Kamis, 16 November 2017

Perihal Polemik Shalat Tiga Waktu

Oleh M Alim Khoiri

Beberapa waktu yang lalu, Pondok Pesantren Urwatul Wutsqa (PPUW) yang terletak di Jombang, Jawa Timur sempat membuat heboh masyarakat akibat kebijakan kontroversialnya yang menerapkan hukuman cambuk untuk para santrinya yang melanggar peraturan. Seolah belum ‘kapok’, kini PPUW kembali membuat ulah kontroversial dengan menyebar stiker ajakan untuk melaksanakan shalat tiga waktu.

Tak ayal, stiker berukuran kecil tersebut langsung membuat gempar masyarakat. Dalam stiker tersebut tertulis keterangan bahwa shalat 3 waktu disebut shalat jama’. Misalnya, shalat Dzuhur dan Ashar dilaksanakan di waktu Dzuhur, kemudian Maghrib dan Isya’ dikerjakan di waktu Maghrib. Ketentuan tersebut di dalam fiqih sebetulnya bukanlah hal aneh. Yang menjadikan edaran stiker tersebut sedikit berbeda adalah adanya tambahan keterangan bahwa shalat jama’ bisa dilakukan meski tidak sedang dalama keadaan ‘safar’ (bepergian). Jadi, Pedagang kaki lima, petani atau tukang becak diperbolehkan melaksanakan shalat 3 waktu saja.

Perihal Polemik Shalat Tiga Waktu (Sumber Gambar : Nu Online)
Perihal Polemik Shalat Tiga Waktu (Sumber Gambar : Nu Online)

Perihal Polemik Shalat Tiga Waktu

Di dalam hukum Islam atau yang lebih dikenal dengan istilah fiqh, shalat jama’ diakui keberadaan dan kebolehannya. Hampir semua fuqaha’ sepakat tentang itu. Namun, terkait dengan ‘illah (alasan) diberbolehkannya terdapat beberapa pandangan.

Haedar Nashir

Abdur Rahman al-Jaziri dalam al-Fiqh ‘ala Mazhahib al-Arba’ah, menyebutkan bahwa shalat jama’ hukumnya jawaz (boleh). Sedangkan sebabnya terdapat khilaf di antara para ulama. Ulama Malikiyah mengatakan bahwa sebab diperbolehkan menjama’ shalat antara lain; bepergian (baik jauh maupun dekat), sakit, hujan atau kondisi jalan yang penuh lumpur dan suasana gelap. Ulama Syafi’iyyah –sebagaimana dikutip Wahbah az-Zuhailiy–berpendapat bahwa illah (alasan dasar) shalat jama’ hanyalah safar (bepergian), hujan dan saat haji di Arafah dan Muzdalifah. Ulama Hanabilah menyebutkan bahwa shalat jama’ diberbolehkan ketika dalam keadaan safar thawil (bepergian jauh), sakit, sedang menyusui, tidak menemukan air atau debu untuk bersuci, tidak mengetahui masuk waktu shalat dan wanita yang sedang istihadlah. Sedangkan ulama Hanafiyah berpendapat bahwa tidak diperbolehkan menjama’ shalat kecuali pada saat di Arafah dan Muzdalifah.

Haedar Nashir

Dari berbagai pandangan ulama di atas, sementara dapat disimpulkan bahwa shalat jama’ atau bisa juga disebut “shalat tiga waktu” adalah legal dengan beberapa syarat tertentu. Permasalahan kemudian muncul, bagaimana jika shalat jama’ dilaksanakan dengan tanpa adanya udzur seperti yang telah disebutkan di atas? Saat bekerja, narik becak, sedang sibuk seminar atau kuliah misalnya. Dalam masalah ini, para ulama pun sebetulnya sudah melakukan kajian. Hasilnya, ternyata khilaf.

Polemik boleh-tidaknya jama’ shalat tanpa udzur ini bermula dari sebuah riwayat Ibnu ‘Abbas, bahwa Rasulullah pernah melakukan shalat Dzuhur dan Ashar secara jama’ di Madinah padahal beliau tidak sedang ketakutan atau bepergian. Riwayat inilah yang kemudian dijadikan dasar untuk? memperbolehkan jama’ shalat pada saat ada hajah muthlaq (semua keperluan) tetapi dengan syarat tidak menjadi kebiasaan. Di antara ulama yang berpendapat demikian adalah Ibnu Sirin, Rabi’ah, Ibnu Mundzir dan al-Qaffal.

