Rabu, 13 Januari 2016

Ansor Banjar Kecam Propaganda Khilafah

Banjar, ? Haedar Nashir



Ketua Gerakan Pemuda (GP) Ansor Kota Banjar, Mamun Syarif, mengecam keras bahaya laten propaganda khilafah yang dikumandangkan oleh salah satu organisasi Islam. Menurutnya, hal tersebut sangat bertentangan dengan Pancasila serta UUD 1945.

Ansor Banjar Kecam Propaganda Khilafah (Sumber Gambar : Nu Online)
Ansor Banjar Kecam Propaganda Khilafah (Sumber Gambar : Nu Online)

Ansor Banjar Kecam Propaganda Khilafah

"Sungguh ironis mereka dibiarkan berkembang biak di negara yang multikultural ini. Padahal, sudah jelas ideologi yang menganut sistem Khilafah tidak menerima Pancasila sebagai ideologi negara. Kami akan bertindak tegas gerakan mereka," tandasnya kepada Haedar Nashir usai tahlil dan potong tumpeng dalam peringatan hari lahir (Harlah) GP Ansor bersama ratusan kader Ansor dan Banser di Sekretariat GP Ansor kecamatan Langensari, Kota Banjar, Sabtu (23/04/2016).

Mamun menyebutkan pernyataan tersebut bukan tanpa alasan, tetapi berdasarkan instruksi Pengurus Pusat GP Ansor untuk memerangi paham yang terindikasi merongrong Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) melalui berbagai propaganda yang mereka lakukan.

"Selain kami tetap memperkuat kader, juga pencabutan spanduk maupun bentuk propaganda lainnya yang dilakukan oleh mereka dengan tetap melakukan koordinasi dengan pihak keamanan. Apapun konsekuensinya kami sudah mempersiapkan, yang terpenting NKRI harga mati, bukan khilafah," pungkasnya.

Ditempat yang sama, Ihsan Hanafi, Ketua GP Ansor Kecamatan Langensari, Kota Banjar, menyatakan hal senada. Menurutnya, yang diberantas bukanlah orangnya, akan tetapi paham yang mengarah perongrongan NKRI melalui propaganda sistem khilafah.

Haedar Nashir

"Antar sesama manusia kita tetap harus menghormati sebagai makhluk ciptaan Alloh SWT. Akan tetapi kami punya sikap kepada organisasi manapun yang upaya berupaya merusak keutuhan NKRI. Mereka sudah jelas menolak Pancasila sebagai ideologi Negara Indonesia. Saya harap pemerintah pun jangan tinggal diam, kami prihatin sampai saat ini masih dibiarkan mereka berkembang," tegasnya.

Ihsan menambahkan, adanya terorisme yang ada di Indonesia tidak lepas dari paham yang mengatasnamakan khilafah. Parahnya, ISIS yang meresahkan dunia pun menggunakan semboyan khilafah.

"Jangan sampai paham radikal tersebut tumbuh subur. Jika tetap dibiarkan, saya yakin Negara Indonesia akan hancur seperti Suriah dan Irak," pungkasnya. (Muhafid/Mukafi Niam)

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir

Haedar Nashir Pahlawan Haedar Nashir

Minggu, 10 Januari 2016

PBNU Usulkan 22 Oktober Sebagai Hari Santri

Bogor, Haedar Nashir. Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Said Aqil Siroj mengusulkan bahwa ? rencana penetapan Hari Santri Nasional (HSN) sebaiknya tanggal 22 Oktober.

PBNU Usulkan 22 Oktober Sebagai Hari Santri (Sumber Gambar : Nu Online)
PBNU Usulkan 22 Oktober Sebagai Hari Santri (Sumber Gambar : Nu Online)

PBNU Usulkan 22 Oktober Sebagai Hari Santri

“Saya dari NU merekomendasikan hari santri adalah tanggal 22 Oktober,” tegasnya saat menjadi pembicara pada Focus Group Discussion (FGD) Pendidik dan Kependidikan Keagamaan, Bogor, Kamis (23/04) malam seperti dilansir oleh kemenag.go.id.

Kiai Said mengaku kurang setuju dengan wacana penetapan HSN pada tanggal 1 Muharram. Sebab, lanjutnya, tahun baru Hijriyah merupakan hari di mana seluruh umat muslim dunia memperingati tahun baru Islam tersebut.

