Rabu, 30 Maret 2011

Bangunkan Sahur Warga Probolinggo dengan Musik Patrol

Probolinggo, Haedar Nashir. Sabtu (5/7) dini hari, alunan musik patrol ini terdengar begitu merdu. Warga kelurahan Semampir kecamatan Kraksaan kabupaten Probolinggo terlihat sangat serempak memukul alat musik ala kadarnya yang terbuat dari sisa barang bekas itu. Dengan alat sederhana, mereka membuat harmoni musik yang sangat merdu untuk didengarkan.

Sambil berteriak “sahur-sahur” membangunkan warga untuk sahur, mereka terus memainkan alat musiknya yang terdiri dari jeriken, potongan besi, dan kentongan bambu. Alat musik yang lazimnya dimainkan anak-anak, cukup menarik perhatian orang dewasa untuk terlibat dalam keliling membangunkan sahur ini.

Bangunkan Sahur Warga Probolinggo dengan Musik Patrol (Sumber Gambar : Nu Online)
Bangunkan Sahur Warga Probolinggo dengan Musik Patrol (Sumber Gambar : Nu Online)

Bangunkan Sahur Warga Probolinggo dengan Musik Patrol

Saat ditemui Haedar Nashir, Lukman salah satu pemain musik patrol mengatakan, alat-alat musik itu didapatkan dengan memanfaatkan beberapa barang bekas yang ada di sekitar rumahnya.

Haedar Nashir

“Sambil menunggu waktu sahur, maka saya bersama teman-teman membangunkan warga yang masih ingin memasak. Biasanya kami keliling mulai pukul 02.00 hingga 03.00 WIB. Setelah itu kami pulang untuk sahur bersama keluarga,” ujar Lukman.

Ungkapan serupa juga disampaikan Aris. Bocah berusia 13 tahun ini mengaku kebagian memukul alat musik kentongan yang terbuat dari bambu. Dia mendapatkan alat musik itu dari ayahnya.

Haedar Nashir

“Ayah yang membuatkan kentongan ini. Jika sudah selesai, alat musik ini dibawa pulang ke rumah masing-masing,” ujar Aris.

Menurut Aris, ia merasa sangat senang jika bulan puasa tiba. Pasalnya, bersama teman-temannya ia bisa memainkan musik patrol berkeliling membangunkan warga untuk sahur. “Alhamdulillah, tiap bulan puasa, saya aktif bermain musik patrol. Soalnya seperti tidak enak jika tidak bergabung dengan teman-teman,” pungkasnya. (Syamsul Akbar/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Lomba, Nahdlatul Ulama Haedar Nashir

Sabtu, 26 Maret 2011

Pemuda Lintas Agama NTT Gelar Buka Puasa Bersama

Kupang, Haedar Nashir. Sejumlah pemuda dari berbagai oragnisasi kepemudaan Nusa Tenggara Timur (NTT) khususnya Kota Kupang menggelar buka puasa dan sahur bersama. Kegiatan yang diikuti kaum muda lintas agama ini berlangsung di Kantor CIS Timor Kupang, di Jalan BKKBN Kupang, Kelurahan Kelapa Lima, Kecamatan Kelapa Lima Kota Kupang.

Mereka yang non-muslim ingin merasakan suka cita yang dialami kaum muda umat Muslim dalam menjalani ibadah puasa pada Ramadhan 1435 H. Ketua CIS Timor Wingsthon Rondo, di sela-sela buka puasa bersama Rabu (10/7) itu, mengatakan, toleransi dan solidaritas antar sesame harus senantiasa ditunjukkan di tengah keberagaman demi membangun kekompakan bekerja  untuk kepentingan bangsa yang lebih besar.

