Sabtu, 11 November 2017

Assalafiyyah Mlangi Siap Bangun Pesantren Terpadu

Sleman, Haedar Nashir. Pondok Pesantren Assalafiyyah Mlangi, Nogotirto, Gamping, Sleman, DIY akan segera membangun komplek Pesantren Assalafiyyah II Terpadu. Lokasinya tak jauh dari komplek Assalafiyyah I, yakni di tengah pesawahan di Dusun Mlangi.

Assalafiyyah Mlangi Siap Bangun Pesantren Terpadu (Sumber Gambar : Nu Online)
Assalafiyyah Mlangi Siap Bangun Pesantren Terpadu (Sumber Gambar : Nu Online)

Assalafiyyah Mlangi Siap Bangun Pesantren Terpadu

“Nantinya di kompleks Assalafiyyah Terpadu ini akan dibangun tempat yang baru untuk anak-anak MTs dan MA, masjid, serta rusunawa,” ujar KH Noor Hamid Majid, Pimpinan Pesantren Assalafiyyah pada peletakan batu pertama, Rabu (30/04), di komplek bakal Pesantren Assalafiyyah II Terpadu, Mlangi.

Kiai Noor Hamid menambahkan, di komplek baru akan dibangun rumah kediaman Gus Irwan Masduki yang akan dipercayai memegang MTs dan MA. Ia juga memohon doa restu dan dukungan demi kelancaran pembangunan yang akan dimulai pada bulan Juni tersebut.

Haedar Nashir

KH Noor Hamid Majid pada sambutannya juga memaparkan beberapa program unggulan MTs dan MA Assalafiyyah, seperti tahfidzul Qur’an, qiro’atul kutub, dan penguasaan bahasa Arab dan Inggris.

Haedar Nashir

Khusus untuk program tahfidzul Qur’an, lanjutnya, ada target-target yang telah dipersiapkan. Untuk tingkat MTs, kelas I ditargetkan hafal 5 juz, kelas II hafal 10 juz, dan kelas III hafal 15 juz. Selanjutnya untuk sampai pada hafalan 30 juz dilanjutkan di tingkat MA.

KH Hasan Abdullah, pengasuh Pesantren Assalafiyyah sekaligus Katib Syuriah PWNU DIY menguatkan, “Nantinya kalau Assalafiyyah II Terpadu sudah ada akan digunakan untuk santri-santri yang nyambi sekolah atau kuliah, sedangkan Assalafiyyah I akan digunakan untuk yang konsentrasi mondok saja,” ujarnya kepada Haedar Nashir.

Pesantren Assalafiyyah Mlangi yang didirikan oleh KH Masduqi pada tahun 1936 tersebut baru membuka pendidikan formal yakni MTs dan MA tahun 2013. (Dwi Khoirotun Nisa’/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Internasional Haedar Nashir

Jumat, 10 November 2017

Bersusah-payahlah untuk Bisa Mengunjungi Tiga Kota Suci Ini

Pacitan, Haedar Nashir



Pengasuh Pesantren Tremas Pacitan KH Fuad Habib Dimyathi berpesan kepada para jamaah pengajian Isra Miraj Nabi Muhammad SAW agar memiliki cita-cita kuat untuk mengunjungi tiga tempat yang mulia seperti yang telah disebutkan dalam sebuah hadits Nabi.

"Tiga tempat yang dimaksud yaitu masjid Al Haram Makkah, masjid Nabawi Madinah, dan masjid Aqsa di Palestina. Yang kemudian dikenal sebagai tiga kota suci," tutur Kiai Fuad, Selasa malam (25/4) di hadapan ribuan santri yang memenuhi halaman Masjid Pesantren Tremas Pacitan.

Bersusah-payahlah untuk Bisa Mengunjungi Tiga Kota Suci Ini (Sumber Gambar : Nu Online)
Bersusah-payahlah untuk Bisa Mengunjungi Tiga Kota Suci Ini (Sumber Gambar : Nu Online)

Bersusah-payahlah untuk Bisa Mengunjungi Tiga Kota Suci Ini

Mengunjungi tiga kota suci itu, ungkap Kiai Fuad, merupakan sebuah perjalan yang mulia. Hingga umat Islam sangat dianjurkan untuk melakukanya. Dijelaskan oleh Kiai Fuad, bahwa ketiga kota itu merupakan tempat penting bagi umat Islam, dan memiliki keistimewaan masing-masing. "Karena mengunjungi tiga tempat itu juga ada dawuhnya (perintahnya)," sambung alumnus Pesantren Krapyak Yogyakarta itu.