Haedar Nashir

Moment yang pas, lanjut Kiai Said, ialah hari yang mempunyai kekhasan histrois dalam konteks perjuangan Indonesia. Dikatakan Kiai yang dulunya merupakan santri alumni Pesantren Lirboyo ini, peranan santri dalam mempertahankan kemerdekaan bangsa Indonesia sungguh luar biasa. ? Dalam peran itu, ada sebuah momentum penting dalam sejarah perjuangan dan pembelaan kaum santri untuk Indonesia. Momentum itu terjadi pada tanggal 22 Oktober 1945 ketika lahir Resolusi Jihad oleh KH Hasyim Asyari bersama ulama-ulama dari perwakilan berbagai organisasi masyarakat lainnya di luar NU, seperti Syarikat Islam dan Muhammadiyah.?

Haedar Nashir

“Saat itu, Mbah Hasyim mengajak santri agar menyambut kedatangan pasukan NICA dengan darah dan nyawa,” tukasnya dalam acara dengan tema ‘Hari Santri dalam Perspektif Lembaga Keagamaan’.

Sebelumnya, Kiai Said menjeskan bahwa jauh sebelum Indonesia merdeka sudah ada santri yang dari waktu ke waktu jumlahnya terus berkembang sampai akhirnya mampu mendirikan kerajaan Islam Demak Bintoro.?

Penetapan Kiai Said tentang hari santri pada 22 Oktober, bukan pada 1 Muharram ini diamini oleh Sekjen PBNU H Marsudi Syuhud.

“Satu Muharram itu sudah diperingati di seluruh dunia. Ini kan untuk Indonesia, ya harus momen Indonesia. Dasarnya harus suatu peristiwa besar, antara lain Resolusi Jihad yang kemudian memberi semangat peristiwa bersejarah 10 November di Surabaya.”?

“Jelas, ini untuk mengingatkan bahwa republik ini dibikin umat Islam, tentu dengan kelompok yang lainnya, tapi darah yang mengalir banyak darahnya santri.”

Ia berharap penetapan Hari Santri ini dilakukan secepat mungkin mengingat penetapan Hari Santri merupakan janji yang disampaikan oleh Joko Widodo waktu dalam kampanye menjadia calon presiden sehingga harus ditepati. (mukafi niam)

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Ubudiyah Haedar Nashir

Selasa, 05 Januari 2016

Melalui Guru, Kemenag Dorong Budaya Damai Pendidikan Agama

Semarang, Haedar Nashir. Guru agama mempunyai tanggung jawab yang sangat berat, terutama dalam menanamkan moralitas, kesantunan, budi luhur dan kecerdasan. Selain itu, guru agama juga mempunyai kewajiban dalam menjaga keutuhan negara Indonesia dengan kedamaian dan kerukunan.

Demikian isi pidato Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo dalam pembukaan Dialog Lintas Guru Agama yang diselenggarakan Puslitbang Pendidikan Agama dan Keagamaan Balitbang dan Diklat Kemenag RI di Hotel Kesambi Semarang, Rabu (6/5/2015) malam.

Melalui Guru, Kemenag Dorong Budaya Damai Pendidikan Agama (Sumber Gambar : Nu Online)
Melalui Guru, Kemenag Dorong Budaya Damai Pendidikan Agama (Sumber Gambar : Nu Online)

Melalui Guru, Kemenag Dorong Budaya Damai Pendidikan Agama

Dalam pidato gubernur yang dibacakan Asisten Kesra Budi Wibowo ini juga ditegaskan mengenai pentingnya guru agama diberi amunisi agama yang cinta damai. Selama ini, muatan pendidikan agama hanya bersifat normatif-kognitif dengan menanamkan satu keyakinan bahwa agamanya yang paling benar.

Haedar Nashir

“Soal ritual, memang benar bahwa ‘agamaku adalah agamaku’ dan ‘agamu adalah agamamu’. Namun dalam makna luas, agama merupakan ajaran yang menanamkan nilai multikultural dan kebersamaan dengan mengedepankan dialog,” ujar Budi.

