Jumat, 23 Oktober 2009

Qunut Subuh Antara Imam dan Makmum (2)

Assalamu ‘alaikum wr. wb

Saya mau tanya terkait permasalahan qunut subuh. Saya Amrullah tinggal di Yogyakarta yang mayoritas masjid tidak qunut subuh. Setiap shalat jamaah subuh di masjid dekat saya tinggal. Imam berhenti agak lama ketika bangun dari rukuk pada rakaat kedua, tujuannya memberi kesempatan pada orang yang mau baca qunut.

Pertanyaannya (1) apakah yang dilakukan imam itu benar dan ada dasarnya? (2) Jika saya baca qunut sedang imam tidak membaca qunut, apakah shalat saya sah? (3) Ketika suatu saat saya menjadi imam, apa yang harus saya lakukan, qunut atau tidak? Terima kasih. Wassalamu ‘alaikum wr. wb. (Abdul Kafi Amrullah/Yogyakarta)

Qunut Subuh Antara Imam dan Makmum (2) (Sumber Gambar : Nu Online)
Qunut Subuh Antara Imam dan Makmum (2) (Sumber Gambar : Nu Online)

Qunut Subuh Antara Imam dan Makmum (2)

Jawaban

Assalamu ‘alaikum wr. wb.

Haedar Nashir

Dalam kesempatan ini kami akan melanjutkan untuk menjawab pertanyaan yang diajukan saudara Abdul Kafi Amrullah dari Yogyakarta. Dua pertanyaan sudah kami jawab pada tulisan yang lalu. Sekarang, tinggal pertanyaan ketiga terkait bagaimana jika kita menjadi imam shalat Subuh di mana mayoritas makmumnya tidak mengakui legalitas syar’i doa qunut.

Dalam kasus ini setidaknya ada dua pilihan. Pertama, imam tidak usah membaca doa qunut. Imam Syafi’i konon pernah meninggalkan membaca qunut ketika shalat dengan para pengikut madzhab Hanafi di masjid sekitar Baghdad sebagaimana keterangan yang termaktub dalam kitab Al-Mausu‘ah al-Fiqhiyyah al-Kuwaitiyyah sebagai berikut:

Haedar Nashir

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? . ? ? : ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

Artinya, “Imam Syafi’i ra pernah meninggalkan do’a qunut ketika shalat Subuh bersama para pengikut madzhab Hanafi di dalam masjid mereka di sekitar Baghdad. Menurut para ulama madzhab Hanafi hal tersebut dilakukan sebagai bentuk penghormatan Imam Syafi’I terhadap Imam Abu Hanifah (adaban ma’al imam). Tetapi menurut ulama madzhab syafi’i, Imam Syafi’i ketika itu berubah ijtihadnya,” (Lihat Wizaratul Awqaf was Syu`un al-Islamiyyah-Kuwait, Al-Mausu’ah al-Fiqhiyyah al-Kuwaitiyyah, Kuwait-Darus Salasil, juz II, halaman 302).

Namun pilihan ini tentunya sedikit tidak membuat nyaman pihak imam, meskipun tidak merusak keabsahan shalatnya. Jika demikian, maka sebaiknya dicarikan pilihan kedua sebagai solusi yang saling melegakan baik imam maupun makmum.

Dari sinilah maka hemat kami diperlukan pilihan kedua. Namun masuk pada pilihan kedua kami akan menjelaskan sedikit tentang pengertian qunut dan tentang meninggikan suara bagi imam ketika membaca doa qunut atau merendahkannya. Kedua hal ini penting dijelaskan sebagai pijakan pilihan kedua.

Pengertian qunut secara bahasa adalah pujian. Sedang menurut syara’ adalah dzikir khusus yang mencakup pujian dan do’a seperti allahumaghfir li ya ghafur. Karenanya, jika tidak mencakup kedua hal tersebut bukan disebut qunut. Inilah pengertian yang masyhur di kalangan ulama madzhab Syafi’i.

( ? ) ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?.

