Selasa, 13 Oktober 2015

LTMNU Sumedang Ngaji Etika Imam dan Khotib

Sumedang, Haedar Nashir. Pengurus Cabang Lembaga Ta’mir Mesjid Nahdlatul Ulama (LTMNU) kabupaten Sumedang akhir pekan kemarin mengadakan pelatihan peningkatan kapasitas yang melibatkan imam-khotib dan pengurus masjid sekecamatan Buahdua. Di desa Cilangkap, Ahad (7/6), peserta diajak untuk membaca kembali peran mereka di tengah perkembangan zaman yang begitu cepat.

LTMNU Sumedang Ngaji Etika Imam dan Khotib (Sumber Gambar : Nu Online)
LTMNU Sumedang Ngaji Etika Imam dan Khotib (Sumber Gambar : Nu Online)

LTMNU Sumedang Ngaji Etika Imam dan Khotib

Peserta yang berjumlah 35 orang ini mengupas etika imam dan khotib. Pada kesempatan ini, mereka juga mengaji materi Fiqh Jum’at, materi Al-Qur’an, serta teknik penyusunan kepengurusan masjid.

"Pelatihan ini sangat bermanfaat dan penting, sebagai upaya untuk meningkatkan kemampuan, wawasan, dan kualitas seorang yang dipercaya sebagai salah satu komponen penegak amar ma’ruf ? nahi mungkar. Terlebih dalam menghadapi tuntutan zaman dengan problem masyarakat yang semakin kompleks, maka dibutuhkan kemampuan yang cukup bagi seorang imam dan khatib,” kata Ketua LTMNU Sumedang ustadz Eman Sulaeman.

Haedar Nashir

Ustadz Eman menyebut beberapa peran dan fungsi yang harus diwujudkan seorang imam dan khatib di tengah masyarakat. Mereka, kata Eman, harus mampu menjadi pemersatu umat, menjadi benteng aqidah, menjadi contoh teladan, menjadi rujukan dalam masalah keislaman, dan membangun soliditas umat.

"Khusus mengenai perannya sebagai rujukan dalam masalah keislaman, hendaknya imam dan khatib untuk selalu menambah wawasan ilmu pengetahuan tentang keislaman. Karena, bagaimanapun seorang imam dan khatib pasti akan menjadi tempat bertanya masyarakat soal keislaman,” Ketua LTMNU menambahkan.

Haedar Nashir

Ketua PCNU Sumedang KH Sa’dulloh yang hadir sebagai pemateri berharap kegiatan bertema “Meningkatkan Peran NU dalam Upaya Membentuk Imam-Khotib dan DKM yang Berkualitas dan Profesional” ini dapat menjadi dorongan untuk meningkatkan kemampuan imam-khotib masjid.

“Saya berharap pelatihan ini dapat menjadi suatu motivasi untuk meningkatkan kemampuan para imam masjid,” kata Kiai Sa’dulloh. (Ayi Abdul Kohar/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Kajian Haedar Nashir

Habib Umar Sampaikan Taushiyah di Acara Haul KHR Asnawi

Kudus, Haedar Nashir. Ulama asal Semarang Habib Umar al-Muthohar menyampaikan taushiyah dalam pengajian umum dalam rangka peringatan haul ke-56 KHR Asnawi di Pondok Pesantren Raudlotuth Thalibin Bendan Kudus, Jum’at malam (26/4) kemarin.

Habib mengajak umat Islam untuk selalu menghormati maupun memuliakan yang tua dan memberi kasih sayang kepada yang muda. Bila sikap itu terjaga, kehidupan di dunia akan selalu suasana yang indah dan penuh kedamaian.

Habib Umar Sampaikan Taushiyah di Acara Haul KHR Asnawi (Sumber Gambar : Nu Online)
Habib Umar Sampaikan Taushiyah di Acara Haul KHR Asnawi (Sumber Gambar : Nu Online)

Habib Umar Sampaikan Taushiyah di Acara Haul KHR Asnawi

“Hal itu sesuai tuntunan Nabi Muhammad dalam haditsnya yang menegaskan barang siapa yang tidak memuliakan orang tua dan tidak sayang kepada yang muda, maka ia bukan termasuk golonganku,” katanya.

Haedar Nashir

Ia menerangkan orang tua yang patut dihormati ini tidak hanya dilihat dari sisi usianya saja melainkan orang yang mempunyai kelebihan ilmu, akhlak, ibdahnya, kejiwaan maupun perjuangannya. Meskipun masih berusia muda tetapi memiliki daya linuwih kealiman harus lebih dihormati.

