Rabu, 31 Januari 2018

Para Perempuan Teladan

Patron dalam kehidupan semestinya ada setiap manusia di bumi ini karena dengan adanya patron tersebut,kehidupan seseorang menjadi semakin terarah kemana ia harus melangkah lebih jauh. Di setiap peradaban, agama, lapisan masyarakat, mempunyai tokohnya masing-masing, demikian juga dalam Islam.

Teladan utama dan terutama dalam Islam tentunya adalah Nabi Muhammad SAW. Akan tetapi, perempuan-perempuan teladan dalam Islam, setidaknya ada empat: Asiyah isteri Firaun, Maryam binti Imran, Khadijah binti Khawalid, dan Fatimah Az-Zahro putri Nabi Muhammad SAW.

Asiyah binti Muzahim adalah isteri Firaun, seorang raja yang bengis di Mesir kuno. Asiyah memegang agama tauhid (monotheis). Saat itu, meskipun menjadi isteri Firaun yang karena kekadabburannya mengaku dirinya sebagai tuhan.

Para Perempuan Teladan (Sumber Gambar : Nu Online)
Para Perempuan Teladan (Sumber Gambar : Nu Online)

Para Perempuan Teladan

Menjadi isteri Firaun bukan berarti nyaman melaksanakan aktifitas sehari-hari dan beribadah. Meskipun Firaun mencintai Asiyah, namun untuk urusan ketuhanan, ia tetap keras kepala, sampai-sampai Asiyah harus menahan beratnya hantaman batu di bawah terik matahari atas interuksi Firaun kepada anak buahnya. Hal itu, membuat Asiyah meninggal dengan membawa kekuatan imannya, ia mati tersenyum. Akan tetapi, Firaun menganggapnya gila karena saat disiksa malah tersenyum. (hlm. 62-68)

Maryam binti Imran adalah wanita suci kelahiran Jerussalem, yang saat itu dikuasai kekaisaran Romawi. Maryam binti Imran adalah wanita teladan yang diabadikan kisahnya dalam Al-Quran. Dialah Ibunda Nabi Isa As. Wanita mulia yang tidak mempunyai suami tetapi memiliki anak. Dia dihamilkan langsung oleh Allah melalui perantara malaikat Jibril.

Haedar Nashir

Memiliki anak tanpa suami bukanlah perkara mudah jika dihadapkan ke tengah-tengah masyarakat. Ia dituduh berbuat mesum dengan laki-laki, untung saja, Allah memberikan Irhas terhadap bayi mungil Nabi Isa As. Perpisahannya dengan Nabi Isa saat Nabi Isa diangkat oleh Allah ke langit membuat pilu hatinya, sebagai seorang ibu. Ujian terhadap Nabi Isa juga merupakan ujian terhadap bunda Maryam. (hlm. 259)

Khadijah binti Khawalid, istri pertama Rasulullah. Khadijah adalah orang pertama kali yang masuk Islam dan selalu mendukung Nabi Muhammad. dalam berdakwah. Wanita yang pernah dijuluki ratu mekkah karena keberhasilannya dalam berdagang itu menyerahkan seluruh kekayaannya terhadap sang Suami. Dia jugalah yang menenangkan kegelisahan Nabi saat awal-awal menerima wahyu.

Mendukung terhadap Nabi Muhammad SAW adalah pilihan dan keyakinan. Dikarenakan pilihannya itu, ia dijauh sahabat-sahabatnya. Saat melahirkan pun, tidak ada sahabatnya di sampingnya kecuali seorang pelayannya yang selalu setia terhadapnya. Akan tetapi, saat beliau hendak melahirkan Siti Fatimah, datang dari Surga perempuan-perempuan suci sebagai bidannya: Asiyah, Maryam, Sarah istri Nabi Ibrahim, dan Shafura istri Nabi Musa. (hlm. 157)