Sedangkan sebagian ulama lainnya memahami riwayat tersebut dari sudut pandang yang berbeda. Imam Nawawi misalnya, menyatakan bahwa saat itu boleh jadi Rasulullah sedang dalam keadaan sakit. Ada pula yang memahami bahwa jama’ yang dimaksud dalam riwayat di atas adalah adalah jama’ shuriy, yaitu menunda pelaksanaan shalat sampai pada batas akhir waktu kemudian melanjutkan shalat berikutnya di awal waktu. Sekilas shalat seperti ini mirip shalat jama’ pada umumnya, tetapi sebenarnya masing-masing shalat dikerjakan pada waktunya.

Kesimpulan terakhirnya, bahwa shalat tiga waktu dengan tetap menggunakan 17 raka’at adalah sah dengan beberapa syarat tertentu.? ? ?

*) M Alim Khoiri, Pengajar di STAIN Kediri Jawa Timur

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Berita, Ulama, Hadits Haedar Nashir

Rabu, 15 November 2017

Tembang Tombo Ati Diracik dari Syekh Ibrahim Al-Khawas

Islam, begitu lekat dengan Nusantara. Sekarang saja, Indonesia menjadi negara terbesar penduduk beragama Muslim. Namun hebatnya, hal itu tidak membuat Indonesia lantas mengubah citranya menjadi "kearab-araban".?

Memang, Islam dibawa Rasulullah Muhammad salallahu alaihi wasallam yang berkebangsaan Arab. Namun, Islam di Nusantara bisa menyatu dengan santun dengan budaya lokal yang tak bertentangan dengan Islam.?

Tembang Tombo Ati Diracik dari Syekh Ibrahim Al-Khawas (Sumber Gambar : Nu Online)
Tembang Tombo Ati Diracik dari Syekh Ibrahim Al-Khawas (Sumber Gambar : Nu Online)

Tembang Tombo Ati Diracik dari Syekh Ibrahim Al-Khawas

Hal ini tentu tak lepas dari peran seorang dai sejati. Adalah Wali Songo yang merupakan cikal bakal kebesaran islam di Nusantara. Mereka paham betul dengan firman Alah dalam Surah An-Nahl ayat 125:

? ? ? ? ? ? ?...

Haedar Nashir

Artinya: "Dan serulah (manusia) ke jalan Tuhanmu dengan Hikmah (kebijaksanaan) dan nasehat yang baik"

Oleh karena itu, mereka tidak semena-mena dalam berdakwah. Salahsatu bukti dari kebijaksanaan mereka tercermin apik lewat sejarah tembang "Tombo Ati" gubahan Sunan Bonang.?

Haedar Nashir

Ya, sudah menjadi tradisi Nusantara, khususnya orang jawa. Adalah menyusupkan pelajaran-pelajaran tentang peri kehidupan lewat lagu. Hal itu bukan tanpa sebab, melainkan telah terbukti bahwa cara tersebut lebih mudah dipaham dan dihafal oleh masyarakat nusantara.?

Sehingga, merasuknya nasihat akan lebih cepat ke dalam hati dan keberhasilan dakwah pun berpeluang besar. Inilah kutipan teks tembang "Tombo Ati" oleh Sunan Bonang:

“Tombo ati iku limo perkarane

kaping pisan moco Qur’an lan maknane

kaping pindo shalat wengi lakonono

kaping telu wong kang sholeh kumpulono

kaping papat kudu weteng ingkang luwe





kaping limo dzikir wengi ingkang suwe

salah sawijine sopo biso ngelakoni

mugi-mugi Gusti Allah njembatani” ?

Ternyata, tembang tersebut dibuat bukan asal mengarang, melainkan senada dengan perkataan Syekh Ibrahim Al-Khawash radhiyallahu anhu ? yang termaktub jelas dalam kitab At Tibyan fi Adabi Hamalatil Quran karya Syaikh Abi Zakariya Yahya bin Syarafuddin An Nawawi As Syafii. Dalam kitab tersebut dijelaskan:





? ? ? ? ? ?, ? ? ? ? ? ?: ? ? ?: ? ? ?, ? ?, ? ?, ? ? ?, ? ?.

