Jumat, 01 September 2017

PCNU Cirebon: PMII Basis Gerakan NU di Kampus

Cirebon, Haedar Nashir. Dalam rangka memperkuat arah pergerakan dan tradisi ke-NU-an, Pengurus Cabang Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Cirebon bersilaturahmi ke kantor Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Kabupaten Cirebon.

PCNU Cirebon: PMII Basis Gerakan NU di Kampus (Sumber Gambar : Nu Online)
PCNU Cirebon: PMII Basis Gerakan NU di Kampus (Sumber Gambar : Nu Online)

PCNU Cirebon: PMII Basis Gerakan NU di Kampus

Dalam pertemuan pada Jum’at (2/1) siang tersebut, PMII berharap dukungan dan bimbingannya dari NU untuk menjalankan program keorganisasian di ranah mahasiswa.

“Dengan silaturahmi ini kami berharap ke depan antara PMII dan PCNU bisa saling bekerja sama melaksanakan program kerja yang manfaatnya untuk para mahasiswa di Cirebon,” kata Ketua PMII Cirebon, M. Yazidul Ulum.

Haedar Nashir

Yazid menambahkan, shilaturahmi ini juga bertujuan untuk pengenalan pengurus PMII Cirebon yang rencananya akan dilantik pada 10 Januari 2014 mendatang. “Ke depan tidak ada lagi pengurus cabang dan kader juga anggota PMII Cirebon yang tidak mengenal orang tuanya (NU-red),” terangnya.

Haedar Nashir

Silaturahmi PC PMII Cirebon ini diterima dengan baik oleh Rais Syuriah PCNU Kabupaten Cirebon, KH Usamah Manshur dan Ketua Tanfidziah PCNU Kabupaten Cirebon, KH Ali Murtadlo.

“Kami bangga dengan awal kepengurusan kali ini. Dan alhamdulillah kita bisa sharing bersama. Bagaimanapun PMII adalah basis gerakan NU di kampus. Sehingga antara NU dan PMII bisa saling bersinergi,” jelas Kiai Ali yang merupakan alumni PMII STIQ Jakarta.

Kiai Ali juga menambahkan bahwa saat ini PMII perlu memperkuat diri dari segi al-fikratul an-nahdliyah (pemikiran ke-NU-an) dan juga al-harakatul an-nahdliyah (gerakan ke-NU-an).

Hal senada disampaikan KH Usamah Manshur bahwa PMII merupakan anak kandung NU maka sudah selayaknya antara PMII dan NU saling bergandengan tangan menjaga, mempertahankan dan mengembangkan Ahlussunnah Wal-Jama’ah dan tradisi-tradisi NU dikalangan mahasiswa.

“Ada anekdot yang mengatakan bahwa PMII adalah anak hilang yang belum pulang kembali,” kata pengasuh Pondok Pesantren Annashuha ini.

Alhamdulillah, kata dia, dengan shilaturahmi ini anak yang dulu hilang kini sudah kembali. Terlepas PMII menjadi banom kembali atau tetap interdependen yang terpenting adalah tetap mengembangkan Aswaja annahdliyyah di kampus masing-masing juga di masyarakat.”

Dari data yang dihimpun, saat ini tercatat ada 1.500 anggota dan 200 kader PMII Cirebon terdapat berbagai kampus di Cirebon seperti IAIN Syekh Nurjati, Unswagati Cirebon, STAI Ma’had Ali Cirebon, STAI Bunga Bangsa Cirebon, STAI Cirebon, UNU Cirebon, dan STID Al Biruni Cirebon.? (Ayub Al Ansori/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Nahdlatul Ulama, Bahtsul Masail Haedar Nashir

Rabu, 30 Agustus 2017

Jelang Kongres Ke-18, Ini Harapan Kader IPNU Soloraya

Solo, Haedar Nashir. Menjelang pelaksanaan Kongres Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama XVIII di Boyolali, Jawa Tengah, pada Desember mendatang, sejumlah kader IPNU di wilayah Soloraya menitipkan harapan pada acara tertinggi di ranah pelajar NU tersebut.

