Senin, 06 Maret 2017

Rutin, PAC IPNU-IPPNU Baureno Galang Aksi Donor Darah

Bojonegoro, Haedar Nashir. Pimpinan Anak Cabang (PAC) IPNU-IPPNU Baureno Bojonegoro mengadakan kegiatan donor darah di kantor MWCNU kecamatan Baureno, Ahad (13/1). Kegiatan rutin ini didukung oleh Palang Mereh Indonesia (PMI) Cabang Bojonegoro.

Rutin, PAC IPNU-IPPNU Baureno Galang Aksi Donor Darah (Sumber Gambar : Nu Online)
Rutin, PAC IPNU-IPPNU Baureno Galang Aksi Donor Darah (Sumber Gambar : Nu Online)

Rutin, PAC IPNU-IPPNU Baureno Galang Aksi Donor Darah

Donor darah umum ini dimulai pada pukul 07.00 –12.00 WIB diikuti oleh pengurus, anggota, alumni dan juga masyarakat kecamatan Baureno.

Masyarakat mengikuti tahap demi tahap untuk lolos sebagai pendonor. Meski demikian, banyak juga yang tidak bisa mendonorkan darah mereka karena terkendala tensi yang terlalu tinggi atau terlalu rendah.

Haedar Nashir

Ali, staf unit transfusi darah PMI Bojonegoro dalam kesempatan itu mengatakan, donor darah sangat dianjurkan dilakukan untuk menjaga kebugaran tubuh dan meremajakan darah.

Ketua PAC IPNU Baureno Yajma’uddin mengatakan, donor darah ini merupakan kegiatan rutinan yang di adakan tiap  3 bulan sekali. Selain sebagai kegiatan sosial kegiatan ini juga sebagai ajang temu dengan alumni IPNU Baureno.

Haedar Nashir

“Saat ini sedang musim penghujan. Banyak sekali penyakit yang membutuhkan bantuan darah. Harapan kami kegiatan ini agar tetap eksis  sehingga dapat menumbuhkan jiwa sosial serta solidaritas yang tinggi bagi masyarakat,” katanya.

“Semoga solidaritas masyarakat semakin meluas di wilayah Baureno serta pendonor yang bisa bergabung lebih banyak lagi,” tambahnya.  

Redaktur: A. Khoirul Anam

Sumber   : PAC IPNU Baureno

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Habib, Olahraga Haedar Nashir

Jumat, 03 Maret 2017

Berkorban Tak Sekadar Berkurban

Oleh A Mustofa Bisri

Akhirnya setelah sekian lama mendambakan dan tak kunjung mempunyai anak, permohonan Nabi Ibrahim agar dianugerahi anak dikabulkan oleh Tuhannya. Allah menganugerahi seorang anak yang sabar. Ketika di anak sudah cukup dewasa untuk membantu ayahnya bekerja, tiba-tiba sang ayah memberitahukan bahwa ada isyarat Tuhan untuk menyembelih si anak. “Bagaimana pendapatmu?” kata sang ayah. Dengan tenang, si anak menjawab, “Ayahku, laksanakan saja apa yang diperintahkan kepada ayah. Insyaallah ayah akan mendapatkan anakmu ini tabah.”

Berkorban Tak Sekadar Berkurban (Sumber Gambar : Nu Online)
Berkorban Tak Sekadar Berkurban (Sumber Gambar : Nu Online)

Berkorban Tak Sekadar Berkurban

Ketika bapak-bapak itu bertekad bulat berserah diri sepenuhnya untuk melaksanakan perintah Allah dan Nabi Ibrahim telah merebahkan anak kesayangannya itu di atas pelipisnya, ketika itu pula keduanya membuktikan kepatuhan dan kebaktian mereka. Dan, Allah pun mengganti si anak dengan kurban sembelihan berupa kambing yang besar.

Meskipun ritual kurban (dengan “u”) konon sudah dilakukan sejak putra-putra Nabi Adam, Habil dan Qabil, peristiwa yang dituturkan dalam kitab suci Al Qur’an itulah yang menjadi dasar persyaratan kurban setiap Idul Adha (Hari Raya Kurban).

