Jumat, 01 September 2017

Penjelasan Mengenai Wakaf Uang

Dalam kesempatan kali ini, kami akan menjelaskan satu pertanyaan dari saudara A. Riduwan dari Lampung yang belum sempat kami jawab di bulan Ramadhan lalu, yakni soal wakaf uang.

Pada dasarnya pengertian wakaf adalah menahan harta yang bisa diambil manfaaatnya dengan tetap kekalnya dzat harta itu sendiri dan? mantasharrufkan kemanfaatannya di jalan kebaikan dengan tujuan mendekatkan diri kepada Allah swt. Konsekwensi dari hal ini adalah dzat harta-benda yang diwakafkan tidak boleh ditasharrufkan. Sebab yang ditasharrufkan adalah manfaatnya. Hal ini sebagaimana dikemukakan oleh penulis kitab Kifayah al-Akhyar sebagai berikut;? ? ?

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? - ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?-? ? ? 1? ?. 256

“Definisi wakaf menurut syara’ adalah menahan harta-benda yang memungkinkan untuk mengambil manfaatnya beserta kekalnya dzat harta-benda itu sendiri, dilarang untuk mentasaharrufkan dzatnya. Sedang mentasharrufkan kemanfaatannya itu dalam hal kebaikan dengan tujuan mendekatkan diri kepada Allah swt” (Taqiyyuddin Abi Bakr bin Muhammad al-Husaini al-Hishni ad-Dimasyqi asy-Syafi’i, Kifayah al-Akhyar fi Halli Ghayah al-Ikhtishar, Surabaya-Dar al-‘Ilm, tt, juz, 1, h. 256).

Penjelasan Mengenai Wakaf Uang (Sumber Gambar : Nu Online)
Penjelasan Mengenai Wakaf Uang (Sumber Gambar : Nu Online)

Penjelasan Mengenai Wakaf Uang

Persoalannya bagaimana dengan wakaf uang? Dalam kasus ini setidaknya para ulama terbelah menjadi dua pendapat. Pendapat pertama menyatakan bahwa bahwa wakaf uang (waqf an-nuqud) secara mutlak tidak diperbolehkan.

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? -? ? ? ? ? ? ? ?? ?-? ? ? 2? ?. 362

“Adapun wakaf sesuatu yang tidak bisa diambil manfaatnya kecuali dengan melenyapkannya seperti emas, perak, makanan, dan minuman maka tidak boleh menurut mayoritas fuqaha. Yang dimaksud dengan emas dan perak adalah dinar dan dirham dan yang bukan dijadikan perhiasan”. (Syaikh Nizham dan para ulama India, al-Fatawa al-Hindiyah, Bairut-Dar al-Fikr, tt, juz, 2, h. 362)

Haedar Nashir

Sedang pendapat kedua menyatakan bahwa wakaf uang diperbolehkan. Hal sebagaimana pandangan Ibnu Syihab az-Zuhri yang memperbolehkan wakaf dinar sebagaimana dinukil al-Bukhari.

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?: ? ?: ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?- ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?-? ? ? ? ? 1417?/1997? ?. 20-21)

“Telah dinisbatkan pendapat yang mensahkan wakaf dinar kepada Ibnu Syihab az-Zuhri dalam riwayat yang telah dinukil Imam Muhammad bin Isma’il al-Bukhari dalam kitab Shahihnya. Ia berkata, Ibnu Syihab az-Zuhri berkata mengenai seseorang yang menjadikan seribu dinar di jalan Allah (mewakafkan). Ia pun memberikan uang tersebut kepada budak laki-lakinya yang menjadi pedagang. Maka si budak pun mengelola uang tersebut untuk berdagang dan menjadikan keuntungannya sebagai sedekah kepada orang-orang miskin dan kerabat dekatnya. Lantas, apakah lelaki tersebut boleh memakan dari keuntungan seribu dinar tersebut jika ia tidak menjadikan keuntungannya sebagai sedekah kepada orang-orang miksin? Ibnu Syihab az-Zuhri berkata, ia tidak boleh memakan keuntungan dari seribu dinar tersebut” (Abu Su’ud Muhammad bin Muhammad Mushthafa al-‘Imadi al-Afandi al-Hanafi, Risalah fi Jawazi Waqf an-Nuqud, Bairut-Dar Ibn Hazm, cet ke-1, 1417 H/1997 M, h. 20-21).

Dengan mengacu kepada pendapat Ibnu Syihab az-Zuhri ini maka cara atau teknik mewakafkan uang adalah dengan menjadikannya sebagai modal usaha. Dan keuntungan yang diperoleh diberikan kepada mauquf ‘alaih atau pihak yang menerima manfaat dari harta wakaf.? ? ?

Haedar Nashir

Dari penjelasan singkat ini dapat dipahami bahwa wakaf uang termasuk bagian dari infak. Sebab, infak —sebagaimana telah dijelaskan— adalah menggunakan atau membelanjakan harta-benda untuk pelbagai kebaikan, seperti untuk pergi haji, umrah, menafkahi keluarga, menunaikan zakat, dan lain sebagainya. Termasuk di dalamnya adalah wakaf dengan pelbagai macamnya.

