Jumat, 26 Oktober 2012

Semarak Maulid dari Kampung

Jepara, Haedar Nashir. Bait-bait shalawat dilantunkan Suwandi, pemimpin jalannya mauludan. Lalu jamaah menirukan persis seperti yang ia lantunkan.

Semarak Maulid dari Kampung (Sumber Gambar : Nu Online)
Semarak Maulid dari Kampung (Sumber Gambar : Nu Online)

Semarak Maulid dari Kampung

Ya Rabbi shalli ala Muhammad

Ya Rabbi shalli ala Muhammad

Ya Rabbi shalli alaihi wasallim

Haedar Nashir

Ya Rabbi alaihi wasallim

Haedar Nashir

Begitulah semarak peringatan maulid Nabi yang dilakukan di musholla Baitur Rohman desa Margoyoso kecamatan Kalinyamatan mulai Sabtu malam (12/1) hingga 12 hari kedepan. Tidak hanya di musholla, langgar, masjid, majlis taklim dan pesantren melakukan hal serupa. Waktunya bisa siang hari, sehabis maghrib maupun setelah isyak. 

Adapun yang mereka baca adalah shalawat nabi sekaligus maulid al-barjanzi, ad-dibai, simtuth durar dan lain sebagainya. Bagi kelompok yang memiliki alat musik rebana kemeriahan 12 hari mauludan semakin membahana. 

Kiai Khoirul Kamal mewakili nadhir musholla mengungkapkan kegiatan mauludan yang dilaksanakan selama 12 hari di bulan Rabiul Awwal merupakan agenda untuk merayakan kelahiran Nabi Muhammad SAW. “Siapa orangnya yang mengagungkan datangnya maulid nabi kelak akan disyafaati oleh kanjeng Nabi,” jelas Kamal sembari mengutip hadits. 

Kegiatan diawali dengan pembacaan shalawat, maulid, mahallul qiyam dan doa. Setelah itu jamaah diberi jadah, penganan yang dibawa oleh jamaah.

“Di musholla kami yang membawa penganan dibagi setiap malam ada 5 orang plus 2 orang yang membawa teko isi minuman. Itu kami lakukan agar penganan bisa dibagi rata untuk semua jamaah,” papar H Sururil Anwar, sekretaris Musholla. 

Redaktur    : A. Khoirul Anam

Kontributor: Syaiful Mustaqim

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Humor Islam Haedar Nashir

Minggu, 21 Oktober 2012

Tingkatkan Kesejahteraan, NU Jatim Gelar Bazar Nusantara

Surabaya, Haedar Nashir. Lembaga Perekonomian Nahdlatul Ulama (LPNU) Jawa Timur baru pertama kali ini mengadakan bazar di bulan Ramadhan. Bazar yang digelar di utara gedung PWNU Jatim, Jalan Masjid Al-Akbar Timur No 9 Surabaya, itu diberi nama “Bazar Nusantara”.

Tingkatkan Kesejahteraan, NU Jatim Gelar Bazar Nusantara (Sumber Gambar : Nu Online)
Tingkatkan Kesejahteraan, NU Jatim Gelar Bazar Nusantara (Sumber Gambar : Nu Online)

Tingkatkan Kesejahteraan, NU Jatim Gelar Bazar Nusantara

Ketua Tanfidziyah PWNU Jatim KH M Hasan Mutawakkil Alallah yang membuka resmi kegiatan tersebut, Rabu (24/6), memberikan apresiasi terobosan lembaga pimpinan H Arif Afandi itu. "Semoga ini bukan yang pertama dan terakhir," kata Kiai Mutawakkil, sapaan akrabnya.

Dengan menggunakan sistem ekonomi ritel (eceran) LPNU diharapkan bisa melangkah lebih jauh dalam misi memperkuat ekonomi masyarakat bawah. "Ritel LPNU kami menyakini mampu menciptakan (kesejahteraan) ekonomi masyarakat bawah," tambahnya.

Haedar Nashir

Kiai Mutawakkil berharap, momentum Ramadhan ini bisa dimanfaatkan dengan sebaik-baiknya. Menurutnya, Ramadhan adalah satu-satunya bulan dengan perputaran ekonomi yang begitu cepat. Ia menilai langkah LPNU mengadakan Bazar Nusantara sudah tepat, di samping sekaligus untuk menyemarakkan suasana menjelang Muktamar Ke-33 NU di Jombang Agustus mendatang.

