Jumat, 09 Februari 2018

Buka Pra-Munas Lampung, Rais ‘Aam Ingatkan Pentingnya Penguatan Organisasi

Lampung, Haedar Nashir 

Rais ‘Aam Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Maruf Amin menjelaskan tentang perlunya penguatan organisasi NU yang akan menjadi satu dari dua tema diskusi pra Musyawarah Nasional Alim Ulama dan Konferensi Besar Nahdlatul Ulama (Munas-Konbes NU) 2017 yang diselenggarakan di Lampung, Sabtu (4/11). 

Menurutnya, karena selain NU di penghujung 100 tahun, akidah, fikroh, harokah, amaliyah menurut paham ahlussunnah wal jamaah juga karena NU sebagai jamiyah (organisasi). 

Buka Pra-Munas Lampung, Rais ‘Aam Ingatkan Pentingnya Penguatan Organisasi (Sumber Gambar : Nu Online)
Buka Pra-Munas Lampung, Rais ‘Aam Ingatkan Pentingnya Penguatan Organisasi (Sumber Gambar : Nu Online)

Buka Pra-Munas Lampung, Rais ‘Aam Ingatkan Pentingnya Penguatan Organisasi

"Kita harus melakukan penguatan organisasi di semua jajaran. Jangan sampai ada organisasi di satu bagian yang tidak jalan," tegas Kiai Maruf. 

Mengingat berbagai tugas yang diemban NU, oleh karena itu, katanya, harus dilakukan konsolidasi dan revitalisasi sehingga mampu melakukan tugas-tugas berat. 

Haedar Nashir

Tugas NU saat ini, menurut Kiai Maruf Amin, ialah ada dua. Pertama radikalisme dan intoleran. Kedua, kesenjangan sosial dan ekonomi. 

"Dulu NU melawan penjajah, sekarang jihad NU melawan radikalisme dan Intoleran. Ini komitmen NU terhadap bangsa dan negara," katanya. 

Usai menyampaikan sambutan, Kiai Maruf turun dan menabuh bedug sebagai tanda dibukanya pra Munas-Konbes NU 2017 di Lampung. 

Haedar Nashir

"Dengan mengucapkan bismillahirrahmanirrahim, Munas-Konbes 2017 di Lampung ini secara resmi dibuka," ujarnya. 

Sementara seminar sendiri akan dibagi dalam dua sesi. Di sesi pertama mengangkat tema Penguatan Organisasi Menuju Satu Abad Nahdlatul Ulama, dan sesi kedua, seminar membahas tentang Reforma Agraria untuk Pemerataan Kesejahteraan Warga. 

Hadir pada pembukaan pra Munas-Konbes NU ini, Wakil Ketua Umum PBNU H Mochammad Maksum Machfoedz, segenap pengurus PBNU, Menteri Agraria dan Tata Ruang Indonesia Sofyan A Jalil, Sekretaris Daerah Provinsi Lampung Sutono, seluruh Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) se-Lampung, PWNU Jawa Barat, PWNU DKI Jakarta, dan PWNU se-Sumatera. (Husni Sahal/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Hikmah Haedar Nashir

Alumni PMII Inginkan Santri “Goes to UI"

Jakarta, Haedar Nashir. Forum Alumni PMII Universitas Indonesia akan bersilaturrahim ke sejumlah pesantren di pulau Jawa dengan menggelar kegiatan bertajuk "Santri Goes to UI". Program ini dimaksudkan untuk memotivasi para santri agar melanjutkan kuliah di universitas terkemuka di Indonesia ini.

Alumni PMII Inginkan Santri “Goes to UI (Sumber Gambar : Nu Online)
Alumni PMII Inginkan Santri “Goes to UI (Sumber Gambar : Nu Online)

Alumni PMII Inginkan Santri “Goes to UI"

Ketua Umum Forum Alumni (Forluni) PMII UI Alfanny  kepada Haedar Nashir Rabu (9/9) mengatakan, program “Santri Goes to UI” sudah dilaksanakan untuk pertama kali di Pondok Pesantren Tambak Beras Jombang Jawa Timur di sela-sela Muktamar NU di Jombang, 3 Agustus 2015 lalu.  