Artinya, “Qunut secara bahasa berarti pujian, sedang menurut syara’ adalah dzikir khusus yang mencakup pujian dan do’a seperti allahummaghfir li ya ghafur (Ya Allah, ampuni segala dosaku wahai dzat Yang Maha Pengampun). Dengan demikain seandainya tidak mencakup keduanya maka tidak disebut qunut,” (Lihat Sulaiman Al-Bujairimi, Tuhfah al-Habib ‘ala Syarh al-Khathib, Beirut, Darul Kutub Al-‘Ilmiyyah, 1417 H/1996 M, juz II, halaman 205).

Kemudian dalam madzhab Syafi’i sendiri terjadi silang pendapat mengenai meninggikan atau merendahkan suara dalam membaca doa qunut bagi imam. Ada dua pendapat sebagaimana didokumentasikan Al-Mawardi dalam kitab Al-Hawi.

Pertama pendapat yang menyatakan bahwa bagi imam sebaiknya membaca doa qunut dengan pelan atau merendahkan suaranya. Argumentasi yang disuguhkan sebagai dasar pendapat ini adalah karena qunut merupakan doa sedangkan posisi doa itu sendiri adalah israr (merendahkan suara). Sedangkan dalil yang digunakan untuk mendasari pandangan ini adalah ayat 110 surat Al-Isra`.

Pendapat kedua menyatakan sebaiknya imam meninggikan suaranya ketika membaca doa qunut sebagaimana ketika membaca sami’allahu liman hamidah, tetapi peninggian tersebut di bawah peninggian suara ketika membaca ayat Al-Qur`an. Dengan kata lain, peninggian tersebut didasarkan kepada qiyas atau analogi.

? : ? ? ? : ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? : ? : ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? : ? ? ? ? ? ? [ ? :110 ] ? ? : ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

Artinya, “Pasal kedua mengenai kondisi mengeraskan dan merendahkan suara ketika membaca do’a qunut dalam shalat. Apabila mushalli (orang yang shalat) itu shalat munfarid (shalat sendirian), sebaiknya ia memelankan suara ketika membaca do’a qunut. Sedangkan apabila ia menjadi imam maka dalam hal ini ada dua pendapat. Pendapat pertama menyatakan bahwa sebaiknya ia memelankan suara dalam membaca do’a qunut karena merupakan do’a. Sedangkan posisi doa itu sendiri adalah israr (merendahkan suara). Allah ta’ala berfirman: “Jangan kamu mengeraskan suaramu dalam shalat dan jangan pula merendahkannya,” (QS Al-Isra` [17]: 110). Pendapat kedua menyatakan sebaiknya meninggikan suara dalam membaca do’a qunut sebagaimana meninggikan suara ketika membaca sami’allahu liman hamidah tetapi bukan seperti dalam membaca ayat,” (Lihat Al-Mawardi, Al-Hawi fi Fiqhis Syafi’i, Beirut, Darul Kutub Al-‘Ilmiyyah, cet ke-1, 1414 H/1991 M, juz II, halaman 145).

Berangkat dari penjelasan di atas maka pilihan kedua adalah bagi imam tetap membaca doa qunut tetapi dengan bacaan yang minimalis dan suara rendah (pelan), seperti allahummaghfir lana ya ghafur wa shallallahu ‘ala sayyidina muhammad wa ‘ala alihi wa shahbihi wa sallama.

Bacaan ini bisa dikategorikan doa qunut karena sudah dianggap mencakup doa dan pujian sebagaimana penjelasan definisi qunut di atas. Sedangkan merendahkan suara bagi imam dalam membaca doa qunut mengacu kepada pendapat pertama sebagaimana dikemukakan Al-Mawardi di atas.

Hemat kami pilihan kedua ini adalah yang paling bijak untuk diambil ketika seseorang yang menyakini legalitas syar’i membaca doa qunut dalam shalat Subuh, sedangkan makmumnya tidak.

Demikian jawaban yang dapat kami kemukakan. Semoga bisa dipahami dengan baik. Sikapi perbedaan dengan bijak serta berusahalah mencari cara terbaik untuk keluar dari perbedaan tanpa harus mengorbankan apa yang kita yakini. Kami selalu terbuka untuk menerima saran dan kritik dari para pembaca.

