Minggu, 18 Juni 2006

PPWK Lakpesdam Upaya Cetak Pemimpin NU Masa Depan

Jakarta, Haedar Nashir



Lembaga Kajian dan Pengembangan Sumber Daya Manusia (Lakpesdam) Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) menyelenggarakan Pembukaan Daurah Ula Pendidikan dan Pengembangan Wawasan Keulamaan (PPWK) angkatan 1 di Pondok Pesantren Al-Tsaqafah, Jakarta, Selasa (18/4) sore.

Ketua Lakpesdam PBNU Rumadi Ahmad mengucapkan terima kasih kepada semua peserta yang sudah hadir. Ia sadar, peserta yang hadir ke sini adalah mereka yang memiliki komitmen dan khidmah yang tinggi untuk NU.

PPWK Lakpesdam Upaya Cetak Pemimpin NU Masa Depan (Sumber Gambar : Nu Online)
PPWK Lakpesdam Upaya Cetak Pemimpin NU Masa Depan (Sumber Gambar : Nu Online)

PPWK Lakpesdam Upaya Cetak Pemimpin NU Masa Depan

Ia menjelaskan, Pendidikan dan Pengembangan Wawasan Keulamaan (PPWK) adalah semacam lembaga pelatihan untuk mencetak pemimpin-pemimpin NU masa depan. “PPWK itu semacam Lemhanasnya NU. Kader PPWK dihatapkan menjadi Pengurus NU di masa depan, terutama syuriahnya," jelasnya.

PPWK, terang Rumadi, akan dilaksanakan dalam tiga kali daurah dan satu daurahnya diselenggarakan kurang lebih dalam lima hari. Ia menjelaskan setiap daurahnya memiliki topik yang berbeda-beda. "Daurah pertama sampai tanggal 22 April. Tema yang diangkat adalah tentang NU dan Kebangsaan. Soal negara, konstituisanilme akan dibahas di daurah pertama ini," jelasnya.

Daurah kedua membahas tentang tata kelola pemerintah yangg baik dan antikorupsi. Menurutnya, NU adalah penyokong negara ini. Maka dari itu, NU tidak boleh diam dalam hal bagaimana mengelola pemerintaham yang baik. "KPK juga akan siap memfasilitasi dalam daurah kedua ini sehingga semangat anti-korupsi bisa kita pahami," urainya.

Haedar Nashir

Daurah ketiga, imbuh Rumadi, membahas tentang bagaimana menjadikan NU sebagai gerakan sosial, tantangan NU, permasalahan media sosial, dan peran apa yg harus dilakukan oleh NU. Sementara, Kepala Madrasah Pendidikan dan Pengembangan Wawasan Keulamaan Marzuki Wahid menjelaskan, PPWK adalah amanat Muktamar NU di Jombang tahun 2015 silam yang baru bisa dutunaikan oleh Lakpesdam PBNU. "Ini amanah dari PBNU. Ini adalah bagian dari pelaksanaan dari amanah itu," katanya.

Haedar Nashir

Ia berharap, PPWK bisa diselenggarakan setiap tahunnya tetapi ia menyadari itu adalah hal yang tidak ringan. "Tapi tampaknya agak berat," cetusnya.

Peserta PPWK angakatan pertama berjumlah 30 orang dari delapan provinsi. Tujuh diantaranya adalah peserta perempuan.

Turut hadir pada kegiatan yang dirangkai sebagai Peringatan Hari Lahir (Harlah) Lakpesdam yang ke-32 acara tersebut KH Abdullah Syarwani, Ulil Abshar Abdalla, Muntajib Billah, dan Maria Ulfah. (Muchlishon Rochmat/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir News, Fragmen, IMNU Haedar Nashir

Minggu, 19 Maret 2006

Tgk H Sabri Hasan dan Tgk H Mustafa Sarong Pimpin NU Aceh Jaya

Calang, Haedar Nashir. Tgk H Sabri Hasan resmi terpilih sebagai rais syuriyah sedangkan Tgk H Mustafa Sarong terpilih sebagai ketua tanfidziyah periode 2014-2019 melalui konferensi cabang PCNU Aceh Jaya yang diselenggarakan Sabtu (24/05/2014) siang. 

Pemilihan yang bertempat di Dayah Darul Abrar, Gampong Baro, kecamatan Setia Bakti Kabupaten Aceh Jaya tersebut berlangsung selama satu hari, pada tahap pertama atau penjaringan bakal calon, sejumlah kandidat bermunculan.