Haedar Nashir

Haedar Nashir

Nabi Ibrahim rela mengorbankan putranya dan putranya ikhlas dijadikan kurban demi Tuhan mereka. Bagi Nabi Ibrahim dan putranya, Tuhan adalah nomor satu. Allah adalah segalanya. Siapa pun dan apa pun tidak ada artinya dihadapan-Nya. Demi dan untuk-Nya, apa pun ikhlas mereka korbankan; sampai pun anak atau nyawa sendiri.?

Inti Berkurban

Jadi inti makna kurban di Hari Raya Kurban memang berkorban. Namun, lihatlah, bahkan untuk sekedar mengorbankan hewan, banyak orang mampu yang masih “menawar-nawar” atau menitipkan kepentingan sendiri sebagai “kompensasi”

Apakah mereka ini mengira bahwa kurban (daging ternak) itu benar yang “dituntut” Tuhan sebagai bukti kecintaan dan kebaktian? Tidak. Sama sekali bukan daging-daging dan darah-darah hewan itu yang mencapai Allah, melainkan ketakwaan. Pengorbanan. “Tidaklah darah dan daging hewan kurban itu sampai kepada Allah sebagai ketakwaanmu yang sampai kepada-Nya” (Al Qur’an22;37).

Pengorbanan tidak hanya menyembelih kurban. Pengorbanan adalah atau mestinya merupakan pantulan dari kecintaan dan kebaktian itu. Dari pengorbanan, bisa diukur seberapa dalam kecintaan dan seberapa agung kebaktian seseorang.

Kita bisa saja mengaku cinta atau mengabdi kepada pujaan kita. Kita bisa saja menyatakan hal yang mulia demi Tuhan, demi tanah air, demi rakyat, demi siapa atau apa pun yang kita cintai. Namun tanpa kesediaan kita berkorban untuknya, pernyataan itu tidak ada artinya.?

Bahkan ,jika kita menawar-nawar di dalam pengorbanan kita, kata “demi”-“demi” itu hanyalah omong kosong belaka. Dalam pengorbanan, tak ada perhitungan untuk rugi atau tuntutan kompensasi apapun. Dalam pengorbanan hanya ada ketulusan.

Hamba yang sungguh mencintai dan mengabdi kepada Allah seperti Nabi Ibrahim dan putranya, akan siap dan rela berkorban apa pun, yang paling berharga, atau yang remeh, termasuk ego dan kepentingan sendiri-bagi dan demi Tuhannya. Demi melaksanakan perintah dan menjauhi larangan-Nya, hamba yang sungguh mencintai dan mengabdi Tuhannya siap dan rela mengalahkan egonya dan mengesampingkan kepentingan sendiri.

Apabila Tuhan, misalnya melarang perbuatan merusak, hamba yang sungguh mencintai dan mengabdi Tuhannya akan menghindari perbuatan perusak meski bertentangan dengan kehendaknya. Dia misalnya, tak akan melakukan perbuatan korupsi, tidak melakukan tindakan teror, tidak berurusan dengan narkoba, dan tindakan merusak lainnya, meski dirinya merasa berkepentingan untuk melakukan hal itu.?

Pemimpin berkorban

Warga negara yang sungguh mencintai dan mengabdi tanah arinya akan dengan sendirinya siap dan rela berkorban apa saja bagi dan demi tanah airnya, meski tidak pernah menyatakannya. Sebaliknya, mereka yang sering menyatakan cinta tanah air, tetapi tidak sudi mengorbankan sedikit waktu dan pikiran untuk kepentingan tanah airnya, jelas mereka pembohong besar.

Pemimpn yang selalu menyatakan diri sebagai abdi rakyat, tetapi tidak pernah rela berkorban meski sekedar waktu dan perhatian untuk rakyat, bahkan lebih sering mengorbankan rakyat, cepat atau lambat pasti akan ketahuan palsunya dan rakyat akan mencampakkannya.

Akhirnya, Idul Adha atau Hari Raya Kurban juga sering disebut Lebaran Haji. Pada Saat itu memang kaum Muslimin yang mampu sedang melaksanakan ibadah haji di Tanah Suci.

Satu satunya ibadah dan rukun Islam yang di negeri ini ditangani secara “serius” oleh pemerintah. Ibadah ini pun memerlukan pengorbanan yang tidak kecil. Masih di Tanah air, jemaah calon haji sudah harus mengorbankan waktu, harta, tenaga, pikiran sering kali juga ? perasaan.

