Sabtu, 25 November 2017

Mengapa Kita Harus Biasakan Panggil Gus untuk Kiai Muda?

Saat khataman buku Khazanah Aswaja bersama Majelis Dzikir dan Shalawat Rijalul Ansor Kabupaten Jombang di PP Al Muhsinin yang diasuh Habib Muhammad bin Salim Assegaf, Jumat (16/6).

Salah satu penulis buku, Khazanah Aswaja, Ustad Yusuf Suharto cerita pengalamannya bersama KH Soleh Qosim Sidoarjo. Pengurus LTM NU Pusat sekaligus Aswaja Center Jatim.

? ’’Saat mengenalkan kami para pengurus Aswaja Center yang muda-muda, Kiai Soleh Qosim selalu menyebut kami dengan panggilan kiai,” ujar Ust Yusuf pengurus Aswaja Center Jatim ini.

Mengapa Kita Harus Biasakan Panggil Gus untuk Kiai Muda? (Sumber Gambar : Nu Online)
Mengapa Kita Harus Biasakan Panggil Gus untuk Kiai Muda? (Sumber Gambar : Nu Online)

Mengapa Kita Harus Biasakan Panggil Gus untuk Kiai Muda?

Alumni Pesantren Mambaul Ma’arif Denanyar Jombang ini pun penasaran dengan hal itu.’’Saya lalu bertanya. Kami ini kan masih muda-muda, kok sudah dipanggil kiai," ujarnya bertanya.

Kiai Soleh Qosim kemudian menjawab enteng. “ Minhum (golongan diluar NU) itu hapal sedikit ayat dan hadist sudah dipanggil ustadz. Di kita itu antrenya jadi kiai kelamaan. Bahkan antrean disebut gus (panggilan kiai muda) untuk dipanggil kiai saja sangat panjang. Sampai-sampai ada gus yang walaupun sudah tua tetap tidak dipanggil kiai,” paparnya.?

Pertimbangan tersebut sangat masuk akal. Makanya Ustad Abbas Lc, ? yang juga pengurus Rijalul Ansor Jombang ketika memandu sesi berikutnya langsung memperkenalkan Ketua Rijalul Ansor Kabupaten Jombang Gus Latif Malik Lc, sebagai Kiai Latif. ? Juga terhadap Ketua Rijalul Ansor Pusat, Gus Aam, diperkenalkan sebagai Kiai Sholahul Am Notobuwono.

Alasan lain memanggil gus terhadap kiai muda juga sudah sering kita dengar dikalangan Ansor. Seperti yang disampaikan Toni Syaifuddin, Ketua PAC GP Ansor Kecamatan Kesamben yang juga salah satu pengurus PC GP Ansor Jombang. Saat memanggil pengurus yang lain, beliau selalu mengawali dengan panggilan Gus.?

Haedar Nashir

“Gus itu adanya hanya di NU. Kalau bukan kita yang mengakrabkan panggilan itu, lalu siapa lagi?,” ujarnya saat ditanya alas an memanggil Gus pada pengurus Ansor.?

Haedar Nashir

"Jadi memanggil Gus untuk kiai muda itu merupakan salah satu cara syiar ke-NU-an,” jelasnya enteng. (Muslim Abdurrahman)

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Warta, Kajian, Berita Haedar Nashir

Sosialisasikan PUP, Pemkab Probolinggo Rangkul Muslimat NU

Probolinggo, Haedar Nashir. Sedikitnya 100 orang pengurus Muslimat NU di Kabupaten Probolinggo mengikuti kegiatan sosialisasi Pendewasaan Usia Perkawinan (PUP) dari Badan Pemberdayaan Perempuan dan Keluarga Berencana (BPPKB) Kabupaten Probolinggo, Selasa (10/11).