Artinya: Telah berkata tuan mulia yang memiliki beberapa karunia dan ilmu kemakrifatan, Ibrahim Al Khawash Radiyallahu taala anhu: Obat hati itu ada lima: mambaca Quran dengan bertadabbur (memikir-mikir) makananya, mengosongkan perut (puasa), menegakkan malam (dengan beribadah), berdzikir khusuk di waktu sahur, dan bergaul dengan orang-orang sholih.

Demikianlah Islam Nusantara, Islam yang santun. Sudah tidak saatnya lagi untuk memperdebatkan: mana dalilnya? Apakah Rasul juga melakukannya? Dan lain sebagainya. Yang perlu disadari dan digarisbawahi adalah bahwa Islam di Nusantara telah dibawa oleh orang-orang pilihan Allah. Para kekasih Allah, waliyullah. Para Wali Songo. Yang tentu, tidak diragukan lagi tingkat kealiman dan keihlasannya dalam berdakwah.?

Kalaupun toh kita merasa belum menemukan dalilnya, berhusnudzanlah, itu berarti memang ilmu kita yang memang sedikit sekali. Percayalah! (Ulin Nuha Karim/Abdullah Alawi)?

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Daerah, Kyai, Anti Hoax Haedar Nashir

Ranting IPNU-IPPNU Ini Lahirkan Dua Karya Film Dokumenter

Pati, Haedar Nashir. Pimpinan Ranting Ikatan Pelajar NU (IPNU) dan Ikatan Pelajar Putri NU (IPPNU) Dukuh Wonokerto, Desa Pasucen, Kecamatan Trangkil, Pati, Jawa Tengah, mampu menunjukkan kreativitasnya dalam pembuatan film dokumenter.

"IPNU dan IPPNU Ranting Wonokerto sudah membuat dua film dokumenter, yang pertama judulnya Laila-Majnun dan Rindu Tanah Air Beta," kata Lilik Nur Khasannah, pembimbing IPNU-IPPNU ranting setempat di sekretariat IPPNU Wonokerto, Jumat (12/9).

Ranting IPNU-IPPNU Ini Lahirkan Dua Karya Film Dokumenter (Sumber Gambar : Nu Online)
Ranting IPNU-IPPNU Ini Lahirkan Dua Karya Film Dokumenter (Sumber Gambar : Nu Online)

Ranting IPNU-IPPNU Ini Lahirkan Dua Karya Film Dokumenter

Film dokumenter garapan para pelajar NU ini dihasilkan secara mandiri baik dari segi pembiayaan, pembuatan, maupun proses pengeditan. Lilik menambahkan, dulu awalnya adalah bahan untuk membuat sebuah pentas drama di salah satu acara NU, tapi gagal. Akhirnya pihaknya memutuskan untuk membuat film karena sudah terlanjur menyewa bahan-bahan untuk pentas.

Haedar Nashir

“Dengan modal seadanya kami menyelesaikan film dokumenter yang berjudul Laila-Majnun. Karena saat itu kami sangat senang. Film yang kedua pun di buat dan selesai pada Februari tahun lalu,” tuturnya.

Haedar Nashir

Lilik berharap, IPNU-IPPNU Wonokerto bisa lebih kreatif dalam melahirkan karya. Kehidupan desa tak boleh membuat mereka kalah dari mereka yang ada di kota.

"IPNU-IPPNU di desa ini memang sangat terbatas kemapuannya, ditambah anggota yang kurang solid, tapi saya merasa sedikit senang, dengan kerja keras yang sudah ada hasilnya ini, film dokumenter kami," ucap Ina Roisyah, ketua Pimpinan Ranting IPPNU Wonokerto. (Ahmad Syaefudin/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir News, Quote Haedar Nashir

Surat Penerapan FDS SMPN 1 Blitar Ini Bantah Pernyataan Jokowi dan Muhadjir

Jakarta, Haedar Nashir. Penerapan kebijakan lima hari sekolah (five day school) di sejumlah kabupaten dan kota berdasarkan Permendikbud Nomor 23 Tahun 2017 bukan isapan jempol. Hal ini disoroti di tengah Perpres yang sedang digodok Istana untuk menggantikan Permendikbud tersebut namun tetap diterapkan di sekolah.

