Selasa, 14 November 2017

Gus Dur Jadi Mata Kuliah Pascasarjana STAINU Jakarta

Jakarta, Haedar Nashir. Sekolah Tinggi Agama Islam Nahdlatul Ulama (STAINU) Jakarta membuat sebuah terobosan kurikulum dengan memasukkan pemikiran KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) sebagai mata kuliah di Pascasarjana Program Magister Konsentrasi Islam Nusantara.

Gus Dur Jadi Mata Kuliah Pascasarjana STAINU Jakarta (Sumber Gambar : Nu Online)
Gus Dur Jadi Mata Kuliah Pascasarjana STAINU Jakarta (Sumber Gambar : Nu Online)

Gus Dur Jadi Mata Kuliah Pascasarjana STAINU Jakarta

“Bukan mata kuliah penunjang atau mata kuliah pilihan, tetapi mata kuliah utama, mata kuliah wajib, di bidang kajian ‘NU, Islam, dan Indonesia’,” kata Wakil Sekretaris Pascasarjana Program Magister STAINU Jakarta Muhammad Idris Mas’udi di Jakarta, Rabu (27/11).

Idris menjelaskan, mata kuliah pemikiran Gus Dur diperlakukan selayaknya mata kuliah lain yang menerapkan sejumlah peraturan akademik, seperti tingkat kehadiran mahasiswa, penugasan, dan ujian. Pembelajaran materi tersebut sudah berlangsung enam kali pertemuan untuk mahasiswa semester awal sejak dibuka program pascasarjana tahun ini.

Haedar Nashir

Untuk semester ini, sambung Idris, mata kuliah pemikiran Gus Dur diikuti 25 mahasiswa yang mendapatkan beasiswa dari Kementerian Agama. Gelombang kedua akan dimulai Januari untuk mahasiswa reguler dengan jumlah sekitar 60 orang.

Haedar Nashir

“Kami bekerja sama dengan The Wahid Institute yang kebetulan sudah memiliki kelas pemikiran Gus Dur. Pihak The Wahid Institute meyediakan pengajar di setiap perkuliahan,” ujarnya.

Silabus mata kuliah, di antaranya, berisi penelitian atas Gus Dur soal pribumisasi Islam, etika sosial Islam, hubungan Islam dan negara, Islam dan modernisasi, fundamentalisme Islam, pemikiran demokrasi, pemikiran kebudayaan, pemikiran pesantren, dan pemikiran ke-NU-an.?

“Ini sebuah prestasi bagi STAINU Jakarta. Saya kira di Indonesia mata kuliah pemikiran Gus Dur belum ada dan ini satu-satunya,” tutur Syaiful Arif, dosen mata kuliah ini.

Menurut Arif, Gus Dur memiliki kekhasan pemikiran yang dapat dibedakan dengan intelektual lain, khususnya dalam kajian Islam Nusantara. “Beliau menawarkan mekanisme Islamisasi yang mengacu pada gagasan populernya, yakni pribumisasi Islam,” paparnya.

Gus Dur, kata Arif, tak hanya mengabarkan bahwa proses pribumisasi sebagai fakta historis yang dipraktikkan Wali Songo berabad-abad lalu, tapi juga menjadi jalan terbaik saat orang ingin mengonversi Islam kepada budaya-budaya mapan di Nusantara.

"Jadi jika ingin membaca Islam Nusantara maka metodologinya ya pribumisasi Islam," tuturnya. (Mahbib Khoiron)

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Sejarah Haedar Nashir

Senin, 13 November 2017

Buka LSN Jatim I di Ponorogo, Menpora Naik Reog

Ponorogo, Haedar Nashir - Kedatangan Menpora RI H Imam Nahrawi dalam rangka membuka Kickoff Liga Santri Nusantara (LSN) Region Jawa Timur I di stadion Batoro Katong Kabupaten Ponorogo, Kamis (28/8) sore, disambut oleh tari-tarian dan pertunjukan Reog Ponorogo. Menpora berkesempatan menaiki topeng berbentuk kepala singa dengan mahkota yang terbuat dari burung merak itu.

