Rabu, 06 September 2017

ISNU Desak Pemerintah Realokasi Subsidi BBM

Jakarta, Haedar Nashir

Pimpinan Pusat Ikatan Sarjana Nahdlatul Ulama (ISNU) menilai alokasi subsidi bahan bakar minyak (BBM) yang dicanangkan pemerintah belum tepat sasaran. Akibatnya, sebagian besar anggaran mubazir dan tak mendukung pertumbuhan ekonomi kecil.

Pandangan ini mencuat dalam Diskusi Panel Ahli II yang digelar PP ISNU di kantor PBNU, Jakarta, Selasa (14/5). Selain Ketua Umum PP ISNU Ali Masykur Musa, hadir pula guru besar FE Universitas Brawijaya Ahmad Erani, dan Priagung Rakhmanto dari Reforminer Institute.

ISNU Desak Pemerintah Realokasi Subsidi BBM (Sumber Gambar : Nu Online)
ISNU Desak Pemerintah Realokasi Subsidi BBM (Sumber Gambar : Nu Online)

ISNU Desak Pemerintah Realokasi Subsidi BBM

Ali Masykur mengatakan, pemerintah harus merelokasi subsidi dengan mengurangi subsidi BBM bagi pemilik kendaraan bermotor yang jumlahnya terus meningkat dari tahun ke tahun. Peningkatan penggunaan kendaraan pribadi berbanding lurus dengan miskinnya infrastruktur publik, terutama fasilitas transportasi umum.

Ali Masykur menjelaskan, dari BBM bersubsidi jenis premium, 53 persen diserap mobil pribadi, 40 persen motor, 4 persen kendaraan usaha, dan hanya 3 persen untuk angkutan umum. Sementara solar dikonsumsi 43 persen oleh mobil barang, 40 persen mobil bus, dan 16 persen mobil pribadi, dan 1 persen angkutan umum.

”Angka-angka ini menunjukkan ketidaktepatan sasaran penerima subsidi karena premium justru dinikmati oleh segmen kelas menengah pemiliki kendaraan pribadi yang kurang mustahik, yang kini jumlahnya 56,5 persen dari seluruh total populasi Indonesia,” katanya.

Haedar Nashir

Menurut dia, realisasi subsidi BBM sejak 2010 selalu melampaui asumsi, baik dalam volume maupun besaran anggaran. Pada 2013 ini, kuota BBM bersubsidi yang dipatok 46 juta kiloliter dengan pagu Rp193 triliun diprediksi akan menumbus 49-50 juta kiloliter dalam realisasinya, dan dapat menguras APBN hingga Rp 297 triliun.

”Padahal subsidinya dari 46 juta kiloliter itu ekuivalen dengan 190-an triliun. Jadi tidak ada manfaat dalam arti percepatan infrastruktur dan pemberdayaan ekonomi kecil dalam konteks BBM,” ujarnya.

ISNU juga mendesak perombakan postur subsidi BBM demi rasa keadilan. Cara yang paling memungkinkan adalah dengan menaikkan harga BBM secara bertahap. Subsidi BBM untuk petani dan nelayan harus ditambah, dengan membangun tambahan jumlah SPBU di sekitar pesisir dengan pola distribusi tertutup.

Dana penghematan, sambung Ali Masykur, dialokasikan untuk program anti-kemiskinan di pedesaan, tetapi bukan dalam bentuk BLT. Sebagian untuk pembangunan infrastruktur publik dan transportasi umum, sebagian lain untuk investasi di sektor energi baru terbarukan agar Indonesia secara perlahan mengurangi ketergantungan terhadap penggunaan energi fosil.

"ISNU mendukung kebijakan pemerintah dengan syarat, pertama keputusannya cepat, realokasinya diubah, baru (harga BBM) boleh naik," tuturnya.

Haedar Nashir

?

