Minggu, 06 Mei 2012

Inilah Doa KH Maimoen Zubair di Majelis Dzikir Hubbul Wathon

Jakarta, Haedar Nashir



Kiai sepuh NU, KH Maimoen Zubair berkenan berdoa pada penutup deklarasi dan halaqah alim ulama yang digelar Majelis Dzikir Hubbul Wathon di hotel Borobudur, Jakarta, Kamis malam (13/7). Setelah berdoa dengan menggunakan bahasa Arab, ia menggunakan bahasa Indonesia. Kemudian ditutup lagi dengan doa berbahasa Arab.?

Berikut doa pengasuh Pondok Pesantren Al-Anwar Sarang, Rembang Jawa Tengah itu:

Inilah Doa KH Maimoen Zubair di Majelis Dzikir Hubbul Wathon (Sumber Gambar : Nu Online)
Inilah Doa KH Maimoen Zubair di Majelis Dzikir Hubbul Wathon (Sumber Gambar : Nu Online)

Inilah Doa KH Maimoen Zubair di Majelis Dzikir Hubbul Wathon

Ya Allah, ya Rabbi, jadikanlah pertemuan kami ini adalah pertemuan yang penuh Kau rahmati sehingga benar-benar apa yang kita kumpul pada malam ini, malam ini, berkumpul untuk hubbul wathan minal iman, cinta kepada tanah air. Cinta kepada bangsa. Cinta kepada yang Kau berikan kepada kami nikmat yang besar ini, adalah negara Republik Indonesia, Negara Kesatuan yang berdasarkan Pancasila.?

Haedar Nashir

Ya Allah, ya Rabbi, kita mengetahui segala apa pun adalah menurut kehendak-Mu. Segala apa pun itu kudrat iradat-Mu. Kau menjadikan bangsa kami alhamdulillah menjadi bangsa yang benar-benar menjadi tuntunan setelah sudah runtuhnya khalifah-khalifah.?

Khalifah yang Kau berikan adalah empat. Sedangkan yang empat itu adalah satu hal, semuanya kita ketahui harus merujuk kepada yang empat. Kita mempunyai pilar yang empat, Pancasila, Bhineka Tunggal Ika, Negara Kesatuan Republik Indonesia, dan yang akhir Undang-Undang 1945.?

Haedar Nashir

Ya Allah, pilar empat ini, jadikanlah sebagai pilar Kau perintahkan kepada kami bahwa ketenteraman, kebahagiaan, kestabilan, segala apa kenikmatan, kembali kepada adalatul umara, kepada ilmul ulama, dan kepada syakhawatul aghniya, dan terakhir dua’ul fuqara. Fuqara yang Kau maksud adalah hamba-hamba-Mu, wali-wali-Mu, yang Kau tidak tolak doanya.?

Oleh karena itu, kita beristighfar kepada-Mu dan kemudian minta istighatsah kepada-Mu, kemudian wasilah kepada-Mu, nabi-nabi-Mu, wali-wali-Mu; kuatkanlah persatuan bangsa kami, persatuan bangsa kami ini sehingga mempunyai pilar empat sebagaimana yang Engkau firmankan bahwa awal kali Kau bina di bumi ini adalah mempunyai pilar empat yaitu ka’bah.

Pada Halaqah yang diinisiasi Rais ‘Aam PBNU KH Ma’ruf Amin itu dihadiri Presiden RI Joko Widodo, Wakil Rais ‘Aam PBNU KH Miftahul Akhyar, Ketua Umum PBNU KH Said Aqil Siroj dan sekitar 700 ulama. ? (Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Lomba, AlaSantri Haedar Nashir

Minggu, 29 April 2012

Ketum GP Ansor: Lindungi Anak-anak Kita Terlibat Aksi Teror

Jakarta, Haedar Nashir

Suasana kerukunan beragama di Indonesia kembali diuji. Ahad (28/8), Kota Medan dikagetkan dengan upaya teror berupa percobaan "bom bunuh diri" dengan pelaku seorang pemuda, IAH, berusia 17 tahun. Meskipun bom gagal meledak dan tidak ada korban jiwa, peristiwa ini patut dijadikan bahan pelajaran.