Jelang Kongres Ke-18, Ini Harapan Kader IPNU Soloraya (Sumber Gambar : Nu Online)
Jelang Kongres Ke-18, Ini Harapan Kader IPNU Soloraya (Sumber Gambar : Nu Online)

Jelang Kongres Ke-18, Ini Harapan Kader IPNU Soloraya

Harapan pertama datang dari salah satu pengurus PW IPNU Jawa Tengah, Ahmad Saefuddin. Mantan Ketua PC IPNU Klaten tersebut berharap, Kongres mampu menelurkan program-program yang berdampak langsung kepada wilayah, cabang dan seterusnya.

“Selain itu, PP IPNU juga mampu merapikan struktur IPNU di setiap tingkatan terkait peraturan baru yang dikeluarkan oleh PBNU bahwa maksimal pengurus IPNU sampai 26 tahun,” kata Saefuddin, saat dihubungi Haedar Nashir, Jumat (12/11).

Haedar Nashir

Ia juga berharap, agar Kongres tidak dijadikan hanya sebagai ajang pemilihan pimpinan, tetapi pemilihan pemimpin. “Optimalisasi sinergi PP IPNU dengan LP Maarif dan RMI juga masih belum maksimal, sehingga ini masih menjadi tugas besar bagi IPNU ke depannya,” ujar dia.

Senada dengan Saefuddin, alumni kader IPNU asal Boyolali, Agus Luqman, juga menantikan sebuah asa untuk Kongres mendatang.

Haedar Nashir

“Masih banyak agenda besar yang harus dikawal dan dilaksanakn oleh IPNU ke depannya. Tentunya terkait dengan kaderisasi di segmen pelajar dan santri. Pengalaman saya dari kongres ke kongres, peserta tidak fokus membahas materi, yang itu tentunya sangat penting untuk masa depan IPNU, tetapi peserta disibukkan dan terfokus masalah suksesi calon ketum. Seharusnya paradigma itu harus dirubah,” paparnya.

Sementara itu, dua Ketua PC IPNU Sukoharjo dan Klaten, Atsani Imam Ghozali dan Lystyanto Achmad berharap, Kongres IPNU kali ini dapat menjadi solusi atas berbagai permasalahan yang ada di IPNU. (Ajie Najmuddin/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Pesantren, Pondok Pesantren, Jadwal Kajian Haedar Nashir

Ajaran Agama Pengaruhi Keberhasilan KB

Denpasar, Haedar Nashir. Keberhasilan program keluarga berencana (KB) banyak dipengaruhi oleh sikap dan pandangan hidup masyarakat yang terbentuk dari ajaran serta nilai-nilai agama.

"Pengalaman Indonesia dalam menggerakkan program KB itu, sejak awal telah melibatkan peran ulama dan tokoh-tokoh masyarakat," kata Menteri Agama Maftuh Basyuni di Sanur, Bali, Selasa.

Ajaran Agama Pengaruhi Keberhasilan KB (Sumber Gambar : Nu Online)
Ajaran Agama Pengaruhi Keberhasilan KB (Sumber Gambar : Nu Online)

Ajaran Agama Pengaruhi Keberhasilan KB

Dalam acara "International Conference of Muslim Leaders to Support Population and Development to Achieve the Millennium Development Goals," Maftuh Basyuni mengemukakan, pengalaman KB di Indonesia barangkali bisa menjadi model bagi negara-negara lain.

Ulama dan tokoh masyarakat tidak hanya berpartisipasi dalam pemasyarakatan program tersebut melalui bahasa agama kepada umat, melainkan juga memiliki kontribusi pemikiran dan peranan yang besar dalam merintis dan mengembangkannya.

"Program KB pada dasarnya mempunyai tujuan yang mulia yaitu terciptanya keluarga bahagia. Karena keluarga sebagai unit terkecil dalam masyarakat yang juga wadah pembentuk dan dasar dari kepribadian manusia," ujarnya.

Menteri Agama mengatakan, setelah hampir empat dasawarsa sejak dicanangkan program KB, maka peran ulama dan tokoh agama perlu direaktualisasi agar sprit, nilai dan norma yang melandasi kesadaran masyarakat untuk mengikuti program KB.

Haedar Nashir

Dikatakan, selain masalah kependudukan umat Islam dewasa ini juga menghadapi bahaya sekularisasi baik dalam bidang politik, pendidikan, hukum, sosial dan budaya.

