Selasa, 18 November 2014

PCNU Pamekasan: Ulama Sunni Tercoreng

Pamekasan, Haedar Nashir. Kerusuhan yang merenggut nyawa dan korban materi Sampang menjadikan umat Islam beraliran Sunni tercoreng. Pasalnya, tak sedikit media massa yang memberitakan bahwa kejadian biadab tersebut diaktori oleh kelompok Sunni. 

“Bukan beraliran Sunni. Sekalipun kelompok yang bertindak di luar ajaran Islam tersebut mengaku beraliran Sunni, itu tak benar. Hanya oknum belaka. Sebab, aliran Sunni melarang keras setiap tindak kekerasan berbaju agama,” tegas Ketua PCNU Pamekasan KH Abd Ghoffar saat dihubungi Haedar Nashir kemarin (27/8).

PCNU Pamekasan: Ulama Sunni Tercoreng (Sumber Gambar : Nu Online)
PCNU Pamekasan: Ulama Sunni Tercoreng (Sumber Gambar : Nu Online)

PCNU Pamekasan: Ulama Sunni Tercoreng

Koordinator Forum Ormas Islam Pamekasan ini mensinyalir kuat, pasti terdapat pihak ketiga yang berupaya memantik kembali kerusuhan tersebut. Sebab, sebagaimana diketahui, kasus penindasan terhadap kaum Syiah di Sampang sudah lama bergulir.

Karena itu, pengasuh Pondok Pesantren Riyadus Sholihin, Pamekasan ini sangat menyayangkan manakala pihak berwajib kemudian tidak bekerja ekstra mengusut kasus tersebut.

Haedar Nashir

“Polisi harus tanggap apa motifnya, siapa saja yang terlibat di dalamnya, serta proses investigasi mesti jujur,” pungkasnya. 

 

Haedar Nashir

Redaktur    : Hamzah Sahal

Kontributor  : Hairul Anam

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Ulama, Pahlawan Haedar Nashir

Sabtu, 15 November 2014

Tentang Makan dan Kebersahajaan Rasulullah

Pribadi Rasulullah SAW itu sederhana. Beliau dan para sahabatnya selalu hidup dalam keterbatasan, tapi mereka tetap teguh dalam barisan tauhid walaupun dalam keadaan sangat lapar.

    

Keserderhanaan pribadi Rasulullah SAW dan para sahabat dikisahkan oleh Abu Hurairah,”Demi Allah, yang tidak ada sekutu bagi-Nya, (terkadang) aku tidur di atas tanah dengan perut lapar, dan (terkadang) aku ikatkan sebuah batu ke perutku untuk menahan lapar.”

Tentang Makan dan Kebersahajaan Rasulullah (Sumber Gambar : Nu Online)
Tentang Makan dan Kebersahajaan Rasulullah (Sumber Gambar : Nu Online)

Tentang Makan dan Kebersahajaan Rasulullah

Tidak saja soal makanan, Rasulullah dalam hal tidur, beralaskan tikar dan rumahnya sangat sederhana. Kalau ada pakaian yang sobek atau koyak, beliau sendiri yang menambalnya, tidak menyuruh istrinya. Beliau juga memerah sendiri susu kambing untuk keperluan keluarga maupun dijual.

Setiap kali pulang ke rumah, bila dilihat tiada makanan yang siap untuk dimakan, sambil tersenyum Baginda menyingsingkan lengan bajunya untuk membantu istrinya di dapur. Sayidatuna ‘Aisyah mengisahkan, “Kalau Nabi berada di rumah, beliau selalu membantu urusan rumah tangga.”

Haedar Nashir

Jika mendengar adzan, beliau cepat-cepat berangkat ke masjid dan cepat-cepat pulang kembali sesudah selesai shalat.

Haedar Nashir

Pernah Baginda pulang pada waktu pagi, dan tentulah amat lapar saat itu. Namun dilihatnya tiada apa pun yang ada untuk sarapan. Yang mentah pun tidak ada, karena ‘Aisyah belum ke pasar. Maka Nabi bertanya,”Belum ada sarapan, ya Humaira? (Humaira adalah panggilan mesra untuk sayidatuna ‘Aisyah yang berarti “Wahai yang kemerah-merahan”).