Dalam ritual haji, kaum Muslimin diingatkan dengan peragaan diri tentang kehambaan, kesetaraan, dan kefanaan manusia; bahkan tentang hari kemudian. Dengan demikian, jika itu semua dihayati, akan atau semestinya dapat menguban sikap dan perilaku mereka. Konon salah satu tanda haji mabrur, yang pahalanya tiada lain: surga, ialah merubahan sikap perilaku.?

Yang sebelum haji malas beribadah, misalnya, sesudahnya menjadi rajin. Sebelumnya sangat, sesudahnya santun. Sebelumnya korup, sesudahnya jujur. Demikian seterusnya. Bukan yang sebelum dan sesudah haji tetap saja sikap perilakunya atau malahan lebih buruk lagi.

Wallahualam. Selamat Hari Raya Kurban, Selamat Lebaran Haji

* Wakil Rais Aam PBNU

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Tokoh, IMNU, Lomba Haedar Nashir

Rabu, 01 Maret 2017

Gus Sholah Ajak Santri Kampanyekan Makan Ikan

Jombang, Haedar Nashir. Tingkat konsumsi masyarakat terhadap protein masih memprihatinkan. Karenanya, diperlukan peran berbagai kalangan agar menambah konsumsi protein ? lewat makan ikan menjadi salah satu tradisi di masyarakat.

Ajakan tersebut disampaikan Pengasuh Pesantren Tebuireng Jombang, KH Salahuddin Wahid. Dalam pandangan Gus Sholah, sapan akrabnya, peran tersebut dapat diambil ? d oleh santri untuk turut berperan aktif mengkampanyekan budaya makan ikan di tengah masyarakat.

Salah satu caranya, kata Gus Sholah, adalah dengan meningkatkan budidaya perikanan air tawar berbasis pesantren. Dengan meningkatnya budaya makan ikan, diharapkan akan turut meningkatkan konsumsi protein masyarakat.

Gus Sholah Ajak Santri Kampanyekan Makan Ikan (Sumber Gambar : Nu Online)
Gus Sholah Ajak Santri Kampanyekan Makan Ikan (Sumber Gambar : Nu Online)

Gus Sholah Ajak Santri Kampanyekan Makan Ikan

Hal itu disampaikan Gus Sholah saat membuka Pelatihan Pembesaran Ikan Lele dengan Sistem Bioflok di Gedung Diklat Pesantren Tebuireng II di Desa Jombok, Kecamatan Ngoro, Jombang, Senin (24/7) awal pekan ini. Pelatihan yang diikuti peserta dari beberapa pesantren di Jombang ini merupakan kerjasama antara Pesantren Tebuireng dengan Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP), dengan menghadirkan instruktur dari Balai Pelatihan dan Penyuluhan Perikanan (BPPP) Banyuwangi.

Gus Sholah menuturkan, pelatihan yang telah diikuti empat angkatan ini merupakan tindak lanjut dari kunjungan Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pudjiastuti pada pertengahan November 2016 lalu. "Saat itu, Bu Susi mengajak Pesantren Tebuireng untuk turut berperan aktif membantu pemerintah dalam kampanye budaya makan ikan dan menantang para santri untuk merintis usaha budidaya ikan air tawar," ungkap Gus Sholah.

Usai pembukaan pelatihan untuk angkatan ketiga dan keempat tersebut, para peserta juga diajak mengikuti panen perdana hasil kegiatan peserta pelatihan angkatan sebelumnya. Panen perdana dipimpin oleh Nyai Hj. Farida Salahuddin (istri Gus Sholah) didampingi beberapa pejabat dari BPPP Banyuwangi dan Dinas Perikanan Jombang.

Haedar Nashir

Kepada para santri, Nyai Farida berpesan agar kepercayaan sekaligus tantangan yang diberikan oleh KKP dapat dijaga dengan baik dan amanah. "Minimal, hasil budidaya ikan lele ini nanti harus bisa memenuhi kebutuhan Jasa Boga di Pesantren Tebuireng. Jadi, pondok tidak perlu lagi memesan ikan lele dari luar," harapnya.

