Senin, 30 September 2013

Jamsaren: Pesantren Tertua di Surakarta

Bila Pondok Pesantren Jamsaren diklaim sebagai pondok pesantren tertua di Pulau Jawa, barangkali memang ada benarnya. Sebab, pondok pesantren yang berlokasi di Jalan Veteran 263 Serengan Solo ini sudah berdiri sekitar tahun 1750.

Semula, pondok pesantren yang didirikan pada masa pemerintahan Pakubuwono IV ini hanya berupa surau kecil. Kala itu, PB IV mendatangkan para ulama, di antaranya Kiai Jamsari (Banyumas), Kiai Hasan Gabudan dan lain sebagainya. Nama Jamsaren itu juga diambil dari nama kediaman Kiai Jamsari yang kemudian diabadikan hingga sekarang.

Jamsaren: Pesantren Tertua di Surakarta (Sumber Gambar : Nu Online)
Jamsaren: Pesantren Tertua di Surakarta (Sumber Gambar : Nu Online)

Jamsaren: Pesantren Tertua di Surakarta

Namun sayangnya, meskipun pernah disinggahi banyak ulama besar Ahlussunnah wal Jamaah (Aswaja), Pondok Jamsaren hampir tak terlihat lagi kultur ke-Aswajaannya. Hal ini menurut penghulu kraton disebabkan karena pada perkembangannya jarang ada ulama, khususnya dari golongan ulama Aswaja, yang mau mendekat ke kraton, seperti yang dilakukan wali songo atau ulama kraton zaman dulu.

“Ada semacam terputusnya rantai mata sejarah pada pondok ini,” kata Tafsir Anom, KRT Muh. Muhtarom kepada Haedar Nashir, Sabtu (9/2) lalu.

Haedar Nashir

Pondok Jamsaren juga pernah mengalami masa vakum. Vakumnya pondok pada 1830 disebabkan terjadinya operasi tentara Belanda. Operasi itu dimulai lantaran Belanda kalah perang dengan Pangeran Diponegoro pada 1825 di Yogyakarta. Karena kalah, Belanda melancarkan serangkaian tipu muslihat dan selanjutnya berhasil menjebak Pangeran Diponegoro. Karena itu pada 1830, para kiai dan pembantu Pangeran Diponegoro di Surakarta dan PB VI bersembunyi dan keluar dari Surakarta ke daerah lain, termasuk Kiai Jamsari II (putra Kiai Jamsari) dan santrinya.

Haedar Nashir

Setelah sekitar 50 tahun kosong, seorang kiai alim dari Klaten yang merupakan keturunan pembantu Pangeran Diponegoro, Kiai H Idris membangun kembali surau, yang kemudian menjadi pesanren, tersebut. Bangunan pondok dibuat lebih lengkap dan diperluas dari kondisi semula. Bersamaan itu pula Sunan Pakubuwono X mendirikan Madrasah,yang diberi nama Madrasah Mambaul Ulum Surakarta.

Materi yang diajarkan adalah kitab-kitab klasik (kitab kuning) berbahasa Arab dan diterjemahkan dengan bahasa Jawa Pegon (bahasa yang disesuaikan dengan susunan bahasa Arab), seperti Nahwu Shorof, Tajwid, Qiroah, Tafsir, Fiqh, Hadits, Mantiq, Tarikh dan Tasawwuf. Metode pengajaran pun dengan cara sorogan (maju satu per satu), sebagian yang lain dengan cara wekton atau blandongan (cara berkelompok), masing-masing membawa kitab sendiri.

Para santri tidak hanya datang dari Solo sekitar, tetapi juga datang dari daerah lain di Pulau Jawa, di antaranya Tegal, Semarang, Banten, Jombang, dan Mojokerto. Pada 1908, mushala pondok pesantren diganti dengan bangunan masjid tembok dan berlangsung hingga sekarang. Pada 1913, sistem pengajian sorogan diganti dengan sistem kelas.

Mencetak Ulama dan Pemimpin Besar

Dalam perkembangannya, pada tahun 1923 M, KH. Idris wafat (dimakamkan di pajang Makam Haji) kemudian diganti oleh KH. Abu Amar (Kyai Jamsari/Kyai Ngabei projowijoto). Pada tahun 1965 KH.Abu Umar wafat. Beliau digantikan oleh putranya, yang salah satunya di ganti oleh KH. Ali Darokah sebagai ketua.