Penulis: Mahbib Khoiron

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Ulama Haedar Nashir

Semarak LSN Region Banten, Manahijussayadat Pesta Gol

Tangerang, Haedar Nashir. Pesta Sepakbola Santri yang dikemas dalam Liga Santri Nusantara berlangsung sangat semarak. Sesuai target RMINU, tidak kurang dari 1000 Pesantren terlibat dalam perhelatan tahunan ini. Provinsi Banten, sebagai salah satu Region dalam LSN 2016 turut menggelar pertandingan dengan melibatkan ratusan santri dari berbagai pondok Pesantren yang ada di Banten.?

Semarak LSN Region Banten, Manahijussayadat Pesta Gol (Sumber Gambar : Nu Online)
Semarak LSN Region Banten, Manahijussayadat Pesta Gol (Sumber Gambar : Nu Online)

Semarak LSN Region Banten, Manahijussayadat Pesta Gol

"Ini upaya menggali potensi santri, tidak hanya mengaji, tapi santri juga harus memiliki berbagai keahlian dalam berbagai bidang diantaranya olahraga sepakbola,” kata Huda Ketua Panitia LSN 2016 Region Banten.

Senada dengan Huda, Koordinator Region Banten Ahmad Fauzi menyampaikan optimismenya terhadap potensi-potensi santri/pesantren. Ia mencontohkan bahwa saat ini setidaknya ada 8 menteri yang berasal dari santri/pondok pesantren.?

"Di Banten ini ada Ribuan Pesantren dan ratusan ribu, banyak diantaranya kelak akan menjadi pemain-pemain sepakbola yang handal, politisi atau bahkan akan menjadi pemimpin-pemimpin negeri,” terangnya.

Haedar Nashir

Adapun Pesantren-pesantren yang terlibat dalam LSN 2016 ini diantaranya dari Lebak yakni ? Pondok Pesantren (PP) Manahijussayadat dan PP El-Karim. Dari Pandeglang yakni PP Al-Munir, PP Malnu dan PP Al Falah. Dari Kabupaten Serang antara lain PP Darunnadwah, PP Riyadul Hidayah, PP Darussalam dan PP Darul Ahibah. Dari Kabupaten Tangerang PP Darul Muttaqien, PP Daarul Falahiyah dan PP Islahul Ummah, dan dari Cilegon hanya satu tim yakni dari PP Jauharotunnaqiyah.

Dari beberapa pertandingan yang digelar sejak Sabtu (27/8) beberapa tim harus rela angkat koper lebih awal karena mengalami kekalahan, diantaranya adalah Tim Darunnadwah yang tak berkutik ? melawan Manahijussayadat dari Lebak dengan skor telak 0-6.?

Tim lain yang harus pulang kandang adalah Islahul Ummah yang kalah 0-2 dari lawan mainya Riyadul Hidayah, Tim El-Karim yang takluk 0-2 oleh Tim Daarul Muttaqien dan Tim Daarul Falahiyah yang harus mengakui keunggulan Tim Al- Munir dengan skor 0-2 juga. (Red: Fathoni)

Haedar Nashir

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Pendidikan, Hikmah Haedar Nashir

Selasa, 05 September 2017

PBNU Lantik PCNU Kendal

Kendal, Haedar Nashir. Pengurus Besar Nahdalatul Ulama (PBNU) melantik Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Kendal, Jawa Tengah, masa khidmat 2012-2017, Ahad (2/9) kemarin di Pendopo Kabupaten Kendal.

Prosesi pelantikan dipimpin langsung oleh Ketua Umum PBNU KH Said Aqil Siroj. Pengurusan ini merupakan hasil Konferensi Cabang (Konfercab) NU yang dilaksanakan beberapa bulan yang lalu di Pondok Pesantren APIK Kaliwungu Kendal. 