Haedar Nashir

Ke depan bangsa Indonesia akan menghadapi perekonomian global. Di akhir tahun ini, Indonesia memasuki masa perekonomian Asean, di mana impor dan ekspor terbuka lebar. Kalau tidak dihadapi dengan persiapan yang matang, perekonomian Indonesia akan turun dan warga NU yang pertama akan merasakan dampaknya.

"Untuk itu, melalui bazar ini dijadikan pintu masuk perekonomian global dan menghadapi MEA," jelas Kiai Mutakkil. (Rofii Boenawi/Mahbib)

?

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Pahlawan, Aswaja, Budaya Haedar Nashir

RSI Siti Hajar dan LKNU Jatim Kerahkan 250 Tim Medis di Istighotsah Kubro

Sidoarjo, Haedar Nashir. Rumah Sakit Islam (RSI) Siti Hajar Sidoarjo bekerja sama dengan Lembaga Kesehatan Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (LK PWNU) Jawa Timur akan mengerahkan sedikitnya ? 250 personil tim medis pada acara istighotsah kubro PWNU Jawa Timur, di Gelora Delta Sidoarjo, Ahad (9/4) mendatang.

RSI Siti Hajar dan LKNU Jatim Kerahkan 250 Tim Medis di Istighotsah Kubro (Sumber Gambar : Nu Online)
RSI Siti Hajar dan LKNU Jatim Kerahkan 250 Tim Medis di Istighotsah Kubro (Sumber Gambar : Nu Online)

RSI Siti Hajar dan LKNU Jatim Kerahkan 250 Tim Medis di Istighotsah Kubro

Kepala marketing RSI Siti Hajar Sidoarjo, Riza Ahmadi menjelaskan, dari Siti Hajar Sidoarjo sendiri mengeluarkan 2 tim kesehatan. Tim kesehatan ini akan ditempatkan disebelah panggung utama dan mobil keliling (kesehatan). Masing-masing pos RSI ada timkes, 1 ambulance dan driver, ? 2 perawat serta ? 1 dokter.

"Untuk satu mobil ini diseediakan barangakali ada yang perlu dirujuk ke Rumah Sakit. Tim kesehatan tersebut hasil koordinasi dengan LK PWNU Jawa Timur, selaku lembaga NU yang ? membidangi kesehatan," kata Riza, Kamis (6/4).

Riza mengungkapkan, 250 personil itu di antaranya 10 RS anggota Arsinu (asosiasi Rumah Sakit Nahdlatul Ulama) Jawa Timur, 3 perguruan tinggi kesehatan, 11 ambulans, 50 dokter, 100 para medis dan 100 relawan medis.

Haedar Nashir

Lebih lanjut Riza mengatakan, ada 9 pos kesehatan yang akan ditugaskan di Gelora Delta Sidoarjo, di antaranya pos kesehatan (poskes) RSI Siti Hajar Sidoarjo selaku poskes komando, RS Syuhada Haji Blitar, RSI Unisma Malang dan Rumah Sehat Baznas, RSI Jemursari Surabaya, RSNU Lamongan, RSI Darus Syifa Surabaya, RSNU Jombang dan RSI Sakinah Mojokerto.

Setiap poskes diperkuat 2 mahasiswa fakultas, 2 relawan, 1 Banser. Setiap poskes menyiapkan, 1 ambulance, 1 dokter, 2 paramedis, obat-obatan emergency dan obat-obatan ringan lainnya serta o2 tabung, 1 tenda, bed lipat, ht (handy talky), 1 spanduk posko kesehatan, 2 x-banner, 1 meja dan 3 kursi (akan disiapkan oleh panitia lokal), konsumsi untuk tim medis dan pasien.?

“Untuk timkes yang berada di dalam Gor (poskes 1, poskes 2 dan poskes 3). Ambulance stand by diluar Gor dan disiapkan 20 tandu yang akan dibawa oleh mahasiswa fakultas dan relawan," pungkasnya. (Moh Kholidun/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir

Haedar Nashir Kiai, Kajian Sunnah, Hikmah Haedar Nashir

Minggu, 07 Oktober 2012

Bekali Generasi Muda, PCNU Banda Aceh Gelar Pelatihan Itiqad 50

Banda Aceh, Haedar Nashir - Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Kota Banda Aceh bekerja sama dengan Dinas Syariat Islam Kota Banda Aceh menggelar pelatihan itiqad 50 di aula gedung LPTQ Kadis Syariat Islam Provinsi Aceh, Rabu (23/11). Kedua lembaga ini mencoba melibatkan kalangan muda dalam rangka menguatkan akidah Aswaja.