Program "Santri Goes to UI" berikutnya akan diadakan di Pondok Pesantren Nurul Huda Kecamatan Setu Kabupaten Bekasi pada Sabtu 19 September 2015 pukul 13.00-selesai. Materi yang diberikan dalam sesi seminar antara lain informasi program studi di UI, peluang beasiswa di UI dan sebagainya. Pemateri dalam seminar tersebut adalah alumni PMII UI yang sudah berkiprah di berbagai bidang baik di pemerintahan dan swasta.

Haedar Nashir

"Selain memberikan motivasi kepada para santri untuk jangan takut kuliah di UI, kami juga akan mencari bibit-bibit terbaik dari pesantren-pesantren tersebut untuk menjadi peserta Sanlat Supercamp "Road to UI" pada Juni 2016 mendatang. Di Sanlat Supercamp, kami akan melatih santri dan pelajar agar bisa lulus tes SBMPTN dan SIMAK UI", papar Alfanny.

Haedar Nashir

Dikatakannya, pondok pesantren adalah lembaga pendidikan tertua dan khas nusantara yang kontribusinya terhadap perjuangan bangsa tidak diragukan lagi. Alumni pesantren pun bisa melanjutkan pendidikannya di berbagai kampus terkemuka, termasuk Universitas Indonesia.   

Bagi pondok pesantren yang ingin bekerja sama menggelar kegiatan "Santri Goes to UI" dengan Forluni PMII UI dapat menghubungi 085319908829. (A. Khoirul Anam)

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir PonPes Haedar Nashir

Datangi Masjid-masjid, LFNU Rembang Standarkan Waktu Berbuka

Rembang, Haedar Nashir. Badan Hisab Rukyah (BHR) Kementerian Agama dan Lajnah Falakiyah? Nahdlatul Ulama (LFNU) Kabupaten Rembang akan mengadakan standarisasi waktu berbuka puasa bulan Ramadhan. Standarisasi itu dilakukan agar terjadi persamaan waktu berbuka di wilayah Kabupaten Rembang, Jawa Tengah.

Datangi Masjid-masjid, LFNU Rembang Standarkan Waktu Berbuka (Sumber Gambar : Nu Online)
Datangi Masjid-masjid, LFNU Rembang Standarkan Waktu Berbuka (Sumber Gambar : Nu Online)

Datangi Masjid-masjid, LFNU Rembang Standarkan Waktu Berbuka

Hal itu dikatakan Ketua Pengurus Cabang LFNU Ali Muhiddin Senin (23/6).

Muhiddin mengatakan, cenderung mengabaikan pencocokan waktu menurut wilayahnya, sehingga mereka sering berbuka terlambat atau bahkan lebih awal.

Haedar Nashir

"Masyarakat kebanyakan tidak peduli dengan kondisi waktu setempat, dan terkadang lebih sering mencocokkan jam yang mereka miliki secara sembarangan, dan terkadang hanya mengira-ngira. Banyak juga masyarakat perkotaan dan pedesaan meggunakan pedoman jam televisi, padahal waktu yang ada di televisi merupakan wilayah Jakarta, ini harus diluruskan," katanya.

Haedar Nashir

Terkait hal ini, LFNU Rembang berencana akan mendatangi setiap masjid yang menjadi pusat di kecamatan, serta masjid yang menjadi pusat organisasi masyarakat (Ormas ) Islam. Tujuannya, membenarkan jam penunjuk waktu pada tempat-tempat vital yang kerap menjadi rujukkan masyarakat tersebut.

"Yang paling utama masjid Agung Kota Rembang. Pasalnya, masjid ini terkadang pengurusnya masih menggukanakan jam televisi. Padahal kita sudah memberikan jadwal shalat dan imsakiyah di masjid ini. Yang kedua masjid dan mushala yang menjadi pusat perhatian masyarakat di sembilan kecamatan, imbuhnya.

