Jumat, 10 November 2017

Ganjar Ingin Desain Lasem dengan Ciri Pesantren, Pecinan dan Arab

Rembang, Haedar Nashir - Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo mengungkapkan keinginannya Lasem menjadi salah satu tempat destinasi wisata di Jawa Tengah. Menurutnya, desain kawasan Lasem, berikut semua unsur di dalamnya seperti pesantren, pecinan, Arab harus ditata dengan baik, sehingga maupun pengunjung bisa nyaman.

"Kepada Bapak Bupati dan Wakil Bupati yang akan dilantik, segera undang pakar untuk mendesain ini, bagaimana penataan kawasan Lasem,” tuturnya saat menghadiri acara perayaan Imlek 2567 di Klenteng Poo An Bio Desa Karangturi, Kecamatan Lasem, Rembang, Ahad (7/2) malam.

Ganjar Ingin Desain Lasem dengan Ciri Pesantren, Pecinan dan Arab (Sumber Gambar : Nu Online)
Ganjar Ingin Desain Lasem dengan Ciri Pesantren, Pecinan dan Arab (Sumber Gambar : Nu Online)

Ganjar Ingin Desain Lasem dengan Ciri Pesantren, Pecinan dan Arab

Ganjar menambahkan, kunci pertama terwujudnya suasana nyaman adalah kebersihan. Dan kepada masyarakat Lasem, Gubernur mengajak minimal seminggu sekali bisa bergotong royong untuk membersihkan lingkungan.

Selanjutnya seluruh produk unggulan harus dioptimalkan untuk mendukung suksesi destinasi pariwisata. Pemerintah akan mendukung untuk infrastruktur dan masyarakat menjaga kebersihan lingkungan.

Haedar Nashir

"Berbagai potensi wisata mulai kuliner, kerajinan seperti batik dan sejarahnya harus dioptimalkan," jelasnya.

Haedar Nashir

Bahkan mantan anggota DPR RI itu meminta jika bersih-bersih Lasem bisa terlaksana tidak lupa untuk memotret dan membaginya di Twitter dengan menyebut akun twiter Ganjar Pranowo. Tujuannya agar dunia tahu bahwa ada gerakan masyarakat untuk mewujudkan Lasem sebagai kota bersejarah.

Dalam perayaan Imlek di Lasem, berbagai pertunjukan dihadirkan untuk menghibur masyarakat. Mulai dari pertunjukkan Barongsai, pertunjukan lintas etnik itu menghadirkan cerita kepahlawanan seorang pribumi bernama Raden Panji Margono dan dua orang etnik tionghoa bernama Oei Ing Kiat dan Tan Kee Wie saat melawan VOC pada tahun 1740-an hingga pesta kembang api.

Acara ini semakin lengkap setelah tokoh masyarakat, tokoh lintas agama, para pejabat kabupaten Rembang juga berkesempatan hadir. Pj Bupati Rembang Suko Mardiono, Kapolres Rembang AKBP Winarto, Dandim Kodim 0720 Rembang, Letkol Inf Darmawan Setiady, anggota DPR RI Imam Soeroso dan Bupati terpilih Abdul Hafidz dan Wakil Bupati terpilih Bayu Andriyanto juga terlihat hadir secara pribadi. (Aan Ainun Najib/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Nahdlatul, Sholawat Haedar Nashir

NU Temanggung Usul Kiai Subchi Bambu Runcing Jadi Pahlawan Nasional

Temanggung, Haedar Nashir. Peringatan hari Santri di Temanggung kemarin berlangsung semarak. Sekitar 15 ribu santri tumplek blek memadati halaman Gedung Pemuda Temanggung. Mereka mengikuti apel akbar dalam rangka peringatan hari santri (HSN) 2017 dengan inspektur apel Bupati Temanggung Bambang Sukarno dan komandan apel sahabat Puryawanto (Banser Ansor Temanggung).

Apel akbar kemarin, dikemas layaknya upacara kenegaraan, meskipun para santri tetap mengenakan sarung dan peci atau almamater pondok pesantrenya masing-masing, begitu pula dengan santriwatinya. 

