Selasa, 06 Februari 2018

Pagar Nusa Timba Sejarah Perlawanan Pesantren

Jakarta, Haedar Nashir. Pimpinan Pusat Pencak Silat Nahdlatul Ulama (PSNU) Pagar Nusa berupaya menimba pelajaran dari sejarah perlawana-perlawanan kalangan pesantren terhadap kolonialisme bangsa-bangsa asing mulai Portugis, Spanyol, Belanda, Jepang, dan Inggris.

Pagar Nusa Timba Sejarah Perlawanan Pesantren (Sumber Gambar : Nu Online)
Pagar Nusa Timba Sejarah Perlawanan Pesantren (Sumber Gambar : Nu Online)

Pagar Nusa Timba Sejarah Perlawanan Pesantren

Upaya itu dilakukan dengan membedah dua buku sekaligus “Kuasa Ramalan” karya Peter Carey dan buku “Lasykar Ulama-Santri dan Resolusi Jihad” karya Zainul Milal Bizawie. Bedah buku berlangsung di aula PBNU, Jl. Kramat Raya 164, Jakarta, Selasa (21/1).

“Pagar Nusa ingin mengambil pelajaran dari kedua buku ini. Dari kedua buku ini Pagar Nusa diingatkan kedua buku ini bahwa pencak silat itu setua nusantara ini,” kata Ketua Umum PP Pagar Nusa Aizudin Abdurrahman. ?

Haedar Nashir

Kedua buku ini, kata dia, ada benang merah yang menghubungkan perlawanan-perlawanan kaum pesantren untuk mengusir penjajah dari Indonesia.

Haedar Nashir

Pria yang akrab disapa Gus Aiz ini menambahkan, bedah buku ini salah satu rangkaian peringatan Hari Lahir (Harlah) Pagar Nusa ke-28. “Pada tanggal 29 Januari akan ada silaturahim nasional. Sebelumnya akan diadakan ta’aruf dengan mempertemukan 50 orang pada majelis pendekar,” katanya.

Pada tanggal 30 Januari, kata dia, akan digelar halaqoh kebangsaan yang membahas posisi Pagar Nusa dalam konteks keamanan dan kestabilan negara, “Karena kita tidak tahu ke depan, keamanan negara itu seperti apa.” katanya.

Kemudian, rangkaian itu akan dipuncaki dengan istighasah dan peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW bersama Raden Cholil As’ad Syamsul Arifin.

Lebih lanjut Gus Aiz mengatkan, Pagar Nusa akan memprogramkan pelatihan pelatih silat mengajarkannya kembali di sekolah dan pesantren. “Sekarang kurang lebih ada 30 pesantren yang meminta Pagar Nusa untuk mengajarkan silat di pesantren masing-masing,” tambahnya.

Menurut dia, ada tiga tipologi dalam ilmu beladiri silat, yaitu sebagai tradisi, seni budaya dan prestasi. “Nah, yang di pesantren dan di sekolah ini yang akan digenjot ilmu silat sebagai prestasi,” pungkasnya. (Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Sunnah Haedar Nashir

Gedung NU Waykanan Diresmikan

Waykanan, Haedar Nashir. Gedung PCNU Waykanan Provinsi Lampung diressmikan oleh Bupati Bustami Zainudin di Kampung Tiuh Balak I Kecamatan Baradatu pada Rabu (8/10).Peresmian disaksikan Ketua PWNU KH Sholeh Bajuri dan pengurus NU setempat.

Gedung NU Waykanan Diresmikan (Sumber Gambar : Nu Online)
Gedung NU Waykanan Diresmikan (Sumber Gambar : Nu Online)

Gedung NU Waykanan Diresmikan

"Mari bersyukur atas berdirinya gedung ini," kata Bupati Bustami di Waykanan yang berada sekitar 220 km sebelah utara Kota Bandarlampung.

Ketua PWNU KH Sholeh Bajuri mengapresiasi dan bersyukur atas rampungnya pembangunan gedung dua lantai berukuran 13 m  x 11 m yang didirikan di atas tanah 30 m x 17 m itu.

Haedar Nashir

"Alhamdulillah, kantornya mewah, warnanya seperti PKB. Saya memberanikan menyebut PKB karena setiap bulan ada kontribusi bagi NU," ujar KH Sholeh.

