Sabtu, 07 Oktober 2017

Bagaimana Hamba Bisa Masuk Neraka?

Suatu ketika Nabi Musa as. mengadu kepada Allah, “Wahai Tuhan! Engkau ciptakan makhluk dan Kau berikan kenikmatan rizki. Kau (pula) yang menjadikan (sebagian) pengikutku masuk neraka.”

Allah berfirman, “Bangkit dan bertanamlah, wahai Musa!”

Nabi Musa lalu bercocok tanam dan menyiraminya. Ia melakukan hal itu hingga masa panen tiba.

Bagaimana Hamba Bisa Masuk Neraka? (Sumber Gambar : Nu Online)
Bagaimana Hamba Bisa Masuk Neraka? (Sumber Gambar : Nu Online)

Bagaimana Hamba Bisa Masuk Neraka?

“Apa yang kau dapat dengan tanamanmu itu, Musa?”

“Aku telah memanennya,”

“Apakah sedikit yang tersisa?”

Haedar Nashir

“Aku tak pernah menyisakan sesuatu yang tak ada kebaikannya,”

Allah berfirman, “Wahai Musa! Aku memasukkan hamba yang tak mempunyai kebaikan ke dalam neraka,”

“Siapakah dia?”

“Dia adalah yang meremehkan kalimat Laa Ilaaha Illa Allah Muhammadur Rasulullah,”

(Ajie Najmuddin/ disarikan dari kitab Al-Mawaidh Al-Ushfuriyyah)

Haedar Nashir

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Cerita, Quote, Pahlawan Haedar Nashir

Jumat, 06 Oktober 2017

Haul Mbah Muhammad Karim, Ketua Pertama NU Gembong

Gembong, Haedar Nashir. Pada hari Jum’at sampai Ahad (24-26 Maret 2017) Yayasan Bani Karim, Yayasan Al-Ma’arif Gembong, dan Pondok Pesantren Shofa Azzahro Gembong Pati mengadakan peringatan Haul ke-33 Mbah Muhammad Karim. Kegiatan Haul Mbah Karim dipusatkan di Ponpes Shofa Azzahro Gembong. Diawali dengan khataman Qur’an bil-ghoib, bin-nadhor, pawai atau karnaval mengelingi Desa Gembong, tahlil umum di makam Mbah Karim, dan santunan anak yatim/piatu.

Haul Mbah Muhammad Karim, Ketua Pertama NU Gembong (Sumber Gambar : Nu Online)
Haul Mbah Muhammad Karim, Ketua Pertama NU Gembong (Sumber Gambar : Nu Online)

Haul Mbah Muhammad Karim, Ketua Pertama NU Gembong

Puncak dari kegiatan Haul Mbah Karim diisi dengan pengajian akbar oleh KH. Syarofuddin Qoimas dari Rembang Jawa Tengah, hadir pula Bupati Pati H. Haryanto, MM, M.Si, Ketua Tanfidziah PCNU Pati KH. Ali Munfaat, M.Pd, Ketua FKUB Dr. KH. Ahmad Khoiron, M.Pd, KH. Rusdi anggota DPRD Kabupaten Pati, Kapolsek Gembong, Koramil Gembong, Kepala Desa Gembong, dan para kiai, santri, wali santri, alumni, dan masyarakat Kecamatan Gembong sekitarnya.

Mbah Muhammad Karim sendiri adalah seorang kiai yang lahir sekitar tahun 1890an dan meninggal di tahun 1984. Sewaktu masih remaja, Karim muda nyantri di Piji Dawe Kudus yang diasuh oleh KH Shiddiq dan kemudian melanjutkan nyantri di kakeknya Mbah Sahal Mahfudz (mantan Rais Aam PBNU) yang bernama KH. Salam Kajen Margoyoso Pati. Kemudian setelah selesai mondok dan menikah, ia diamanahi untuk memimpin NU di Gembong Kab. Pati, sehingga beliau menjadi Ketua NU pertama di Gembong Kabupaten Pati.