Pondok jamaren mulai thun 1965-1997, secara langsung dipimpin oleh KH. Ali Darokah yang dibantu oleh pengurus pondok. dimana struktur pondok terdiri dari lurah pondok, sekretaris. bendahara, wali santri pondok, staf pengajar, staf keamanan, dan staf dakwah. Pada tanggal 8 juli 1997 KH. Ali Darokah wafat. Sepeninggal beliau pengelolaan Pondok diserahkan kepada pengurus harian pondok dan pengurus pelaksana harian pondok.

Pada periode ini selain pengajian sistem kelas dengan materi pelajaran agama juga diberi materi pelajaran umum untuk menunjang prestasi santri. Pada tahun pertama santri diwajibkan untuk menghapal juz Amma sebagai alah satu bekal santri dalam kehidupan bermasyarakat kelak. 

Sebagai salah satu institusi pendidikan yang telah ditempa oleh perubahan zaman selama berpuluh-puluh tahun, maka dalam mensikapi dunia pendidikan pada dekade ini. Pondok Pesantren Jamsaren menawarkan suatu alternatif sitem pendidikan dimana santri digembleng dengan pengetahuan pendidikan agama islam di pesantren, di sisi lain santri menuntut ilmu pengetahuan umum di sekolah formal dengan harapan agar kelak menjadi profesional muda yang berjiwa Ulama dan pemimpin yang berguna bagi bangsa, agama dan negara.

Beberapa nama besar pernah lahir dari pondok ini, di antaranya Munawir Sazali (mantan Menteri Agama RI) dan Miftah Farid (Ketua MUI Jabar). Dalam perkembangannya, Pondok Pesantren Jamsaren kemudian bekerja sama dengan Yayasan Perguruan Al-Islam Surakarta. (Ajie Najmuddin)

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Khutbah, AlaSantri Haedar Nashir

Selasa, 17 September 2013

Mendokumentasikan Kisah Ajengan dari Mulut ke Mulut

Penulisan sejarah hidup dan perjuangan ajengan Sunda (Jawa Barat) masih terbilang langka, termasuk di Cianjur. Padahal daerah tersebut banyak melahirkan ajengan yang memiliki jaringan kaliber nasional, bahkan yang dikenal sampai mancanegara.

Perjuangan para ajengan yang senantiasa menjadi pemimpin dan panutan masyarakat tidak kecil. Selain mencerdaskan masyarakat, mereka juga bahkan memperjuangankan dan merebut kemerdekaan. Namun, sekali lagi, peran para ajengan tersebut masih dalam cerita lisan.?

Oleh karena itulah Rudy Asyarie dan Ending Bahrudin mengupayakan menuliskannya pada buku berjudul “Ulama Jumhur dari Cianjur”. Menurut penulis buku tersebut, pada pengantarnya, memamg sejarah dan perjuangan ajengan terus hidup karena diceritakan dari mulut ke mulut.

Mendokumentasikan Kisah Ajengan dari Mulut ke Mulut (Sumber Gambar : Nu Online)
Mendokumentasikan Kisah Ajengan dari Mulut ke Mulut (Sumber Gambar : Nu Online)

Mendokumentasikan Kisah Ajengan dari Mulut ke Mulut

Namun, cerita tersebut dikenal terbatas pada lingkup keluarga pesantren dan para santrinya. Sebagian ada yang dituliskan dalam bentuk selebaran yang dibuat pada momentum haul seorang ajengan, sebagian di beberapa media cetak dan daring. (hal. Xiiv)

Kedua penulis mengaku mendasarkan penulisannya pada sumber tersebut, pihak keluarga dan para santri ajengan-ajengan tersebut.?

Haedar Nashir

Buku menyebutkan, sebetulnya Cianjur dihuni manusia sejak 3000-4000 tahun lalu. Bukti keberadaannya adalah situs gunung Padang, berupa bukit batu megalitikum. Hanya punden berundak itu yang menunjukkan adanya ciri-ciri bahwa manusia pernah ada waktu itu.

