Minggu, 07 Mei 2017

Dzikir Bersama, Upaya Kraton Yogya Jaga Kedamaian

Yogyakarta, Haedar Nashir. Warga Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) larut dalam dzikir bersama yang digelar rutin tiap malam Jumat Legi di Masjid Gede Kauman Yogyakarta yang terletak di sebelah barat kompleks Alun-alun Utara Kraton, pada Kamis malam (7/11).

Majelis dzikir yang dikomandoni Gusti KGPH Joyokusumo (adik Sultan HB X) ini merupakan maejlis doa bersama seluruh elemen warga untuk kedamaian Yogya dan Indonesia.

Dzikir Bersama, Upaya Kraton Yogya Jaga Kedamaian (Sumber Gambar : Nu Online)
Dzikir Bersama, Upaya Kraton Yogya Jaga Kedamaian (Sumber Gambar : Nu Online)

Dzikir Bersama, Upaya Kraton Yogya Jaga Kedamaian

Ketua Lembaga Dakwah Nahdlatul Ulama Yogyakarta, Jamiludin yang hadir pada kesempatan itu menilai, dzikir bersama rutin itu menjadi acara penting Kraton Ngayogyokarto untuk melestarikan tradisi dzikir bersama. “Ini merupakan cara khas kraton untuk menjaga kedamaian warganya,” katanya

Haedar Nashir

Jamiludin menambahkan, dzikir bersama merupakan dakwah yang sangat efektif, karena melibatkan banyak sekali jamaah majelis talim di Yogyakarta. Bukan saja warga NU, semua kalangan diundang untuk doa bersama.

Haedar Nashir

Maejlis ini dimulai dengan khataman Al-Quran, kemudian dilanjutkan dengan mujahadah dan wiridan. Dalam kesempatan ini, hadir Rais Syuriah PWNU DIY, KH Asyhari Abta, yang kemudian didaulat untuk memimpin doa. Hadir pula Wakil Ketua PWNU DIY H. Harsoyo. (Muyassaroh Hafidzoh/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Pemurnian Aqidah, News Haedar Nashir

Rais ‘Aam Berharap Syuriyah Mampu Berperan Sentral

Jakarta, Haedar Nashir

Rais ‘Aam PBNU KH Ma’ruf Amin berharap jajaran syuriyah NU di seluruh tingkatan mampu berperan sentral dalam mengendalikan organisasi.?

“Syuriyah itu pengarah, karena itu fungsi-fungsi itu harus dijalankan dengan baik, supaya bisa menggerakkan tanfidziyah,” katanya di Gedung PBNU, Selasa (22/03).?

Rais ‘Aam Berharap Syuriyah Mampu Berperan Sentral (Sumber Gambar : Nu Online)
Rais ‘Aam Berharap Syuriyah Mampu Berperan Sentral (Sumber Gambar : Nu Online)

Rais ‘Aam Berharap Syuriyah Mampu Berperan Sentral

Ia menuturkan, dalam sejarahnya, jajaran syuriyah NU memiliki peran yang sangat sentral sebagaimana dijalankan oleh KH Hasyim Asy’ari dan KH Wahab Hasbullah. Syuriyah harus mampu menjalankan tanpa meminta diperankan.?

“Masalahnya syuriyah itu minta diperankan, bukan memerankan diri. Kalau minta diperankan bukan penggerak, bukan pengarah,” evaluasinya.

Haedar Nashir

Dalam rangka meningkatkan konsolidasi ini KH Ma’ruf Amin secara rutin berkunjung ke sejumlah wilayah NU. “Saya berkunjung ke daerah ada yang memang diundang daerah, ada yang acara lain, kemudian saya menyempatkan untuk konsolidasi,” paparnya.

Sebagai langkah untuk meningkatkan peran tersebut, Kiai Ma’ruf meminta agar jajaran syuriyah membuat pertemuan-pertemuan secara periodik seperti di PBNU yang menggelar rapat setiap bulan.?

“Syuriyah bisa membuat arahan-arahan atau meminta informasi dari tanfidziyah,” jelasnya.

Untuk meningkatkan kapasitas, PBNU akan melakukan kaderisasi syuriyah, supaya syuriyah tidak hanya paham soal baca kitab, tetapi juga mampu melakukan penguasaan terhadap perkembangan dan tantangan organisasi.?