Secara garis besar, terdapat tiga perjuangan inti dari Mbah Karim. Pertama seorang pejuang kemerdekaan, karena kontribusinya dalam memperjuangkan kemerdekaan Indonesia, rumah beliau menjadi saksi bagaimana para pejuang menjadikan kediaman Mbah Karim sebagai tempat transit dan menjadikannya sebagai tempat untuk menyimpan senjata. Atas hal itulah, akhirnya membuat nama Mbah Karim menjadi salah satu daftar orang yang dicari untuk ditangkap Belanda. Namun, menurut penuturan mantan santri Mbah Karim yang bernama Mbah Abdullah Gembong, bahwa berkali-kali Belanda mencoba menangkap Mbah Karim tetapi selalu gagal. Mbah Abdullah meyakini bahwa kejadian tersebut terjadi lantaran karomah Mbah Karim yang memang sejak remaja sudah terbiasa tirakat dan puasa. Perjuangan itu pun terus berlanjut sampai pada masa penjajahan Jepang dan pemberontakan PKI 1965.

Haedar Nashir

Kedua, seorang pejuang pendidikan di Kecamatan Gembong Pati, lantaran surau yang dibangun pada tahun 1927 menjadi saksi bagaimana anak-anak dan remaja-remaja di Gembong di waktu itu bisa mendapatkan pendidikan mengaji, pendidikan shalat, sampai pendidikan kanuragan. Bahkan dari surau sederhana itupun akhirnya berkembang di tahun 1971 bertransformasi menjadi lembaga pendidikan yang besar dengan nama Yayasan al-Ma’arif Gembong yang mengelola pendidikan mulai dari jenjang PAUD, TK, MI, MTs, MA, SMK dan Pondok Pesantren Shofa Azzahro yang sudah meluluskan ribuan murid dan santri.

Ketiga, seorang pejuang Islam dan Nahdlatul Ulama di Kecamatan Gembong. Hidup Mbah Karim hampir seluruhnya dihabiskan untuk berjuang untuk mengembangkan Islam dan Nahdlatul Ulama’ di Kecamatan Gembong Pati. Sampai-sampai pada waktu itu, di zaman sebelum kemerdekaan dan awal-awal kemerdekaan beliau untuk dakwah di desa-desa pelosok di wilayah Gembong harus berangkat sore dan pulangnya menjelang subuh, mengingat ditempuh jalan kaki dengan medan yang berat. Perjuangan itu terus dijaga dan diistiqomahi sampai beliau meninggal dunia pada tahun 1984.?

Kini, perjuangan Mbah Karim Gembong dilanjutkan oleh putra-putri beliau, menantu dan cucu-cucunya, di antaranya adalah seperti KH. Imam Shofwan putra kedua dari Mbah Karim adalah seorang muballigh, mantan anggota DPRD Fraksi PPP periode 1982-1987 Kabupaten Pati, mantan Ketua Tanfidziah PCNU Kabupaten Pati tahun 2009-2014, dan sekarang adalah Mustasyar PCNU Kabupaten Pati. Putra ketiga, almarhum KH. Muhammad Sudirman mantan Ketua MUI Kecamatan Gembong, putra keempat KH. Nur Kholid mantan Ketua Tanfidziah MWC NU Kecamatan Margorejo Kab. Pati periode 2010-2015, putra kelima KH. Abdul Qohar Ketua Yayasan al-Ma’arif Gembong periode 2010-sampai sekarang, dan Kiai Sholikhin Ketua Tanfidziah MWC NU Kecamatan Gembong periode 2014-sampai sekarang. Ditambah lagi Nyai Hj. Fatimatuzzahro menantu beliau merupakan muballighoh ternama di Kabupaten Pati sekaligus Ketua Muslimat NU PAC Gembong dari tahun 1994-sampai sekarang, dan menantu lain Ibu Maria Ulfah adalah Ketua Fatayat PAC Kec. Gembong dari tahun 2006-sampai sekarang. Salah satu cucu dari Mbah Karim yang sudah bergerak di tengah-tengah masyarakat yaitu Faiz Aminuddin, MA Kaprodi PMI IPMAFA dan Sekretaris LTN NU Kabupaten Pati periode 2014-sampai sekarang.