Rencananya, kata Muhiddin, media massa, cetak ataupun radio di Rembang juga tak luput dari proses standarisasi waktu ini. Pasalnya, sebagian media di Rembang, terutama radio masih menjadi acuan warga Rembang. (Ahmad Asmui/Mahbib)

?

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Lomba, Ubudiyah, Hadits Haedar Nashir

UKP-PIP: Anak Muda Kita Tercerabut dari Akar Sejarah

Jakarta, Haedar Nashir. Kepala Unit Kerja Presiden Pembinaan Ideologi Pancasila (UKP-PIP) Yudi Latif mengatakan, saat ini generasi muda Indonesia sedang mengalami diskoneksi dengan tokoh-tokoh intelektual dan pergerakan masa lalu. Mereka lebih paham dengan tokoh dari negara lain.

UKP-PIP: Anak Muda Kita Tercerabut dari Akar Sejarah (Sumber Gambar : Nu Online)
UKP-PIP: Anak Muda Kita Tercerabut dari Akar Sejarah (Sumber Gambar : Nu Online)

UKP-PIP: Anak Muda Kita Tercerabut dari Akar Sejarah

Yudi bercerita saat mengisi seminar di salah satu perguruan tinggi di Jawa Tengah. Pada seminar itu, ia bertanya kepada mahasiswa tentang siapa tokoh idola mereka. "Sayyid Qutb," kata Yudi menirukan jawaban mahasiswa sebuah perguruan tinggi tersebut di Jakarta, Rabu (30/8) malam.

Mendengar jawaban itu, Yudi mengaku kaget karena tidak ada di antara mereka yang mengidolakan tokoh asli Indonesia. "Kita tercerabut dari intelektual sejarah kita sendiri," tegasnya.

Ia lalu mengungkapkan, jatidiri intelektual suatu bangsa akan hancur dan hilang jika generasinya terputus dari para pemikir dan intelektual sebelumnya.?

Haedar Nashir

Lebih jauh, Yudi menerangkan, Indonesia adalah negara terbesar ketiga dalam hal penggunaan media sosial. "Dalam bermedia sosial, (masyarakat) Indonesia (pengguna media sosial) nomor tiga di dunia," ucapnya.

Namun, hal itu tidak diimbangi dengan minat baca atau berliterasi. Menurut Yudi, minat baca masyarakat Indonesia adalah nomor dua dari bawah. "Minat baca (masyarakat Indonesia), nomor dua dari bawah setelah Botzwana," pungkasnya. (Muchlishon Rochmat/Abdullah Alawi)

Haedar Nashir

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Budaya, Pertandingan, Nasional Haedar Nashir

LD PBNU Berduka Atas Wafatnya Ulama Al-Qur’an, KH Ahmad Syahid

Jakarta, Haedar Nashir?



Ketua Lembaga Dakwah Pengurus Besar Nahdlatul Ulama KH Maman Imanulhaq Faqih mengungkapkan duka sedalam-dalamnya atas wafatnya pengasuh Pondok Pesantren Al-Falah Cicalengka, Kabupaten Bandung, KH Ahmad Syahid.?

LD PBNU Berduka Atas Wafatnya Ulama Al-Qur’an, KH Ahmad Syahid (Sumber Gambar : Nu Online)
LD PBNU Berduka Atas Wafatnya Ulama Al-Qur’an, KH Ahmad Syahid (Sumber Gambar : Nu Online)

LD PBNU Berduka Atas Wafatnya Ulama Al-Qur’an, KH Ahmad Syahid

“Saya atas nama Ketua Lembaga Dakwah PBNU mengucapkan duka cita sedalam-dalamnya. Semoga beliau mendapatkan tempat selayak-layaknya di sisi Allah SWT,” katanya di gedung PBNU, Jakarta, Ahad (6/8).?

Kiai Maman bersaksi bahwa KH Ahamd Syahid adalah seorang qari sesungguhnya. KH Ahamd Syahid bukan ulama yang mengumbar ayat-ayat Al-Qur’an untuk diperjualbelikan, tapi untuk diamalkan dan dihayati untuk menjadi ruh kehidupan.?