Sedang mengenai perbedaannya dengan zakat dan shadaqah hemat kami sudah sangat jelas sehingga tidak perlu diterangkan. Demikian penjelasan singkat ini semoga bermanfaat. Mohon maaf atas keterlambatan jawaban yang kami berikan. Dan jika anda punya harta-benda berlebih, segeralah diwakafkan karena itu termasuk shadaqah yang pahalanya selalu mengalir. (Mahbub Ma’afi Ramdlan) ? ? ?

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Fragmen, Syariah Haedar Nashir

Ekologi Pesantren ala Syekh Arsyad Al-Banjari

Mendung menggantung di atas langit Martapura, Kabupaten Banjar, Kalimantan Selatan. Masih pagi, matahari masih belum di tempat tertingginya, tapi jalan menuju makam terkenal, makam Syekh Arsyad Al-Banjari sudah ramai dikunjungi peziarah.

Mungkin karena hari Sabtu, maka banyak pengunjung dari luar kota -setidaknya itu yang terlihat dari sejumlah plat kendaraan yang beriringan bersama kami menuju makam.

Ekologi Pesantren ala Syekh Arsyad Al-Banjari (Sumber Gambar : Nu Online)
Ekologi Pesantren ala Syekh Arsyad Al-Banjari (Sumber Gambar : Nu Online)

Ekologi Pesantren ala Syekh Arsyad Al-Banjari

Makam terletak di Desa Kalampaian, sekitar 35 menit berkendara angkot dari pasar Martapura. Menuju makam mesti melewati jalan kecil tidak terlalu lebar, peminta dan pedagang bunga untuk peziarah. Sepanjang jalan juga akan berpapasan dengan perkampungan, kebun limau dan “pehumaan”—sebutan lain bagi hamparan sawah.

Haedar Nashir

Saat hidup, Mohammad Arsyad adalah ulama berpengaruh tak hanya di Kalimantan, namun juga di Asia Tenggara.

Ihya’ul Mawat : Revolusi Agama dan Pangan

Setelah 35 tahun belajar di Makkah dan Madinah, sekembalinya ke Tanah Air di Kalimantan Selatan, Sultan Banjar memberikan lahan yang diubah menjadi pusat pendidikan pesantren. Kini tanah tersebut menjadi kampung yang dikenal sebagai kampung Dalam Pagar. Tak jauh dari dalam pagar, Arsyad bersama-sama warga juga membangun saluran irigasi pertanian yang dikenal sebagai Sungai Tuan.

Haedar Nashir

Konon Sungai Tuan yang kini tumbuh menjadi perkampungan ini dibuat Sang Syekh dengan cara menggoreskan tongkatnya sepanjang 8 kilometer dari hulu ke hilir, karena “karomah” yang melekat padanya, goresan tersebut “maujud” menjadi sungai yang berfungsi sebagai irigasi mengaliri tiap-tiap sawah dan kebun limau warga hingga saat ini.

Sungai Tuan dan Dalam Pagar, saling berdekatan jaraknya, dengan berkendara motor, dapat menyusuri kedua kampung yang saling terhubung satu sama lain ini, lebih mudah.

Inilah konsep “khas” Islam pesantren yang menyatukan kawasan masyarakat dengan kawasan pendidikan Islam. Bukti bahwa ideologi Islam pesantren yang karib dan intim dengan masyarakatnya. Bukti bahwa ulama dan santri adalah anak kandung rakyat, seperti .

Sebagai ulama dan santri yang merupakan anak kandung rakyat Kalimantan, Syekh Mohammad Arsyad Albanjari paham benar tentang problem yang dihadapi sehari-hari oleh rakyatnya. Tak hanya membangun irigasi pertanian, dalam kitab karyanya yang terkenal, “Sabilal Muhtadin” juga memberikan perhatian pada permasalahan ternak dan hasil bumi atau pertanian, bahkan terdapat bab khusus terkait zakat pertanian .

Revolusi agama dan pertanian ini dinamai Syekh Mohammad Arsyad Albanjari dengan gerakan “ihya’ul mawat” , gerakan menghidupkan lahan-lahan yang non-produktif/ lahan terlantar. Kesuksesan gerakan ini melekat, hingga sekarang, kawasan-kawasan ini adalah pemasok utama buah limau di Kabupaten Banjar, Kalimantan Selatan.

Ikatan terhadap Tanah & Air

“Rumah kita adalah sekolah pesantren ini dan santri adalah anak-anak kita ”

---Tuan guru Abdurrasyid, Pendiri Madrasah Wathaniyah, Kandangan, 1931--

“Agama tak bisa ditegakkan di ruang hampa tanpa tanah dan air, karena itulah mencintai agama berarti mencintai tanah dan air, kehilangan tanah berarti kehilangan agama dan sejarah”

---KH Said Aqil Siroj, Ketua PBNU, pada lawatan Bulan Februari 2013 di Samarinda—

Karena mencintai agama (Dalam Pagar) lah, para ulama dan santri Syikh Arsyad Albanjari juga mencintai pertanian mereka (Sungai Tuan). Kehilangan lahan pertanian dan pangan berarti juga kehilangan agama. Begitulah kira-kira jika ingin melukiskan hubungan antara perkampungan pesantren Dalam Pagar dan perkampungan pertanian Sungai Tuan, ibarat dua sisi mata uang yang tak terpisahkan.

