Sabtu, 23 Desember 2017

Bahaya Radikalisme Agama terhadap Ketahanan Pancasila

Oleh Muhammad Sahlan



Sebelum lebih jauh membahas radikalisasi tentunya penting diterangkan istilah radikalisasi secara singkat terlebih dahulu. Menurut Afif Muhammad, radikal berasal dari kata radic yang berarti akar, dan radikal sendiri adalah sesuatu yang mendasar atau hingga sampai ke akar-akarnya. Penyusunan predikat “radikal” dapat dikenakan pada pemikiran, yang kemudian ada istilah “pemikiran radikal”, dapat juga pada gerakan, yang kemudian disebut “gerakan radikal”. Dalam Tesaurus Bahasa Indonesia, radikal diartikan sebagai (a) fundamental, mendasar, primer, esensial, kardinal, vital, drastis; (b) ekstrim, fanatik, keras, militan, revolusioner; (c) liberal, maju, progresif, reformis, terbuka; (d) (kaum, orang) ekstrimis, reaksioner, revolusioner. Dengan demikian radikalisme dapat diartikan sebagai sebuah paham atau aliran keras yang ingin melakukan sebuah perubahan sosial atau politik dengan cara cepat, drastis, keras, dan ekstrem.

Dalam konteks radikalisme Islam, adalah upaya orang atau sekelompok orang Islam tertentu yang ingin menerapkan ideologi (syariat Islam) dengan cara cepat, keras, dan ekstrem tanpa melihat atau menerima ide-ide lain dengan berdalih agama. Hal ini bisa menjadi bencana besar bagi ketentraman manusia, jika ditilik kembali tentang definisi kebenaran menurut kelompok radikal. Pemahaman kebenaran dalam agama adalah berasal dari Tuhan. Sedangkan firman Tuhan ada dalam kitab suci. Kemudian, apabila kitab suci mempunyai beberapa tafsir yang berbeda, maka bagi radikalisme agama, paham kelompoknya-lah yang dianggap paling benar. Dengan demikian, jikalau terdapat beberapa kelompok orang ? yang berpaham agama secara radikal, kemungkinan berikutnya adalah terjadi sebuah clash atau benturan fisik yang mengakibatkan kekerasan dan perang saudara. Hal ini akan mengakibatkan zaman jahiliah terulang kembali oleh peperangan dan pembunuhan.

Bahaya Radikalisme Agama terhadap Ketahanan Pancasila (Sumber Gambar : Nu Online)
Bahaya Radikalisme Agama terhadap Ketahanan Pancasila (Sumber Gambar : Nu Online)

Bahaya Radikalisme Agama terhadap Ketahanan Pancasila

Dari pemaparan fakta-fakta radikalisme di Indonesia saat ini menunjukkan bagaimana bangsa Indonesia telah mengalami ancaman besar dari sisi pemuda, yang digadang-gadang sebagai “tulang punggung bangsa”. Merebaknya fenomena radikalisasi Islam di kalangan pemuda terutama terjadi di kampus-kampus besar merupakan sebuah kecolongan besar bagi masa depan bangsa, di mana mereka adalah calon-calon pemimpin masa depan. Jika hal ini terus terjadi kemungkinan besar Pancasila sebagai Philosophische Grondslag atau dasar negara akan segera tergantikan oleh syariat Islam atau khilafah melalui pemimpin-pemimpin yang berpaham fundamental. Dan kemungkinan buruk selanjutnya sesuai premis awal tentang radikalisme, Indonesia akan mengalami beberapa peperangan, benturan fisik, dan pembunuhan antaragama yang ada. Hal ini bisa terjadi karena kondisi masyarakat Indonesia yang beragam, banyak agama juga aliranya.