Wallahul muwaffiq ila aqwamith thariq,

Wassalamu’alaikum wr. wb


(Mahbub Ma’afi Ramdlan)

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Pesantren, Meme Islam Haedar Nashir

Rabu, 21 Oktober 2009

PCNU Cilegon: Pajak Hiburan Malam Perlu Ditinjau Ulang

Cilegon, Haedar Nashir. Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Kota Cilegon, Banten, mendesak Pemerintah Kota (Pemkot) Cilegon untuk menutup semua tempat hiburan malam di Kota Cilegon. Pasalnya, keberadaan tempat hiburan tersebut, tidak memiliki izin secara resmi alias ilegal.

PCNU Cilegon: Pajak Hiburan Malam Perlu Ditinjau Ulang (Sumber Gambar : Nu Online)
PCNU Cilegon: Pajak Hiburan Malam Perlu Ditinjau Ulang (Sumber Gambar : Nu Online)

PCNU Cilegon: Pajak Hiburan Malam Perlu Ditinjau Ulang

“Kami minta kepada Pemkot Kota Cilegon untuk segera menutup tempat hiburan saat ini juga. PCNU Kota Cilegon yang akan mendampingi. Bahkan jika perlu kami yang menutup tempat hiburan bila Pemkot tidak peduli,” ujar Ketua PCNU Kota Cilegon, KH. Hifdlulloh kepada Haedar Nashir, Senin (11/3).

Selain itu, PCNU Kota Cilegon juga meminta DPRD Kota Cilegon, bersama Muspida segera mengambil langkah tegas agar semua tempat hiburan di Kota Cilegon ditutup. Karena tidak ada manfaatnya bagi masyarakat. Belum lagi keberadaan tempat hiburan tersebut, cenderung dijadikan tempat maksiat.

Haedar Nashir

Sementara itu Wakil Ketua PCNU, Inas Nasrulloh meminta agar Perda pajak hiburan yang telah disahkan agar ditinjau kembali. Ia mempertanyakan pertimbangan dewan atas pembentukan Perda tersebut. Soalnya, menurut Inas, pajak yang dipungut dari tempat hiburan sama halnya diambil dari barang haram seperti minuman keras dan kegiatan yang berbau maksiat. “Apakah tidak ada potensi lain yang lebih baik,” terang Inas.

Haedar Nashir

Menanggapi desakan para pengurus NU tersebut, Ketua DPRD Kota Cilegon, Arief Rifa’i Madawi menjelaskan bahwa penutupan tempat hiburan bukan kewenangan DPRD. Menurutnya yang memiliki kewenangan menutup tempat hiburan adalah Wali Kota. Sementara kapasitas dewan hanya menyampaikan rekomendasi ke Wali Kota. Meski demikian pihaknya menyatakan setuju dengan keinginan PCNU tersebut.

“Kami akan berusaha memberikan yang terbaik bagi masyarakat Kota Cilegon, terutama bagi PCNU Kota Cilegon, DPRD akan menyampaikan rekomendasi kepada Wali Kota agar semua tempat hiburan ilegal ditutup,” janji Arief.

Redaktur    : A. Khoirul Anam 

Kontributor: Candra Zaini

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Hikmah Haedar Nashir

Senin, 19 Oktober 2009

Ajengan Menggerakkan Ayat Jadi Klinik

Pengasuh Pondok Pesantren Al-Amin Cicurug Sukabumi Ajengan KH Abdul Basith mengatakan, sebuah negara yang merdeka adalah ketika ada seorang masyarakat sakit, kemudian datang ke rumah sakit, ia tidak perlu membayar, tapi gratis.

Sekarang memang pemerintah Indonesia mengupayakan pelayanan kesehatan melalui BPJS, tapi program tersebut masih berbayar.

Ajengan Menggerakkan Ayat Jadi Klinik (Sumber Gambar : Nu Online)
Ajengan Menggerakkan Ayat Jadi Klinik (Sumber Gambar : Nu Online)

Ajengan Menggerakkan Ayat Jadi Klinik

Tak hanya itu, harga sandang pangan di negara merdeka seharusnya murah atau terjangkau oleh seluruh lapisan masyarakat. Kalau bisa gratis.

