dan ulama NU selama beberapa waktu terakhir. Para ulama dan kiai NU mendasarkan fatwa itu kepada mazhab Imam Besar Syafii dan Maliki.

"Madzhab Maliki dan Syafii itu kalau imamnya di masjid, makmumnya keluar-keluar di jalan enggak apa-apa, tetapi kalau sengaja keluar rumah mau shalat Jumat di jalanan, shalatnya enggak sah," tegas Pengasuh Pondok Pesantren Al-Tsaqafah Ciganjur, Jakarta Selatan ini.

Haedar Nashir

Menurut kedua madzhab tersebut, lanjutnya, Jumatan harus di dalam bangunan yang sudah diniati untuk shalat Jumat di sebuah kota atau desa. Madzhab tersebut patut diterapkan di Indonesia saat ini. Sebab, jika shalat dilakukan di sembarang tempat, apalagi di tempat umum, mengurangi kekhusyukan ibadah itu sendiri sekaligus mengganggu ketertiban umum.

Seperti diinformasikan, Gerakan Nasional Pengawal Fatwa Majelis Ulama Indonesia (GNPF MUI) akan menggelar Aksi Bela Islam III pada 2 Desember 2016. Mereka kembali melakukan aksi tersebut karena Gubernur DKI Jakarta Nonaktif Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) sampai saat ini belum ditahan setelah ditetapkan sebagai tersangka. (Fathoni)?

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir

Haedar Nashir Quote Haedar Nashir