Haedar Nashir

“Dalam konsolidasi ini, kita juga membangun ghirah nahdliyah atau? semangat ke-NU-an. Bagaimanapun kalau tidak ada semangat tidak jalan,” tuturnya.?

Banyak hal telah dilakukan oleh PBNU, tetapi ia menegaskan, tak bisa langsung berubah karena semuanya butuh proses. Dengan membangun sistem yang lebih baik, maka organisasi akan berjalan dengan lebih baik pula. (Mukafi Niam)

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Anti Hoax, AlaSantri, Hikmah Haedar Nashir

Senin, 01 Mei 2017

Yudi Latif: Pancasila Harus ‘Mengatasi’ Negara

Jakarta, Haedar Nashir. Pemikir Keagamaan dan Kenegaraan, Yudi Latif, mengatakan bahwa nilai Pancasila seharusnya “mengatasi” Negara. Bukan di bawah negara. Jika Pancasila di bawah negara, maka ia menjadi alat negara untuk menekan lawan-lawan politik. Ini merupakan pengejawantahan Pancasila sebagai agama publik (civic religion).

Yudi Latif: Pancasila Harus ‘Mengatasi’ Negara (Sumber Gambar : Nu Online)
Yudi Latif: Pancasila Harus ‘Mengatasi’ Negara (Sumber Gambar : Nu Online)

Yudi Latif: Pancasila Harus ‘Mengatasi’ Negara

“Pancasila harus menjadi kritik bagi negara. Salahnya, zaman Orba dulu negara yang berinisiatif, negara menatar, negara pula yang menafsir. Akhirnya, Pancasila menjadi alat negara untuk menakar rakyat,” kata Yudi dalam bedah bukunya bertajuk Revolusi Pancasila di Hotel A-One Jakarta Pusat, Senin (22/5).

Singkat kata, lanjut Yudi, jika pendekatan Pancasila yang dulu vertikal maka sekarang harus horizontal. “Harus melibatkan partisipasi berbagai pihak sehingga Pancasila nantinya menjadi kritik bagi kebijakan negara,” tegasnya.

Oleh karenanya, Yudi berpendapat, Pancasila bisa juga disebut sebagai ‘agama publik’ (civic religion). “Bukan berarti agama yang kita pahami selama ini. Artinya, lebih kepada nilai moralitas dalam kehidupan publik. Terpenting, jangan mengagamakan pancasila atau mempancasilakan agama,” tandasnya.

Pria kelahiran Sukabumi, Jawa Barat ini menambahkan, Pancasila disebut civic karena meskipun nilai-nilainya berasal dari agama tapi tidak identik dengan agama. Nilai-nilai universalnya itu sudah terbagi luas di masyarakat.

Haedar Nashir

“Jadi tidak bisa disamakan dengan yang ada di masjid atau di gereja. Dia sudah menjadi nilai-nilai agama yang menjelma properti publik. Pancasila menampung berbagai elemen dari agama-agama, adat istiadat, gagasan universal, dan lain-lain,” ujarnya.

Yudi Latif mengibaratkan agama-agama bak tower tinggi, lalu Pancasila memotong jembatan supaya antaragama bisa saling bertemu. Nilai-nilai publik inilah yang disebut sebagai agama. Bagi dia, Pancasila menjadi cermin bagi seluruh anak bangsa.?

Kegiatan yang dibuka resmi oleh Kepala Balitbang Diklat Kemenag Abdurrahman Mas’ud ini menghadirkan dua narasumber, Ketua Lakpesdam PBNU Rumadi Ahmad dan Direktur PPIM UIN Syarif Hidayatullah Jakarta Jamhari Ma’ruf.

Tampak juga Kepala Puslitbang Penda Amsal Bakhtiar, Kepala Pusdiklat Teknis Mahsusi, para pejabat Eselon III di lingkungan Balitbang Diklat, serta para Kepala Balai Litbang Agama (BLA) dan Kepala Balai Diklat Keagamaan (BDK) seantero Republik. (Musthofa Asrori/Fathoni)

Haedar Nashir

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Pahlawan, Amalan Haedar Nashir

Minggu, 30 April 2017

Terlalu Berorientasi Fikih, Kesenian Berjarak dengan Pesantren

Pati, Haedar Nashir. Akibat terlalu berorientasi pada ilmu fikih dengan pencekatan yang cenderung hitam putih, kesenian saat ini mengalami jarak dalam kehidupan para santri di berbagi pesantren, padahal pada masa lalu seni dan sastra sangat dekat dengan pesantren.