Dalam konteks masyarakat Barat, sekularisasi dipandang sebagai suatu keseinambungan dari kemajuan sosial dan sejarah masyarakat itu sendiri dan dilukiskan sebagai capaian tertinggi dari budaya Barat.

Haedar Nashir

"Sedangkan dalam Islam, seluruh aspek kehidupan merupakan bagian yang tak terpisahkan dari agama," ucap Maftuh Basyuni.

Maftuh Basyuni menambahkan sekularisasi berasal dari peradaban Barat bergerak begitu cepat menyebar dan dikembangkan ke negara-negara Islam melalui berbagai strategi.

"Proses itu telah mentransformasi atau memberi corak tertentu dalam pengaruh terhadap beberapa aspek fundamental dan tradisi keagamaan dalam kehiduapan umat Muslim di berbagai negara," ungkapnya.

Kegiatan konferensi yang berlangsung selama dua hari (14-15 Pebruari) itu dihadiri oleh tokoh agama dari 17 negara antara lain yakni Bangladesh, Malaysia, Iran, Indonesia, Turki, Jordan dan lainnya. Acara ini terselenggara atas kerjasama antara BKKBN, ICIS-NU dan UNFPA. (ant/mad)



Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Quote Haedar Nashir

Selasa, 29 Agustus 2017

Tuhan yang Jauh

Oleh? Ali Usman

Jalaluddin Rumi (604-672 H/1207-1275 M) dalam kitabnya, Masnawi, bercerita: Dahulu, ada seorang muazin bersuara jelek di sebuah negeri kafir. Ia memanggil orang untuk shalat, tetapi umat muslim lainnya justru menegur, "janganlah kamu memanggil orang untuk shalat. Kita tinggal di negeri yang mayoritas bukan beragama Islam. Bukan tidak mungkin suaramu itu akan menyebabkan terjadinya kerusuhan dan pertengkaran antara kita dan orang-orang kafir."?



Namun muazin tersebut menolak nasihat banyak orang. Ia merasa bahagia dengan melantunkan azannya yang tidak bagus itu di negeri orang kafir. Ia merasa mendapat kehormatan untuk memanggil shalat di satu negeri di mana orang tak pernah shalat.

Tuhan yang Jauh (Sumber Gambar : Nu Online)
Tuhan yang Jauh (Sumber Gambar : Nu Online)

Tuhan yang Jauh



Kekhawatiran itu berwujud nyata. Seorang kafir datang kepada mereka (orang muslim) suatu pagi, dengan membawa jubah, lilin, dan manisan. Berulang-ulang dia bertanya, "katakan kepadaku di mana sang muazin itu? Tunjukkan padaku, siapa dia, muazin yang suara dan teriakannya selalu menambah kebahagiaan hatiku?" Seorang muslim bertanya, "kebahagiaan apa yang engkau peroleh dari suara muazin yang jelek itu?"

Haedar Nashir



Lalu orang kafir itu bercerita, "suara muazin itu menembus ke gereja dan tempat kami tinggal. Aku mempunyai seorang anak perempuan yang sangat cantik dan berakhlak mulia. Ia berkeinginan sekali untuk menikahi seorang muslim. Ia mempelajari agama dan tampaknya tertarik untuk masuk Islam. Aku tersiksa, gelisah, dan terus-menerus dilanda kerisauan memikirkan anak gadisku itu. Aku khawatir dia akan masuk Islam. Sampai suatu saat anak perempuanku mendengar suara azan. Ia bertanya, suara apakah yang terdengar jelek dan mengganggu telingaku itu? Belum pernah dalam hidupku mendengar suara sejelek itu di tempat-tempat ibadah atau gereja."



Orang kafir melanjutkan ceritanya, “anak gadisku itu hampir tidak percaya. Dia bertanya lagi kepadaku, "apakah benar suara yang jelek itu adalah suara untuk memanggil orang sembahyang?" Namun ketika dia sudah diyakinkan bahwa betul suara itu adalah azan, wajahnya berubah pucat pasi. Dalam hatinya tersimpan kebencian pada Islam. Begitu aku menyaksikan perubahan itu, aku merasa dilepaskan dari segala kecemasan dan penderitaan.

Haedar Nashir



Singkat cerita, ketika orang kafir itu bertemu dengan si muazin, dia berkata, "terima kasih hadiah ini karena engkau telah menjadi pelindung dan juru selamatku. Berkat kebaikan yang telah engkau lakukan, kini aku terlepas dari kegelisahan. Sekiranya aku memiliki kekayaan dan harta benda yang banyak, akan aku isi mulutmu dengan emas."

