Jumat, 16 Februari 2018

Kobarkan Semangat Juang, GP Ansor Genuk Gelar Donoh Darah

Semarang, Haedar Nashir. Di tengah konferensi ke-10 yang bertema “Bangkitkan Semangat Juang Pemuda Untuk Keutuhan NKRI” di kampus MI Miftahush Shibyan Genuksari, GP Ansor Genuk Semarang menyelenggarakan kegiatan donor darah. Melibatkan kader IPNU-IPPNU, aksi donor ini menyedok banyak partisipasi masyarakat, Ahad (8/6).

Kobarkan Semangat Juang, GP Ansor Genuk  Gelar Donoh Darah (Sumber Gambar : Nu Online)
Kobarkan Semangat Juang, GP Ansor Genuk Gelar Donoh Darah (Sumber Gambar : Nu Online)

Kobarkan Semangat Juang, GP Ansor Genuk Gelar Donoh Darah

Ketua panita koferensi anak cabang GP Ansor Genuk Muslimin mengatakan, tema itu sengaja diangkat. Sebab, saat ini kita membutuhkan semangat kepemudaan mengingat pemuda penerus bangsa ini.

Senada dengan Muslimin, Ketua GP Ansor Semarang Saichu Amrin menambahkan, “Kita tidak mengkontrak negara ini. Kita adalah investor bagi bangsa ini. Maka dari itu, dengan semangat kepemudaan, kita harus memiliki kompetensi untuk membangun bangsa ini menjadi lebih baik.”

Haedar Nashir

Amrin mengingatkan kader Ansor Genuk akan pilpres dalam waktu dekat. Para pemuda, menurutnya, dituntut untuk berperan dalam menyukseskan pilpres.

“Sebagai Gerakan Pemuda, kita selayaknya memilih dari golongan pemuda dan tentu pemimpin itu harus memiliki darah Nahdliyin,” tutur Ketua GP Ansor Genuk Muhammad Sodri.

Haedar Nashir

Pada pemilu legislatif kemarin, Sodri terpilih menjadi anggota dewan Kota Semarang.

“Dengan semangat kepemudaan, saatnya kita bangkit menuju bangsa yang lebih bermartabat dan berdikari. Kita harus mewarnai bangsa ini sebagai bangsa yang hebat. Dari Ansor untuk Indonesia,” lanjutnya. (Lukni Maulana/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Santri Haedar Nashir

Soal Aksi Penyerangan di Sukoharjo, GP Ansor Minta Warga Percaya Proses Hukum

Jakarta, Haedar Nashir - Lembaga Bantuan Hukum Pimpinan Pusat Gerakan Pemuda Ansor (LBH PP GP Ansor) mengimbau masyarakat untuk tetap tenang atas aksi penyerangan oleh sekelompok orang pada 19 Agustus 2017 terhadap warga Desa Siwal, Kecamatan Baki, Kabupaten Sukoharjo yang sedang memperingati hari kemerdekaan ke-72 RI.

“LBH Ansor meminta dan mengimbau warga korban penyerangan, segenap anggota Ansor dan Banser untuk menahan diri, tidak melakukan aksi balasan atau aksi main hakim sendiri dan mempercayakan proses penyelidikan dan penyidikan kepada pihak kepolisian,” kata Direktur Advokasi dan Litigasi LBH PP GP Ansor Achmad Budi Prayoga dalam rilisnya, Senin (28/8) siang.

Soal Aksi Penyerangan di Sukoharjo, GP Ansor Minta Warga Percaya Proses Hukum (Sumber Gambar : Nu Online)
Soal Aksi Penyerangan di Sukoharjo, GP Ansor Minta Warga Percaya Proses Hukum (Sumber Gambar : Nu Online)

Soal Aksi Penyerangan di Sukoharjo, GP Ansor Minta Warga Percaya Proses Hukum

Menurut Budi Prayoga, aksi penyerangan oleh sekitar 30 orang ini merupakan masalah hukum yang tengah ditangani oleh oleh aparat hokum yang berwenang.