Dalam laporannya selaku Kepala Puslitbang Pendidikan Agama dan Keagamaan, Dr HM Hamdar Arraiyyah mengatakan, untuk mengakomodasi terwujudnya budaya damai melalui pendidikan agama, Kementerian Agama mengupayakan budaya dialog lintas guru agama. “Kemenag punya tanggungjawab besar dalam mendorong guru agama untuk memberikan ilmu positif tentang agama berwawasan damai,” tegas Hamdar.

Haedar Nashir

Melengkapi pandangan Kapuslitbang, Kepala Badan Litbang dan Diklat Kementerian Agama Prof H Abdurrahman Mas’ud MA PhD menegaskan pentingnya harmoni agama. “Sekolah harusnya menjadi agen perdamaian. Namun, dalam kenyataannya belum semua sekolah mampu menjadi agen perdamaian yang tepat,” ujarnya.

Menurut Rahman, sapaan akrabnya, masih ditemukan sekolah yang belum bisa menghargai perbedaan, sehingga memicu intoleransi dan ketidakharmonisan. Oleh sebab itu, potensi besar sekolah dalam menjaga perdamaian perlu dikedepankan.

“Satu hal yang harus diperkuat adalah guru agama dibekali dengan cross culture understanding, multiculture of education dan metode-metode pembelajaran agama yang modern. Dengan pola itu, niscaya agama jauh dari konflik,” tandasnya.

Salah seorang peserta dialog, M Rikza Chamami, dalam rilis yang dikirimkan kepada Haedar Nashir mewartakan bahwa dialog lintas guru agama tersebut rencananya digelar mulai Rabu-Jumat, 6-8 Mei 2015. “Acara ini diikuti 150 peserta. Mereka antara lain peneliti, unsur majelis agama, pengawas sekolah, dan guru agama dari enam agama resmi di republik ini,” tulis Rikza. (Musthofa Asrori/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Nahdlatul Ulama, Hadits Haedar Nashir

Selasa, 22 Desember 2015

Pemikiran Islam Lokal Tuan Guru Bengkel

Muktamar ke-33 di Kota Santri Jombang merupakan momentum untuk menjadikan Nahdlatul Ulama sebagai organisasi keagamaan yang berpegang teguh pada Islam yang wasathiyah (moderat), Islam Nusantara, Islam yang hidup ditengah-tengah ke-Bhineka-an. Tema yang diusungkan dalam Muktamar tersebut adalah Meneguhkan Islam Nusantara untuk Peradaban Indonesia dan Dunia. Tema ini menegaskan komitmen NU untuk memajukan peradaban dari Indonesia untuk dunia dengan pendekatan yang harmonis (pendekatan agama, sosial) secara kultural dan dalam konteks ini NU sejak didirikan, sekarang, dan seterusnya akan mendukung peradaban.

Tema itu juga sejalan dengan doktrin Islam Aswaja Annahdliyyah yang sering diperdengarkan oleh organisasi Nahdlatul Ulama bertujuan agar hubungan antar manusia bisa bersikap tawasuth (moderat), tawazun (berimbang), i’tidal (tegak lurus dalam prinsip), dan tasamuh (toleransi). Hal ini sesungguhnya implementasi dari al-maslahah al-mu’tabarah (hifd din, nafs, ’aql, nasl, dan mal). Ketika lima tujuan ajaran universal Islam ini diintegrasikan dengan empat pilar kebangsaan, maka Indonesia sebagai sebuah negara dan bangsa akan menjadi negara yang maju dan berperadaban.

Terminologi “Islam Nusantara” mendapatkan respon yang hangat baik pro dan kontra atas istilah tersebut, di luar itu muncul banyak pendapat dan argumen untuk menegaskan bahwa istilah “Islam Nusantara” bukanlah model Islam atau aliran baru akan tetapi sebuah istilah yang memang hadir atas realita bahwa Islam di Indonesia adalah agama yang hidup di tengah-tengah agama-agama lain. Di luar perdebatan tersebut, layak untuk dibaca buku baru yang terbit awal tahun 2016 dengan judul Pemikiran Islam Lokal TGH. M. Shaleh Hambali Bengkel.



