Selasa, 21 November 2017

Jimat-Jimat Gus Dur

Jakarta, Haedar Nashir. Seorang tokoh sekelas Gus Dur memiliki banyak pengikut dan pengagum. Mereka juga ingin berkontribusi sesuatu dalam perjuangan yang dilakukan oleh cucu KH Hasyim Asy’ari ini.

Jimat-Jimat Gus Dur (Sumber Gambar : Nu Online)
Jimat-Jimat Gus Dur (Sumber Gambar : Nu Online)

Jimat-Jimat Gus Dur

Bagi kalangan tertentu, mereka seringkali memberi jimat dengan berbagai bentuknya, sebagai upaya untuk membantu melindungi Gus Dur dari santet, sihir dan serangan jahat lainnya. Salah satu pemberiannya adalah sebuah keris yang gagangnya seperti tanduk. Yang memberi mengaku jika jatuh pada orang yang tepat, bisa jadi presiden.

Entah percaya atau tidak terhadap jimat, Gus Dur tidak pernah menolak pemberian tersebut, tetapi diterima sebagai niat baik dari masyarakat. Ketika kantor PBNU dipindah karena gedung lama yang hanya dua lantai dibangun kembali menjadi sembilan lantai, jimat-jimat Gus Dur ikut dirapikan dan terkumpullah sebanyak 2 karung.

Haedar Nashir

H Marsudi Syuhud, sekjen PBNU saat ini, ketika itu yang diminta merapikan dan membawanya ke rumah Gus Dur di Ciganjur. Lalu barang-barang tersebut ditaruh dibawah tempat tidur.

Haedar Nashir

Suatu ketika, ia menanyakan soal keberadaan jimat-jimat tersebut kepada Yenny dan Aries Junaidi, tetapi mereka tak ada yang tahu karena sudah tidak ada lagi di tempat semula, tetapi ketika ia bertanya kepada pengawal Gus Dur, Pak Latief dan seorang santri yang menemani tidur, mereka seringkali melihat jimat-jimat tersebut bergerak sendiri.

Penulis: Mukafi Niam

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Ahlussunnah, AlaSantri, Pahlawan Haedar Nashir

Senin, 20 November 2017

Muslimat NU Probolinggo Gelar Festival Bakat dan Minat Siswa PAUD dan TK/RA

Probolinggo, Haedar Nashir. Dalam rangka pra hari lahir (harlah) ke-71 Muslimat NU, Pimpinan Cabang Muslimat NU Kabupaten Probolinggo menggelar Festival Bakat dan Minat Siswa PAUD dan TK/RA se-Kabupaten Probolinggo dan Kota Probolinggo, Jum’at (7/4/2017).

Kegiatan yang digelar di halaman SD Unggulan Rohmatul Ummah Desa Kropak Kecamatan Bantaran Kabupaten Probolinggo ini mengambil tema Satukan Langkah Membangun Negeri Menjaga NKRI.

Muslimat NU Probolinggo Gelar Festival Bakat dan Minat Siswa PAUD dan TK/RA (Sumber Gambar : Nu Online)
Muslimat NU Probolinggo Gelar Festival Bakat dan Minat Siswa PAUD dan TK/RA (Sumber Gambar : Nu Online)

Muslimat NU Probolinggo Gelar Festival Bakat dan Minat Siswa PAUD dan TK/RA

Festival dikemas dalam 3 kegiatan lomba meliputi lomba mewarnai, puisi dan tartil. Kegiatan diikuti lebih dari 300 peserta tersebar dari 11 kecamatan ? Kabupaten Probolinggo dan 5 kecamatan Kota Probolinggo.

Suparno dari Cabang Dinas Pendidikan Kecamatan Bantaran mengungkapkan bahwa kegiatan semacam ini sangat bagus sebagai motivasi bagi peserta didik untuk mengembangkan bakat dan minatnya. “Diharapkan pada tahun mendatang jenis lomba yang diadakan dapat ditambah,” harapnya.

Haedar Nashir

Setelah melalui penilaian dari dewan juri, lomba mewarnai dimenangkan oleh RA Intisyarul Ulum Kota Probolinggo. Sedangkan lomba tarti dimenangkan oleh RA Nawa Kartika Kecamatan Leces Kabupaten Probolinggo.