Terlalu Berorientasi Fikih, Kesenian Berjarak dengan Pesantren (Sumber Gambar : Nu Online)
Terlalu Berorientasi Fikih, Kesenian Berjarak dengan Pesantren (Sumber Gambar : Nu Online)

Terlalu Berorientasi Fikih, Kesenian Berjarak dengan Pesantren

“Pesantren dengan metode pengajaran menggunakan syiir, nadhoman, puji-pujian merupakan ekspresi seni, tapi sekarang telah mengalami penurunan,” tutur Zawawi Imron, dalam dialog Sastra dan Pesantren di Pati, Sabtu (14/7).

Dikatakannya, pada masa-masa pesantren dekat dengan ajaran tasawuf, berbagai bentuk kesenian dengan mudah dapat diakomodasi dan diterima. Melebihi aturan halal haram dalam fikih, tasawuf membuat ibadah menjadi lebih dalam dan bemakna dan diekpresikan dalam berbagai bentuk yang indah.

Haedar Nashir

“Ditunjuknya bilal sebagai muazdin pada zaman Rasulullah menunjukkan unsur keindahan juga sangat dekat dengan ajaran Islam,” tuturnya.

Haedar Nashir

Namun demikian, berkaitan dengan karya sastra, belakangan ini pesantren mengalami perkembangan yang luar biasa. Saat ini penerbit LKiS dan sejumlah penerbit lain yang memiliki orientasi yang sama telah memiliki divisi khusus yang menerbitkan karya para santri sehingga dalam satu tahun, bias diterbitkan puluhan karya sastra.

Untuk mengembangkan kesenian di berbagai daerah atau pesantren, Zawawi yang dikenal sebagai penyair Clurit Emas ini mengusulkan dibentuknya Dewan Kesenian yang mengadakan pertemuan rutin untuk membahas berbagai karya dari anggotanya yang bisa ditampilkan setiap pertemuan.

Saat ini ia juga merupakan salah satu pengajar di Ponpes Al Amin Prenduan dengan sanggar seninya yang memungkinkan para santri untuk mengekpresikan berbagai karya seni yang mereka hasilkan. (mkf)

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Sejarah, Khutbah, Olahraga Haedar Nashir

Bagi Pesantren ini, Hafalan Mengasah Kecerdasan

Pesantren Raudlatul Ulum yang berdiri megah di Desa Guyangan, Kecamatan Trangkil, Kabupaten Pati, Provinsi Jawa Tengah didirikan oleh Almaghfurlah KH Suyuthi Abdul Qodir pada awal 1950-an. Sejak awal berdirinya, pesantren ini terus-menerus mengalami perkembangan dinamis.

Dari hanya belasan santri yang mondok hingga membengkak menjadi 5426 santri pada Am Dirasiy 2014/2015. Dari hanya memiliki sarana prasarana pendidikan yang amat sederhana hingga prasarana pendidikan dan kesehatan yang cukup representatif. Rumah Sakit As-Suyuthiyyah menjadi bukti pesantren ini sangat peduli kesehatan santri dan warga sekitar.

Setelah Sang Pendiri wafat pada Selasa 4 Dzulqa’dah 1979, putra-putra kebanggaan Mbah Suyuthi pun “turun gunung” untuk mengawal Pesantren Guyangan. Sayangnya, KH Salim Suyuthi (putra kedua, wafat 2001) dan KH M Humam Suyuthi (putra kelima, wafat 2010) tidak berumur panjang.

Kiai Salim dan Kiai Humam dipanggil ke haribaan-Nya dalam usia relatif muda. Akhirnya, tersisalah KH Faruq Suyuthi yang setia mendampingi adik bungsunya, KH M Najib Suyuthi, memegang tongkat estafet kepemimpinan Pesantren Guyangan hari kini.