Badan otonom (banom) PCNU Kabupaten Probolinggo ini dipimpin langsung oleh Ketua Pimpinan Cabang Muslimat NU Kabupaten Probolinggo Hj. Nurayati. Selama kegiatan mereka mendapatkan materi dari Kantor Kemenag Kabupaten Probolinggo dan BPPKB Kabupaten Probolinggo.

Sosialisasikan PUP, Pemkab Probolinggo Rangkul Muslimat NU (Sumber Gambar : Nu Online)
Sosialisasikan PUP, Pemkab Probolinggo Rangkul Muslimat NU (Sumber Gambar : Nu Online)

Sosialisasikan PUP, Pemkab Probolinggo Rangkul Muslimat NU

Kepala BPPKB Kabupaten Probolinggo Hj Endang Astuti mengatakan Muslimat dan Fatayat NU merupakan organisasi kemasyarakatan yang sangat strategis karena memiliki struktur dari cabang hingga ranting.

Haedar Nashir

“Pertemuan yang dilakukan bersifat rutin dan sangat dekat dengan masyarakat. Sehingga bisa menjadi media yang sangat efektif untuk merubah mindset, khususnya orang tua yang kurang memperhatikan pendidikan untuk anak-anaknya,” ungkapnya.

Haedar Nashir

Menurut Endang, melalui Muslimat NU dan Fatayat NU ini diharapkan orang tua bisa mendapatkan dampaknya. Sebab kebanyakan banyak pernikahan dini di usia muda yang berakhir dengan perceraian karena dilakukan karena kehendak orang tua.

“Minimal pengurus Muslimat dan Fatayat NU menjadi contoh yang paling awal untuk memperhatikan usia yang ideal bagi anggota keluarganya. Harapannya, mereka tidak hanya melakukan syiar agama Islam, tetapi juga merespon isu-isu kekinian tentang permasalahan yang dihadapi oleh Pemerintah Daerah,” tegasnya.

Sementara Ketua PC Muslimat NU Kabupaten Probolinggo Hj Nurayati menyambut baik upaya dari Pemkab Probolinggo yang mau merangkul Muslimat dan Fatayat NU agar bisa bersama-sama mensosialisasikan PUP kepada masyarakat dalam rangka menurunkan angka pernikahan dini di Kabupaten Probolinggo.

“Ini merupakan sebuah kepercayaan yang sangat besar. Mudah-mudahan kami mampu menjalankan amanah ini dengan terus memberikan sosialisasi kepada masyarakat tentang pentingnya menikah pada usia yang ideal,” katanya. (Syamsul Akbar/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Pahlawan, Warta Haedar Nashir

Santri Harus Adaptasi Lingkungan dan Perubahan

Jakarta, Haedar Nashir. Pesantren merupakan lembaga pendidikan tertua di Indonesia. Meskipun begitu, di era serba modern ini, santri juga tak boleh ketinggalan. Hal inilah yang dipesankan oleh Menteri Riset dan Teknologi dan Pendidikan Tinggi, M Nasir.

“Santri zaman sekarang itu harus mampu beradaptasi dengan lingkungan dan perubahan yang terus maju,” katanya usai acara Santri of The Year 2017 di Galeri Nasional, Jakarta, Ahad (22/10).

Santri Harus Adaptasi Lingkungan dan Perubahan (Sumber Gambar : Nu Online)
Santri Harus Adaptasi Lingkungan dan Perubahan (Sumber Gambar : Nu Online)

Santri Harus Adaptasi Lingkungan dan Perubahan

Mantan Rektor Universitas Diponegoro itu juga menyampaikan, bahwa santri juga harus menguasai berbagai bidang.

“Sebagai santri harus makin pinter, harus makin modern ke depan. Sains dan teknologi harus dikuasai,” ujarnya.