Dalam sambutan Ketua PC Muslimat NU Kabupaten Probolinggo Hj. Nurayati menyampaikan bahwa pada awalnya RA lahir dari ibu-ibu Muslimat, namun saat ini RA seolah jauh dari Muslimat. “Harapannya agar kedepan Muslimat NU dapat membina RA,” katanya.

Haedar Nashir

Sementara Sekretaris PCNU Kabupaten Probolinggo Khairul Ishaq meminta agar semua lembaga senantiasa menjaga agar ajarannya tidak melenceng dari aqidah Ahlusunnah wal Jamaah (Aswaja). “Mari bersama-sama menjaga kualitas dan kuantitas agar lembaga RA ini selalu berpedoman kepada aqidah Ahlussunnah wal Jamaah,” ajaknya.

Sementara Katib PCNU Kabupaten Probolinggo KH Masrur Nashor memberikan apresiasi atas terselenggaranya festival bakat dan minat siswa PAUD dan TK/RA degan harapan mampu memberikan manfaat bagi masyarakat.?

“Lomba semacam ini sangat bermanfaat sekali dalam pembentukan karakter anak sebagai calon generasi muda bangsa yang akan datang. Kami berharap agar tahun mendatang perlu dikembangkan lomba-lomba yang memotivasi peserta didik cinta pada NU seperti lomba mengenal tokoh-tokoh NU,” katanya. (Syamsul Akbar/Mukafi Niam)

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Cerita, Kajian Haedar Nashir

Perlu Kontekstualisasi Pemahaman Keagamaan Bagi Guru PAI

Yogyakarta, Haedar Nashir. Gejala radikalisme muncul akibat dari mamahami agama secara tekstual. Untuk itu tugas kemenag memberikan masyarakat pemahaman keagamaan yang kontekstual.

Hal itu dikemukakan Kakanwil Kemenag DIY yang juga Wakil Rais PWNU DIY, Prof Dr Nizar Ali, MAg dalam Sosialisasi Kebijakan Kanwil Kemenag DIY dengan Media Massa Tahun 2015, di Ruang Rapat I Kanwil Kemenag DIY, Rabu (15/4).

Perlu Kontekstualisasi Pemahaman Keagamaan Bagi Guru PAI (Sumber Gambar : Nu Online)
Perlu Kontekstualisasi Pemahaman Keagamaan Bagi Guru PAI (Sumber Gambar : Nu Online)

Perlu Kontekstualisasi Pemahaman Keagamaan Bagi Guru PAI

“Saya sangat miris ketika melihat baliho-baliho yang bertuliskan, syi’ah bukan Islam. Mereka yang membuatnya tidak mengerti sejarah agama. Perlu ada pemahaman kontekstual tentang keagamaan, sehingga setiap orang bisa mengedepankan at-tasammuh (toleransi),” kata Guru Besar UIN Sunan Kalijaga ini.

Haedar Nashir

Nizar melanjutkan, itu tugas Kemenag sebagai pemerintah dalam memberikan pemahaman keagamaan kepada masyarakat. Kemenag harus mampu memainkan peran garda terdepan sebagai pelopor tegaknya nilai-nilai agama.?

“Problemnya, kebanyakan paham radikalisme lahir dari para siswa di sekolah umum,” tegasnya.

Haedar Nashir

Sehingga, lanjutnya, perlu adanya upgrade pengetahuan keagamaan bagi para pengajar PAI di sekolah-sekolah umum. Ini dimaksudkan agar para siswa tidak mendapatkan pemahaman-pemahaman radikal.

Untuk itu, Kanwil Kemenag DIY memiliki beberapa program prioritas, yakni pemberdayaan layanan keagamaan dan keberagamaan, peningkatan mutu pendidikan madrasah dan PAI di sekolah.

Selain itu, kemitraan dengan lembaga pesantren dan aktor strategis, pelayanan Penyelenggaraan Haji dan Umrah (PHU) yang berkualitas dan akuntabel, serta pengembangan tata kelola yang profesional dan berbasis IT. (Suhendra/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Ahlussunnah Haedar Nashir

Baghdad pun Menggelar Sunatan Massal

Baghdad, Irak, Haedar Nashir  
Tiga muslim Syiah berjanggut lebat dan berbadan besar memegangi Karrar, sedangkan seorang mantan dokter tentara Irak menyingkap jubah putih anak lelaki usia sembilan tahun yang terus menangis itu.