Haedar Nashir

Sebagaimana diketahui, aksi penyerangan terjadi pada 19 Agustus 2017, saat masyarakat sedang? bergembira memperingati hari kemerdekaan ke-72 Indonesia yang diadakan oleh warga Desa Siwal, Kecamatan Baki, Kabupaten Sukoharjo.

Haedar Nashir

Berdasarkan hasil investigasi oleh tim litigasi LBH GP Ansor, penyerangan dilakukan oleh sekelompok orang bertopeng dengan jumlah sekira 30 orang. Pelaku membawa senjata tajam. Aksi penyerangan ini menyebabkan jatuhnya korban masyarakat umum serta seorang anak balita yang mengalami luka-luka. (Alhafiz K)Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Ulama, AlaNu Haedar Nashir

Kebebasan Berjilbab Jadi Inspirasi Santriwati Masuk TNI/Polri

Jakarta, Haedar Nashir. Adanya wacana diperbolehkannya wanita TNI/Polri untuk menggunakan jilbab disambut gembira oleh Maria Ulfa Anshor, Ketua Umum PP Fatayat NU, karena bisa menjadi inspirasi para santriwati untuk masuk kesana.

“Ini merupakan peluang bagi para santriwati untuk berkarir di militer yang merupakan salah satu faktor penentu pertahanan nasional,” katanya di Gd. PBNU, Selasa (18/12).

Kebebasan Berjilbab Jadi Inspirasi Santriwati Masuk TNI/Polri (Sumber Gambar : Nu Online)
Kebebasan Berjilbab Jadi Inspirasi Santriwati Masuk TNI/Polri (Sumber Gambar : Nu Online)

Kebebasan Berjilbab Jadi Inspirasi Santriwati Masuk TNI/Polri

Peran perempuan dalam berbagai sektor ini dinilainya penting sebagai wujud dari partisipasi mereka dalam membangun dan mempertahankan keberlangsungan negara ini. “Mereka bisa berada di sektor pendukung maupun di medan pertempuran,” katanya.

Ditambahkannya bahwa kebebasan untuk menggunakan jilbab ini juga menunjukkan TNI/Polri semakin memahami aspirasi para anggotanya untuk menjalankan ajaran agama dengan baik.

Untuk sementara, peraturan TNI/Polri diizinkan berjilbab berlaku di propinsi Nangroe Aceh Darussalam yang memang menerapkan syariah Islam yang salah satunya menetapkan kewajiban berjilbab bagi perempuan.

Di negara-negara Timur Tengah atau negara yang berazaskan Islam seperti di Irak, Iran, Afganistan dan Pakistan, pasukan wanitanya justru diharuskan memakai jilbab. Bosnia-Herzegovina yang merupakan negara sekuler juga memberikan kebebasan kepada pasukan wanitanya untuk memakai jilbab.

Haedar Nashir

Simbol keagamaan juga diizinkan di negara tetangga Malaysia dan di India. Orang dari etnis Sikh diperbolehkan memakai sorban ikat kepala untuk menjadi tentara/ polisi. (mkf)

Haedar Nashir

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir RMI NU, Sejarah Haedar Nashir

Santri Al-Muayyad Windan Belajar Program Pengembangan Diri

Sukoharjo, Haedar Nashir. Santri di masa kini tetap perlu memerhatikan life style, serta memilah mana yang merupakan budaya dan agama. Dengan tetap berpegang pada teladan Rasulullah, santri diharap dapat menjaga kepribadian saat berbaur di masyarakat.

Prinsip inilah yang menjadi landasan terselenggaranya kegiatan Self Development Program atau program pengembangan diri di Pondok Pesantren Al-Muayyad Windan Makamhaji Kartasura Kabupaten Sukoharjo, Sabtu-Ahad (11-12/11).