Karena mencintai agama sekaligus mencintai Tanah-Air pula, para ulama dan santri yang dipimpin oleh Hadratussyaikh KH Hasyim Asyari, mengeluarkan Resolusi Jihad, agar umat Islam dan kekuatan pesantren melawan dan mengusir Belanda lewat peristiwa heroik 10 november 1945 lampau.

Sebagai anak kandung rakyat Kalimantan, Syekh Arsyad paham betul bagaimana medan perjuangan yang ia sedang hadapi. Ia bahkan diberikan julukan “Tuan Haji Besar” oleh Belanda karena pengetahuan dan pengasaannya yang komplit atas hampir semua disiplin ilmu, salah satunya adalah ilmu falak (Astronomi) dan ilmu hidrologi.

Penguasaannya atas astronomi atau ilmu falak terlihat dari salah satu buku karangannya yang berjudul Kitab Ilmu Falak dan prestasinya dalam membetulkan arah kiblat sebuah masjid di Betawi.

Kemudian penguasaannya atas ilmu hidrologi dapat dijumpai dalam karyanya yang terkenal, Sabilal Muhtadin, sebuah kitab fikih yang 40 persen dari isinya membahas secara rinci tentang air dan hidrologi yang tersebar diberbagai bab .

Pengetahuannya atas air dan hidrologi konon pernah diuji oleh belanda, saat ia bersama Syekh Abdusshomad Al-Palembangi ditangkap selama 3 hari, 3 malam oleh Belanda di Batavia, karena gerak gerik yang mencurigakan . Syekh Arsyad terbukti mampu menghitung kedalaman air sungai bahkan air laut. Pengetahuan ini pula yang ia terapkan dalam pembangunan irigasi pertanian sungai tuan.

Sebagai anak Kalimantan, negeri yang dijuluki sebagai negeri seribu sungai, menjadi latar belakang pemikiran “ekologi” Syekh Arsyad Albanjari yang menyebabkan pembahasan dan pengetahuannya mengenai air dan hidrologi sebegitu dalamnya dan menjadi perhatiannya dalam kitab Sabilal Muhtadin.

Karena kecintaannya pada tanah dan air, aktivitas ber”huma” atau bertani memiliki nilai ibadah, ikatan dan perlakuan atas tanah bukan semata fungsi ekonomis guna memenuhi kebutuhan makan dan minum melalui ladang dan sawah, akan tetapi juga fungsi spiritual dan bernilai ibadah.

Tasawuf dan Tantangan Kapitalisme Pertambangan di Kalimantan

Kini 70 persen dari 3,7 Juta luas Provinsi Kalimantan Selatan telah dikapling oleh Pertambangan Batubara, JATAM dan Walhi kalsel mencatat bahwa otonomi daerah membawa dampak buruk, salah satunya adalah obral perizinan tambang oleh pemerintah setingkat kabupaten dan kota akibat dari desentralisasi kewenangan. Kapitalisme dengan bentuk maskapai modal, perusahaan pertambangan kini semakin mudah melakukan negosiasi langsung dengan pemerintah daerah dan masyarakat, Walhi dan JATAM mencatat ada 625 ijin usaha pertambangan? kini dibumi Kalimantan Selatan.? ? ?

Masyarakat terbagi dua, yang pro dengan jual-beli tanah oleh perusahaan dan yang kontra jual-beli lahan. Pragmatisme menjalar cepat pada masyarakat, ikatan sosial menipis, konflik lahan atau konflik agraria merebak pada kampung-kampung dengan kawasan perkebunan dan pertambangan, bahkan konflik terjadi antar keluarga sendiri.

Pragmatisme membuat ikatan masyarakat mudah menjual tanah atau lahannya, ikatan atas tanah memudar drastis, hubungan terhadap tanah hanya sebagai hubungan ekonomis, seperti yang disabdakan kapitalisme.

Bumi Kalimantan memang tak bisa dipisahkan dari daya tarik sumber daya alamnya, seperti batubara. Jauh sebelum saat ini, kapitalisme yang bercokol dalam bentuk kolonialisme dan imperialisme VOC – Belanda sudah pernah datang beberapa dekade yang lampau.

Di Kalimantan Selatan, belanda melalui gubernurnya di Kalimantan, Neuwenhuyzen berhasil menjalankan politik adu domba (devide et impera) di Kesultanan Banjar, Mereka berhasil “memprovokasi” Sultan Tamjidullah untuk mendapatkan kekuasaan secara tidak sah dan memberikan konsesi pertambangan batubara pertama dalam sejarah Kalimantan, yaitu pertambangan batubara oranje nassau di pengaron dekat martapura . ?