Pemikiran Islam Lokal Tuan Guru Bengkel (Sumber Gambar : Nu Online)
Pemikiran Islam Lokal Tuan Guru Bengkel (Sumber Gambar : Nu Online)

Pemikiran Islam Lokal Tuan Guru Bengkel



Buku ini hadir menguraikan sejarah perjalanan intelektual seorang ulama dan tokoh besar Lombok NTB. TGH. M. Shaleh Hambali yang selanjutnya lebih dikenal dengan nama Tuan Guru Bengkel (Bengkel merupakan nama sebuah desa tempat kelahiran dan dimakamkan TGH. M. Shaleh Hambali) merupakan salah satu perintis kebangkitan Islam di Lombok awal abad 20 dan merupakan Rais Syuriah pertama NU NTB. Tuan Guru Bengkel juga merupakan salah satu tokoh yang memformulasikan dakwahnya melalui tulisan atau seperti yang diistilahkan penulis buku “Era Fatwa” menuju “Era Baca”.?



Haedar Nashir



Tuan Guru Bengkel dalam beberapa pemikiran dan fatwanya sering dianggap kontroversi karena beberapa pandangannya dalam persoalan agama berbeda dengan ulama pada masanya. Buku ini merupakan hasil penelitian yang didasari pada tugas akhir (disertasi) penulis ketika menempuh doktor di bidang Islamic Studies di UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta.?

Pemikiran-pemikiran Tuan Guru Bengkel dibagi menjadi tiga tema bidang pemikiran yaitu bidang tauhid, fiqih dan bidang tasawuf. Pemikiran Tuan Guru Bengkel dalam persoalan tauhid merepresentasikan bahwa Tuan Guru Bengkel adalah ulama yang memegang paham ahl-Sunnah wa al-Jama’ah An-Nahdlyah. Tema yang disajikan merupakan tema besar yang menjadi perhatian ulama ahl-Sunnah wa al-Jama’ah diantaranya 1) Masalah sifat Allah dan para rasul-Nya, 2) Masalah kekuasaan Allah dan perbuatan manusia, dan 3) Masalah keimanan dan keislaman (hal 134).

Haedar Nashir

Adapun dalam bidang fiqih merupakan bidang kajian yang banyak menjadi bahan diskusi karena dianggap kontroversi, diantaranya masalah mati syahid dunia akhiratnya salah satu tokoh yang meninggal disebabkan oleh perisean. Perisean merupakan sebuah tradisi dalam masyakarat Sasak dimana dua orang pepadu saling mengadu ketangkasan (halaman 228). Masalah kedua yang dianggap kontroversi ? adalah tidak adanya Sorong Serah dalam perkawinan (halaman 238). Sorong Serah merupakan upacara yang dilakukan untuk membayar harga seorang perempuan dalam tradisi adat Sasak. Perkara lain dalam bidang fiqih adalah karya Tuan Guru Bengkel tentang haji yang terdapat dalam kitab Jamuan Tersaji pada Manasik Haji. Kitab ini menyajikan masalah haji lengkap yang diawali penjelasannya tentang masalah rukun Islam yang lima dan rukun iman yang enam.

Sedangkan dalam bidang tasawuf, ? Tuan Guru Bengkel mengajarkan salah satu bidang tasawuf yaitu tarekat. Tarekat yang dikembangkan adalah tarekat Qadiriyah Naqsabandiyah Khalwatiyah. Selain tarekat, topik pembahasan yang masih dalam kajian tasawuf adalah masalah lagu atau nyanyian dan tarian. Tuan Guru Bengkel menulis masalah ini dalam kitab Luqthatul Jawharah? yang ditulis pada tahun 1933. Kitab lainnya yang ditulis adalah tentang tasawuf, Cempaka Mulia Perhiasan Manusia, Intan Berlian Perhiasan Laki Perempuan, dan Permaiduri.?





Walhasil bahwa buku karya Adi Fadli tentang sosok Tuan Guru Bengkel menjadi bahan bacaan dan kajian awal bahwa betapa produktifnya ulama yang hidup diparo abad ke-20 yang dianggap sebagai tokoh sang pembaru dalam model dakwah yaitu bil lisan, bil kitabah, dan bil hal. Selain itu buku ini menambah khazanah pengetahuan kita tentang teori masuknya Islam ke Lombok. Dalam penelitian Adi Fadli ini menjelaskan bahwa Islam masuk ke Lombok dengan tiga teori.?