“Sekarang ada beras raskin, itu bukan gratis, tapi masih membayar, itu namanya jualan,” katanya dalam bahasa Sunda ketika ditemui di kediamannya pada Senin (18/7). ?

Haedar Nashir

Ajengan yang Ketua PCNU Kabupaten Sukabumi ini, tak hanya diam dengan keadaan itu. Ia mencari akal agar, tetangganya di desa ia tinggal, bisa gratis dalam pengobatan apabila ada yang sakit. Juga bisa membayar beras raskin bagi orang miskin.

Haedar Nashir

Ia pun teringat akan ayat dalam Al-Qur’an bahwa ciri orang yang bertakwa adalah orang-orang yang menafkahkan (hartanya), baik di waktu lapang maupun sempit (QS 3 Ali Imron ayat 134)

Tidak hanya mengetahui atau berbicara, dari ayat itu, ia mengupayakannya. Caranya adalah mendekati tokoh masyarakat untuk mengajak warga menyisihkan uang 500 rupiah per hari.

Ajakan Ajengan Basith itu gayung bersambut, setelah diadakan pertemuan warga sedesa, mereka sepakat dan melakukannya. Dan hasilnya mencengangkan, warga di Desa Nanggerang bisa mengumpulkan uang 25 juta per bulan.

Ketika uang itu dikumpulkan selama 2 tahun, warga Nanggerang mampu membeli mobil ambulans satu, klinik gratis satu, sekretariat Zakat Infak dan Sedekah, serta membebaskan pembelian raskin bagi warga tidak mampu. (Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Khutbah, Amalan Haedar Nashir

Jumat, 25 September 2009

Banjir Terjang Mojoagung, Makam Sayid Sulaiman Aman

Jombang, Haedar Nashir. Banjir besar menerjang sedikitnya 8 desa di Kecamatan Mojoagung, Jombang, Jawa Timur, Jumat (20/2) dini hari. Sebanyak 1,5 rumah warga, sekolah hingga kantor Polsek setempat terendam. Meski demikian, makam salah satu auliya, Mbah Sayid Sulaiman di Betek-Mancilan Mojoagung masih aman dari musibah ini.

"Alhamdulillah, sejak banjir tadi malam saya memantau lokasi menuju makam tidak banjir, mungkin di sekitar makam. Tapi kalau makam tidak," ujar Skaroni, salah satu Anggota BPD Desa Mancilan saat ditemui usai shalat Jumat.

Banjir Terjang Mojoagung, Makam Sayid Sulaiman Aman (Sumber Gambar : Nu Online)
Banjir Terjang Mojoagung, Makam Sayid Sulaiman Aman (Sumber Gambar : Nu Online)

Banjir Terjang Mojoagung, Makam Sayid Sulaiman Aman

Dari pantauan Haedar Nashir, Jumat siang tadi makam seluas lebih dari satu hektar di Dusun Rejoslamet Desa Mancilan itu tampak kering. Beberapa orang bahkan datang melakukan ziarah di makam yang berbatasan antara Mancilan–Betek tersebut.

Haedar Nashir

Hal yang sama juga terlihat di makam Sayid Abdurrahman Al Maghrobi dan Sayid Ahmad Al Maghrobi. Makam yang berada di sebelah Masjid Agung Mojoagung itu juga terbebas dari banjir.

Seperti diketahui, sejak Kamis (19/2) malam, banjir bandang akibat luapan sungai Gunting menerjang 8 Desa di Kecamatan Mojoagung, di antaranya Desa Kademangan, Janti, Mancilan, Kedunglumpang, Betek, Gambiran, serta Kauman.

Haedar Nashir

"Dari 8 desa itu, sekitar seribu orang hari ini mengungsi. Pengungsi kita tampung di tiga lokasi, yakni Masjid Janti, Masjid Gambiran, serta RTH Mojoagung," kata Nur Huda ketika ditemui di RTH Mojoagung.

Nur Huda mengatakan, tingginya curah hujan yang terjadi Kamis malam mengakibatkan dua sungai yang melintas di Mojowarno dan Mojoagung meluap. Akibatnya sekitar 1500 pemukiman warga dan beberapa fasilitas pemerintah, seperti sekolah, polsek dan kantor Pos terendam.

