Minggu, 30 Oktober 2011

Mahasiswa Thariqah Gelar Serangkaian Kegiatan di Malang

Malang, Haedar Nashir. Mahasiswa Ahlith Thariqah Al Mu’tabarah An Nahdliyyah atau MATAN Cabang Kota Malang menggelar serangkaian kegiatan dengan bertajuk “MATAN untuk bangsa”.

Kegiatan tersebut berisi rangkaian roadshow seminar, diskusi, dan sowan ke habaib dan masyayikh Kota Malang dengan bertujuan untuk memperkenalkan MATAN ke publik Kota Malang, terutama civitas akademika kampus dan para tokoh ulama di kota Malang.?

Mahasiswa Thariqah Gelar Serangkaian Kegiatan di Malang (Sumber Gambar : Nu Online)
Mahasiswa Thariqah Gelar Serangkaian Kegiatan di Malang (Sumber Gambar : Nu Online)

Mahasiswa Thariqah Gelar Serangkaian Kegiatan di Malang

Kegiatan tersebut juga merupakan langkah awal organisasi mahasiswa di bawah naungan Jamiyyah? Ahlith Thariqah Al Mu’tabarah An Nahdliyyahjamiyyah atau organisasi tarekat tarekat NU itu untuk mengubah pola pikir generasi muda khususnya yang kapitalistik, pragmatis, hedonis, dan transaksional yang berakibat, manusia tidak lagi berperan sebagai manusia (‘abdullah wa khalifatullah fil ardl). Dengan bertarekat diharapkan generasi muda lebih berperan bagai mesin dan mengabaikan nilai-nilai kemanusiaan, yang mana akibat selanjutnya adalah tidak adanya rasa cinta dan kebanggaan terhadap tanah air dan lebih penting lagi, tidak adanya rasa cinta dan kebanggaan terhadap Nabi Muhammad SAW dan Islam.

Kegiatan MATAN Kota Malang yang dibuka pada 7 Desember 2012 ini diawali dengan seminar yang bertempat di aula Usman Mansur Universitas Islam Malang (UNISMA), dengan tema seminar, “Fitrah Nusantara Sebagai Isi Kandungan Bangsa”.?

Haedar Nashir

Seminar yang diisi oleh Habib Ismail Fajrie Alatas dan DR. Galih Wijil Pangarsa itu membahas mengenai potensi-potensi yang terkandung di bumi Nusantara ini baik itu potensi alamiah seperti laut, maupun potensi yang bersifat budaya, yang mana potensi-potensi itu bisa menjadi senjata untuk kebangkitan dan kemajuan Bangsa Indonesia.?

Tidak hanya potensi yang dibicarakan, namun juga hal-hal yang bisa melemahkan potensi-potensi itu, baik yang berasal dari dalam negeri maupun dari luar, sehingga peserta seminar diajak memetakan Indonesia.

Haedar Nashir

Setelah seminar itu, pengurus harian MATAN dan Habib Aji (panggilan akrab Habib Ismail Fajrie Alatas) langsung menuju ke kediaman Habib Abdul Qadir Mauladdawilah dan Habib Bagir Mauladdawilah di kelurahan Jagalan Kota Malang untuk bersilaturrahim dan memperkenalkan MATAN kepada beliau-beliau serta memohon doa, dukungan, dan bantuan dari beliau-beliau untuk MATAN Kota Malang. Dan beliau-beliau pun memberi respon yang positif atas kehadiran Habib Aji dan rombongan, termasuk dengan lahirnya MATAN dan gerakan-gerakan yang akan dilakukan oleh MATAN.?

Selanjutnya, Habib Aji dan seluruh PC. MATAN Kota Malang bergerak menuju maqam Al-Habib Abdul Qodir Bafaqih untuk berziarah dan “memperkenalkan” MATAN kepada beliau selaku salah satu wali agung yang ada di Kota Malang.

