Senin, 08 Januari 2018

Terima Kunjungan Konjen AS, Gus Ali Jelaskan 4 Faktor Dominan Teror

Surabaya, Haedar Nashir

Mengapa gerakan teror mudah tersebar? Setidaknya ada 4 sebab yang paling dominan. KH Agus Ali Masyhuri mengurai hal tersebut saat menerima kunjungan Konsulat Jenderal Amerika Serikat (AS) di Surabaya, Kamis (28/1).

Terima Kunjungan Konjen AS, Gus Ali Jelaskan 4 Faktor Dominan Teror (Sumber Gambar : Nu Online)
Terima Kunjungan Konjen AS, Gus Ali Jelaskan 4 Faktor Dominan Teror (Sumber Gambar : Nu Online)

Terima Kunjungan Konjen AS, Gus Ali Jelaskan 4 Faktor Dominan Teror

"Penyebab utama bagi sumber dan berkembangnya pelaku teror di manapun adalah pertama adalah faktor kemiskinan. Sedangkan penyebab selanjutnya adalah kebodohan,” kata Gus Ali sapaan akrab KH Agus Ali Masyhuri.

Hal lain yang juga tidak kalah penting memberikan sumbangsih bagi kemunculan pelaku teror adalah karena mereka belajar agama tidak utuh. "Biasanya mereka belajar agama hanya sepenggal dan dari sumber yang tidak jelas dan berguru agama kepada pihak yang tidak jelas silsilah keilmuannya," ungkap Wakil Rais PWNU Jatim ini.

"Karena itu saya menjamin para santri yang belajar agama di pesantren tidak akan pernah melakukan tindakan teror," kata pengasuh Pondok Pesantren Bumi Shalawat Tulangan Sidoarjo ? ini. Gus Ali juga memastikan bahwa sejumlah pesantren memberikan pencerahan kepada para santri dengan pendekatan yang arif dalam menyikapi berbagai hal.

Penjelasan ini disampaikan untuk menjawab pertanyaan dari staf Konjen AS terkait banyaknya anak muda yang terlibat gerakan teror termasuk ISIS, juga Gafatar atau Gerakan Fajar Nusantara. ? ?

Haedar Nashir

Namun demikian, perkembangan teknologi informasi termasuk media sosial bagi Gus Ali juga merupakan tantangan yang harus dijawab kalangan pesantren. "Saya sendiri memberikan kesempatan kepada siapa saja yang ingin meminta penjelasan terkait masalah agama lewat twitter," katanya sembari menyebutkan alamat akun @gusali_bsh.

Haedar Nashir

KH Anwar Iskandar yang juga hadir menimpali bahwa untuk menghadapi kelompok seperti ini tidak dapat diselesaikan dengan pendekatan keamanan dan kekerasan. "Perlu peran civil society, termasuk di dalamnya adalah NU untuk diajak urun rembuk," kata Wakil Rais PWNU Jatim tersebut.

Konjen AS di Surabaya, Heather Variava berkunjung ke kantor PWNU Jawa Timur di Jalan Masjid al-Akbar Timur 9 Surabaya, Kamis (28/1) siang. Mereka diterima KH Anwar Iskandar dan KH Agus Ali Masyhuri, H Shonhaji Sholeh dan H Ali Masud, KH Abdurrahman Navis (wakil ketua), Akh Muzakki (sekretaris), serta Riadi Ngasiran dari Majalah Aula. (Ibnu Nawawi/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Fragmen Haedar Nashir

Minggu, 07 Januari 2018

Kiai Maruf Amin dan Para Da’i NU Doakan Warga Gaza

Jakarta, Haedar Nashir. Ketua Umum Muslimat NU Hj Khofifah Indar Parawansa memohon kesediaan Mustasyar PBNU KH Ma’ruf Amin memimpin sedikitnya 120 peserta pelatihan da’i dan da‘iyah NU untuk mendoakan korban sipil di Gaza Palestina. Doa bersama untuk Palestina ini sekaligus menutup pelatihan dakwah di Gedung PBNU, Selasa (22/7) sore.