Berdasarkan penelusuran Haedar Nashir, hal itu terlihat ketika Unit Pelaksana Teknis Dinas (UPTD) Sekolah Menengah Pertama Negeri (SMPN) 1 Blitar, Jawa Timur mengedarkan surat pemberitahuan penerapan lima hari sekolah kepada orang tua/wali murid.

Surat Penerapan FDS SMPN 1 Blitar Ini Bantah Pernyataan Jokowi dan Muhadjir (Sumber Gambar : Nu Online)
Surat Penerapan FDS SMPN 1 Blitar Ini Bantah Pernyataan Jokowi dan Muhadjir (Sumber Gambar : Nu Online)

Surat Penerapan FDS SMPN 1 Blitar Ini Bantah Pernyataan Jokowi dan Muhadjir

Surat pemberitahuan penerapan lima hari sekolah tersebut mendasarkan diri pada Surat Keputusan Walikota Blitar No. 188/217/HK/410.010.2/2017 tanggal 22 Mei 2017 tentang Pelaksanaan Pendidikan Lima Hari di Kota Blitar dan Permendikbud No. 23 Tahun 2017 tanggal 12 Juni 2017 tentang Hari Sekolah.

Dalam surat tertanggal 15 Juli 2017 yang ditandatangani Kepala SMPN 1 Blitar, Kateman tersebut dijelaskan bahwa lima hari sekolah mulai berlaku di SMPN 1 Blitar pada tahun pelajaran 2017/2018 dengan jam masuk sekolah pukul 07.00 WIB sampai dengan 15.00 WIB sebagai standar pelayanan minimal.

Haedar Nashir

Praktik yang terjadi di lapangan tersebut mendapat sorotan tajam jika mengingat pernyataan Presiden Joko Widodo (Jokowi) dalam video wawancara yang didampingi Mendikbud Muhadjir Effendy.?

Dalam kesempatan tersebut, Jokowi menyatakan bahwa tidak ada keharusan untuk menerapkan lima hari sekolah. Namun kenyataanya Pemerintah Kota Blitar dan Dinas Pendidikannya mengeluarkan surat keputusan dan surat edaran pemberitahuan pelaksanaan lima hari sekolah.

“Perlu saya sampaikan, perlu saya tegaskan lagi bahwa tidak ada keharusan untuk lima hari sekolah. Jadi tidak ada keharusan full day school, supaya diketahui. Dan yang selama ini enam hari silakan lanjutkan tidak perlu berubah sampai lima hari. Dan untuk yang lima hari kalau itu diinginkan oleh semua pihak ya silakan diteruskan. (Maksudnya) kalau diinginkan masyarakat, diinginkan oleh ulama, silakan. Jadi Perpres sedang kami godok dengan Pak Menteri Pendidikan dan Kebudayaan nanti selesai akan kita umumkan,” ujar Jokowi dalam video berdurasi 48 detik tersebut.

Terkait dengan jam masuk sekolah yang jelas disebutkan dalam surat pemberitahuan lima hari sekolah SMPN 1 Blitar yaitu mulai pukul 07.00-15.00 WIB juga perlu mendapat perhatian ketika Mendikbud Muhadjir Effendy justru menjelaskan dalam pernyataan klarifikasinya bahwa untuk SMP selesai pukul 13.20 WIB ketika lima hari sekolah diterapkan.

“Kemendikbud sudah membuat model jadwal lima hari sekolah. Perhari hanya menambah sekitar 1 jam 20 menit dibanding 6 hari sekolah. Berarti untuk SD sudah selesai jam 12.10 sedang untuk SMP sekitar jam 13.20. Jadi dalam kaitannya dengan Madrasah Diniyah (Madin) siswa tetap bisa belajar di Madin sebagaimana biasa,” kata Muhadjir dalam klarifikasi tertulisnya.

Haedar Nashir

Soal penerapan lima hari sekolah di beberapa daerah tersebut diamini oleh Sekretaris Jenderal Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) HA. Helmy Faishal Zaini. Dia mengungkap sejumlah data yang masuk ke PBNU mengenai sejumlah daerah yang menerapkan lima hari sekolah yang tadinya enam hari sekolah dengan mendasarkan diri pada Permendikbud Nomor 23 Tahun 2017.