Ba’da shalat maghrib, rombongan langsung menuju ke Kota Batu untuk memenuhi undangan makan malam dari Habib Jamal Ba’agil. Dalam jamuan makan malam itu, tak lupa pula Habib Aji dan PC.MATAN Kota Malang memperkenalkan berdirinya MATAN Kota Malang dan mengharapkan kesediaan Habib Jamal untuk mendoakan MATAN dan membimbing MATAN Kota Malang, serta membantu MATAN Kota Malang, demi tersyiarnya Ahlussunnah wal jama’ah di dunia universitas yang sekarang ini mulai tersisih oleh paham-paham wahabi, liberalisme, dan hedonisme.

Keesokan harinya, acara dilanjutkan di kampus UIN Maliki Malang dan dimulai pukul 14.00 WIB dengan tema seminar “Mengambil Hikmah Pelajaran dari Sejarah dan Tradisi sebagai Pembentuk Identitas Lokal dan Universal Bangsa”. Sedangkan pemateri dalam seminar tersebut adalah DR. Agus Sunyoto, Prof. DR. Sutiman, dan Habib Ismail Fajrie Alatas.?

Dalam seminar itu, para pembicara menekankan pentingnya mengetahui dan mempelajari sejarah dan tradisi di era globalisasi ini. Sebab dua elemen itu merupakan pembentuk jati diri bangsa. Tanpa dua elemen itu, maka bangsa tidak memiliki jati diri sehingga mudah dipecah belah, dan tidak mempunyai karakter sebagai bangsa, serta tidak cinta terhadap bangsa sendiri. Sebagai dua elemen yang berbeda, tradisi dan sejarah merupakan rem bagi bangsa Indonesia agar tidak terseret dan tergilas oleh roda globalisasi, apalagi sekarang ini semakin marak gerakan purifikasi seperti wahabi yang berkoalisi dengan kaum kapitalis untuk menghapus sejarah dan tradisi dari Negeri ini, sehingga terbentuklah manusia satu dimensi.

Setelah acara di UIN Maliki Malang, Habib Aji dan PC. MATAN Kota Malang melanjutkan kegiatan hari itu dengan bersilaturrahim ke Habib Muhammad bin Idrus Al-Haddad di Sawahan Kota Malang. Dalam silaturrahim itu, Habib Aji memperkenalkan MATAN dan PC. MATAN Kota Malang kepada Habib Muhammad dengan harapan doa, restu, dukungan dan bantuan dari Habib Muhammad untuk gerakan MATAN Kota Malang, sehingga MATAN Kota Malang bisa mewujudkan visi organisasi.

Agenda selanjutnya pada malam hari itu adalah menghadiri undangan makan malam dari Rais JATMAN Kota Malang, KH. Abdurrahman Yahya dan orasi ilmiah di hadapan santri beliau, santri PP. Miftahul Huda Gading Kota Malang. KH. Abdurrahman yang sejak awal digagasnya MATAN di Kota Malang ini sangat mendukung dan membantu gerakan MATAN, sangat gembira dengan kehadiran Habib Aji di Kota Malang dan di Gading Pesantren. KH. Baidlowi Mushlich dalam sambutannya menyatakan bahwa keberadaan MATAN, dan mahasiswa yang berthariqah di era sekarang ini sangat penting.

Adapun Habib Aji dalam orasinya menekankan agar para santri tidak hanya menjadi ahli ekonomi yang baik, dokter yang baik, guru yang baik, dan lain-lain (pekerja yang baik), namun, para santri yang sebagian besar mahasiswa ini, harus menjadi manusia yang baik, manusia yang benar-benar manusia. Hal itu bisa dicapai salah satunya dengan cara berthariqah, karena berthariqah itu untuk memunculkan kemanusiaan sehingga menjadi manusia yang manusia, yaitu manusia yang baik dan bermanfaat.

Itu pula salah satu motivasi mengapa Maulana Habib Luthfi bin Yahya menggagas berdirinya MATAN di tengah organisasi-organisasi semacam HMI, PMII lebih sibuk berpolitik kampus dan demonstrasi sampai lupa mengembangkan intelektualitasnya, dan lupa meningkatkan spiritualitasnya, sehingga MATAN sangat terbuka, baik itu anggota HMI, PMII, atau lainnya dipersilahkan untuk ikut MATAN tanpa meninggalkan organisasi asalnya.