Aisyah menjawab dengan agak serba salah,”Belum ada apa-apa, wahai Rasulullah.”

Rasulullah lantas berkata,”Kalau begitu, aku puasa saja hari ini.” Tak sedikitpun tergambar rasa akesal di wajahnya.

Sayidatuna ‘Aisyah mengisahkan kesederhanaan Rasulullah SAW tidak pernah memenuhi perutnya. Ketika bersama keluarganya, beliau tidak pernah minta makan kepada istri-istrinya. Jika mereka menghidangkan makanan , beliau pun makan. Beliau memakan apa yang dihidangkan mereka, dan meminum apa yang dihidangkan mereka.”

Walau Nabi Muhammad SAW penuh kesederhanaan, bahkan terkadang tak jarang makan, beliau tetap tegar menjalankan risalah kenabian yang melekat pada dirinya. Pernah suatu ketika, saat beliau menjadi imam shalat, para sahabat melihat gerakan Baginda Nabi antara satu rukun ke satu rukun yang lain amat sukar sekali. Dan mereka mendengar bunyi menggerutuk, seolah-olah sendi-sendi pada tubuh manusia yang paling mulia itu bergeser.

Usai shalat, Sayidina Umar bin Khatab yang tidak tahan melihat keadaan Nabi, langsung bertanya,”Ya Rasulullah, kami melihat seolah-olah engkau menanggung penderitaan yang amat berat. Sakitkah, Ya Rasulullah?”

“Tidak, ya Umar. Alhamdulillah, aku sehat dan segar,” jawab beliau dengan wajah yang senantiasa tersenyum.

“Ya Rasulullah, mengapa setiap kali engkau menggerakan tubuh, kami mendengar seolah-olah sendi bergesekan di tubuh engkau? Kami yakin, engkau sedang sakit,” umar mendesak, cemas.

Akhirnya Rasulullah SAW mengangkat jubahnya. Para sahabat amat terkejut. Perut Baginda yang kempis, kelihatan dililit sehelai kain yang berisi batu kerikil, buat menahan rasa lapar. Batu-batu kecil itulah yang menimbulkan bunyi-bunyi halus setiap kali tubuh Nabi bergerak.

“Ya Rasulullah, adakah bila engkau mengatakan lapar dan tidak punya makanan kami tidak akan mendapatkannya buat engkau?”

Lalu Baginda Nabi menjawab dengan lembut, “Tidak, para sahabatku. Aku tahu, apapun akan engkau korbankan demi rasulmu. Namun apakah akan aku jawab di hadapan Allah nanti bahwa aku, sebagai pemimpin, menjadi beban kepada umatnya? Biarlah kelaparan ini sebagai hadiah Allah buatku, agar umatku kelak tidak ada yang kelaparan di dunia ini, lebih lebih lagi tiada yang kelaparan di akhirat kelak.”

Mengenai makan dan minum, Rasulullah SAW adalah orang tidak kecanduan terhadapnya. Nabi menganjurkan agar mengurangi keperluan makan minum dan tidur.    

Al Miqdam ibn Ma’dikarib berkata, Nabi Muhammad SAW bersabda,”Anak Adam tidak memenuhi suatu bejana yang lebih buruk dari perutnya. Cukuplah bagi anak Adam beberapa potong makanan untuk menguatkan punggungnya. Jika memerlukan lebih banyak lagi, sepertiganya untuk minum dan sisanya untuk bernafas. Sebab akibat dari banyak makan dan minum adalah banyak tidur.” (HR Tirmidzi dan Ibnu Hibban). (Aji Setiawan)

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir AlaSantri, News, Tegal Haedar Nashir

Jumat, 14 November 2014

Gus Sholah: Kita Tak Ingin Pelemahan KPK Kembali Terjadi

Jombang, Haedar Nashir. Pengasuh Pondok Pesantren Tebuireng KH Salahuddin Wahid (Gus Sholah) menilai, keberadaan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) sering mendapatkan gangguan. Padahal, korupsi adalah masalah utama yang harus diperjuangkan untuk memujudkan negara hukum.