“Kami sudah menerima laporan contoh di salah satu sekolah itu yang tadinya sudah enam hari tiba-tiba dari dinas kirim surat soal ketentuan Permendikbud Nomor 23 Tahun 2017 itu tentang pelaksanaan sekolah lima hari dan sekolah itu mengubah kebiasaannya,” ujar Helmy Faishal, Senin (14/8) saat dikonfirmasi Haedar Nashir.

Ditanya soal data jumlah kabupaten dan kota yang sudah menerapkan lima hari sekolah, Helmy mengungkap bahwa berdasarkan data yang masuk ke dirinya, di Jawa Tengah ada sekitar 15 kabupaten/kota yang sudah menerapkan lima hari sekolah.

“Ada laporan yang masuk ke saya dari Jawa Tengah dan Jawa Timur yang sudah menerapkan lima hari sekolah sejak Permendikbud Nomor 23 tahun 2017, kemudian datang surat kawat dari dinas ke sekolah-sekolah untuk menerapkan,” jelas Helmy. (Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir PonPes, Doa Haedar Nashir

Menebus ‘Dosa’, Dua Kakek Ini Antusias Daftar Anggota Banser

Tasikmalaya, Haedar Nashir

Bagi Utak Yudin, tak ada kata terlambat untuk menjadi anggota Barisan Ansor Serbaguna (Banser). Meski sudah berusia 77 tahun, pria ini tetap mendaftarkan diri pada penjaringan calon peserta Diklatsar Satuan Khusus Banser 23-IX Kota Tasikmalaya, Jawa Barat, Ahad (18/12). Diklatsar atau Pendidikan dan Pelatihan Dasar merupakan jenjang awal tahap kaderisasi yang diperuntukkan bagi anggota baru Banser.

Ketua Pelaksana Diklatsar yang juga Dansatkorcab Banser Kota Tasikmalaya, Ujang Haedar pun dibuat kelimpungan. Pasalnya, dalam Peraturan Dasar dan Peraturan Rumah Tangga (PD/PRT), Gerakan Pemuda (GP) Ansor hasil Kongres XV GP Ansor tahun 2015, batas minimal dan maksimal keanggotaan antara usia 20 sampai 40 tahun.

Menebus ‘Dosa’, Dua Kakek Ini Antusias Daftar Anggota Banser (Sumber Gambar : Nu Online)
Menebus ‘Dosa’, Dua Kakek Ini Antusias Daftar Anggota Banser (Sumber Gambar : Nu Online)

Menebus ‘Dosa’, Dua Kakek Ini Antusias Daftar Anggota Banser

"Diterima bagaimana, ditolak juga tak enak. Ya sudah ikut saja. Gak masalah. Kita apresiasi spiritnya dan harus jadi contoh bagi pemuda NU sekarang ini," kata Ujang saat pembukaan pretes dan psikotes calon peserta di Komplek Yayasan Pendidikan Islam Al-Hikmah Tamansari Kota Tasikmalaya.

Haedar Nashir

Perasaan bingung Ujang tak sampai disitu. Beberapa saat kemudian datang lagi pria berkopiah putih berjaketkan Banser. Pria tersebut menyampaikan maksud kedatangannya untuk ikut mendaftar menjadi peserta Diklatsar.

Haedar Nashir

"Usia Bapak berapa ?" Tanya Ujang seraya dijawab pria tersebut bahwa usia dia 59 tahun dengan nama Nano Supriatna.

Sontak saja, Ujang yang didampingi Ketua GP Ansor Kota Tasikmalaya, Ricky Assegaf tertawa lepas. Pasalnya baru saja dibuat bingung oleh Utak Yudin, kini datang Nano Supriatna berusia 59 tahun yang sama pula ingin menjadi peserta Diklatsar.

"Ya nggak apa-apa. Kita terima saja. Persoalan PD/PRT memang panduan organisasi. Tapi fakta di lapangan tak memungkinkan kita menolak," saran Ricky.

Setelah menyelesaikan proses pengisian biodata, Utak Yudin yang diketahui kelahiran Tasikmalaya 1 Juli 1939 dan Nano Supriatna juga kelahiran Tasikmalaya pada 15 Juni 1957, dipersilakan ikut tes sebagai calon peserta Diklatsar.

"Ini bagaiamana nantinya kalau lolos. Diklatsarnya saja nanti seminggu," kata Ujang berbisik pada Ricky.