Menjelang hayatnya, Khadijah dalam kedaan kurus karena pemboikotan yang dilakukan oleh Kaum Quraish Mekkah. Akan tetapi, ia tetap tersenyum, terlebih di depan suami terkasihnya. Saya sangat terharu ketika membaca cerita menjelang kematian Siti Khadijah. Waktu itu, menjelang kematian Siti Khodijah, Rasulullah memasuki kamar Khadijah. Perlahan-lahan kepala Khatijah diangkat kepangkuan beliau. Air mata beliau, Rasulullah. mengalir, lalu Nabi bersabda, "Wahai Khadijah! Jibril datang menemuiku dan menyampaikan salam Allah kepadamu. Khadijah menjawab, "Allâhussalam waminhum salam wa alaikassalam wa ilaihi yaudussalam wa ala jibril salam. Dalam balutan air mata, Khatijah tersenyum. Wanita hebat itu meninggal dunia. (hlm. 194)

Haedar Nashir

Fatimah Az-Zahro, putri kesayangan Rasulullah dari hasil pernikahannya dengan Siti Khodijah. Dialah pelipur lara Rasulullah. Rasulullah pernah bersabda, "Fatimah adalah darah dagingku, apa yang menyusahkannya juga menyusahkanku dan apa yang mengganggunya juga menggangguku. (hlm. 116)?

Demikian juga Fatimah, ia juga sangat mencintai ayahnya. Kematian adalah kebahagiaan baginya asalkan ia bisa bersanding dengan ayahnya di Surga. Semenjak kepergian ayahnya, Fatimah selalu bersedih, kecantikannya memudar dan wajahnya selalu diliputi mendung. (hlm. 118)

Kisah empat perempuan teladan itu, dikisahkan dengan sangat apik oleh Ririn Astutiningrum. Daya tuang kepenulisan yang mengalir dan mengharukan bagi pembaca, alur ceritanya. Sangat menarik untuk dibaca.

Data buku:

Judul: Kuntum-Kuntum Surga: Tumbuh di Bumi, Mekar di Langit

Penulis: Ririn Astutiningrum

Penerbit: Mizania

Cetakan: I, 2016

Tebal: 274 halaman

ISBN: 978-602-418-035-5

Peresensi: Moh. Tamimi, mahasiswa Prodi Pendidikan Bahasa Arab Institut Ilmu Keislaman Annuqayah, Guluk-Guluk, Sumenep.

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Fragmen, Daerah, PonPes Haedar Nashir

Fatayat NU Jombang Soroti Berbagai Persoalan Perempuan

Jombang, Haedar Nashir - Pengurus Fatayat NU Kabupaten Jombang membahas sejumlah masalah perempuan yang berkembang di kota santri ini. Mereka berupaya keras untuk menyelesaikan sejumlah masalah seperti KDRT, meningkatnya perceraian, narkoba, HIV/AIDS, pendidikan dan pengembangan perekonomian perempuan.

Ketua Fatayat NU Jombang Ema Umiyyatul Chusnah mengatakan, sejumlah persoalan itu kini sudah menjadi bahan kajian bersama pengurus Fatayat NU Jombang. Sehingga sebagian besar persoalan tersebut dapat diatasi dengan baik.

Fatayat NU Jombang Soroti Berbagai Persoalan Perempuan (Sumber Gambar : Nu Online)
Fatayat NU Jombang Soroti Berbagai Persoalan Perempuan (Sumber Gambar : Nu Online)

Fatayat NU Jombang Soroti Berbagai Persoalan Perempuan

Terkait persoalan HIV/AIDS atau kesehatan, pihaknya telah melakukan sosialisasi dan penyuluhan kepada warga setempat terutama pada ibu-ibu dan remaja. Mereka diajak untuk mengetahui bahaya penyakit HIV/AIDS dan pentingnya menjaga kesehatan.

Demikian juga pada persoalan pendidikan. Mereka telah menyiapkan kelompok khusus untuk melakukan pengembangan kapasitas SDM para guru dengan giat pelatihan-pelatihan. Kelompok ini mencoba mengentaskan buta aksara di kalangan ibu-ibu yang belum bisa baca tulis di Jombang.