Sejak interaksi pertamanya dengan Belanda di Batavia, Syekh Mohammad Arsyad Albanjari paham benar taktik belanda yang menggunakan “godaan materi dan kekuasaan”, selain karena ia dan sahabat karibnya Abdusshomad al-Palembangi yang memilih melanjutkan dan menambah belajar tasawuf pada mursyid terkenal Syekh Samman Almadani di Madinah, 5 tahun lagi setelah 30 tahun sebelumnya belajar di Kota Mekkah.

Tasawuf-lah yang membuat pandangan ulama Kalimantan ini menjadi anti-kolonial, dalam sebuah catatan, bahkan sahabat Arsyad Albanjari, Abdusshomad Al-Palembangi disebut sebagai yang paling anti-kolonial dengan menulis sebuah tulisan berjudul ; Nashihatul Muslimin wa Tadzkiratul Mukminin fi Fadha’il Jihad wa Karamatul Mujahidin Fisabilillah, sebuah naskah tentang pentingnya jihad melawan kolonialisme asing .

Mereka berdua ini adalah murid langsung dari Syekh Samman al Madani, sumber utama gerakan Tharekat Sammaniyah yang “masyhur” dikenal sebagai tarekat yang menginspirasi berbagai gerakan perlawanan atas kolonialisme Belanda di Nusantara . ?

Berkembangnya Tarekat Sammaniyah di Kalimantan Selatan berkaitan dengan pengisian mental pejuang dalam melawan penjajah. Seperti juga yang ditemukan di Banten melalui Nawawi al Bantani yang hidup satu abad sesudah Abdusshomad Al-Palembangi, Nawawi sempat berguru kepada murid-murid Abdusshomad al Palembangi? ? di Sulawesi Selatan tarekat ini dikenal dengan nama Tharekat Khalwatiyah Salman.

Di Banjar, Kalimantan Selatan, ada dua tokoh yang disebut-sebut bagian dari “jaringan” tarekat ini yaitu Muhammad Nafis AlBanjari dan Syaikh Muhammad Arsyad Albanjari.

Nafis AlBanjari—walaupun tidak langsung berguru dengan Syekh Samman, namun ia mengarang kitab yang sangat berkaitan dengan konsep Sammaniyah, berjudul Ad Durrun Nafis .

Tahun 1998 dulu, Tuan Guru Zaini Abdul Ghani yang biasa dikenal sebagai Guru IJAI menyelenggarakan haulan Syekh Samman yang ke 230 di kampung kelahiran Syekh Arsyad AlBanjari. Haulan dimulai dengan shalat maghrib, maulud, manakib, qasidah, tahlilan dan doa, saat itu sempat dilantunkan lima kasidah Syekh Samman selama 50 menit di selenggarakan di kompleks pengajian Musholla Ar-Raudhah, Sekumpul, Martapura, Kalimantan Selatan.

Ada sebuah konsep penting yang diajarkan oleh guru-guru pesantren yang ajarannya bersumber dari Syekh Arsyad Albanjari dan dari konsep tasawuf, yaitu ; “Alim dulu hanyar sugih”, “menjadi alim dulu baru menjadi kaya”,--ini adalah konsep meletakkan materi atau capital dibawah pengetahuan agama. Konsep ini relevan saat ini ketika laju “pragmatisme” melalui godaan menjual tanah dan lahan pada kepentingan asing atau Kapitalisme.

Karena kini banyak kawasan pertanian dan pangan yang direbut oleh pertambangan batubara, begitu juga di Kalimantan, menghancurkan lahan pertanian berarti juga menghancurkan “ideologi pesantren” yang sudah lama memilih pertanian sebagai “ideologi ekonominya”. ?

MERAH JOHANSYAH ISMAIL, adalah anggota Front Nahdliyin untuk Kedaulatan Sumberdaya Alam (FNKSDA) Dan Pengkampanye Nasional Energi, Jaringan Advokasi Tambang (JATAM).

?

?

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir AlaSantri Haedar Nashir

PCNU Cirebon: PMII Basis Gerakan NU di Kampus

Cirebon, Haedar Nashir. Dalam rangka memperkuat arah pergerakan dan tradisi ke-NU-an, Pengurus Cabang Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Cirebon bersilaturahmi ke kantor Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Kabupaten Cirebon.

PCNU Cirebon: PMII Basis Gerakan NU di Kampus (Sumber Gambar : Nu Online)
PCNU Cirebon: PMII Basis Gerakan NU di Kampus (Sumber Gambar : Nu Online)

PCNU Cirebon: PMII Basis Gerakan NU di Kampus

Dalam pertemuan pada Jum’at (2/1) siang tersebut, PMII berharap dukungan dan bimbingannya dari NU untuk menjalankan program keorganisasian di ranah mahasiswa.