“Sekali lagi Lembaga Dakwah PBNU betul-betul berduka cita. Semoga keluarga beliau dan kita semua bisa meneruskan perjuangan KH Ahmad Syahid,” ungkap pengasuh Pondok Pesantren Al-Mizan, Majalengka yang pernah nyantri di Pondok Pesantren Baitul Arqom Ciparay itu. ?

Kiai Maman mengenang, bahwa dia pernah diajak KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) bersilaturahim ke Al-Falah.?

Haedar Nashir

Waktu itu, Gus Dur mengatakan, kalau ingin melihat orang yang ikhlas dalam mempelajari Al-Qur’an, dialah KH Ahmad Syahid. Dia adalah qori kehidupan.

Haedar Nashir





Seabagaimana diketahui, KH Ahmad Syahid meninggal dunia di Rumah Sakit AMC Bandung, Sabtu (5/7) bakda maghrib.? (Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Pondok Pesantren Haedar Nashir

Kamis, 08 Februari 2018

Khutbah Wukuf untuk Tambah Spirit di Arafah

Makkah, Haedar Nashir. Perlahan namun pasti, akhirnya jamaah haji dari seluruh negara melaksanakan wukuf di Arafah hari ini. Sebelum prosesi berdiam di padang Arafah tersebut, jamaah menerima bekal terkait peristiwa dan makna wukuf. Suasana pun berubah menjadi haru.

"Kami menerima materi khotbah wukuf dari KH Farmadi Hasyim," kata Ana Farhasy, Rabu (23/9) usai shalat Dhuhur waktu setempat. Salah satu jamaah dari Kelompok Penerbangan atau Kloter 25 embarkasi Surabaya ini semakin mantap dengan keterangan dari penceramah sebelum kegiatan wukuf dilaksanakan.

Khutbah Wukuf untuk Tambah Spirit di Arafah (Sumber Gambar : Nu Online)
Khutbah Wukuf untuk Tambah Spirit di Arafah (Sumber Gambar : Nu Online)

Khutbah Wukuf untuk Tambah Spirit di Arafah

"Ada dua peristiwa agung pada bulan Dzulhijjah yang patut kita catat dengan tinta emas," katanya menirukan materi sang ustadz. Peristiwa tersebut adalah haji dan kurban. Keduanya terkait dengan Nabi Ibrahim Alaihissalam, lanjutnya.

Haedar Nashir

Peristiwa haji berawal dari perintah Allah kepada Nabi Ibrahim untuk membuat Ka’bah. "Perintah ini langsung dilaksanakan, dengan diawali dialog singkat antara Allah dan Nabi Ibrahim yang diabadikan dalam surat Al-Baqarah ayat 126 hingga 127," katanya di maktab 28 Padang Arafah.

Inti dari surat tersebut adalah hendaknya Allah SWT menjadikan Makkah sebagai kawasan yang aman serta mendapatkan rizqi berlimpah serta halal. Dan Allah mengabulkan permintaan tersebut dengan satu syarat.

Haedar Nashir

Syarat dimaksud adalah hendaknya setelah Ka’bah dibangun, Nabi Ibrahim memberikan laporan pertanggungjawaban sebagaimana disebutkan dalam ayat yang ke 127. "Saat itu Nabi Ibrahim naik ke Jabal Qubais, lalu memanggil anak cucunya untuk datang ke Makkah dalam rangka menunaikan ibadah haji," ungkapnya.

Dari panggilan tersebut, Nabi Ibrahim menjamin bahwa siapa saja yang melaksanakan ibadah haji akan mendapatkan pahala surga dan diselamatkan dari neraka. "Sehingga kehadiran jamaah haji saat ini sebagai bentuk jawaban atas panggilan dari Nabiyullah Ibrahim saat itu," ungkapnya.