PBNU Lantik PCNU Kendal (Sumber Gambar : Nu Online)
PBNU Lantik PCNU Kendal (Sumber Gambar : Nu Online)

PBNU Lantik PCNU Kendal

PCNU Kendal dilantik berdasarkan Surat Keputusan PBNU Nomor 205/A.II.o4.D/08/2012 tertanggal 30 Agustus 2012. Tampak hadir dalam pelantikan tersebut Zainal Arifin Junaidi, mantan sekjen PBNU di era Gus Dur. Arifin yang kelahiran Kendal hadir sebagai anggota mustasyar PCNU Kendal. Selain Arifin tampak juga Mujib Rahmat yang juga Kader NU kelahiran Kendal.

Haedar Nashir

Dalam sambutannya ketua PCNU Kendal KH Muhammad Danial berharap pengurus PC NU Kendal yang baru dilantik bisa bekerja dengan baik dan kompak.

Haedar Nashir

Dilaporkan juga pelantikan kali ini dimeriahkan oleh kegiatan Workshop kewirausahaan di gedung Muslimat NU dan Pasar Rakyat di lapangan Tamangede Gemuh yang pelasanakaanya atas prakarsa PBNU.

Wakil Bupati Kendal, H.M. Mustamsikin dalam sambutanya mewakili Bupati Kendal menyampaikan terima kasih atas terselenggaranya Pasar Rakyat yang tidak hanya dirasakan manfaatnya oleh warga NU namun juga oleh masyarakat Kendal umumnya.

Redaktur    : A. Khoirul Anam

Kontributor: Fahroji

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Kajian Haedar Nashir

Anggota Pramuka SMA Islam Al-Mizan Gelar Jalan Sehat

Majalengka, Haedar Nashir. Sembilan anggota pramuka SMA Islam Al-Mizan Jatiwangi, Majalengka berjalan kaki sepanjang 20 km guna menumbuhkan kedisiplinan, karakter, dan jiwa sosial. Dalam gerak jalan sehat ini, mereka sekurangnya melewati kecamatan Jatiwangi, Palasah, dan Rajagaluh.

Anggota Pramuka SMA Islam Al-Mizan Gelar Jalan Sehat (Sumber Gambar : Nu Online)
Anggota Pramuka SMA Islam Al-Mizan Gelar Jalan Sehat (Sumber Gambar : Nu Online)

Anggota Pramuka SMA Islam Al-Mizan Gelar Jalan Sehat

Kepala Sekolah Al-Mizan M Zaenal Muhyidin sempat memberikan pengarahan sebelum keberangkatan mereka, Sabtu (24/5). Ketua Mabigus ini menyampaikan, “Sebagai ? gerakan nasional, Pramuka harus dijiwai sepenuh hati. Karena, Pramuka mengandung nilai-nilai kebangsaan, keagamaan, dan sosial.”

Kepada Sembilan siswanya, pengasuh pesantren Al-Mizan ini menyatakan dukungannya. “Kegiatan ini sangat positif sekali untuk ? pengembangan karakter dan mental kalian sebagai pelajar.”

Haedar Nashir

Sembilan anggota pramuka ini antara lain Sidik Carsidik, Zaenal Muttakin, Muhammad Alif Patihin, Muhammad Maman Fathurrohman, Muhammad Andriawan, Riyanto Helvianto, Muhammad Ali, dan Oka Mahendra Saputera.

Sepenjang perjalanan, mereka tidak segan-segan membantu warga setempat yang tampak membubtuhkan pertolongan. Menurut Oka, rombongan pramuka ini tidak lupa memberikan salam kepada warga yang dilewati.

Haedar Nashir

“Selama perjalanan yang menempuh 9 jam ini, ketika bertemu dengan petani di sawah dan kebun, kami menyapanya dan sejenak istirahat sambil bercengkrama dengan mereka. Ketika tiba waktu sholat, kami pun berjamaah di masjid bersama masyarakat,” kata Oka.