“Dengan silaturahmi ini kami berharap ke depan antara PMII dan PCNU bisa saling bekerja sama melaksanakan program kerja yang manfaatnya untuk para mahasiswa di Cirebon,” kata Ketua PMII Cirebon, M. Yazidul Ulum.

Haedar Nashir

Yazid menambahkan, shilaturahmi ini juga bertujuan untuk pengenalan pengurus PMII Cirebon yang rencananya akan dilantik pada 10 Januari 2014 mendatang. “Ke depan tidak ada lagi pengurus cabang dan kader juga anggota PMII Cirebon yang tidak mengenal orang tuanya (NU-red),” terangnya.

Haedar Nashir

Silaturahmi PC PMII Cirebon ini diterima dengan baik oleh Rais Syuriah PCNU Kabupaten Cirebon, KH Usamah Manshur dan Ketua Tanfidziah PCNU Kabupaten Cirebon, KH Ali Murtadlo.

“Kami bangga dengan awal kepengurusan kali ini. Dan alhamdulillah kita bisa sharing bersama. Bagaimanapun PMII adalah basis gerakan NU di kampus. Sehingga antara NU dan PMII bisa saling bersinergi,” jelas Kiai Ali yang merupakan alumni PMII STIQ Jakarta.

Kiai Ali juga menambahkan bahwa saat ini PMII perlu memperkuat diri dari segi al-fikratul an-nahdliyah (pemikiran ke-NU-an) dan juga al-harakatul an-nahdliyah (gerakan ke-NU-an).

Hal senada disampaikan KH Usamah Manshur bahwa PMII merupakan anak kandung NU maka sudah selayaknya antara PMII dan NU saling bergandengan tangan menjaga, mempertahankan dan mengembangkan Ahlussunnah Wal-Jama’ah dan tradisi-tradisi NU dikalangan mahasiswa.

“Ada anekdot yang mengatakan bahwa PMII adalah anak hilang yang belum pulang kembali,” kata pengasuh Pondok Pesantren Annashuha ini.

Alhamdulillah, kata dia, dengan shilaturahmi ini anak yang dulu hilang kini sudah kembali. Terlepas PMII menjadi banom kembali atau tetap interdependen yang terpenting adalah tetap mengembangkan Aswaja annahdliyyah di kampus masing-masing juga di masyarakat.”

Dari data yang dihimpun, saat ini tercatat ada 1.500 anggota dan 200 kader PMII Cirebon terdapat berbagai kampus di Cirebon seperti IAIN Syekh Nurjati, Unswagati Cirebon, STAI Ma’had Ali Cirebon, STAI Bunga Bangsa Cirebon, STAI Cirebon, UNU Cirebon, dan STID Al Biruni Cirebon.? (Ayub Al Ansori/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Nahdlatul Ulama, Bahtsul Masail Haedar Nashir

Rabu, 30 Agustus 2017

Jelang Kongres Ke-18, Ini Harapan Kader IPNU Soloraya

Solo, Haedar Nashir. Menjelang pelaksanaan Kongres Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama XVIII di Boyolali, Jawa Tengah, pada Desember mendatang, sejumlah kader IPNU di wilayah Soloraya menitipkan harapan pada acara tertinggi di ranah pelajar NU tersebut.

Jelang Kongres Ke-18, Ini Harapan Kader IPNU Soloraya (Sumber Gambar : Nu Online)
Jelang Kongres Ke-18, Ini Harapan Kader IPNU Soloraya (Sumber Gambar : Nu Online)

Jelang Kongres Ke-18, Ini Harapan Kader IPNU Soloraya

Harapan pertama datang dari salah satu pengurus PW IPNU Jawa Tengah, Ahmad Saefuddin. Mantan Ketua PC IPNU Klaten tersebut berharap, Kongres mampu menelurkan program-program yang berdampak langsung kepada wilayah, cabang dan seterusnya.

“Selain itu, PP IPNU juga mampu merapikan struktur IPNU di setiap tingkatan terkait peraturan baru yang dikeluarkan oleh PBNU bahwa maksimal pengurus IPNU sampai 26 tahun,” kata Saefuddin, saat dihubungi Haedar Nashir, Jumat (12/11).

Haedar Nashir

Ia juga berharap, agar Kongres tidak dijadikan hanya sebagai ajang pemilihan pimpinan, tetapi pemilihan pemimpin. “Optimalisasi sinergi PP IPNU dengan LP Maarif dan RMI juga masih belum maksimal, sehingga ini masih menjadi tugas besar bagi IPNU ke depannya,” ujar dia.

Senada dengan Saefuddin, alumni kader IPNU asal Boyolali, Agus Luqman, juga menantikan sebuah asa untuk Kongres mendatang.

Haedar Nashir

“Masih banyak agenda besar yang harus dikawal dan dilaksanakn oleh IPNU ke depannya. Tentunya terkait dengan kaderisasi di segmen pelajar dan santri. Pengalaman saya dari kongres ke kongres, peserta tidak fokus membahas materi, yang itu tentunya sangat penting untuk masa depan IPNU, tetapi peserta disibukkan dan terfokus masalah suksesi calon ketum. Seharusnya paradigma itu harus dirubah,” paparnya.