Berdirinya gedung NU yang peletakan batu pertamanya dimulai pada Jumat (7/3) tersebut, menurut Ketua PCNU Waykanan Kiai Nur Huda, merupakan kebanggaan tersendiri bagi warga Nahdliyin.

Haedar Nashir

"Dana pembangunan gedung ini berasal dari Bupati Bustami Zainudin Rp 350 juta, lalu bapak Ir Agusman Effendi Rp 10 juta, lalu Bupati Bustami menambah lagi Rp 6 juta dan Rp 50 juta," kata Ketua PCNU Waykanan itu pula.

PCNU, Kiai Huda menambahkan, diamanati melalui bantuan dan Alhamduillah bisa selesai dibangung berkat bantuan Allah SWT dan Bupati Bustami Zainudin.

Hadir pada kegiatan itu mantan Ketua PCNU Waykanan KH Chumaery, Rais Syuriah PC NU Waykanan KH Abdurahman, Wakil Bupati Raden Nasution Husin, Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Gino Vanollie, Kepala Kantor Badan Kesatuan Bangsa dan Politik Syahrul Syah, Kepala Dinas Perkebunan dan Kehutanan Leaderwan, Kepala Dinas Informasi dan Komunikasi AB Munir.

Terlihat pula Ketua Lembaga Pengembangan Pertanian Nahdlatul Ulama (LPPNU) Waykanan Yonie Aliestiadi, Ketua Muslimat NU Binti, Ketua Fatayat NU Sri Widarti. Adapun pengamanan dilakukan PC GP Ansor melalui Barisan Ansor Serbaguna (Banser). (Gatot Arifianto/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Pemurnian Aqidah Haedar Nashir

Senin, 05 Februari 2018

Pesantren Diharap Manfaatkan Program KUR

Cirebon, Haedar Nashir. Pemerintah melalui Perbankan yang ada di bawah naungan Kementerian Negara BUMN memberi kesempatan kepada pesantren yang ada di Indonesia untuk memanfaatkan program KUR (Kredit Usaha Rakyat).

Hal ini disampaikan Menteri Negara Badan Usaha Milik Negara (BUMN), Rini Soemarno saat menjawab pertanyaan dari H Aep Robayat, salah seorang peserta kegiatan dialog Menteri BUMN dengan para kiai Jawa Barat di Buntet Pesantren Cirebon, Jumat (16/10).

Pesantren Diharap Manfaatkan Program KUR (Sumber Gambar : Nu Online)
Pesantren Diharap Manfaatkan Program KUR (Sumber Gambar : Nu Online)

Pesantren Diharap Manfaatkan Program KUR

"Kami datang ke sini ingin dialog dengan para kiai apa yang bisa kami bantu untuk pesantren supaya bisa berkembang secara ekonomi," jawab Menteri Rini di hadapan para peserta.

Haedar Nashir

Ia menambahkan, upaya Kementerian BUMN untuk membantu pesantren adalah melalui program Bina Lingkungan atau CSR (Corporate Social Responbility) dan program Kredit Usaha Rakyat (KUR) yang ada dalam Perbankan BUMN.

Haedar Nashir

"Saat ini dana KUR yang diserap baru 4,5 triliun, target kami KUR ini adalah 30 triliun," ungkapnya

Dana KUR untuk usaha pesantren, kata dia, bisa didapatkan di tiga perbankan BUMN, yaitu Bank Rakyat Indonesia (BRI), Bank Negara Indonesia (BNI), dan Bank Mandiri.

Ditambahkannya, untuk menarik para calon nasabah KUR agar mencapai target, perbankan BUMN ini menurunkan bunga bank yang sebelumnya sebesar 19 persen menjadi 12 persen. Selain itu, bank BUMN ini tetap buka dan melayani para nasabah KUR di hari libur atau hari minggu. (Aiz Luthfi/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Ulama, Hikmah Haedar Nashir

Jihad, Jinen, Jimat

Subang, Haedar Nashir. Jihad, jinen, jimat adalah kependekan dari ngaji malam Ahad, ngaji malam Senen, ngaji malam Jumat, yang diasuh Kiai Thola AlBadar Karim, Ketua Majelis Wakil Cabang Nahdlatul Ulama Kecamatan Patokbeusi, Subang, Jawa Barat.