Ketiga tempat itu menjadi saksi sejarah perjalan hidup dan perjuangan Rasulullah SAW. Di Makkah Rasulullah dilahirkan, kemudian menjalani peristiwa Isra Miraj melalui Masjidil Aqsa, dan Rasulullah wafat di Madinah.

Oleh karena itu, imbuhnya, sebagai seorang muslim tidak dianjurkan dengan bersusah payah untuk melakukan perjalanan ke tempat lain kecuali mengunjungi tiga tempat itu. Seorang Muslim harus memiliki niat dan tekad yang kuat agar kelak dapat sampai di tiga kota suci itu.

Haedar Nashir

"Ora petentengan (tidak perlu bersusah payah) untuk pergi ke Bali, pergi ke Las Vegas, ke Pacitan bagi para santri umpamanya. Tapi kita harus bersusah payah dan memiliki niat, semangat kuat, jihad, nekat, untuk sampai ke tiga kota suci itu," pesan Kiai Fuad.

Kiai Fuad lalu mendokan para santri agar diberikan kemudahan oleh Allah dapat mengunjungi tiga kota suci itu."Insyaallah teko kono nduk ya, teko kono mas ya. (Insyaallah santri putra, santri putri bisa mengunjunginya) Allahumma Amiin, " tutupnya.

Haedar Nashir

Pesantren Tremas Pacitan menggelar pengajian Peringatan Isra Miraj Nabi. Pada kesempatan ini, KH Nur Hadi dari Batang, Jawa Tengah didaulat menjadi pembicara pada acara ini.?

Tampak hadir di tengah-tengah para santri, KH Total Amin, KH Muhammad Habib Dimyathi, KH Achidz Turmudzi dan para kiai lainya. (Zaenal Faizin/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Ahlussunnah, IMNU Haedar Nashir

Silakan Khilafah, Jangan Bawa Nama NU

Magelang, Haedar Nashir

Nahdlatul Ulama (NU) dipastikan tidak akan tertarik dengan gagasan pendirian Khilafah Islamiyah. Namun kalangan Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) dipersilakan meneruskan agendanya asal tidak membawa-bawa nama NU. Demikian Ketua Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Sa’id Aqil Siradj.

Dalam perjalanan sejarahnya, Rasulullah SAW juga tidak pernah mendirikan negara Islam. Justru di tengah masyarakat Madinah yang plural Rasulullah membuat kesepakatan yang dikenal sebagai Piagam Madinah. Seluruh penduduk yang ada disamakan dalam hukum, aturan serta hak dan kewajibannya, meski mereka berbeda-beda dalam agama, suku dan rasnya.

Silakan Khilafah, Jangan Bawa Nama NU (Sumber Gambar : Nu Online)
Silakan Khilafah, Jangan Bawa Nama NU (Sumber Gambar : Nu Online)

Silakan Khilafah, Jangan Bawa Nama NU

Pada masa sepeninggal Rasul, model pemerintahan yang dijalankan juga beda-beda. “Islam tidak memberikan ketentuan yang baku tentang sistem pemerintahan, yang penting pemimpinnya adil, jujur dan melayani masyarakatnya dengan baik, itu sudah cukup,” kata Said Agil menjelang acara haul KH Asrori Ahmad di Pondok Pesantren Raudlatut Thullab, Wonosari, Tempuran Magelang pada Rabu (22/8) malam lalu.

Menurut Kang Said (panggilan akrab Said Agil), dalam perjalanan panjang sejarah Islam selanjutnya, malah ditemukan berbagai jenis model pemerintahan, mulai dari khalifah, imarah, sampai kesultanan yang kebanyakan justru terjadi melalui pertumpahan darah sesama kaum muslimin. “Saya kok yakin, mereka itu tidak tahu sejarah Islam,” kata Kang Said menyindir..

Alumnus Universitas Ummul Qura’ Makkah itu memastikan bahwa menurut NU menilai gagasan dari kalangan HTI itu tidak masuk akal tersebut. Namun jika kalangan HTI bersikeras mengumumkan semangat khilafah, NU tidak akan menghalangi, asal tidak memanipulasi dukungan dari NU, apalagi sampai merebut aset-aset NU.