Kemudian penulis menarik sejarah pendirian Cianjur dari masa datangnya Dalem Cikundul atau dikenal sebagai Raden Aria Waratanudatar I. Ia adalah putra dari Wangsa Goparana, keturunan Prabu Siliwangi yang telah memeluk agama Islam.?

Raden Aria Waratanudatar I mendapatkan tugas dari ayahnya untuk menyebarkan Islam ke wilayah Priangan Barat dengan menetap di daerah Cianjur sekarang. Ia hijrah ke daerah itu dengan membawa sekitar 313 kepala keluarga.?

Haedar Nashir

Sebelumnya, ia pernah nyantri di sebuah pesantren di Gunung Jati, Cirebon. Sehingga suasana keberagamaan Islam di wilayah barunya itu sangat terasa karena dipimpin seorang dalem yang ahli agama. Dalem inilah yang kemudian banyak melahirkan kiai. (hal 8-10).?

Buku ini memuat 25 profil ajengan. Mereka adalah kiai yang lahir di Cianjur dan menyebarkan agama di Cianjur seperti Mama Ajengan KH Ahmad Syatibi, beberapa kiai kelahiran Cianjur yang terkenal di luar daerah seperti Mama Ajengan KH Abdullah bin Nuh, kiai yang dibuang Belanda ke Cianjur yaitu KH Asnawi Banten, kiai kelahiran daerah lain yang terkenal yang sebelumnya pernah berguru di Cianjur seperti KH Sohibul Wafa Tajul Arifin (Abah Anom), serta kiai dari luar negeri (Singapura) yang memiliki hubungan dengan Cianjur, Guru Haji Isa.?

Salah satu kiai dalam buku tersebut adalah Mama Ajengan Syatibi. Ia adalah guru dari ajengan-ajengan Jawa Barat. Silsilah leluhur terhubung kepada Rasulullah SAW karena masih keturunan Syekh Abdul Muhyi Pamijahan, Tasikmalaya.?

Pada masa nyantrinya, Mama Ajengan Syatibi dikenal cerdas. Pada usia 16 tahun, ia berguru kepada Mama Ajengan Adzro’i, Garut. Di pesantren tersebut ia mampu menghafalakan kitab Nadhom Al-Maqsud, Kailany, Amrity, Alfiyah ibnu Malik, Samarqandy, Jauhar Maknun, dalam waktu 40 hari.?

Mama Syatibi kemudan berguru kepada Mama Gudang, Tasikmalaya, selama 9 tahun. Kemudian melanjutkan pencarian ilmunya ke tanah suci Makkah, kepada Syekh Hasbullah.?

Ada cerita kecerdasan Mama Syatibi ketika berguru kepada Syekh Hasbullah. Suatu ketika, Syekh Hasbullah meminta semua muridnya untuk meneliti kitab Tuhfatu Muhtaj kemudian menuangkan penelitian tersebut dalam bentuk catatan. Para muridnya mengikuti anjuran tersebut, termasuk Mama Syatibi.?

Keesokan harinya, Syekh Hasbullah memeriksa buku muridnya. Ia tertegun ketika mendapati catatan Mama Syatibi.?

Kemudian Syekh Hasbullah mengatakan kepada murid-muridnya bahwa pengajian kitab Tuhfatul Muhtaj dibatalkan karena ia harus berguru terlebih dahulu kepada Mama Syatibi. (hal. 26)

Namun sayangnya, buku tersebut tidak melacak secara detil tahun-tahun penting dan karya para ajengan tersebut. Serta banyak salah ketik yang tidak perlu, yang tentunya mengganggu pembaca. Dan tentu saja, sebagaimana diakui penulisnya, masih banyak fragmen hidup kiai yang ditulis yang tidak tercantum. Juga ajengan-ajengan lain yang belum termasuk dalam buku tersebut.?

DATA BUKU

Judul : Ulama Jumhur dari Cianjur

Penulis ? ? ? ? : Rudy Asyarie dan Ending Bahrudin

Penerbit : Yaspumah Cianjur

Cetakan 1 : 2016?

ISBN : -

Tebal : 120 halaman

Peresensi : Abdullah Alawi

?