Jihad, Jinen, Jimat (Sumber Gambar : Nu Online)
Jihad, Jinen, Jimat (Sumber Gambar : Nu Online)

Jihad, Jinen, Jimat

Menurut salah seorang santri Kiai Thola AlBadar Karim, Dedi Setiawan, Jihad sudah memasuki tahun kedelapan, digelar seminggu sekali bertempat di Kampung Pungangan, pesantren Al-Karimiyah. Pengajian membahas bidang fiqih dalam Syarah kitab Sulam Munajat.

Dedi menambahkan, sebelum Jihad dimulai digelar tahlilan untuk mendoakan para orang tua peserta pengajian yang sudah meninggal.

Haedar Nashir

“Jihad digelar seminggu sekali, dihadiri tidak kurang seratus orang. Yang datang tidak hanya warga Kampung Pungangan, tapi dari Kecamatan Purwadadi, Kecamatan Patok Beusi, Ciasem,” ujar Dedi di Pesantren Al-Karimiyah, Kampung Pungangan, Kamis, (15/11).

Haedar Nashir

Jinen, tambah Dedi, pengajian digelar di Wanasari, Kecamatan Tambak Dahan, tiap sebulan sekali. Jinen dimulai tahun 2012 ini.

“Format pengajian adalah dialog keagamaan atau diskusi menyangkut masalah aktual di masyarakat. Biasanya dihadiri sekitar 50 orang, tambah Dedi Setiawan.

Sementara Jimat, pengajian keliling seminggu sekali di tujuh kampung, yaitu Kampung Wangun, Bakan Jati, Bakan Kiara, Pasir Hurip, Tegal Kuneng, Pintu Cijengkol, Sengon.

“Pengajian Jimat dihadiri tidak kurang seratus orang. Jika digelar di satu kampung misalnya, 40 motor dari kampung, bisa dipastikan hadir. Itu belum termasuk hadirin warga setempat,” tambah Dedi.

Menurut Dedi, Kiai Thola AlBadar Karim menyampaikan pesan-pesan agama dengan komunikatif, bahasa yang sederhana sehingga mudah dicerna. Dan tak ketinggalan, humor pasti menyelinap di antara mereka.

Kiai Thola AlBadar Karim adalah pengasuh pesantren Al-Karimiyah. Kiai berusia 41 tahun tersebut pernah nyantri di Pesantren Buntet Cirebon, Tebuireng Jombang, dan beberapa pesantren di wilayah Jawa Barat.

Redaktur : Hamzah Sahal

Penulis    : Abdullah Alawi

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Halaqoh, Lomba Haedar Nashir

Jawab Kebutuhan Zaman, Madrasah NU Harus Kaya Inovasi

Surabaya, Haedar Nashir. Tidak ada pilihan lain bagi para pengelola madrasah khususnya di lingkungan NU untuk terus melakukan inovasi agar bisa menjawab kebutuhan zaman dengan tenaga-tenaga terampil. Kendati demikian, sejumlah terobosan tersebut juga harus tetap menjaga jati diri sebagai madrasah dakwah. Inovasi dalam dunia pendidikan adalah sebagai sebuah hal yang tidak dapat dihindarkan.

Jawab Kebutuhan Zaman, Madrasah NU Harus Kaya Inovasi (Sumber Gambar : Nu Online)
Jawab Kebutuhan Zaman, Madrasah NU Harus Kaya Inovasi (Sumber Gambar : Nu Online)

Jawab Kebutuhan Zaman, Madrasah NU Harus Kaya Inovasi

Demikian disampaikan oleh Ketua PW LP Maarif NU Jatim, Prof Dr H Abdul Haris, MAg, Senin (9/11). Dia mengingatkan bahwa tuntutan dunia kerja, kiprah di masyarakat serta jenjang pendidikan yang lebih tinggi kian mengingatkan akan pentingnya inovasi tersebut.

Bagi Profesor Haris, harapan yang demikian tinggi dari berbagai kalangan tersebut hendaknya dapat dijawab dengan berbagai kreasi. "Sehingga lembaga pendidikan tetap ditunggu kiprahnya," kata dosen pascasarjana UIN Sunan Ampel Surabaya ini.

Haedar Nashir

Intensitas melakukan pertemuan dengan sesama pengelola lembaga pendidikan juga harus dapat dilakukan. "Dengan demikian terjadi saling berbagi kelebihan dan kreasi yang bermanfaat bagi para pengelola madrasah," terangnya.