“Kalau sampai mereka merebut aset-aset NU, kita akan pertahankan dengan cara apapun, karena itu memang hak kita,” katanya, “Jika HTI sampai merebut aset-aset NU, maka posisi mereka tidak jauh beda dengan kelompok Mu’awiyah ketika berhadapan dengan pasukan Shahabat Ali bin Abi Thalib.”

Haedar Nashir

Meski sesama muslim, namun Shahabat Ali berani bertempur untuk mempertahankan haknya. “JIka seperti itu maka mereka telah bughat pada kita,” kata Kang Said, menirukan kalimat Ali kala itu menjelang perang. “Tapi itu langkah terakhir, kalau mereka memang memaksa, kita sudah siap,” tegasnya meyakinkan.

Kepada warga NU yang memadati setiap jengkal tanah pondok pesantren asuhan KH Said Asrori (Ketua PCNU Magelang) itu, Kang Said mengungkapkan, sebagian besar gerakan Islam radikal di seluruh dunia, ternyata atas dukungan Amerika Serikat. Negeri besar itulah yang mendanai dan mendidik mereka. Biasanya aliran dana besar itu dilewatkan negara-negara Arab, sehingga terasa seperti dari negara Arab. “Semoga kita tidak terjebak,” tandas Kang Said.(sbh)

Haedar Nashir

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Ubudiyah Haedar Nashir

“Sekolah Menulis” PMII Jombang, Upaya Lahirkan Jurnalis Muda

Jombang, Haedar Nashir. Selama 3 hari (2-4/3), Pengurus Cabang Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PC PMII) Jombang Jawa Timur menyelenggarakan "Sekolah Menulis". Kegiatan yang diikuti puluhan mahasiswa dan sarjana dari sejumlah kampus di Jombang ini berlangsung di Pesantren Tebuireng.

"Kita sadar bahwa kekurangan yang menjadi keprihatinan bersama adalah minimnya kemampuan kader yang bisa mempublikasikan kegiatan yang diselenggrakan pengurus dan kader," kata Nizar Rafi al-Muttaqin kepada Haedar Nashir, Senin (2/3). Padahal dalam pandangan alumnus Fakultas Syariah Universitas Hasyim Asyari Jombang ini, ada banyak kegiatan yang dilakukan PMII baik internal organisasi maupun pendampingan di masyarakat, lanjutnya.

“Sekolah Menulis” PMII Jombang, Upaya Lahirkan Jurnalis Muda (Sumber Gambar : Nu Online)
“Sekolah Menulis” PMII Jombang, Upaya Lahirkan Jurnalis Muda (Sumber Gambar : Nu Online)

“Sekolah Menulis” PMII Jombang, Upaya Lahirkan Jurnalis Muda

"Namun karena minimnya para penulis, khususnya mereka yang memiliki kecakapan dalam menulis berita, nyaris seluruh kegiatan yang dilakukan tidak pernah terpublikasi," kata Ketua 1 PC PMII Jombang yang menangani kaderisasi ini.

Haedar Nashir

Berangkat dari keprihatinan tersebut, akhirnya menginspirasi para aktivis PMII menyelenggarakan kegiatan "Sekolah Jurnalistik". Kegiatan yang diikuti puluhan peserta dari sejumlah kampus di Jombang ini berlangsung di Pesantren Tebuireng. "Hari pertama dilaksanakan di kantor redaksi Majalah Tebuireng, dan selanjutnya di perpustakaan pesantren ini," terangnya.

Haedar Nashir

Selama kegiatan, para peserta mendapatkan materi seputar penulisan berita dan feature, cara menulis opini hingga penulisan tokoh. "Ini masih informasi awal, selanjutnya akan dilakukan pendalaman," kata Nizar, sapaan akrabnya.

Diharapkan usai kegiatan ini, maka akan lahir para jurnalis muda yang memiliki kepedulian dengan kegiatan yang diselenggarakan. "Baik yang dilakukan secara rutin di internal PMII maupun di Nahdlatul Ulama," terangnya.

Sejumlah narasumber dihadirkan. Di antaranya Romza M Gawat dari Radar Mojokerto yang merupakan jaringan Jawa Pos Grup. "Mas Romza menyampaikan materi seputar penulisan berita," tandas Nizar. Narasumber lain adalah Ahmad Faozan dari media Tebuireng Grup dengan bahasan seputar penulisan opini dan artikel.