Sedangkan soal kurban, KH Farmadi Hasyim menceritakan salah satu permohonan Ismail kepada ayahnya Nabi Ibrahim sesaat sebelum disembelih. "Apabila ayahanda pulang dan bertemu ibunda, sampaikan salam hormat kepada beliau bahwasanya saya menghadap Allah lebih dulu dan semoga kelak bisa dipertemukan di surga," terangnya.

Demikian pula sebelum disembelih sebagai kurban, Ismail memohon kepada ayahnya untuk menyingsingkan lengan baju. "Itu agar darah yang keluar tidak mengotori baju sang ayah," katanya. Karena Ismail khawatir kalau ibunda tahu percikan darah yang mengenai baju sang ayah, akan mengurangi keikhlasan, lanjutnya.

Materi khotbah ini diberikan sebagai tambahan spirit bagi para jamaah yang akan melangsungkan wukuf di Arafah. Usai wukuf, jamaah akan melanjutnya prosesi haji dengan mabit, melempar jumrah, serta thawaf ifadhah.

Dilaporkan Ustadzah Ana, sapaan akrabnya, suasana di pemondokan sangat kondusif. Meskipun diberitakan ada sebagian tenda jamaah dari Indonesia yang roboh akibat angin kencang, tidak mengurangi semangat dalam melaksanakan seluruh ritual haji.

Namun demikian, diharapkan jamaah tetap menjaga kesehatan dan kebugaran dengan mengonsumsi buah dan vitamin. "Ini agar kondisi tubuh tetap vit karena ibadah berikutnya adalah mengandalkan ketahanan tubuh," terangnya.

Dan yang tidak kalah penting dan selalu ditunggu adalah doa dari keluarga dan umat Islam di tanah air. "Kami yakin, doa dari keluarga dan kerabat serta kaum muslimin akan sangat membantu kelancaran ibadah kami di tanah suci," pungkasnya.(Ibnu Nawawi/Mukafi Niam)

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Nahdlatul Ulama, Fragmen Haedar Nashir

Aliansi Nahdliyin-Marhaenis

Dalam urusan sosial-politik, NU mengembangkan prinsip ukhuwah wathoniyah atau solidaritas kebangsaan. Karena itu sejak awal tokoh NU seperti Kiai Hasyim Asy’ari dan Kiai Wahab Chasbullah bekerjasama dengan para tokoh nasionalis penggerak kebangkitan nasional, seperti Dr Sutomo, Muhammad Yamin, termasuk Bung Karno sendiri. Ketika masa kemerdekaan, kelompok nasionalis ada dalam PNI, sementara NU juga menjadi parpol tersendiri, tetapi hubungan keduanya sangat erat. Tahun 1950-an, hubungan ini terjalin semakin intensif.

Kerjasama Nahdliyin dengan kelompok nasionalis zaman pergerakan nasional tahun 1920-an itu kemudian berlanjut pada masa Revolusi Kemerdekaan. Dalam menghadapi masa peralihan dari penjajahan Belanda ke Penjajahan Jepang itu, kerjasama semakin erat. Sebab? kedua kelompok yang sama-sama non kooperatif dengan Belanda itu justru mendapatkan angin pada masa Jepang. Saat itulah keduanya leluasa bergerak menyiapkan kemerdekaan Indonesia, baik menyiapkan tentara nasional dengan membentuk tentara Pembela tanah Air (PETA) serta Hizbullah dan Sabilillah, yang sebagian besar komandannya adalah dari kaum santri. Kerjasama dua kelompok itu kemudian bisa mempercepat Proklamasi.

Ketika Belanda hendak merebut kembali negeri ini, dua kelompok itu bersatu padu menghadapi penjajah. Kerjasama ini semakin erat ketika di tengah gejolak revolusi itu ada sekelompok orang PSI dan PKI melakukan pemberontakan terhadap RI. Dengan tegas NU mendukung RI Pimpinan Bung Karno dan menyerukan segera melenyapkan pemberontakan PKI di Madiun tahun 1948 itu. Pada saat bersamaan sekelompok Islam modernis yang puritan dan radikal mendirikan Darul Islam (DI) bahkan kemudian membentuk Tentara Islam Indonesia (TII) dalam rangka mendirikan Negara Islam Indonesia (NII), sebagai tandingan dari NKRI, maka dengan tegas NU menolak gagasan yang dipimpin oleh Kartosuwiryo yang mengaku sebagai amirul mukminin atau pemimpin umat Islam. Untuk menegaskan komitmennya pada NKRI justru NU mengukuhkan Presiden Soekarno sebagai amirul mukminin yang sebenarnya, yakni sebagai waliyul amri (tokoh yang mendapatkan amanah) menjalankan pemerintahan.