NU Temanggung Usul Kiai Subchi Bambu Runcing Jadi Pahlawan Nasional (Sumber Gambar : Nu Online)
NU Temanggung Usul Kiai Subchi Bambu Runcing Jadi Pahlawan Nasional (Sumber Gambar : Nu Online)

NU Temanggung Usul Kiai Subchi Bambu Runcing Jadi Pahlawan Nasional

Selain diikuti santriwan-santriwati dari pondok pesantren se-Temanggung, para ulama dan kyai serta siswa-siswi dari lembaga pendidikan Maarif NU, peserta apel merupakan seluruh kader badan otonom (banom) NU, seperti Muslimat, Fatayat, Ansor, IPNU-IPPNU, juga PMII.

Pembacaan teks Pancasila dipimpin oleh Bupati Bambang Sukarno, petugas pembaca ikrar santri indonesia oleh Jakfar Shodiq (Sekretaris Lakpesdam NU Temanggung), pembaca amanat PBNU oleh KH Muhammad Furqon atau Gus Furqon (Ketua PCNU Temanggung) dan pembaca teks resolusi jihad oleh KH Yacub Mubarok (Rais Syuriyah PCNU Temanggung).

Haedar Nashir

Ketua Tanfidz PCNU Temanggung KH Muhammad Furqon menuturkan, hari ini (kemarin, red) keluarga besar NU Temanggung bersama santri memperingati hari santri. Dengan peringatan hari santri ini, isi resolusi jihad 22 ktober 1945 silam, bisa menyemai dan memberi semangat para santri sebagaiamana yang telah dilakukan oleh sang pendiri  NU KH Hasyim Asyari.  

"Santri bisa tetap mencintai NKRI dan bisa memberi kenyamanan untuk lingkungan atau masyarakat. Saya berharap, santri bisa meneladai perjunagan KH Hasyim Asyari," harapnya.

KH Yacub Mubarok menuturkan, dirinya bersama Bupati Temanggung Bambang Sukarno dalam waktu dekat ingin menghadap Presiden Joko Widodo untuk menyampaikan dan mengusulkan KH Subchi Parakan Temanggung bisa menjadi pahlawan nasisional.

Menurutnya, KH Subchi tidak hanya terkenal di Temanggung dan Indonesia saja, namun juga terkenal sampai Belanda dan Jepang. Beliau merupakan penggerak hebat untuk NKRI, sehingga bisa menghantarkan bangsa dan negara ini ke gerbang kemerdekaan. 

Haedar Nashir

"Atas jasa dan perjuanganya itu, sudah selayaknya negara memberikan pengahargaan. Beliua seorang  patriotis, berjuang untuk kedaimaan, kenyamana dan kemerdekaan. Beliau merupakan aset bangsa dan idola kita semua," ucapnya.

Sementara itu, Bupati Bambang Sukarno mengaku siap mengawal dan mengantarkan Yacub Mubarok ke Istana negara untuk menghadap presiden. Menurut Bambang, jasa KH. Subchi saat besar untuk bangsa ini, beliau tidak hanya milik Temanggung, Bangsa Indonesa, tapi juga dunia internasional.

"Sudah sepatnya, belaiu (almarhum KH Subchi) mendapat gelar pahlawan. Dengan momentum hari santri tahun ini, saya berharap santri dan warga Temanggung pada umumnya tetap cinta NKRI, setia terhadap pancasila, UUD 1945 dan bhineka tunggal ika," pungkasnya. (Ahsan Fauzi/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Cerita, Kajian, Bahtsul Masail Haedar Nashir

Mau Masuk Banser? Tatalah Niat untuk Cari Ridho Allah!

Mrangin, Haedar Nashir

Barisan Ansor Serbaguna (Banser) harus selalu ikhlas dalam melaksanakan tugas sehari-hari demi melaksanakan sembilan janji (Nawa Prasetya) Banser. Banser berkomitmen mempertahankan ajaran Islam Ahlussunah wal Jamaah ala Nahdliyah dan mempertahankan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

Mau Masuk Banser? Tatalah Niat untuk Cari Ridho Allah! (Sumber Gambar : Nu Online)
Mau Masuk Banser? Tatalah Niat untuk Cari Ridho Allah! (Sumber Gambar : Nu Online)

Mau Masuk Banser? Tatalah Niat untuk Cari Ridho Allah!