"Ketinggian air rata rata 70 centimeter. Bahkan ketinggian air yang berada di pemukiman mencapai 2 meter lebih," ujarnya seraya mengatakan banjir mulai surut, namun hingga siang tadi, beberpa pemukiman waga masih terendam banjir. (Muslim Abdurrahman/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Lomba, Hadits, Warta Haedar Nashir

Kamis, 10 September 2009

Kiai Said: Membangun Peradaban adalah Amalan Paling Mulia

Jombang, Haedar Nashir. Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Said Aqil Siroj, mengingatkan pentingnya ilmu pengetahuan dalam kehidupan beragama, berbangsa dan bernegara. Menguasai ilmu pengetahuan untuk tujuan membangun peradaban disebutnya sebagai amalan paling mulia.

 

Kiai Said: Membangun Peradaban adalah Amalan Paling Mulia (Sumber Gambar : Nu Online)
Kiai Said: Membangun Peradaban adalah Amalan Paling Mulia (Sumber Gambar : Nu Online)

Kiai Said: Membangun Peradaban adalah Amalan Paling Mulia

"Kita tidak bisa hanya mengandalkan kebesaran Mbah Hasyim (KH Hasyim Asyari), Mbah Wahab (KH Wahab Hasbullah) dan kiai-kiai besar lainnya. Kita harus terus belajar dan meningkatkan pengetahuan kita, kita harus membangun peradaban yang semakin baik," ungkap Kiai Said saat menjadi pembicara dalam sesi penguatan Rapat Konsolidasi Nasional Lembaga Kesehatan Nahdlatul Ulama (LKNU) di Universitas Pesantren Tinggi Darul Ulium (Unipdu), Jombang, Jawa Timur, Sabtu (14/4).

 

Kiai Said menambahkan, tidak mengandalkan kebesaran Kiai-kiai terdahulu bukan berarti melupakan jasa-jasanya. Sebaliknya, penguasan ilmu pengetahuan untuk tujuan membangun peradaban yang lebih baik adalan wujud penghargaan yang sebenarnya. "Membangun peradaban itu amalah paling mulia, karena dengan itu kita mengembangkan apa yang sudah dilakukan Kiai-kiai sepuh pendahulu kita," tambahnya tegas.

Haedar Nashir

Rapat Konsolidasi Nasional LKNU yang bertujuan untuk membantu peningkatan pelayanan kesehatan ke masyarakat diapreasi secara positif oleh Kiai Said, karena merupakan salah satu upaya untuk membangun peradaban yang lebih baik. Islam dijelaskannya memiliki sejarah besar di bidang ilmu pengetahuan, salah satunya kesehatan, dengan lahirnya ulama-ulama besar pencetus dan penemu sejumlah teknologi kedokteran.

"Kalau sekarang namanya apoteker. Jangan dikira yang mencetuskan orang Amerika, orang Eropa atau Australia. Ilmu apoteker pertama kali ditemukan oleh Az Zuhri, tokoh Islam, meski saat itu hanyalah cara-cara pengobatan herbal," urai Kiai Said.

Apresiasi positif juga diberikan terkait pilihan lokasi Rapat Konsolidasi Nasional LKNU di Pondok Pesantren Darul Ulum, Jombang, Jawa Timur. Pilihan ini dianggap sebagai wujud semangat kembali ke pesantren yang dicetuskan oleh Kiai Said dalam Muktamar NU di Makasar.

Haedar Nashir

 

Penulis: Emha Nabil Haroen

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Pertandingan, Humor Islam, Santri Haedar Nashir

Kamis, 06 Agustus 2009

Kaum Muda NU Diharap Beri Kontribusi untuk Nahdliyin dan Bangsa

Jombang, Haedar Nashir. Sekitar dua ribu anak muda Nahdlatul Ulama (NU) menghadiri Musyawarah Kamu (Kaum Muda) NU di halaman Universitas Wahab Chasbullah di Tambak Beras, Jombang, Jawa Timur. 

Menteri Agama RI Lukman Hakim Syaifudin mengarepasiasi positif kegiatan tersebut. "Ini positif, kaum muda bisa ikut terlibat dalam Muktamar NU ke-33. Karena itu, pemerintah tentu mengapresiasi dan mendukung kegiatan ini," papar Menteri Lukman, Ahad (2/8).