Pemuda Lintas Agama NTT Gelar Buka Puasa Bersama (Sumber Gambar : Nu Online)
Pemuda Lintas Agama NTT Gelar Buka Puasa Bersama (Sumber Gambar : Nu Online)

Pemuda Lintas Agama NTT Gelar Buka Puasa Bersama

Kegiatan ini merupakan inisiatif dari Gareja Masehi Injili Timor (GMIT) Sinode Kupang dan LSM  CIS Timor bersama Pemuda Lintas Agama dan Komunitas Peac Maker Kupang dengan tema “Imam Orang Muda Dalam Bingkai Toleransi Umat Beragama”.

Haedar Nashir

Wisthon menambahkan, orang muda perlu memiliki pengalaman bisa berbagai inspirasi dalam hidup ini. Program yang pertama kali diadakan di kantornya ini menjadi momen langka dalam sejarah kehidupan di Tanah Air.

“Dengan momen buka puasa bersma, semua pemuda lintas agama kita sama-sama merasakan suka cita yang dirasakan oleh sahabat-sahabat kita yang beragama Muslim. Kita semua di sini semua berperan, ada yang cuci piring, ada yang masak dan ada yang membuka tikar untuk acara buka dan sahur bersama,” ujanrya.

Haedar Nashir

Ketua Pimpinan Wilayah Ikatan Pelajar Nadhlatul Ulama (IPNU) NTT Iksan Arman Pua Upa mengaku mengaku senang dengan kebersamaan yang dibangun dalam forum ini.

“Kami berterima kasih kepada GMIT dan CIS Timor yang telah mengadakan acara buka puasa bersama semua pemuda lintas agama. Momen sejarah yang terlupakan ini, agar kita tetap bersatu untuk sama membangun Provinsi NTT. (Ajhar Jowe/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Pondok Pesantren, Internasional Haedar Nashir

Senin, 21 Maret 2011

Menelaah Perselisihan Pendirian Gereja Kristen dan Katolik di Aceh Singkil

Sejak tahun 1979 sampai 2015, konflik yang berkaitan dengan rumah ibadah di Kabupaten Aceh Singkil sudah terjadi sebanyak empat kali. Untuk menyelesaikan itu, Bupati dan Sekretaris Daerahnya menggelar pertemuan dengan Menko Polhukam dan Menteri Agama pada tanggal 15 Januari 2016. Mereka meminta pemerintah pusat dapat hadir ke Kabupaten Aceh Singkil untuk memberikan Izin Mendirikan Bangunan (IMB) rumah ibadah.

Gayung bersambut, tim terpadu yang terdiri dari Kemenkopolhukam, Kemenag, Kemendagri dan Badan Intelkam Mabes Polri dikirim ke Aceh Singkil pada 2-8 Februari 2016 untuk menjajaki penyelesaian akhir kasus tersebut.

Hasil penelitian Kemenag terkait kasus perselisihan tersebut menyebutkan bahwa penyelesaian perselisihan menjadi domain Pemerintah Daerah Kabupaten Aceh Singkil. Pemerintah Daerah belum bisa menerbitkan surat izin karena persetujuan dari masyarakat sekitar sebagai pendukung belum ada. Dengan demikian, warga Nasrani kesulitan untuk mendapatkan persetujuan pendukung sesuai ketentuan  sampai dengan batas waktu yang ditentukan.

Setelah dilakukan wawancara dengan semua pihak –Muslim, Nasrani, dan Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB), maka ada beberapa putusan yang disimpulkan. Pertama, perselisihan yang terjadi di Aceh Singkil bukan perselisihan berkaitan dengan agama tetapi perselisihan tentang pendirian gereja atau Undang-Undang.