Sementara itu, dua Ketua PC IPNU Sukoharjo dan Klaten, Atsani Imam Ghozali dan Lystyanto Achmad berharap, Kongres IPNU kali ini dapat menjadi solusi atas berbagai permasalahan yang ada di IPNU. (Ajie Najmuddin/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Pesantren, Pondok Pesantren, Jadwal Kajian Haedar Nashir

Ajaran Agama Pengaruhi Keberhasilan KB

Denpasar, Haedar Nashir. Keberhasilan program keluarga berencana (KB) banyak dipengaruhi oleh sikap dan pandangan hidup masyarakat yang terbentuk dari ajaran serta nilai-nilai agama.

"Pengalaman Indonesia dalam menggerakkan program KB itu, sejak awal telah melibatkan peran ulama dan tokoh-tokoh masyarakat," kata Menteri Agama Maftuh Basyuni di Sanur, Bali, Selasa.

Ajaran Agama Pengaruhi Keberhasilan KB (Sumber Gambar : Nu Online)
Ajaran Agama Pengaruhi Keberhasilan KB (Sumber Gambar : Nu Online)

Ajaran Agama Pengaruhi Keberhasilan KB

Dalam acara "International Conference of Muslim Leaders to Support Population and Development to Achieve the Millennium Development Goals," Maftuh Basyuni mengemukakan, pengalaman KB di Indonesia barangkali bisa menjadi model bagi negara-negara lain.

Ulama dan tokoh masyarakat tidak hanya berpartisipasi dalam pemasyarakatan program tersebut melalui bahasa agama kepada umat, melainkan juga memiliki kontribusi pemikiran dan peranan yang besar dalam merintis dan mengembangkannya.

"Program KB pada dasarnya mempunyai tujuan yang mulia yaitu terciptanya keluarga bahagia. Karena keluarga sebagai unit terkecil dalam masyarakat yang juga wadah pembentuk dan dasar dari kepribadian manusia," ujarnya.

Menteri Agama mengatakan, setelah hampir empat dasawarsa sejak dicanangkan program KB, maka peran ulama dan tokoh agama perlu direaktualisasi agar sprit, nilai dan norma yang melandasi kesadaran masyarakat untuk mengikuti program KB.

Haedar Nashir

Dikatakan, selain masalah kependudukan umat Islam dewasa ini juga menghadapi bahaya sekularisasi baik dalam bidang politik, pendidikan, hukum, sosial dan budaya.

Dalam konteks masyarakat Barat, sekularisasi dipandang sebagai suatu keseinambungan dari kemajuan sosial dan sejarah masyarakat itu sendiri dan dilukiskan sebagai capaian tertinggi dari budaya Barat.

Haedar Nashir

"Sedangkan dalam Islam, seluruh aspek kehidupan merupakan bagian yang tak terpisahkan dari agama," ucap Maftuh Basyuni.

Maftuh Basyuni menambahkan sekularisasi berasal dari peradaban Barat bergerak begitu cepat menyebar dan dikembangkan ke negara-negara Islam melalui berbagai strategi.

"Proses itu telah mentransformasi atau memberi corak tertentu dalam pengaruh terhadap beberapa aspek fundamental dan tradisi keagamaan dalam kehiduapan umat Muslim di berbagai negara," ungkapnya.

Kegiatan konferensi yang berlangsung selama dua hari (14-15 Pebruari) itu dihadiri oleh tokoh agama dari 17 negara antara lain yakni Bangladesh, Malaysia, Iran, Indonesia, Turki, Jordan dan lainnya. Acara ini terselenggara atas kerjasama antara BKKBN, ICIS-NU dan UNFPA. (ant/mad)



Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Quote Haedar Nashir

Selasa, 29 Agustus 2017

Tuhan yang Jauh

Oleh? Ali Usman

Jalaluddin Rumi (604-672 H/1207-1275 M) dalam kitabnya, Masnawi, bercerita: Dahulu, ada seorang muazin bersuara jelek di sebuah negeri kafir. Ia memanggil orang untuk shalat, tetapi umat muslim lainnya justru menegur, "janganlah kamu memanggil orang untuk shalat. Kita tinggal di negeri yang mayoritas bukan beragama Islam. Bukan tidak mungkin suaramu itu akan menyebabkan terjadinya kerusuhan dan pertengkaran antara kita dan orang-orang kafir."?



Namun muazin tersebut menolak nasihat banyak orang. Ia merasa bahagia dengan melantunkan azannya yang tidak bagus itu di negeri orang kafir. Ia merasa mendapat kehormatan untuk memanggil shalat di satu negeri di mana orang tak pernah shalat.