Setelah berada di atas kepala reog, sambil diiringi jathilan, warok, dan tabuhan gamelan, Nahrawi kemudian dibawa ke tengah lapangan stadion sambil melambaikan tangan kepada para santri dan penonton yang memenuhi sudut Stadion Batoro Katong.

Buka LSN Jatim I di Ponorogo, Menpora Naik Reog (Sumber Gambar : Nu Online)
Buka LSN Jatim I di Ponorogo, Menpora Naik Reog (Sumber Gambar : Nu Online)

Buka LSN Jatim I di Ponorogo, Menpora Naik Reog

Ia tampak senang saat berada di atas kepala singa yang menjadi simbol kekuatan kesenian itu. Para juru warta tidak ingin ketinggalan mengabadikan momen langka tersebut. Mereka berebut mengambil gambar dari berbagai sudut.

“Terima kasih banyak. Saya sangat senang. Sampai sini (stadion) langsung disambut oleh kesenian Reog Ponorogo,” ujar Menpora.

Haedar Nashir

Reog Ponorogo dibawakan oleh oleh 6-8 pria gagah berani dengan pakaian serba hitam yang dipoles warna-warni. Sementara 6-8 gadis dengan keanggunannya membawakan tarian tradisional khas kesenian Reog. Selain itu, Menpora bersama para hadirin juga disuguhi atraksi dari pendekar Pagar Nusa yang menunjukkan kebolehan dalam ilmu beladiri dan tenaga dalam.

Bupati Ponorogo H Ipong Muclissoni berterima kasih atas kehadiran Menpora RI di Kota Reog ini. Ia mengatakan, Ponorogo dikenal sebagai kabupaten seribu pesantren.

Haedar Nashir

“Pak Menteri, di Ponorogo ini ada sekitar 200 lebih pesantren. Bila Jombang dikenal dengan kota santri, maka Ponorogo pun sebenarnya merupakan kota santri,” kata H Ipong di hadapan Menpora.

Terkait pelaksanaan LSN di Ponorogo, Ipong mengapresiasi kerja sama antara Pemkab Ponorogo dan Panitia Pelaksana LSN. Bahkan LSN Region Jatim I dapat dirangkai dengan Piala Bupati Ponorogo U 18. Ia optimis LSN dapat berjalan sesuai harapan dan mampu menjadi media untuk pembinaan sepakbola santri pesantren.

Tampak hadir pada pembukaan LSN Region Jatim I yang meliputi Madiun, Magetan, Ngawi, Ponorogo, Trenggalek, dan Pacitan, Ketua PP RMI NU KH Abdul Ghoffar Rozin, Koordinator Nasional Ayo Mondok KH Luqman Harits Dimyathi, Pengurus PCNU Ponorogo, Ketua RMI Ponorogo Gus Munir, Koordinator LSN Region Habib Mustofa, para kiai, para gus, dan para ribuan santri dari pesantren peserta LSN. (Zaenal Faizin/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir RMI NU, Aswaja Haedar Nashir

LP Maarif NU Jatim Siarkan Kegiatan Unggulan di TV9

Sidoarjo, Haedar Nashir. Pengurus Wilayah Lembaga Pendidikan (LP) Ma’arif dan TV9 menandatangani nota kesepahaman (MoU) di bidang publikasi pendidikan di gedung Pusat Pendidikan dan Pelatihan (Pusdiklat) LP Ma’arif NU Jatim, Waru, Sidoarjo, Senin (16/4).

LP Maarif NU Jatim Siarkan Kegiatan Unggulan di TV9 (Sumber Gambar : Nu Online)
LP Maarif NU Jatim Siarkan Kegiatan Unggulan di TV9 (Sumber Gambar : Nu Online)

LP Maarif NU Jatim Siarkan Kegiatan Unggulan di TV9

Penandatangan dilakukan bersamaan dengan acara Pengukuhan dan Rapat Kerja Wilayah (Rakerwil) PW LP Ma’arif NU Jawa Timur. Mengawali kepengurusan baru masa khidmat 2013-2018, Ketua PW LP Ma’arif NU Jatim Prof Dr H Abdul Haris berharap pengurus wilayah bisa meningkatkan citra pendidikan di lingkungan NU.