Menelaah Perselisihan Pendirian Gereja Kristen dan Katolik di Aceh Singkil (Sumber Gambar : Nu Online)
Menelaah Perselisihan Pendirian Gereja Kristen dan Katolik di Aceh Singkil (Sumber Gambar : Nu Online)

Menelaah Perselisihan Pendirian Gereja Kristen dan Katolik di Aceh Singkil

Kedua, Pemerintah Daerah Kabupaten Aceh Singkil harus tegas mengambil keputusan agar kasus ini bisa segera diselesaikan dan tidak berlarut-larut. Ketiga, pihak umat Islam maupun pihak umat Nasrani belum sepenuhnya sepakat dan mempercayakan keputusannya kepada pemerintah daerah soal jumlah dan nama gereja yang akan diberikan kesempatan mengajukan persyaratan perizinan dan yang ditertibkan.

Keempat, aparat keamanan harus bertindak tegas dan adil kepada semua pihak. Karena ketegasan aparat keamanan merupakan salah satu faktor penting untuk mendukung pemerintah daerah dalam menyelesaikan kasus ini. Terakhir, baik pihak umat Islam maupun pihak umat Kristen mengharapkan pemerintah untuk menyelesaikan kasus ini secara menyeluruh agar tidak terjadi lagi suatu saat nanti.

Haedar Nashir

Penelitian Kemenag ini menghasilkan tiga rekomendasi. Pertama, rekomendasi untuk Kemenag sendiri. Pihak Kemenag tidak disarankan untuk pergi ke Kabupaten Aceh Singkil sampai ada perkembangan tindak lanjutnya. Selain itu, Kemenag juga disarankan untuk memberikan perhatian dalam bentuk monitoring terhadap perkembangan yang akan dilakukan oleh pemerintah daerah berdasarkan saran-saran dari tim terpadu. 

Kedua, rekomendasi untuk Pemerintah Daerah Kabupaten Aceh Singkil. Yaitu melakukan dialog kepada perwakilan umat Islam dan perwakilan umat Nasrani, bertindak cepat, tegas dan adil, melakukan pengawasan dan bimbingan terhadap aktivitas pendirian gereja, dan koordinasi secara berkala lintas lembaga dalam hal pendirian rumah ibadah.

Ketiga, rekomendasi untuk aparat keamanan. Yakni mengantisipasi segala bentuk intervensi dari pihak luar dalam hal pendirian rumah ibadat serta tegas dan adil kepada semua pihak dalam penegakan hukum. (A Muchlishon Rochmat)

Baca Kajian Keagamaan lainnya DI SINI

Haedar Nashir

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Kiai, Ubudiyah, Tegal Haedar Nashir

Sabtu, 05 Maret 2011

Umat Islam Perlu Bersikap Arif atas Pernyataan Maaf Paus

Jakarta, Haedar Nashir

Ketua Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), Prof Dr Maskuri Abdillah meminta agar umat Islam khususnya di Indonesia bersikap arif menerima pernyataan maaf Paus Benediktus XVI atas pidatonya, 12 September lalu, sehingga tidak memunculkan rekasi yang mengarah pada tindakan anarkis.

“Sebagai umat Islam, kita patut menerima pernyataan maaf Paus (Benediktus XVI) tersebut. Apalagi umat katolik di Inodonesia juga sudah menyatakan permintaan maaf yang tulus atas pernyataan Paus,” ungkap Maskuri Abdillah kepada Haedar Nashir di Gedung PBNU, Jalan Kramat Raya, 164 Jakarta, Rabu (20/9).

Pembantu Rektor UIN Jakarta itu juga merasa optimis dengan sikap yang ditunjukkan NU dan Muhammadiyah. menurutnya, sikap kedua ormas keagamaan terbesar di Indonesia itu akan diiukti oleh sejumlah kelompok yang tidak puas atas permintaan maaf tulus Paus. “Saya kira dengan adanya sikap yang ditunjukkan NU dan Muhammadiyah untuk menerima permintaan maaf Paus, maka itu sudah cukup mewakili sehingga tidak perlu bagi sejumlah pihak (kelompok yang tidak puas) misalnya untuk melakukan tindakan anarkis yang akhirnya merugikan kita semua,” terangnya.