Kaum Muda NU Diharap Beri Kontribusi untuk Nahdliyin dan Bangsa (Sumber Gambar : Nu Online)
Kaum Muda NU Diharap Beri Kontribusi untuk Nahdliyin dan Bangsa (Sumber Gambar : Nu Online)

Kaum Muda NU Diharap Beri Kontribusi untuk Nahdliyin dan Bangsa

Musyarawarah Kamu NU menurut dia, akan menjadi lebih penting dan bermakna jika memberikan kontribusi, sumbangan bagi kalangan Nahdliyin serta bangsa dan negara.

Haedar Nashir

"Kaum muda merupakan jantung pergerakan, berhimpunnya kaum muda NU ini merupakan potensi luar biasa, anak-anak muda kita ini luar biasa," kata Menteri Lukman yang membuka kegiatan Musyawarah Kamu NU itu pula.

Haedar Nashir

Potensi Kamu NU menurut Menteri Lukman sudah luar biasa dalam berbagai bidamg kehidupan dan tidak seperti dulu-dulu.

"Semoga hasilnya dari Kamu NU bisa menebar kebermanfaatan bagi sessama," demikian Menteri Agama Lukman Hakim Syaifudin pada kegiatan dihadiri KH Maimoen Zubair, Ketua Umum Ikatan Sarjana Nahdaltul Ulama (ISNU) Ali Masykur Musa, Alissa Wahid Koordinator Seknas Gusdurian. 

Musyawarah yang dibuka dengan tepukan rebana oleh Menteri Agama tersebut diikuti kaum muda NU di GP Ansor, Fatayat, IPNU, IPPNU, PMII, KMNU, Gusdurian, dan lain-lain. (Gatot Arifianto/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir IMNU Haedar Nashir

Minggu, 02 Agustus 2009

Mahasiswa Miami Dade College Pelajari Multikulturalisme di Pesantren Tebuireng

Jombang, Haedar Nashir - Setelah menerima kunjungan mahasiswa The Kings College, New York, Amerika Serikat, Pesantren Tebuireng kembali menerima kunjungan mahasiswa asing dari Negeri Paman Sam, Sabtu (3/6). Kali ini, sebanyak 11 mahasiswa dari Miami Dade College berkunjung ke pesantren yang didirikan oleh KH Hasyim Asyari.

"Kunjungan mereka difasilitasi oleh International Office Universitas Airlangga Surabaya," kata Sekretaris Utama Pesantren Tebuireng KH Abdul Ghofar.

Mahasiswa Miami Dade College Pelajari Multikulturalisme di Pesantren Tebuireng (Sumber Gambar : Nu Online)
Mahasiswa Miami Dade College Pelajari Multikulturalisme di Pesantren Tebuireng (Sumber Gambar : Nu Online)

Mahasiswa Miami Dade College Pelajari Multikulturalisme di Pesantren Tebuireng

Dalam kunjungan singkat ini, kata Gus Ghofar, para mahasiswa tampak sangat antusias dan terlibat dalam dialog yang sangat hangat.

Salah satu mahasiswa jurusan Ilmu Politik, Enrique Sepulvedas, menanyakan bagaimana perlakuan terhadap non-Muslim di Pesantren Tebuireng. "Apakah Anda menerapkan kebijakan pintu terbuka untuk mereka yang berbeda agama?" tanya pria blasteran Spanyol-Prancis ini.

Haedar Nashir

Menjawab pertanyaan ini, Mudir Pesantren Tebuireng Lukman Hakim menuturkan bahwa pihaknya sangat terbuka untuk kerja sama yang bersifat lintas etnis dan agama. Dalam beberapa kesempatan, pesantren yang kini diasuh oleh KH Salahuddin Wahid ini juga melakukan kerja sama kegiatan dengan berbagai pihak.

Haedar Nashir

"Di Universitas Hasyim Asyari (Unhasy), bahkan ada salah satu pejabat di Unit Penjamin Mutu yang beragama Hindu," imbuh Pembantu Rektor II Unhasy Muhsin Kasmin. Pria yang telah puluhan tahun mengabdi di Pesantren Tebuireng ini menambahkan, ada juga dosen di Fakultas Teknologi Informatika yang beragama Katolik.