Haedar Nashir

"Ada beberapa kelompok yang telah berupaya mengajak masyarakat untuk melek aksara, terutama ibu-ibu yang belum bisa baca tulis. Mereka sudah mulai bisa baca tulis, menghitung dan ngaji," katanya kepada Haedar Nashir di Rumah Dinas Jombang, Kamis (21/4).

Tidak kalah penting, banyaknya problem yang tengah dihadapi oleh masyarakat Jombang yang berada di pedalaman. Menurut cucu dari Mbah Wahab itu, di sana terdapat banyak persoalan yang juga harus diselesaikan.

Haedar Nashir

"Kita juga harus memikirkan mereka untuk mengangkat derajat dan martabatnya sehingga anak-anak mereka menjadi generasi harapan bangsa," tandasnya. (Syamsul Arifin/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Ubudiyah, Makam Haedar Nashir

Terbit Buku Baru, Tentang Sejarah Islamisasi di Bangka

Pangkalpinang, Haedar Nashir. Sebuah buku baru memperkaya literatur tentang sejarah Islam di Nusantara. Seorang habib muda asal Pulau Bangka, Sayyid Deky Baraqbah (32), menerbitkan hasil penelitiannya selama delapan tahun dalam bentuk buku berjudul “Korpus Mapur Dalam Islamisasi Bangka”.

Terbit Buku Baru, Tentang Sejarah Islamisasi di Bangka (Sumber Gambar : Nu Online)
Terbit Buku Baru, Tentang Sejarah Islamisasi di Bangka (Sumber Gambar : Nu Online)

Terbit Buku Baru, Tentang Sejarah Islamisasi di Bangka

Buku tentang sejarah masuknya Islam di Tanah Bangka ini memiliki tebal 550 halaman. Sayyid Deky Baraqbah, Rabu (16/7), di kediamannya di Kelurahan A Yani, Pangkalpinang, Bangka Belitung, mengatakan, buku tersebut sejak terbit Februari lalu telah mendapat respon positif baik dari dalam maupun luar negeri.

Buku terbitan Penerbit Ombak, Yogyakarta, ini telah menjangkau negara Belanda, Amerika Serikat dan Australia lebih dari 500 eksemplar.  Ia menilai belum ada buku yang secara mendetail mengisahkan bagaimana perjalanan masuknya Islam di Pulau Bangka.

Haedar Nashir

Menurut Zaky, panggilan akrab sang penulis, referensi yang menceritakan sejarah masuknya Islam di Pulau Bangka selama ini hanya didasarkan pada cuplikan-cuplikan yang tidak rinci dari buku-buku yang pernah terbit sebelumnya. Sedangkan buku “Korpus Mapur Dalam Islamisasi Bangka” merupakan hasil penelitian langsung. Zaky mengaku terjun langsung meneliti berbagai artefak, manuskrip yang tersebar di Pulau Bangka, Aceh, Cirebon, Palembang, Italia, dan Belanda.  

Haedar Nashir

Dengan menggunakan penelitian atom dari unsur batu nisan dan tembikar yang temukan di areal pemakaman, buku ini menyajikan tesis bahwa pada abad 10 masehi, Islam telah masuk di Pulau Bangka. Menurut penulis buku ini, Islam di pulau tersebut dibawa oleh para mubaligh dari Timur Tengah, dan bukan dari Gujarat, India, sebagaimana mana tertulis dalam buku-buku sejarah selama ini. Dalam buku ini juga dibahas tentang kelompok penentang ziarah kubur (Wahabi) dan peranan tasawuf pada perjalanan Islam di Pulau Bangka.

Rencananya, buku ini akan dibedah pada pertengahan Agustus mendatang di Ruang Serbaguna PT Timah Tbk, Pangkalpinang, Bangka Belitung, dengan mengundang beberapa pakar sejarah dan tokoh Islam nasional.