Kegiatan ini dihadiri oleh perwakilan Kadis Syariat Islam Aceh, Dispora Aceh, unsur PWNU Aceh, PCNU, Fatayat, banom, lembaga dan beberapa perwakilan dari badan eksekutif mahasiswa se-Kota Banda Aceh.

Bekali Generasi Muda, PCNU Banda Aceh Gelar Pelatihan Itiqad 50 (Sumber Gambar : Nu Online)
Bekali Generasi Muda, PCNU Banda Aceh Gelar Pelatihan Itiqad 50 (Sumber Gambar : Nu Online)

Bekali Generasi Muda, PCNU Banda Aceh Gelar Pelatihan Itiqad 50

Ketua PCNU Kota Banda Aceh Tgk Rusli Daud mengajak seluruh elemen pemerintah khususnya dan masyarakat Kota Banda Aceh pada umumnya untuk melakukan even-even yang dapat menjadikan generasi muda Kota Banda Aceh sebagai generasi yang diprioritaskan dan dapat dibanggakan para pendahulunya.

"Mengingat fenomena dan paradigma yang terjadi, baik secara nasional maupun secara internasional peradaban dekadensi moral sudah merajalela. Adanya isu terorisme dan gerakan-gerakan yang sangat tidak sesuai dengan wajah Islam yang rahmatan lil alamin. Semua itu dikarenakan dekadensi moral, bobroknya akhlak mereka, lebih-lebih akhlak secara jiwa mereka," kata Tgk Rusli Daud dalam acara yang berlangsung selama sehari penuh.

Haedar Nashir

Acara yang melibatkan pelajar, mahasiswa, dan siswa se Kota Banda Aceh ini diharapkan menjadi pencerahan dan menjadi bukti bahwa mempelajari, mengetahui, dan mengaplikasikan itiqad/aqa’id 50 sangat penting. Hal ini dimaksudkan agar akidah dapat membimbing manusia ke jalan yang benar, sekaligus mendorong mereka untuk mengerjakan ibadah dengan penuh keikhlasan. (Fauzi E/Alhafiz K)

Haedar Nashir

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Olahraga Haedar Nashir

Kamis, 27 September 2012

‘Kembalikan’ Bedug ke Masjid!

Subang, Haedar Nashir. Dalam rangka memeriahkan bulan suci Ramadhan sekaligus menyambut Idul Fitri, Masjid Besar Baiturrohman yang berlokasi di Kecamatan Purwadadi, Kabupaten Subang setiap menjelang idul fitri rutin menggelar kegiatan lomba bedug. Tahun ini kegiatan  digelar pada Senin (5/8) malam.

Demikian disampaikan KH. Agus Syarifudin, Ketua DKM Masjid Besar Baiturrohman Kecamatan Purwadadi dalam sambutannya di acara babak final lomba bedug yang diikuti oleh 10 peserta/kelompok terbaik dari 21 peserta yang sudah diseleksi dalam babak penyisihan pada 2 malam sebelumnya.

‘Kembalikan’ Bedug ke Masjid! (Sumber Gambar : Nu Online)
‘Kembalikan’ Bedug ke Masjid! (Sumber Gambar : Nu Online)

‘Kembalikan’ Bedug ke Masjid!

Menurut Haji Agus, demikian ia biasa disapa, salah satu motivasi Masjid Besar Baiturrohman menggelar lomba bedug ini adalah untuk ‘mengembalikan’ bedug ke masjid, sebab sejak bedug ‘diusir’ oleh kelompok yang tidak menyukai keberadaan bedug di masjid, bedug dijadikan sebagai sebuah kesenian Tardug (gitar dan bedug), tardug tersebut sudah berkembang di Kabupaten Subang.

Haedar Nashir

“Kegiatan ini sudah 15 tahun, sejak 1998, dulu bedugnya cuma satu, terus berkembang dan berkembang, ini sebagai upaya untuk mengembalikan bedug ke masjid, mengingatkan kepada masyarakat bahwa tempatnya bedug ini ya di masjid, bukan dimana-mana,” ungkap Wakil Ketua PCNU Subang itu.