“Kita sedih menyaksikan kebrutalan agresi militer Israel yang menyerang korban sipil di jalur Gaza. Kita mengharapkan warga dunia dalam hal ini PBB, negara-negara Islam, dan liga Arab untuk berpartisipasi dalam perdamaian di Palestina,” kata Khofifah.

Kiai Maruf Amin dan Para Da’i NU Doakan Warga Gaza (Sumber Gambar : Nu Online)
Kiai Maruf Amin dan Para Da’i NU Doakan Warga Gaza (Sumber Gambar : Nu Online)

Kiai Maruf Amin dan Para Da’i NU Doakan Warga Gaza

Sebelum memimpin doa, Kiai Ma’ruf yang juga mengisi materi Keaswajaan dan Kepemimpinan Nasional dalam pelatihan yang difasilitasi PP LDNU dan Himpunan Da’i dan Majelis Taklim Muslimat NU ini menekankan peran para da’i NU di tengah tantangan dakwah yang semakin berat.

Haedar Nashir

“Tugas para da’i ialah membuat peta dakwah agar mengetahui medan tantangan dakwah dari segala dimensinya. Karena itu, da’i mesti terus berpikir memetakan strategi dakwah. Tantangan terus berubah,” kata Kiai Ma’ruf.

Haedar Nashir

Kelenturan Aswaja NU memberikan keluasan kepada kita semua untuk tidak berhenti di titik nyaman. Da’i tidak boleh statis, harap Kiai Ma’ruf.

“Mari kita tengadahkan tangan mengharapkan ridho Allah untuk menurunkan bantuannya bagi kemaslahatan warga Gaza,” ujar Kiai Ma’ruf sebelum membacakan doa yang diaminkan peserta pelatihan da’i. (Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Kiai, Berita Haedar Nashir

Dari Ranting ke Ranting, IPNU-IPPNU Kaliori Ngaji Ramadhan

Rembang, Haedar Nashir. Pada Ramadhan kali ini, Pimpinan Anak Cabang Ikatan Peajar NU (IPNU) dan Ikatan Pelajar Putri NU (IPPNU) Kecamatan Kaliori, Kabupaten Rembang, Jawa Tengah, menggelar program "Ngaji Bareng" di beberapa Ranting atau desa di kecamatan setempat secara bergilir menjelang buka puasa.

Dari Ranting ke Ranting, IPNU-IPPNU Kaliori Ngaji Ramadhan (Sumber Gambar : Nu Online)
Dari Ranting ke Ranting, IPNU-IPPNU Kaliori Ngaji Ramadhan (Sumber Gambar : Nu Online)

Dari Ranting ke Ranting, IPNU-IPPNU Kaliori Ngaji Ramadhan

Ketua IPNU Kecamatan Kaliori Abdul Rohim, Kamis (3/7), mengatakan, ada delapan Ranting IPNU-IPPNU yang sudah menyatakan kesediaanya sebagai tuan rumah untuk berbuka puasa dan ngaji ini, di antaranya Ranting Desa Kuangsan, Meteseh, Tambak Agung, Karang Sekar, Dresi Wetan, Dresi Kulon, Gunung Sari, dan Dukuh Dresen Desa Tasik Harjo.

"Kegiatan ini merupakan agenda rutinan dari setiap anggota dan pengurus Anak Cabang Kaliori. Dan sekaligus sebagai ajang berbuka puasa bagi para pengurus dan anggota setelah seharian menjalankan ibadah puasa. Hal ini cukup efektif untuk menjaga tali silaturahmi dari para kader pelajar NU di Kaliori," ujarnya.

Haedar Nashir

Rencananya, tambah Abdul Rohim, pihaknya akan mengadakan pengajian kitab seperti tahun-tahun sebelumnya. Yakni, sesudah tadarus, akan diisi ngaji kitab sejenak sambil menunggu adzan Maghrib sebagai tanda berbuka dimulai. Mengenai kitab yang akan dikaji, ia menunggu kesepakatan para pengurus PAC IPNU-IPPNU.

Pihaknya masih berharap menerima saran dari pengurus Majelis Wakil Cabang Nahdlatul Ulama (MWCNU) Kecamatan Kaliori. Seperti pada tahun-tahun sebelumnya, para penguruslah yang biasanya menyampaikan kajian kitab di setiap bulan Ramadhan.