Gus Sholah menyampaikan hal tersebut dalam Halaqoh Kebangsaan dengan tema “Masa Depan Pemberantasan Korupsi” di Aula Yusuf Hasyim Tebuireng, Jombang, Jawa Timur, Sabtu (28/3). Hadir dalam kesempatan ini anggota Tim 9, di antaranya Prof Jimly Assidiqie (mantan ketua Mahkamah Konstitusi), Johan Budi (Plt Pimpinan KPK), dan Dr. Bambang Widjayanto dan (pimpinan KPK nonaktif).

Gus Sholah: Kita Tak Ingin Pelemahan KPK Kembali Terjadi (Sumber Gambar : Nu Online)
Gus Sholah: Kita Tak Ingin Pelemahan KPK Kembali Terjadi (Sumber Gambar : Nu Online)

Gus Sholah: Kita Tak Ingin Pelemahan KPK Kembali Terjadi

"KKN, dalam hal ini korupsi, saat reformasi adalah masalah utama yang diperjuangkan untuk diperangi. Dan kita paham waktu itu lembaga hukum tumpul, maka dibentuk KPK," ujar Cucu Hadratussyaikh Muhammad Hasyim Asy’ari ini.

Haedar Nashir

Namun, lanjut Gus Sholah, KPK sering mendapatkan gangguan. Hal ini seperti yang terjadi pada mantan ketua KPK, Antasari Azhar, kemudian Bibit dan Candra. Dan sekarang kasus Abraham Samad dan Bambang W.

Haedar Nashir

"Kita tidak ingin kasus gangguan terhadap KPK terulang kembali," tandasnya menyikapi ditersangkakannya dua pimpinan KPK Abraham Samad dan Bambang Widjajanto atas kasus yang dinilai hanya dicari-cari. "Kalau hanya mencari-cari persoalan atau kasus seseorang, semua orang pasti memiliki masalah, termasuk AS dan BW," ujarnya.

Gus Sholah juga mempertanyakan sikap Presiden terkait penangan korupsi ini. Karena hukum saat ini dinlai tajam ke bawah dan tumpul ke atas. "Saya tidak paham apakah Presiden ngerti apa tidak soal ini," imbuhnya.  

Rencananya, rekomendasi para kiai pesantren dalam halaqoh yang salah satunya menghasilkan dukungan pengutaan kelembagaan hukum untuk memberantas korupsi itu akan disampaikan ke Presiden, DPR, serta pihak-pihak yang terkait dengan lembaga antikorupsi di Indonesia. "Yang paling urgen adalah pengutan kelembagaan hukum, untuk memberantas korupsi, ini yang penting disampaikan," tandasnya.

Sementara itu, sebelumnya Prof Jimli Asshidiqi dalam pemaparannya mengatakan bahwa kasus yang menimpa pimpinan KPK, yakni Abraham Samd dan Bambang Widjayanto, merupakan upaya pelemahan. Selain itu KPK juga diserang dengan kriminalisasi para penyidiknya, juga para pegiat antikorupsinya. "Dulu pernah terjadi pada Antasari Azhar kemudian Bibit-Candra, saya khawatir peradilan sesat atas kasus Antasari Azhar terjadi lagi," tutur anggota Tim 9 ini.  (Muslim Abdurrahman/Mahbib)

 

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Kyai Haedar Nashir

Jumat, 31 Oktober 2014

Forum Madrasah Diniyah Se-Indonesia Tolak Sekolah Lima Hari

Jakarta, Haedar Nashir. Madrasah Diniyah Takmiliyah (MDT) telah berperan menjadikan anak bangsa berpaham moderat dan toleran juga komitmen pada NKRI. Karakter dan moralitas anak-anak usia sekolah dasar hingga menengah atas, diperkuat hingga tumbuh menjadi pribadi muslim yang tangguh.

Namun agaknya upaya itu akan pupus di tengah jalan, seiring dengan rencana kebijakan Sekolah Lima Hari (Full Day School) oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. Karenanya Dewan Pengurus Pusat Forum Komunikasi Diniyah Takmiliyah (DPP-FKDT) menyatakan menolak atas rencana itu.