Ketua Umum Pimpinan Pusat Gerakan Pemuda Ansor, Yaqut Cholil Qoumas, dalam rilisnya, menyebutkan bahwa kini gerakan terorisme telah menyasar beragam usia. Gerakan ini telah berhasil merekrut anak-anak muda untuk dicuci otaknya, kemudian diproyeksikan menjadi "pengantin".

Ketum GP Ansor: Lindungi Anak-anak Kita Terlibat Aksi Teror (Sumber Gambar : Nu Online)
Ketum GP Ansor: Lindungi Anak-anak Kita Terlibat Aksi Teror (Sumber Gambar : Nu Online)

Ketum GP Ansor: Lindungi Anak-anak Kita Terlibat Aksi Teror

Lebih jauh Gus Yaqut, panggilan akrabnya, mengatakan, "GP Ansor mengutuk keras upaya bom bunuh diri ini. Juga mendorong kepolisian mengusut tuntas pihak-pihak yang terlibat dan yang memerintah IAH."

Haedar Nashir

Melihat realitas ini, lanjutnya, GP Ansor mengimbau kepada segenap elemen bangsa terutama ormas keagamaan untuk tidak menoleransi tumbuhnya benih-benih terorisme. Menurutnya, upaya bom bunuh diri di Medan secara jelas menunjukkan betapa kelompok-kelompok teror telah melebarkan sayapnya dengan merekrut anak-anak muda untuk dikorbankan.

“Oleh karena itulah, ormas harus menjadi pelindung bagi generasi muda. Dengan demikian, harus berperan pula sebagai benteng pertahanan yang melawan segenap upaya menumbuhkan benih-benih terorisme," tegas Ketua Umum PP GP ansor. (Mahbib)

Haedar Nashir

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Aswaja Haedar Nashir

Senin, 23 April 2012

Amar Makruf Nahi Munkar ala Polisi

Jepara, Haedar Nashir. Aparat kepolisian juga mempunyai tugas untuk beramar makruf nahi munkar. Hal itu dikemukakan Kasatlantas Polres Jepara, AKP Andhika Wiratama, saat mengisi materi Sosialisasi Keselamatan Berkendara di SMK Az Zahra Mlonggo Jepara, Senin (23/1) pagi. 

Amar Makruf Nahi Munkar ala Polisi (Sumber Gambar : Nu Online)
Amar Makruf Nahi Munkar ala Polisi (Sumber Gambar : Nu Online)

Amar Makruf Nahi Munkar ala Polisi

Amar makruf nahi munkar yang dilakukan aparat polisi kata dia, berkaitan dengan tertib lalu lintas. “Misalnya penilangan, pencegahan kecelakan dan penegakan berlalu lintas,” kata Andhika didampingi Briptu M. Lukmanul Khakim anggota Satlantas Polres Jepara serta Aiptu Antonius anggota Babinkamtibmas Polsek Mlonggo Jepara. 

Perintah kebaikan dan mencegah kemunkaran yang dilakukan pihaknya adalah sudah sesuai dengan UU. “Sehingga kami harus melaksanakannya. Jika kita membiarkan justru kami salah,” tegasnya kepada ratusan santri SMK Az Zahra. 

Ia berpesan sebagai pemuda harus memikirkan masa depan. “Dengan orang tua harus berbakti bukan malah membebani,” pesannya. 

Aturan yang dibuat oleh pemerintah tujuannya untuk ditaati. Kembali ke amar makruf, ia menyitir sebuah hadits yang berisi ketika melihat kemunkaran maka diingatkan dengan lisan, perbuatan dan selemah-lemahnya iman ialah dengan rasa keprihatinan. 

Haedar Nashir

“Jika kalian berangkat sekolah naik motor tidak pakai helm kami ingatkan, itu kan bagian dari amar makruf,” tegasnya. 