Tgk H Sabri Hasan dan Tgk H Mustafa Sarong Pimpin NU Aceh Jaya (Sumber Gambar : Nu Online)
Tgk H Sabri Hasan dan Tgk H Mustafa Sarong Pimpin NU Aceh Jaya (Sumber Gambar : Nu Online)

Tgk H Sabri Hasan dan Tgk H Mustafa Sarong Pimpin NU Aceh Jaya

Dalam tahap tersebut, sempat muncul dua nama lain yakni Tgk H Syarwani dan Tgk Hammady sebagai bakal calon Rais Syuriyah, sebelum masuk tahap pemilihan kedua calon Rais Syuriyah mengundurkan diri dari pencalonan, maka terpilih Tgk H Sabri Hasan sebagai Rais Syuriyah PCNU Kabupaten Aceh Jaya.

Haedar Nashir

Selanjutnya masuk ke tahap pemilihan Ketua Tanfidziyah, muncul beberapa nama bakal calon yaitu Tgk H Mustafa Sarong, Tgk Ralimuddin, Tgk Ibnu Hajar dan Tgk Muslim. Sebelum masuk tahap pemilihan ketua calon, ketiga bakal calon mengundurkan diri, maka terpilihlah Tgk H Mustafa Sarong secara aklamasi untuk ketua tanfidziyah PCNU Aceh Jaya.

"Tgk H Sabri Hasan dan Tgk H Mustafa Sarong  diharapkan dapat menjalankan  PCNU Aceh Jaya dengan benar dan sesuai serta dapat membumikan aqidah Ahlussunnah wal Jamaah di kabupaten Aceh Jaya ini,” ungkap Ketua Tanfidziyah PWNU Aceh Tgk H Faisal Ali usai pemilihan.

Haedar Nashir

Pemilihan Ketua Tandfiziah dan Rois Syuriah  diikuti oleh 8 kecamatan atau MWC NU, seluruh perwakilan yang ada di Aceh Jaya. (Indra/Mukafi Niam)

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Halaqoh, Nusantara Haedar Nashir

Senin, 23 Januari 2006

Buku Aswaja Karya KH Muhyiddin Abdusshomad Bakal Go Internasional

Jember, Haedar Nashir. Buku-buku tentang Aswaja karya Rais Syuriyah PCNU Jember, KH Muhyiddin Abdusshomad tak lama lagi akan go internasional menyusul keinginan sejumah ulama Thailand untuk menerjemahkan buku-buku tersebut kedalam bahasa mereka.

Keinginan itu terungkap saat pengasuh Pondok Pesantren Nurul Islam (Nuris), Antirogo, Jember, Gus Robith Qashidi mengadakan kunjungan muhibah ke Thailand, Malaysia dan Singapore tiga hari lalu.

Buku Aswaja Karya KH Muhyiddin Abdusshomad Bakal Go Internasional (Sumber Gambar : Nu Online)
Buku Aswaja Karya KH Muhyiddin Abdusshomad Bakal Go Internasional (Sumber Gambar : Nu Online)

Buku Aswaja Karya KH Muhyiddin Abdusshomad Bakal Go Internasional

“Di Thailand, tepatnya di Propinsi Krabi, salah seorang ulama yang juga pengasuh pesantren Muwaidah Islamiyah Eakapapsasa Sasanawich Islamic School, Kiai Takem menyatakan sangat tertarik untuk menerjemahkan buku-buku abah kedalam bahasa Thailand,” tukas Gus Robith di Nuris kepada Haedar Nashir, Senin (13/2).

Menurut putra sulung Kiai Muhyiddin tersebut, kaum muslimin Thailand mayoritas penganut Ahlussunnah wal Jamaah (Aswaja), sama dengan ajaran yang dipegang teguh oleh warga NU.

Haedar Nashir

Namun praktik pengamalan Aswaja mereka lebih banyak bersifat turun-temurun tanpa mengerti dasarnya, dan karena itu buku karya Kiai Muhyiddin tersebut sangat berarti untuk menyelami seluk-beluk Aswaja lebih dalam lagi.

“Lebih dari itu, kata mereka, buku-buku abah mudah dicerna karena beberapa di antaranya menggunakan metode dialog (tanya jawab) sehingga? bisa dipahami langsung, tidak perlu menunggu khatam berlembar-lembar,” lanjutnya.