Forum Madrasah Diniyah Se-Indonesia Tolak Sekolah Lima Hari (Sumber Gambar : Nu Online)
Forum Madrasah Diniyah Se-Indonesia Tolak Sekolah Lima Hari (Sumber Gambar : Nu Online)

Forum Madrasah Diniyah Se-Indonesia Tolak Sekolah Lima Hari

Lukman Hakim Ketua Umum DPP-FKDT menegaskan sekolah lima hari akan berpotensi mengakibatkan pendangkalan pendidikan agama, internalisasi akhlakul karimah dan nilai-nilai kebangsaan.?

“Kami mendesak kepada Mendikbud agar membatalkan rencana itu karena akan membuat MDT dan Taman Pendidikan Al-Quran (TPQ) terancam gulung tikar,” ujar Lukman Hakim lewat keterangan tertulisnya kepada Haedar Nashir, Selasa (13/6).

Kebijakan itu dinilai oleh Alumni UIN Walisongo ini, perlu dikaji ulang secara komprehensif, agar eksistensi MDT tetap berlanjut. Selama ini, masyarakat dengan pemerintah sudah berbagi peran dengan baik dalam hal waktu belajar. MDT mengambil waktu siang-malam hari sementara pendidkan formal di sekolah dan madrasah di pagi hingga siang hari.?

Haedar Nashir

Lukman meminta Mendikbud untuk konsen menyelesaikan masalah-masalah pendidikan nasional yang krusial seperti, masih terdapat disparitas pendidikan antara sekolah negeri dengan swasta, antara sekolah unggulan dan reguler.?

Profesionalitas guru yang belum sesuai harapan masyarakat. Selain itu nasib pendidikan daerah diperbatasan Negara mendesak diperhatikan, banyak gedung sekolah yang reot nyaris roboh, anak putus sekolah dan adanya SD yang harus digabungkan (merger) dengan SD lainnya karena kekurangan peserta didik.

Haedar Nashir

Dengan kebijakan itu, layanan Pendidikan Keagamaan Islam yang berpotensi terkena dampaknya adalah 76.566 MDT dengan 6.000.062 santri dan 443.842 ustadz. Ada 134.860 Pendidikan Al-Quran, 7.356.830 santri dan 620.256 ustadz. Sementara ada 13.904 Pondok Pesantren, 3.201.582 santri dan 322.328 ustadz. Padahal lembaga keagamaan Islam ini telah ? tumbuh berkembang atas inisiatif dan partisipasi masyarakat.?

Saat ini, DPP FKDT membawahi 32 Dewan Pengurus Wilayah (DPW), 420 Dewan Pengurus Cabang (DPC) dan 1.112 Dewan Pengurus Anak Cabang yang secara kontinu menjadi jembatan antara MDT dengan pemerintah dan pihak lainnya.

“Berkurangnya waktu efektifitas belajar pada MDT, TPQ dan Pesantren akibat kebijakan FDS, akan mengakibatkan penyelenggaraan pendidikan tidak optimal. Pembelajaran Al-Quran, kajian kitab kuning dan pengetahuan dasar-dasar agama Islam akan terganggu,” kata Alumni Fakultas Dakwah UIN Walisongo ini.

Lukman khawatir jika MDT, TPQ dan Pondk Pesantren yang selama ini menjadi benteng Islam moderat dan nasionalisme ini hancur, maka kita akan kehilangan investasi kebangsaan.?

“Jangan sampai kebijakan full day scholl malah akan mematikan sesuatu yang telah lama kita miliki dan berjasa besar pada pengembangan karakter, akhlakul karimah dan penguatan komitmen kebangsaan,” tandas Lukman. (Ruchman/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Anti Hoax, Aswaja, Ulama Haedar Nashir

Jumat, 24 Oktober 2014

Santri Penegak Nilai Kemanusiaan, Bukan Kesenangan Duniawi

Bandarlampung, Haedar Nashir. Pengasuh Pondok Pesantren Al-Mizan Jatiwangi, Majalengka, Jawa Barat, KH Maman Imanulhaq Faqih,  mengatakan, santri merupakan penegak nilai kemanusiaan sehingga harus mempunyai visi dan kreatif.