Bagi Pesantren ini, Hafalan Mengasah Kecerdasan (Sumber Gambar : Nu Online)
Bagi Pesantren ini, Hafalan Mengasah Kecerdasan (Sumber Gambar : Nu Online)

Bagi Pesantren ini, Hafalan Mengasah Kecerdasan

Menurut Kiai Najib, santri Guyangan tidak hanya diajarkan intelektual. Namun juga ? menekankan pentingnya akhlakul karimah. “Santri Raudlatul Ulum harus lolos ujian munaqasyah, harus hafal juz amma, harus mencapai nilai standar. Berapa kali sepanjang belum memenuhinya, maka dia akan mengulang,” tegasnya.

Dalam melaksanakan proses belajar mengajar, Pesantren Guyangan mengacu pada materi-materi pelajaran berbasis kitab kuning. Selain itu, juga dilengkapi dengan kurikulum Kemenag dan Kemendikbud. Wal hasil, seluruh mata pelajaran untuk setiap jenjang bisa mencapai angka 30-an. Untuk sekolah lain tidak lebih 20 mata pelajaran.

Hafalan, syarat kenaikan kelas

Haedar Nashir

Setiap santri Guyangan harus siap dengan aneka syarat kenaikan kelas. Syarat mutlak kenaikan kelas di semua jenjang pendidikan antara lain: untuk tingkat Ibtidaiyah, Diniyah, dan Tsanawiyah harus hafal Nahwu (al-Nahwu al-Wadlih) dan Shorof (al-Amtsilat al-Tashrifiyah), untuk tingkat Tsanawaiyah harus hafal Nahwu 1000 bait (Alfiyah Ibnu Malik), untuk tingkat Aliyah harus hafal matan al-Qawaid al-Fiqhiyah 525 bait.

Tradisi menghafal ini, bagi Kiai Najib, sangat mendukung dalam memahami kitab kuning. Pemberlakuan syarat hafalan ini telah dilakukan sejak Raudlatul Ulum didirikan. Tujuannya, memberi bekal santri mengasah kecerdasan. Untuk madrasah atau pesantren di Pati, tinggal Guyangan dan Mathaliul Falah Kajen asuhan KH MA Sahal Mahfudh yang masih mempertahankan hafalan sebagai kenaikan kelas secara turun-temurun.

Haedar Nashir

Kecuali Persyaratan di atas, khusus para santri kelas XII MA dinyatakan tamat dari Pesantren Raudlatul Ulum apabila lulus Ujian Munaqasyah. “Ujian khusus kelas XII (3 Aliyah-red) ini meliputi Baca Kitab Kuning, Hafalan Al-Qur’an 1 Juz, Conversation Bahasa Inggris, Muhadatsah Bahasa Arab, dan membuat Karya Tulis Ilmiah,” papar Kiai Najib.

Selain itu, para santri juga diharuskan meraih nilai standar 75. Tentang Kelakuan, Kerajinan/Kedisiplinan, Kerapian dan Kebersihan, setiap santri? juga harus meraih minimal nilai B dalam aspek ini.

Karena sudah teruji sejak awal, santri Guyangan pun tampil percaya diri ketika lulus. Menurut Ahmad Minan Abdillah, salah seorang pengajar di Guyangan, alumni Guyangan tercatat melanjutkan pengembaraan intelektualnya di 31 kampus baik negeri maupun swasta di dalam negeri. “Selebihnya di 11 kampus mancanegara. Mayoritas di Al-Azhar Kairo Mesir,” ujar salah satu cucu Mbah Suyuthi ini.

Gus Minan menambahkan, tak heran jika Pesantren Raudlatul Ulum memiliki hubungan baik dengan Al-Azhar. Sehingga dosen pengajar bahasa Arab berkebangsaan Mesir pun diperbantukan di Guyangan oleh pihak Al-Azhar.

Dari tahun ke tahun, Pesantren Raudlatul Ulum selalu meraih prestasi gemilang baik di bidang Intelektual, Olah Raga dan Seni mulai tingkat Kabupaten, Provinsi hingga Nasional. Prestasi tingkat nasional antara lain masuk sepuluh besar Debat Bahasa Inggris, Musabaqoh Fahmi Kutubit Turats (MFKT) di Jambi. Juara I, Juara III, Juara Harapan II dan III pada Lomba Penulisan Proposal Wirasantri Mandiri Tingkat Nasional di Solo.