M Nasir didapuk untuk memberikan penghargaan kepada KH Abdul A’la atas terpilihnya sebagai Santri Inspiratif bidang pendidikan. Kiai asal Madura itu memperoleh poling terbanyak. Ia merupakan rektor UIN Sunan Ampel Surabaya. (Syakirnf/Kendi Setiawan)

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir

Haedar Nashir Habib Haedar Nashir

Zakat sebagai Wahana Redistribusi Harta Kekayaan

Ramadhan, selain identik dengan bulan puasa, mengingatkan Muslim untuk membayar zakat, sekalipun tidak ada ketentuan bahwa zakat harus dibayarkan pada Ramadhan, kecuali zakat fitrah. Lembaga-lembaga pengelola zakat, infak, dan sedekah pada bulan ini meningkatkan kampanyenya tentang membayar salah satu rukun Islam itu. Di antara rukun Islam yang lima, mungkin zakat menjadi kewajiban yang paling tidak populer dan paling rendah pemenuhannya, khususnya zakat mal.

Memang berat untuk menyisihkan sebagian harta yang kita cari dengan susah payah. Apalagi dalam masyarakat yang semakin mengagungkan materialisme. Bukannya berbagi dengan orang lain, pikiran yang ada dalam banyak kepala orang adalah kalau bisa terus menumpuk harta, yang tiada batas kepuasannya. Tak ada batas untuk keserakahan. Rasulullah pernah membuat sebuah ibarat, jika kita memiliki satu gunung emas, kita menginginkan yang kedua, ketiga, dan seterusnya.

Zakat sebagai Wahana Redistribusi Harta Kekayaan (Sumber Gambar : Nu Online)
Zakat sebagai Wahana Redistribusi Harta Kekayaan (Sumber Gambar : Nu Online)

Zakat sebagai Wahana Redistribusi Harta Kekayaan

Bukti dari rendahnya pembayaran zakat terlihat dari, hanya segelintir Muslim kaya atau superkaya yang secara rutin mengeluarkan zakat mal-nya dan diketahui oleh publik. Qur’an dan hadits secara khusus menyebut beberapa nama orang kaya yang enggan membayar kewajiban zakat, di antaranya adalah Qarun dan Tsa’labah. Khalifah Abu Bakar Asshiddiq dengan tegas memerangi orang yang tidak mau membayar zakat.

Muslim Indonesia merasa lebih bangga jika bisa melakukan umrah berkali-kali atau bahkan merutinkannya setiap tahun sekali, sekalipun statusnya sebagai ibadah sunnah. Dulu ketika antrean haji belum begitu mengular, hal yang lumrah bagi orang berpunya untuk menunaikannya lebih dari satu kali. Perilaku inilah yang dikritik dengan tajam oleh KH Ali Musthofa Ya’kub, pakar hadits di Indonesia sebagai haji pengabdi setan.

Haedar Nashir

Mengapa begitu? Karena dengan menggunakan uangnya untuk ibadah haji, ia tidak memperuntukkannya pada hal-hal yang lebih bermanfaat bagi masyarakat umum. Ia tetap membiarkan keluarga atau tetangganya miskin, ia tetap membiarkan lingkungan sekitarnya dalam kebodohan, atau ia membiarkan orang lain menderita sakit. Ini menunjukkan kepekaan sosial yang rendah. Jika uang untuk perjalanan haji yang sifatnya tidak wajib atau umrah yang kesekian kalinya digunakan untuk menolong orang lain yang lebih membutuhkan, tentu lebih bermanfaat. Ada banyak sekali hal lainnya yang bisa dilakukan dibanding sekedar ibadah individual yang dampaknya secara sosial minim. Zakat merupakan ibadah yang memiliki dampak sosial secara langsung yang tinggi dibandingkan dengan ibadah lainnya.

Haedar Nashir

Perlu upaya lebih untuk meningkatkan kesadaran masyarakat Muslim Indonesia untuk membayar kewajiban zakatnya. Kini sudah ada regulasi yang mengatur, pembayaran zakat bisa mengurangi pajak. Sejumah lembaga zakat yang dikelola secara profesional juga sudah berdiri sehingga tata kelola zakat lebih baik. Pemerintah di tingkat pusat ataupun daerah juga sudah ada badan amil zakat (bazis) yang menerima dan menyalurkan pembayaran ZIS. Di samping kemajuan-kemajuan dalam tata kelola tersebut, capaian pengumpulan ZIS masih sangat jauh dari potensi yang ada. ?