Haedar Nashir

Kegiatan ngaji Ramadhan sembari berbuka puasa bersama dijadwalkan akan dimulai pada hari ke sembilan di bulan Ramadhan. (Ahmad Asmui/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Sejarah Haedar Nashir

Sabtu, 06 Januari 2018

Menengok Prestasi IPNU-IPPNU Pati

Pati, Haedar Nashir. Pusat Informasi Konseling Remaja (PIK Remaja) Cah Pati PC IPNU-IPPNU Kabupaten Pati menerima kunjungan kerja dari Komisi C DPRD Kota Pekalongan di sekretariat PIK Remaja yang bertempat di Gedung NU Kabupaten Pati, Selasa (22/1).?

Kunjungan kerja ini memang difokuskan untuk menambah wawasan mengenai program Kependudukan yang bermitra dengan Badan Pemberdayaan Perempuan Keluarga Berencana (BPPKB) Kabupaten Pati.?

Menengok Prestasi IPNU-IPPNU Pati (Sumber Gambar : Nu Online)
Menengok Prestasi IPNU-IPPNU Pati (Sumber Gambar : Nu Online)

Menengok Prestasi IPNU-IPPNU Pati

Selain menuju sekretariat PIK Remaja di Gedung NU Kabupaten Pati, Kunjungan kerja juga dilaksanakan di Bina Keluarga Lansia Kecamatan Gembong Kabupaten Pati.?

Haedar Nashir

PIK Remaja Cah Pati merupakan lembaga di bawah kordinasi PC IPNU IPPNU Kabupaten Pati, yang telah menorehkan prestasi di tingkat lokal, propinsi dan nasional.?

Haedar Nashir

Pada tahun 2012, PIK Remaja Cah Pati menjadi Juara I Lomba PIK Remaja untuk tahap tegak, dan menjadi salah satu dari 6 besar nominasi Lomba PIK Remaja tahap tegak di tingkat nasional.?

PIK Remaja Cah Pati juga menjadi PIK unggulan di Indonesia dan menjadi delegasi dari propinsi Jawa Tengah dalam kegiatan Sail Morotai 2012 yang bekerja sama dengan Kementerian Pemuda dan Olahraga RI. Tidak hanya itu, PIK Remaja Cah Pati juga pernah mengikuti kegiatan remaja hingga tingkat internasional, salah satunya yaitu Asian Pasific Conference on Reproductive and Sexual Health and Rights ke-6.?

Koordinator Komisi C DPRD Kota Pekalongan, Bapak Ismet Inanue, SH, MH. menyatakan bahwa kunjungan kerja ini bertujuan untuk saling bagi antarprogram kependudukan yang bermitra dengan BPPKB Kabupaten Pati.?

Dengan kunjungan ini diharapkan Kota Pekalongan dapat menekan laju pertumbuhan penduduk dan dapat mengembangkan organisasi remaja yang ? ada di Kota Pekalongan.

? Dalam presentasinya, Ketua PIK Remaja Cah Pati Adiningtyas Prima Yulianti memaparkan profil dan kegiatan PIK Remaja Cah Pati, termasuk program Pendewasaan Usia Perkawinan yang juga merupakan program Keluarga Berencana.?

“Kegiatan yang dilaksanakan PIK Remaja Cah Pati tidak sekedar sosialisasi dan kegiatan administratif saja, tetapi kami juga melakukan penelitian dan pendampingan. PIK Remaja Cah Pati mendampingi dua PIK Remaja di tingkat sekolah dan tingkat desa, juga satu PIK Mahasiswa," jelas Prima Yulianti.

"Pendampingan ini bukan tugas yang mudah, karena kami harus meluangkan waktu dan mengkoneksikan PIK Remaja dan PIK Mahasiswa dampingan kami kepada Dinas terkait di daerah asal PIK Remaja dan PIK Mahasiswa tersebut. Kami selalu berkordinasi dengan BPPKB Kabupaten Pati dibantu oleh UPT KB di tingkat Kecamatan dalam mendampingi PIK Remaja dan PIK Mahasiswa. Sehingga tugas kami menjadi ringan,” lanjutnya.