Andhika menambahkan berbuat baik memang banyak ujiannya. Misalnya, menjadi pelajar yang tertib lalu lintas malah dicemooh oleh teman yang lain. Padahal jika dikemudian hari mengalami kecalakaan itu adalah akibat dari tidak tertib. 

“Dengan tertib lalu lintas yang lain juga akan ikut tertib,” lanjutnya. 

Dengan tertib dalam segala hal, ia meyakini akan menuai sukses di masa yang akan datang. (Syaiful Mustaqim/Abdullah Alawi)

Haedar Nashir

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Budaya, Fragmen Haedar Nashir

Sabtu, 21 April 2012

Menteri Kominfo: Tabayun, Tabayun, Tabayun!

Jakarta, Haedar Nashir

Menteri Komunikasi dan Informatika Rudiantara mengingatkan agar prinsip tabayun (kejelasan) terhadap informasi yang diperoleh di dunia maya harus dikedepankan. Ia menekankan prinsip tersebut di tengah fenomena informasi yang lebih cenderung mementingkan kecepatan daripada ketepatan.

Menteri Kominfo: Tabayun, Tabayun, Tabayun! (Sumber Gambar : Nu Online)
Menteri Kominfo: Tabayun, Tabayun, Tabayun! (Sumber Gambar : Nu Online)

Menteri Kominfo: Tabayun, Tabayun, Tabayun!

"Saat ini pengguna medsos banyak ingin menjadi yang pertama memberikan informasi yang belum tentu valid. (Lakukan) nomor 1 tabayun, nomor 2 tabayun, nomor 3 tabayun. Jangan sampai jempol kita lebih cepat dari pikiran kita. Dicerna dulu informasi yang didapat," katanya pada Silaturahmi Nasional I yang dilaksanakan oleh Lembaga Pentashih Buku dan Konten Keislaman Majelis Ulama Indonesia (LPBKI-MUI) di Hotel Santika TMII Jakarta, Jumat (8/12).

Menteri Rudiantara menjelaskan, teknologi adalah sesuatu yang netral. (Hal) yang membuat teknologi menjadi hal positif ataupun negatif adalah penggunanya. Ia mengumpamakan teknologi seperti pisau yang bila digunakan di dapur untuk memasak maka akan bermanfaat. Dan sebaliknya jika digunakan untuk kejahatan maka akan membawa hal negatif.

Haedar Nashir

Dalam perkembangannya saat ini, pemerintah tidak menutup mata terhadap efek-efek negatif yang muncul dari perkembangan teknologi khususnya internet. Pemerintah terus berupaya meminimalisir konten-konten negatif dengan beberapa strategi diantaranya melalui pemblokiran media sosial ataupun website yang mengandung konten negatif.

"Delapan ratus ribu situs sudah diblok oleh pemerintah berdasarkan laporan masyarakat," terangnya di depan para stakeholders konten keislaman dari seluruh Indonesia.

Dalam mengambil kebijakan pemblokiran, lanjut Rudiantara, pihaknya selalu menggandeng stakeholders terkait termasuk para kiai dan ulama. Hal ini dilakukan agar dalam pelaksanaan kebijakan tidak menimbulkan gejolak yang dapat melahirkan efek-efek negatif.

Haedar Nashir

Peran ulama dinilai sangat penting dalam memberikan pedoman sekaligus mengarahkan umat dalam beraktivitas di dunia maya khususnya medsos. Sehingga muncullah fatwa No. 24 tahun 2017 tentang Hukum dan Pedoman Bermuamalah Melalui Media Sosial yang terus disosialisasikan oleh Kemenkominfo. (Muhammad Faizin/Kendi Setiawan).

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Makam Haedar Nashir

Minggu, 15 April 2012

Menakar Kualitas Takwa Pasca Ramadhan

Oleh Nasrulloh Afandi

Pasca Ramadhan hanya ada dua pilihan; beruntung atau buntung (dalam ketakwaan). Faktanya bermacam-macam kondisi ketakwaan orang-orang beriman selepas mengarungi “lautan mutiara” bernama bulan Ramadhan.