Di hari terakhir atau hari ketiga road show MATAN, acara selanjutnya adalah diskusi dengan tema,”Kritik Nalar Liberalisme Islam” yang bertempat di gedung PCNU Kota Malang, di mana dalam diskusi itu Habib Aji memaparkan secara detail bagaimana sebenarnya pemikiran kawan-kawan di Jaringan Islam Liberal. Yang mana mereka sibuk mengkritik islam tradisi khas pesantren, namun mereka lupa untuk mengkritisi liberalisme yang mereka gembor-gemborkan, dengan segala teori yang mereka paparkan, padahal banyak kritik (baca: kekurangan dan kelemahan) dalam teori-teori yang mereka jadikan rujukan ataupun hasil pemikiran-pemikiran mereka, sehingga nyatanya pemikiran mereka malah lebih banyak bersifat mendekonstruksi pemikiran yang sudah ada daripada merekonstruksinya.

Malam harinya, acara dilanjutkan dengan diskusi di Pesantren Mahasiswa Al Hikam Kota Malang, yang mana dalam kesempatan itu Habib Aji memaparkan secara singkat mengenai MATAN dan pentingnya berthariqah agar menjadi manusia yang benar-benar manusia, sehingga menjadi manusia yang berguna bagi Negara dan Agama.

Di hari terakhir itu pula, Habib Aji dan PC. MATAN Kota Malang melanjutkannya dengan bersilaturrahim ke KH. Mashduqi Mahfudz di Mergosono, Habib Agil bin Agil di Jl. Ir. Rais Kota Malang, dan Gus Luqman di Merjosari Kota Malang. Dalam kesempatan tersebut, Habib Aji dan PC. MATAN Kota Malang memperkenalkan MATAN dan PC MATAN Kota Malang kepada beliau-beliau dengan harapan doa, restu, dukungan dan bantuan sehingga MATAN Kota Malang bisa mewujudkan visi organisasi.

? ?

Redaktur ? ? ? : A. Khoirul Anam

Kontributor ? : Syukron Ma’mun

Keterangan foto: Pemateri di Universitas UIN Malik Maliki Malang Agus Sunyoto (Kanan), Habib Ismail Fajrie Alatas (Tengah) Dan Prof. Sutiman (Kiri). Tema seminar “Mengambil Hikmah Pelajaran Dari Sejarah dan Tradisi sebagai Pembentuk Identitas Lokal”

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Kyai Haedar Nashir

Kamis, 27 Oktober 2011

Alumni Futuhiyyah Gelar Expo Perguruan Tinggi

Demak, Haedar Nashir? . Para alumni Pondok Pesantren Futuhiyyah yang tergabung dalam Ikatan Mahasiswa Alumni Futuhiyyah Yogyakarta (IMAFTA) kembali menggelar Expo Perguruan tinggi pada akhir pekan lalu di halaman Aula Yayasan pesantren wilayah Demak tersebut.

Alumni Futuhiyyah Gelar Expo Perguruan Tinggi (Sumber Gambar : Nu Online)
Alumni Futuhiyyah Gelar Expo Perguruan Tinggi (Sumber Gambar : Nu Online)

Alumni Futuhiyyah Gelar Expo Perguruan Tinggi

Pada kegiatan bertema “Choose for Eduation” pada Sabtu (7/3) lalu digelar berbagai event lainnya seperti try out masuk Perguruan Tinggi Negeri, pameran buku, dan pemutaran film motivasi.?

Ketua panitia kegiatan tersebut, Alvin Noor Sahab, mengatakan expo tersebut untuk memberikan motivasi siswa kelas XII agar semangat dalam belajar dan kuliah. “Bahwasanya belajar tidak hanya sampai SMA seperti yang kita tahu di Indonesia wajib belajar hanya 9 tahun,” katanya.?

Haedar Nashir

Ia memperkuat pernyataannya dengan mengutip Hadits Rasulallah SAW yang menegaskan “uthlubul ‘ilma minal hadi ilal lahdi, yaitu ? mencari ilmu sejak dari buaian sampai liang lahat”.?