Menjalin sinergi dalam hal pemantaban Aswaja dengan negara-negara tetangga, bagi Gus Robith cukup penting. Ini seiring dengan cita-cita NU untuk terus mengenalkan dan menegaskan Islam rahmatal lil alamin. Lebih-lebih karena dalam beberapa tahun terakhir, gerakan liberalisme dan radikalismne juga mengincar dan mengancam negara-negara rumpun melayu.

Dikatakan Gus Robith, kelompok wahabi dan syiah sudah lama menyusup di daerah konflik, khususnya Thailand selatan, sehingga harus diantisipasi bersama.

“Kami sepakat untuk menjadikan ajaran Aswaja sebagai benteng untuk menangkal penetrasi ajaran librealisme dan radikalisme di Indonesia? dan Thailand. Melalui program pertukaran santri atara pesantren Nuris dan sejumlah negara tetangga yang? telah dimulai sejak? tahun lalu, Nuris terus istiqamah untuk menyebarkan ajaran Aswaja ala NU di negara-negara tersebut,” jelasnya.

Haedar Nashir

Beberapa karya Kiai Muhyiddin yang hendak diterjemahkan kedalam bahasa Thailand adalah: Fiqh Tradisionalis, Hujjah NU, Hujjah Qoth’iyyah, Sholatlah Seperti Rasulullah (Dalil Keshahihan Shalat ala Aswaja), Syarah Aqidatul Awam, Argumen Amaliah di Bulan Sya’ban dan Ramadhan, dan Panduan Wisata Ziarah. (Aryudi A. Razaq/Fathoni) ?

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Kyai, Pahlawan, Lomba Haedar Nashir

Selasa, 27 September 2005

Power of Rupiah, Berdayakan Anak untuk Bantu Kemiskinan

Jakarta, Haedar Nashir. Salah satu agenda dari global peace festival yang sudah berjalan adalah power of rupiah, sebuah kampanye untuk menumbuhkembangkan semangat memberi, ikhlas menolong sesama dan kepedulian dalam diri anak-anak dan kaum muda Indonesia.

Dalam program ini, panitia menyediakan sebuah kotak yang setiap harinya diharapkan dapat diisi oleh sebuah koin yang nantinya akan menjadi tiket masuk pada puncak acara global peace festival di gelora Bung Karno, Ahad 17 Oktober mendatang.

Power of Rupiah, Berdayakan Anak untuk Bantu Kemiskinan (Sumber Gambar : Nu Online)
Power of Rupiah, Berdayakan Anak untuk Bantu Kemiskinan (Sumber Gambar : Nu Online)

Power of Rupiah, Berdayakan Anak untuk Bantu Kemiskinan

Ketua Panitia Global Peace Festival Slamet Effendy Yusuf menargetkan mampu mengumpulkna sekitar 50 ribu pelajar dan mahasiswa dalam pengumpulan koin power of rupiah ini.

Haedar Nashir

“Power of Rupiah tidak bermaksud mengumpulkan uang milyaran rupiah, tetapi lebih kepada memberdayakan jutaan anak,” katanya.

Ditambahkannya, program Power of Rupiah mempromosikan budaya melayani dan makna hidup ini berarti untuk orang lain, khususnya membantu menolong anak Indonesia yang kurang beruntung.

Haedar Nashir

“Power of Rupiah” menyatukan upaya bersama secara berkelanjutan melalui sekolah dari taman kanak-kanak hingga perguruang tinggi.

Ia menjelaskan, saat ini terdapat 32 juta anak Indonesia hdiup dalam keluarga sangat miskin, 13 juta diantaranya menderita kekurangan gizi serta lebih dari 300 ribu merupakan anak jalanan.

“Banyak sekali orang yang tidak mampu menaikkan kelas sosial mereka dari lower class ke kelas yang lebih atas karena mereka tidak mampu mendidik anaknya. (mkf)Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Khutbah Haedar Nashir

Minggu, 11 September 2005

Ketum PBNU Paparkan 2 Hal Penting di Puncak Harlah IPPNU

Jakarta, Haedar Nashir. Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) Said Aqil Sirajd menyampaikan dua hal yang penting dalam sambutannya pada puncak acara hari lahir (Harlah) ke-62 Ikatan Pelajar Putri Nahdlatul Ulama (IPPNU) yang berlangsung di Masjid An-Nahdlah PBNU, Sabtu (11/3).