Umat Islam Perlu Bersikap Arif atas Pernyataan Maaf Paus (Sumber Gambar : Nu Online)
Umat Islam Perlu Bersikap Arif atas Pernyataan Maaf Paus (Sumber Gambar : Nu Online)

Umat Islam Perlu Bersikap Arif atas Pernyataan Maaf Paus

 

Kontroversi dan reaksi atas Paus Benediktus XVI muncul menyusul pernyataannya dalam kuliah umum di Universitas Regensburg, Bavaria, Jerman, 12 September lalu, saat Paus menelaah perbedaan Islam dan Kristen secara historis dan filosofis, dan hubungan kekerasan dengan agama.

Paus Benediktus XVI kemudian secara implisit menyebutkan keterkaitan Islam dengan kekerasan, khususnya dengan jihad atau perang suci.

Haedar Nashir

Paus juga mengutip pernyataan Kaisar Bizantium, Manuel II Palaeologos ((1341-1391) saat berdialog dengan seorang Persia terpelajar yang menyatakan bahwa inovasi yang diperkenalkan oleh Nabi Muhammad adalah kejahatan dan tidak berperikemanusiaan (evil and inhuman). (dar)

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir

Haedar Nashir Halaqoh, Amalan, Lomba Haedar Nashir

Minggu, 27 Februari 2011

Lelang Zakat Lazis NU Raih 200 Juta

Jakarta, Haedar Nashir. Acara lelang zakat yang diselenggarakan oleh Lembaga Amil Zakat, Infaq dan Shadaqah NU berhasil menggalang dana sebanyak 200 juta. Jumlah tersebut berhasil dikumpulkan hanya dalam waktu 45 menit sesaat sebelum berbuka puasa.

Acara lelang zakat yang dipandu oleh Dewi Hughes tersebut merupakan bagian dari launching sekaligus pelantikan Lazis NU. Hadir dalam acara tersebut Wapres Jusuf Kalla yang sebelumnya telah menyerahkan zakat keluarganya untuk didistribusikan oleh Lazis NU.

Lelang Zakat Lazis NU Raih 200 Juta (Sumber Gambar : Nu Online)
Lelang Zakat Lazis NU Raih 200 Juta (Sumber Gambar : Nu Online)

Lelang Zakat Lazis NU Raih 200 Juta

Menakertrans Erman Suparno dan Bos RCTI Hary Tanoesubrata masing-masing menyerahkan 25 juta. Para pengurus PBNU tak ketinggalan menyerahkan zakatnya untuk didistribusikan melalui Lazis NU. LP Maarif NU juga menyerahkan dana sebesar 5 juta rupiah yang selanjutnya diikuti oleh beberapa lembaga NU lainnya seperti LDNU dengan sumbangan 5 juta dan Lakpesdam NU dengan nilai 2 juta.

“Kita harus menjemput bola dalam mengelola zakat dan selanjutnya kita harus bisa membuat mustahik (penerima zakat) menjadi muzakki (pezakat),” tandas Rais Syuriah PBNU KH Ma’ruf Amin dalam sambutannya.

Dikatakannya bahwa untuk mengembangkan potensi ekonomi tersebut harus memberikan stimulan agar terjadi perubahan ekonomi. Dalam hal ini NU memiliki cita-cita untuk mengembangkan baytul qiroth atau lembaga keuangan mikro yang bisa membantu perekonomian nahdliyyin di tiap-tiap Majelis Wakil Cabang (MWC).

“Dari yang mustahik bisa menjadi pengusaha kecil, yang pengusaha kecil bisa menjadi pengusaha menengah dan yang menengah bisa menjadi besar,” imbuhnya.

Haedar Nashir

Terdapat empat bidang yang menjadi bidang kerja NU meliputu pemberdayaan ekonomi ummat, peningkatan kualitas pendidikan kaum mustadzafin, jaminan kesehatan dan bantuan sosial kemanusiaan.