Tuhan yang Jauh (Sumber Gambar : Nu Online)
Tuhan yang Jauh (Sumber Gambar : Nu Online)

Tuhan yang Jauh



Kekhawatiran itu berwujud nyata. Seorang kafir datang kepada mereka (orang muslim) suatu pagi, dengan membawa jubah, lilin, dan manisan. Berulang-ulang dia bertanya, "katakan kepadaku di mana sang muazin itu? Tunjukkan padaku, siapa dia, muazin yang suara dan teriakannya selalu menambah kebahagiaan hatiku?" Seorang muslim bertanya, "kebahagiaan apa yang engkau peroleh dari suara muazin yang jelek itu?"

Haedar Nashir



Lalu orang kafir itu bercerita, "suara muazin itu menembus ke gereja dan tempat kami tinggal. Aku mempunyai seorang anak perempuan yang sangat cantik dan berakhlak mulia. Ia berkeinginan sekali untuk menikahi seorang muslim. Ia mempelajari agama dan tampaknya tertarik untuk masuk Islam. Aku tersiksa, gelisah, dan terus-menerus dilanda kerisauan memikirkan anak gadisku itu. Aku khawatir dia akan masuk Islam. Sampai suatu saat anak perempuanku mendengar suara azan. Ia bertanya, suara apakah yang terdengar jelek dan mengganggu telingaku itu? Belum pernah dalam hidupku mendengar suara sejelek itu di tempat-tempat ibadah atau gereja."



Orang kafir melanjutkan ceritanya, “anak gadisku itu hampir tidak percaya. Dia bertanya lagi kepadaku, "apakah benar suara yang jelek itu adalah suara untuk memanggil orang sembahyang?" Namun ketika dia sudah diyakinkan bahwa betul suara itu adalah azan, wajahnya berubah pucat pasi. Dalam hatinya tersimpan kebencian pada Islam. Begitu aku menyaksikan perubahan itu, aku merasa dilepaskan dari segala kecemasan dan penderitaan.

Haedar Nashir



Singkat cerita, ketika orang kafir itu bertemu dengan si muazin, dia berkata, "terima kasih hadiah ini karena engkau telah menjadi pelindung dan juru selamatku. Berkat kebaikan yang telah engkau lakukan, kini aku terlepas dari kegelisahan. Sekiranya aku memiliki kekayaan dan harta benda yang banyak, akan aku isi mulutmu dengan emas."

?

Hikmah parodi



Rumi mengajari kita sebuah cerita yang berisi parodi, sebuah sindiran yang sangat halus. Azan yang dikumandangkan dengan buruk bukan hanya dapat menghalangi orang untuk masuk Islam, tetapi ini juga soal metode komunikasi—atau dalam bahasa agama "metode dakwah"—yang kurang tepat. Bahwa betul apa yang disampaikan itu suatu kebenaran Ilahi, tetapi jika caranya salah, seperti orang memberikan makanan lezat kepada orang lain dengan cara melemparnya, tidak dengan yang lazim/sopan sebagaimana menjadi aturan adat atau norma agama, orang lain akan enggan ? nerimanya.



Jalaluddin Rakhmat (2007) menyebut model keberagamaan seperti yang ditunjukkan oleh muazain di atas sebagai "kesalehan pulasan", yaitu orang yang meletakkan nilai pada segi lahiriah. Seperti orang yang berazan, ia merasa azannya betul-betul melaksanakan perintah agama. Karena azan itu, seperti disebutkan dalam hadits, adalah suatu kewajiban yang mulia. Dengan berpegang pada teks itu, maka orang berlomba-lomba mengumandangkan azan, apalagi dilakukan dengan menggunakan pengeras suara bersahut-sahutan. Ini juga berlaku kepada amalan ibadah lain yang cenderung—meminjam istilah wakil presiden Jusuf Kalla melakukan "polusi udara" pada kasus pemutaran kaset ngaji.



Apakah hal itu salah? Tentu saja tidak, tetapi mungkin perlu mempertimbangkan aspek substansi (batiniah) selain aspek lahiriah ibadah. Apakah dengan berazan atau bahkan mengaji menggunakan pengeras suara dapat melipatgandakan pahala di sisi-Nya? Bagaimana jika dengan lantunan ayat atau azan itu justru mengganggu masyarakat lain yang non-muslim karena bising yang ditimbulkannya? Atau jangan-jangan kita menganggap bahwa Tuhan itu jauh (padahal Dia sendiri mengatakan (Q.S al-Baqarah: 186) bahwa diri-Nya sangat dekat dengan kita, fainni qarib) dan tidak mendengar (padahal Dia adalah sami, Maha Mendengar) sehingga perlu dipanggil lewat pengeras suara?

?

Gus Dur dan Gus Mus



Jadi ingat humor berikut ini. Tokoh agama Islam, Kristen, dan Budha sedang berdebat. Gus Dur mewakili dari agama Islam. Kala itu yang diperdebatkan mengenai agama manakah yang paling dekat dengan Tuhan? Seorang biksu Budha langsung menjawab, "Agama sayalah yang paling dekat dengan Tuhan, karena setiap kami beribadah ketika memanggil Tuhan kami mengucapkan Om. Nah kalian tahu sendiri, begitu dekatnya hubungan keluarga antara paman dengan ponakannya?"