Demikian pernayataan Wakil Sekretaris Jenderal Pimpinan Pusat (PP) GP Ansor, Juanda dalam acara Diklatsar (Pendidikan dan Laitahan Dasar) Banser yang diselenggarakan Satkorcab (Satuan Koordinasi Cabang) Banser Kabupaten Mrangin, Jambi, Jumat (22/7) malam.

Acara yang berlangsung di halaman Masjid Al-Huda, Desa Mampun Baru, Kecamatan Tabir Pamenang Barat, Jambi tersebut diikuti 200 peserta dari berbagai utusan Pimpinan Anak Cabang GPAnsor se-Kabupaten Mrangin.

Haedar Nashir

Menurut Juanda, kalau jadi anggota Banser tidak diniati secara ikhlas dalam melaksanakan tugas, pasti akan sia-sia. ”Kita harus menata niat mulai sekarang. Karena, kita ikut Banser ini karena Allah dan hanya mencari ridho Allah SWT. Jangan ada niatan yang lain, “ ungkap Juanda.

Dalam melaksanakan tugasnya, dalam istilah Juanda, jika benar anggota Banser tidak dipuji, salah dicaci, hilang tidak dicari, capek-capek tidak digaji. “Makanya kalau tidak ditata secara baik-baik. Niat kita dalam berorganisasi ini kita akan sia-sia saja. Tata niat dengan baik, “ tegasnya.

Haedar Nashir

Selain Juanda, hadir dalam kesempatan itu Wakil Bupati Mrangin H Khafid Moein, Ketua PCNU Mrangin H Zostafia Muchtar, Ketua PW GPAnsor Jambi Imam Subawehi, dan tiga instruktur Banser Nasional, H Imam Kusnin Ahmad, Hery BH, dan Moh Mufid.

Penegasan yang sama juga disampaikan oleh Wakil Bupati Mrangin, Khafid Moein. “Keihlasan Banser menurut saya sudah tidak bisa diragukan lagi. Ini kita buktikan, saat penyelenggaraan MTQ se-Jambi di Mrangin lalu. Banser membantu penuh dalam penyelenggaraan tersebut, sehingga MTQ di Mrangin berlangsung sukses,” terangnya. (Red: Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Nahdlatul Ulama Haedar Nashir

Sebelum Wafat, Neng Oot Cuci Kain Kafan Pakai Zamzam

Sumenep, Haedar Nashir - Keluarga besar Pesantren Annuqayah, Guluk-Guluk, Sumenep, Jawa Timur berduka. Salah seorang putri pengasuh Annuqayah, Nyai Khotibatul Ummah binti KH A Warits Ilyas, wafat akibat pendarahan setelah melahirkan putri pertamanya, Sabtu (6/2).

Usai meninggal dunia, di kamar almarhumah ditemukan sebundel kain kafan lengkap dengan keterangan yang ia tulis-tangan sendiri; bahwa kain kafan itu telah dicuci dengan air Zamzam berikut kutipan ayat-ayat Al-Qur’an tentang kematian yang pasti akan datang.

Sebelum Wafat, Neng Oot Cuci Kain Kafan Pakai Zamzam (Sumber Gambar : Nu Online)
Sebelum Wafat, Neng Oot Cuci Kain Kafan Pakai Zamzam (Sumber Gambar : Nu Online)

Sebelum Wafat, Neng Oot Cuci Kain Kafan Pakai Zamzam

Salah seorang kiai muda Annuqayah, M Mushthafa menjelaskan, kepergiannya sungguh mengejutkan. Berita wafatnya Neng Oot, panggilan akrab Khathibatul Ummah, hingga saat ini masih terasa sulit dipercaya. Tapi begitulah ajal: ia bisa datang kapan saja, dengan atau tanpa alasan yang jelas.

Untuk Pesantren Annuqayah, terang Kiai Mushthafa, kepergian Neng Oot adalah juga satu kehilangan besar. Dalam sekitar 10 tahun terakhir, Neng Oot punya peran penting dalam pengembangan kesehatan swadaya di Annuqayah dengan berkiprah di unit pengembangan obat-obatan herbal. Unit tersebut merupakan salah satu bidang garapan Biro Pengabdian Masyarakat Pesantren Annuqayah yang dipimpin Kiai Muhammad Zamiel El-Muttaqien.