Mudir Pesantren Tebuireng Lukman Hakim menuturkan, ikan lele yang dipanen secara perdana merupakan hasil budidaya peserta pelatihan angkatan pertama dan kedua. "Secara keseluruhan, sudah ada 120 orang yang ikut pelatihan. Mereka berasal dari Pesantren Tebuireng dan sembilan pesantren lainnya," ungkap pria kelahiran Banten ini.

Saat ini, tutur Lukman, Pesantren Tebuireng sedang menyiapkan 24 buah kolam lele berdiameter tiga meter bantuan dari KKP. "Mulai awal Agustus, akan ada 40 kolam yang dikelola untuk usaha budidaya ikan lele," ujarnya. (Ibnu Nawawi/Abdullah Alawi)

Haedar Nashir

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir RMI NU Haedar Nashir

Minggu, 26 Februari 2017

Soal Muadalah, Pemerintah Tak Perlu Paksakan Standarisasi

Jakarta, Haedar Nashir

Terkait satuan pendidikan muadalah, Pemerintah seyogianya tidak memaksakan standarisasi pendidikan keagamaan, melainkan mendorong pesantren untuk mengembangkan dan mempertahankan secara mandiri sesuai ciri kekhasan masing-masing satuan pendidikan.

Soal Muadalah, Pemerintah Tak Perlu Paksakan Standarisasi (Sumber Gambar : Nu Online)
Soal Muadalah, Pemerintah Tak Perlu Paksakan Standarisasi (Sumber Gambar : Nu Online)

Soal Muadalah, Pemerintah Tak Perlu Paksakan Standarisasi

Demikian salah satu butir rekomendasi hasil riset Penyelenggaraan Satuan Pendidikan Muadalah di Pondok Pesantren yang dilakukan Pusat Penelitian dan Pengembangan Pendidikan Agama (Puslitbang Penda) Badan Litbang dan Diklat Kementerian Agama tahun 2015.

Dalam penelitian pada 11 pesantren yang tersebar di empat provinsi, yakni Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, dan DI Yogyakarta ditemukan bahwa masing-masing pesantren, baik model salafiyah maupun Kulliyatul Muallimin Islamiyah (KMI), memiliki karakter tersendiri.



Haedar Nashir

Secara kurikulum, tujuh penyelenggara pendidikan muadalah salafiyah berbasis kitab kuning, sementara empat penyelenggara lainnya berbasis pada dirasah islamiyah. Dari segi pendidikan umum, model muallimin telah terpenuhi dan bahkan melampaui dari apa yang dipersyaratkan, sementara model salafiyah relatif hanya sebagian saja yang terpenuhi lantaran mereka mengembangkan istilah tersendiri. Belum ada standar yang sama soal kurikulum pendidikan umum.

Menurut hasil penelitian ini, kurikulum pendidikan umum merupakan salah satu masalah yang perlu diatasi, di samping juga kompetensi pendidik pelajaran umum, tenaga kependidikan pustakawan, pembiayaan, dan akreditasi.  Gap atau kesenjangan antara realitas dan idealitas sekaligus menjadi daftar kebutuhan yang perlu dipenuhi.

Haedar Nashir

Karena itu, riset juga merekomendasikan agar pemerintah perlu segera membuat pedoman penyusunan standar isi mata pelajaran pendidikan umum khas bagi satuan pendidikan muadalah yang berbeda dengan standar isi satuan lainnya.

Dalam aspek penilaian dan kelulusan, penyelenggara muadalah bisa dikatakan telah melakukan proses-proses penilaian dengan tahapan yang sesuai standar: penilaian harian, mid semester, semester dan ujian muadalah. 

Untuk meningkatkan kajian keislaman, Puslitbang Penda juga mengusulkan agar Pemerintah selain menganggarkan untuk ruang perpustkaan perlu juga memfasilitasi pengadaan kitab-kitab keislaman dan memberikan akses berlangganan bahan/kitab rujukan kontemporer dari berbagai perguruan tinggi di Timur Tengah maupun Barat.