Bagaimana format media yang akan dikelola usai kegiatan ini, Nizar menyampaikan bahwa ada salah seorang tokoh di Jombang yang berkenan untuk membiayai media yang akan dikelola. "Kita menginginkan media yang akan dikelola berbentuk buletin yang dicetak sesuai dana yang telah disanggupi investor," ungkapnya.

Karena itu, demi menjawab tantangan dan kesempatan yang diberikan, PMII akan menjawabnya dengan ketersediaan kader yang memiliki kelebihan dalam tulis menulis ini.

"Memang butuh proses," kata Nizar. Namun kedekatan antara narasumber dengan para peserta pelatihan, maka dapat dipastikan perkembangan kemampuan peserta dapat terpantau dengan baik. "Intensitas komunikasi dan konsultasi adalah juga faktor penentu bagi keberhasilan kegiatan ini," pungkas Nizar. (Syaifullah/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Daerah, Habib, Pertandingan Haedar Nashir

Indonesia Paling Liberal dalam Perdagangan Beras

Jakarta, Haedar Nashir. Lembaga Pengembangan Pertanian Nahdlatul Ulama (LP2NU) menilai Indonesia merupakan negara yang paling liberal dibanding negara lain dalam hal perdagangan beras.



Indonesia Paling Liberal dalam Perdagangan Beras (Sumber Gambar : Nu Online)
Indonesia Paling Liberal dalam Perdagangan Beras (Sumber Gambar : Nu Online)

Indonesia Paling Liberal dalam Perdagangan Beras

Ketua LP2NU Rachmat Pambudy di Jakarta, Kamis (8/3) menyatakan, hal itu terlihat dari tidak adanya tarif bea masuk impor beras yang diterapkan pemerintah untuk melindungi petani dalam negeri. "Di negara-negara lain pemerintahnya menerapkan tarif impor beras rata-rata diatas 50 persen sedangkan di Indonesia justru tanpa ada bea masuk," katanya.

Rahmat yang juga Sekjen Himpunan Kerukunan Tani Indonesia (HKTI) mengungkapkan, Thailand yang merupakan negara produsen sekaligus eksportir beras terbesar di Asean menerapkan bea masuk impor diatas 50 persen begitu juga dengan India.

Haedar Nashir

Bahkan, tambahnya, di Jepang tarif bea masuk impor beras ditetapkan sebesar 300 persen sementara Indonesia yang petani padinya sangat besar tarif impor beras kurang dari 25 persen.

Haedar Nashir

Menurut dia, tanpa adanya proteksi maupun subsidi dari pemerintah maka petani Indonesia tidak akan mampu bersaing dengan petani negara lain yang mendapatkan perlindungan serta dukungan insentif dari pemerintahnya.

Rachmat menyatakan, pada tahun 1970-an Indonesia mengimpor beras sebanyak 700 ribu ton untuk mencukupi kebutuhan dalam negeri namun 15 tahun kemudian berbalik menjadi eksportir beras karena tercapainya program swasembada beras pada 1984.

Namun kondisi tersebut tak berlangsung lama, karena harga beras dunia menurun maka komoditas pangan tersebut banyak yang masuk ke dalam negeri dengan harga dumping sehingga Indonesia kembali menjadi importir beras.

Bahkan, menurut anggota Dewan Pakar Dewan Beras Nasional (DBN) itu, pada tahun 2000 impor beras Indonesia pernah mencapai tingkat yang tertinggi selama ini yakni mencapai 7 juta ton.

Jika impor 1 juta ton setara 200 ribu hektar (ha) lahan, tambahnya, sedangkan satu ha lahan pertanian menyerap rata-rata lima orang tenaga kerja maka 1 juta orang kehilangan pekerjaan. (mad/nam)Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Ulama, Aswaja, Fragmen Haedar Nashir

Jelang Kongres, Jaktim Berharap PMII Jadi Banom NU

Jakarta, Haedar Nashir - Kader Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Jakarta Timur menggelar musyawarah prakongres, Selasa (9/5), di Kampus STAI Az-Ziyadah, Jalan Masjid Alhusna Kampung Tanah 80 Klender, Duren Sawit, Jakarta Timur.

Kegiatan yang disiapkan untuk menyambut forum Kongres XIX PMII di Palu, Sulawesi Tengah,? 15-20 Mei 2017 ini dihadiri tujuh Pengurus Komisariat PMII di daerah setempat. Musyawarah kali ini menghasilkan menghasilkan tiga rumusan.