Prinsip-prinsip tata kelola yang baik seperti transparansi dan akuntabilitas bisa meningkatkan kepercayaan masyarakat bahwa ZIS yang mereka bayarkan bisa tersalurkan dengan baik kepada yang berhak. Tanpa hal tersebut, jangan harap lembaga zakat mendapat kepercayaan masyarakat. Struktur masyarakat berubah memaksa lembaga zakat mengandalkan sistem yang lebih baik.

Dalam sistem tradisional, orang kaya menitipkan zakatnya kepada kiai atau ulama yang dipercayainya untuk mendistribusikan ZIS-nya, atau kadang kala bahkan dibagikan sendiri. Pola seperti itu sudah tidak lagi memadai di masa kini dan masa mendatang untuk mengelola ZIS dengan baik karena sifatnya ad hoc, dibentuk kepanitiaan sementara yang bubar setelah berakhirnya Ramadhan. Pola itu sekedar bagi-bagi uang, tidak membuat dana ZIS menjadi dana produktif, tidak bisa membuat mustahik (penerima zakat) menjadi muzakki (pembayar zakat). Beberapa tahun lalu, pembagian zakat yang dilakukan secara personal kepada masyarakat luas malah membawa korban nyawa karena adanya desak-desakan saat pembagian zakat.

Penafsiran atas apa yang wajib dizakati juga perlu diperluas. Dalam kitab fikih klasik yang hingga kini masih menjadi rujukan, tak semua pekerjaan atau penghasilan dikenai zakat. Tetapi dalam konteks redistribusi harta kekayaan, ketika dunia sudah berubah dari sektor pertanian ke sektor industri dan jasa dengan pendapatan yang menggiurkan dibandingkan dengan sektor pertanian, tetapi dalam khazanah fikih klasik belum dikategorikan wajib zakat, maka mereka layak masuk dalam kategori wajib dizakati.

Negara memiliki tugas untuk menciptakan keadilan melalui mekanisme panarikan pajak dari orang kaya yang kemudian dimanfaatkan untuk kepentingan publik. Ada perdebatan apakah pajak masuk kategori zakat atau bukan, tetapi prinsip distribusi kekayaannya sama. Negara, tidak mampu mengelola seluruh kewajibannya dalam mensejahterakan masyarakat. Sektor filantropi, yang di dalamnya termasuk zakat, merupakan upaya masyarakat untuk membantu sesama, mendukung program yang sudah dijalankan oleh pemerintah.

Jika sistem pembayaran zakat, mulai dari upaya mengingatkan masyarakat untuk membayarnya, termasuk kemungkinan sebuah mekanisme yang bisa ‘memaksa’ orang untuk membayar zakat sampai dengan pendistribusiannya bisa berjalan dengan baik, maka capaian ZIS akan lebih banyak sehingga semakin meningkat jumlah orang yang mendapatkan manfaat dari harta tersebut. (Ahmad Mukafi Niam)



Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Ahlussunnah Haedar Nashir

KH Maruf Amin: Slamet Effendy Yusuf Sosok Organisatoris

Jakarta, Haedar Nashir. Rais Aam PBNU yang juga menjabat sebagai Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI), KH Maruf Amin mengaku merasa kehilangan dengan meninggalnya Wakil Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Slamet Effendy Yusuf yang dikenal sebagai sosok organisatoris.