Menakar Kualitas Takwa Pasca Ramadhan (Sumber Gambar : Nu Online)
Menakar Kualitas Takwa Pasca Ramadhan (Sumber Gambar : Nu Online)

Menakar Kualitas Takwa Pasca Ramadhan

Esensi Ramadhan adalah momentum spesial “karantina suci” satu bulan penuh, menggembleng jiwa-jiwa yang beriman untuk menjadi lebih unggul, dan prestasi puncaknya yaitu menggapai “honoris causa” suci dari Allah swt berupa; takwa.

Haedar Nashir

Identiknya suatu karantina, berkualitas atau buruknya hasil tergantung pada kemauan dan keseriusan pribadi peserta. Pasca karantina bernama Ramadhan, tentu berbeda-beda hasilnya, dari masing-masing “peserta”, ada yang mendapatkan hasil maksimal, ada yang sederhana.



Untuk Apa Takwa Setelah Ramadhan?


Haedar Nashir

Ramadhan bukan momentum kesalehan musiman, kemudian “tidak perlu” saleh di bulan-bulan lainnya, dan hanya akan (kembali) beramal saleh pada Ramadhan tahun berikutnya.

Syekh Doktor Ali Jum’ah, mufti besar Mesir beropini: "Orang yang telah berada pada posisi benar-benar takwa, ia otomatis mendapatkan banyak keuntungan, bukan hanya dalam konteks beragama (ukhrawi) tetapi juga mendapatkan banyak kemudahan dan kesuksesan dalam hal duniawi."

Hal terpenting untuk diperhatikan dan dievaluasi adalah, apa yang dihasilkan setelah proses “karantina” selama satu bulan Ramadhan itu selesai? Bukan hanya dominan berlebihan gegap gempita, dalam aktivitas fisik saat “karantina” belaka, tanpa penghayatan mendalam, agar karantina (Ramadhan) yang dibayar mahal dengan “ongkos” haus dan dahaga selama sebulan itu, tidak sia-sia.

Idul Fitri adalah awal kembali suci, setelah segala noda, dosa, dan sifat-sifat tak terpuji dibersihkan dalam ruang karantina bernama Bulan Ramadhan. Oleh karenanya, sudah semestinya manusia menjaga kesucian tersebut setelah Ramadhan usai, ditandai dengan hari Raya Idul fitri, sampai dengan datangnya Ramadhan berikutnya.

Diharapkan setelah Ramadhan, takwa itu kemudian melekat pada kepribadian orang-orang beriman, yang secara estafet akan melahirkan hal-hal positif dan unsur-unsur kemanfaatan dalam kehidupan si muttaqin (orang bertakwa). Dan di konteks inilah titik temu puncak dari ibadah puasa Ramadhan dengan ibadah-ibadah lain seperti haji, zakat dan berbagai ibadah lainnya.

Ramadhan ladang mutiara bagi yang memfungsikan momentum itu sebaik-baiknya. Namun Ia bukan apa-apa bagi orang yang salah jalan dalam menelusurinya.

Sungguh kerugian besar Jika Pasca Karantina tidak menghasilkan hal-hal positif yang terkait dengan ketakwaan setelah Ramadhan berlalu. Kerugian tersebut bukan hanya karena dibayar dengan jerih payah haus-dahaga satu bulan penuh. Tetapi yang lebih harus ditangis-sesali adalah lewatnya peluang “Tambang mutiara” setahun sekali yang bernama bulan Ramadhan itu.

Ibarat kendaraan mewah, pasca Ramadhan, manusia adalah habis melakukan perbaikan total, atau “turun mesin”, sudah semestinya harus dijaga, agar jangan kembali rusak hanya dalam hitungan detik, setelah keluar dari “bengkel spesialis” bernama Ramadhan.

Dalam konteks menjaga kesucian Ramadhan setelah Idul Fitri. Waktu saya masih remaja, nasihat orang tua saya, dengan bahasa sederhana: “Janganlah panas setahun, sirna hanya diguyur hujan sesaat” . Maksudnya, janganlah kesucian pribadi muslim yang sudah dibersihkan, susah payah (selama bulan Ramadhan) itu kembali dikotori dengan kemaksiatan dalam sekejap, setelah Ramadhan berlalu.