Pada awal Orde Baru terjadi penyederhanaan partai politik, NU dikumpulkan dengan kelompok modernis eks Masyumi ke dalam Partai Persatuan Pembangunan (PPP). Pertamanya kerjasama ini berjalan lancar, walaupun NU dengan bermodal 18,6 persen suara,? sementara Masyumi (Parmusi) hanya 7,3 persen, tapi pimpinan PPP? dipegang Parmusi HMS Mintardja, seorang tokoh Masyumi, demi ukhuwah Islamiyah tadi NU menerima keputusan tidak adil itu. Tetapi Pergantian ketua PPP dari Mintardja ke HJ Naro juga dari Parmusi (Masyumi) tidak dilakukan secara demokratis melalui Muktamar, melainkan diserahkan begitu saja. Ini yang membuat NU kecewa terhadap perilaku politik Masyumi itu.

Aliansi Nahdliyin-Marhaenis (Sumber Gambar : Nu Online)
Aliansi Nahdliyin-Marhaenis (Sumber Gambar : Nu Online)

Aliansi Nahdliyin-Marhaenis

Langkah selanjutnya Naro sebagai kelompok kecil Masyumi menyingkirkan para elit politik NU dari PPP, para pendiri seperti HM Yusuf Hasyim, Khalik Ali, KH Saifuddin Zuhri, Mahbub Djunaidi satu per satu disingkirkan. Mereka juga dihapus sebagai daftar calon DPR. Calon DPR didominasi kelompok Masyumi pimpinan Naro. Tentu saja perilaku unsur Masyumi dalam PPP itu merugikan keutuhan Partai, sehingga partai pecah, kelompok NU akhirnya tersingkir. Ini tragedi Masyumi di tahun 1950-an terulang lagi. Masyumi tidak menjalankan organisasi kesepakatan dan sesuai aturan, maka retak dan bubarlah partai. Akhirnya pada tahun 1984 NU secara organisatoris kembali ke Khittah sebagai ormas keagamaan, maka NU secara otomatis keluar dari PPP.

Setelah itu, NU menjalankan peran sosial lebih efektif tanpa partai di bawah kepemimpinan KH Ahmad Shiddiq dan KH Abdurrahman Wahid. Kepemimpinan yang efektif NU menjadikan NU secara? nasional sangat solid. Solidnya NU sebagai organisasi besar ini dengan sendirinya memiliki resonansi politik yang besar, karena itulah dengan sikap tegas dari KH Abdurrahman wahid sejak pertengahan 1980-hingga akhir 1980-an itu dalam membela rakyat kecil dalam menghadapi represi Orde Baru, maka tiba-tiba NU tampil sebagai rival Orde Baru yang paling depan.

Ketika partai kelompok Nasionalis PDI pecah di awal 1990-an, Megawati sebagai keluarga Bung Karno tampil sebagai penyelamat partai nasionalis ini, tetapi kehadiran Megawati merisaukan Orde Baru, maka dibuatlah musuh tandingan dari dalam, antara lain Surjadi yang dipaksa memimpin PDI atas dukungan Orde Baru, sehingga Megawati tersingkir. Saat itulah Gus Dur mulai menjalin aliansi dengan Megawati, sebagai pendatang baru dalam kancah politik nasional. Megawati banyak mengikuti kegiatan Gus Dur sebagai mitra baru dan banyak belajar pada guru bangsa ini, bersama-sama, menggerakkan rakyat bawah dan berjuang menghadapi represi Orde Baru. Akhirnya PDI Megawati yang bernama PDI Perjuangan (PDIP) bisa menyingkirkan rivalnya, sehingga menjadi partai yang kuat dan disegani yang bisa kembali mengonsolidasi pendukung Bung Karno.