Pentingnya Semangat Pancasila sebagai Kontinuitas Pembangunan Bangsa

Seorang ahli sosial Indonesia, Ignas Kleden menyatakan bahwa kebudayaan adalah dialektika antara ketenangan dan kegelisahan, antara penemuan dan pencarian, antara integrasi dan disintegrasi, antara tradisi dan reformasi, yang dengan kata lain kedua hal tersebut akan selalu diperlukan. Misalkan jika tanpa tradisi atau integrasi, suatu kebudayaan akan menjadi tanpa identitas, sedangkan tanpa suatu reformasi atau disintegrasi suatu kebudayaan akan kehilangan kemungkinan berkembang dalam merespon jaman dan paksaan perubahan sosial.?

Haedar Nashir

Sebuah negara tidak akan menjadi lebih baik, lebih matang, dan lebih kuat dalam hal kebudayaan apabila setiap hasil kebudayaan yang ada atau kebudayaan masa lalu selalu diganti dengan sebuah kebudayaan baru dengan terus menerus. Kondisi ini telah dan masih terjadi di Indonesia seperti yang diungkapkan oleh Kleden, mengapa sejarah kebudayaan Indonesia modern pada hakikatnya adalah sejarah tanpa kontinuitas. Penyebabnya adalah setiap generasi selalu berusaha membangun sebuah tradisi baru dari nol (awal) dan bukan melakukan dilektika terhadap tradisi sebelumnya. Sikap (1) penolakan terhadap tradisi kebudayaan yang ada atau masa lalu atas dasar semangat modern dapat dilihat dari beberapa kasus misalnya, sering dikutipkanya pemikiran tokoh ekonom Barat daripada Hatta, sering dikutipnya pemikiran nasionalisme ahli Barat daripada Soekarno, sering dikutipnya pemikiran Islam transnasional daripada kiai-kiai yang ada di Indonesia, sering dikutipnya pemikiran kebudayaan Barat daripada (misalnya) pemikiran Ignas Kleden ini, dan masih banyak kasus-kasus penolakan tradisi lainya.

Sikap (2) konservatif alias selalu mempertahankan tradisi kebudayaan masa lalu, dapat dilihat dalam masyarakat yang tidak mau menerima semangat modern: materialis, rasional, dan individual yang memang perlu diserap di era saat ini. Konservatif terhadap tradisi akan berakibat juga dalam tersingkirnya masyarakat tertentu dari pertarungan global. Yang menjadi sebuah catatan dan poin penting adalah sikap masyarakat Indonesia seharusnya bisa berada dalam posisi moderat, dengan melanjutkan tradisi yang sudah ada, melakukan kritik terhadapnya, juga berinovasi.

Ditarik dalam konteks tema ini, Pancasila adalah sebuah hasil pemikiran tokoh pendiri Indonesia dalam merumuskan dasar negara dan pandangan hidup yang juga bisa disebut hasil kebudayaan bangsa Indonesia. Lebih dari itu Pancasila diciptakan sebagai dasar negara yang dimaksud sebagai fondasi negara yang kuat (ideologi), agar rumah kebangsaan yang bernama negara Indonesia dapat kokoh dan abadi, serta melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia. Kemudian dalam membangun negara dan peradaban tanpa didasari dengan semangat transendental (ketuhanan) dan prinsip-prinsip ruhiah yang kuat adalah ibarat membangun bangunan istana yang rapuh. Sehingga Pancasila merupakan sesuatu yang jelas pokok dan sakral, tidak bisa diubah dalam kondisi apapun. Oleh sebab itu upaya mengganti sebuah dasar negara dengan dasar yang lain sama saja menghancurkan negara Indonesia.