Haedar Nashir

Sebab, lanjut Haji Agus, semakin ke sini bedug yang seharusnya mengingatkan shalat dan dzikir kepada Allah, setelah bedug itu ‘diusir’ oleh orang yang membid`ahkan bedug, akhirnya ahli seni memanfaatkan bedug yang ‘diusir’  itu menjadi kesenian tardug, dipakai nyanyi-nyanyi, joged dan lain sebagainya, seharusnya bedug itu dipakai untuk mengingatkan shalat dan dzikir, tardug ini dipakai sebaliknya.

Dalam kegiatan yang memperebutkan total hadiah sebesar 5 juta rupiah tersebut berlangsung meriah, ribuan orang tampak memadati Masjid untuk dapat melihat para peserta lomba dari jarak dekat, menurut Haji Agus, para hadirin ini sengaja dibawa oleh para peserta untuk memberikan doa dan dukungan kepada mereka agar dapat menjadi juara dalam lomba yang disponsori oleh para jamaah masjid dan perusahaan rokok tersebut.

Selain dihadiri oleh para peserta dan supporter, tampak juga KH Musyfiq Amrullah, Ketua PCNU Subang yang memimpin doa pembukaan kegiatan, serta para pejabat daerah, mulai dari Kepala Desa se-kecamatan Purwadadi, Camat Purwadadi dan Bupati Subang, H. Ojang Sohandi.

Redaktur     : A. Khoirul Anam

Kontributor : Aiz Luthfi

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Meme Islam, Kiai Haedar Nashir

Senin, 17 September 2012

Puasa Kiai Wahid untuk Indonesia

Oleh Ayung Notonegoro



Salah satu tokoh NU yang paling fenomenal sepanjang sejarah adalah KH Abdul Wahid Hasyim. Putra Hadratusysyekh KH Hasyim Asyari tersebut, tak hanya menjadi tokoh NU yang militan, tapi juga cerdas dan berintegritas. Perjuangannya tak hanya untuk NU semata, tapi juga untuk bangsa Indonesia. Maka, ketika kecelakaan mobil pada 19 April 1954 itu, merenggut nyawa Menteri Agama pertama Republik ini, menyebabkan luka mendalam bagi bangsa Indonesia. Lebih-lebih bagi warga NU. 

Puasa Kiai Wahid untuk Indonesia (Sumber Gambar : Nu Online)
Puasa Kiai Wahid untuk Indonesia (Sumber Gambar : Nu Online)

Puasa Kiai Wahid untuk Indonesia

Dalam Muktamar ke-20 NU di Surabaya, lima bulan setelah kejadian tragis tersebut, rasa kehilangan masih tampak jelas di wajah orang-orang NU. Saat sambutan, Rais Aam PBNU  KH Wahab Chasbullah, mengungkapkan rasa kehilangan yang teramat. 

"Ada kejadian yang sebaiknya kita peringati, sekalipun sangat berat tekanan dan akibatnya dalam hati dan jiwa kita, ialah kejadian yang sangat mengerikan, kejadian wafatnya Saudara Yang Mulia Kiai Haji Abdul Wahid Hasyim, dengan cara yang sangat mengejutkan, akibat dari suatu kecelakaan yang tiada orang dapat mencampurinya. Tiada orang yang mampu berhadapan dengan qodar kepastian yang datang dari langit," ungkap Kiai Wahab. 

Haedar Nashir

Meski demikian, Kiai Wahab tak lantas menyeret Nahdliyin terus-menerus bersedih. Ia menguatkan, bahwa kematian adalah sesuatu yang pasti. "Dahulu, ada seorang ahli syair berkata: Barangsiapa yang tidak mati karena pedang atau senjata lain dalam pertempuran, maka orang itu akan mati juga dengan sebab lain. Bermacam-macam sebab yang mendatangkan kematian, tetapi kematian itu satu," ungkapnya. 

Kemudian ia mengajak para muktamirin yang datang dari seluruh penjuru Nusantara tersebut, untuk meneladani sikap dan perjuangan Kiai Wahid. Perjuangan yang tidak hanya sebatas perjuangan fisik dan pikiran saja, tapi juga dilengkapi dengan perjuangan batiniyah. 

Haedar Nashir

Perjuangan fisik dan pemikiran Kiai Wahid sudah banyak tulisan dan buku yang mengupasnya. Bagaimana kiprahnya di masa penjajahan Belanda, pendudukan Jepang, mempersiapkan kemerdekaan dan lebih-lebih di masa perang mempertahankan kemerdekaan. Akan tetapi, tak banyak yang mengupas tentang perjuangan batiniyahnya Kiai Wahid untuk bangsa Indonesia. 