Ketum PBNU Paparkan 2 Hal Penting di Puncak Harlah IPPNU (Sumber Gambar : Nu Online)
Ketum PBNU Paparkan 2 Hal Penting di Puncak Harlah IPPNU (Sumber Gambar : Nu Online)

Ketum PBNU Paparkan 2 Hal Penting di Puncak Harlah IPPNU

Ia berpesan agar IPPNU terus mengawal, mengembangkan dan menjaga islam Ahlussunnah wal Jamaah, seperti prinsip moderat dan toleran, dan cita-citanya memperkuat persaudaraan sesama umat islam, persaudaraan sebangsa setanah air dan persaudaran persamaan sesama umat manusia.

Menurut Tokoh Muslim paling berpengaruh di dunia versi The Muslim 500 itu menyampaikan, yang pertama, IPPNU tidak boleh ragu dengan prinsip moderat dan toleran.

“Jika ini di perjuangkan untuk komitmen dan istiqomah, merupakan modal yang sangat besar bagi pergerakan IPPNU, jangan pernah bergeser dari prinsip moderat dan toleran dan dari cita-cita ukhuwah Islamiyah, wathoniyah dan insaniyah,” ujar Kiai Said.

Haedar Nashir

Kedua, amal prinsip santri, menurut Kang Said sapaan akrab KH Said Aqil Siroj mengutarakan, santri itu tidak harus alumni pesantren, alumni SD, SMP, SMA juga santri asalkan hormat pada kiai, meskipun tidak pernah pesantren, walaupun belajarnya tidak pernah di pesantren asalkan hormat kepada kiai, samian wathoatan, itu jiwa santri namanya.

“Nah mengapa kita harus hormat kepada para kiai dan ulama NU? Karena kita yakin Ashabul haq yang memegang otoritas kebenaran dalam agama adalah para Ulama, selain itu kita ragu, benar apa tidak cara pemahaman agamanya, cara beragamanya, cara berpikirnya, orientasi agamanya benar apa tidak,” tutur Pengasuh Pesantren Al-Tsaqafah Ciganjur, Jakarta Selatan ini.

Oleh karena itu, imbuhnya, hormat dan taatlah pada para kiyai, ulama pesantren, dan ulama NU yang kita yakini mereka Ashabul haq, Ashabus sirotil haq, Ashabu kalimatil haq, Ashabu syauthil haq, Ashabut thoriqotil haq yang ucapannya benar, sikapnya benar dan cara berpikirnya benar, pemilik kebenaran dalam memahami agama.

Terakhir ia berpesan kepada seluruh kader IPPNU untuk selalu menghormati kiai sampai kapanpun, hingga yaumil qiyamah, yang sanadnya benar dan jelas, seperti KH Hasyim Asy’ari yang sanadnya jelas hingga Imam Syafi’i, Imam Syafi’i Abu Abdillah-Muhammad bin Idris bin Abbas bin Usman bin Syafi’i bin Musayyaf bin Ubeid bin Abu Yazid bin Abu Muthollib hingga Rasulullah SAW. (Anty/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir

Haedar Nashir Ulama Haedar Nashir

Kamis, 06 Januari 2005

Pesa-pesan Mesristek Dikti untuk Para Santri

Jember, Haedar Nashir



Mesristek Dikti RI, Muhammad Nasir memompa semangat para santriwan dan santriwati Pondok Pesantren Nurul Islam (Nuris), Antirogo, Jember agar terus belajar dengan rajin. 

Pesa-pesan Mesristek Dikti untuk Para Santri (Sumber Gambar : Nu Online)
Pesa-pesan Mesristek Dikti untuk Para Santri (Sumber Gambar : Nu Online)

Pesa-pesan Mesristek Dikti untuk Para Santri

Sebab, dengan belajar yang rajin, kelak akan menjadi orang yang bermanfaat. Bermanfaat yang sebesar-besarnya untuk umat dan kemanusiaan adalah capaian yang paling mulia dan besar. 

"Jadi, intinya adalah bermanfaat dalam posisi apa pun dan di tempat mana pun," ucapnya di hadapan ribuan santri di Masjid Baitunnur, Kompleks Nuris, Rabu (27/9) malam.

Menurut Nasir, soal pekerjaan adalah soal nomor sekian. Namun yang pasti, belajar yang rajin adalah suatu keharusan, bukan hanya karena menginginkan satu pekerjaan, tapi juga karena belajar adalah kewajiban bagi umat Islam. 

Haedar Nashir

"Saya dulu tak pernah membayangkan akan jadi menteri, tapi karena saya belajar, akhirnya saya ditunjuk oleh Presiden Jokowi untuk jadi menteri," ungkapnya.