Sebagai pelepas lelah, mereka menghibur diri dengan nyanyian sholawat yang diiringi peralatan seadanya. Kata Oka, “Ketika sampai di tujuan, kami mengadakan observasi dan riset kecil-kecilan tentang ? daerah yang nantinya akan kami laporkan kepada kepala sekolah.” (Wildan Fauzi/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Warta Haedar Nashir

NU Care dan Kebangkitan Gerakan Filantropi Nahdliyin

Oleh Nur Rohman Suwardi

Filantropi atau kedermawanan sudah menjadi roh dari kebangkitan ulama yang lahir sejak 1926, dengan nama Nahdlatul Ulama. Perjalanan ormas Islam terbesar di dunia ini dibiayai oleh kedermawanan dari para anggota atau simpatisan Nahdliyin. Kedermawanan yang dalam istilah Islam disebut dengan zakat, infak, atau sedekah, menjadi kekuatan penunjang prinsip pokok dalam perjuangan Nahdlatul Ulama.

NU Care dan Kebangkitan Gerakan Filantropi Nahdliyin (Sumber Gambar : Nu Online)
NU Care dan Kebangkitan Gerakan Filantropi Nahdliyin (Sumber Gambar : Nu Online)

NU Care dan Kebangkitan Gerakan Filantropi Nahdliyin

Zakat sebagai rukun Islam dan tiang dalam agama Islam mempunyai peran yang sangat vital. Islam dan perjuangan para pengggerak Islam akan kuat jika kedermawanan masih dijalankan oleh para pemeluknya. Allah menegaskan di dalam Al-Qur’an tentang sinergi antara rukun shalat dan zakat dalam mengatasi persoalan hidup. Zakat dan shalat menjadi tawaran solusi dahsyat? yang Allah berikan kepada hambanya. Zakat sebagai penjaga hubungan dengan manusia dan shalat sebagai penjaga hubungan dengan Allah secara vertikal.

Haedar Nashir

Perjalanan filantropi Islam di Nahdlatul Ulama secara konsisten didakwahkan dan disosialisasikan dan ini menjadi komitmen semua warga Nahdliyin dalam memeluk ajaran Islam sampai sekarang. Kebangkitan zakat dan gairah perzakatan di Indonesia pun tumbuh. Atas dasar Undang-Undang Zakat nomor 38 tahun 1999, lembaga amil zakat, infak dan sedekah Nahdlatul Ulama (LAZISNU) dibentuk oleh Pengurus Besar Nahdlatul Ulama di Donoyudan Solo tahun 2005. Dari situ perkembangan filantropi Islam di tubuh Nahdlatul Ulama juga mengalami perkembangan yang menggembirakan.

Perjalanan lembaga filantropi di Nahdlatul Ulama yang dinamakan LembagaAmil Zakat Infak dan Sedekah Nahdlatul Ulama (LAZISNU) mengalami perkembangan dari waktu ke waktu semenjak didirikan secara resmi di Muktamar Donoyudan Solo, yang dipimpin oleh Prof. Dr. Fathurrahman Rouf. Sebagai lembaga baru di tubuh Nahdlatul Ulama, LAZISNU sudah mengumpulkan rata-rata Rp800 juta per tahun, dari tahun 2004 sampai dengan 2010.

Haedar Nashir

Perkembangan mulai dirasakan ketika fase kedua setelah Muktamar di Makassar, LAZISNU dipimpin oleh KH. Masyhuri Malik, pada perkembangan di era ini LAZISNU berkembang dengan performa manajemen yang lebih modern. Potret yang bisa kita lihat dari perolehan LAZISNU setiap tahunnya di rata-rata Rp6 miliar dimulai dari 2010 sampai dengan 2015.

Kemudian selepas Muktamar ke-33 NU di Jombang, LAZISNU dipimpin oleh Syamsul Huda SH Harus berjuang keras untuk mendapatkan kepercayaan dari masyarakat karena beban yang harus ditanggung sebagai Lembaga Zakat Nasional. Lembaga Zakat Nasional seperti LAZISNU harus mampu mengumpulkan perolehan fundraising minimal Rp50 miliar. Tapi alhamdulillah pada awal 2016, beban yang diwajibkan kepada LAZISNU dalam perolehan minimal satu tahun Rp50 miliar sudah terpenuhi. Sekarang, saatnya LAZISNU yang melakukan rebranding NU CARE-LAZISNU harus mengerakkan spirit NU dalam kesadaran “berbagi bagi sesama.”