Haedar Nashir

Sekitar 25 undangan, menurut Alvin, disebar IMAFTA ke SMA terdekat di kecamatan Mranggen, Sayung, dan Karangawen, dan sekitar 1500 pelajar telah berpartisipasi dalam kegiatan tersebut.

Ia menambahkan, sebanyak 10 perguruan tinggi bekerja sama dengan IMAFTA diantaranya UNWAHAS, UNIBA Surakarta, STIKES Surya Global Jogja, STMIK AMIKOM Yogyakarta, ST3 Telkom Yogyakarta, Universitas Sanata Dharma Yogyakarta, dan beberapa perguruan tinggi lainnya.?

Menurut Alvin, Expo digelar untuk menambah referensi siswa dalam menentukan perguruan tinggi yang akan mereka masuki, dan memberikan pandangan kepada mereka yang buta kuliah.

Sebagai alumni, lanjut dia, IMAFTA mempunyai kewajiban moral menggelar ? kegiatan tersebut sebagai ajang tahunan. “Tahun-tahun ke depan IMAFTA dapat hadir dengan event-event yang tidak kalah luarbiasa,” harapnya. (Ben Zabidi/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Warta, Pertandingan, Santri Haedar Nashir

Rabu, 26 Oktober 2011

Asyuro, Warga Pondok Pinang Baca 1000 Kali Surat Qul Hu

Jakarta Selatan, Haedar Nashir. Mengambil peringatan Asyuro yang jatuh pada 10 Muharram, warga desa Pondok Pinang Timur berkumpul di masjid Dakwatul Islamiyah. Tua,muda, pria, maupun wanita ikut meramaikan peringatan Asyuro dengan membaca seribu kali surat Al-Ikhlas, Rabu (13/11) malam.

Asyuro, Warga Pondok Pinang Baca 1000 Kali Surat Qul Hu (Sumber Gambar : Nu Online)
Asyuro, Warga Pondok Pinang Baca 1000 Kali Surat Qul Hu (Sumber Gambar : Nu Online)

Asyuro, Warga Pondok Pinang Baca 1000 Kali Surat Qul Hu

“Asyuro dilanjutkan dengan pembacaan tahlil dan kirim-kirim arwah buat warga yang lebih dahulu wafat,” kata salah seorang remaja yang ikut Asyuro, M Reihan, Rabu (13/11) malam.

Acara yang dimulai setelah Isya diakhiri dengan memakan ketupat sayur Betawi bersama yang dikirim warga sebagai bentuk kepedulian mereka terhadap peringatan keagamaan.

Haedar Nashir

“Saya nggak tahu apa fadhilatnya membaca 1000 kali surat Qul Hu. Saya hanya mengajak warga untuk meneruskan kegiatan orang-orang tua waktu saya kecil dahulu,” tutur sesepuh warga Pondok Pinang KH Hasbullah (85) di kediamannya usai acara.

Haedar Nashir

Tetapi warga sebaiknya memang tidak tahu fadhilatnya agar mereka ikhlas dan peringatan terus berjalan setiap tahunnya. Biar mereka tanya sendiri nanti di akhirat kepada Rasulullah. Kalau tahu sekarang, nanti mereka akan menagih di dunia, lanjut KH Hasbullah yang pernah menjadi sekretaris ranting NU Pondok Pinang tahun 1950an.

Untuk menandai jumlah bacaan, KH Hasbullah menggunakan sepuluh potong batang plastik alat korek kuping bersih. Sejak sore ia meminta cucunya mengguntingkan batang korek kuping. Setiap batangnya menandai 100 surat Al-Ikhlas.

Biasanya kita menggunakan apa saja untuk menandai jumlah bacaan. Kadang kami menggunakan pentol korek api. Kadang patahan sapu lidi.

1000 kali Qul Hu hanya amalan qauliyah pada 10 Muharram. Sedangkan amalan fi’liyahnya banyak. KH Hasbullah menyebutkan amalan sunah puasa, sembahyang, menyambung silaturahmi, mengunjungi orang alim, menjenguk orang sakit, bercelak mata, menyantuni anak yatim, mandi, potong kuku, dan memberikan belanja lebih bagi keluarga.