LP Maarif NU Jatim misalnya secara berkala menyelenggarakan sejumlah pertemuan yang menghadirkan para pimpinan madrasah dan penentu kebijakan. "Hal ini seperti yang kami lakukan pada Sabtu, 7 November kemarin di UIN Malang," katanya.?

Haedar Nashir

Dalam pertemuan yang dikemas dengan rapat koordinasi Kepala LP Maarif NU se-Jatim tersebut juga menghadirkan Dr Basnang Said MAg selaku Kasi Kurikulum dan Evaluasi Direktorat Jenderal Pendidikan Islam Kemenag, lanjutnya.

"Pada pertemuan tersebut banyak usulan kreatif dari kepala madrasah yang akhirnya dapat diakomodir oleh Bapak Basnang Said," terangnya. Bahkan, imbuhnya, sejumlah kebijakan yang akan dan berlaku di setiap lembaga pendidikan juga disampaikan pada kegiatan tersebut.

Dengan kerapnya dilakukan pertemuan tersebut diharapkan para pengelola lembaga pendidikan di lingkungan NU mampu melakukan inovasi sehingga madrasah yang dikelola tetap dipercaya masyarakat. "Demikian juga kemampuan dalam menangklap informasi kebijakan yang akan diberlakukan di setiap lembaga pendidikan juga harus terus diasah," katanya.

Akan tetapi, segala prestasi dan inovasi tersebut tetap harus bertumpu pada terjaganya Ahlussunnah wal Jamaah ala NU. "Jangan sampai madrasah hanya berburu kemajuan prestasi akademis, namun menanggalkan ruh perjuangan yakni terjaganya Aswaja di setiap lembaga pendidikan," pungkasnya. (Ibnu Nawawi/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir AlaNu Haedar Nashir

Minggu, 04 Februari 2018

Santri Kiai As’ad Jalan Kaki Denpasar-Situbondo

Jembrana, Haedar Nashir?

Ekspresi syukur bisa ditunjukan dengan berbagai hal. Umumnya bagi kalangan Nahdliyin menggelar doa bersama dan diakhiri dengan makan bareng. Namun ada juga syukur dengan tindakan yang tak biasa, seperti yang dilakukan alumni Pondok Pesantren Salafiyah Syafiiyah Sukorejo Situbondo ini.

Santri Kiai As’ad Jalan Kaki Denpasar-Situbondo (Sumber Gambar : Nu Online)
Santri Kiai As’ad Jalan Kaki Denpasar-Situbondo (Sumber Gambar : Nu Online)

Santri Kiai As’ad Jalan Kaki Denpasar-Situbondo

Mereka, sejak tanggal 6 Desember 2016, berjalan kaki dari Denpasar ke Situbondo sebagai ungkapan syukur atas anugerah gelar Pahlawan Nasional kepada Almaghfurlah KHR. As’ad Syamsul Arifin.?

Mereka yang berjumlah 8 orang tersebut, pada Kamis (8/12) memasuki hari ketiga dan telah berada di wilayah kabupaten Jembrana. Sebelumnya mereka ? melewati Kota Denpasar, Kabupaten Badung, dan Kabupaten Tabanan. Target perjalanan hari ketiga ini memasuki wilayah pelabuhan Gilimanuk untuk selanjutnya menyeberang ke pelabuhan Ketapang, Kabupaten Banyuwangi.

Syamsudin Boy, inisiator sekaligus koordinator dalam aksi jalan kaki ini mengungkapkan, selama perjalanan tidak ada kendala yang berarti. Bahkan saat melewati perkampungan Muslim kerap disambut dengan berbagai macam bantuan seperti makanan dan air minum.

Haedar Nashir

“Kami terharu antusiasme masyarakat Muslim Bali meyapa kami, terutama sahabat-sahabt Banser Jembrana yang sempat menjamu kami. Sambutan mereka merupakan tambahan energi di tengah fisik yang mulai letih,” ungkapnya.

Ia juga menegaskan, bahwa aksi ini merupakan aksi tulus datang dari hati sebagai wujud ketakziman santri kepada ulama NU.?

“Sosok Kiai As’ad bagi masyarakat Muslim Bali begitu terasa dekat walaupun sudah lama tiada. Gelar Pahlawan Nasional kepada Kiai As’ad merupakan gelar yang sangat pantas disandangnya mengingat sepak terjang beliau mengusir penjajah,” paparnya.