Sosialisasi tentang pentingnya filantropi selalu digalakkan sampai sekarang. Filantropi berbeda dari charity. Filantropi lebih terlihat sebagai gagasan yang terstruktur dan teratur ketimbang hanya memberi kepada yang lain dan terlebih kepengen mendapatkan dampak secara langsung bagi para donatur (direct impact).

Secara umum, konsep zakat itu harus diatur supaya teratur. Nidham (manajemen) menjadi hal yang sangat penting di warga Nahdliyin. “Kalau sudah ngasih ya sudah yang lillahita’ala,” sering ada ucapan begitu. Ini seolah-olah melegitimasi tentang tidak penting melaporkan akan kinerja yang dilakukan oleh para amilin. Padahal, pelaporan tersebut sama sekali bukan hendak menghilangkan aspek keikhlasan, melainkan sebagai konsekuensi logis nidham itu.

Kini LAZISNU diuji dan ditantang dengan harus menunjukkan keberanian untuk menjadi Lembaga Zakat Nasional, berdasar Undang-Undang 23 tahun 2011. Sesungguhnya, Undang-Undang 23 tahun 2011 ada plus dan minus dalam era kebangkitan gerakan filantropi NU. Tuntutan untuk eksis menjadi lembaga yang trusted, kredibel, dan tranparan menjadi tuntutan tidak hanyaUndang-Undang, tapi juga para donatur dan masyarakat. Pimpinan organisasi para ulama ini, Rais ‘Aam PBNU KH. Ma’ruf Amin menggelorakan “Gerakan NU Berzakat Menuju Kemandirian Umat”. Ini bukan tidak ada sebab, tapi gerakan ini justru yang menjadi embrio dan spirit bagi gerakan zakat di warga Nahdliyin.



Tiga Titik Tolak


Ada tiga hal yang harus menjadi titik tolak bangkitnya filatropi NU, pertama adalah memberikan pengertian kepada masyarakat Nahdliyin tentang pentingnya berjamaah, tidak hanya berjamaah shalat, tahlilan, zikiran saja tapi harus diperluas dan diperlebar jamaah terlebih berjamaah untuk aksi berbagi kepada sesama. Masyarakat modern ini lebih suka kalau ada kegiatan aksi, bukan hanya kegiatan seremoni. Membangkitkan jamaah dengan aksi kepada sesama ini harus menjadi spirit yang digelorakan di? warga Nahdliyin. Berjamaah atau sinergi ini akan mejadi lebih sempurna jika ulama, umara (pemerintah), aghniya (kalangan berpunya) dan umat menjadi satu kesatuan dalam menyelesaikan masalah bersama terlebih isu yang menjadi pesan utama Muktamar Jombang, yaitu ekonomi, pendidikan dan kesehatan.

Kedua, adalah pentingnya manajemen yang sesuai dengan kebutuhan zaman. Pentingnya manajemen ini yang kemudian Lazisnu Pusat berinisiatif untuk menstandarkan manajemen dengan menggunakan ISO 9001-2015 dengan nomor sertifikat izin 49224. Ini membuktikan komitmen yang tinggi terhadap kebangkitan filantropi di NU untuk menjadi yang lebih baik dalam rangka mendapatkan kepercayaan dari masyarakat. Betapa pentingnya motto “kerjakan apa yang ditulis, dan tulis apa yang akan dikerjakan,” itulah manajemen. Semua harus berbasis data, bukan hanya katanya atau ucapan mulut.