Dari sisi sejarah, pembentukan Pancasila melalui perdebatan cukup menegangkan. Perumusan Pancasila mengalami beberapa ketegangan antara tokoh dari umat muslim dan non-Muslim ? dalam menetapkan sila pertama Piagam Jakarta (cikal bakal Pancasila), ? yakni “ketuhanan dengan kewajiban menjalankan syariat Islam bagi pemeluknya”. Akhirnya dengan usaha keras persuasi Soekarno terhadap perwakilan tokoh Islam di detik-detik awal kemerdekaan Indonesia, tujuh kata di belakang ketuhanan dihapus demi persatuan dan kesatuan mengingat Indonesia baru merdeka. Usaha ini juga jelas menggarisbawahi bahwa Indonesia bukan hanya terdiri dari warga Muslim—meskipun Islam adalah mayoritas—bahwa ada penganut agama-agama lain yang hidup di Indonesia. Mereka semua sebagai warga negara harus memiliki hak yang sama. Upaya untuk mengganti Pancasila dengan Khilafah misalnya, adalah upaya untuk mendiskreditkan pemeluk agama lain atau kelompok lain dalam negara baru yang dicita-citakan oleh kelompok tertentu.

Haedar Nashir

Kembali lagi pada gagasan yang diangkat oleh Kleden tentang kontinuitas tradisi, dengan melakukan kritik terhadap tradisi yang sudah ada, kemudian melakukan reformasi tradisi agar lebih baru dan maju merupakan sebuah upaya positif dalam urun pembangunan. Konsep ini memiliki kesamaan dengan usul fiqih yang menjadi doktrin organisasi kegamaan Islam Nahdlatuh Ulama (NU), al-mukhafadhatu ala-alqadimisshalih wa-alakhdu bil jadidi al-aslah yang artinya memelihara yang lama yang baik dan mengadopsi yang baru dan baik. Konsep “menjaga yang baik” di sini bisa disamakan dengan tetap bertradisi dengan mengkritik tradisi yang tidak kontekstual tentunya bentuk atau kemasanya saja, dan “mengambil yang lebih baik” di sini bisa disamakan dengan melakukan upaya perubahan mencari dan menemukan inovasi baru agar tetap eksis dalam perubahan zaman.

Pemahaman seperti Kleden dan NU tentang kebudayaan di atas dapat menjadi semangat positif dalam melanjutkan tradisi yang sudah ada (Pancasila). Mestinya dengan melakukan kritik dan tafsir ulang untuk disesuaikan dengan permasalahan yang ada. Bentuk konkrit sikap ini, misalnya adalah melanjutkan pemikiran-pemikiran yang telah digagas, semisal Ekonomi Kerakyatan oleh Hatta, Dawam Raharjo, Mobyarto, dsb; Kebudayaan oleh STA, Kleden, Pram, Rendra, Ronggowarsito (Jawa) dsb; Pendidikan oleh Ki Hajar Dewantara, Dr Soetomo, dsb; Filsafat oleh Suryomentaram (Jawa) dsb; Islam oleh Hasyim Asyari, A. Dahlan, Mustofa Bisri, dsb; dan bidang-bidang sosial lainya di mana sesuai dengan konteks sosial budaya Indonesia itu sendiri.

Oleh sebab itu, semangat Pancasila menjadi penting sebagai usaha warga negara dalam memajukan bangsa dan menolak gerakan radikalisme agama. Gerakan radikalisme dalam beberapa kasus juga ingin menyuarakan permasalahan sosial bangsa yang sudah sangat pelik. Lalu, mereka memberi solusi dengan ikut bergabung dalam gerakanya. Dan puncaknya adalah penerapan khilafah atau syariat Islam di dalam negara sebagai solusi atas tidak becusnya sistem demokrasi dan ideologi Pancasila. Namun, apakah sistem baru yang ditawarkan sudah teruji atau diterapkan dengan hasil sebuah kemakmuran bangsa? Tentunya, biaya “peperangan antar suku, agama, aliran” belum juga kegagalan yang diakibatkan, kepentingan global yang mendompleng dibaliknya, lebih baik dialihkan pada usaha kongkrit dalam mengembangkan tradisi yang sudah ada. Terakhir, sebagai negara yang sudah berusia 72 tahun, Indonesia haruslah sudah mandiri di segala bidang. Untuk itu, berusaha berdikari dengan Pancasila adalah suatu keharusan.

“Kita mesti berhenti membeli rumus-rumus asing. Diktat-diktat hanya boleh memberi metode, tetapi kita sendiri musti merumuskan keadaan” (Rendra, Sajak Sebatang Lisong).