Joshua Elias, mahasiswa jurusan Hubungan Internasional, menanyakan pendapat pengurus Pesantren Tebuireng terhadap aspirasi penegakan syariat Islam di Indonesia. Terhadap pertanyaan ini, mantan Direktur Lembaga Sosial Pesantren Tebuireng (LSPT) Mohammad Asad menjelaskan peran KH Abdul Wachid Hasyim sebagai salah satu perumus Pancasila.

Pria yang sedang menempuh S-3 di Leiden University Belanda itu menuturkan, pendiri Pesantren Tebuireng KH Hasyim Asyari adalah tokoh yang berperan penting dalam memadukan Islam dan nasionalisme melalui doktrin "Cinta Tanah Air adalah bagian dari iman" dan fatwa Resolusi Jihad.

"Jihad yang dimaksud bukanlah upaya memusuhi Barat atau non-Muslim, tapi melawan penjajah kolonial Belanda. Inilah salah satu pondasi nasionalisme di Indonesia," jelasnya.

Dengan gambaran itu, imbuh Asad, jelas sekali pandangan Pesantren Tebuireng terhadap Islam dan kebangsaan. "Kalau hari ini masih ada orang yang memaksakan syariat Islam menjadi dasar negara, atau mendesakkan berdirinya khilafah, maka orang itu mengajak mundur 30 tahun ke belakang," tandasnya.

Isu lain yang didiskusikan para mahasiswa Miami Dade College adalah soal kesetaraan perempuan dalam ajaran Islam. Pertanyaan tersebut dilontarkan oleh Marie Geraldine Georges, seorang mahasiswi kulit hitam yang menempuh studi di jurusan Antropologi.

"Saya melihat, yang hadir sekarang laki-laki semua. Apa memang perempuan tidak boleh berperan di sini?" tanya Maria dengan nada penasaran.

Menjawab pertanyaan tersebut, Muhsin Kasmin menyatakan bahwa perempuan mendapatkan peluang yang sama, sepanjang mempunyai kemampuan yang dipersyaratkan. "Salah satu sekolah di lingkungan Pesantren Tebuireng bahkan pernah dijabat oleh seorang perempuan selama beberapa periode. Kesempatan serupa juga diberlakukan di Unhasy," ungkapnya.

Asad menambahkan, Nyai Khoiriyah Hasyim, salah satu putri KH Hasyim Asyari, bahkan dikenal sebagai ulama perempuan yang sangat terkemuka di zamannya. "Beliau juga tercatat pernah menjadi anggota Syuriah Nahdlatul Ulama," ujarnya.

Di akhir kunjungan, rombongan mahasiswa yang didampingi Prof Michael Lenaghan itu menyempatkan berziarah ke makam KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur). Di kompleks makam, mereka mendapatkan penjelasan bahwa para peziarah biasanya menyalurkan donasi atau infaq di kotak amal yang disediakan. Kotak amal ini dikelola oleh LSPT untuk pelayanan sosial, kesehatan, dan ekonomi bagi dhuafa di sekitar Pesantren Tebuireng.

Mendengar cerita itu, Michael Lenaghan spontan mengeluarkan dompetnya dan menanyakan lokasi kotak amal tersebut. Pria yang mengaku pernah tiga kali bertemu Gus Dur ini pun bergegas menuju kotak amal dan memasukkan selembar uang dolar Amerika.

Langkah dosen senior itu segera diikuti oleh dua mahasiswanya, Joshua Elias dan Enrique Sepulvedas. Ketika ditanya kenapa ikut memberikan donasi, pria paruh baya ini menjawab singkat, "Thats what friends do," ujarnya dengan nada bangga.

Selain donasi yang dimasukkan ketiga orang ini ke kotak amal, mereka secara kolektif juga menyerahkan donasi sebesar Rp. 1,5 juta kepada LSPT. Donasi ini diterima oleh Mohammad Asad mewakili pengurus LSPT. (Ibnu Nawawi/Alhafiz K)Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Doa, Quote, Nasional Haedar Nashir