“Mulai sekarang setiap cabang Ma’arif (LP Ma’arif NU, red) bisa mengirim kegiatan unggulan dari berbagai jenjang pendidikan yang akan meningkatkan mutu dan citra sekolah Ma’arif, “ kata guru besar IAIN Sunan Ampel Surabaya itu dalam rilis yang diterima Haedar Nashir.

Haedar Nashir

Di hadapan peserta Rakerwil, Direktur TV9 HA Hakim Jayli mengatakan, pihaknya memiliki visi yang sama dengan PW LP Ma’arif Jatim, yakni memajukan pendidikan NU. “LP Ma’arif NU Jawa Timur adalah lembaga pertama di lingkungan NU yang menjalin kerja sama dengan TV 9,“ katanya.

Haedar Nashir

Dia berharap kerja sama ini dapat saling memberi kontribusi besar bagi kedua belah pihak “LP Ma’arif mempunyai sumber daya yang besar dengan jumlah sekolah atau madarasah yang mencapai hampir 10 ribu sekolah dan TV9 memberikan fasilitas media televisi yang profesional sehingga mampu meningkatkan publikasi yang efektif dan layak jual,” Ujar Hakim. (Mahbib Khoiron)

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Ulama, Kiai, AlaSantri Haedar Nashir

SMA Maarif 1 Pamekasan Bekali Siswa Madura Ilmu Jurnalistik

Pamekasan, Haedar Nashir. Sejumlah siswa dari dua kabupaten di Madura, yakni Pamekasan dan Sampang, mendapat pendidikan jurnalistik dari SMA Maarif 1 Pamekasan. Diklat jurnalistik dasar yang mendatangkan wartawan senior Yudis Wahyudi itu berlangsung hingga dua hari, 24-25 November 2015, di aula sekolah setempat di Desa Terrak, Kecamatan Tlanakan, Kabupaten Pamekasan, Jawa Timur.

“Pesertanya terdiri dari siswa tingkat SLTP dan SLTA. Melalui pembekalan ilmu jurnalistik dasar, diharapkan mereka bisa paham secara utuh dunia jurnalistik. Jika mereka jadi wartawan kelak, punya pendirian kuat dan wawasan yang bisa diandalkan,” terang Abusiri dari Bagian Kesiswaan SMA Maarif 1 Pamekasan.

SMA Maarif 1 Pamekasan Bekali Siswa Madura Ilmu Jurnalistik (Sumber Gambar : Nu Online)
SMA Maarif 1 Pamekasan Bekali Siswa Madura Ilmu Jurnalistik (Sumber Gambar : Nu Online)

SMA Maarif 1 Pamekasan Bekali Siswa Madura Ilmu Jurnalistik

Dalam kesempatan itu, sebagai langkah awal, peserta dikenalkan dengan aspek hukum dan etika jurnalistik di Indonesia. Kepribadian dan integritas seorang wartawan, cara pemberitaan dan menyatakan pendapat, sumber berita, kekuatan kode etik jurnalistik, dan seterusnya dikupas secara mendalam.

Haedar Nashir

“Diklat ini merupakan pengenalan dulu kepada siswa. Implementasinya, sekolah ke depannya nanti menyiapkan sarana,” imbuhnya.

Abusiri juga mengatakan, kegiatan tersebut dimaksudkan agar siswa punya wawasan jurnalistik secara baik dan benar. Dengan begitu, generasi wartawan yang berhaluan Ahlussunnah wal Jamaah di Pulau Madura bisa berkesinambungan.