Ketiga, pergerakannya harus dibangkitkan lagi, harakah an-nahdliyyah lizzakah, itulah gerakan yang dimotori Rais ‘Aam PBNU, supaya komitmen membangun NU lewat jalur filantropi menjadi lebih hidup dan berkembang sesuai dengan cita-cita mulia para pendiri NU. Pelopor sekaligus model percontohan yang di gerakkan almarhum Abuya KH. Abdul Basit Sukabumi menjadi contoh yang patut di tiru dan diteladani. Abuya mampu membuat konsep Allah yang termaktub didalam Al Qur’an dan Hadist Baginda Nabi Muhammad SAW menjadi membumi dan gampang di kerjakan dan diaplikasina umat dalam kehidupan sehari-hari. Kekuatan sedekah mampu memberikan manfaat kepada umat dengan pola yang sangat sederhana dan bisa di aplikasikan di mana saja kita berapa. Konsep membumikan sedekah merupakan konsep lama yang dalam Bahasa sederhana kita sehari-hari kita sebut denga? konsep gotong royong. Sedekah atau gotong royong menjadi mahluk mulia yang mampu memberikan manfaat bagi umat jika dilakukan secara bersama-sama atau gotong royong (sedekah berjamaah).

Semoga Allah memberikan kekuatan dan keberkahan NU Care-LAZISNU dalam memegang amanat yang mulia untuk memberikan manfaat kepada umat. Amiin.

Penulis adalah Direktur Fundraising NU Care



Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Tokoh, Sejarah, Makam Haedar Nashir

Senin, 04 September 2017

Ilmu Fiqih Tak Hanya Soal Ibadah, Tetapi Juga Kehidupan Sosial

Yogyakarta, Haedar Nashir

Ilmu Fiqih sudah sangat populer dikalangan pesantren. Namun ilmu yang berkaitan dengan hukum Islam tersebut, pada perkembangan zaman mulai mengalami distorsi pemahaman. Seringkali Fiqih dikaitkan dengan permasalah ibadah kepada Allah belaka atau ibadallah. Padahal harus seimbang.

Ilmu Fiqih Tak Hanya Soal Ibadah, Tetapi Juga Kehidupan Sosial (Sumber Gambar : Nu Online)
Ilmu Fiqih Tak Hanya Soal Ibadah, Tetapi Juga Kehidupan Sosial (Sumber Gambar : Nu Online)

Ilmu Fiqih Tak Hanya Soal Ibadah, Tetapi Juga Kehidupan Sosial

Demikian yang disampaikan oleh Umdah el Baroroh dalam acara Bedah Buku ‘Fiqh Sosial: Masa Depan Fiqh Indonesia’ yang berangkat dari pemikiran Fiqih Sosial KH MA Sahal Mahfudz, Kamis (24/3) di Teatrikal Fakultas Syariah dan Hukum Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Kalijaga Yogyakarta.

Umdah menjelaskan, manusia sebagai khalifatullah mempunyai dua makna. Manusia selain bertanggung jawab kepada Allah, ? juga bertanggung jawab terhadap kehidupan. Baik itu kemaslahatan alam maupun sosial dengan sesama manusia. "Jadi Fiqih itu tidak hanya ibadatullah, tetapi juga imarotul ard (menjaga kehidupan)," tutur Umdah penulis buku tersebut.

Muhammad shodiq, panelis bedah buku menyatakan apresiasi positif atas terbitnya buku Fiqih Sosial itu. Ia memaparkan ada empat macam hubungan antaraagama dan ilmu pengetahuan, yakni konflik, independen, dialog, dan integrasi. "Mbah Sahal sudah mencoba melengkapi apa yang tidak dipikirkan oleh ulama terdahulu. Beliau mencoba membangun dialog antaraagama dan ilmu pengetahuan," ujarnya

Ia berharap kepada Sahalian (Santri Mbah Sahal) secara khusus dan umat Islam pada umumnya untuk melanjutkan perjuangan Mbah Sahal. Mbah Sahal sudah meletakkan pondasi awal dialog agama dan ilmu pengetahuan. "Sekarang tugas kalian untuk mengintegrasikan antaraagama dan ilmu pengetahuan," ujar Dosen Fakultas Syariah sekaligus

Haedar Nashir

Acara yang didukung oleh Pusat Studi Pesantren dan Fiqih Sosial (Pusat Fisi), ? Keluarga Matholiul Falah (KMF) Yogyakarta serta Jurusan Muamalat Fakultas Syariah dan Hukum berlangsung meriah karena dihadiri oleh ratusan mahasiswa dari berbagai Fakultas di UIN Sunan Kalijaga.