Qaidah Fiqih pun berujar: “al-umuru bi maqashidiha” (status suatu amal perbuatan itu terganggun ikhlas dan tidaknya niat). Jadi, bila kemarin-kemarin saat menjalankan ibadah puasa Ramadhan tanpa menyertakan (niat) baik untuk meningkatkan religiusitas selepas Ramadhan, untuk apa jerih payah berpuasa?

Melacak Kontrol Takwa

Dalam tinjauan Maqashid Syariah, bukan hanya ibadah puasa Ramadhan, namun semua amal ibadah adalah tangga untuk menggapai posisi tertinggi dalam beragama; bernama takwa.

Selain Ramadhan yang hanya setahun sekali. Jika diselami, sebenarnya setiap orang beriman, estafet diberi “pengingat” dipandu untuk selalu ikhlas dalam beribadah, harus berniat murni hanya untuk mengharap ridha Allah swt, sehari semalam dalam salat lima kali. Yaitu di rakaat awal, sebelum membaca al-Fatihah, ketika membaca doa iftitah: “Inna shalatî wa nusukî wa mahyâyâ wa mamâtî lillâhi rabil a’lamin.” Artinya: “Sesungguhnya sembahyangku, ibadatku, hidupku dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan semesta alam." (QS Al-An’am: 162)

Di konteks ini, juga ada momentum mingguan. Hari raya Islam setiap minggu, yaitu setiap hari Jumat, orang-orang beriman dianjurkan melakukan introspeksi diri (muhasabah nafs) atas amal-perbuatannya selama satu minggu, banyak mana antara amal buruk dan amal baiknnya dalam seminggu itu? Untuk kemudian meningkatkan ketaatan beribadah, menggapai takwa.

Karena itulah, Sang khatib Jumat pun disyaratkan dalam berkutbah untuk berpesan kepada para jamaahnya; untuk selalu bertakwa kepada Allah swt. Bahkan tidak syah khutbahnya jika meninggalkan pesan untuk bertakwa.

Inilah dua momentum introspeksi diri, harian dan mingguan, untuk menjaga kontinuitas dan kualitas ketakwaan, namun sering terabaikan oleh Muslim yang taat sekalipun.

Mengapa Takwa Menghilang Pasca Ramadhan?

Takwa adalah “bahan pokok” untuk menciptakan peradaban Islami manusia. Karena dengan takwa otomatis menjadikan pribadi manusia terhormat. Mencampakkan hal-hal yang kurang patut menurut agama dan bertentangan dengan norma sosial berbangsa. Dengan kata lain, menjauhkan diri dari fenomena-fenomena jahiliyah (egois, rakus kekuasaan, sombong, gila hormat, haus menumpuk harta dan sejenisnya)

Dalam tinjauan maqashid syariah, jika selepas Ramadhan, tidak tertanamnya ketakwaan pada kepribadian manusia, dan kembali bermaksiat, berarti Ia tidak mendapatkan target utama kewajiban beribadah puasa(Takwa) Itu.

Kemana dan dimanakah hasil puasa Ramadhan yang bernama takwa itu “lari” atau “bersembunyi”? Jika mulai komunitas “akar bumi” sampai “atap langit” pasca Ramadhan, kerusakan akhlak kian kembali menjadi-jadi, korup (Para pemegang jabatan) dan pergaulan bebas (generasi muda) adalah fenomena yang paling mencolok di pentas publik. Bukankah mereka beragama (Islam) dan fisiknya pun berpuasa setiap Ramadhan?

Merespon fenomena itu, publik Muslim religius tidak perlu heran. Sungguh banyak orang yang berpuasa Ramadhan, tetapi mereka masih belum termasuk golongan orang bertakwa. Karena landasan ibadah cuman “fisik” atau “kulit” belaka. Jadi wajar saja ketika Ramadhan usai, tidak “Saleh” atau tidak “Takwa” lagi.