Haedar Nashir

“Begitu pula orang biasa yang sudah berlanjut usia pun harus kita hormat kepadanya baik dalam kondisi masih hidup maupun sudah mati,” tegas Habib di depan ribuan jamaah yang menghadirinya.

Habib juga  mengutarakan orang tua dengan daya lebihnya mampu menjadi tumbal tidak turunnya hari kiamat secara cepat. Mengutip sebuah hadits, Habib menegaskan selama masih ada orang tua yang mau beribadah dan bayi yang menyusui ibunya Qiyamat tidakakan dijatuhkan oleh Allah.

Terhadap yang muda, Habib menjelaskan perlu diberi kesempatan menunjukkan kemahiran untuk mengganti peran yang tua. Hal ini sebagai bentuk kasih sayang kepada yang muda supaya mampu membentuk generasi penerus yang sudah memiliki kesiapan dan pengalaman.

“Bila yang muda memiliki keinginan baik kita hargai sehingga bisa maju dan yang tua merestui atau mendoakan. Termasuk kita memperingati haul KHR Asnawi ini juga untuk menghormati orang yang mempunyai kelebihan ilmu,akhlak maupun kejiwannya guna meraih keberkahan untuk kita,” tandasnya lagi.

Habib Umar yang menyampaikan ceramahnya dengan nada kocak ini juga menyinggung prilaku masyarakat saat pemilu kemarin memilih calon legislatif karena adanya uang. Menurutnya, sikap demikian tidak baik karena akan melahirkan prilaku politisi yang duduk menjadi anggota DPR/DPRD melakukan penyelewengan.

“Mereka yang duduk di DPR nanti yang dilakukan pertama kali tentu mencari sauran atas uang yang dibagikan kepada anda semua. Sehingga tidak menutup kemungkinan mereka caleg nanti akan bertindak korupsi melalui proyek-proyek pembangunan,”tandasnya lagi.

Pengajian yang dihadiri ribuan jamaah dari Kudus dan daerah lain ini menghadirkan juga KH Abdul Qoyyum Mansur (Lasem) yang berceramah sebelum Habib Umar. Pengajian ditutup dengan doa yang dipimpin Habib Ja’far al Kaff. (Qomarul Adib/Anam)

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir AlaSantri, Makam, Tokoh Haedar Nashir

Kiai Syaroni: Jangan Guyon Kebablasan!

Kudus, Haedar Nashir. Pada Pengajian Tafsir Al-Qur’an di Masjid al-Aqsha Menara Kudus, Jawa Tengah Rabu (24/7) pagi tadi, Mustasyar PBNU KH Sya’roni Ahmadi mengingatkan jangan suka bercanda (guyon) kebablasan yang hanya mengumbar kebohongan. Karena hal tersebut bisa berakibat hati menjadi keras dan fasik.

“Kalau guyon maton diperbolehkan saja, tetapi kalau guyon yang membohongi untuk mengundang tawa belaka itu tidak baik,” katanya saat menerangkan ayat 15- 20 Surat Al-Hadid Juz 27.

Kiai Syaroni: Jangan Guyon Kebablasan! (Sumber Gambar : Nu Online)
Kiai Syaroni: Jangan Guyon Kebablasan! (Sumber Gambar : Nu Online)

Kiai Syaroni: Jangan Guyon Kebablasan!

Ulama kharismatik yang biasa disapa Mbah Sya’roni ini menjelaskan bahwa ayat 15 Surat Al-Hadid menerangkan sikap para sahabat Muhajirin yang bercanda berlebihan saat menerima sambutan luar biasa dari sahabat Ansor (sahabat yang sudah mukim di Madinah).

Haedar Nashir

“Kaum Muhajirin diingatkan supaya tidak meniru orang Yahudi yang senang guyon sehingga menjadi fasik sampai lupa kitab Taurat dan Injil,” katanya menerangkan ayat selanjutnya.

Haedar Nashir

Nabi Muhammad, tutur mbah Sya’roni, suka bercanda namun gaya dan materi yang disampaikan tidak pernah bohong. Dikisahkan, Nabi Muhammad menyapa seorang perempuan tua yang selalu menyapu jalan menuju masjid yang sering dilaluinya. Nabi bertanya alasan perempuan tua menyapu jalan itu, sang perempuan menjawab, ingin masuk surga bersama Nabi. 