"Nggak apa-apa. Nanti juga baik. Sayid Muqtada (Sadr) akan datang menjenguk kamu sekarang," bisik Mushtaq Abdulwahid, 27, ke telinga remaja itu.

Di dinding di belakangnya, tergantung poster besar ulama muda karismatis itu dengan jubah hitamnya tengah menatap mereka sambil tersenyum.

Dokter Amir al-Ankabi, 44, mendekati Karrar sambil membawa sepasang penjepit. Dia mulai memeriksanya sementara remaja putra itu menjerit-jerit. Dokter Amir menyatakan dia bisa disunat.

"Penyunatan pertama tidak terlalu bagus, dan beberapa kulit luar masih tersisa di ujungnya," ujar ayah anak lelaki itu Ahmad Abdulkadhim, 33.

Setelah Karrar yang berangsur tenang dibawa keluar, adiknya Hussein, 4, menyusul masuk. Dengan pemotong listrik, proses penyunatan itu hanya berlangsung beberapa detik. Ahmad dengan bersimbah senyum mengangkat Hussein yang masih menangis dan membawanya keluar dari kamar. Penis Hussein yang habis disunat dibiarkan terbuka.

Di luar, anak lelaki itu mendapat hadiah sekantong cokelat yang di dalamnya berisi tulisan Hadiah dari kantor syahid Sadr yang mengacu pada almarhum ayah Sadr, Muhammad Sadiq, seorang ulama yang sangat dihormati yang dibunuh pada 1999.

Di halaman Pusat Kebudayaan Sadr di Al-Amil, kawasan kelas pekerja di barat Baghdad, Sabtu (25/6) itu, sekitar seratusan ibu dan bapak lainnya antre sambil menggendong bayi mereka atau menuntun anak mereka.

Sunatan gratis itu diumumkan lewat pengeras suara di luar pusat kebudayaan tersebut dan spanduk-spanduk dipasang hampir di seluruh distrik tersebut.

"Kampanye ini hanya bisa berlangsung berkat izin Allah karena itu janganlah kita membawa peralatan musik, menembakkan senapan ke udara atau melakukan tindakan yang bertentangan dengan Islam," demikian bunyi tulisan di spanduk itu.

"Ini seperti pesta perkawinan saya," kata Riad Abboud, 30, sambil menggendong putranya Mustafa, 1, yang juga baru disunat.

Pita warna-warni, bendera Irak dan poster-poster Sadr, ayahnya dan imam-imam suci Syiah memenuhi halaman tersebut. Para keluarga yang antre mengatakan akan mengadakan pesta untuk anak mereka yang baru disunat.

"Ini kami lakukan untuk membantu keluarga-keluarga miskin," ujar Sheikh Mahmud al-Subaih, simpatisan Sadr yang mengawasi program sunatan gratis itu. Ditambahkannya, pusat budaya Sadr juga memberikan pelatihan membaca Alquran, serta budaya, dan etika "untuk menghadang pengaruh penjajah AS".

Program sunatan untuk tujuan politik bukan soal baru di Irak. Pada masa rezim Saddam Hussein, sunatan gratis juga dilakukan di kantor Partai Baath pada 17 dan 30 Juli setiap tahun untuk memperingati berkuasanya rezim tersebut. (AFP/MI/Die)

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Halaqoh Haedar Nashir

Baghdad pun Menggelar Sunatan Massal (Sumber Gambar : Nu Online)
Baghdad pun Menggelar Sunatan Massal (Sumber Gambar : Nu Online)

Baghdad pun Menggelar Sunatan Massal

Dua Aspek Penting Garapan IPNU di Mata Wakil Ketua PWNU Jabar

Bandung, Haedar Nashir. Perubahan sosial begitu cepat. Indonesia tengah mengalami wabah gemar mencaci maki. Seolah menjadi orang paling mulia sehingga kita berhak mencaci dan yang tercaci seakan makhluk paling hina sejagat raya.

Wakil Ketua Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Jawa Barat Muhammad Ali Ramdhani menyampaikan, mungkin saja yang tercaci itu mendapat tempat yang mulia sebab begitu banyaknya orang yang mencacinya.

“Ini orang luar biasa.Dia akan diampuni dosanya oleh Allah dan mungkin dia akan memperoleh tempat yang mulia karena didzolimi oleh semua orang,” katanya saat memberikan sambutan mewakili Ketua PWNU Jawa Barat pada gelaran pembukaan Rapat Pimpinan Nasional (Rapimnas) Pimpinan Pusat Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (PP IPNU) di Hotel Asrilia, Bandung, Sabtu (18/11).