“Santri Guyangan juga menjuarai Musabaqoh Qiro’atul Kutub (MQK) Tingkat Nasional di Banjarmasin (Tingkat Ula Bidang Akhlaq, Lughoh, dan Tafsir) serta Juara Lomba Mengarang Berbahasa Inggris Tingkat Nasional, dan Juara II bidang Nahwu dan Tarikh pada Musabaqoh Fahmi Kutubit Turats Tingkat Nasional di NTB,” ujar Gus Minan.

Man jadda wajada

Sedari awal, Santri Guyangan telah akrab dengan kitab kuning. Untuk tingkat tsanawiyah, misalnya, mereka belajar Alfiyah Ibn Malik (Nahwu/Shorof), Tuhfat al-Thullab (Fiqh), Tafsir al-Jalalain (Tafsir), Bulugh al-Maram (Hadis), Dasuqi ala Ummi al-Barahin dan al-Husun al-Hamidiyyah (Tauhid), Ta’lim al-Muta’allim (Akhlaq), Lathaif al-Isyarat (Ushul Fiqh).

“Lalu, Jauhar al-Maknun (Balaghah), Matn al-Rahabiyah (Ilmu Faraid), Durus al-Falakiyah (Ilmu Falak), Minhat al-Mughits (Musthalah Hadis), Mukhtashar Syafi (Ilmu Arudl). Nah, untuk Arudl ini hanya santri putri yang mempelajarinya,” ujar Kiai Najib.

Sedangkan untuk jenjang Aliyah, lanjut Kiai Najib, Fath al-Wahhab (Fiqh), Tafsir al-Jalalain (Tafsir), Tajrid al-Sharih (Hadis), Maraqi al-Ubudiyyah (Akhlaq), Tarikh al-Tasyri’ al-Islamiy (Sejarah Islam), Ghayat al-Wushul (Ushul Fiqh), Uqud Al-Juman (Balaghah), Fath al-Rauf al-Mannan (Ilmu Falak).

“Kemudian, al-Asybah Wa an-Nadhair (Qawaid al-Fiqhiyyah), Minhat al-Mughits (Musthalah Hadis), Ilmu Tafsir al-Suyuthi (Ilmu Tafsir), dan Idhahu al-Mubham (Mantiq). Nah, kalau Mantiq ini hanya dipelajari santri putra,” papar bapak dua anak ini.

Muatan lokal yang masih utuh dan asli ini, tambahkan Kiai Najib, lalu dijumlah dengan kurikulum lainnya sehingga total 32 mata pelajaran. “Ini tentu sangat berat. Meski demikian, Insya Allah ini tidak memberatkan dan menjadi beban sepanjang para santri memiliki komitmen dan kesungguhan. Saya sering katakan pada anak-anak, man jadda wajad (siapa sungguh-sungguh, akan sukses),” pungkasnya. (Musthofa Asrori/Anam)

Foto: Salah satu gedung pendidikan pesantren Roudlotul Ulum yang berdiri megah di Desa Guyangan





Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Hadits Haedar Nashir

Sabtu, 29 April 2017

Gus Dur Islamkan Tradisi Ziarah Kelompok Abangan

Jakarta, Haedar Nashir. Selalu terdapat strategi unik dalam berdakwah, tetapi seringkali orang tidak paham apa yang sebenarnya dilakukan, bahkan ditentang habis-habisan karena dianggap menyalahi pakem yang sudah berlaku umum. Gus Dur seringkali mengalami hal ini.

Salah satu amalan Gus Dur adalah berziarah ke makam-makan pendahulu yang dianggap berjasa dalam menyebarkan Islam di Indonesia. Tapi ada kalanya mantan ketua umum PBNU ini memiliki maksud lain dalam berziarah.

Gus Dur Islamkan Tradisi Ziarah Kelompok Abangan (Sumber Gambar : Nu Online)
Gus Dur Islamkan Tradisi Ziarah Kelompok Abangan (Sumber Gambar : Nu Online)

Gus Dur Islamkan Tradisi Ziarah Kelompok Abangan

Di Kroya Jawa Tengah, terdapat sebuah makam yang dikenal sebagai jujukan ziarah kelompok abangan. Tentu saja, di sana mereka bukan membaca tahlil atau yasin, tetapi tradisi tersendiri di luar nilai-nilai keislaman.