Haedar Nashir

Ahmad Rodhi, Penasehat KMF menilai buku ini merupakan sebuah lompatan dalam dunia pesantren. Apalagi orang yang menuliskannya adalah perempuan. "Ini merupakan trobosan yang besar untuk mengembangkan pemikiran Fiqih Sosial Mbah Sahal," tutur pria yang juga menjabat Kaprodi Pendidikan Bahasa Arab di Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan UIN Sunan Kalijaga. (Ahmad Solkan/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir News Haedar Nashir

Pemuda Masjid Limbangan Ngaji Islam Nusantara pada 1 Muharram

Jakarta, Haedar Nashir - Para pemuda masjid di Desa Limbangan Kecamatan Losari Kabupaten Brebes yang tergabung dalam Jam’iyah Isymalul Hijri (Ittihad Syubban Masjid Jami’ At-Taqwa Limbangan) menyelenggarakan berbagai kegiatan sejak 30 September-2 Oktober 2016 dalam rangka menyambut tahun baru 1438 H. Mereka melakukan kajian Islam Nusantara yang satu tahun belakangan ramai diperbincangkan.

Hadir sebagai narasumber kajian ini Dosen IAIN Syekh Nurjati Cirebon Ustadz Masyahari dengan moderator aktivis NU Nashruddin. Tema Islam Nusantara sengaja diangkat dalam upaya mengenalkan masyarakat tentang term yang lagi hangat.

Pemuda Masjid Limbangan Ngaji Islam Nusantara pada 1 Muharram (Sumber Gambar : Nu Online)
Pemuda Masjid Limbangan Ngaji Islam Nusantara pada 1 Muharram (Sumber Gambar : Nu Online)

Pemuda Masjid Limbangan Ngaji Islam Nusantara pada 1 Muharram

Masyhari mengatakan, “Islam Nusantara adalah Islam khas ala Indonesia, gabungan nilai Islam teologis dengan nilai-nilai tradisi lokal, budaya, dan adat istiadat di Tanah Air. Dengan kata lain, Islam Nusantara berarti menyinergikan ajaran Islam dan adat istiadat lokal yang tersebar di wilayah Indonesia.”

Menurutnya, yang menjadi nilai pokok dari Islam adalah pesan rahmatan lil ‘alamin, pembawa keteduhan dan kedamaian, dengan tetap berlandaskan akidah tauhid sebagaimana ajaran Islam yang dibawa Nabi Muhammad Saw. “Inilah Islam yang dikampanyekan dalam Islam Nusantara,” kata Masyhari.

Haedar Nashir

Pelbagai kegiatan dalam menyambut tahun baru Hijriyah ini merupakan hajat tahunan dan sudah berlangsung selama 13 tahun setelah berdirinya jamiyah pada 6 September 1999 M. Acara ini yang dipusatkan di masjid tersebut dibuka pada Jumat (30/9) dengan seminar keagamaan dalam tema “Islam Nusantara”, lomba hafalan Al-Qur’an (MHQ) tingkat usia sekolah dasar yang digelar pada Sabtu (1/10) dan malam harinya disambung dengan istighotsah dan do’a bersama.

Haedar Nashir

Sementara pawai ta’aruf, sunatan massal dan semaan kubro yang bekerja sama dengan Jam’iyyatul Qurra’ wal Huffadz Nahdlatul Ulama (JQHNU) Losari pada Ahad (2/10). Rangkaian acara ini ditutup dengan santunan anak yatim dan pengajian umum bersama KH Kholil Rohmat, kiai kondang dari Tegal. (Red Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Nahdlatul, Khutbah Haedar Nashir