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Kajian Islam, Pesantren, Nasional Haedar Nashir

Jumat, 06 September 2013

Khofifah Ditetapkan Pimpin Muslimat NU 2016-2021

Jakarta, Haedar Nashir

Khofifah Indar Parawansa kembali terpilih menjadi Ketua Umum Pimpinan Pusat Muslimat Nahdlatul Ulama periide 2016-2021. Ia memimpin salah satu badan otonom NU tersebut untuk keempat kalinya dengan cara aklamasi di Asrama Haji Pondok Gede, Jakarta, pada Jumat (25/11).

Khofifah Ditetapkan Pimpin Muslimat NU 2016-2021 (Sumber Gambar : Nu Online)
Khofifah Ditetapkan Pimpin Muslimat NU 2016-2021 (Sumber Gambar : Nu Online)

Khofifah Ditetapkan Pimpin Muslimat NU 2016-2021

Menteri Sosial RI tersebut langsung ditetapkan Pimpinan Sidang Laporan Pertanggungjawaban (LPJ) Pimpinan Pusat Muslimat NU 2011-2016 Hj Mahfudloh Ali Ubayd. Pada pukul 01.53, Mahfudloh mengetuk palu sidang tiga kali sebagai penanda sahnya Khofifah menjadi Ketua Umum.

Sebelumnya, seluruh Pimpinan Wilayah menerima tanpa syarat LPJ tersebut. Para Ketua PW juga menyatakan bahwa Pimpinan Cabang di wilayahnya menerima LPJ tersebut sekaligus meminta Khofifah memimpin kembali.

Haedar Nashir

Bukti penerimaan dan dukungan tersebut disampaikan Ketua Pimpinan Wilayah dengan menyerahkan berkas tertulis kepada Pimpinan Sidang. Penerimaan dan permintaan tersebut termasuk dari Pimpinan Cabang Istimewa Muslimat NU Malaysia, Sudan, dan Arab Saudi. (Abdullah Alawi)

Haedar Nashir

?

?

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Pesantren, Olahraga, Nahdlatul Haedar Nashir

Jumat, 16 Agustus 2013

NU Pacitan Kirim Bantuan di 12 Kecamatan Terdampak Musibah

Pacitan, Haedar Nashir. PCNU Pacitan kembali mendistribusikan bantuan kepada warga terdampak musibah di dua belas kecamatan di Pacitan. Bantuan diserahkan langsung kepada pengurus MWC-NU dan Banomnya dan kemudian disalurkan kepada warga.

NU Pacitan Kirim Bantuan di 12 Kecamatan Terdampak Musibah (Sumber Gambar : Nu Online)
NU Pacitan Kirim Bantuan di 12 Kecamatan Terdampak Musibah (Sumber Gambar : Nu Online)

NU Pacitan Kirim Bantuan di 12 Kecamatan Terdampak Musibah

Saat pemberangkatan distribusi bantuan di halaman Pendopo Kabupaten Pacitan, Sabtu pagi (23/12). Ketua PCNU KH Mahmud melaporkan, bantuan yang disalurkan ini merupakan bentuk pertanggungjawaban amanah dari warga masyarakat yang turut membantu korban musibah di Pacitan. 

"Sejak musibah  banjir 28 November lalu, NU Pacitan mendirikan posko NU-Care dan LazizNU. Sejak itu bantuan terus mengalir dari warga NU dan masyarakat Jawa Timur, Jawa Tengah, Jawa Barat, Luar Jawa, bahkan ada dari luar negeri seperti PCINU Hongkong dan Taiwan," katanya.

Kiai Mahmud berterima kasih atas keterlibatan semua pihak yang memiliki kepedulian dan solidaritas tinggi kepada warga yang tertimpa musibah. Selama posko berdiri, PCNU Pacitan menerima berbagai jenis bantuan. Tak terkecuali bantuan dana. "Hingga hari ini pelaporan kita buat. Total dana yang masuk adalah Rp883.025.600 hampir satu miliar. Alhamdulillah," katanya.

Haedar Nashir

Sesuai dengan arahan pengurus NU dan pemerintah kabupaten, dana tersebut akan disalurkan untuk membantu perbaikan fasilitas umum yang bersifat keagamaan.

"Dana ini akan kita salurkan kepada fasilitas umum yang berkaitan dengan keagamaan, seperti masjid, Madrasah Diniyah, MTs Maarif, dan fasilitas umum lainnya," jelasnya.