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir RMI NU, Aswaja Haedar Nashir

Penjelasan tentang Takbir Intiqal dalam Shalat

AssalamuAlaikum wr. wb. Redaksi Bahtsul Masail yang dirahmati Allah SWT, pernah suatu ketika kami shalat di salah satu masjid yang imamnya ketika selesai membaca surat pendek beliau langsung rukuk lalu kemudian nanti sang imam sudah pada posisi ruku’ baru melafalkan takbir, sehingga ada sebagian makmum yang kebetulan posisinya berada dibelakang sang imam sudah mengikuti gerakan sang imam walau imam belum melafalkan takbir.

Tentunya dengan demikian shalat kali ini sangat tidak kompak kelihatannya karena ada sebagian makmum yang mengikuti karena melihat gerakan dan ada yang mengikuti karena mendengar lafal takbir.

Penjelasan tentang Takbir Intiqal dalam Shalat (Sumber Gambar : Nu Online)
Penjelasan tentang Takbir Intiqal dalam Shalat (Sumber Gambar : Nu Online)

Penjelasan tentang Takbir Intiqal dalam Shalat

Yang ingin kami tanyakan adalah:

1. Bagaimana hukum melafalkan takbir dalam perpindahan gerakan dalam shalat?

2. Apa hukum memanjangkan atau memendekkan lafal takbir oleh imam dalam shalat?

Haedar Nashir

Demikian pertanyaan kami. Sebelumnya kami ucapkan terima kasih atas jawabannya. Walaikumsalam wr. wb. (Zainal)

Jawaban

Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

Haedar Nashir

Saudaraku Zainal yang dimulyakan oleh Allah, beserta semua saudara Nahdliyyin dimanapun anda berada, pertanyaan seputar melafalkan takbir dan sistem pembacaannya merupakan pertanyaan yang sangat menarik, karena meskipun terkesan sepele, namun itulah fakta ibadah yang kita temui dalam keseharian kita.

Untuk menjawab pertanyaan saudaraku, Zainal, perlu kita bersama pahami terlebih dahulu tentang takbir yang mengiringi perpindahan gerakan shalat, atau yang biasa dikenal dengan takbir intiqâl.

Syekh Sulaiman al-Bujairami dalam kitab Al-Bujairimi ‘ala al-Khathib (Beirut: Dar al-Fikr, 1995), juz II, hal. 220 menyebutkan bahwa hukum takbir intiqal adalah sunnah muakkad:

? ? ? ? ? ? ?

“Bahwa takbir-takbir intiqâl itu telah disepakati oleh para ulama, sehingga kesunnahannya lebih kukuh (muakkad)”

Mengenai penempatan kapan kita melakukan takbir intiqâl, Mustafa al-Khan dan Musthafa al-Bagha, menjelaskannya dalam Al-Fiqh al-Manhaji ‘ala Madzhabi Imam al-Syafi’i (Surabaya: Al-Fithrah, 2000), Juz I, hal. 153

? ? ?

? ? ? ? ? ? ? ? ?.? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?: ? ? ? ? ? ? ?

“Takbir saat perpindahan gerakan:

Telah kita ketahui bahwasanya takbiratul ihram adalah rukun shalat, dimana shalat tidak akan sah tanpanya. Apabila seseorang sudah masuk dalam shalat dan telah melaksanakan takbiratul ihram, disunnahkan bagimu melafalkan takbir setiap kali perpindahan gerak. Kecuali saat bangun dari rukuk, maka yang disunnahkan adalah ucapan: “Allah Maha Mendengar orang yang memuji-Nya, Ya Tuhanku, bagi-Mu segala puji”.” 