?

Hikmah parodi



Rumi mengajari kita sebuah cerita yang berisi parodi, sebuah sindiran yang sangat halus. Azan yang dikumandangkan dengan buruk bukan hanya dapat menghalangi orang untuk masuk Islam, tetapi ini juga soal metode komunikasi—atau dalam bahasa agama "metode dakwah"—yang kurang tepat. Bahwa betul apa yang disampaikan itu suatu kebenaran Ilahi, tetapi jika caranya salah, seperti orang memberikan makanan lezat kepada orang lain dengan cara melemparnya, tidak dengan yang lazim/sopan sebagaimana menjadi aturan adat atau norma agama, orang lain akan enggan ? nerimanya.



Jalaluddin Rakhmat (2007) menyebut model keberagamaan seperti yang ditunjukkan oleh muazain di atas sebagai "kesalehan pulasan", yaitu orang yang meletakkan nilai pada segi lahiriah. Seperti orang yang berazan, ia merasa azannya betul-betul melaksanakan perintah agama. Karena azan itu, seperti disebutkan dalam hadits, adalah suatu kewajiban yang mulia. Dengan berpegang pada teks itu, maka orang berlomba-lomba mengumandangkan azan, apalagi dilakukan dengan menggunakan pengeras suara bersahut-sahutan. Ini juga berlaku kepada amalan ibadah lain yang cenderung—meminjam istilah wakil presiden Jusuf Kalla melakukan "polusi udara" pada kasus pemutaran kaset ngaji.



Apakah hal itu salah? Tentu saja tidak, tetapi mungkin perlu mempertimbangkan aspek substansi (batiniah) selain aspek lahiriah ibadah. Apakah dengan berazan atau bahkan mengaji menggunakan pengeras suara dapat melipatgandakan pahala di sisi-Nya? Bagaimana jika dengan lantunan ayat atau azan itu justru mengganggu masyarakat lain yang non-muslim karena bising yang ditimbulkannya? Atau jangan-jangan kita menganggap bahwa Tuhan itu jauh (padahal Dia sendiri mengatakan (Q.S al-Baqarah: 186) bahwa diri-Nya sangat dekat dengan kita, fainni qarib) dan tidak mendengar (padahal Dia adalah sami, Maha Mendengar) sehingga perlu dipanggil lewat pengeras suara?

?

Gus Dur dan Gus Mus



Jadi ingat humor berikut ini. Tokoh agama Islam, Kristen, dan Budha sedang berdebat. Gus Dur mewakili dari agama Islam. Kala itu yang diperdebatkan mengenai agama manakah yang paling dekat dengan Tuhan? Seorang biksu Budha langsung menjawab, "Agama sayalah yang paling dekat dengan Tuhan, karena setiap kami beribadah ketika memanggil Tuhan kami mengucapkan Om. Nah kalian tahu sendiri, begitu dekatnya hubungan keluarga antara paman dengan ponakannya?"



Seorang pendeta dari agama Kristen menyangkal. "Ya tidak bisa, pasti agama saya yang lebih dekat dengan Tuhan", ujar pendeta. "Lah kok bisa?", sahut biksu penasaran. "Kenapa tidak, agama Anda kalau memanggil Tuhan hanya Om, tetapi kalau di agama saya memanggil Tuhan itu Bapa. Nah kalian tahu sendiri, lebih dekat mana anak dengan bapaknya daripada keponakan dengan pamannya?" jawab pendeta.



Gus Dur yang belum mengeluarkan argumen masih tetap tertawa malah terbahak-bahak setelah mendengar argumen dari pendeta. "Loh kenapa Anda kok tertawa terus?" tanya pendeta penasaran. "Apa Anda merasa bahwa agama Anda lebih dekat dengan Tuhan?" sahut biksu bertanya pada Gus Dur.



Gus Dur masih saja tertawa sambil mengatakan "Ndak kok, saya ndak bilang gitu, boro-boro dekat justru agama saya malah paling jauh sendiri dengan Tuhan." Jawab Gus Dur dengan masih tertawa. "Lho kok bisa?" tanya pendeta dan biksu makin penasaran. "Bagaimana tidak, lah wong kalau di agama saya itu kalau memanggil Tuhan saja harus memakai Toa (pengeras suara)," jawab Gus Dur.