Semenatara itu, salah seorang pengurus NU Pati H Asnawi mengatakan, program pendampingan yang dilakukan oleh PIK Remaja Cah Pati patut diapresiasi, karena jarang sekali organisasi remaja yang mau turun langsung ke komunitas remaja.?

"Permasalahan remaja seperti kehamilan yang tidak diinginkan, narkoba, HIV AIDS merupakan fenomena gunung es yang harus dieselesaikan bersama-sama. Dengan adanya PIK Remaja Cah Pati diharapkan dapat ? mendukung penyelesaian masalah tersebut”, jelas H Asnawi yang ketua RMI Pati.

Redaktur ? ? ? : Hamzah Sahal

Kontributor ? : Tim IPNU-IPPNU Pati

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir AlaSantri Haedar Nashir

Bazar Sembako GP Ansor Gebog Menarik Perhatiaan Warga

Kudus, Haedar Nashir. Bazar sembako murah yang dilaksanakan Pimpinan Anak Cabang (PAC) Gerakan Pemuda Ansor Kecamatan Gebog Kudus menarik perhatian warga masyarakat. Pada putaran ketiga, Jumat (10/6) di halaman Mushola Baitus Shofa Dukuh Ngaringan Desa Klumpit Gebog, Kudus itu. Ratusan warga baik, anak-anak maupun orang tua berdatangan memadati arena bazar.

Seperti malam sebelumnya, bazar yang menjadi rangkaian kegiatan tarawih keliling pengurus GP Ansor ini menjajakan berbagai pakaian hem, kemeja dan paket sembako murah berisi beras, minyak dan gula. Selama satu jam, mereka menjajakan dagangaan di atas mobil Ansor. Warga-pun rela antri membeli sembako yang di banderol dengan harga di bawah pasaran.

Bazar Sembako GP Ansor Gebog Menarik Perhatiaan Warga (Sumber Gambar : Nu Online)
Bazar Sembako GP Ansor Gebog Menarik Perhatiaan Warga (Sumber Gambar : Nu Online)

Bazar Sembako GP Ansor Gebog Menarik Perhatiaan Warga

Salah seorang warga, Aminah menyatakan kegembiraannya adanya bazar Ansor ini. Menurutnya, adanya bazar sangat membantu warga yang membutuhkan. Apalagi harganya sangat murah di bawah harga pasar.?

"Kalau bisa kegiatan bazar tidak hanya sekali ini saja, tetapi nanti jelang lebaran diadakan lagi. Usahakan barang yang jual beragam terutama untuk kebutuhan lebaran," harapnya.

Haedar Nashir

Sekretaris PAC GP Ansor Gebog Ali Maghfuri merasa gembira melihat antusiasme warga. Ia tidak mengira putaran ketiga dibanjiri ratusan warga. "Untung, barang yang disiapkan sangat banyak sehingga bisa melayani semua warga yang membutuhkan," katanya.

Pada putaran ketiga ini, jelasnya, pihaknya menambah stok barang dan menggandeng sejumlah pengurus Ansor yang memiliki usaha. "Ini sesuai harapan Ansor, Bazar untuk memberdayakan kemandirian ekonomi anggota, kader dan pengurus Ansor," imbuh Ali.

Sebagaimana di ketahui, PAC GP Ansor Kecamatan Gebog mengadakan tarawih keliling di 11 desa mulai tanggal 6-22 Juni 2016 mendatang. Kegiatannya, tarawih bersama, ngaji kitab dan bazar. Tujuannya, disamping mengisi kegiatan ramadhan, juga untuk mengenalkan Ansor di tengah masyarakat serta membantu warga yang membutuhkan keperluan sembako. (Qomarul Adib/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir

Haedar Nashir Santri, Sholawat, Khutbah Haedar Nashir

Jumat, 05 Januari 2018

Lima Waktu yang Diharamkan Shalat

Shalat—sebagaimana dituturkan oleh baginda Nabi Muhammad SAW—adalah tiang agama. Orang yang baik shalatnya akan baik pula agamanya. Orang yang sebaliknya maka akan berlaku sebaliknya pula.

Shalat juga merupakan sarana paling utama bagi seorang hamba dalam berkomunikasi dengan Allah SWT. Kapan pun dan di mana pun seseorang diperbolehkan melakukan shalat sebagai sarana mendekatkan diri kepada Tuhannya.