Haedar Nashir

Haedar Nashir

"Beliau juga yang menghidupkan Poskestren (Pos Kesehatan Pesantren) Annuqayah Putri yang memberi layanan kesehatan dan penyuluhan bagi para santri putri," ungkap Kiai Mushthafa.

Selain itu, tambah Dosen Institut Ilmu Keislaman Annuqayah (Instika) ini, beberapa tahun terakhir Neng Oot juga aktif mengupayakan agar kantin-kantin di lingkungan Annuqayah bisa terjamin kesehatannya. Proyeknya dimulai di kantin MA 1 Annuqayah Putri.

"Sekitar sepekan yang lalu, beliau kabarnya masih rapat dengan Yayasan Annuqayah untuk pengelolaan kantin sehat di lingkungan MTs 1 Putri Annuqayah. Sejauh yang saya tahu, saya menyaksikan komitmennya pada pengabdian dan juga pada kebersahajaannya bergaul dengan santri, famili, dan masyarakat umum. Semoga Allah memberinya tempat terbaik di surga," kata Kiai Mushthafa.

Sementara itu, keponakan Neng Oot, Muhammad Al-Faiz mengingatkan muara hidup Neng Oot pada kisah sultan Dinasti Ayyubiah yang sangat fenomenal, Salahuddin al-Ayyubi. Dalam satu versi sejarah dikisahkan bahwa Salahuddin al-Ayyubi, selalu membawa peti-peti terkunci ke tengah medan perang.

Peti-peti itu dijaganya betul-betul, hingga orang-orang terdekatnya mengira bahwa di dalamnya terdapat harta dan permata berharga. Namun, setelah Salahuddin mengembuskan napas terakhirmya, peti-peti itu dibuka, dan ketika itulah orang-orang sadar bahwa dugaan mereka selama ini salah. Bukan harta dan permata yang mereka lihat, melainkan sepucuk wasiat, kain kafan dan setumpuk tanah.

Dalam surat wasiat itu tertulis: "Aku mau dikafani dengan kain kafan ini, yang telah harum oleh air Zamzam dan juga telah mengunjungi Kakbah serta pusara Rasulullah. Sedangkan tanah ini, berasal dari bekas perang. Buatlah batu bata darinya dan jadikan bantalku di dalam kuburanku."

Konon, sesuai wasiatnya, dari tanah itu dibuatlah 12 batu besar yang kini bersemayam di bawah kepala Salahuddin di dalam kuburannya, dan dengan itulah ia akan menemui Allah di hari kemudian.

"Demikianlah, kesadaran seseorang untuk mempersiapkan kematiannya, baik persiapan lahir maupun batin, tidak lain merupakan rahmat Tuhan yang amat besar. Sangat boleh jadi rahmat tersebut adalah rangkaian awal dari rahmat selanjutnya dalam dimensi yang lebih kekal. Kafa bil mauti waidhan. Cukuplah kematian memberi kita pelajaran, meniscayakan sebuah pertanyaan, ‘Apa yang sudah saya persiapkan?’” tukasnya. (Hairul Anam/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Pertandingan Haedar Nashir

Mahad Mnar, Pesantren Maroko Rasa Ploso

Terletak di Cap Tanger, daerah terujung wilayah Maroko dan terdekat dengan kota pelabuhan Tarifa Spanyol, Pesantren Salaf Mnar (Mahad Mnar lit Talimil Athiq) kokoh berdiri. Meski di berada tempat terpencil, jumlah santri di pesantren ini tergolong banyak. Namanya cukup populer di kalangan masyarakat Maroko.

Didirikan pada tahun 1993 pesantren ini mendapat tempat khusus bagi para santri-santri Maroko. Dan bahkan beberapa mahasiswa nusantara kerap kali mengunjungi pesantren ini untuk sekedar tabarukan dan bernostalgia dengan suasana pesantren di Tanah Air.