Pada saat melafalkan takbir tersebut, ada yang disunnahkan dengan dibarengi gerakan mengangkat keduatangan (raf’ul yadain), dan ada yang tidak. Tempat-tempat dimana kita disunnahkan mengangkat kedua tangan, dijelaskan olehSyekh Abdurrahman al-Jaziri dalam Al-Fiqh ‘alâ Madzâhib al-Arba’ah (Beirut: Dar al-Kutub al-Ilmiyyah, 2003), juz I, hal. 224.

? ?: ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

“Syafiiyyah berkata, termasuk sunnah hay-ât adalah mengangkat kedua tangan ketika takbiratul ihram, ketika hendak ruku, ketika berdiri dari ruku, dan ketika berdiri dari tasyahud awal.”

Selanjutnya, mengenai memanjangkan atau memendekkan bacaan takbir, Mustafa al-Khan dan Musthafa al-Bagha, menjelaskannya dalam Al-Fiqh al-Manhaji ‘ala Madzhabi Imam al-Syafi’i (Surabaya: Al-Fithrah, 2000), Juz I, hal. 131 menjelaskan: 

? ? ? ?: ….. (?) ? ? ? ? ?.

“Syarat sahnya takbiratul ihram ialah: .... membarengkan keseluruhan lafalnya dengan niat sebagaimana telah dituturkan sebelumnya”

Kutipan di atas menjelaskan bahwa pada saat melakukan takbiratul ihram, kita disyaratkan untuk membarengkan pengucapannya dengan niat, dan tentunya dengan gerakan mengangkat kedua tangan. Untuk takbir intiqâl, disamakan dengan takbiratul ihram. Sehingga panjang ataupun pendeknya pembacaan disesuaikan dengan gerakannya agar berjalan berbarengan.

Demikian jawaban yang bisa kami sampaikan, semoga bisa bermanfaat bagi penulis dan para pembaca. Wallahu a’lam bi-shawâb. 

Wassalamu ‘alaikum warahatullahi wabarakatuh.

(Muhammad Ibnu Sahroji)

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Syariah Haedar Nashir

Jumat, 22 Desember 2017

Mahasiswa STAINU Silaturahim dengan Dubes RI di Maroko

Rabat, Haedar Nashir. Sebanyak 15 Mahasiswa Kelas Internasioanal STAINU yang sedang belajar di Universitas Ibn Tofail Kenitra Maroko, Sabtu (9/2) mengadakan kunjungan silaturahim di kediaman Duta Besar RI untuk kerajaan Maroko H Tosari Widjadja di Rabat.

Mahasiswa STAINU Silaturahim dengan Dubes RI di Maroko (Sumber Gambar : Nu Online)
Mahasiswa STAINU Silaturahim dengan Dubes RI di Maroko (Sumber Gambar : Nu Online)

Mahasiswa STAINU Silaturahim dengan Dubes RI di Maroko

Kunjungan yang didampingi mahasiswa reguler tersebut selain dalam rangka silaturahmi juga sekaligus membesuk Duta Besar yang belum lama menjalani operasi di RS setempat.

Dalam kunjungannya, Hafidzul Umam selaku kordinator mahasiswa mengharapkan agar Duta Besar senantiasa memberikan arahan dan bimbingan baik secara personal maupun prosedural terhadap mahasiswa STAINU yang berada di Maroko. 

Haedar Nashir

Dalam kesempatan tersebut Duta Besar berpesan agar Mahasiswa STAINU yang berada di Maroko selalu semangat dalam belajar serta mampu menuangkan ide dan pikirannya baik dalam bentuk lisan maupun tulisan.

“Orang dapat terkenal itu ada 2 cara. Pertama dengan menulis dan mampu berbicara dan bisa di terima oleh orang lain,” paparnya.

Haedar Nashir

Redaktur    : Mukafi Niam

Kontributor: Nizar Presto

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir IMNU, Nasional Haedar Nashir

Jika Dikelola dengan Benar, Wakaf Hasilkan Manfaat Luar Biasa

Bandar Lampung, Haedar Nashir

Pengelolaan wakaf dengan baik dan benar dapat memberikan manfaat yang luar biasa bagi kemaslahatan umat. Wakaf bisa menjadi sumber ekonomi umat Islam jika dikelola dengan ilmu pengetahuan yang matang dan sesuai dengan kriteria serta syariat Islam.