Selepas mengikuti pretes dan psikotes, Utak dan Nano menyampaikan alasan ingin menjadi Banser. Saat masih muda, ia sempat ikut Ansor/Banser namun tak begitu aktif karena terlilit dengan kebutuhan ekonomi keluarga. Setiap ada kegiatan, keduanya kerap mangkir karena harus berladang menanam singkong dan jagung untuk dijual ke pasar.

"Nah kebetulan sekarang ada pengumuman jadi Banser. Maka untuk menebus dosa dahulu, saya dan Nano minta menjadi Banser," ujar Utak diamini Nano.

Utak dan Nano merupakan warga kampung tempat seleksi calon peserta Diklatsar Banser yang tanpa sengaja ketika melihat banyak pemuda berseragam Banser, tergerak untuk ikut menjadi anggota Banser. (Nurjani/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Daerah, Olahraga, Ulama Haedar Nashir

Selasa, 14 November 2017

Kiai Zainuri: Ziarah Kubur untuk Ingat Mati

Pekalongan, Haedar Nashir. Rais Syuriyah Pengurus Cabang (PCNU) Kota Pekalongan KH. Zainuri  Zainal Mustofa mengatakan, ziarah kubur hakikatnya untuk mengingatkan yang masih hidup bahwa kelak akan mati. Dengan demikian, jangan sampai waktu hidup waktu terbuang percuma.

Hal tersebut dikatakan di tengah tengah melakukan ziarah para ulama NU Kota Pekalongan yang merupakan salah satu agenda rangkaian Semarak Festival Aswaja 2014 dalam rangka memperingati Harlah ke 91 NU.

Kiai Zainuri: Ziarah Kubur untuk Ingat Mati (Sumber Gambar : Nu Online)
Kiai Zainuri: Ziarah Kubur untuk Ingat Mati (Sumber Gambar : Nu Online)

Kiai Zainuri: Ziarah Kubur untuk Ingat Mati

"Ziarah itu artinya berkunjung, sehingga meskipun kita berziarah kubur tidak membaca apa apa boleh, karena dengan mengunjungi kubur kita bisa tahu banyak sejarah perjuangannya semasa hidupnya," ujar Zainuri.

Haedar Nashir

Acara ziarah tokoh tokoh Nahdlatul Ulama yang digelar Jumat (16/5) merupakan agenda rutin tahunan yang selalu dilakukan PCNU Kota Pekalongan pada saat acara peringatan harlah. Kegiatan ziarah yang dilakukan khususnya kepada para ulama NU yang pernah menjadi Rais Syuriyah di NU Kota Pekalongan.

 

Haedar Nashir

Zaenuri meminta kepada warga Nahdliyin untuk selalu mengingat dan meneladani para tokoh NU dalam berkhidmah di Nahdlatul Ulama, sehingga NU tetap jaya di masa mendatang.

Selain ziarah, PCNU Kota Pekalongan dalam memperingatai Harlah ke 91 juga menggelar festival marching band tingkat madrasah Ibtidaiyah, pengobatan masal, pameran buku, halaqoh budaya, up grading kepala sekolah dan berbagai macam lomba olah raga dan seni dengan puncak acara berupa istighotsah.

Sementara itu, Kasiman Mahmud selaku ketua panitia harlah berharap, kegiatan ini hendaknya dapat dimanfaatkan oleh warga Nahdliyin sebagai media konsolidasi dan ajang adu kreasi serta yang paling penting ialah sebagai media silaturrahim antar warga Nahdiyin. (Abdul Muiz/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Hadits Haedar Nashir

Sanlat BPUN Waykanan Memberikan Wawasan "Plus-Plus"

Waykanan, Haedar Nashir. Pesantren Kilat Bimbingan Belajar Pasca Ujian Nasional (Sanlat BPUN) di Kabupaten Waykanan Provinsi Lampung mendapat apresiasi positif dari peserta yang berasal dari tiga kecamatan dan empat sekolah di daerah tersebut sehubungan memberikan wawasan lebih, ujar sejumlah peserta di Blambangan Umpu, Senin (1/6).

"Kegiatan ini membuat pola pikir kami menjadi optimistis. Sanlat BPUN memberikan wawasan plus-plus bagi saya. Saya tidak ragu lagi mengkampanyekan pentingnya kegiatan luar biasa ini bagi adik-adik kelas saya," ujar Diduri Sri Faridah, peserta dari SMAN 1 Blambangan Umpu.