Sebelumnya, buku yang diterbitkan Penerbit Ombak, Yogyakarta, Februari 2014 ini, juga telah dibedah di kampus IAIN Raden Fatah Palembang. Lima profesor dan ratusan mahasiswa dari berbagai jurusan turut serta dalam diskusi yang digelar Juni itu. (Hardy Alqadry/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Kajian Sunnah, Hadits, Pemurnian Aqidah Haedar Nashir

PWNU Lampung: Terorisme Bertentangan dengan Islam Aswaja

Depok, Haedar Nashir. Perkembangan kejahatan terorisme telah menunjukkan peningkatan yang cukup signifikan baik modus, kuantitas maupun kualitasnya. Indonesia tidak lepas dari sasaran aksi terorisme.

Hal itu mengemuka pada kegiatan bertajuk “Silaturahim Nasional Tentang Penguatan Aswaja dan Penanggulangan Terorisme dalam Ketahanan Nasional” di Pondok Pesantren Al-Hikam pada Sabtu-Ahad, (6-7/12).

PWNU Lampung: Terorisme Bertentangan dengan Islam Aswaja (Sumber Gambar : Nu Online)
PWNU Lampung: Terorisme Bertentangan dengan Islam Aswaja (Sumber Gambar : Nu Online)

PWNU Lampung: Terorisme Bertentangan dengan Islam Aswaja

Pada silaturahmi yang diadakan Pesantren Al-Hikam bekerja sama dengan Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) menyebutkan sejumlah peristiwa terorisme menunjukkan adanya mata rantai antara kelompok dalam dan luar negeri.

Haedar Nashir

Aktivitasnya mereka tidak dapat terdeteksi secara dini sehingga sulit untuk dicegah dan ditangkal apabila hanya ditangani pemerintah. Untuk menanggulanginya, harus melibatkan peranan para ulama.

Salah satu ulama yang hadir pada kegiatan tersebut adalah Ketua PWNU Lampung KH Soleh Bajuri. Ia mengajak para ulama di Lampung agar lebih meningkatkan kewaspadaan akan masuknya terorisme di di provinsi tersebut.

Haedar Nashir

"Mari kita lebih berhati-hati dengan terorisme serta paham-paham keagamaan yang menyimpang dari ajaran Islam Aswaja".

Terorisme, kata dia, sangat bertentangan dengan ajaran Islam Aswaja, yang mengedepankan prinsip rahmatan lil alamin, serta tawassuth (moderat), tasawuf sufisme dan i’tidal (adil).

Penguatan dan pengembangan Aswaja, lanjut dia, harus terus dilakukan secara intens. Sebab, di tengah perang pemikiran ideologi global, ideologi transnasional akan terus menggempur ajaran dan tradisi NU hingga pelosok desa.

“Aksi terorisme sangat bertentangan dengan ajaran Islam Aswaja serta merugikan bangsa dan negara,” ujarnya. (Rudi Santoso/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Pendidikan Haedar Nashir

Selasa, 30 Januari 2018

Santri Media Gelar Safari Jurnalistik di Sejumlah Pesantren

Lumajang, Haedar Nashir

Untuk menggali dan mengembangkan potensi pesantren, khususnya dalam mengelola media, sejumlah santri menyelenggarakan Safari Jurnalistik. Kegiatan yang telah dilaksanakan di salah satu pesantren di Lumajang tersebut akan terus diselenggarakan di empat kota lain di Jawa Timur.

"Untuk tahap pertama, Safari Jurnalistik diselenggarakan di Pondok Pesantren Darun Najah Petahunan Lumajang," kata Abdul Hady JM, Senin (1/2). Pengasuh sekaligus narasumber utama Safari Jurnalistik ini mengemukakan bahwa acara serupa akan diselenggarakan di Sumenep, Surabaya, Trenggalek, dan Lamongan.