Ia lalu membaca sebuah syair yang ia hafal puluhan tahun, Sum Sholli Sil Zur Aliman ‘Ud Waktahil. Ro’sal Yatimimsah Tashoddaq Waghtasil. Wassi‘ Alal Iyal Qollim Zhufro. Wasurotal Ikhlasi Qul Alfan Tasil.

Sebenarnya membaca 1000 kali Qul Hu bisa dilakukan di rumah secara sendiri-sendiri. Tetapi dikerjakan berjamaah di masjid juga ada baiknya untuk mengajak warga beramal, tandas KH Hasbullah.

Dakwatul Islamiyah berada di gang H Midi kelurahan Pondok Pinang kecamatan Kebayoran Lama, Jakarta Selatan. Meskipun terletak di Pondok Pinang, desa Pondok Pinang Timur terisolir oleh kompleks Pondok Indah dan gedung raksasa di sekitarnya. (Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Ahlussunnah, Daerah Haedar Nashir

Jumat, 21 Oktober 2011

Sebelum Revisi, Seluruh Madrasah NU Diimbau Tak Gunakan Buku Kemenag

Jakarta, Haedar Nashir. Pengurus Pusat Lembaga Pendidikan Ma’aarif Nahdlatul Ulama menginstruksikan kepada seluruh madrasah yang ada di lingkungan Nahdlatul Ulama untuk tidak menggunakan Buku Ajar SKI Kelas VII MTs yang diterbitkan Kementerian Agama RI hingga mengalami revisi.

Imbauan ini dikeluarkan secara resmi LP Ma’arif NU menyusul beredarnya buku ajar tersebut yang memuat isu sentimen SARA yang dikhawatirkan memicu permusuhan. Pada halaman 13-14 tentang “Perbedaan Antara Kondisi Kepercayaan Masyarakat Makkah sebelum Islam dengan Masyarakat Sekarang”, buku itu dengan jelas menyebut umat Buddha dan Hindu sebagai penyembah berhala, dan kuburan wali sebagai berhala.

Sebelum Revisi, Seluruh Madrasah NU Diimbau Tak Gunakan Buku Kemenag (Sumber Gambar : Nu Online)
Sebelum Revisi, Seluruh Madrasah NU Diimbau Tak Gunakan Buku Kemenag (Sumber Gambar : Nu Online)

Sebelum Revisi, Seluruh Madrasah NU Diimbau Tak Gunakan Buku Kemenag

LP Ma’arif NU menilai, Surat Edaran Direktorat Jendral Pendidikan Islam Kemenag RI Nomor: SE/Dj.l/HK.00.7/133/2014 tertanggal 15 September 2014 tentang Perbaikan Redaksi Buku Pedoman Guru Mata Pelajaran Sejarah Kebudayaan Islam Madrasah Tsanawiyah Kelas VII secara substansi masih tidak berbeda dengan redaksi sebelumnya.

LP Maarif NU menyontohkan, di antaranya pada redaksi "Berhala dilakukan oleh agama selain Islam yaitu Hindu dan Budha" hanya diubah menjadi "Berhala dilakukan oleh kepercayaan lain"; "Berhala sekarang adalah kuburan wali" menjadi "Berhala sekarang adalah kuburan yang dianggap kramat"; dan "Istilah dukun berubah menjadi paranormal atau guru spiritual" menjadi "Istilah dukun berubah menjadi paranormal."

Haedar Nashir

"Surat Edaran tersebut adalah gerakan elit yang tidak menyentuh pada penyelesaian substansi persoalan," kata Ketua PP LP Ma’arif NU HZ Arifin Junaidi dalam siaran pers yang diterima Haedar Nashir, Rabu (17/9).

Selain mendesak pemerintah untuk merevisi dan menarik peredaran buku sejarah Islam ini, LP Ma’arif juga meminta pemerintah, dalam hal hal ini Kemenag, untuk meninjau ulang seluruh buku ajar keagamaan lainnya.