Buku ini seperti yang dikatakan salah satu Guru Besar Sejarah UGM dalam pengantarnya layak untuk menjadi bacaan khalayak ramai, khususnya bagi mereka yang menggeluti kajian sejarah Islam di Indonesia, atau Islam di Nusantara, maupun sejarah lokal. Selain itu mereka yang tertarik pada persoalan sejarah keagamaan, sejarah sosial-budaya, dan segi-segi lainnya perlu untuk menjadikan buku ini sebagai salah satu referensi penting.

Info Buku

Judul Buku : Pemikiran Islam Lokal TGH. M. Shaleh Hambali Bengkel

Penulis : Adi Fadli

Penerbit ? ? ? ? ? : Pustaka Lombok?

Cetakan ? ? ? ? ? : i, 2016

Tebal ? ? ? ? ? : xxvi – 358

Peresensi

Retno Sirnopati





Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Meme Islam, Nahdlatul Haedar Nashir

Rabu, 16 Desember 2015

PCINU Sudan Sambut Mahasiswa Baru 2015-2016 Asal Indonesia

Khartoum, Haedar Nashir. PCINU Sudan berhasil mendatangkan rombongan mahasiswa-mahasiswi baru dari Indonesia. Rombongan yang terdiri atas 12 mahasiswa dan 7 mahasiswi ini mendarat dengan selamat di bandara Khartoum pada Ahad (30/8) dini hari.

PCINU Sudan Sambut Mahasiswa Baru 2015-2016 Asal Indonesia (Sumber Gambar : Nu Online)
PCINU Sudan Sambut Mahasiswa Baru 2015-2016 Asal Indonesia (Sumber Gambar : Nu Online)

PCINU Sudan Sambut Mahasiswa Baru 2015-2016 Asal Indonesia

Rombongan ini disambut hangat oleh para pengurus Syuriyah, Tanfidziyah, dan segenap warga PCINU Sudan.

Ketua Lembaga Kaderisasi Nahdlatul Ulama’ Sudan (LKNU) Istikhori Akhyar menegaskan bahwa selama proses dalam mendatangkan para mahasiswa baru dari mulai mengirim berkas dan lainnya berjalan dengan mulus tanpa ada halangan.

Haedar Nashir

Alhamdulillah semua proses berjalan dengan lancar, dan semua para mahasiswa-mahasiswi baru mendapatkan qabul khas yang berarti mereka semua sudah terdaftar menjadi mahasiswa di International University of Africa,” kata Istikhori.

Haedar Nashir

Sementara pada sambutan di sekretariat PCINU Sudan pukul 9 malam pada Ahad, Rais Syuriyah PCINU Sudan Shidiq Ismanto memberikan motivasi kepada para mahasiswa baru untuk selalu aktif dan giat dalam menuntut ilmu.

“Kita semua sekarang sudah berada jauh dari keluarga, rumah, dan kampung halaman, dan tak sepatutnya bagi kita untuk bersantai di sini. Kita semua adalah kader-kader NU di masa depan,” tegas Shidiq Ismanto.

Kini para mahasiswi baru telah mendapatkan asrama masing-masing. Untuk sementara waktu para mahasiswa masih bertempat tinggal di Sekretariat PCINU Sudan, sambil menunggu kabar dari pihak asrama universitas yang sedang diusahakan oleh lembaga kaderisasi. (Yerri Syaf/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Pemurnian Aqidah, Cerita, Kajian Islam Haedar Nashir

Senin, 07 Desember 2015

Mahasiswa KKN Unusia Fasilitasi Warga Lakukan Itsbat Nikah

Bogor, Haedar Nashir. Pernikahan tanpa melalui Kantor Urusan Agama (KUA) masih menjadi problem di tengah masyarakat. Problem ini menjadikan mereka tidak terdaftar sehingga belum memiliki surat-surat nikah.

Permasalahan ini ditangkap oleh mahasiswa Universitas Nahdlatul Ulama Indonesia (Unusia) Program Studi Ahwalus Syakhsiyah untuk memfasilitasi Sidang Itsbat Nikah, Jumat (8/9) dalam kegiatan Kuliah Kerja Nyata (KKN) di Kampung Cisuuk, Desa Cibeuteung Udik, Kecamatan Ciseeng, Kabupaten Bogor, Jawa Barat.