Haedar Nashir

Ketika terdapat kesempatan, Gus Dur menziarahi makam tersebut. Kontan saja, para kiai di Kroya protes, mengapa berziarah ke tempat itu yang sudah terkenal menjadi “sarangnya” kelompok abangan dalam menjalankan ritual.?

Haedar Nashir

“Apa Gus Dur tidak tahu ini. Mengapa harus menziarahi makam itu, yang sudah jelas-jelas tokoh abangan” kata sejumlah kiai kepada Gus Dur sebagaimana disampaikan ke sekjen PBNU H Marsudi Syuhud.

Bukan Gus Dur namanya kalau berpikir konvensional. Ia pun menjelaskan “Saya ke sana kan dalam rangka tahlilan, bukan yang lain“

Pelan tapi pasti, setelah diziarahi Gus Dur, makam tersebut semakin ramai, tetapi ada yang berbeda, mereka yang berziarah merubah ritual-ritualnya dengan tahlil dan amalan Islam lain sampai akhirnya tradisi non Islamnya berganti tanpa ada pemaksaan atau klaim bid’ah, sesat dan sejenisnya yang ujung-ujungnya malah menimbulkan perlawanan. ?

Gus Dur juga menziarahi makam Kiai Mahfud, tokoh Angkatan Umat Islam (AUI) dari pesantren Semolangu Kebuman yang tertembak di Gunung Srandil yang ikut membela perjuangan melawan penjajah Belanda, tetapi dituduh memberontak.

“Beliau ingin meluruskan bahwa banyak jasa yang telah ditorehkan Kiai Mahfud dalam membela tahan air,“ ujar Marsudi.

Penulis: Mukafi Niam

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Nasional Haedar Nashir

Kamis, 27 April 2017

Gedung Aswaja Kota Pekalongan Diresmikan Penggunaannya

Pekalongan, Haedar Nashir. Bangunan megah dua lantai di atas lahan seluas 6.728 meter persegi Jalan Sriwijaya 2 Pekalongan, Ahad kemarin (7/11) diresmikan penggunaannya oleh Ketua Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Jawa Tengah Drs H Mohammad Adnan, MA.

Gedung yang diberi nama Gedung Aswaja merupakan bangunan tahap pertama dari dua tahap yang direncanakan. Dimana pada tahap pertama ini yang sudah selesai dibangun ruang pengelola, ruang rapat mini dan sedang. Kemudian sarana pendukung berupa kantor unit usaha simpan pinjam syariah BMT SM NU dan kafe santri serta fasilitas area parkir.

Gedung Aswaja Kota Pekalongan Diresmikan Penggunaannya (Sumber Gambar : Nu Online)
Gedung Aswaja Kota Pekalongan Diresmikan Penggunaannya (Sumber Gambar : Nu Online)

Gedung Aswaja Kota Pekalongan Diresmikan Penggunaannya

Pembangunan tahap kedua berupa gedung pertemuan berkapasitas 2000 kursi yang terletak di belakang bangunan induk saat ini masih dalap tahap proses pengerjaan pondasi.

Haedar Nashir

Ketua PWNU Jateng sangat berharap gedung aswaja tidak sekedar untuk tempat rapat maupun pertemuan berskala besar, akan tetapi lebih dari itu gedung aswaja harus menjadi pusat penanaman nilai nilai aswaja, khususnya kepada generasi muda yang saat ini menjadi sasaran empuk kelompok teroris.

Haedar Nashir

"Gedung Aswaja harus bisa menjadi benteng terhadap maraknya kelompok aliran keras yang didengungkan oleh para teroris," ujarnya.

Dikatakan, PCNU dan warga Nahdliyyin Kota Pekalongan patut berbangga atas usaha keras pengurus dalam merealisasikan bangunan Gedung Aswaja yang cukup megah ini. Pasalnya, PWNU Jateng saja hanya memiliki bangunan di atas lahan seluas 3000 meter persegi, sedangkan kantor PCNU Kota Pekalongan dua kali lipatnya.