Ia mengaku bersyukur bisa berada di tengah-tengah santri. Dikatakannya bahwa dunia santri bagi diirinya tak asing lagi. Bahkan pertemuannya dengan santri Nuris tersebut, diakuinya telah mengingatkan memorinya sekitar 40 tahun yang lalu saat dirinya menimba ilmu di sebuah pesantren. 

"Saya dulu juga santri seperti kalian," ungkapnya.

Dalam kesempatan tersebut, Nasir juga mengetes ingatan para santri tentang bait-bait kitab Alfiyah. Ia lalu bertanya bunyi awal dan akhir bait kitab Alfiyah. Namun semua santri pada terdiam. Hingga Nasirlah yang yang melafalkan beberapa bait di awal kitab Alfiyah. 

Haedar Nashir

"Waktu saya nyantri, saya disuruh menghafalkan kitab Imrithy dan Alfiyah," jelasnya. (aryudi A. Razaq/Abdullah Alawi)

 

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Cerita, Tokoh, Daerah Haedar Nashir

Kamis, 08 April 2004

Ratusan Pelajar Putri NU Ikuti Workshop Nasional Kaderisasi

Probolinggo, Haedar Nashir - Sedikitnya 300 orang pelajar puteri NU yang tergabung dalam Ikatan Pelajar Puteri Nahdlatul Ulama (IPPNU) dari 38 Pimpinan Wilayah (PW) IPPNU se-Indonesia mengikuti workshop kaderisasi di Pondok Pesantren Hati Dusun Toroyan Desa Rangkang Kecamatan Kraksaan Kabupaten Probolinggo, Jum’at hingga Ahad (3-5/3).

Kegiatan yang digelar oleh Pimpinan Pusat (PP) IPPNU ini dibuka secara resmi oleh Bupati Probolinggo Hj Puput Tantriana Sari. Pembukaan ini dimeriahkan oleh persembahan Tari Glipang yang dibawakan oleh pelajar di Kabupaten Probolinggo.

Ratusan Pelajar Putri NU Ikuti Workshop Nasional Kaderisasi (Sumber Gambar : Nu Online)
Ratusan Pelajar Putri NU Ikuti Workshop Nasional Kaderisasi (Sumber Gambar : Nu Online)

Ratusan Pelajar Putri NU Ikuti Workshop Nasional Kaderisasi

Ketua Umum PP IPPNU Puti Hasni menyampaikan, tantangan global tidak lagi menjadi kewaspadaan, namun telah berubah menjadi ancaman di tengah derasnya upaya mengguncang posisi Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) dengan berbagai cara.

“Standardisasi-standardisasi yang berasaskan pada nilai-nilai global mengancam segala bentuk khazanah lokal. Keseragaman-keseragaman semu diciptakan untuk menghilangkan perbedaan-perbedaan yang harmoni,” katanya.

Haedar Nashir

Menurut Puti Hasni, tuntutan-tuntutan administratif terkait pendidikan semakin membutakan pemuda pada sebuah esensi pembelajaran, belajar sebagai proses untuk menjadi tahu dan bijaksana bukan bentuk keserakahan.

Haedar Nashir

“Tentu akan menjadi sebuah ironi ketika seorang pelajar terjebak pada gagasan-gagasan global tanpa mengembangkan jati diri dengan khazanah lokal yang selalu dibanggakan, ideologi NU yang mampu menopang dan menyangga keberadaan NKRI,” jelasnya.

Melalui kegiatan workshop kaderisasi ini Puti Hasni mengharapkan nantinya pelajar putri NU mampu membuka wacana spirit ideologi NU yang menyelamatkan dunia dan akhirat serta menyinergikan pembangunan berasas keberagamaan untuk keutuhan NKRI.

“Memahamkan kembali posisi dan potensi kader NU umumnya dan pelajar putri NU khususnya. Serta, merumuskan kembali pola perjuangan IPPNU yang senafas dengan Khittah NU 1926,” tegasnya.

Sementara Hj Puput menegaskan, peran, tugas, dan tanggung jawab perempuan tidak kalah penting dengan peran laki-laki. Khususnya ketika menjalankan tugas seorang Istri. “Tanggung jawab istri adalah melayani suami dan paling penting adalah menjadi madrasah pertama bagi anak-anaknya,” ungkapnya.

Selama 3 (tiga) hari, para pelajar putri NU ini akan mengikuti seminar pengembangan kaderisasi kontemporer serta seminar literasi digital. Kemudian dilanjutkan dengan sidang komisi sekaligus RTL dan pembentukan tim penyusunan materi kaderisasi. (Syamsul Akbar/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Pendidikan Haedar Nashir