Dua Aspek Penting Garapan IPNU di Mata Wakil Ketua PWNU Jabar (Sumber Gambar : Nu Online)
Dua Aspek Penting Garapan IPNU di Mata Wakil Ketua PWNU Jabar (Sumber Gambar : Nu Online)

Dua Aspek Penting Garapan IPNU di Mata Wakil Ketua PWNU Jabar

Indonesia merupakan negara hukum sehingga hukum menjadi punggawa. Menurutnya, kita tidak bisa menyalahkan orang lain secara sepihak tanpa melalui proses persidangan.

“Padahal republik ini mengajarkan bahwa tidak boleh menghukumi seseorang sebelum melalui proses pengadilan,” lanjut Guru Besar UIN Sunan Gunung Jati Bandung tersebut.

Selain itu, cepatnya perkembangan teknologi memudahkan semua orang untuk mengakses segala keinginannya. Secara instan, pelajar saat ini mudah saja bertanya kepada mesin pencari di internet tentang hal apapun.

Haedar Nashir

“Mereka (pelajar) bertanya pada Kiai Google, Ajengan Yahoo, kemudian Ustadz Bing,” katanya.

Ruang-ruang di dunia internet itu harus menjadi segmen garapan IPNU selanjutnya guna memberikan paham Islam ahlussunnah wal jamaah.

Haedar Nashir

Oleh karena itu,ia menyampaikan dua hal penting yang harus IPNU garap sebagai organisasi yang fokus pada dunia pelajar, yakni IPNU harus memberikan ruang pembelajaran bagaimana menghormati hukum sebagai pilar utama  dan bagaimana IPNU harus mengisi ruang-ruang non-mainstream seperti mencuci otak dengan informasi yang viral.

Pada kesempatan tersebut, hadir Deputi II Bidang Kepemudaan Kementerian Pemuda dan Olahraga Asrorun Niam Soleh, Ketua Presidium Majelis Alumni IPNU Hilmi Muhammadiyyah, Anggota Komisi X DPR RI Dony Ahmad Munir, Pengurus PWNU Jawa Barat, dan alumni IPNU se-Jawa Barat serta para perwakilan organisasi kepemudaan dan badan otonom NU yang lain. (Syakirnf/Kendi Setiawan)

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir AlaNu, Kyai, Pahlawan Haedar Nashir

Bantuan Terkumpul, PB PMII Serahkan Kepada Korban Gempa di Pidie Jaya

Jakarta, Haedar Nashir - Pengurus Besar Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PB PMII) mengunjungi korban bencana gempa di Pidie Jaya, Senin, (9/1). Mereka menyerahkan bantuan yang diperuntukkan dalam bentuk pembangunan dua unit balai pengajian, yakni di Himmatul Fata, Dusun Masjid Gampung Teupin Peuraho, Kecamatan Meuredu dan Dayah Madinatuddiniyah Darul Muttaqin GP Menyangcut SP 3 Meureudu Kabupaten Pidie Jaya.

Bendahara Umum PMII Ahmad Riduan Hasibuan mengatakan, bantuan ini diturunkan dalam rangka merespon musibah gempa Pidie Aceh. Hal ini merupakan bentuk hablum minan nas dan tanggung jawab sosial PMII kepada masyarakat.

Bantuan Terkumpul, PB PMII Serahkan Kepada Korban Gempa di Pidie Jaya (Sumber Gambar : Nu Online)
Bantuan Terkumpul, PB PMII Serahkan Kepada Korban Gempa di Pidie Jaya (Sumber Gambar : Nu Online)

Bantuan Terkumpul, PB PMII Serahkan Kepada Korban Gempa di Pidie Jaya

"Bantuan yang dikumpulkan lewat berbagai sumbangan PMII se-Indonesia diharapkan bisa menjadi bagian dari dakwah Islam Ahlussunnah wal Jamaah. Dan menjadi bagian dari pembentukan karakter kaum muda Islam Indonesia,” kata Riduan.

Ia menambahkan, aktivitas mengaji, beristighotsah, dan belajar ilmu-ilmu keagamaan adalah cara PMII mencerdaskan kehidupan anak bangsa.