Haedar Nashir

Aliansi ini begitu kuat, apalagi saat itu orde baru sedang membangun aliansi dengan kelompok Islam modernis dengan membuat ICMI. Aliansi ini dengan sendirinya semakin memperkuat posisi Orde Baru dalam menghadapi aliansi kelompok Islam-Nasionalis yang dipimpin Gus Dur. Aliansi kedua kelompok itu yang mampu menggetarkan fondasi kekuasaan Orde Baru, karena itu kedua kelompok ini dihancurkan dengan halus atau dengan kekerasan. Maka pada pertengahan 1990-an digelarlah aksi untuk menghancurkan NU dan nasionalis. Untuk menghancurkan NU digelar Operasi Naga Hijau yang membantai para kiai di Jawa yang menelan korban 140 orang Kiai NU. Sementara itu untuk menghancurkan PDI digelar Operasi Naga Merah yang membantai ratusan kader PDI saat mempertahankan kantor mereka di jalan Diponegoro pada 27 Juli 1996.

Haedar Nashir

Aliansi itu NU-Nasionalis itu berpuncak saat Reformasi sehingga membentuk “Kelompok Ciganjur” kemudian membuat deklarasi yang melibatkan semua elemen bangsa termasuk ikut dalam aliansi nasional itu Sultan Hamengkubuwono, juga Amin Rais yang selama ini aktif di ICMI bersama Soeharto, setelah situasi berubah, maka kini mulai masuk dalam gerakan melawan Soeharto.

Aliansi NU PDI itu pada masa Reformasi berubah format, ketika NU telah membuat partai baru yaitu Partai Kebangkitan Bangsa (PKB), maka secara alami kedua partai berbasis kebangsaan dan kerakyatan itu selalu bersatu padu menyusun agenda perubahan. Duet Gus Dur-Mega semakin erat, karena itu keduanya menjadi tokoh terkemuka di negeri ini. Ketika kehadiran Mega ditolak oleh kelompok Islamis yang menampakkan diri sebagai kelompok tengah yang ingin menggeser Megawati, akhirnya menampilkan Gus Dur sebagai penyelamat untuk tetap menyelamatkan dwitunggal Gus Dur-Mega, di saat kelompok lain bakal mencuri di tikungan.

Mega dicoba digeser dengan Gus Dur tetapi tidak berhasil, karena Mega dijadikan wapres oleh Gus Dur. Tetapi kelompok Islamis itu tidak puas akhirnya mencoba menggeser Gus Dur dengan menggunakan Megawati. Suasana ruwet sehingga menyebabkan Gus Dur jatuh dan secara otomatis Mega dinaikkan menjadi presiden. Namun demikian hubungan NU dan PKB dengan PDIP tidak cukup terganggu, bahkan setelah itu segera pulih, karena kedua belah pihak tahu bahwa pelaku di balik semua perhelatan itu selain sisa-sisa Orde Baru, adalah kelompok pimpinan Amin Rais.

Hingga saat ini, kelihatan NU dan PDIP telah rukun kembali. Kebencian Nahdliyin dan Marhaenis pada umumnya dialamatkan pada Amin Rais sebagai dalang kekacauan ini. Karena itu kedua kelompok ini masih selalu waspada terhadap manuver politik Amin Rais, yang cenderung mengusik aliansi Nahdliyin dan Nasionalis-Marhaenis, yang sama-sama gigih menjaga NKRI dan Pancasila serta kebhinnekaan Indonesia dengan sikap moderat dan toleran. (H Masyhuri Malik)

?

Foto: Rais Aam NU Kiai Wahab Chasbullah berbisik dengan Bung Karno saat menghadiri Muktamar ke-22 Nahdlatul Ulama di Jakarta, 1959. (Doc. PP Lakpesdam)

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Pahlawan Haedar Nashir