Dalam tinjauan Ilmu Balaghoh, gegap gempita “seremonial” ibadah Ramadhan di ruang publik Indonesia ini (masih) sebatas pendahuluan (muqaddimah) dan belum menghasilkan kesimpulan (natijah), yaitu kondisi takwa. Perlu adanya introspeksi dari masing-masing individu yang melaksanakan puasa dan berbagai ibadah di bulan Ramadhan, untuk bisa menggapai natijah (hasil ibadah) yaitu takwa.

Jika Nabi saw bersabda: “Berapa banyak orang yang berpuasa, namun tidak didapatkan dari puasanya itu kecuali lapar dan dahaga.”(HR Turmudzi). Fakta pun berbicara, berapa banyak selepas Ramadhan yang (kembali) korupsi? Berapa banyak wanita saat Ramadhan mendadak berbusana Islami—Pun dengan harga sangat mahal—tetapi (kembali) berpakaian mini selepas Idul Fitri? Dan berbagai fenomena lainnya yang (kembali) menabrak rambu-rambu Ilahi setelah Idul Fitri?

Waspadalah! Itulah fenomena skandal berpuasa tetapi masih belum berkualitas (takwanya) pasca Idul Fitri.



Penulis adalah Kandidat Doktor Maqashid Syariah, Universitas al-Qurawiyin Maroko. Wakil Ketua Yayasan Pesantren Asy-Syafi’iyyah, Kedungwungu, Krangkeng, Indramayu. ?



Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Amalan Haedar Nashir

Kamis, 05 April 2012

NU Banyuwangi Tegaskan Komitmen Organisasi dalam 72 Tahun Indonesia Merdeka

Banyuwangi, Haedar Nashir. Halal bihalal PCNU Banyuwangi yang diselenggarakan berdekatan dengan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-72 Republik Indonesia digunakan oleh warga NU Banyuwangi sebagai ajang siliturahmi sekaligus menegaskan Komitmen NU dalam mengawal NKRI.

Kegiatan tersebut bertempat di Pondok Pesantren Darul Falah, Bulurejo, Kecamatan Purwoharjo, Banyuwangi, Jawa Timur. Dalam kesempatan ini KH Masykur Ali, Ketua PCNU Banyuwangi kembali mengingatkan warga Nahdliyin Banyuwangi akan perjuangan Ulama NU dalam mendirikan Negara Kesatuan Republik Indonesia.

NU Banyuwangi Tegaskan Komitmen Organisasi dalam 72 Tahun Indonesia Merdeka (Sumber Gambar : Nu Online)
NU Banyuwangi Tegaskan Komitmen Organisasi dalam 72 Tahun Indonesia Merdeka (Sumber Gambar : Nu Online)

NU Banyuwangi Tegaskan Komitmen Organisasi dalam 72 Tahun Indonesia Merdeka

“Sebelum NU lahir, sebelum Indonesia merdeka, ulama pesantren sudah melakukan lompatan yang sangat cerdas. Mulai zaman penjajahan hingga kemerdekaan. Kiai NU yang dianggap kolot, melakukan trobosan brilian dengan mendirikan Tashwirul Afkar sebagai solusi akan kebuntuan pendidikan, ? untuk memperkuat ekonomi masyarakat, Ulama NU juga mendirikan Nahdlatut Tujjar sebagai benteng ekonmi masyarakat melawan monopoli VOC,” tegas Kiai Masykur.

Dalam sambutanya, dia juga menjelaskan mengenai peranan NU secara organisatoris dalam upaya perumusan Dasar Negara. Pada Tahun 1936 sebelum Indonesia merdeka NU telah berdiri. Dalam Mukatmar Banjarmasin telah merumuskan bentuk Negara Darussalam (Negara Damai) bukan Negara Islam.