Santri Al-Muayyad Windan Belajar Program Pengembangan Diri (Sumber Gambar : Nu Online)
Santri Al-Muayyad Windan Belajar Program Pengembangan Diri (Sumber Gambar : Nu Online)

Santri Al-Muayyad Windan Belajar Program Pengembangan Diri

Selama dua hari tersebut, para peserta yang berasal dari santri setempat, mengikuti sejumlah materi yang disampaikan oleh pengasuh pondok yang juga Wakil Syuriah PWNU Jateng KH M Dian Nafi’.

Lurah pondok Al-Muayyad Windan Nurul Musthofa menjelaskan kegiatan "Self Development Program" ini setara dengan AMT (Achivement Motivation Training).

“Kita harapkan melalui program ini, dapat semakin melatih kepekaan berfikir optimis dan positif dalam berkehidupan para santri,” terang dia.

Haedar Nashir

Adapun materi yang disajikan seperti  pendidikan pembebasan ala Paulo Freire yang menerapkan aksi plus refleksi dalam metodenya, kemudian tes psikologi dan materi pembelajaran tarsana untuk bekal santri terjun melatih masyarakat belajar membaca Al-Quran.

Haedar Nashir

Di pondok Al-Muayyad Windan sendiri menerapkan pola pembelajaran untuk mengenali diri lebih dalam. Dalam tiga tahun pertama para santri akan menjawab tiga pertanyaan pokok. 

Pertama, menjawab pertanyaan, siapa saya? Kedua, menjawab siapa diri ini bersama orang lain. Kemudian yang ketiga, siapa diri ini untuk orang lain.

Setiap level perlu dijawab oleh santri dalam waktu satu tahun lamanya. Menurut sang pengasuh, Kiai Dian Nafi’, santri harus menemukan siapa jati diri yang sesungguhnya itu.

“Dengan itu pula Al-Muayyad Windan meneruskan tradisi tua pesantren nusantara, yaitu dalil agama diupayakan menubuh ke dalam pengamalan para santri, kemudian dikaitkan dengan pengalaman pendampingan masyarakat agar mereka dapat hidup bermartabat di ruang publik,” tutur Kiai Dian. (Ajie Najmuddin/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Pesantren Haedar Nashir

Kamis, 15 Februari 2018

Tolak Tambang Emas, PMII Jember Tuntut 4 Hal Ini

Jember, Haedar Nashir - Konsistensi Pergerakan Mahsiswa Islam Indonesia (PMII) Jember, Jawa Timur untuk menolak tambang emas, layak diapresiasi. Setelah sekian lama isu tambang emas mengendap, kini menguap lagi. Karena itu, untuk kesekian kalinya, PMII Cabang Jember turun ke jalan memprotes rencaan penambangan emas di Jember, Jumat (26/8).

Dengan mengusung berbagai spanduk yang berisi kecaman dan imbauan untuk menghentikan rencana penambangan emas itu, puluhan aktivis PMII mendatangi gedung DPRD Jember. Mereka ditemui Wakil Ketua DPRD Jember, NNP. Martini dan sejumlah anggota dewan di halaman gedung DPRD.

Tolak Tambang Emas, PMII Jember Tuntut 4 Hal Ini (Sumber Gambar : Nu Online)
Tolak Tambang Emas, PMII Jember Tuntut 4 Hal Ini (Sumber Gambar : Nu Online)

Tolak Tambang Emas, PMII Jember Tuntut 4 Hal Ini

Menurut korlap aksi, Abdul Rasyid, apa pun dan bagaimanapun alasannya, Jember tetap wajib menolak tambang emas. "Tambang emas wajib kita tolak karena jauh lebih banyak mudlaratnya daripada manfaatnya," tukasnya dengan berapi-api.

Rasyid menambahkan, pihaknya sangat khawatir Pemda Jember tidak berdaya ketika pemerintah pusat berkenan untuk merekomendasi pertembangan di Jember. Sebab, segala perizinan sudah diambil alih oleh pemerintah provinsi. Namun yang perlu diingat adalah? bahwa yang akan menjadi lokasi penambangan adalah wilayah Jember, sehingga otomatis yang akan menerima dampak penambangan adalah warga Jember.