Karena itulah, tidak berlebihan, jika KH Musthafa Bisri atau Gus Mus menulis puisi Kau ini Bagaimana atau Aku Harus Bagaimana, yang penggalannya berbunyi, "... Aku harus bagaimana/Kau bilang Tuhan sangat dekat, kau sendiri memanggilnya dengan pengeras suara tiap saat/Kau bilang suka damai, kau ajak aku setiap hari bertikai."

?

Penulis adalah Dosen Filsafat dan Tasawuf pada Sekolah Tinggi Agama Islam Sunan Pandanaran (STAISPA) Yogyakarta

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Anti Hoax Haedar Nashir

Warga Nahdhiyyin di Tunis Ziarahi Makam Sahabat Rasul

Tunisia, Haedar Nashir. Sebanyak 50 mahasiswa Indonesia di Tunisia mengunjungi makam dua sahabat Rasulullah SAW. Sejumlah sepuluh dari mereka ialah mahasiswa STAINU Jakarta yang sedang menempuh program bahasa di Universitas Zitouna. Ziarah ini digagas oleh Persatuan Pelajar Indonesia (PPI) Tunisia.

Ketua mahasiswa STAINU di Tunisia, Izzul Madid menyatakan pentingnya acara ziarah semacam ini.

Warga Nahdhiyyin di Tunis Ziarahi Makam Sahabat Rasul (Sumber Gambar : Nu Online)
Warga Nahdhiyyin di Tunis Ziarahi Makam Sahabat Rasul (Sumber Gambar : Nu Online)

Warga Nahdhiyyin di Tunis Ziarahi Makam Sahabat Rasul

“Selain mendapat pengalaman baru dan wawasan, kita juga dapat menemukan insiprasi atau keteladanan dari para sahabat. Perjuangan mereka yang mau datang jauh dari Hijaz ke Afrika Utara untuk penyebaran agama Islam, perlu kita teladani,” tutur Madid. 

Haedar Nashir

Mereka mengunjungi makam sahabat Abu Zam’a al Balawi terletak di kota Kairouan sekitar 156 km dari Tunis, Sabtu-Ahad (15-16/3). Sementara makam Abu Lubabah al Anshari berlokasi di kota Gabes, 404 km dari Tunis.

Dua makam sahabat ini menjadi situs wisata ziarah terpenting di Tunisia saat ini. Makam Abu Zam’a al-Balawi sering menjadi pusat acara hari besar keagamaan. Sedangkan di makam Abu Lubabah al-Anshari, biasa diadakan festival seni kaum sufi internasional yang lazim digelar setiap bulan ramadhan.

Haedar Nashir

Abu Zam’a al-Balawi seorang sahabat yang hadir dalam perjanjian Hudaibiyah serta mengikuti beberapa peperangan bersama Rasulullah saw. Ia juga pernah menjadi tukang cukur rambut Rasulullah SAW. Ketika turut serta dalam penyebaran Islam ke Afrika Utara, ia membawa beberapa helai rambut Rasulullah.

Sedangkan  Abu Lubabah al-Anshari adalah sahabat asal Madinah. Ia masuk Islam sejak sebelum hijrah. Ketika Rasulullah saw berhijrah ke Madinah, Abu Lubabah termasuk salah seorang warga Madinah yang turut menyambut kedatangan Rasulullah.

Selain berziarah ke dua makam sahabat, mereka juga berziarah ke makam mantan presiden Tunisia Habib Borguiba di kota Monastir, Masjid Uqbah bin Nafi di kota Kairouan, serta situs wisata sahara di kota Matmata, Tunisia Selatan. (Dede Permana/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Ahlussunnah Haedar Nashir

PMII Sampang Bantu Korban Banjir

Sampang, Haedar Nashir. Pengurus Cabang Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Kabupaten Sampang, Jawa Timur, prihatin dengan bencana banjir yang merendam rumah warga. Seperti aksi-aksi sebelumnya, Sabtu (21/12), para aktivis PMII membagikan sejumlah makanan untuk para korban.