Dengan aksi ini, lanjutnya, juga ingin mensyiarkan tauladan-tauladan ulama NU yang telah banyak berkorban untuk umat, salah satunya adalah Kiai As’ad. Ulama NU ada yang berjuang dengan berjalan kaki menembus hutan belantara ratusan kilometer.

Haedar Nashir

“Kita tidak bisa membayangkan bagaimana susahnya zaman itu. Aksi jalan kaki ini setidaknya kami ingin menghadirkan kembali perjuangan itu, mengalahkan rasa lelah sebelum sampai pada tujuan di makam Kiai As’ad,” tegasnya.

Sebelumnya, aksi jalan kaki yang berjarak tempuh sekitar 220 kilometer ini telah mendapat restu langsung dari Pengasuh Ponpes Sukorejo Asembagus Situbondo KHR. Achmad Aaim Ibrahimy. Rencananya, para peserta aksi ini akan disambut di kediaman cucu Kiai As’ad tersebut. (Abraham Iboy/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Aswaja, Internasional, Warta Haedar Nashir

Sabtu, 03 Februari 2018

Pesantren Tahfidzul Qur’an Timbangreja Santuni Yatim Piatu

Tegal, Haedar Nashir 

Pesantren Tahfidzul Qur’an Timbangreja asuhan ustadz Khoeron menjadikan program santunan yatim dan yatim piatu tiap bulan. Hal itu dilakukan atas inisiasi dari jama’ah pengajian yang digelar setiap ba’da Magrib. 

“Program ini sangat membantu bagi anak-anak yatim terutama untuk santri-santri kami yang yatim dan yatim piatu. Karena ini merupakan kewajiban kita semua maka sudah sepantasnya lah masyarakat bersama-sama dengan kami untuk berpartisipasi,“ jelas Ustadz Khoeron selepas acara santunan, Selasa (7/5) di pesantrennya.

Pesantren Tahfidzul Qur’an Timbangreja Santuni Yatim Piatu (Sumber Gambar : Nu Online)
Pesantren Tahfidzul Qur’an Timbangreja Santuni Yatim Piatu (Sumber Gambar : Nu Online)

Pesantren Tahfidzul Qur’an Timbangreja Santuni Yatim Piatu

Lebih lanjut pria penghafal Qur’an itu langsung mengapresiasi masyarakat yang telah membantu hingga acara berjalan dengan aman dan khidmat. Ia juga selalu terbuka kepada semua pihak agar turut berpartisipasi di ladang amal. 

Haedar Nashir

“Acara santuanan ini juga sekalian hataman Qur’an karena setiap bulan kami sendiri khatam dan mayarakat pun menyetujuinya, sehingga tidak ada yang menyesalkan apalagi mengomentari. Mudah-mudahan ada keberkahan bagi kita semuanya, ini sungguh sangat mulia,“ tambahnya. Pesantren yang berlokasi searah dengan obyek wisata Guci itu, menampung santri-santri yang kebanyakan adalah anak-anak yatim, dan di pesantren tersebut, para santri tidak dimintai bentuk sumbangan apapun per bulannya, mereka hanya khusus menghafal, menghafal dan menghafal Al Qur’an. 

Rata-rata anak yang nyantri adalah anak usia sekolah bahkan ada anak yang masih duduk di bangku Madrasah Ibtidaiyah (MI), se-tingkat dengan Sekolah Dasar (SD), tetapi semangat dan perjuangan para santri sangat luar biasa. Dilihat dari fisik pesantren memang masih dalam proses pengembangan dan mungkin juga karena kondisi pesantren tersebut hanya menerima santri secara terbatas.

Menurut penuturan warga sekitar Rokhis (33) pesantren tersebut merupakan pesantren pertama yang berkonsentrasi pada hafalan Qur’an, berdirinya pesantren tersebut juga dipelopori oleh beberapa ulama setempat, seperti KH Mahfudz Basori, Ustadz Hanafi dan Kiai Hambali. 

Haedar Nashir

“Dengan adanya pesantren tersebut maka kami bisa ikut mengaji dengan benar pada ustadz yang mumpuni dibidangnya. Ini sangat membantu masyarakat terutama dalam bidang agama,“ katanya. 

Redaktur   : Mukafi Niam

Kontributor: Abdul Muiz  

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Budaya, Olahraga Haedar Nashir