Demikian disampaikan M Damrah Khair saat memberikan materi "Prospek Peran Ekonomi Wakaf di Indonesia" pada Workshop Manajemen Pengelolaan Wakaf yang dilaksanakan oleh Bidang Penerangan Agama Islam zakat dan Wakaf Kanwil Kemenag Provinsi Lampung, Rabu (11/04), di Bandar Lampung.

Jika Dikelola dengan Benar, Wakaf Hasilkan Manfaat Luar Biasa (Sumber Gambar : Nu Online)
Jika Dikelola dengan Benar, Wakaf Hasilkan Manfaat Luar Biasa (Sumber Gambar : Nu Online)

Jika Dikelola dengan Benar, Wakaf Hasilkan Manfaat Luar Biasa

Mantan Rektor IAIN Raden Intan Bandar Lampung tersebut memberikan beberapa contoh negara dan perguruan tinggi yang dapat berkembang dengan luar biasa dengan memaksimalisasikan wakaf yang ada. "Mesir dan Universitas Al Azhar Kairo bisa maju karena pengelolaan wakaf yang sangat baik. Universitas Islam Indonesia dan Pesantren Gontor juga baik sekali dalam memanfaatkan wakaf untuk mengembangkan diri," katanya.

Haedar Nashir

Oleh karenanya Damrah menegaskan bahwa kata kunci dalam perwakafan ini adalah pengelolaan, karena permasalahan bukan pada apa yang mau diwakafkan namun kepada siapa yang mau mengelola wakaf. "Sebenarnya banyak orang yang mau berwakaf. Tapi siapa yang mengelola, amanah nggak, kredibel nggak. Itu yang jadi permasalahan," tegasnya.

Jadi, menurutnya sangatlah penting mengubah pola pikir umat serta sinergitas ulama dan umara untuk menjadikan wakaf produktif. Salah satu cara untuk mengubahnya adalah melalui bentuk sosialisasi dan pelatihan pengelolaan ekonomi wakaf yang didukung oleh dana yang memadai, terjadwal, dan terencana.

Haedar Nashir

"Lebih khusus ini adalah salah satu tugas Badan Wakaf Indonesia (BWI) untuk mengelola wakaf dengan baik. Pembinaan terhadap nadzir (pengelola wakaf) harus intensif dilakukan," pungkasnya. (Muhammad Faizin/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir AlaSantri, Kyai, RMI NU Haedar Nashir

IPPNU Siap Layangkan Surat ke Kemendikbud

Jakarta, Haedar Nashir. Pimpinan Pusat Ikatan Pelajar Putri Nahdlatul Ulama (IPPNU) akan melayangkan surat resmi ke Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) terkait  kasus manipulasi sejarah turunnya KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) dari kursi kepresidenan RI dalam materi pelajaran sejarah di sekolah.

IPPNU Siap Layangkan Surat ke Kemendikbud (Sumber Gambar : Nu Online)
IPPNU Siap Layangkan Surat ke Kemendikbud (Sumber Gambar : Nu Online)

IPPNU Siap Layangkan Surat ke Kemendikbud

PP IPPNU mendesak kementerian terkait untuk meninjau ulang buku sejarah dan soal-soal yang terkait dengan peristiwa penjatuhan Gus Dur.

Hal ini diutarakan oleh Farida Farichah, Ketua Umum PP IPPNU kepada Haedar Nashir di Kantor PP IPPNU, Kantor PBNU, Rabu (12/12) malam. Ditemani Alfina Rahil Shidiqi, salah satu pengurus PP IPPNU, Farida yang tengah menata ruang kerjanya mengungkapkan kekecewaannya terhadap kasus tersebut.

Haedar Nashir

“Kita tengah mempersiapkan surat berikut lampirannya yang akan ditujukan ke kementerian yang berwenang,” kata Farida, Rabu (12/12) malam.