Haedar Nashir

Di samping itu, SMA Maarif 1 Pamekasan sejauh ini juga dikenal sebagai lembaga yang memiliki kegiatan ekstrakurikuler yang mendapat pujian banyak kalangan. Utamanya, kegiatan ekstrakurikuler bertani tanaman holtikultura. Tujuannya, para siswa bisa menambah pengetahuan tentang dunia pertanian. Hasil dari pertanian siswa SMA Maarif 1 Pamekasan untuk jenis sayur Gambas, beratnya bisa mencapai 2 kilogram per buah. (Hairul Anam/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Amalan, Hadits Haedar Nashir

Rekatkan Barisan, Sesama Nahdliyin Jangan Salah Paham

Sukoharjo, Haedar Nashir - Maraknya berita bohong yang bersebaran di berbagai media sosial, membuat Nahdliyin perlu waspada. Kabar tidak benar tersebut, apabila tidak disikapi dengan sikap hati-hati dapat menimbulkan perpecahan dan fitnah.

“Hati-hati denagn medsos, berita hoax yang mengarah ke fitnah seliweran. NU difitnah dan dibentur-benturkan. Untuk itu, mari kita rekatkan barisan, sesama NU jangan mudah salah paham,” tutur Pengasuh Pesantren Al-Inshof Plesungan KH Abdullah Saad, pada acara pelantikan Pengurus Ranting Jetis, Baki, Kabupaten Sukoharjo, Jawa Tengah Senin (20/2) malam.

Rekatkan Barisan, Sesama Nahdliyin Jangan Salah Paham (Sumber Gambar : Nu Online)
Rekatkan Barisan, Sesama Nahdliyin Jangan Salah Paham (Sumber Gambar : Nu Online)

Rekatkan Barisan, Sesama Nahdliyin Jangan Salah Paham

Untuk itu, pengurus JATMAN Idarah Aliyah itu mengimbau, Nahdliyin di daerah agar tetap menjaga persatuan dan kesatuan. “Jagalah persatun dan kesatuan, agar negara aman tentram, serta tetap mengikuti komando dari PBNU,” kata dia.

Haedar Nashir

Ditambahkan Gus Dullah, para pengurus NU juga perlu untuk member pemahaman kepada masyarakat serta anggota, tentang paham Aswaja, sebagaimana yang telah diperjuangkan Hadratussyekh KH Hasyim Asy’ari dan ulama-ulama NU lainnya.

Dalam acara itu, prosesi pelantikan Pengurus Ranting NU Jetis berjalan dengan penuh khdimat. Amanah Rais Syuriyah diemban Kiai Sulaiman, sedangkan Ketua Tanfidziyah dipegang Giman.? (Ajie Najmuddin/Abdullah Alawi)Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Internasional, Ahlussunnah, Sholawat Haedar Nashir

Haedar Nashir

Lulusan Pesantren Bisa Studi ke Eropa, Australia, Amerika dan Jepang

Mau melanjutkan studi, tapi tidak ada biaya. Informasi tentang beasiswa juga sangat terbatas. Jangan bingung! Pasalnya, sekarang telah terbit sebuah tabloid bulanan “Info Beasiswa”.

Tabloid setebal 24 halaman ini memuat banyak informasi beasiswa, baik dalam maupun luar negeri, untuk semua jenjang pendidikan mulai dari Sekolah Dasar hingga Strata 3, training guru dan CPNS (Calon Pegawai Negeri Sipil).

Info Beasiswa merupakan tabloid pertama yang khusus mengupas informasi beasiswa dan pendidikan dalam versi cetak. Tabloid ini diterbitkan oleh sejumlah mantan Pengurus Cabang Istimewa Nahdlatul Ulama (PCINU) Nihon (sebutan untuk PCINU Jepang) bekerjasama dengan BES Foundation.

Lulusan Pesantren Bisa Studi ke Eropa, Australia, Amerika dan Jepang (Sumber Gambar : Nu Online)
Lulusan Pesantren Bisa Studi ke Eropa, Australia, Amerika dan Jepang (Sumber Gambar : Nu Online)

Lulusan Pesantren Bisa Studi ke Eropa, Australia, Amerika dan Jepang

Pemimpin Redaksi Info Beasiwa, Khariri Ma’mun mengatakan, rencana untuk menerbitkan tabloid tersebut sebenarnya sudah menjadi program prioritas PCINU Nihon dua tahun lalu. Namun karena berbagai kendala, katanya, program tersebut baru direalisasikan oleh sebagian pengurus PCINU Nihon yang telah kembali ke Tanah Air.