Selain menyalurkan bantuan logistik, PCNU juga kembali mengirimkan ratusan relawan dari anggota Banser. Mereka membantu di daerah terdampak bencana.

"Hari ini hadir di tengah kita, ratusan anggota Banser dari berbagai daerah di Jawa Timur yang turut membantu di daerah terdampak bencana di Desa Nglinggangan Kecamatan Pringkuku," imbuhnya.

Kiai Mahmud menyampaikan apresiasi yang tinggi atas kesiapsiagaan Banser selama musibah melanda Pacitan. 

Haedar Nashir

Tampak dalam pemberangkatan distribusi bantuan, sejumlah pengurus PCNU, lembaga dan Badan Otonomnya.

Wakil Bupati Pacitan Yudhi Sumbogo. Selanjutnya, bantuan tersebut dikirim ke seluruh kecamatan dengan menggunakan beberapa kendaraan. (Zaenal Faizin/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Habib, IMNU Haedar Nashir

Rabu, 07 Agustus 2013

Kalau Tak Diridhai Allah, NU Pasti Sudah Bubar

Jakarta, Haedar Nashir - Pimpinan Wilayah Ikatan Pelajar Nahdhatul Ulama (IPNU) Daerah Istimewa Yogyakarta sowan kepada Ketua Umum PBNU KH Said Aqil Siroj. Mereka diterima di gedung PBNU, Jakarta Jumat sore (5/2).

Wakil Ketua IPNU PW DI Yogyakarta Muhammad Saiful Al Ayyubi mengatakan maksud kedatangannya adalah memintawejangan, dan nasihat Kiai Said. “IPNU Yogya ingin lebih aktif lagi dan sekaligus memperkenalkan pengurus baru masa khidmah 2015-2018,” jelas pimpinan rombongan tersebut.

Kalau Tak Diridhai Allah, NU Pasti Sudah Bubar (Sumber Gambar : Nu Online)
Kalau Tak Diridhai Allah, NU Pasti Sudah Bubar (Sumber Gambar : Nu Online)

Kalau Tak Diridhai Allah, NU Pasti Sudah Bubar

Mahasiswa Universitas Islama Negeri Sunan Kalijaga tersebut menambahkan, salah satu permasalahan utama yang dihadapi IPNU Yogyakarta adalah minimnya kader dari Yogya sendiri. Kebanyakan penggeraknya adalah mahasiswa dari berbagai kota.

Menanggapi hal itu, kiai yang akrab disapa Kang Said menyampaikan beberapa hal. Menurut dia, peran IPNU di sekolah-sekolah umum harus lebih ditingkatkan, meningkatkan kewaspadaan dalam menghadapi isu-isu yang sedang berkembang, terus memelihara kearifan lokal yang ada selama tidak bertentangan dengan prinsip dasar Islam. ?

Haedar Nashir

“Kalau NU tidak diridhai oleh Allah, pasti sudah bubar. Dan yakinlah apa yang kita lakukan untuk NU itu tidak akan sia-sia,” tegas Kiai Said.

Haedar Nashir

Mmenurut dia, buktinya hingga hari ini NU masih tegak berdiri dan semakin besar. Tentu saja seharusnya diiringi semakin besar perannya bagi umat dan bangsa.

Kiai kelahiaran Cirebon ini juga menyinggung Islam Nusantara. Ia menegaskan kepada pelajar NU akan pentingnya menerapkan Islam Nusantara yang ramah, toleran dan menerima budaya lokal.

Karena, lanjutnya, sekarang sangat marak aliran-aliran baru masuk ke Indonesia dan mengusung paham radikalisme agama, sering menyalahkan pihak lain bahkan mengkafirkan. Hal tersebut tidak sesuai dengan agama dan kepribadian bangsa Indonesia. (Ahmad Muchlishon/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Kajian, Santri Haedar Nashir

Senin, 05 Agustus 2013

“Ya Ahlal Wathan” Jadi Syarat Ketua Pagar Nusa Kartasura

Sukoharjo, Haedar Nashir - M Arief Boy Widyanto terpilih sebagai Ketua baru pengurus Pencak Silat Nahdlatul Ulama (PSNU) Pagar Nusa Anak Cabang Kartasura, Kabupaten Sukoharjo, Jawa Tengah. Pria yang akrab disapa Kang Boy itu meneruskan estafet kepemimpinan yang sebelumnya dipegang Ghulam Abdurrahman.