Dalam hal pengelolaan, perlu dilakukan penyusunan pedoman pengelolaan pendidikan satuan muadalah yang aplikatif dan mudah dilakukan. Namun, unsur intervensi pemerintah juga tidak terlalu menonjol. Sebelum diterbitkan pedoman perlu disosialisasikan terlebih dahulu kepada pesantren. (Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Khutbah, Anti Hoax Haedar Nashir

PBNU Sambut Baik Pengakuan Negara atas Legalitas Ma’had Aly

Jakarta, Haedar Nashir. Selama ini Ma’had Aly merupakan pendidikan tingkat tinggi khas pesantren yang konsisten mengajarkan ilmu-ilmu agama berbasis kitab kuning. Oleh Karena itu, Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) tentu menyambut baik pengakuan negara atas legalitas Ma’had Aly.

PBNU Sambut Baik Pengakuan Negara atas Legalitas Ma’had Aly (Sumber Gambar : Nu Online)
PBNU Sambut Baik Pengakuan Negara atas Legalitas Ma’had Aly (Sumber Gambar : Nu Online)

PBNU Sambut Baik Pengakuan Negara atas Legalitas Ma’had Aly

Hal ini disampaikan oleh Wakil Ketua Umum PBNU KH M. Maksoem Mahfoedz saat menghadiri Halaqah Nasional Penyusunan Kerangka Kurikulum Ma’had Aly yang digelar Direktorat Pendidikan Diniyah dan Pondok Pesantren Kemenag dengan menggandeng Lakpesdam PBNU, Kamis (2/6) di The Media Hotel Jakarta.

Konsekuensi dari legalitas tersebut, lanjut Maksoem, Ma’had Aly harus merumuskan berbagai standar, kualifikasi, dan kurikulum agar eksistensinya menemukan relevansi dan signifikansi. “Siginifikansi inilah yang menjadikan peran Ma’had Aly sesuai dengan perubahan masyarakat di era global,” ujar Guru Besar UGM ini.

Dia juga menegaskan bahwa lulusan Ma’had Aly merupakan produk pendidikan tinggi khas pesantren. Sebab itu, Prinsip kemandirian dan pemahaman Islam secara substantif harus terus dipertahankan.

Dalam konteks penyusunan kurikulum, Maksoem menerangkan bahwa kurikulum sepenuhnya menjadi kewenangan lembaga tersebut. Namun demikian, pemerintah dan pihak-pihak terkait juga perlu memberikan atau mengusulkan kerangka sehingga Ma’had Aly tetap menemukan relevansinya dengan perubahan sosial masyarakat.

Haedar Nashir

Hadir beberapa tokoh penting dalam halaqoh ini diantaranya, Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin, Wakil Rais Aam PBNU KH Miftahul Akhyar, Rais Syuriyah PBNU KH Masdar Farid Mas’udi, Ketua PP Lakpesdam PBNU H Rumadi, Sekretaris Lakpesdam PBNU H Marzuki Wahid, Direktur Pendidikan Diniyah dan Pondok Pesantren Kemenag H Mohsen, A’wan PBNU Hj Sri Mulyati, dan beberapa pimpinan Ma’had Aly. (Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir

Haedar Nashir Tegal Haedar Nashir

Kamis, 23 Februari 2017

Bagaimana Status Syahadat Orang Bisu? (1)

Assalamu ‘alaikum wr. wb.

Redaksi Bahtsul Masail Haedar Nashir yang kami hormati, syarat orang yang masuk Islam adalah mengucapkan dua kalimat syahadat. Lantas bagaimana jika ada orang yang tidak bisa bicara atau bisu mau masuk Islam, apakah syahadat yang diucapkan melalui bahasa isyarat itu sudah dianggap sah sehingga orang tesebut dihukumi sebagai Muslim setelah mengucapkannya? Selanjutnya sebagai tambahan, apakah hukumnya belajar bahasa isyarat. Mohon penjelasannya, karena ada orang bisu yang non-Muslim hendak masuk Islam tetapi kebingungan bagaimana cara bersyahadatnya. Atas penjelasannya kami ucapkan terima kasih. Wassalamu ‘alaikum wr. wb. (Adi/Jakarta)

Bagaimana Status Syahadat Orang Bisu? (1) (Sumber Gambar : Nu Online)
Bagaimana Status Syahadat Orang Bisu? (1) (Sumber Gambar : Nu Online)

Bagaimana Status Syahadat Orang Bisu? (1)

Jawaban

Assalamu ‘alaikum wr. wb.