Santri Penegak Nilai Kemanusiaan, Bukan Kesenangan Duniawi (Sumber Gambar : Nu Online)
Santri Penegak Nilai Kemanusiaan, Bukan Kesenangan Duniawi (Sumber Gambar : Nu Online)

Santri Penegak Nilai Kemanusiaan, Bukan Kesenangan Duniawi

"Santri harus punya visi ke depan, proaktif dalam banyak masalah, selalu berpikir kreatif," paparnya pada Lailatul Ijtima Nahdlatul Ulama dan Tahlil Mengenang Guru, Ulama, Birokrat Drs H M Thabranie Daud digelar di Gedung PWNU Lampung, Jalan Cut Meutia 28 Teluk Betung Utara, Kota Bandar Lampung, Sabtu (31/10) malam.

Kalau santri hanya berpikir urusan perut dan kesenangan duniawi, maka, ujar Anggota Komisi 8 DPR RI, dia bukan santri. "Kalau ada santri jadi anggota DPR, maka politik santri bukan untuk memperkenyang perut," ujar cucu KH Zaenal Mustofa itu lagi.

Haedar Nashir

Ratusan warga NU memenuhi Kantor PWNU malam itu, termasuk sesepuh NU Lampung Muhammad Shobary, dan Wakil Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, Kabinet Indonesia Bersatu II periode 2011-2014 Sapta Niwandar. Di hadapan mereka, Maman menambahkan, santri ialah yang memikirkan bagaimana nilai-nilai kemanusiaan ditegakkan.

Haedar Nashir

Laitul Ijtima di PWNU Lampung biasa digelar sebulan sekali. Sebelum Maman memberikan mauidhah hasanah, Rahman dari Pondok Pesantren Bustanul Falah Bandar Lampung membacakan Ikrar Santri diawali syahadat.

Santri NKRI berikrar, sebagai santri NKRI berpegang teguh pada aqidah, nilai dan ajaran Ahlusunah wal Jamaah.

Santri NKRI berikrar, bertanah air satu satu, tanah air Indonesia, berideologi satu, ideologi Pancasila.

Hadir pula dalam Lailatul Ijtima Nahdlatul Ulama PWNU Lampung Ketua PWNU KH Sholeh Bajuri beserta jajaran, politisi PDI Perjuangan Eva Dwiana, Ketua PW GP Ansor Lampung Hidir Ibrahim, dan Ketua PC GP Ansor Lampung Barat Radityo AN.

Terilhat pula Ketua PW Hipsi Lampung H Abdul Karim, Ketua PW Fatayat NU Khalida, Ketua PW IPNU Lampung Aan Uly Rosyadi, KMNU Unila dan para santri pada kegiatan diisi renungan mengenai NU hingga dosa jemaah. (Gatot Arifianto/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Lomba, Sholawat Haedar Nashir

Jumat, 17 Oktober 2014

PP IPNU Gelar Workshop E-Pendidikan

Jakarta, Haedar Nashir. Pengurus Pusat Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (PP IPNU) menggelar workshop E-Pendidikan bertajuk “Budaya Digital dan Pemanfaatannya dalam Kegiatan Belajar Mengajar” yang digelar di lantai 8 Gedung PBNU Kramat Raya Jakarta.



PP IPNU Gelar Workshop E-Pendidikan (Sumber Gambar : Nu Online)
PP IPNU Gelar Workshop E-Pendidikan (Sumber Gambar : Nu Online)

PP IPNU Gelar Workshop E-Pendidikan

Kegiatan ini dalam rangka menghadapi era digital yang semakin berkembang di kalangan pelajar di Indonesia.

“Workshop E-Pendidikan ini diharapkan menghasilkan gagasan optimalisasi teknologi di bidang pendidikan baik bagi siswa maupun guru,”? ujar Ketua PP IPNU Khoirul Anam HS dalam sambutannya, Senin, (29/12) di Jakarta.

Selain itu, lanjut Khoirul Anam, kegiatan ini merupakan respon PP IPNU terhadap penggunaan internet di kalangan pelajar, khususnya pelajar NU.