Haedar Nashir

Pedagang kaki lima, petani, peternak dan nelayan dan home industri adalah mereka yang menjadi sasaran pengembangan ekonomi sementara santri dan siswa diniyah dan guru-guru madrasah diniyah adalah mereka yang menjadi fokus perhatian dalam bidang pendidikan.

Sebagian dana juga dialokasikan untuk mengirimkan guru agama ke daerah terpencil dan pesantren di daerah minoritas dan untuk peningkatan fisik pendidikan dan tempat ibadah.

Gizi burung dan busung lapar akan menjadi bagian program jaminan kesehatan. Ustadz dan kyai mustadzafin yang telah mengabdikan hidupnya untuk agama juga akan mendapat layanan kesehatan.

Sementara itu, Bantuan social kemanusiaan akan difokuskan pada bantuan logistic kaum mustadzafien, korban bencana, janda, manula dan kaum cacat. (mkf)

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Ulama Haedar Nashir

Rabu, 23 Februari 2011

PCNU: Kaji Ulang Semua Izin Tambang Pasir di Lumajang!

Jakarta, Haedar Nashir. Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Kabupaten Lumajang menilai pentingnya mengaji ulang setiap kebijakan penambangan pasir di daerah setempat. Kajian tersebut tak hanya pada aktivitas yang ilegal, tapi juga penambangan yang telah mendapatkan izin resmi.

PCNU: Kaji Ulang Semua Izin Tambang Pasir di Lumajang! (Sumber Gambar : Nu Online)
PCNU: Kaji Ulang Semua Izin Tambang Pasir di Lumajang! (Sumber Gambar : Nu Online)

PCNU: Kaji Ulang Semua Izin Tambang Pasir di Lumajang!

Sikap ini mencuat menyusul aktivitas penambangan pasir di Pesisir Watu Pecak, Lumajang, Jawa Timur, yang berujung pada tragedi pembunuhan terhadap aktivis penolak tambang bernama Salim alias Kancil di Desa Selok Awar-awar, Pasirian, Lumajang.

Menurut Ketua PCNU Lumajang Syamsul Huda, di samping aspek keselamatan lingkungan, kajian ulang juga diperlukan untuk mencegah timbulnya konflik di masyarakat yang sebagaimana yang terjadi sepekan lalu. Apalagi, ia juga menengarai adanya indikasi pelanggaran terhadap pemberian izin tambang yang selama ini ada.

Haedar Nashir

“Saya mencium ada indikasi (pelanggaran itu) sehingga tambang hanya dinikmati oleh segelintir orang saja,” tutur Syamsul saat dihubungi Haedar Nashir, Jumat (2/10), usai rapat koordinasi terkait peristiwa pembunuhan terhadap Salim “Kancil” (52) dan penganiayaan terhadap Tosan (51).

PCNU Lumajang memandang, segenap eksplorasi lingkungan mesti mempertimbangkan segi maslahat dan mudaratnya, di samping peraturan tertulis mengenai hal itu. PCNU Lumajang berharap ada penataan ulang terkait aksi penambangan di kabupaten yang berbatasan dengan Samudera Hindia di sisi selatan ini. (Mahbib Khoiron)

Haedar Nashir

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Pondok Pesantren, Internasional Haedar Nashir

Jumat, 18 Februari 2011

Ngaji Pasaran di Era Hadlaratussyekh KH Hasyim Asy’ari

Sudah menjadi semacam tradisi yang turun temurun sampai sekarang, pada bulan Ramadhan di beberapa pesantren besar ramai didatangi orang-orang untuk ikut mengaji kitab tertentu. Tradisi ini dalam kalangan pesantren, biasa disebut ngaji pasanan atau pasaran.