Lima Waktu yang Diharamkan Shalat (Sumber Gambar : Nu Online)
Lima Waktu yang Diharamkan Shalat (Sumber Gambar : Nu Online)

Lima Waktu yang Diharamkan Shalat

(Baca juga: Waktu-waktu yang Makruh untuk Shalat)

Namun demikian di dalam fiqih Islam ditentukan adanya beberapa waktu di mana seseorang tidak diperbolehkan melakukan shalat di dalamnya. Syekh Salim bin Sumair Al-Hadlrami dalam kitabnya Safînatun Najâ menyebutkan adalah 5 (lima) waktu yang diharamkan untuk shalat. Sedangkan Syekh Muhammad Nawawi Banten dalam kitabnya Kâsyifatus Sajâ menjelaskan kelima waktu tersebut sebagai berikut:

Pertama, ketika terbitnya matahari. 

Haedar Nashir

Waktu haram shalat yang pertama ini dimulai sejak mulai terbitnya matahari sampai dengan meninggi sekira ukuran satu tombak. Dalam rentang waktu tersebut tidak diperbolehkan melakukan shalat. Namun bila posisi tinggi matahari sudah mencapai satu tombak maka sah melakukan shalat secara mutlak.

Kedua, ketika waktu istiwa sampai dengan tergelincirnya matahari selain pada hari Jum’at.

Haedar Nashir

Waktu istiwa adalah waktu di mana posisi matahari tepat di atas kepala. Pada saat matahari berada pada posisi ini diharamkan melakukan shalat. Perlu diketahui bahwa waktu istiwa’ sangat sebentar sekali sampai-sampai hampir saja tidak bisa dirasakan sampai matahari tergelincir. 

Keharaman melakukan shalat di waktu ini tidak berlaku untuk hari Jum’at. Artinya shalat yang dilakukan pada hari Jum’at dan bertepatan dengan waktu istiwa’ diperbolehkan dan sah shalatnya.

Ketiga, ketika matahari berwarna kekuning-kuningan sampai dengan tenggelam.

Berdasarkan hadits yang diriwayatkan oleh Imam Muslim:

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?: «? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

Artinya: “Ada tiga waktu di mana Rasulullah SAW melarang kita shalat dan mengubur jenezah di dalamnya: ketika matahari terbit sampai meninggi, ketika unta berdiri di tengah hari yang sangat panas sekali (waktu tengah hari) sampai matahri condong, dan ketika matahari condong menuju terbenam hingga terbenam.”

Keempat, setelah melakukan shalat subuh sampai dengan terbitnya matahari.

Keharaman shalat pada waktu ini berlaku bagi orang yang melakukan shalat subuh secara adâan atau pada waktunya. 

Gambaran contoh kasusnya sebagai berikut, anggaplah waktu shalat subuh dimulai dari jam 4 pagi dan pada jam 5 matahari telah terbit yang juga berarti habisnya waktu subuh. Ketika seseorang melakukan shalat subuh pada jam 4.15 menit umpamanya, atau pada jam berapapun ia melakukannya, maka setelah selesai shalat subuh ia tidak diperbolehkan lagi melakukan shalat sunah sampai dengan terbitnya matahari dan bahkan sampai matahari meninggi kira-kira satu tombak. Karena saat terbitnya matahari sampai dengan meninggi satu tombak juga merupakan waktu yang dilarang untuk melakukan shalat sebagaimana telah dijelaskan di atas. Sebaliknya, dalam rentang waktu jam 4 sampai jam 5 pagi selagi ia belum melakukan shalat subuh maka ia diperbolehkan melakukan shalat apapun. 

Adapun orang yang melakukan shalat subuh secara qadlâan pada waktu shalat subuh maka ia diperbolehkan melakukan shalat lain setelahnya. Sebagai contoh kasus, seumpama seseorang pada hari kemarin karena suatu alasan belum melakukan shalat subuh lalu mengqadlanya pada waktu subuh hari ini. Setelah ia melakukan shalat subuh qadla tersebut ia tidak dilarang melakukan shalat lainnya.

Kelima, setelah melakukan shalat ashar sampai dengan tenggelamnya matahari.