“Nabi menjawab dengan canda bahwa di surga tidak ada nenek-nenek seperti ibu. Sang perempuan tua itu menangis. Lalu Nabi menyahuti lagi, di surga itu perempuan tua-tua akan menjadi muda lagi. Jadi, ibu tetap masuk surga. Sang nenek tadi bisa tersenyum lega,” cerita Mbah Sya’roni mencontohkan. 

Diterangkan ayat selanjutnya, meskipun banyak orang yang lupa akibat guyonan berlebihan, Allah bisa mengubah kembali menjadi khusuk sehingga ingat kembali kepada Allah maupun membaca Al-Qur’an. 

“Makanya, guyon ya guyon tapi yang maton. Jangan kebablasan. Lebih baik untuk dzikir atau membaca Al-Qur’an,” tegas mbah Sya’roni dalam bahasa Jawa.

Mbah Sya’roni juga menerangkan hidup di dunia adalah permainan, kesenangan, perhiasan untuk kebanggaan manusia belaka. Banyak harta dan anak, merupakan kesenangan di dunia yang hanya sementara. 

“Oleh karenanya kita harus berusaha menggunakan harta benda kita untuk kebaikan termasuk berinfak juga,” ajaknya lagi kepada  ribuah jamaah yang memenuhi ruangan dan halaman masjid Menara Kudus.

Redaktur    : Abdullah Alawi 

Kontributor: Qomarul Adib

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Lomba, Bahtsul Masail, Sholawat Haedar Nashir

Minggu, 11 Oktober 2015

Masa Depan Dakwah Islam di Indonesia

Oleh R. Ahmad Nur Kholis

Sejarah Nusantara mengatakan kepada kita bahwa Islam di Indonesia lebih menonjol penyebarannya dengan menggunakan budaya sebagai media utama. Meskipun tidak mengalami perkembangan yang berarti selama lebih kurang 500 tahun, namun kemudian terjadi secara massif di masa wali songo.

Moderatisme, toleransi dan sikap tawazun (penuh pertimbangan) dalam kehidupan sosial setidaknya menjadi kunci sukses para Wali Songo itu. Meskipun perkembangannya juga dipengaruhi kondisi politik, namun praktis bisa dikatakan bahwa Islam berkembang dengan pesatnya tampa menimbulkan pertumpahan darah sedikitpun.

Masa Depan Dakwah Islam di Indonesia (Sumber Gambar : Nu Online)
Masa Depan Dakwah Islam di Indonesia (Sumber Gambar : Nu Online)

Masa Depan Dakwah Islam di Indonesia

Pada masa para wali ini, Islam kemudian berkembang sedemikian rupa hingga membentuk sebuah institusi sendiri yang mengatur sendi kehidupan masyarakat. Hal ini ditandai dengan beridirnya kesultanan Demak yang menggunakan Islam sebagai konstitusinya. Hukum Islam digali dari berbagai referensi kitab fiqih abad pertengahan khususnya madzhab Syafi’i.

Pada masa berikutnya, agama nasrani datang bersamaan dengan kolonialisme negara-negara Eropa. Pada masa inilah maka kondisi perubahan peta politik Islam di Nusantara mulai terjadi. Kolonial Belanda telah memasangkan pengaruhnya di Nusantara dan relatif berhasil dalam memecah belah politik Islam.

Bersamaan dengan itu, pada sekitar tahun 1700-an datanglah ke Indonesia paham Islam puritan Wahabi yang dibawa dari timur tengah. Sikapnya yang begitu ekstrim terbukti telah mengakibatkan perang saudara di Nusantara yang kemudian dimanfaatkan oleh penjajah. Hal demikian ini membuat politik Islam semakin melemah. Maka secara politis semakin berkuasalah penjajah di bumi nusantara.

Haedar Nashir

Hal demikian ini membuat Belanda mampu memasang sebuah konstitusi yang secara lambat laun kemudian melemahkankonstitusi islami yang telah dibangun sejak masa sebelumnya. Dampak logisnya, kondisi demikian telah mampu sedikit demi sedikit telah mampu menggeser pola hidup Islami masyarakat yang sejak sebelumnya telah dilaksanakan mereka secara sistematis.?