Jelang Kongres, Jaktim Berharap PMII Jadi Banom NU (Sumber Gambar : Nu Online)
Jelang Kongres, Jaktim Berharap PMII Jadi Banom NU (Sumber Gambar : Nu Online)

Jelang Kongres, Jaktim Berharap PMII Jadi Banom NU

Pertama, Korps PMII Putri (Kopri) tetap menjadi badan semiotonom. Namun PMII Jakarta Timur mengusulkan adanya perbaikan sistem dalam kaderisasi dan administrasi persyaratan ketua Kopri di semua tingkatan kepengurusan.

Haedar Nashir

Kedua, mengenai kaderisasi perlu adanya lokakarya kaderisasi untuk menyamakan bentuk rekrutmen, kurikulum, dan pendampingan kader. Rekomendasi yang terakhir, PMII diharapkan masuk ke dalam badan otonom NU secara sah.

Kegiatan yang berlangsung selama lima jam ini dipandu oleh Ketua Pengurus Cabang PMII Jakarta Timur Saeful Anwar. Mantan Ketua Umum Universitas Ibnu Chaldun ini juga mengatakan sampai saat ini PMII Jakarta Timur masih dan akan tetap netral hingga kongres berlangsung nanti.

"Sudah banyak isu yang beredar kalau menjelang kongres banyak suara-suara titipan untuk mendukung salah satu calon ketua umum. Saya tegaskan, sampai saat ini saya mewakili sahabat PMII Jakarta Timur tidak ada satu pun suara atau calon yang kita usung. Kita akan berikan jawabannya di kongres nanti," ujar Saeful. (Robiatul Adawiyah/Mahbib)Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir

Haedar Nashir Budaya Haedar Nashir

Tolak Sekolah 5 Hari, Ki Enthus Kirim Surat ke Mendikbud

Tegal, Haedar Nashir - Bupati Tegal Ki Enthus Susmono menegaskan bahwa Pemerintah Kabupaten Tegal menolak 5 Hari Belajar yang merupakan kebijakan Menteri Pendidikan Republik Indonesia. Menurutnya, kebijakan ini akan mematikan pendidikan Madrasah dan Taman Pendidikan Quran (TPQ).

Padahal, bangsa ini tidak hanya membutuhkan pendidikan formal, tetapi yang lebih penting adalah pendidikan agama yang di dalamnya terdapat pendidikan akhlak.

Tolak Sekolah 5 Hari, Ki Enthus Kirim Surat ke Mendikbud (Sumber Gambar : Nu Online)
Tolak Sekolah 5 Hari, Ki Enthus Kirim Surat ke Mendikbud (Sumber Gambar : Nu Online)

Tolak Sekolah 5 Hari, Ki Enthus Kirim Surat ke Mendikbud

"Perhitungan saya kalau sekolah 5 hari, anak sekolah pulang sore sekitar pukul 16.00. Lalu pendidikan Madrasah dan TPQ mau dikemanakan?” tegas Ki Enthus dengan nada bertanya saat acara peringatan Nuzulul Quran tingkat Kabupaten Tegal di Pendopo Rumah Dinas Bupati Tegal, Senin (12/6) malam.

Haedar Nashir

Mantan Kasatkorcab Banser Tegal itu mengatakan, pendidikan formal memang penting, tetapi akhlak generasi bangsa itu jauh lebih penting.

Haedar Nashir

"Saya siap mendapatkan hukuman apapun kalau sikap ini dianggap salah dan menentang kebijakan itu, karena ini demi masa depan bangsa yang berakhlak," tandasnya.

Dalam kesempatan itu, Ki Enthus yang mengenakan celana batik khas Tegalan dan jaket Banser langsung memerintahkan Kepala Dinas Dikbud, Salu Panggalo untuk menyurati Mendikbud.

"Pak Salu, besok pagi surati (Selasa.red) surati Mendikbud, apapun risikonya saya yang tanda tangan. Saya juga siap dipanggil oleh Menteri, bahkan saya juga siap bahtsul masail tentang itu," pungkasnya.

Acara ini dihadiri oleh Rais Syuriyah PCNU Tegal KH Chambali Utsman, sejumlah ulama, anggota Forkompimda Kapolres Tegal, Dandim 0712, Kepala Dinas Dikbud Kabupaten Tegal, para Kepala OPD, para ulama dan tokoh masyarakat Kabupaten Tegal serta ratusan anggota Banser. (Hasan/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Pesantren, IMNU Haedar Nashir