Haedar Nashir

Menurut Farida, KH. Abdurrahman Wahid, Presiden Keempat RI tidak terbukti secara hukum tersangkut dengan kasus bologgate dan bruneigate. Dua skandal yang dianggap sebagai penyebab pemakzulan Gus Dur, adalah isu yang dihembuskan oleh lawan politik Gus Dur.

Dua skandal itu lebih bersifat politis. Keduanya menjadi populer di media massa karena lawan politik Gus Dur memainkan media pada saat itu. Sementara, masyarakat kini semakin cerdas. Mereka, tambah Farida, dapat membedakan fakta hukum dari isu politik.

Selain tersebut di dalam soal, kasus pelecehan Gus Dur dengan asumsi keterlibatannya dengan dua skandal tersebut, sudah masuk dalam materi pelajaran sejarah sebagai bahan ajar di sekolah. Soal dan bahan ajar seperti akan meracuni pengetahuan pelajar Indonesia sebagai generasi penerus, imbuhnya.

Untuk kasus pelecehan itu, Farida menilai keteledoran kementerian terkait dan dunia pendidikan secara umum dalam membuat bahan ajar Sejarah. Mereka, ungkap Farida, semestinya mengkaji secara cermat peristiwa tersebut sebelum dijadikan bahan ajar.

“Terutama dalam hal sejarah, persiapan bahan ajarnya, membutuhkan keseriusan yang cukup. Disiplin sejarah memiliki metode tersendiri seperti mengkritisi sumber data yang ada sebelum menyimpulkan sebuah peristiwa,” tandas Farida. 

Redaktur: A. Khoirul anam

Penulis   : Alhafiz Kurniawan

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Hadits Haedar Nashir

Lakpesdam Berdayakan Perempuan Pedesaan

Surabaya, Haedar Nashir. Tiap daerah memiliki kelebihan sumber daya manusia dan alam. Akan tetapi yang belum juga diupayakan secara serius adalah mengoptimalkan potensi yang ada agar benar-benar bermanfaat. 

Usaha serius pemerintah dalam mendampingi para wirausahawan tercermin dengan dikeluarkannya PNPM atau Program Nasional Masyarakat Mandiri. Beberapa daerah  memanfaatkan Lembaga Kajian dan Pengembangan SDM (Lakpesdam) NU untuk mendampingi sejumlah pemberdayaan usaha bagi kalangan perempuan. Termasuk yang kini tengah diseriusi PW Lakpesdam NU Jawa Timur di Kecamatan Randuagung Kabupaten Lumajang.

Lakpesdam Berdayakan Perempuan Pedesaan (Sumber Gambar : Nu Online)
Lakpesdam Berdayakan Perempuan Pedesaan (Sumber Gambar : Nu Online)

Lakpesdam Berdayakan Perempuan Pedesaan

Yeni Lutfiana, Project Officer kegiatan ini menandaskan sudah banyak potensi lokal di daerah ini yang dijadikan sandaran hidup warga. Randuagung memiliki hasil bumi yang cukup melimpah khususnya buah pisang. “Kehadiran kami melakukan pendampingan usaha yang selama ini sudah digeluti masyarakat, khususnya perempuan,” katanya pada Haedar Nashir (5/4).

Haedar Nashir

Untuk usaha pisang yang digeluti masyarakat, Lakpesdam memberikan sejumlah pengetahuan tentang upaya meningkatkan kualitas dan meminimalisir biaya yang tidak perlu. “Kita berikan kepada mereka teknologi tepat guna yang tentunya juga efisien bagi usaha yang tengah digeluti,” tandas alumnus IAIN Sunan Ampel Surabaya ini.

Untuk usaha kripik pisang misalnya, telah dipernalkan vacuum frying yakni alat yang berfungsi melakukan pengeringan. “Alat ini bisa membuat kripik pisang lebih bisa bertahan lama dengan tanpa mengurangi tekstur dan rasanya,” katanya.