Penanya yang budiman, semoga selalu dirahmati Allah SWT. Ada dua pertanyaan yang diajukan kepada kami. Pertama mengenai syahadat orang yang bisu. Kedua mengenai hukum mempelajari bahasa isyarat. Dalam kesempatan ini kami akan menjawab pertanyaan yang pertama terlebih dahulu. Sedang untuk jawaban pertanyaan kedua insyaallah akan segera menyusul pada kesempatan berikutnya.

Haedar Nashir

Seorang non-Muslim yang hendak masuk Islam maka harus membaca dua kalimat syahadat sebagai bukti bahwa ia masuk Islam. Sampai di sini tidak ada kendala berarti. Namun kendala akan muncul manakala orang yang mau masuk Islam memiliki keterbatasan dalam berbicara seperti orang bisu sehingga ia tidak serta merta bisa mengucapkan dua kalimat syahadat yang dapat dipahami oleh pihak lain.

Karena keterbatasan ini maka yang dilakukannya adalah membaca dua kalimat syahadat dengan bahasa isyarat. Dari sini kemudian muncul pertanyaan, apakah syahadat orang bisu dianggap absah sebagai bukti ia masuk Islam?

Haedar Nashir

Para ulama telah sepakat bahwa Allah SWT tidak akan memberikan beban taklif kepada para hamba-Nya melebihi batas kemampuanya. Ini merupakan prinsip umum dalam hukum Islam dan merupakan bentuk karunia serta rahmat Allah SWT. Kesepakatan para ulama tersebut salah satunya didasarkan kepada firman Allah dalam Surat Al-Baqarah.

? ? ? ? ? ?

Artinya, “Allah tidak memberikan beban kepada seseorang kecuali sesuai dengan kesanggupannya,” (Surat Al-Baqarah ayat 286).

Salah satu contoh yang sudah maklum adalah kebolehan mengqashar, menjamak, dan tidak berpuasa bagi musafir dengan ketentuan yang telah ditetap oleh syara`. Seseorang yang sakit dan tidak bisa shalat dengan berdiri, maka diperbolehkan baginya shalat sambil duduk. Jika masih tidak bisa maka sambil tidur. Jika memang sudah tak sanggup dengan tidur, maka boleh dengan isyarat. Karena itu kemudian dikatakan dalam salah kaidah fikih bahwa “Al-masyaqqah tajlibut taysir,” (Kesulitan dapat menarik kemudahan).

Atas dasar ini, maka menurut hemat kami syahadat orang bisu adalah absah sebagai bukti bahwa ia masuk Islam sepanjang bahasa isyarat yang digunakan dapat dipahami. Kendatipun ada pendapat (qila) yang menyatakan bahwa syahadat orang bisu dengan bahasa isyarat tidak dianggap abasah sebagai bukti bahwa ia masuk Islam. Pandangan kedua ini merujuk pada pembacaan tekstual terhadap pendapat Imam Syafi’i (zhahiru nashshil Imam As-Syafi’i).

?: ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

Artinya, “Masalah cabang, keislaman orang bisu melalui bahasa isyarat yang dapat dimengerti dianggap sah. Tetapi dalam pendapat lain dikatakan, keislaman seseorang tidak diakui kecuali apabila setelah mengucapkan syahadat dengan bahasa isyarat ia menjalankan shalat. Ini adalah zhahir pendapat Imam Syafi’i yang terdapat dalam kitab Al-Umm,” (Lihat Muhyiddin Syaraf An-Nawawi, Raudlatut Thalibin wa ‘Umdatul Muftiyin, Beirut, Al-Maktab Al-Islami, juz VII, halaman 282).

Namun, menurut An-Nawawi, pendapat Imam Syafi’i ini harus dibaca dalam konteks ketika isyarat yang digunakan orang yang bisu tersebut tidak dapat dipahami. Lain halnya ketika bahasa isyarat tersebut dapat dipahami maka dianggap absah.

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

Artinya, “Pendapat yang benar dan dikenal adalah pendapat pertama. Sedangkan pendapat Imam Syafi’i itu mesti dipahami dalam konteks ketika (syahadat) dengan bahasa isyarat tidak bisa dimengerti,” (Lihat An-Nawawi, Raudlatut Thalibin wa ‘Umdatul Muftiyin, juz VII, halaman 282).