Haedar Nashir

Lembaga yang menangani urusan pengajaran formal di lingkungan NU itu juga menyebut buku ajaran SKI Kelas VII MTs telah menyinggung perasaan warga NU sebagai pendiri mayoritas madrasah di Tanah Air. Data statistik 2008/2009 Kemenag mengungkapkan, hanya 9 persen dari 40,469 madrasah di Tanah Air yang berstatus negeri, sementara sisanya adalah swasta. (Mahbib Khoiron)

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Nusantara, Amalan, Doa Haedar Nashir

Rabu, 19 Oktober 2011

Gus Sholah: NU Butuh Pemimpin Penata Organisasi

Jombang, Haedar Nashir. Pengasuh Pesantren Tebuireng Jombang KH Salahuddin Wahid mengatakan, NU butuh perbaikan organisasi agar menjadi kuat. Menurutnya NU adalah organisasi besar, namun karena tidak tertata dengan rapi, saat ini tampak tidak terlalu kuat.

Gus Sholah: NU Butuh Pemimpin Penata Organisasi (Sumber Gambar : Nu Online)
Gus Sholah: NU Butuh Pemimpin Penata Organisasi (Sumber Gambar : Nu Online)

Gus Sholah: NU Butuh Pemimpin Penata Organisasi

Demikian dikatakan adik kandung KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) saat ditemui di kediamannya, Pesantren Tebuireng, Kamis (19/2). Menurutnya yang paling mendesak dilakukan untuk NU ke dapan adalah perbaikan organisasi.

"Saya telah mengamati sejak tahun 1960an, NU itu besar. Tetapi tidak tertata dengan rapi sehingga tidak terlalu kuat," ujarnya.

Haedar Nashir

Untuk memperbaiki organisasi, diakuinya memang tidak mudah dilakukan. Menurut Gus Sholah perlu langkah langkah khusus untuk melakukan perbaikan organisasi tersebut.

Haedar Nashir

"Termasuk kalau perlu, NU harus belajar dari organisasi lain yang telah berhasil melakukan penataan organisasinya dengan baik," tambahnya.

Cucu pendiri NU KH Hasyim Asyari ini juga menilai, bahwa ghirah atau semangat untuk ber-NU, belakangan ini, semakin menurun. Maka ke depan, sosok ketua NU harus memiliki jiwa perjuangan terhadap jam’iyah, bukan memperjuangkan kepentingan pribadi.

"Kata kuncinya adalah memperjuangkan kepentingan NU, jangan memperjuangkan kepentingan person atau orang orang dari NU," tandasnya.

Terkait kesiapannya untuk dicalonkan menjadi Ketua Umum PBNU mendatang, mantan anggota Komnas HAM ini menyatakan, karena desakan berbagai pihak akhirnya dirinya bersedia untuk maju dicalonkan sebagai Ketua Umum PBNU dalam Muktamar NU ke 33 di Jombang Agustus mendatang.

"Dan saya sudah menyampaikan di beberapa forum yang dihadiri pengurus Wilayah maupun pengurus Cabang, saya bersedia dicalonkan sebagai ketua umum," pungkasnya. (Muslim Abdurrahman/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Sholawat Haedar Nashir

Senin, 17 Oktober 2011

Lesbumi Bojonegoro Gelar Roadshow Sastra Plataran

Bojonegoro, Haedar Nashir



Lembaga Seniman Budayawan Muslim Indonesia (Lesbumi) Kabupaten Bojonegororo menggelar roadshow Sastra Plataran untuk yang ketujuh kalinya, Kamis, (25/5) di Pendopo Kabupaten Bojonegoro.?

Lesbumi Bojonegoro Gelar Roadshow Sastra Plataran (Sumber Gambar : Nu Online)
Lesbumi Bojonegoro Gelar Roadshow Sastra Plataran (Sumber Gambar : Nu Online)

Lesbumi Bojonegoro Gelar Roadshow Sastra Plataran

Acara yang mengangkat tema Merajut Kebangsaan Meneguhkan NKRI ini dihadiri ratusan undangan.