Haedar Nashir

Bahkan dengan alat yang ada, para perempuan perajin usaha kripik pisang mampu menyimpan komoditasnya hingga dua tahun. “Ini sangat berbeda dengan model konvensional yang sudah ada,” kata mahasiswa Pasca Sarjana Unair Surabaya ini.

Tidak semata dalam hal produksi hingga distribusi yang dilakukan Lakpesdam. “Yang lebih penting adalah kesadaran para perempuan dan warga untuk berhimpun dalam komunitas,” terangnya. Karena dengan menjadi paguyuban atau perkumpulan, maka akan kian banyak ide kreatif yang muncul.

“Yang juga menjadi tujuan utama kami adalah mengangkat taraf hidup masyarakat serta kemandirian ekonomi bagi kaum perempuan,” kata Yeni, panggilan akrabnya. Karena dengan kemadirian ekonomi, maka diharapkan posisi tawar para perempuan kian tinggi. “Dengan demikian mereka tidak mudah dimarginalkan,” pungkasnya. 

Kontributor: Syaifullah

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Kiai, Fragmen, Sholawat Haedar Nashir

Kamis, 21 Desember 2017

Gus Dur: Usut Kasus Penyerangan Pengikut Wahidiyah

Jakarta, Haedar Nashir

Ketua Umum Dewan Syura Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) mendesak agar kasus penyerangan terhadap pengikut aliran Wahidiyah di Tasikmalaya, Jawa Barat, beberapa waktu lalu diusut tuntas.



Gus Dur: Usut Kasus Penyerangan Pengikut Wahidiyah (Sumber Gambar : Nu Online)
Gus Dur: Usut Kasus Penyerangan Pengikut Wahidiyah (Sumber Gambar : Nu Online)

Gus Dur: Usut Kasus Penyerangan Pengikut Wahidiyah

Gus Dur, kepada pers di Jakarta, Selasa (18/9), bahkan menuding Presiden Susilo Bambang Yudhoyono tidak mampu melindungi kaum minoritas. Menurutnya, hal itu terbukti dengan masih adanya penyerangan terhadap kelompok ini, yang secara hukum dilindungi Undang-Undang Dasar.

Terkait kasus penyerangan warga Wahidiyah, Gus Dur mendesak Kepala Polri Jenderal Sutanto melakukan penangkapan terhadap sejumlah pihak yang dianggap bertanggung jawab.

Haedar Nashir

"Saya meminta Kapolri memerintahkan penangkapan Ajengan Asep di Manonjaya, Tasikmalaya," katanya seraya menyebut ketua Majelis Mujahidin Indonesia (MMI) Jawa Barat itu tidak dapat mengendalikan anak buahnya yang melakukan perusakan, pembakaran, dan penghancuran gedung di Kota Tasikmalaya.

Haedar Nashir

Gus Dur juga meminta agar Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kabupaten Tasikmalaya KH Saefudin Juhri dan Ketua MUI Kota Tasikmalaya Dudung Akasah ditangkap.

Alasannya, kasus penyerangan terhadap pengikut Wahidiyah terjadi akibat adanya fatwa dari lembaga itu yang menyebut ajaran Wahidiyah menyimpang.

Gus Dur juga mendesak agar dilakukan pemeriksaan terhadap jajaran Polres Tasikmalaya karena dianggap tak mampu memberi perlindungan fisik terhadap kelompok Wahidiyah.

Sambut FPI

Pada kesempatan itu, Gus Dur menyatakan menyambut gembira kesediaan Ketua Umum Front Pembela Islam (FPI) Habib Muhammad Riziq untuk membubarkan FPI jika terlibat main hakim sendiri terhadap aliran minoritas Islam.

"Saya menyambut gembira kesediaan Habib Muhammad Riziq. Kelompok minoritas dilindungi UUD, karena itu tidak dapat dibenarkan tindakan main hakim sendiri," katanya. (rif)Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Nasional, Pendidikan, Pahlawan Haedar Nashir