Untuk edisi perdana (15 Oktober 2006), kata Khariri, pihaknya akan membagikan secara gratis tabloid tersebut ke seluruh jaringan pesantren di Indonesia, jaringan pendidikan di lingkungan NU dan sentra-sentra pendidikan lainnya. “Kami ingin para kader NU mengetahui akses informasi tentang sekolah gratis demi pengembangan sumber daya manusia di lingkungan NU," ungkapnya kepada Haedar Nashirbeberapa waktu lalu.

“Apa yang kami lakukan sekarang ini hanyalah sebuah ikhtiar kecil untuk memajukan generasi NU yang selama ini cenderung terpinggirkan di tengah derasnya arus globalisasi,” imbuh Khariri yang juga mantan Rais Am Syuriah PCINU Nihon.

Di samping menerbitkan Info Beasiswa, menurut Khariri, BES Foundation juga akan memberikan beasiswa penuh kepada para santri dan pelajar (Tsanawaiyah/Aliyah) yang berprestasi dan tidak mampu membiayai pendidikannya. Namun program tersebut, katanya, hanya khusus untuk sekolah dalam negeri.

Haedar Nashir

Program lain yang nantinya akan dikembangkan oleh BES Foundation, lanjut Khariri adalah program kursus gratis Bahasa Inggris (TOEFL) dan Nihonggo (Bahas Jepang). Program kursus tersebut hanya untuk kalangan pesantren dan madrasah (jenjang Aliyah atau setingkat SMU).

Menurut Khariri, kursus Bahasa Inggris gratis tersebut diberikan karena selama ini banyak kita temukan kader-kader NU yang mampu dan berprestasi, tapi lemah dalam penguasaan bahasa asing. Yang terjadi kemudian mereka tidak mampu bersaing untuk mendapatkan beasiswa luar negeri.

Haedar Nashir

Melalui kursus gratis tersebut, lanjutnya, diharapkan akan banyak lulusan pesantren dan madarasah yang berkesempatan belajar dan mendapatkan beasiswa di luar negeri. Jika sementara ini banyak lulusan pesantren dan madrasah hanya berkesempatan mendapatkan beasiswa ke Timur Tengah, maka katanya, di masa depan akan banyak lulusan pesantren dan madrasah yang mendapatkan beasiswa ke Eropa, Australia, Amerika Serikat dan Jepang.

Saat ini, menurut Khariri, kader-kader NU yang ada di Jepang telah berhasil melanjutkan studi dan mendapakan beasiswa di negeri Sakura tersebut. Pengalaman dan tips-tips memperoleh beasiswa ini tentu bisa dibagi kepada mereka yang berminat melanjutkan studinya di Jepang. “Hadirnya tabloid ini, di antaranya juga sebagai media berbagi pengalaman untuk menuturkan pahit-manisnya sekolah di luar negeri,” ujarnya.

Info Beasiswa mengupas informasi seputar beasiswa ke Timur Tengah, beasiswa atlit, beasiswa Madrasah Aliyah, kuliah gratis di Belanda, sekolah sambil kerja di Jepang, beasiswa untuk lulusan SMU. Selain itu, ada juga beasiswa dompet dhuafa, beasiswa AYF, beasiswa Erasmus Mundus, beasiswa PNS dan beasiswa Konsultan Pendidikan Tinggi.

Ada juga dalam tabloid tersebut informasi beasiswa dari Habibie Center, beasiswa ke Swiss untuk S-2,? beasiswa Leiden-Belanda, beasiswa Ford Foundation, beasiswa Master Program Perancis, beasiswa Tasawuf dan Filsafat Islam, beasiswa anak yatim piatu dan daerah terpencil, kursus singkat di Belanda, tips kuliah di Belanda dan Malaysia, serta beasiswa BES Foundation.