Turut hadir dalam acara, Ketua PCNU Bojonegoro, Kholid Ubed, Bupati Bojonegoro, Suyoto, Kapolres Bojonegoro; Ketua FKUB, dan beberapa tamu undangan lainnya. Selain itu tampak juga beberapa seniman Bojonegoro yang tergabung dalam Kelompok Seniman Muda Bojonegoro (KSMB).

Roadshow Sastra Plataran ini diawali dengan tampilan dari Ikatan Seni Hadrah Indonesia (Ishari) Cabang Bojonegoro.?

Haedar Nashir

Dalam sambutannya, Fauzi, selaku Ketua Lesbumi Bojonegoro mengatakan bahwa selama ini sastra plataran telah rutin dilaksanakan setiap satu bulan sekali. Kegiatan yang dikemas dalam bentuk baca puisi ini menghadirkan puisi-puisi karya sastrawan ternama, seperti Gus Mus, WS Rendra, dan Emha Ainun Najib.

Di tempat yang sama, Kang Yoto--sapaan akrab Bupati Bojonegoro--juga sempat membacakan puisi dengan judul Ketika Kata Tak Lagi Menjadi Sakti. Selain itu, Kapolres Bojonegoro, ketua PD Muhammadiyah, Ketua FKUB juga turut serta membacakan puisi. Ketua PCNU Bojonegoro, Kholid Ubed juga tak mau kalah dengan ikut membacakan sebuah puisi berjudul Menjaga Indonesia.

Acara yang ditutup dengan lagu Padamu Negeri menjadi pelengkap dalam acara roadshow sastra plataran bulan ini. [Muhajir/Mukafi Niam]

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir

Haedar Nashir Ulama, AlaNu, Aswaja Haedar Nashir

Jumat, 30 September 2011

Berkah Pesantren, Allah Mudahkan Rezeki Orang Tua

Subang, Haedar Nashir. Allah akan memberikan kemudahan rezeki bagi orang tua yang sungguh-sungguh menyuruh anaknya mencari ilmu agama. Contohnya seorang warga Buntet, Astanajapura, Cirebon yang mempunyai enam anak.

Hal ini disampaikan KH Tb. Ahmad Rifqi, Pengasuh Darussalam Buntet Pesantren Cirebon kepada Haedar Nashir melalui sambungan telepon, Jumat (22/8)

Berkah Pesantren, Allah Mudahkan Rezeki Orang Tua (Sumber Gambar : Nu Online)
Berkah Pesantren, Allah Mudahkan Rezeki Orang Tua (Sumber Gambar : Nu Online)

Berkah Pesantren, Allah Mudahkan Rezeki Orang Tua

"Di Buntet itu, di Buntetnya bukan pesantrennya, ada orang tua yang mata pencahariannya mesantrenin anak,” terang putera KH Chowas Nuruddin itu.

Haedar Nashir

Kiai yang akrab disapa Kang Tus itu mengisahkan tentang kondisi ekonomi orang tua yang cukup memprihatinkan, namun ketika anaknya dikirim ke pesantren untuk menuntut ilmu, perlahan, tapi pasti, kondisi ekonominya mulai merangkak naik.

Haedar Nashir

"Orang tuanya tidak bekerja, serabutanlah, terus anak pertama dikirim ke pesantren Ploso, lho, kok rizqi jadi mudah. Anak kedua dipesantrenin lagi ke Sarang, malah tambah mudah rizqinya. Anak ketiga di pesantrenin lagi ke Kediri jadi haji itu orang. Jadi usahanya itu ya mesantrenin anak. Masya Allah, barokah Pesantren," paparnya.

Kang Tus melanjutkan, akhirnya keenam anak dari orang yang tidak disebutkan namanya itu semuanya dikirim ke Pesantren Ploso, Kediri dan Sarang untuk menuntut ilmu di sana. “Akhirnya tetangga-tetangganya ngikutin dia, anak-anaknya dipesantrenin," pungkasnya. (Aiz Luthfi/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Hadits Haedar Nashir