Mahad Mnar, Pesantren Maroko Rasa Ploso (Sumber Gambar : Nu Online)
Mahad Mnar, Pesantren Maroko Rasa Ploso (Sumber Gambar : Nu Online)

Mahad Mnar, Pesantren Maroko Rasa Ploso

Secara bangunan fisik, pesantren ini mirip sekali dengan pesantren induk di Pondok Pesantren Ploso atau Lirboyo. Meski terlihat tidak seragam karena diarsiteki oleh para santri sendiri, tetapi pesantren ini nyaman dan suasananya asri. Khas kota santri. Ditambah lagi pemandangan laut biru Atlantik dan hawa sejuk Kota Tanger.

Syeikh al-‘Allamah Muhammad Marsho adalah pengasuh sekaligus pendiri pesantren Mnar ini. Kecuali materi umum, hampir semua mata pelajaran dibimbing langsung olehnya.

Haedar Nashir

Syeikh yang merupakan cicit dari Syeikh Abdus Salam Al Masyisy (Guru dari Syeikh Abul Hasan Assyadzili) ini merupakan salah satu ulama di Kerajaan Maroko yang terkenal hebat di bidang ilmu Alat alias gramatika Arab. Dalam mengajar sehari-hari ia sangat istiqomah dan khidmah terhadap ilmu. Sosok yang tawadlu dan santun, membuat setiap orang yang bertemu dengannya merasa nyaman.

Haedar Nashir

Kiai yang merupakan santri senior dari Keluarga Ghumari ini menjadi pengajar primer di pesantrennya sendiri. Beliau duduk bersila di aula pesantren dan mulai mengaji pada pagi buta hingga siang hari non stop. Dan rata-rata beliau hafal diluar kepala materi yang beliau ajarkan. Tak heran jika banyak dari pesantren ini para lulusan-lulusan yang menjadi ulama-ulama yang dalam ilmunya, diantaranya Syaikh Haskuri Tanjawi guru besar Hadits di Tanger, Syeikh Syallaf Awwamy , Syeikh Muhammad Syadzili Sastrawan asal Dukkala dll.

Di antara materi yang diajarkan beliau adalah Alfiyah ibnu Malik dan Jurumiyah dalam ilmu nahwu, Jauhar Maknun karya Abdurrahman Akhdlari dalam ilmu balaghah, Al-Mursyidul Muin karya Ibnu Asyir dan Tuhfah ibnu Ashim Al-Andalusy dalam fiqih Maliki, Risalatu Abi Zaid al Qirawani dalam fiqih, Nukhbatul al-Fikar karya ibnu Hajar dalam musthalah hadits, Nailul Awthar Karya Imam Syaukani dalam Hadits, A-Waraqat karya Imam al-Juwaini dan Jamul Jawami karya Imam Subki dalam ilmu ushul fiqih, Risalah Adudiyah karya Imam Adhuddin dalam ilmu wadh, dan lain- lain.

Sistem kepesantrenan di Maroko dinilai bagus. Beberapa kali kementrian waqaf sebagai pemangku kebijakan muqarrar (materi pelajaran) dalam Pendidikan Islam di Maroko mendapatkan penghargaan dari Negara-negara arab atas kurikulum yang diterapkan di Talimul Athiq (pesantren) di Maroko. Tidak hanya menyusun muqarrar, Kementerian Waqaf juga menyediakan kasur hingga urusan tepung terigu, minyak zaitun, teh dan kopi untuk para santri. Mereka bagikan kepada santri untuk menyamankan perjalanan mereka dalam rangka mencari ilmu. Barangkali berbeda dengan atensi pemerintah Indonesia terhadap Pondok pesantren saat ini. (M.Nurul Alim/Mahbib)

 

Foto: anggota PCINU Maroko bersama pengasuh pesantren dalam rangka mengikuti pengajian pasaran



Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Makam, Habib Haedar Nashir

Kamis, 09 November 2017

Pergunu Berikan Beasiswa untuk Pelajar Thailand Selatan

Jakarta, Haedar Nashir?

Ketua Pengurus Wilayah Persatuan Guru Nahdatul Ulama (Pergunu) DKI Jakarta Aris Adi Leksono melepas pelajar muslim Thailand Selatan yang merupkan calon mahasiswa penerima beasiswa dari Pimpinan Pusat Pergunu (Senin, 03/10).?