Haedar Nashir

“Tapi pendidikan berbasis internet ini tentu perlu pendampingan agar teknologi bisa dimanfaatkan dengan hal-hal yang bersifat positif,” tambah Khoirul Anam.

Sementara itu, Kepala Pusat Teknologi Informasi dan Komunikasi (Pustekkom) Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemdikbud) Dr. Ir. Ari Santoso, DEA menuturkan, bahwa potensi pendidikan di kalangan pelajar NU sangat besar, karena mencakup pesantren dan madrasah.

“Pustekkom mau tidak mau membutuhkan madrasah dan pesantren dalam mengembangkan teknologi informasi dan komunikasi meski mereka di bawah naungan Kementerian Agama,” terang Ari yang hadir dalam kegiatan ini.

Merujuk data Dirjen Pendis Kemenag, Ari menjelaskan, jumlah institusi pesantren dan madrasah lebih banyak dibandingkan jumlah peserta didiknya. Meski demikian, tambah Ari, sebaran jumlah institusi per daerah tidak terdata.

“IPNU harus mengelola itu sehingga pendidikan berbasis teknologi dapat tersebar dengan baik,” papar Ari yang membawakan presentasi bertema “Membangun Generasi Digital di Lingkungan Pesantren” dalam workshop ini.

Haedar Nashir

Kegiatan ini di hadiri oleh jajaran pengurus pusat, pengurus wilayah, dan pengurus cabang IPNU khususnya DKI Jakarta serta pengurus PP IPPNU. (Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir IMNU, Fragmen Haedar Nashir

Kamis, 16 Oktober 2014

Membaur dengan Masyarakat, GP Ansor Jambesari Gelar Jalan Sehat

Bondowoso, Haedar Nashir - Pengurus harian GP Ansor Kecamatan Jambesari Dharus Sholah (DS) bersama IPNU dan IPPNU setempat mengadakan jalan-jalan sehat (JJS) dalam rangka menyambut 1 Muharram 1438 H. Kegiatan ini diikuti oleh seluruh elemen masyarakat dari tingkatan pelajar, guru, MI/SD. MTs/SMP, MA/SMA/SMK, serta jajaran pemerintahan setempat.

Mereka berkumpul di Kantor Kecamatan Jambesari Dharus Sholah Kabupaten Bondowoso Sabtu (17/9) pagi. Mereka bertolak dari pendopo kkecamatan untuk kemudian menyusuri empat desa setempat.

Membaur dengan Masyarakat, GP Ansor Jambesari Gelar Jalan Sehat (Sumber Gambar : Nu Online)
Membaur dengan Masyarakat, GP Ansor Jambesari Gelar Jalan Sehat (Sumber Gambar : Nu Online)

Membaur dengan Masyarakat, GP Ansor Jambesari Gelar Jalan Sehat

Ketua GP Ansor Jambesari Dharus Sholah Barurrallah (Bahrul) mengatakan, massa bertolak di depan halaman pendopo kecamatan, lalu mengelilingi empat desa dan mengakhiri perjalanan di tempat bertolak.

"Yang melepas peserta JJS ini adalah penasehat GP Ansor Bondowoso H Ahmad Dhafir," kata Bahrul.

Haedar Nashir

Ia berharap kegiatan ini bisa membangun solidaritas sosial dan? mempererat rasa nasionalisme kebangsaan dalam bernegara dan bersosial dan beragama.

Sementara H Ahmad Dhafir mengatakan, hari ini kita bersama-sama melaksanakan jalan-jalan sehat. “Ini tentu bentuk kebersamaan kita? mempersiapkan masa depan anak-anak kita, karena bagaimana juga pemuda hari ini adalah calon pemimpin di masa depan.”

Haedar Nashir

Lanjut Dhafir, harapan kita pada jalan sehat ini adalah bagaimana membangun kebersamaan ke depan terutama dalam membangun Kecamatan Jambesari.

Tampak hadir Ketua MWCNU Jambesari Dharus Sholah Ustd Abdul Mufid, Kepala UPTD Jambesari, Ketua GP Ansor Bondowoso Muzammil, Camat Jambesari, jajaran muspika Jambesari. (Ade Nurwahyudi/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir IMNU, Fragmen Haedar Nashir