Sebagaimana diharamkan melakukan shalat setelah shalat subuh di atas juga diharamkan melakukan shalat bagi orang yang telah melakukan shalat ashar secara adâan atau pada waktunya. 

Sebagaimana contoh kasus di atas, juga bagi orang yang pada waktu shalat ashar melakukan shalat ashar qadla sebagai pengganti shalat ashar yang belum dilakukan pada hari sebelumnya, maka ia diperbolehkan melakukan shalat lainnya.

Keharaman melakukan shalat setelah melakukan shalat ashar ini terus berlaku sampai dengan tenggelamnya matahari.

Rasulullah SAW bersabda:

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

Artinya: “Tak ada shalat setelah shalat subuh sampai matahari meninggi dan tak ada shalat setelah shalat ashar sampai matahari tenggelam.” (HR. Imam Bukhari).

Pertanyaan berikutnya adalah shalat apa yang haram dilakukan pada kelima waktu tersebut? Apakah apapun shalatnya tidak boleh dilakukan pada kelima waktu haram tersebut?

Syekh Muhammad Nawawi Banten dalam kitabnya tersebut menuturkan bahwa shalat yang diharamkan dilakukan pada kelima waktu itu adalah shalat sunah yang tidak memiliki sebab yang mendahului dan tidak memiliki sebab yang membarengi. Sebagai contoh adalah shalat tahiyatul masjid. Ini adalah shalat sunah yang dilakukan karena adanya sebab yang mendahului shalatnya, yakni masuknya seseorang ke dalam masjid. Kapanpun seseorang masuk masjid ia disunahkan melakukan shalat tahiyatul masjid meskipun pada salah satu dari lima waktu yang terlarang untuk shalat.

Sedangkan contoh shalat sunah yang memiliki sebab yang membarengi adalah shalat gerhana bulan dan matahari. Shalat sunah ini mesti dilakukan berbarengan dengan waktunya bulan dan matahari mengalami gerhana, tidak bisa dilakukan sebelum atau sesudah gerhananya usai. Maka semisal terjadi gerhana pada waktu yang diharamkan untuk shalat maka tidak haram hukumnya melakukan shalat sunah gerhana pada waktu tersebut.

Dengan kata lain shalat yang dilarang dilakukan pada lima waktu tersebut adalah shalat sunah mutlak atau shalat sunah yang memiliki sebab yang terjadi setelah shalatnya dilakukan. 

Shalat sunah mutlak adalah shalat sunah yang tidak terikat dengan apapun. Ia dilakukan begitu saja tanpa adanya sebab tertentu. Sebagai contoh, ketika Anda memiliki waktu luang dan ingin mengisinya dengan ibadah kepada Allah maka Anda bisa melakukan shalat dua rokaat atau lebih. Shalat seperti ini disebut shalat sunah mutlak. Kapanpun dan di manapun Anda bisa melakukannya, hanya saja dilarang dilakukan pada kelima waktu tersebut di atas.

Adapun shalat sunah yang memiliki sebab yang terjadi setelah dilakukannya shalat sebagai contohnya adalah shalat sunah safar, yakni shalat sunah yang dilakukan ketika seseorang hendak melakukan satu perjalanan. Sebab dilakukannya shalat sunah ini adalah adanya perjalanan yang akan dilakukan. Karena perjalanannya—sebagai sebab—baru akan dilakukan setelah dilakukannya shalat maka shalat sunah safar tidak diperbolehkan dilakukan pada kelima waktu yang dilarang.

Perlu diketahui juga bahwa keharaman melakukan shalat di lima waktu tersebut tidak berlaku di tanah suci Makah. Artinya, di tanah suci Makah seseorang diperbolehkan melakukan shalat apapun di waktu kapanpun yang ia mau, termasuk di salah satu dari lima waktu yang diharamkan. Ini berdasarkan sabda Rasulullah SAW:

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

Artinya: “Jangan kalian larang seseorang berthawaf dan shalat di rumah ini (ka’bah) kapanpun ia mau baik siang malam maupun siang.” (HR. An-Nasai)

Adapun di Madinah berlaku hukum sebagaimana umumnya tempat, tidak seperti di Kota Makkah. (Yazid Muttaqin)

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Internasional Haedar Nashir

Siapa Penyusun Bacaan Istioghotsah?