Pergunu Berikan Beasiswa untuk Pelajar Thailand Selatan (Sumber Gambar : Nu Online)
Pergunu Berikan Beasiswa untuk Pelajar Thailand Selatan (Sumber Gambar : Nu Online)

Pergunu Berikan Beasiswa untuk Pelajar Thailand Selatan

Pelajar tersebut mendapatkan beasiswa untuk program perkuliahan tingkat S1 di Institut Agama Islam KH Abdul CHalim, Komplek Pesantren Amanatul Ummah, Pacet, Mojokerto, Jawa Timur.

"Alhamdulillah tahun ini, DKI diberikan kuota lebih banyak dari Pengurus Pusat Pergunu, tidak hanya untuk wilayah DKI Jakarta saja, tapi juga untuk pelajar luar negeri. Khusus untuk Thailand Selatan, tahun ini 10 pelajar akan belajar di Institut Agama Islam KH Abdul Chalim milik Kiai Asep Saifuddin Halim, Ketua Umum PP PERGUNU," terang Aris sesaat setelah serah terima calon mahasiswa, di Provinsi Yala, Thailand Selatan, melalui siaran pers.

Lebih lanjut Aris menjelaskan sudah dua tahun ini Pergunu aktif memberikan beasiswa jenjang sarjana kepada pelajar, baik dalam maupun luar negeri. Sampai saat ini pelajar Thailand Selatan sudah berjumlah 15 orang yang akan dan sedang mengikuti perkuliahan di Pacet Mojokerto.?

Haedar Nashir

Mereka, kata dia, setelah mengikuti tahap seleksi yang dilakukan PW Pergunu DKI Jakarta, diarahkan mengambil jurusan yang dibutuhkan ketika mereka kembali ke Thailand Selatan. Rata-rata memilih jurusan Pendidikan Agama Islam, Dakwah dan Komunikasi Islam.

Haedar Nashir

"Beasiswa ini semakin menunjukan peran strategis NU dalam memberikan manfaat kepada sesama, terutama di mancanegara. Pelajar Thailand Selatan ketika lulus, diharapkan kembali ke wilayah masing-masing untuk berperan dalam memberikan pencerahan di masyarakat, terutama dalam penguatan faham Ahlussunah wal-Jama’ah An-nahdliyah," Wakil Ketua STAINU Jakarta.

Pemberian beasiswa ini memiliki manafaat jangka panjang, terutama dalam konteks kaderisasi NU. Sebagai gambaran sampai saat ini, pelajar Thailand Selatan yang belajar di Indonesia melalui jalur beasiswa perguruan tinggi NU sudah berjumlah 350 orang.

Serah terima mahasiswa Thailand Selatan ini bersama dengan pelantikan PCINU Thailand Selatan. Hadir dalam acara ini, Katib Syuriah PBNU, KH Mujib Qulyubi, Wakil Sekretaris PBNU Masduki Baidowi, Ketua Persatuan Madrasah Swasta se-Thailad Selatan, Ketua Persatuan Imam Masjid se-Thailad Selatan. (Red: Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Anti Hoax, Cerita Haedar Nashir

Untuk Apa PMII Didirikan?

Oleh KH Nuril Huda (Pendiri PMII)

Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) pada 17 April 2016 genap berusia 56 tahun. Sebagai warga pergerakan sekaligus pendiri PMII, penulis bangga sekaligus bersyukur ke hadirat Illahi Robbi yang telah memberikan karunia dan nikmat untuk terus mengabdi dan berjuang dalam mencari ridla-Nya.

Untuk Apa PMII Didirikan? (Sumber Gambar : Nu Online)
Untuk Apa PMII Didirikan? (Sumber Gambar : Nu Online)

Untuk Apa PMII Didirikan?

Bangga karena tidak terasa ternyata PMII sudah berusia 56 tahun, umur yang dalam hitungan usia sudah tidak muda lagi, tapi semangat dan jiwa sebagai warga pergerakan harus muda dan siap menjadi garda terdepan dalam mengawal tradisi dan ajaran Ahlussunnah wal Jamaah (Aswaja).