Memang bisa dikatakan bahwa para Wali Songo telah mampu mengislamkan masyarakat Islam dan Islam sebagai agama menjadi dipeluk oleh sebagian besar warga negara Indonesia. Namun jika membicaakan kualitas keislaman dalam arti ketaatan beragama secara penuh, maka prosentasenya berbeda-beda. Hal inilah yang mendorong Greetz dan Feillard membagai masyarakat Islam menjadi abangan dan santri. Bahwa Islam abangan adalah Islam yang tidak begitu taat dalam menjalankan syariat dan santri adalah yang lebi taat.?

Dalam menyikapi hal ini, kalangan Islam di Indonesia telah berbeda-beda dalam gayanya. Beberapa diantara ummat Islam menginginkan sistem Islam kembali digunakan secara formal. Kelopok ini kemudian mati-matian berjuang dari atas. Kelompok yang lain memilih perjuangan dalam menyadarkan masyarakat bawah dalam beragama Islam. Meskipun berbeda gaya, namun tujuannya sama, yakni dakwah, dalil yang digunakan pun juga sama yakni, Amar Ma’ruf Nahi Munkar. Jelasnya, bagaimana Islam mampu dihayati oleh masyarakat. Contoh Kasus gerakan Islam yang ditampilkan organisasi-organisasi seperti Syarikat Islam, Nahdlatul Ulama, Muhammadiyah dan Masyumi dapat dijadikan contoh dalam kasus ini.

Pasca kemerdekaan, politik Islam menjadi tolok ukur yang paling mudah untuk dijadikan ukuran seberapa kuantitas santri dan abangan di Nusantara setelah dakwahnya yang berlangsung selama ratusan tahun. Dari sudut pandang politis, Islam terpecah setidaknya ke dalam dua kelompok besar yang pada mulanya bersatu. Kelompok Islam yang mengaku lebih progresif kala itu bergabung dalam Masyumi, sedangkan Islam pesantren (yang notabane-nya dianggap lebih kolot) berada dalam NU. Secara kuantitas ketika itu, seandainya bersatu maka Islamlah pemenangnya (Masyumi 20%, NU 18% disamping PNI 22% dan PKI 14%). Namun karena terpecah menjadi dua maka hal tersebut tidak terjadi.

Haedar Nashir

Pada masa kemudian, peran politis NU menjadi semakin melemah bahkan sampai saat ini. Di mana dalam pandangan penulis, keadaan itu disamping disebabkan peran pemerintah dalam menekan Islam, juga disebabkan oleh keributan di antara ummat Islam sendiri.

Bahwasanya Islam sebagai kekuatan budaya di Indonesia adalah dapat dipercaya meskipun secara formal tidak dipakai sebagai konstitusi negara. Namun kekuatan budaya ini harus senantiasa diimbangi dengan proses institusionalisasi di sisi lain yang dilakukan setahap demi setahap. Para elit muslim selayaknya sudah harus memikirkan hal ini. Hal demikian ini karena sudah menjadi sunnatullah bahwa kondisi kehidupan dunia ini yang karena pengaruh modernitas, budayanya semakin tergerus dan mengalami degradasi. Di sinilah maka proteksi dari sebuah konstitusi menjadi diperlukan.?

Ada yang mengatakan bahwa, “Dalam sebuah sistem yang baik, orang jahat diajak menjadi baik. Sedangkan dalam sistem yang jelek, orang baik diajak menjadi jahat.” Dalam hemat penulis, Islamlah sistem yang baik itu. Oleh karena Fiqih Islam tidak sebagaiman hukum sekuler yang semata-mata bertumpu pada kondisi sosial masyarakat belaka, namun juga diwarnai oleh campur tangan Tuhan.

Demikianlah maka perntanyaannya kemudian, bisakah para elit Islam mampu berpikir di manakah dia harus mengedepankan perbedaannya dengan kelompok Islam yang lain. Dan dimana pula ia harus bersatu dalam sebuah ikatan Ukhuwwah Islamiyah.

Nahdlatul Ulama sejak tahun 1985 telah merumuskan konsep persatuan ini kedalam 3 (tiga) bentuk, yakni Ukhuwah Islamiyah (Pesatuan Islam), Ukhuwah Wathaniyah (Persatuan Kebangsaan), dan Ukhuwah Basyariyah (Persatuan Kemanusiaan). Namun apakah ketiga prinsip ini mudah dalam tataran praktik untuk membantuk Ummatan Wahidah, nampaknya ini masih menjadi PR besar umat Islam khususnya para elitnya.