Haedar Nashir

Oleh karena itu, Rasyid menuntut beberapa hal. Pertama, Pemerintah Kabupaten Jember harus menyiapkan regulasi antisipatif terhadap otoritas pemerintah pusat dalam perijinan tambang. Kedua, hentikan manuver perizinan yang dilakukan anggota legislatif. Ketiga, hentikan segala bentuk aktivitas penambangan di Jember. Keempat, Kapoles Jember? harus bertanggung jawab terhada penangkapan penamabang ilegal di Silo. "Itu semua tutuan kami. Namun yang juga penting adalah warga Jember wajib melawan rencana penambangan emas tersebut," jelasnya.

Sementara itu, Wakil Ketua DPRD Jember, NNP. Martini mengaskan, pihaknya tetap menolak rencana penambangan emas di Jember. Menurutnya, suara dewan sama dengan suara para aktivis PMII dan masyarakt Jember secara umum. Yaitu menolak tambang.

Haedar Nashir

Dikatakan Martini, sumber daya alam bukan hanya emas, tapi cukup banyak. Dan jika itu dikelola dengan baik, maka pasti menghasilkan rupiah yang tidak sedikit. "Kalau soal kekhawatrian adik-adik mahaiswa, itu juga menjadi? kekhawatiran kami. Karena itu, mari kia bersma-sama berjuang menelok emas agar gemanya lebih," urai Martini. (aryudi a razaq/abdullah alawi)

?

?

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Pesantren Haedar Nashir

Rabu, 14 Februari 2018

Sedikit Bicara, Ciptakan Gol

Bantul, Haedar Nashir. Hayatul Rojal, anak berusia 16 tahun itu seperti paling berduka setelah timnya, kesebelasan Thoriqun Najah dari Aceh Selatan dikalahkan kesebesan Nur Iman Mlangi, Yogyakarta. Ia menangis sesenggukan di tribun official timnya. Beberapa kali teman-temannya membesarkan hatinya. Tapi dia masih saja kelihatan murung.

Debutnya di Liga Santri Nusantara sebetulnya sangat bagus. Sampai babak 8 besar usai Jumat malam (28/10), dia masih pada posisi kedua mesin gol terbanyak dari ratusan pemain. Pada pertandingan itu pun, dia menyumbangkan satu gol. Namun, kekalahannya, membuat seluruh Laskar Pala, julukan timnya, menangis.

Sedikit Bicara, Ciptakan Gol (Sumber Gambar : Nu Online)
Sedikit Bicara, Ciptakan Gol (Sumber Gambar : Nu Online)

Sedikit Bicara, Ciptakan Gol

“Faktor kekalahan tidak konsentrasi,” katanya ketika ditanya di pingggir lapangan Stadion Sultan Agung, Bantul, Yogyakarta. Ketika ditunggu penjelasan lebih lanjut, ternyata berhenti sampai di situ. Sepertinya ia masih ingat di menit-menit akhir tak mampu memanfaatkan peluang ketika sudah berhadapan dengan kiper Nur Iman. Tendangannya melenceng ke kanan gawang.

Haedar Nashir

Sejak kapan menyukai bola? Dia menjawab singkat, sejak kecil. Siapa pemain bola paling favorit? Bambang, jawabnya. Tak ada tambahnnya Pamungkas, misalnya. Entah Bambang mana yang dimaksud. Sementara ketika ditanya pemain dunia yang disukainya, Mario Gomez, seorang pemain sepak bola Jerman asal Spanyol. ?

Ditanya kelas berapa, dia menjawab dua, Jurusan IPA. Singkat-singkat. Dan masih tampak murung. ?

Haedar Nashir

Barulah ketika ditanya rangking, kali ini dia tersenyum seperti baru saja menciptakan gol terindah yang mengembalikan kemenangan timnya.