Sanlat BPUN Waykanan Memberikan Wawasan Plus-Plus (Sumber Gambar : Nu Online)
Sanlat BPUN Waykanan Memberikan Wawasan Plus-Plus (Sumber Gambar : Nu Online)

Sanlat BPUN Waykanan Memberikan Wawasan "Plus-Plus"

Sanlat BPUN Waykanan dihelat di Pesantren Tahfidzul Quran 18 Mei hingga 1 Juni 2015. 9 hingga 17 Mei, 27 peserta belajar mandiri setelah mendapatkan modul dari penyelenggara. Namun saat karantina mulai berlangsung, sejumlah peserta mengundurkan diri sehingga diikuti 14 peserta.

Haedar Nashir

"Program ini gratis, tanpa dipungut biaya. Tahun depan, kami siap berpartisipasi mencarikan donatur untuk terselenggaranya BPUN di Waykanan sehingga bisa diikuti adik-adik kelas kami," ujar Ayu Sri Ningsih, Siti Husnul Khotimah, Eis Novia, Nindya Fela Roza dan Frastika dari SMAN 1 Blambangan Umpu.

Sejumlah peserta mengaku jarang melakukan sholat wajib di rumah masing-masing. Tapi saat mengikuti Sanlat BPUN, setiap peserta harus mengikuti sholat rawatib berikut tahajud dan dhuha, terkecuali bagi perempuan yang sedang berhalangan.

Haedar Nashir

"Ini salah satu nilai lebih Sanlat BPUN. Ibadah kami ditempa, bahkan setiap malam Jumat diwajibkan untuk Yasinan," papar Ayu menambahkan. Selain ibadah, Ayu juga mengaku mendapat lecutan semangat dari sejumlah narasumber yang dihadirkan. Salah satu diantaranya, Sekretaris PAC GP Ansor Baradatu Very Triyono.

Very merupakan mahasiswa STAI Maarif Baradatu, Waykanan. Very yang membiayai kuliahnya sendiri dengan berdagang telur puyuh hingga sabun mandi bercita-cita melanjutkan kuliah hingga strata 2.

"Sahabat Very membuat kami mempunyai semangat untuk tidak takut berwirausaha. Kami semakin optimistis melanjutkan ke jenjang perguruan tinggi," ujar Diduri Sri Faridah lagi.

Manajer BPUN Waykanan Gatot Arifianto menambahkan, kualitas peserta Sanlat BPUN Waykanan 2015, dari pola pikir dan ibadah insyaallah mengalami kenaikan.

"Ibadah yang diajarkan selama Sanlat BPUN harus dilanjutkan dan dilakukan di rumah. Santri BPUN Waykanan harus menjadi satu lilin yang bisa menerangi seribu lilin. Memberikan ilmu bermanfaat akan terus dicatat sebagai amal ibadah. Santri BPUN Waykanan 2015 harus mempunyai saham untuk masuk surga dengan tidak ragu dan malu berbagi untuk sesama," ujar Gatot.

Sanlat BPUN Waykanan diikuti peserta dari empat sekolah, yakni SMAN 1 Blambangan Umpu, SMAN 2 Blambangan Umpu, SMAN 1 Baradatu dan SMAN 2 Gununglabuhan. Berdasarkan hasil musyawarah peserta, Disisi Saidi Fatah dari SMAN 1 Blambangan Umpu dipilih menjadi Ketua Alumni Sanlat BPUN Waykanan 2015, lalu Sekretaris Dicky Afrizal dari SMAN 2 Gununglabuhan dan ? Bendahara Diduri Sri Faridah dari SMAN 1 Blambangan Umpu. Adapun koordinator bidang studi IPA dipercayakan kepada Suryaningsih dan IPS dipercayakan kepada Siti Husnul Khotimah, keduanya dari SMAN 1 Blambangan Umpu.? ? ? ?

Bendahara PC GP Ansor Waykanan Abdullah Candra Kurniawan menyerahkan piagam keapada perwakilan peserta Sanlat BPUN Waykanan 2015 Ocha Sindy Octa Vintika dari SMAN2 Blambangan Umpu disaksikan Manajer BPUN Waykanan Gatot Arifianto dan Pengasuh pesantren Tahfidzul Quran Ustad Ahmad Jasmani. Red: mukafi niam

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Habib, Bahtsul Masail, Kyai Haedar Nashir