Ketidaksadaran akan hal ini hanya akan membuat penghayatan masyarakat akan Islam sebagai bagian hidupnya semakin lama semakin berkurang. Sungguh berat rasanya mengemban amanat dakwah. Tapi hal inilah yang menjadikan kita umat Islam sebagai ummat terbaik (Khaira Ummah).

Penulis tinggal di Karangploso, Malang, Jawa Timur.

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Fragmen Haedar Nashir

Jumat, 09 Oktober 2015

Tutup Tahun, Pesantren Al-Amin Wisuda Santri Khatam Al-Quran

Demak, Haedar Nashir. Menggelar haflah akhirus sanah, pesantren Al-Amin yang bernaung di bawah Yayasan Pesantren Futuhiyyah Mranggen Demak mewisuda santri berprestasi dengan predikat Khatam Al-Quran bin-Nazhri. Haflah ini diadakan dalam rangka memperingati haul KH M Ridwan.

Tutup Tahun, Pesantren Al-Amin Wisuda Santri Khatam Al-Quran (Sumber Gambar : Nu Online)
Tutup Tahun, Pesantren Al-Amin Wisuda Santri Khatam Al-Quran (Sumber Gambar : Nu Online)

Tutup Tahun, Pesantren Al-Amin Wisuda Santri Khatam Al-Quran

Tampak hadir dalam haflah segenap keluarga dan dewan guru pesantren Al-Amin serta guru di Yayasan Futuhiyyah, para tamu undangan serta orang tua murid yang diwisuda. KH Yahya Cholil Staquf yang hadir sebagai pemberi taushiyah menekankan pentingnya warga NU menghadiri haul kiai.

“Selain mengalap berkah, kita mendatangi haul seorang kiai juga berarti ikut ‘mendaftar’ rombongan kiai yang dihauli untuk masuk ke surga. Jika mau jujur melihat amaliyah ibadah, kita tidak bisa masuk surga sendiri-sendiri. Karenanya kita semua akan memasuki surga secara rombongan seperti keterangan surat Az-Zumar ayat 73,” terang Gus Yahya mengawali ceramahnya.

Haedar Nashir

Pedoman pesantren itu sanad, kata Gus Yahya. Ilmu NU itu memgang rantai sanad,sehingga amalan-amalan  NU itu ada sanadnya. Ikut rombongan kiai insya Allah selamat.

Atas nama pengasuh, KH Ali Makhsun dalam sambutan mengucapkan rasa syukur dan terima kasih atas kepercayaan para orang tua wisudawan. Ia juga mengharapkan para santri yang akan melanjutkan studinya lebih tinggi agar tetap menjaga dan mengamalkan prinsip-prinsip pesantren.

Haedar Nashir

“Semoga santri yang telah khataman mendapatkan ilmu manfaat dan berkah. Keluarga besar pesantren Al-Amin selalu diberikan kemajuan istiqomah menyebarkan ilmu sesuai amanah perintis pondok KH Muhammad Ridlwan,” harapnya. (Ben Zabidy/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Fragmen, Sholawat, Lomba Haedar Nashir

Minggu, 04 Oktober 2015

Dua Desa, Satu Ranting NU, Satu Gedung

Tasikmalaya, Haedar Nashir. Dua Desa, Sukarapih dan Wargakerta bergabung membentuk satu Pengurus Ranting Nahdlatul Ulama (PRNU). Ranting ini memiliki gedung lumayan mewah seluas 45x14 m dengan tinggi 9 m.

Dua Desa, Satu Ranting NU, Satu Gedung (Sumber Gambar : Nu Online)
Dua Desa, Satu Ranting NU, Satu Gedung (Sumber Gambar : Nu Online)

Dua Desa, Satu Ranting NU, Satu Gedung

Di depan gedung tersebut, terdapat bangunan dua lantai seluas 7x11 m, sebagai sekretariat NU dan banom-banomnya.

Menurut Ketua Ranting NU dua desa tersebut, Edeng Zainal Abidin, pada mulanya Sukarapih-Warga Kerta satu desa dengan nama Cimerah. Tahun 1990-an dimekarkan jadi dua. Meski sudah terpisah secara administratif, warga masih merasa tetap menyatu.

Haedar Nashir

Untuk mengeratkan kedua desa, dibangun gedung di area 910 m persegi. Di belakang gedung tersebut terdapat lapangan sepak bola sebagai sarana olah raga dan shalat Idul Fitri dan Idul Adha. Tanah tersebut dibeli Nahdliyin dan Nahdliyat secara gotong royong dan tidak mengikat, serta sumbangan-sumbangan tidak mengikat.