Meski sudah menjadi diamalkan secara nasional, bahkan oleh banyak jamaah di berbagai negara, banyak orang yang belum tahu asal muasal Istighotsah? Siapa penyusunnya?

Sebagian orang yang mengatakan, bahwa pengarang istighotsah itu adalah Kiai Kholil Bangkalan, ada juga yang mengatakan Kiai Hasyim Aysari, Kiai Wahab Chasbullah, Kiai Ahmad Shiddiq, dan lain sebagainya. Padahal mereka sendiri yang mengatakan seperti  itu sebenarnya juga dari "katanya".

Ditinjau dari segi etimologi, kata "Istighotsah" ( إستغاثة  ) adalah bentuk mashdar dari Fiil Madli Istaghotsa ( إستغاث ) yang berarti mohon pertolongan. Adapun bila ditinjau dari segi Terminologi, Istigotsah ialah beberapa bacaan wirid (awrad) tertentu yang dilakukan untuk mohon pertolongan kepada Allah SWT. Atas beberapa masalah hidup dan kehidupan yang dihadapi.

Istighotsah ini mulai banyak dikenal oleh masyarakat khususnya kaum Nahdliyyin barupada tahun 1990-an. Di Jawa Timur, ulama yang ikut mempopulerkan istighotsah adalah almarhum KH Imron Hamzah (Rais Syuriyah PWNU Jatim). Namun di kalangan murid Thariqah, khususnya Thariqah Qodiriyah wa Naqsyabandiyah, Isighotsah ini sudah lama dikenal dan diamalkan.

Siapa Penyusun Bacaan Istioghotsah? (Sumber Gambar : Nu Online)
Siapa Penyusun Bacaan Istioghotsah? (Sumber Gambar : Nu Online)

Siapa Penyusun Bacaan Istioghotsah?

Istighotsah yang banyak diamalkan oleh kaum Nahdliyyin ini disusun oleh al-Allamah KH Muhammad Romly Tamim, seorang Mursyid Thariqah Qadiriyah wa Naqsyabandiyah, dari Pondok Pesantren Rejoso, Peterongan, Jombang. Hal ini dibuktikan dengan kitab karangan beliau ”Al-Istighotsah bi Hadrati Rabb al-Bariyyah" (tahun 1951) kemudian pada tahun 1961 diterjemah ke dalam bahasa Jawa oleh putranya al-Allamah al-Mursyid Dr. K H. Mustain Romli.

KH. Muhammad Romly Tamim lahir pada tahun 1888 H di Bangkalan Madura. Sejak masih kecil, beliau diboyong oleh orang tuanya KH Tamim Irsyad ke Jombang.

KH Muhammad Romly Tamim, adalah seorang kiai yang sangat alim, sabar, sakhiy, wara, faqih, seorang sufi murni, seorang Mursyid Thariqah Qodiriyah wa Naqsyabandiyah, dan pengasuh Pondok Pesantren DarulUlum Rejoso, Peterongan, Jombang.

Haedar Nashir

Di antara murid-muridnya yang terkenal dan menjadi kiai besar ialah KH. Muhammad Abbas (Buntet Cirebon), KH. Muhammad Utsman Ishaq (Sawahpuluh Surabaya), KH. Shonhaji (Kebumen), KH. Imron Hamzah (Sidoarjo). Para murid beliau juga yang mengamalkan dan menyebarkan amalan istighotsah bersama para jamaah masing-masing.

Haedar Nashir

KH. Muhammad Romly Tamim, disamping seorang mursyid dan membimbing banyak murid, juga kreatif dalam menulis kitab. Di antara kitab-kitab karangannya ialah: Al-Istighotsah bi Hadrati Rabbil-Bariyyah, Tsamratul Fikriyah, Risalatul Waqiah, Risalatush Shalawat an-Nariyah. Beliau wafat di Rejoso Peterongan Jombang pada tanggal 16 Ramadlan 1377 H. atau tanggal 6 April 1958 M. (Ishomuddin Ma’shum - dosen Univ Darul ’Ulum Jombang / Red: Anam)

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Amalan, Ulama, Kajian Haedar Nashir