Dalam konteks batiniyah tersebut, salah seorang penyusun Piagam Jakarta itu, memperjuangkan Indonesia dengan bertirakat. Sebagai umat Islam, Kiai Wahid percaya, bahwa segenap ikhtiar harus senantiasa diiringi dengan doa. Dan, doa yang paling ijabah harus disertai dengan laku tirakat. 

Tirakat yang dilakukan anggota Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia (PPKI) itu, adalah puasa dahr, yaitu puasa yang dilakukan sepanjang tahun. Kecuali pada hari-hari yang diharamkan, seperti dua hari raya dan hari tasyrik. Kiai Wahid berjanji pada dirinya sendiri, sebagai permohonan kepada Allah SWT, agar bangsa Indonesia dianugerahi kemerdekaan yang sesungguhnya, terlepas dari pelbagai belenggu, berdaulat sepenuhnya dan diberikan kedamaian dan kesejahteraan. 

Biasanya, ia akan memulai puasa yang cukup panjang dalam situasi-situasi yang genting. Seperti halnya saat terjadi Agresi Militer Kedua Belanda. Saat itu, Belanda bersama pasukan Sekutu mampu menguasai ibu kota Indonesia yang pada saat itu bertempat di Yogyakarta. Sejak kejadian yang berlangsung pada 19 Desember 1948 itulah, Kiai Wahid memulai puasanya. 

Saban hari Kiai Wahid berpuasa hingga ajal menjemputnya saat usianya masih belum genap 40 tahun. Terhitung sejak awal, Kiai Wahid telah berpuasa selama 1500 hari lebih. Sungguh perjuangan yang tak mudah di tengah aktivitas yang menguras tenaga dan pikiran.

Sebenarnya, puasa yang dilakukan di atas bukanlah yang pertama kalinya. Sepanjang hidupnya, Kiai Wahid kerap kali berpuasa sunnah. Sebagaimana diceritakan oleh KH. Saifuddin Zuhri, junior sekaligus kolega perjuangannya, dalam Authorized KH Saifudin Zuhri: Berangkat dari Pesantren.

Pada medio 1942, terjadi peristiwa besar dalam sejarah bangsa Indonesia. Belanda telah terusir dan digantikan oleh Jepang. Tak membawa kebaikan sebagaimana yang dijanjikan, pasukan Dai Nippon tersebut, justru menunjukkan kebengisannya. Seorang tokoh panutan umat Islam di Indonesia, Hadratussyekh Hasyim Asyari ditangkap oleh Jepang.

Tentu saja ini menjadi keguncangan bagi Nahdlatul Ulama karena Kiai Hasyim merupakan sosok sentral di organisasi yang memuliakan para ulama tersebut. Lebih-lebih kepada Kiai Wahid. Selain karena pemimpinnya di NU, Kiai Hasyim juga merupakan ayah kandungnya.

Menghadapi situasi ini, Kiai Wahid tidak hanya mengambil alih tanggung jawab peran-peran ayahandanya dan berupaya membebaskannya, tapi juga mengimbanginya dengan berpuasa. Hingga pada suatu hari, di saat terik matahari begitu menyengat, Kiai Wahid sedang melakukan kunjungan kerja di Sokaraja, Jawa Tengah.

Di kampung halaman Kiai Saifuddin Zuhri tersebut, ia ditawari minum oleh tuan rumah. Namun, dengan sigap Kiai Wahid menolaknya.

“Nanti dulu, sabarlah,” tukasnya seraya memandang Kiai Saifuddin yang sedang minum.

“Berpuasa pada hari yang begini panas? Orang musafir kan dapat rukhsoh?” Goda Kiai Saifuddin yang sebenarnya tahu kalau tamunya tersebut, telah berpuasa sejak beberapa minggu yang lalu.

Di luar dugaan, Kiai Wahab menjawabnya dengan cukup mantap dan layak direnungkan bagi kita semua.





“Laqod shumtu li yaumin huwa aharru minhu,” jawabnya.

Saya berpuasa untuk meningkatkan suatu hari yang lebih panas ketimbang hari ini, yaitu di padang mahsyar kelak!!!