Untuk berlangganan atau informasi lebih lanjut mengenai tabloid Info Beasiswa dan BES Foundation, silakan kontak ke email: beasiswainfo@yahoo.com atau hubungi BES Foundation Jl. Gardu No. 20 Condet Balekambang, Jakarta 13530. Telp. (021) 80Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir RMI NU, Amalan Haedar Nashir

Minggu, 12 November 2017

Dialog Para Imam Mazhab soal Hadits

Dalam kitab Tarikh al-Tasyri al-Islami karya Syekh Muhammad Khudhari Bek diceritakan dialog antara Imam Abu Hanifah dan Imam al-Auzai:

? ? ? ?: ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?: ? ? ? ? ? ? ? ? ?: ? ? ? ? ? ? ? - ? ? ? ? - ? ?: ?: ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? - ? ? ? ? - ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?. ? ? ?: ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?: ? ? - ? ? ? ? - ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?. ? ?: ? ? ? ? ? ? ? ?: ? ? ? ?! ? ? ?: ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

Dialog Para Imam Mazhab soal Hadits (Sumber Gambar : Nu Online)
Dialog Para Imam Mazhab soal Hadits (Sumber Gambar : Nu Online)

Dialog Para Imam Mazhab soal Hadits

Sufyan bin Uyainah menceritakan bahwa pada suatu kesempatan Imam Al-Auza’i dan imam Abu Hanifah bertemu di Mekkah. Terjadilah dialog di antara ulama besar fiqih negeri Syam dan ulama besar fiqih negeri Kufah tersebut.

Haedar Nashir

Auzai bertanya: "Kenapa kalian tidak mengangkat tangan kalian ketika melakukan ruku’ dan bangun dari ruku’?”

Haedar Nashir

Abu Hanifah menjawab, “Ya, karena tidak ada Hadits yang shahih dari Rasulullah SAW atas masalah itu.”

“Bagaimana tidak shahih, sedangkan (Ibnu Syihab) Az-Zuhri telah menceritakan kepadaku, dari Salim (bin Abdullah bin Umar) dari bapaknya (Abdullah bin Umar) dari Rasulullah SAW bahwa beliau mengangkat kedua tangannya saat memulai shalat, saat ruku’, dan saat bangun dari ruku’?” bantah Auza’i.

Abu Hanifah pun merespon, "Telah menceritakan kepada kami Hammad (bin Abi Sulaiman) dari Ibrahim (bin Yazid) dari Alqamah (bin Qais) dan Al-Aswad (bin Yazid) dari (Abdullah) Ibnu Mas’ud bahwa Rasulullah SAW tidak mengangkat kedua tangannya kecuali saat memulai shalat dan tidak melakukannya lagi setelah itu.”

Auza’i mencoba membantah argumentasi Abu Hanifah. “Aku menceritakan kepada anda Hadits dari Az-Zuhri dari Salim dari bapaknya. Sementara Anda menceritakan Hadits dari Hammad dari Ibrahim?”

[Kalau sebelumnya kedua imam besar ini sama-sama membacakan sanad Hadits, sampai di sini Auzai mulai mengajukan penilaian terhadap kualitas rawi]

Abu Hanifah menjawab: "Hammad lebih faqih daripada Az-Zuhri, Ibrahim lebih faqih dari Salim, dan Alqamah tidak lebih rendah dari Ibnu Umar. Kalaupun Ibnu Umar seorang sahabat atau unggul karena menjadi sahabat Nabi, toh Al-Aswad memiliki keutamaan yang besar. Sedangkan Abdullah (bin Mas’ud) sudah jelas, siapa Abdullah itu,” jawab Abu Hanifah.

Mendengar argumentasi Abu Hanifah tersebut, Al-Auza’i pun diam.

Ini artinya masing-masing imam telah menjelaskan argumentasinya, dan mereka kemudian diam dan saling menghormati perbedaan pendapat di antara mereka yang disebabkan perbedaan dalam menerima dan menilai kekuatan sanad suatu Hadits.

Imam Syafii juga senang berdialog. Bahkan beliau tuliskan dialog itu baik dalam kitab al-Umm dan lebih-lebih lagi dalam kitab al-Risalah.