Haedar Nashir

Untuk itulah, dengan diadakan Haul KH. Muhammad Karim yang ke-33 harapannya bisa tetap menghidupkan ajaran-ajaran dari beliau seperti nilai-nilai keikhlasan dan kedermawanan beliau, sekaligus dapat memberikan spirit dan juga inspirasi kepada keluarga, santri, serta masyarakat untuk bisa melanjutkan perjuangan-perjuangan yang pernah beliau rintis. Red: Mukafi Niam

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir AlaSantri, Berita Haedar Nashir

Menteri Desa Ajak GP Ansor Kawal Pembangunan dan Alokasi Anggaran Desa

Jakarta, Haedar Nashir - Menteri Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal, dan Transmigrasi (PDDT) Eko Putro Sanjoyo mengunjungi Kantor Sekretariat Pimpinan Pusat GP Ansor di Jalan Kramat Raya 65A, Jakarta, Selasa (11/1) malam. Pada pertemuan ini Eko mengharapkan segenap jaringan GP Ansor di daerah untuk ikut mengembangkan potensi dan sumberdaya di desa-desa.

Dalam rangka mewujudkan keadilan dan kesejahteraan rakyat, Eko sangat yakin keberadaan GP Ansor bisa bekerja sama dengan pemerintah. “Ansor bisa membela kepentingan rakyat, bisa ikut membangun desa,” ujarnya.

Menteri Desa Ajak GP Ansor Kawal Pembangunan dan Alokasi Anggaran Desa (Sumber Gambar : Nu Online)
Menteri Desa Ajak GP Ansor Kawal Pembangunan dan Alokasi Anggaran Desa (Sumber Gambar : Nu Online)

Menteri Desa Ajak GP Ansor Kawal Pembangunan dan Alokasi Anggaran Desa

Dalam upaya mencegah potensi penyelewengan dana desa yang digulirkan oleh pemerintah kepada desa, Eko berharap GP Ansor bisa mengawalnya.

Haedar Nashir

Sementara itu, persoalan radikalisme, terorisme, dan kekerasan atas nama agama juga menjadi perhatian pemerintah. Karenanya menteri yang menjabat sejak 27 Juli 2016 ini mendorong agar kader GP Ansor menjadi anggota Badan Permusyawaratan Desa (BPD) supaya bisa masuk ke forum Musyawarah Desa (Musdes). Menurutnya, dengan GP Ansor ikut masuk menjadi anggota Musdes, persoalan radikalisme di desa juga bisa dicegah.

Dalam konteks lebih besar, NU diharapkan lebih berperan dalam pembangunan bangsa. “Kita (NU) harus bisa berbuat untuk bangsa Indonesia,” tegasnya.

Turut menemani menteri, Ketum GP Ansor H Yaqut Cholil Qoumas, Sekretaris Umum Adung Abdul Rahman. (Husni Sahal/Alhafiz K)

Haedar Nashir

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Meme Islam, Pertandingan Haedar Nashir

Kamis, 05 Oktober 2017

Para Pemburu Hilal Itu adalah Jurnalis

Jombang, Haedar Nashir

Setiap menjelang penetapan jatuhnya hari raya atau lebaran, atau penetepan awal puasa yang dilakukan pemerintah melalui sidang istbat, masyarakat selalu ramai menunggu dengan memelototi media televisi maupun media online.

Dalam menentukan awal puasa dan jatuhnya hari lebaran bagi kaum muslim itu, pemerintah juga menunggu laporan berbagai petugas, ormas maupun tim yang berada di lapangan untuk melakukan rukyatul Hilal.