Haedar Nashir

Semakin tua semakin menjadi. Artinya, dengan sikap kesatria, profesional dan mandiri, PMII harus lebih produktif memberikan sumbangsih dan kontribusi terhadap agama dan bangsa Indonesia. Meskipun acapkali PMII selalu menjadi momok dalam rumah sendiri, tapi itulah perjuangan, bahwa perjuangan hanya butuh pengorbanan bukan imbalan.

Meminjam istilah Bung Karno “berikan aku 10 pemuda, maka akan kuguncang dunia”, begitu juga dengan PMII, sekali PMII selamanya berjuang bersama PMII. Di PMII hanya butuh pemuda yang idealis dan semangat berjuang mengawal tradisi Aswaja. Berorganisasi itu belajar menghargai orang lain, latihan mengenal orang, menghormati keyakinan orang lain. Orang yang tanpa latihan maka dia akan menjadi pemimpin yang wagu, yang tidak pernah menghargai orang lain, apalagi menghormati orang lain.

Haedar Nashir

Nah, pada harlah (hari lahir) PMII kali ini, terpenting dan yang paling penting adalah mengenang dan mendoakan (haul) jasa para pendiri PMII. Meneruskan perjuangan dan menjaga tradisi paham Aswaja. Tentu, melalui acara istighotsah, tahlil, dan doa bersama. Karena inilah etika dan kebudayaan model Aswaja. Harlah PMII dalam setiap tahun harus selalu diperingati agar para generasi PMII tahu, orang lain tahu, apa sih PMII dan mengapa didirikan. Ini penting!

Mengapa PMII berdiri? Pada saat itu, tahun 1960 partai-partai besar mempunyai angkatan muda khususnya di kalangan mahasiswa, seperti GMNI, HMI, Masyumi, dan lain sebagainya. Akan tetapi NU yang memiliki basis massa terbesar justru tidak memiliki. HMI yang dulunya menjadi garda NU akan tetapi lebih condong kepada Masyumi.

Akhirnya, munculah ide dan gagasan dari daerah-daerah untuk mendirikan pergerakan mahasiswa yang selanjutnya diberi nama PMII. Beridirnya PMII tidak mulus begitu saja, banyak ganjalan dan kendala untuk mendirikan sebuah pergerakan Islam. Namun, karena keukeuh dan tekad bulat dari para pendiri PMII, maka hingga saat ini PMII tetap kokoh berdiri dan eksis sepanjang masa.

Gagasan Mendirikan PMII

Gagasan untuk mendirikan PMII berawal muncul dari pojok Sekretariat IPNU di Yogyakarta, dan waktu itu yang menjadi koordinator sementara adalah Ismail Makki. Setelah semua ide dikumpulkan, maka sepakat untuk mendirikan PMII. Sebanyak 13 orang sowan (menghadap) kepada Pengurus Besar NU di Jakarta yang isinya niatan untuk mendirikan PMII. Akhirnya, setelah berbincang dan membahas panjang, maka PBNU setuju PMII didirikan yang tujuannya adalah untuk mengikat para mahasiswa NU agar tidak bisa dan memiliki rumah sendiri.

Pada tahun 1960-an tepatnya bulan Ramadhan, selama 3 hari di Kaliurang,Yogyakarta, berkumpulah para tokoh IPNU dan 13 pimpinan IPNU wilayah se-Indonesia. Ketika itu, saya merupakan ketua IPNU cabang Solo yang saat itu sedikitnya memiliki 7 perguruan tinggi. Karena memang syarat mendirikan PMII di daerah harus ada perguruan tingginya. Sedangkan utusan dari PBNU yang hadir adalah KH. Anwar Mussadad.

Nah, dalam kongres pertama inilah PMII resmi berdiri lalu melahirkan berbagai macam aturan dan okoh muda yang selanjutnya diberikan mandat untuk meneruskan perjuangan Ahlussunnah wal Jamaah (Aswaja) di Nusantara. Karena esensi didirikannya PMII adalah pertama, untuk meneruskan estafet perjuangan NU. Kedua, untuk melatih diri bermasyarakat dan berorganisasi tanpat mengubah pendirian dalam mempertahankan Aswaja. Dan ketiga, untuk menyiapkan generasi yang mampu menangani pergolakan tanpa mengorbankan prinsip akidah.