Santri Media Gelar Safari Jurnalistik di Sejumlah Pesantren (Sumber Gambar : Nu Online)
Santri Media Gelar Safari Jurnalistik di Sejumlah Pesantren (Sumber Gambar : Nu Online)

Santri Media Gelar Safari Jurnalistik di Sejumlah Pesantren

Wartawan Majalah Gatra ini mengemukakan bahwa potensi pesantren sangat besar. Baik dari sisi sumber daya manusia, maupun muatan yang ada di dalamnya. Akan tetapi, yang cukup disayangkan, tidak banyak kalangan yang mengetahui secara detail potensi tersebut.

Upaya untuk semakin mengoptimalkan potensi pesantren tersebut antara lain dengan membekali dan mengasah keterampilan mengelola media. "Baik cetak maupun online, bahkan audio visual," kata lajang asal Sumenep ini.

Dan selama dua hari yakni Ahad (31/1/2016) hingga hari ini, sekitar seratus peserta mengikuti kegiatan safari jurnalitik tersebut. "Para peserta adalah utusan dari sejumlah pesantren dan madrasah di Lumajang. Diharapkan, usai mengikuti kegiatan, mereka dapat mengelola media di masing-masing lembaga secara mandiri,” kata Ilyasin Yusuf sekretaris panitia ini.

Haedar Nashir

Selama pelatihan, peserta mendapatkan materi teknik penulisan berita, wawancara, resensi dan opini, serta menajemen redaksional. "Sedangkan untuk melihat lebih dekat kemampuan peserta dalam menyerap materi, dilakukan praktik pada hari kedua," kata Ustadz Sisin, sapaan akrabnya.

Safari Jurnalistik merupakan kegiatan pengenalan sekaligus pendampingan ke sejumlah pesantren di Jawa Timur. Acara didukung penuh oleh Santri Media yang merupakan personil dari website santrinews.com. Para narasumber yang dihadirkan antara lain Abdul Hady JM, Imam Hambali, Set Wahedi, serta Achmad Jazuli Ghufron. (Ibnu Nawawi/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir

Haedar Nashir Pondok Pesantren Haedar Nashir

Konferensi Pemuda Lintas Agama 2012 digelar di Bali

Jakarta, Haedar Nashir. International Interfaith Youth Summit atau konferensi pemuda lintas agama internasional 2012 akan digelar di Bali, 5--7 Oktober 2012.

Konferensi Pemuda Lintas Agama 2012 digelar di Bali (Sumber Gambar : Nu Online)
Konferensi Pemuda Lintas Agama 2012 digelar di Bali (Sumber Gambar : Nu Online)

Konferensi Pemuda Lintas Agama 2012 digelar di Bali

Konferensi yang digelar oleh Indonesia Youth Forum (IYF) bekerja sama dengan Global Peace Festival Indonesia Foundation (GPFIF) tersebut mengangkat tema "New Interfaith Paradigm for The 21st Century".

"Tujuan acara ini adalah untuk membangun pemahaman bersama akan pentingnya kerukunan umat beragama dan ikut mengambil peran nyata dalam pembangunan perdamaian," kata Direktur Eksekutif IYF Achmad Syamsuddin dalam siaran pers yang dikirim ke media, Jumat.

Haedar Nashir

Ketua GPFIF Chandra Setiawan mengatakan bahwa acara seperti itu patut didukung karena selain mengampanyekan kerukunan antarumat beragama, penggagasnya justru anak-anak muda. 

"Kami dari GPFIF menilai bahwa acara seperti ini sangatlah penting karena anak-anak muda terlibat aktif memikirkan perdamaian dunia. Saat ini saja mereka sudah mau untuk memberikan kontribusi nyata, bagaimana kelak ketika mereka akan menjadi pemimpin dunia, tentunya mereka akan senantiasa mengusung semangat mulia ini," kata Chandra.