Bukan hanya itu, Kiai Masykur juga menjelaskan soal peranan strategis NU dalam perjuangan fisik mempertahankan kemerdekaan. Merespon kedatangan sekutu yang hendak kembali merebut kemerdekaan, Ulama NU mengeluarkan resolusi jihad Nahdlatul Ulama 22 oktober 1945 yang menjadi embrio pertemupuran dahsyat 10 November 1945 di surabaya.

Haedar Nashir

Di akhir sambutanya Kiai Masykur juga menyinggung isu Nasional terkait pembubaran HTI. Di era saat ini, ketika Indonesia didera isu Radikalisme yang berujung pada perongrongan ideologi Pancasila, NU berada di garda depan dalam mempertahankan pancasila sebagai kesepakatan pendiri bangsa.

Haedar Nashir

“Jika NU mendukung pembuaran HTI bukan karena NU dekat pemerintah. Tapi ini merupakan Komitmen Kebangsaan yang telah disepakati oleh para Ulama pendiri Bangsa. Kebacuut jika pengurus NU malah ikut HTI,” tegas Kyai Masykur dengan suara lantang. (Anang Lukman Afandi/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Internasional, Cerita, AlaSantri Haedar Nashir

Minggu, 01 April 2012

Ayo Nonton Pentas Barzanji di TIM

Jakarta, Haedar Nashir. Drama Kalung Permata Barzanji karya WS Rendra akan dipentaskan sekitar 50 santri dari 9 pondok pesantren di Babakan Ciwaringin, Cirebon, Jawa Barat, di Graha Bakti Budaya Taman Ismail Marzuki (TIM), Jakarta, Jumat malam (7/2) pukul 20.00.

Panitia pementasan, Jamaludin Mohammad mengatakan, sebelumnya drama itu dipentaskan juga oleh para santri itu di Pondok Kebon Jambu, Cirebon. Pementasan itu, kata Jamal, ditonton ribuan orang.

Ayo Nonton Pentas Barzanji di TIM (Sumber Gambar : Nu Online)
Ayo Nonton Pentas Barzanji di TIM (Sumber Gambar : Nu Online)

Ayo Nonton Pentas Barzanji di TIM

Waktu di Tegal, tambah Jamal, ketika dipentaskan siang pukul 15.00 gedung teater dengan kapasitas 1500-an terisi penuh. “Malamnya, pukul 20.00 dihadiri Ki Entus (Bupati Tegal) dan Wamen Kemendikbud, gedung pementasan juga penuh,” katanya melalui pes rilis kepada Haedar Nashir, Jumat (7/2).

Haedar Nashir

Menurut Jamal yang juga pegiat Komunitas Seniman Santri (KSS) Cirebon ini, pementasan yang diadaptasi dari syair-syair puitis Sayid Jafar al-Barzanji disutradarai Ken Zuraida, istri WS Rendra.

Ken Zuraida, selepas pementasan di Kebon Jambu (29/2) kepada Haedar Nashir mengaku ada kebanggaan tersendiri mementaskan teater di tengah para santri dan dilakukan oleh mereka sendiri.

Ia menambahkan, gagasan pementasan teater Kalung Permata Barzanji bermula dari niatnya merevitalisasi Barzanji sebagai salah satu seni sastra yang berpuluh tahun akrab dengan kehidupan masyarakat Indonesia.

Haedar Nashir

Selain dilestarikan, sambung perempuan yang akarab disapa Mbak Ida ini, Barzanji sudah saatnya lebih dinikmati publik luas, bukan hanya kalangan pesantren.

"Selawat, melalui lantunan Barzanji itu bisa mencerahkan langit, juga bumi. Maka, tradisi ini penting untuk dipertahankan dan dikenalkan kepada masyarakat luas," katanya.

Pementasan akan berlansung tangaal 7 dan 8 Februari 2014 tiap 20.00 WIB. HTM: Balkon 50rbu Kursi bawah 100 rbu, VIP 250rbu, CP: Alice 0852 2377 3456. Informasi pemesanan tiket juga bisa melalui: TIM (021) 3193 7325 / 3193 7357 Untung: 9735 9735, Hemma 0857 1935 1935. (Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Halaqoh, Warta, Kajian Haedar Nashir