Untuk mendirikan PMII di daerah, saya sowan ke KH Abdul Hadi Al Hafidz di Langitan, Tuban. Niatan itu mendapat restu dan pesan untuk menunaikan puasa. Saya puasa 7 hari, dan mendirikan PMII di Lamongan, kemudian harus kembali lagi ke Solo untuk melanjutkan kuliah. Jadi, tidak main-main untuk memperjuangkan PMII. Bahwa berjuang di NU itu tidak mengandalkan pemikiran saja tetapi juga mengorbankan harta dan mendekatkan diri kepada Yang Maha Kuasa.

Sekali lagi inilah perjuangan. Jadi, idealis itu butuh generasi, bahwa mendirikan PMII sampai merawat organisasi itu tidak gampang dan butuh perjuangan panjang. Untuk itulah, generasi saat ini hanya tinggal meneruskan dan merawat saja, tidak kurang, tidak lebih. Dan yang paling utama adalah tradisi Aswaja jangan sampai pudar dan musnah ditelah modernnya zaman.

Setelah PMII berdiri, maka para pengurus langsung eksen dan menyebarkan PMII di kampus-kampus. Berawal di kampus Yogyakarta, selama beberapa tahun anggotanya bisa dihitung jari, karena banyak mahasiswa yang tidak tertarik dengan PMII. Apa PMII itu? Mahluk apa itu? begitu kira-kira pertanyaannya.

Alhamdulillah, di Asia Tenggara, hanya PMII-lah yang sampai hari ini tetap eksis dan banyak anggotanya hampir mencapai satu juta dua ratus, tiap kota ada PMII. Dari 9 tokoh pendiri PMII, kini tinggal 3 orang yang masih hidup dan terus berjuang agar PMII tetap eksis dan menjadi penerus perjuangan ajaran Aswaja. Ketiga tokoh itu di antaranya, saya, KH Munsih Nahrawi dan KH Khalid Mawardi.

Sampai sekarang saya masih terus bergerilya ke daerah-daerah untuk menyuarakan panji-panji PMII. Pada tanggal 17 April 2016 saya menghadiri harlah PMII di Tuban, lanjut ke Lamongan pada tanggal 18, terus ke Bekasi, dan tanggal 19 saya menghadiri harlah PMII di Bondowoso, dan tanggal 20 saya menghadiri harlah PMII di Pamekasan, Madura. Kalau dituruti, hidup saya di jalanan, tapi enggak apa-apa, memang harus begini. Yang penting PMII tetap hidup dan terus berkembang.

Kalau saya tidak turun, saya khawatir, dalam ilmu sosiologi, suatu organisasi yang lama didirikan tanpa sentuhan pendiri maka lambat laun akan berubah. Makanya, saya khawatir PMII kalau tidak diurusi, akan berubah dan lama-lama tidak keruan. Saya sangat memperhatikan, terlebih kalau di luar daerah, apakah saya diundang MUI, NU, atau acara lainnya, saya selalu telepon temen-temen PMII untuk kumpul sama-sama bicara soal PMII dan masa depan PMII. Ini saya lakukan, mumpung saya masih hidup.

Tantangan hari ini, besok dan lusa PMII adalah budaya zaman. Tapi kalau idealisme PMII selamanya tidak bisa berubah yakni Aswaja, begitu juga soal akidah tidak bisa kompromi dan berubah, sekali NU selamanya tetap NU. Memang zaman sekarang berbeda jauh dengan zaman dulu, dari sisi budaya, karakter dan modelnya. Untuk itulah, generasai PMII saat ini harus bisa mengalahkan zaman atau paling tidak, jangan sampai kalah dengan budaya zaman saat ini. Boleh kita bicara budaya, boleh kita bergaya modern, boleh kita berdandan barat, boleh kita berpolitik, dan seterusnya. Tapi, jangan sekali-kali idealisme dan idiologi Ahlussunnah wal Jamaah (Aswaja) berubah. Karakter NU harus tetap melekat walaupun penampilan bukan NU.

Salam pergerakan! Wallâahul muwaffiq ila aqwamith tharîq. Wassalam.

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Quote, Halaqoh Haedar Nashir