Para Pemburu Hilal Itu adalah Jurnalis (Sumber Gambar : Nu Online)
Para Pemburu Hilal Itu adalah Jurnalis (Sumber Gambar : Nu Online)

Para Pemburu Hilal Itu adalah Jurnalis

Di samping tim falak, ada sekelompok orang dari awak media yang ikut berperan dalam perburuan hilal, bulan sabit tanda awal bulan hijriyah. Mereka adalah kaum jurnalis. Para wartawan ini juga berperan besar menyampaikan kabar tentang keberadaan hilal melalui media masing masing, baik televisi, radio maupun online.

Haedar Nashir

Tugas para wartawan ini sering kali luput dari pantauan, meski sering dipandang miring oleh sebagian masyarakat. Padahal, untuk berburu warta soal hilal, mereka seperti tidak mengenal lelah, rela meninggalkan rumah, anak istri keluarga untuk memberitakan fakta.? Sedangkan masyarakat bisa menunggu kabar keberadaan hilal, di depan televisi, radio, mapun hanya menggemgam telepon seluler.

Jurnalis pemburu iilal ini harus ikut menuju lokasi di mana tim rukyat dari lembaga falak Kementerian Agama, MUI, maupun ormas seperti NU dan Muhamadiyah yang biasanya sangat jauh dari kota. Terkadang di pinggir pantai, dan tidak jarang di puncak dataran tinggi.

Haedar Nashir

Dengan mebawa peralaan yang cukup berat, berupa kamera dan yang lainnya, rasa nyaman bisa berkumpul dengan keluarga, rasa? haus, lapar terkesampingkan, demi memberikan kabar baik yang sudah ditunggu ribuan bahkan jutaan masyarakat Muslim di penjuru Nusantara dan juga dunia.

Di akhir bulan puasa Ramadhan yang sangat mulia, kita semua bisa berdoa, mereka awak media, wartawan pekerja media diberi kekuatan diberi keberkahan. Sehingga puasanya amal ibadahnya diterima Allah SWT dan menjadikannya? memudahkan untuk masuk surga. (Muslim Abdurrahman/Mahbib)

?

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir AlaNu, Sejarah Haedar Nashir

Film “Penjuru 5 Santri” Mulai Tayang 29 Januari

Jakarta, Haedar Nashir. Film “Penjuru 5 Santri” karya sutradara Wimbadi JP akan mulai tayang di bioskop Indonesia pada 29 Januari 2015 besok. Film ini berkisah tentang 5 sekawan yang tinggal dalam kesederhanaan dan keprihatinan, namun mereka tetap memiliki semangat yang tinggi untuk mencari ilmu.

Film “Penjuru 5 Santri” Mulai Tayang 29 Januari (Sumber Gambar : Nu Online)
Film “Penjuru 5 Santri” Mulai Tayang 29 Januari (Sumber Gambar : Nu Online)

Film “Penjuru 5 Santri” Mulai Tayang 29 Januari

Persembahan Cahaya Alam Film ini mengambil lokasi syuting di sebuah desa yang masih asri di daerah Jogjakarta sehingga nuansa alam pedesaan terasa sekali di film ini. Film yang diharapkan menuai kesuksesan seperti film "Laskar Pelangi".

Film ini dibintangi oleh 5 anak sebagai pemeran utama yaitu Noky Ezra, Nurul Shanty, Audrick Ardian Pratama, Rizqullah Daffa dan Bowie Putra Mukti, film Penjuru 5 Santri ini juga dibintangi oleh para artis senior seperti Yatie Surachman, Roy Marten, Baron Hermanto, Pong Hardjatmo, Eman 4 Sekawan, Ferry Salim dan juga Rendy Bragi, serta sastrawan sekaligus kiai D. Zawawi Imron.