Haedar Nashir

Rencananya, kurang lebih 200 orang pemimpin muda dunia dari berbagai negara akan hadir, diantaranya dari Pakistan, Philipina, Kamboja, Amerika Serikat, Korea Selatan, China, Malaysia, Timor Leste, Inggris, Bangladesh, Bosnia, Brunei Darussalam, Singapura, Thailand, Myanmar, Uzbekistan, India, Bangladesh, Vietnam, Madagaskar, Gambia, Mesir, Zimbabwe, Laos, Somalia, dan Indonesia.

Direktur Program IY Muhammad Abdul Idris menjelaskan bahwa konferensi pemuda lintas agama kali ini adalah konferensi keempat yang digelar IYF.

"Ini adalah tahun keempat kami mengundang pemuda dari berbagai negara untuk duduk bersama membangun dialog saling pemahaman, menjunjung tinggi hak asasi manusia. Kegiatan ini sangat penting sebagai upaya ikut ambil bagian dalam perdamaian dunia," kata Idris yang juga Wakil Sekretaris Jenderal PP IPNU.

Pihaknya menyampaikan terima kasih kepada berbagai pihak yang mendukung terselenggaranya konferensi tersebut, terutama pemerintah Indonesia dan perwakilan negara-negara sahabat yang ada di Jakarta.

"Juga ucapan terima kasih kepada Kedutaan Besar Republik Indonesia yang ada di luar negeri, yang membantu kelancaran proses kedatangan teman-teman dari berbagai belahan dunia ini," demikian Idris. 

Redaktur: Mukafi Niam

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Doa, Santri Haedar Nashir

Ketua PWNU DIY Jelaskan Kekhasan UNU Yogyakarta

Yogyakarta, Haedar Nashir. UNU Yogyakarta akan menjadi kampus kaderisasi yang khas. Para mahasiswa akan digodok dengan ilmu-ilmu khas kepesantrenan tapi juga dibekali dengan keilmuan umum masa kini. Sehingga keluar dari UNU Yogyakarta, memiliki kemampuan mumpuni dalam ilmu keagamaan sekaligus mempunyai keilmuan umum yang mumpuni.?

Ketua PWNU DIY Jelaskan Kekhasan UNU Yogyakarta (Sumber Gambar : Nu Online)
Ketua PWNU DIY Jelaskan Kekhasan UNU Yogyakarta (Sumber Gambar : Nu Online)

Ketua PWNU DIY Jelaskan Kekhasan UNU Yogyakarta

Demikian disampaikan oleh Ketua PWNU DIY, Prof Nizar Ali pada acara konferensi pers peluncuran UNU Yogyakarta di Jalan Lowanu 47, Sorosutan Umbulharjo, Yogyakarta, Ahad (6/3).

“Oleh karena menjadi kampus kaderisasi, maka studi Islam menjadi inti dari kampus ini. Mahasiswa akan disiapkan untuk menjadi mujtahid. Kuat dalam ilmu ushuluddin, fiqih dan akhlak,” tegas Nizar.?

Alumni yang lulus dari UNU Yogyakarta, lanjut Nizar, kalau jadi pengurus NU ya Syuriah-nya. Karena sudah kita bekali dengan keilmuan agama yang cukup. Dan juga mampu mengintegrasikan keilmuan pesantren dan ilmu umum dalam kehidupan sehari-hari.?

“Alasan itulah yang membuat kita menjadikan Dirosah Islamiyah menjadi ujung tombak atau ruh dalam kampus ini. Bukan ekonomi Islam, bukan dakwah dan lain sebagainya tapi Dirosah Islamiyah,” tegasnya.?

Haedar Nashir

Pada kesempatan tersebut, dia juga menceritakan latar belakang berdirinya UNU Yogyakarta yakni untuk menjaga keberlangsungan paham ahlu sunnah wal jamaah annahdiyah yang merupakan warisan para ulama terdahulu.?

Haedar Nashir

“UNU Yogyakarta akan berbasis pesantren sehingga lulus dari sini, para alumni memiliki moral dan akhlak yang bagus,” tandasnya. (Nur Rokhim/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Meme Islam Haedar Nashir