Selain nasi bungkus, mereka juga membagi-bagikan mie instan yang menjadi kebutuhan korban banjir di wilayah pedesaan. Aksi sosial ini berlangsung di  tiga titik lokasi, yaitu Desa Kemuning, Desa Pandiyan dan Desa Panggung.

PMII Sampang Bantu Korban Banjir (Sumber Gambar : Nu Online)
PMII Sampang Bantu Korban Banjir (Sumber Gambar : Nu Online)

PMII Sampang Bantu Korban Banjir

Abdullah (45), salah satu korban banjir, mengaku sangat gembira dan bersyukur atas bantuan dari para aktivis PMII. "Kami merasa terbantu dengan bantuan yg berharga ini,” katanya.

Haedar Nashir

Menurut dia, musibah banjir yang menimpanya Jumat kemarin telah melenyapkan bahan makanan sehingga keluarganya tidak bisa memasak.

Ketua PC PMII Sampang Syaifullah mengatakan, pihaknya terus berupaya untuk senantiasa berada di garda depan dalam aksi kepedulian sosial.

Haedar Nashir

"Sudah menjadi kewajiban manusia untuk saling tolong menolong, walau dengan dana seadanya hasil urunan para kader. Kami tidak akan pernah diam untuk bahu membahu meringankan beban korban banjir," tandasnya. (Agus Wedi/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Pesantren Haedar Nashir

Senin, 28 Agustus 2017

Pelatihan Pelatih Silat Tingkat Nasional Dimulai

Sleman, Haedar Nashir. Pelatihan Pelatih Tingkat Nasional Pencak Silat Nahdhatul Ulama (PSNU) Pagar Nusa resmi dibuka, Senin (03/03). Pelatihan akan berlangsung selama tujuh hari ke depan (3-9/3), di Gedung Youth Centre Tlogoadi, Mlati, Sleman, DI Yogyakarta.

Acara tersebut dibuka Majelis Pendekar Pencak Silat PSNU Pagar Nusa, yang diwakili oleh Zainal. Sebelum membuka, Zainal menyampaikan mengapa pelatihan tersebut perlu diadakan.

Pelatihan Pelatih Silat Tingkat Nasional Dimulai (Sumber Gambar : Nu Online)
Pelatihan Pelatih Silat Tingkat Nasional Dimulai (Sumber Gambar : Nu Online)

Pelatihan Pelatih Silat Tingkat Nasional Dimulai

Pihaknya mengatakan bahwa salah satu hal utama adalah karena masalah penyeragaman gerakan dasar yang harus sesuai dengan buku panduan. “Sebab selama ini belum ada yang sama antara daerah satu dengan yang lain,” ujarnya.

Haedar Nashir

Berdasarkan penuturan ketua panitia, M. Roghib, acara pelatihan pelatih nasional ini diikuti oleh sekitar 70 peserta yang merupakan delegasi dari berbagai daerah, seperti Jawa Timur, Jawa Tengah, Jawa Barat, DI Yogyakarta, Sumatra Barat, Riau, Kalimantan Timur, Sulawesi Utara, dan sebagainya.

Haedar Nashir

Hadir dalam kesempatan itu beberapa tamu undangan, seperti PCNU Sleman, Polres Sleman, TNI, Pimpinan Wilayah PSNU Pagar Nusa DIY, Pimpinan Pusat PS NU Pagar Nusa, dan sejumlah undangan lain, termasuk pendiri PSNU Pagar Nusa.

Acara pun tampak meriah dengan penampilan group hadrah PMII Ashram Bangsa dan sejumlah atraksi dari PSNU Pagar Nusa. Keduanya berasal dari UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta.

Sebelumnya, dikatakan bahwa acara pelatihan pelatih ini merupakan salah satu rangkaian kegiatan peringatan Harlah Ke-28 Pagar Nusa, dan telah didahului oleh beberapa kegiatan lain. Seperti bedah buku, silaturrahmi majelis pendekar Pagar Nusa, dan puncak peringatan Harlah yang berlangsung di Cibinong, Jawa Barat.

Pelatihan tersebut merupakan salah satu rangkaian dari peringatan hari lahir (Harlah) Pagar Nusa yang jatuh pada tanggal 3 Januari. (Dwi Khoirotun Nisa’/Abdullah Alawi)

.

? ? ?

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir AlaSantri, Warta, Nasional Haedar Nashir