Demikian jawaban yang dapat kami kemukakan. Semoga bisa dipahami dengan baik dan bermanfaat. Dan kami selalu terbuka untuk menerima saran dan kritik dari para pembaca.

Wallahul muwaffiq ila aqwamith thariq,

Wassalamu ‘alaikum wr. wb.

(Mahbub Maafi Ramdlan)

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Hadits, Syariah, Khutbah Haedar Nashir

Sejumlah Pejabat akan Dampingi Presiden Hadiri Haul Gus Dur

Jombang, Haedar Nashir. Panitia kegiatan haul Gus Dur ke-4 PP Tebuireng, Jombang, Lukman, mengatakan terus melakukan komunikasi dengan aparat untuk persiapan acara haul yang rencananya dihadiri langsung oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono.

Sejumlah Pejabat akan Dampingi Presiden Hadiri Haul Gus Dur (Sumber Gambar : Nu Online)
Sejumlah Pejabat akan Dampingi Presiden Hadiri Haul Gus Dur (Sumber Gambar : Nu Online)

Sejumlah Pejabat akan Dampingi Presiden Hadiri Haul Gus Dur

Pihaknya juga menyebut seluruh warga yang membawa undangan bisa diperbolehkan masuk, namun harus melewati pengamanan yang sudah ditetapkan oleh Paspampres.

"Ada sekitar 5.000 kursi yang disiapkan dan kami berharap jumlah itu mencukupi," kata Lukman.

Haedar Nashir

Dalam rombongan Presiden tersebut, sejumlah menteri sudah memastikan akan hadir di antaranya Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Mohammad Nuh, Menteri Agama Suryadharma Ali, Menteri Perumahan Rakyat Djan Faridz, dan Kapolri Jenderal Pol Sutarman.

Haedar Nashir

Tentang tradisi ziarah, ia mengatakan aktivitas akan normal seperti biasa. Para peziarah tetap dipersilakan untuk berziarah di makam yang ada di PP Tebuireng, namun saat kunjungan Presiden akan lebih diperketat.

Presiden SBY dijadwalkan akan melakukan kunjungan kerja di Jawa Timur, pada Jumat-Minggu (3-5/1). Rombongan Presiden akan singgah ke Museum Trowulan, Mojokerto, lalu melanjutkan kunjungan ke Jombang di antaranya ke PT Usaha Sejahtera Bersama, di Kecamatan Diwek, dan acara haul almarhum Gus Dur ke-4 di PP Tebuireng.

Pada Sabtu, rombongan menuju PT Bumi Menara Internusa dan berkunjung ke "Jatim Expo" Surabaya serta beristirahat di sebuahh hotel di Surabaya hingga kembali ke Jakarta pada Sabtu (5/1).

Petugas Kepolisian Resor Jombang, Jawa Timur, menurunkan sekitar 815 personelnya untuk pengamanan saat kedatangan Presiden dalam haul ke-4 almarhum mantan Presiden KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur).

"Pengamanan kami di ring tiga yang kami khususkan untuk pengamanan jalur, termasuk di lokasi yang akan didatangi Presiden," kata Kepala Sub Bagian Hubungan Masyarakat Polres Jombang AKP Sugeng Widodo di Jombang, Rabu.

Ia mengatakan 815 personel itu merupakan gabungan dari unsur Polri, Brimob, sampai intelijen. Tim mulai bertugas saat hari "H" kedatangan Presiden mulai di perbatasan Kabupaten Jombang-Mojokerto, sampai seluruh jalur masuk ke Jombang.

Namun, arus lalu lintas akan tetap berjalan dengan normal, termasuk yang melewati "fly over" di Peterongan, Kabupaten Jombang. Kendaraan akan diminta untuk menepi ketika rombongan datang, agar lalu lintas lancar.

Ia juga menyebut sampai saat ini belum ada tembusan unjuk rasa yang dimungkinkan akan terjadi menyambut kedatangan rombongan Presiden, namun ia memastikan tim siap mengawal jika ada unjuk rasa.(antara/mukafi niam)

Foto: Antara

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Syariah, RMI NU, Nahdlatul Ulama Haedar Nashir