Haedar Nashir

Haedar Nashir

Bantuan ini merupakan sumbangan dari PMII se-Indonesia yang turut berpartisipasi dalam penggalang dana di daerah masing-masing. Bantuan dana terkumpul sebesar Rp 250.000.000 ini diserahkan langsung di lapangan. (Fauzan/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Kajian, Daerah, Syariah Haedar Nashir

Ini Keutamaan Menjaga Kata di Media Sosial

Media sosial saat ini tak ubahnya seperti senjata tajam. Ia dapat digunakan untuk agenda kebaikan, seperti menyambung silaturahim dan berbagi ilmu pengetahuan, dan dapat pula diarahkan untuk menusuk dan membinasakan nyawa orang. Memang pada saat update status tidak ada darah yang tertumpah seperti halnya menusuk pedang ke perut orang. Tetapi coba perhatikan, tidak jarang status ujaran kebencian yang mengundang provokasi, konflik, bahkan bertumpahan darah.? ? ?

Maka dari itu, sejak dulu Islam menekankan pentingnya menjaga lisan. Andaikan dulu sudah ada medsos, kemungkinan besar Nabi juga meminta umatnya agar pandai menggunakan medsos. Gunakanlah untuk sesuatu yang bermanfaat dan jangan gunakan untuk pertikaian.

Dulu, sahabat Abu Musa al-‘Asy’ari pernah bertanya kepada Rasul: Wahai Rasul siapakah muslim terbaik? Rasul menjawab, “Muslim yang mampu menjaga orang lain dari ucapan dan perbuatannnya” (HR: al-Bukhari dan Muslim). Dalam riwayat lain dari Abu Hurairah disebutkan, “Siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia berkata baik atau lebih baik diam (jika tidak mampu berkata baik)” (HR: al-Bukhari dan Muslim).

Ini Keutamaan Menjaga Kata di Media Sosial (Sumber Gambar : Nu Online)
Ini Keutamaan Menjaga Kata di Media Sosial (Sumber Gambar : Nu Online)

Ini Keutamaan Menjaga Kata di Media Sosial

Kedua hadis ini menunjukan betapa pentingnya menjaga lisan bagi Rasulullah. Bahkan standar kebaikan, keutamaan, dan kesempurnaan Iman diukur berdasarkan sejauh mana ia mampu menjaga lisannya. Dalam konteks bermedia sosial, tentu kualitas iman dan islam seorang muslim dapat dilihat dari bagaimana cara mereka menggunakan media: apakah untuk kebaikan atau keburukan.

? Status di media sosial, tentu seperti halnya kita bertutur kata sehari-hari. Mungkin pengaruh status yang kita ketik lebih besar ketimbang berbicara langsung. Karena pada saat bicara langsung pendengarnya sangat terbatas, sementara di media sosial siapapun dan dari belahan dunia manapun bisa membacanya.

Haedar Nashir

? Terkait pentingnya menjaga lisan, Imam al-Nawawi dalam al-Azkar mengingatkan:? ?

Haedar Nashir

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

“Hendaklah setiap orang menjaga lisannya pada pembicaraan apapun, kecuali bila dipastikan? ada kemaslahatannya. Namun jika bimbang, antara meninggalkan dan mengucapkannya sama-sama ada maslahahnya, disunnahkan tetap diam (tidak berkata apapun). Sebab terkadang perkataan biasa bisa berimplikasi pada keharaman dan makruh. Bahkan hal seperti ini banyak terjadi.”

? ? ?

Masih dalam kitab al-Azkar, Imam al-Nawawi mengutip pernyataan Imam al-Syafi’i terkait pentingnya menjaga kata:

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

“Apabila kalian hendak bicara, berpikirlah sebelumnya. Jika ada kemaslahatan pada ucapan tersebut, bicaralah. Andaikan kalian ragu, lebih baik tidak bicara sampai ditemukan kemaslahatannya”

Pikirlah sebelum bicara atau melontarkan kata di medsos. Timbang baik buruknya terlebih dahulu. Terkadang tidak semua pengetahuan dan informasi yang kita miliki mesti dipublikasikan. Adakalanya, informasi bagus tidak perlu disebarluaskan bila akan menganggu dan merusak ketenangan orang lain. Mari kita budayakan bermedia sosial yang sehat dan produktif. Wallahu a’lam (Hengki Ferdiansyah)

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Amalan, Syariah Haedar Nashir