Pada masa beliau terdapat pertentangan mengenai boleh tidaknya menerima Hadits Ahad, yaitu riwayat yang diterima dan disampaikan dari satu orang perawi. Imam Malik di Madinah lebih menerima amal ahli Madinah ketimbang Hadits Ahad dengan alasan penduduk Madinah lebih paham Hadits dan jumlahnya lebih banyak ketimbang riwayat satu orang. Imam Abu Hanifah dalam beberapa kasus malah mengeyampingkan Hadits Ahad jikalau bertentangan dengan qiyas yang beliau gunakan. Maka tampillah Imam Syafii membela status dan kedudukan Hadits Ahad. Upaya beliau inilah yang membuat para ulama menggelari Imam Syafii sebagai Nashirus Sunnah (Pembela Sunnah Nabi).

Imam Syafii dalam juz dua kitab al-Risalah menuliskan bab khusus tentang Khabar Ahad. Bab ini dimulai dengan dialog sebagai berikut:

? ? ?: ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?.

?: ? ? ? ? ? ? ? ? [?: ? ] ? ? ? ? ? ? ?.

? ? ? ? ? ? ? ?:

?- ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? [?: ?] ? ? ? ? ?: ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?. ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?.

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? [?: ?] ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?.

Seseorang berkata kepadaku, "definisikan untukku teks yg paling sedikit hujjahnya tapi ia memiliki kekuatan mengikat bagi para ulama?"

Imam Syafii menjawab: "Itu adalah Khabar (Hadits) Ahad dari satu orang perawi ke satu perawi lainnya baik yang jalurnya sampai kembali ke Nabi atau terhenti pada selain beliau."

"Kehujjahan Khabar Ahad tidak terjadi melainkan memenuhi persyaratan seperti perawinya tsiqah dalam agamanya, terkenal jujur dalam ucapannya, paham dengan apa yang dia riwayatkan, mengerti dengan perbedaan redaksi atau lafaz. Dia jg bisa mengulangi teks Hadits huruf demi huruf seperti yang dia dengar, karena kalau disampaikan secara makna maka boleh jadi nanti dia tidak akan paham mana yang halal dan haram."

"Dia harus punya hafalan yang bagus baik menyampaikannya dari memori atau catatannya. Dan jika diambil dari catatanya maka itu harus cocok dengan hafalan Hadits yang disampaikan pihak lain. Dia tidak boleh mudallis yang meriwayatkan? dari orang yang dia temui tapi sebetulnya dia tidak mendengar Hadits darinya atau meriwayatkan dari Nabi yang kontradiksi dengan apa yang disampaikan orang yang tsiqah. Juga, semua perawi di atasnya bersambung? sampai ke Rasul atau berhenti pada orang lain. Soalnya masing-masing perawi akan saling menetapkan satu sama lain. Tidak ada yang melewati persyaratan yang aku sampaikan ini [barulah Hadits Ahad itu diterima sebagai hujjah]."

Dari dua kutipan dialog di atas, para Imam Mazhab sangat memahami Hadits Nabi. Jangan mengira mereka mengeluarkan pendapat tanpa dalil Al-Quran dan Hadits sehingga anak zaman sekarang berani-beraninya mengecam para Imam Mazhab dan lantas mengajak kembali kepada Al-Quran dan Hadits seolah-olah para Imam Mazhab itu telah meninggalkan Al-Quran dan Hadits. ?

Ibaratnya para Imam Mazhab itu adalah para petani yang sudah bersusah payah menanam padi, dan para ulama sesudahnya telah mengolahnya menjadi beras, dan kemudian para kiai kita sudah menanak nasi. Kemudian para ustadz mengolah nasi tersebut dan kita tinggal menikmati nasi yang terhidang sesuai pilihan kita baik nasi goreng, nasi uduk, sampai nasi kabuli. Eh, pas baru mau makan, ada yang teriak: "jangan tinggalkan beras, ayo kembalilah kepada beras!"



Nadirsyah Hosen, Rais Syuriyah PCI Nahdlatul Ulama Australia - New Zealand dan Dosen Senior Monash Law School



Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir AlaNu, Nasional Haedar Nashir