5 sekawan yaitu Sabar, Wahyu, Slamet, Sugeng dan Rahayu tinggal di sebuah desa yang masih sangat asri bernama Desa Selopamioro, yang letaknya 40 kilometer di selatan kota Yogyakarta. Desa tersebut begitu alami dan hijau, jauh dari kebisingan dan hiruk pikuk suasana kota. Masyarakat di desa ini masih menggunakan tungku api berbahan bakar kayu untuk memasak sehari-hari, serta sungai dan danau sebagai sumber utama air yang mereka pakai untuk keperluan sehari-hari.

Haedar Nashir

Meskipun 5 sekawan itu tinggal dalam kesederhanaan dan keprihatinan, mereka tetap memiliki semangat yang tinggi untuk mencari ilmu. Walaupun jalan yang mereka tempuh untuk pergi ke sekolah tidaklah mudah.

Haedar Nashir

Ketika pagi tiba mereka segera berangkat ke sekolah tanpa memakai sepatu ataupun alas kaki lainnya. Tak hanya itu mereka harus menyeberangi sungai dan berjalan beberapa kilometer, dan ketika sore datang mereka pergi ke pondok pesantren menggunakan obor sebagai penerangan untuk belajar mengaji.

Awalnya, Sabar tidak diijinkan neneknya untuk belajar mengaji di pondok pesantren itu karena harus membantunya mencari kayu bakar dan rumput untuk kambing. Namun dengan kesabaran dan kelembutan dari Kiai Landung dalam membujuk sang nenek, akhirnya Sabar boleh mengikuti pengajian.

Suatu hari, lima sekawan tidak sengaja menemukan kejanggalan di tengah hutan jati. Apa yang sebenarnya terjadi? Tunggu dan saksikan cerita selengkapnya di bioskop terdekat. (Red: Anam)

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Cerita, Amalan Haedar Nashir

Isyaroh Gus Dur pada Pengeboman Kedutaan Australia

Jakarta, Haedar Nashir. Aksi terorisme di Indonesia dengan jumlah korban meninggal sangat besar marak terjadi pada awal 2000-an, salah satu yang menjadi sasaran adalah kedutaan Australia di kawasan Kuningan Jakarta.

Pagi itu, pada hari terjadinya pengeboman, aktifitas Jakarta berjalan sebagaimana biasanya, panas, macet dan kesibukan jutaan manusia di dalamnya. Tak ada yang menduga ada peristiwa mengerikan bakal segera terjadi. 

Isyaroh Gus Dur pada Pengeboman Kedutaan Australia (Sumber Gambar : Nu Online)
Isyaroh Gus Dur pada Pengeboman Kedutaan Australia (Sumber Gambar : Nu Online)

Isyaroh Gus Dur pada Pengeboman Kedutaan Australia

Gus Dur berada di bandara Soekarno Hatta Cengkareng Jakarta, sedang menunggu boarding menuju Yogyakarta bersama Imam Mudakkir, salah seorang teman lamanya. Asyiklah mereka berdua mengobrol di ruang tunggu. Ditengah-tengah obrolan itu, Gus Dur tiba-tiba terdiam, lalu berujar.

Haedar Nashir

“Kang, kayaknya ini mau ada peristiwa luar biasa”

“Apa itu Gus,” kata Imam dengan mimik penasaran.

“Ya, ngak tahu, namanya juga isyaroh,”

Haedar Nashir

“Apa ya?” lanjut Imam penuh tanya.

“Kita tunggu saja,” kata Gus Dur menutup pembicaraan tentang hal itu dan melanjutkan obrolan sebelumnya yang disela.

Lalu, terbanglah mereka berdua menuju kota budaya ini. Sesuai dengan aturan penerbangan, seluruh alat komunikasi berupa HP harus dimatikan selama penerbangan. Pertanyaan tentang kejadian besar hanya disimpan dalam hati.

Akhirnya setelah melewati perjalanan selama sekitar 1 jam, sampailah mereka di Yogyakarta dengan selamat.

Begitu turun dari pesawat, mereka segera menyalahan HP. Manusia zaman modern tampaknya sudah tak bisa lepas dari HP sehingga dalam keadaan apapun, berusaha terhubung dengan yang lain.