Seorang pendeta dari agama Kristen menyangkal. "Ya tidak bisa, pasti agama saya yang lebih dekat dengan Tuhan", ujar pendeta. "Lah kok bisa?", sahut biksu penasaran. "Kenapa tidak, agama Anda kalau memanggil Tuhan hanya Om, tetapi kalau di agama saya memanggil Tuhan itu Bapa. Nah kalian tahu sendiri, lebih dekat mana anak dengan bapaknya daripada keponakan dengan pamannya?" jawab pendeta.



Gus Dur yang belum mengeluarkan argumen masih tetap tertawa malah terbahak-bahak setelah mendengar argumen dari pendeta. "Loh kenapa Anda kok tertawa terus?" tanya pendeta penasaran. "Apa Anda merasa bahwa agama Anda lebih dekat dengan Tuhan?" sahut biksu bertanya pada Gus Dur.



Gus Dur masih saja tertawa sambil mengatakan "Ndak kok, saya ndak bilang gitu, boro-boro dekat justru agama saya malah paling jauh sendiri dengan Tuhan." Jawab Gus Dur dengan masih tertawa. "Lho kok bisa?" tanya pendeta dan biksu makin penasaran. "Bagaimana tidak, lah wong kalau di agama saya itu kalau memanggil Tuhan saja harus memakai Toa (pengeras suara)," jawab Gus Dur.



Karena itulah, tidak berlebihan, jika KH Musthafa Bisri atau Gus Mus menulis puisi Kau ini Bagaimana atau Aku Harus Bagaimana, yang penggalannya berbunyi, "... Aku harus bagaimana/Kau bilang Tuhan sangat dekat, kau sendiri memanggilnya dengan pengeras suara tiap saat/Kau bilang suka damai, kau ajak aku setiap hari bertikai."

?

Penulis adalah Dosen Filsafat dan Tasawuf pada Sekolah Tinggi Agama Islam Sunan Pandanaran (STAISPA) Yogyakarta

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Anti Hoax Haedar Nashir

Warga Nahdhiyyin di Tunis Ziarahi Makam Sahabat Rasul

Tunisia, Haedar Nashir. Sebanyak 50 mahasiswa Indonesia di Tunisia mengunjungi makam dua sahabat Rasulullah SAW. Sejumlah sepuluh dari mereka ialah mahasiswa STAINU Jakarta yang sedang menempuh program bahasa di Universitas Zitouna. Ziarah ini digagas oleh Persatuan Pelajar Indonesia (PPI) Tunisia.

Ketua mahasiswa STAINU di Tunisia, Izzul Madid menyatakan pentingnya acara ziarah semacam ini.

Warga Nahdhiyyin di Tunis Ziarahi Makam Sahabat Rasul (Sumber Gambar : Nu Online)
Warga Nahdhiyyin di Tunis Ziarahi Makam Sahabat Rasul (Sumber Gambar : Nu Online)

Warga Nahdhiyyin di Tunis Ziarahi Makam Sahabat Rasul

“Selain mendapat pengalaman baru dan wawasan, kita juga dapat menemukan insiprasi atau keteladanan dari para sahabat. Perjuangan mereka yang mau datang jauh dari Hijaz ke Afrika Utara untuk penyebaran agama Islam, perlu kita teladani,” tutur Madid. 

Haedar Nashir

Mereka mengunjungi makam sahabat Abu Zam’a al Balawi terletak di kota Kairouan sekitar 156 km dari Tunis, Sabtu-Ahad (15-16/3). Sementara makam Abu Lubabah al Anshari berlokasi di kota Gabes, 404 km dari Tunis.

Dua makam sahabat ini menjadi situs wisata ziarah terpenting di Tunisia saat ini. Makam Abu Zam’a al-Balawi sering menjadi pusat acara hari besar keagamaan. Sedangkan di makam Abu Lubabah al-Anshari, biasa diadakan festival seni kaum sufi internasional yang lazim digelar setiap bulan ramadhan.

Haedar Nashir

Abu Zam’a al-Balawi seorang sahabat yang hadir dalam perjanjian Hudaibiyah serta mengikuti beberapa peperangan bersama Rasulullah saw. Ia juga pernah menjadi tukang cukur rambut Rasulullah SAW. Ketika turut serta dalam penyebaran Islam ke Afrika Utara, ia membawa beberapa helai rambut Rasulullah.

Sedangkan  Abu Lubabah al-Anshari adalah sahabat asal Madinah. Ia masuk Islam sejak sebelum hijrah. Ketika Rasulullah saw berhijrah ke Madinah, Abu Lubabah termasuk salah seorang warga Madinah yang turut menyambut kedatangan Rasulullah.

Selain berziarah ke dua makam sahabat, mereka juga berziarah ke makam mantan presiden Tunisia Habib Borguiba di kota Monastir, Masjid Uqbah bin Nafi di kota Kairouan, serta situs wisata sahara di kota Matmata, Tunisia Selatan. (Dede Permana/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Ahlussunnah Haedar Nashir