Penulis aktif di Komunitas Pegon yang mengulik hal ihwal pesantren dan NU. Bisa ditemui di akun facebooknya: Ayunk Notonegoro

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Cerita, Ahlussunnah Haedar Nashir

Kamis, 13 September 2012

Keprihatinan Sayidina Utsman saat Umat Tinggalkan Khutbah Nabi

Kudus, Haedar Nashir. Pernah suatu ketika Sayidina Utsman bin Affan merasa malu kepada Nabi Muhammad. Perasaan malu itu justru membuat Sayyidina Utsman memborong seluruh barang dagangan yang dilelang pedagang dari Syam. Kisah ini disampaikan oleh KH Sya’roni Achmadi pada Pengajian Tafsir Al-Qur’an di Masjid Al-Aqsho Menara, Kudus, Kamis (15/6).

“Ceritanya, dulu ketika waktu sholat Jumat dimulai rombongan pedagang dari Syam datang. Itu menyebabkan mayoritas umat Islam lari dan memilih ikut lelang dagangan daripada khutbah Nabi Muhammad SAW,” tutur Kiai Sya’roni mengawali cerita.

Keprihatinan Sayidina Utsman saat Umat Tinggalkan Khutbah Nabi (Sumber Gambar : Nu Online)
Keprihatinan Sayidina Utsman saat Umat Tinggalkan Khutbah Nabi (Sumber Gambar : Nu Online)

Keprihatinan Sayidina Utsman saat Umat Tinggalkan Khutbah Nabi

Akibatnya, jamaah atau sahabat yang ikut khotbah dan sholat jumat tinggal 12 orang. Seketika itu Sayyidina Utsman merasa malu karena umat lebih memilih dagangan daripada khutbah Nabi.

“Dalam kondisi seperti itu, Sayyidina Utsman langsung ikut lelang dan menawar dengan harga tertinggi,” lanjut Kiai Sya’roni.

KH Sya’roni menjelaskan setiap harga yang ditawarkan pedagang dan disetujui sahabat lain ditawar lebih oleh Sayyidina Utsman. Misalkan harga kain 10 juta Sayyidina Utsman berani membeli 11 juta.

Haedar Nashir

“Kemudian sampai pada harga tertinggi akhirnya Sayyidina Utsman menang lelang. Seluruh barang dagangan terbeli oleh Sayyidina Utsman,” katanya.

Selanjutnya, semua sahabat yang kalah lelang itu meminta agar Sayyidina Utsman mau menjual beberapa kepada para sahabat yang tidak mendapat barang dagangan. Permintaan itu dituruti dengan syarat mau membeli sepuluh kali lipat dari harga belinya.

Sahabat-sahabat yang meminta itu semua tidak berani membelinya. Lalu Sayyidina Utsman bilang jika mau dijual sendiri. Namun, yang terjadi Sayyidina Utsman justru memanggil para fakir miskin dan membagikan barang yang dibeli itu kepada mereka.

Haedar Nashir

“Kok malah ngundang fakir miskin? Oo, dijual kepada Gusti Allah,” ujar Mbah Sya’roni seolah-olah menirukan kata sahabat.

Setelah membagikan itu Sayyidina Utsman berkata kepada sahabat yang tadi ikut lelang. “Memalukan, hanya karena barang dagangan kalian sampai tega meninggalkan khotbah Nabi Muhammad,” kata Mbah Sya’roni menirukan dalam bahasa Jawa.

Pasca kejadian itu setiap waktu sholat jumat tiba para sahabat tidak ada yang berani meninggalkan Khotbah Nabi Muhammad lagi. Kisah ini disampaikan sebagai penjelasan hadits Ana khodimul khaya’ wa Utsman babuha. Artinya Saya (Nabi Muhammad) adalah gudangnya perasaan malu dan Utsman adalah pintunya.

Kisah ini sekaligus menjadi dasar ijtihad madzhab Imam Syafi’i dalam qoul qodim bahwa batas minimal jumlah jamaah sholat jumat adalah 12 orang. Begitu juga menurut madzhab Malikiyah. Namun hukum itu oleh Imam Syafi’I dalam qoul jadid berubah menjadi 40 orang minimal.

“Keterangan Qoul Qodim maksudnya adalah ucapan Imam Syafi’i sebelum memasuki daerah Mesir. Sedangkan Qoul Jadid adalah setelah Imam Syafi’I masuk daerah Mesir. Masing-masing beda hukumnya,” terang Mbah Sya’roni. (M. Farid/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Quote Haedar Nashir