Tak terkecuali pesantren besar macam Tebuireng Jombang, sejak zaman dahulu, ketika bulan Puasa tiba, para santri dari berbagai pelosok Tanah Air berduyun-duyun ke Tebuireng untuk ikut mengaji kitab Shahih Bukhari kepada Hadratussyaikh, KH Hasyim Asy’ari, yang memang juga dikenal sebagai salah seorang ulama ahli hadits.

Salah satu tokoh NU dan mantan Menteri Agama RI, KH Saifuddin Zuhri, mengatakan bahwa ketika KH Hasyim Asy’ari membaca kitab Shahih Bukhari, membaca dengan cermat tetapi cepat, seolah sedang membaca kitab karangannya sendiri.

Ngaji Pasaran di Era Hadlaratussyekh KH Hasyim Asy’ari (Sumber Gambar : Nu Online)
Ngaji Pasaran di Era Hadlaratussyekh KH Hasyim Asy’ari (Sumber Gambar : Nu Online)

Ngaji Pasaran di Era Hadlaratussyekh KH Hasyim Asy’ari

“Orang yang pernah melihat sendiri, cara Hadratussyaikh membaca Al-Bukhari mengatakan bahwa beliau sebenarnya telah hafal seluruh isi kitab ini. Seolah-olah sedang membaca kitab karangannya sendiri!” (Zuhri, 1974 : 152)

Aboebakar Atjeh dalam buku Sejarah Hidup KH. A. Wahid Hasyim (2015) mepaparkan sedikit gambaran suasana ngaji pasanan di Tebuireng kala Hadratussyaikh masih hidup. Menurut dia, pada zaman itu, lumrahnya di Bulan Ramadhan pesantren menjadi sepi, sebab para santri diliburkan untuk diberikan kesempatan pulang ke kampungnya masing-masing.

Haedar Nashir

Namun, sebaliknya di Tebuireng, suasana justru bertambah ramai, karena kedatangan oleh para santri yang ingin menghabiskan Ramadhan bersama sang guru tercinta.

“Ia (Hadratussyaikh, red) selama bulan puasa memberi kuliah istimewa mengenai ilmu hadist karangan Al-Bukhari dan Muslim. Kedua kitab hadist yang penting ini harus khatam dalam sebulan puasa itu dan oleh karena itu, jadilah bulan ini suatu bulan yang penting bagi kiai-kiai bekas muridnya di seluruh Jawa. Dalam bulan puasa, bekas murid-muridnya yang sudah memimpin pesantren di mana-mana, biasanya memerlukan datang tetirah ke Tebuireng, tidak saja untuk melanjutkan hubungan silaturahmi dengan gurunya, tetapi juga untuk mengikuti seluruh kuliah istimewa mengenai hadist Al-Bukhari dan Muslim guna mengambil berkah atau tabaruk,” (Atjeh, 105-106).

Pengajian tersebut biasanya diselenggarakan di pendopo masjid. Tempat ini dalam kesehariannya juga digunakan untuk mengajar para santri. Biasanya beliau mengajar bahkan sampai tengah malam. Sebagai tempat duduk, digunakan alas sepotong kasur yang ditutupi dengan sepotong tikar atau sepotong kulit biri-biri, dan di sampingnya terdapat sebuah bangku untuk meletakkan beberapa kitab.

Sampai sekarang, tradisi pengajian Kitab Shahih Al-Bukhari di Tebuireng pada bulan Ramadhan masih berjalan. Setelah Hadratusyaikh wafat, pengajian ini dilanjutkan oleh Kiai Idris Kamali dan Kiai Syamsuri, dan kemudian dilanjutkan Gus Ishom Hadzik. Sempat vakum beberapa tahun, akhirnya dari berbagai pertimbangan ditunjukklah Kiai Habib Ahmad, seorang alumni pondok Tebuireng, yang pernah mendapatkan ijazah kitab ini dari Kiai Syamsuri.? (Ajie Najmuddin)

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir

Haedar Nashir Berita, Internasional Haedar Nashir