Benar saja, baru saja dihidupkan, HP Imam berdering, dilihat nomor penelepon ternyata dari istrinya di Jakarta. Segera saja dijawabnya panggilan tersebut. Ia mendengar suara istrinya dengan nada panik dari saluran seberang.

“Pak, ini kedutaan Australia baru saja di bom. Kaca-kaca rumah kita di lantari 2 pada pecah semua,”

“Bagaimana, apa semua yang ada di rumah selamat?” ujar Imam terkejut. Rumahnya memang berada di lokasi tak jauh di belakang kedutaan Australia.

“Alhamdulillah, yang di rumah tidak ada yang terluka, tapi ngak tahu yang di lokasi kejadian,”

Imam pun segera melaporkan kejadian tersebut kepada Gus Dur. Ia disarankan untuk segera pulang.

“Sudah, kamu pulang saja, dengan penerbangan tercepat, urus keluarga di rumah. Saya biar melanjutkan perjalanan sesuai dengan rencana semula,“ kata Gus Dur.

“Ya, makasih Gus“

Akhirnya mereka berpisah, Gus Dur pergi bersama penjemput yang sudah menunggu sedangkan Imam menuju counter penjualan tiket menuju Jakarta.

Penulis: Mukafi Niam

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Doa, AlaSantri, Nahdlatul Haedar Nashir

Rabu, 04 Oktober 2017

Guru yang Baik adalah yang Terus Belajar

Sumedang, Haedar Nashir

Pondok Pesantren Al-Hikamussalafiyyah yang beralamat di Sukamantri, Tanjungkerta, Sumedang, Jawa Barat, pada Sabtu (23/7) mengadakan pembinaan terhadap guru-guru tahfidz Al-Quran. Salah satu pengisi materi dalam kegiatan tersebut adalah Ketua PCNU Kabupaten Sumedang H. Sadulloh.

H. Sadulloh mengatakan bahwa ilmu itu akan tetap ada dan berkembang jika sering dideres (dibaca ulang). Salah satu cara melakukan hal itu adalah dengan mengajarkan ilmunya kepada orang lain.

Guru yang Baik adalah yang Terus Belajar (Sumber Gambar : Nu Online)
Guru yang Baik adalah yang Terus Belajar (Sumber Gambar : Nu Online)

Guru yang Baik adalah yang Terus Belajar

Selain itu, ia juga mengatakan bahwa menjadi guru itu bukan berarti ilmunya sudah cukup dan tidak perlu belajar lagi. Justru guru yang baik itu harus terus belajar. Guru harus mampu berinovasi dalam membuat strategi belajar mengajar.

Haedar Nashir

Zaman terus berkembang, kondisi dan karakter santri atau siswa yang akan belajar pun tiap tahunnya berubah-ubah. Seorang guru harus pandai mengajar dengan mengambil nilai-nilai baru yang baik tapi tetap mempertahankan nilai lama yang lebih baik.

Haedar Nashir

Menjadi guru, lanjutnya, juga harus berani dikritik oleh orang lain. Jangan keras kepala dan jangan merasa paling benar. Siapa tahu hafalan Al-Quran yang sering kita baca itu masih banyak yang salah. Solusinya seorang guru harus sering belajar untuk menambah wawasannya.

Sering mengeluh bukanlah karakter seorang guru yang baik. Guru itu jangan sering berkata “sibuk” dan jangan suka mengeluh. Syukuri saja kesibukan tersebut. Jangan menolak kepercayaan yang telah diberikan. Peganglah kepercayaan atau amanah itu semaksimal mungkin.

“Selain itu seorang guru harus bisa memberi hadiah kepada santri atau siswa yang berprestasi. Berikan juga sanksi atau teguran kepada santri atau siswa yang memang harus ditegur. Tapi sanksi atau tegurannya yang mendidik,” tutup H. Sadulloh. (Ayi Abdul Kohar/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Pahlawan Haedar Nashir