Pada Konferensi Anak Cabang (Konferancab) Kartasura yang digelar di Baturetno Wonogiri, selama dua hari, Sabtu-Ahad (4-5/3), selain Kang Boy, kandidat lain yang maju untuk menajdi calon ketua, yakni Salim Ukhrowi dan Abid Nurtajjali.

“Ya Ahlal Wathan” Jadi Syarat Ketua Pagar Nusa Kartasura (Sumber Gambar : Nu Online)
“Ya Ahlal Wathan” Jadi Syarat Ketua Pagar Nusa Kartasura (Sumber Gambar : Nu Online)

“Ya Ahlal Wathan” Jadi Syarat Ketua Pagar Nusa Kartasura

Yang unik, para calon diberikan beberapa syarat, salah satunya dapat menyanyikan lagu Indonesia Raya dan Ya Ahlal Wathan. Usai beberapa syarat yang lain dipenuhi, dilanjutkan dengan proses pemilihan, yang dilakukan secara terbuka.

Pada akhirnya, mayoritas peserta konferensi memilih Boy untuk menjadi ketua baru Pagar Nusa Kartasura. Dalam sambutannya, Boy meminta agar semua pihak turut mendukung dalam kepengurusan yang ia pimpin.

Haedar Nashir

Haedar Nashir

"Terima kasih kepada sedulur semua, yang telah mengamanati saya sebagai nahkoda kepengurusan Pagar Nusa Kartasura ini, semoga sedulur-sedulur juga ikut membantu dan berperan aktif dalam pengembangan Pagar Nusa Kartasura ini,” kata dia.

Boy juga memaparkan keinginannya, yakni membuat Pagar Nusa semakin mendunia. (Ajie Najmuddin/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Hikmah, News Haedar Nashir

Minggu, 04 Agustus 2013

Prihatin Bencana, GP Ansor Bangkalan Ziarahi Makam Para Wali

Bangkalan, Haedar Nashir. Pimpinan Cabang Gerakan Pemuda Ansor Kabupaten Bangkalan, Jawa Timur, menggelar doa bersama ziarah menyusul keprihatinan mereka atas becana yang melanda Indonesia belakangan ini. Sebanyak 240 peserta kegiatan ini mengunjungi enam makam wali di Jatim dari Syaikhona Kholil Bangkalan hinga Sunan Maulana Malik Ibrahim Gresik.

Rombongan peziarah merampungkan kegiatan ini Ahad (16/20) dini hari sejak pemberangkatan pada Sabtu pagi. Mereka terdiri dari perwakilan Pimpinan Anak Cabang GP Ansor se-Bangkalan dan Pimpnan Cabang GP Ansor Bangkalan sendiri.

Prihatin Bencana, GP Ansor Bangkalan Ziarahi Makam Para Wali (Sumber Gambar : Nu Online)
Prihatin Bencana, GP Ansor Bangkalan Ziarahi Makam Para Wali (Sumber Gambar : Nu Online)

Prihatin Bencana, GP Ansor Bangkalan Ziarahi Makam Para Wali

Di sejumlah makam tersebut, para pemuda NU ini berdoa untuk keselamatan bangsa secara umum. Mereka juga memanjatkan doa untuk kesuksesan Pemilu 2014 yang sebentar lagi akan dilaksanakan.

Haedar Nashir

“Kita punya kepentingan terhadap keselamatan bangsa dan suksesnya pemilu karena bagaimanapun juga ini terkait masa depan bangsa kita secara keseluruhan,” ujar Ketua PC GP Ansor Bangkalan Hasani Zubair.

Hasani mengatakan, GP Ansor Bangkalan ingin kegiatan ini mampu mendorong generasi muda NU tetap istiqamah dengan praktik keagamaan ala Ahlusunnah wal Jamaah.? Atas suksesnya program ziarah dan doa bersama ini, pihaknya mengucapkan terima kasih kepada semua anak cabang yang telah berpartisipasi meskipun waktu persiapan yang cukup singkat. (Red: Mahbib)

Haedar Nashir

Foto: suasana tahlil di makam Syaikona Kholil Bangkalan

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Daerah Haedar Nashir