Mahasiswa KKN Unusia Fasilitasi Warga Lakukan Itsbat Nikah (Sumber Gambar : Nu Online)
Mahasiswa KKN Unusia Fasilitasi Warga Lakukan Itsbat Nikah (Sumber Gambar : Nu Online)

Mahasiswa KKN Unusia Fasilitasi Warga Lakukan Itsbat Nikah

Dosen Pendamping KKN Unusia Hayaturrahman mengungkapkan, proses fasilitasi ini untuk kedua kalinya setelah KKN tahun 2016 lalu juga mengadakan sidang itsbat nikah di Kampung Pulo, Cibeuteung Udik yang diikuti oleh 25 pasangan nikah.

“Di Kampung Cisuuk ini diikuti oleh 45 pasangan nikah. Ini bagian dari praktik Tri Darma Perguruan Tinggi bidang pengabdian masyarakat,” jelas Hayaturrahman saat dikonfirmasi Haedar Nashir.

Haedar Nashir

Ia menjelaskan, proses advokasi ini mempunyai peran penting untuk kelangsungan masa depan warga terutama anak-anaknya. Mereka tidak mungkin bisa mengurus identitas kependudukan dan akte kelahiran anak jika belum mempunyai surat-surat nikah.

Sementara itu, Kepala Desa Cibeuteung Udik, Bambang Indra Gunawan mengungkpkan, sangat berterima kasih kepada pihak mahasiswa dan kampus Unusia yang telah mengfasilitasi program yang sangat dibutuhkan masyarakat ini. 

“Karena dengan itsbat nikah ini program pemerintah bisa sangat terbantu dalam mendukung program tertib administrasi dan berimplikasi pada peningkatan pelayanan pemerintah kepada keluarga yang bersangkutan,” ucap Bambang.

Sidang itsbat nikah ini dipimpin langsung oleh Hakim dari Pengadilan Agama Kabupaten Bogor dibantu beberapa anggotanya. Kegiatan ini juga dihadiri oleh sejumlah tokoh masyarakat setempat. (Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir

Haedar Nashir Warta, Sholawat, Nusantara Haedar Nashir

Kamis, 03 Desember 2015

Banyak Orang Tafsirkan Pancasila secara Sempit

Jakarta, Haedar Nashir - Direktur Eksekutif Lembaga Kajian Strategis Bangsa (LKSB) Abdul Ghopur menyatakan keprihatinannya melihat aksi-aksi intoleran yang belakangan marak. Menurutnya, para pelaku aksi intoleransi kadang mengatasnamakan Pancasila untuk aksi intoleransinya itu.

Demikian disampaikan Ghopur saat membuka seminar perdana Otokritik Indonesia perihal toleransi yang diselenggarakan LKSB di Gedung PBNU lantai 8, Jakarta, Jumat (16/12) siang.

Banyak Orang Tafsirkan Pancasila secara Sempit (Sumber Gambar : Nu Online)
Banyak Orang Tafsirkan Pancasila secara Sempit (Sumber Gambar : Nu Online)

Banyak Orang Tafsirkan Pancasila secara Sempit

Ia melihat adanya kesalahpahaman di kalangan pemuda terutama dalam hal berbangsa dan bernegara. Kesalahpahaman ini, menurutnya, dipicu oleh kurang maksimalnya transfer pengetahuan kebangsaan atau tidak menyebar secara merata di kalangan generasi muda saat ini.

“Tidak heran kalau itu penyebabnya banyak orang menafsirkan Pancasila secara sempit,” kata Ghopur yang juga Wakil Ketua PP Lesbumi.

Haedar Nashir

Sementara Ketua Presidium Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI) Crhisman Damanik menegaskan, banyak anak bangsa sekarang tercerabut dari akar historis Pancasila. Mereka kehilangan arah.

Haedar Nashir

“Mereka melakukan praktik-praktik sosial dan politik yang jauh dari cita-cita persatuan dan semangat keadilan sosial yang digariskan para pendiri bangsa Indonesia,” kata Chrisman.

Diskusi ini sebelumnya diberi sambutan oleh Wakil Ketua Umum PBNU Prof Dr M Maksum Machfoedz. Forum ini diikuti oleh puluhan aktivis pemuda yang tergabung dalam gerakan-gerakan kemahasiswaan dari pelbagai latar belakang agama. (Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Tegal Haedar Nashir