Tentu, yang terpenting adalah bagaimana memikirkan biaya operasionalnya dan mengisi kegiatan gedung aswaja untuk kepentingan dan kemaslahatan ummat, ujar Adnan.

Gedung Ahlussunnah wal Jamaah (Aswaja) yang dimiliki Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Kota Pekalongan harus bisa menjadi sarana pelatihan dan pendidikan akhlak yang saat ini sedang krisis di kalangan generasi muda.

Jika ini bisa dilakukan, maka Kota Pekalongan akan dijadikan barometer dalam pembangunan akhlaq yang berbasis ajaran aswaja, dan PCNU PCNU yang lain harus bisa mencontohnya.

Lebih lanjut dikatakan, ideologi yang dibawa para teroris yang beraliran keras, sangat tidak tepat diterapkan di bumi Indonesia yang cinta damai. Maka sikap toleran, kebersamaan dan keadilan yang menjadi ciri khas ajaran aswaja harus bisa diaplikasikan dalam kehidupan bermasyarakat.

Menurut Adnan, nama Gedung Aswaja membawa konsekuensi dalam bentuk kegiatan yang kongkrit dalam pembinaan ummat. Karena sikap sikap yang dikembangkan Nahdlatul Ulama secara prinsip beriringan dengan kebijakan pemerintah dalam menata masyarakat agar lebih baik dalam kehidupan sehari hari.

Acara peresmian yang ditandai dengan pengguntingan pita dihadiri oleh utusan Pengurus Ranting NU dan Pengurus Majelis Wakil Cabang (MWC) NU se Kota Pekalongan. Kemudian Pengurus cabang, Badan Otonom, lembaga dan lajnah tingkat cabang serta tamu undangan seperti Damndim 0710, Wakapolres Pekalongan Kota serta puluhan tamu undangan lainnya.

Momentum peresmian gedung aswaja sekaligus dimanfaatkan PCNU untuk menggelar musyawarah Kerja Cabang (Muskercab) ke - 2 NU Kota Pekalongan tahun 2010. Beberapa agenda yang terkait dengan pengembangan gedung aswaja menjadi bahasan pokok dalam muskercab tersebut. Pasalnya, pembangunan gedung yang menghabiskan dana hingga milyaran rupiah belum termasuk rencana pembangunan gedung pertemuan.

Di samping itu, konsolidasi organisasi juga menjadi materi bahasan terkait adanya beberap ranting yang sampai saat ini belum melakukan reformasi pengurus, meski SK nya telah kedaluwarsa. Ditargetkan akhir 2010 ini masalah konsolidasi dapat tuntas dan rencana pelatihan manajemen pengurus yang dijadwalkan pada awal 2011 nanti bisa segera digelar.

Sementara itu, Ketua DPRD Kota Pekalongan H. Mohammad Bowo Leksono, SH., MM dalam  sambutannya mengatakan, warga nahdlliyin Kota Pekalongan harus jeli menangkap peluang terhadap program program pemerintah yang digulirkan, sehingga peran pembangunan masyarakat tidak saja menjadi kewajiban pemerintah saja, akan tetapi ada peran peran dari masyarakat yang harus dijalankan, sehingga bisa seiring dan sejalan

Bowo mengatakan, DPRD bersama Pemerintah Kota Pekalongan siap membantu berbagai kesulitan yang dialami Nahdlatul Ulama, termasuk terhadap persoalan penyelesaian pembangunan gedung pertemuan yang saat ini baru berupa pondasi.

Meski tidak sebesar tahun lalu, paling tidak bantuan ini dapat meringankan beban panitia pembangunan yang harus merogoh kocek tidak kurang dari 1,9 milyar untuk menyelesaikan pembangunan gedung pertemuan. (iz)

Hadir dalam acara pembukaan selain Ketua PWNU Jawa Tengah, juga Ketua DPRD Kota Pekalongan HM. Bowo Leksono, Anggota DPRD Kota Pekalongan mantan anggota dewan, sesepuh NU dan mantan aktifis NU, Rais dan Ketua PCNU Batang, Kabupaten Pekalongan dan Pemalang serta utusan dari lembaga, lajnah, banom NU Cabang dan utusan dari  WC Ranting NU se Kota Pekalongan. (iz)Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Syariah Haedar Nashir