“75 % pembangunan gedung dikerjakan suka rela karena warga Nahdliyin banyak berprofesi sebagai tukang. Ada tukang tembok, tukang kayu,” ujar Edeng ketika ditemui di Tasikmalaya, akhir pekan lalu.

Haedar Nashir

Ranting NU-nya pun, Edeng yang juga Ketua Forum Kerukunan Umat Beragama Kabupaten Tasikmalaya ini, masih tetap dinamakan Ranting Cimerah.

Gedung tersebut digunakan kegiatan-kegiatan NU seperti “muslimatan” sebulan sekali yang dihadiri ratusan orang dan juga lailatul ijtima’. Selain itu, kadang digunakan bulu tangkis dan pencak silat anak-anak muda NU.

Sebagai lambang tetap menyatunya dua desa, gedung tersebut dinamakan Gedung Kebersamaan Muslimin. Penamaan itu diusulkan KH Ii Abdul Basith, salah seorang pengasuh Pesantren Sukahideng dengan santri sekitar 1600 orang.

“Kiai Ii, adalah Rais Syuriyah NU Ranting Cimerah, pernah jadi Wakil Rais Syuriyah NU Kabupaten Tasikmalaya, dan sekarang Ketua MUI Kabupaten Tasikmalaya,” jelas Edeng.

Lebih jauh, Edeng menjelaskan, Kiai Ii adalah putra KH Zaenal Muhsin, Rais Syuriyah NU Kabupaten Tasikmlaya dari akhir tahun 80 hingga akhir 90-an. KH Zaenal Muhsin adalah keponakan Pahlawan Nasional KH Zaenal Musthafa, Wakil Syuriyah NU Tasikmalaya tahun 1930-an.

Redaktur : A. Khoirul Anam

Penulis    : Abdullah Alawi

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Budaya, Tegal Haedar Nashir

Minggu, 27 September 2015

Pendidikan Banser di Wedarijaksa Terus Disempurnakan

Pati, Haedar Nashir - Pembukaan Diklatsar dilakukan pada Kamis (24/3) siang dengan upacara yang diikuti oleh Banser, panitia, Muspika, GP Ansor se-Kabupaten Pati, dan para kiai. Pendidikan yang diselenggarakan oleh GP Ansor Wedarijaksa Kabupaten Pati ini menggunakan kurikulum standar PP GP Ansor.

Kasatkorcab Banser X-7 Pati Imam Syafii memberikan beberapa instruksi terkait dengan pembinaan yang nanti akan diberikan kepada para peserta diklat. "Ada kurikulum yang telah ditetapkan dari pusat berkaitan dengan pelatihan dan pendidikan Banser sekarang," ungkapnya.

Pendidikan Banser di Wedarijaksa Terus Disempurnakan (Sumber Gambar : Nu Online)
Pendidikan Banser di Wedarijaksa Terus Disempurnakan (Sumber Gambar : Nu Online)

Pendidikan Banser di Wedarijaksa Terus Disempurnakan

Diklat kali, menurut Syafi’I, berbeda dari diklat sebelumnya karena? calon-calon Banser nantinya akan dididik menjadi pengawal loyal NU yang mampu menjadi benteng dan sekaligus sebagai penggerak organisasi terbesar di dunia.

Haedar Nashir

Peserta tercatat sudah mencapai 93 orang dari target peserta 70 orang. "Kebanyakan memang berasal dari Kecamatan Wedarijaksa tetapi tidak sedikit yang berasal dari luar wilayah Wedarijaksa," kata Ketua Panitia Diklatsar GP Ansor Wedarijaksa Ahmad Halimi.

"Peserta diklat memang sengaja kami batasi, karena terbatasnya tempat," imbuhnya.

Haedar Nashir

GP Ansor Wedarijaksa mengadakan diklat tidak hanya karena perintah dari GP Ansor Pati tetapi karena usulan ranting yang meminta untuk segera mengadakan pengkaderan Banser.

"Adanya Banser di tiap ranting akan menumbuhkan rasa nasionalisme yang tinggi di wilayah ranting tersebut," kata salah seorang pemimpin ranting Wedarijaksa. Pergerakan Banser sebagai benteng ulama sekaligus pasukan bela Negara dan ulama telah memberikan ruang gerak positif untuk perkembangan gerakan-gerakan Islam yang ada di ranting. (Hasanudin/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Kajian Sunnah, Sunnah, Tegal Haedar Nashir