“Rangking terakhir, katanya, ”ketiga puluh,” tutupnya sambil tertunduk. (Abdullah Alawi)



Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Jadwal Kajian Haedar Nashir

Proses Masuknya Islam di Tataran Sunda, Seperti Apa?

Tangerang Selatan, Haedar Nashir. Proses Islamisasi di wilayah Jawa, termasuk Sunda, bisa digolongkan ke dalam tiga skema. Pertama, menaklukkan kerajaan non-Islam. Kesultanan Islam Cirebon dan Banten yang memiliki kekuatan ekonomi dan militer bergerak dari pesisir utara Jawa ke wilayah selatan. Mereka menaklukkan dan menguasai wilayah pedalaman yang masyarakatnya belum beragama Islam.

Demikian dikatakan Aditia Gunawan saat menjadi pembicara diskusi mingguan di Islam Nusantara Center (INC) Ciputat Tangerang, Sabtu (18/11). 

Proses Masuknya Islam di Tataran Sunda, Seperti Apa? (Sumber Gambar : Nu Online)
Proses Masuknya Islam di Tataran Sunda, Seperti Apa? (Sumber Gambar : Nu Online)

Proses Masuknya Islam di Tataran Sunda, Seperti Apa?

Kedua, mengisi jabatan birokrasi lokal dan ritual di kesultanan. Biasanya ulama pendatang yang memainkan peranan ini. Mereka masuk dan menjadi bagian dari kerajaan yang ada.

“Yang ketiga, guru-guru sufi sejak abad ketujuh belas bergerak ke wilayah-wilayah pedalaman Jawa,” kata Aditia.

Menurut Aditia, guru-guru sufi inilah yang bisa menyebarkan Islam hingga ke pedalaman. Mereka cukup diterima dengan baik oleh masyarakat setempat karena menyebarkan Islam dengan berkompromi dengan budaya lokal. Guru-guru sufi tersebut juga memiliki kekuatan-kekuatan adikodrati.

“Mereka juga mengubah pertapaan dan biara-biara Hindu Buddha menjadi sekolah-sekolah Islam,” paparnya.

Haedar Nashir

Dia menjelaskan, masyarakat pedalaman Sunda bukan bukan hanya menjalankan syariat agama Islam saja, mereka juga masih mempraktikkan kearifan lokal seperti mantra-mantra untuk penyembuhan.

“Jampi-jampi itu kan sarana penyembuhan tapi dia ada ajaran Islamnya, ada juga penyesuaian terhadap ajaran sebelumnya, ajaran pra Islam,” terangnya.

Menurut dia, penyebar ajaran Islam itu juga menjadi solusi atas kesehatan masyarakat karena mereka bisa menyembuhkan penyakit-penyakit yang diderita oleh masyarakat setempat.

Haedar Nashir

Meski demikian, tidak semua masyarakat Sunda menerima dengan lapang dada datangnya Islam. Ada sekelompok masyarakat yang bersikap keras terhadap penyebaran Islam di Tataran Sunda. 

“Misalnya oposisi yang masih merindukan ajaran-ajaran lama. Ada teks yang menyebutkan bahwa Islam itu sebagai prahara,” urainya. 

“Misalnya di teks Carita Parahyangan itu pengarangnya lebih memposisikan diri sebagai yang kecewa terhadap datangnya Islam,” tambahnya.

Sementara itu, Penulis Buku Masterpiece Islam Nusantara Zainul Milal Bizawie menerangkan, tidak ada perbedaan yang cukup mencolok antara proses Islamisasi di Sunda dan wilayah Jawa lainnya. Pendekatan-pendekatan yang dipakai oleh para dai dalam menyebarkan Islam pun hampir sama yaitu akulturasi budaya, nikah dengan masyarakat setempat, dan lainnya.

“Hanya sisi budayanya saja yang berbeda sehingga tampilannya pun berbeda-beda,” tuturnya. (Muchlishon Rochmat)

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Habib, Kajian Sunnah Haedar Nashir