KH Maruf Amin: Slamet Effendy Yusuf Sosok Organisatoris (Sumber Gambar : Nu Online)
KH Maruf Amin: Slamet Effendy Yusuf Sosok Organisatoris (Sumber Gambar : Nu Online)

KH Maruf Amin: Slamet Effendy Yusuf Sosok Organisatoris

"Slamet adalah seorang organisatoris dengan pengalamannya di organisasi," kata Kiai Ma’ruf saat dihubungi dari Jakarta, Kamis, (3/12)

Menurut Maruf, Slamet banyak bergerak di berbagai organisasi seperti pernah menjadi Ketua Umum Gerakan Pemuda Ansor. Selain itu, masih kata Maruf, Slamet juga menjadi Ketua Komisi Pengawas Haji Indonesia (KPHI).

Haedar Nashir

Almarhum Slamet Effendy Yusuf sebelumnya juga pernah lama berkecimpung di dunia politik sebagai kader dan pengurus Partai Golkar.

Haedar Nashir

Dia pernah menjabat Ketua MPR-RI periode 1988-1993 dan anggota DPR-RI periode 1992-2009 dari Partai Golkar.

Slamet juga pernah menjabat sebagai Ketua DPP Partai Golkar dan sempat pula menjabat Ketua PBNU periode 2010-2015, Ketua MUI pada periode 2009-2014 dan Waketum MUI 2015-2020.

"Jadi pengabdian almarhum begitu besar kepada bangsa dan negara serta agama," kata Kiai Ma’ruf.

Slamet Effendy Yusuf meninggal dunia pada Rabu (2/12) malam sekitar pukul 23.00 WIB di Bandung, Jawa Barat, dalam usia 67 tahun. (Antara/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Habib Haedar Nashir

Protes Israel, PMII Surabaya Ingatkan Pernyataan Soekarno soal Palestina

Surabaya, Haedar Nashir. Pengurus Cabang Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Kota Surabaya menyampaikan keperihatinan mendalam atas tindakan biadab militer Israel dengan membombardir Jalur Gaza yang menewaskan puluhan warga sipil Palestina.

Protes Israel, PMII Surabaya Ingatkan Pernyataan Soekarno soal Palestina (Sumber Gambar : Nu Online)
Protes Israel, PMII Surabaya Ingatkan Pernyataan Soekarno soal Palestina (Sumber Gambar : Nu Online)

Protes Israel, PMII Surabaya Ingatkan Pernyataan Soekarno soal Palestina

Sebagai bentuk protes dan keperihatinan, ratusan kader PMII dari berbagai perguruan tinggi di Surabaya, Jumat (11/72014) malam, menggelar aksi damai dengan menjalankan salat ghaib dan membakar bendera Israel di depan Grahadi Surabaya.

"Kami mengutuk keras atas tindakan biadab militer zionis Israel terhadap bangsa Palestina. Segera hentikan," ujar Ketua Umum PC PMII Kota Surabaya Ahmad Zairudin, dalam orasinya di hadapan kader PMII.

Haedar Nashir

Zairudin mengatakan, PMII Surabaya juga mendesak Pemerintah Indonesia untuk ikut terlibat aktif dalam upaya menciptakan perdamaian dunia. Yakni dengan cara terus mendesak PBB untuk mengeluarkan resolusi damai serta menghentikan agresi militer zionis Israel terhadap bangsa Palestina.

Haedar Nashir

"Pemerintah harus menyerukan bahwa Israel adalah penjahat perang dan kemanusian. Jika pemerintah diam, kami yang akan turun ke jalan melakukan perjuangan," seru Zairudin.

Zairudin lalu menyitir pernyataan Presiden RI pertama Soekarno pada tahun 1962, "Selama kemerdekaan bangsa Palestina belum diserahkan kepada orang-orang, maka selama itulah bangsa Indonesia berdiri menantang penjajahan Israel."

Selain itu, Zairudin juga meminta kepada semua tokoh masyarakat, terutama para ulama, untuk mendorong kaum muslimin melawan kedzaliman yang dilakukan Israel kepada bangsa Palestina.

Sejauh ini hingga lima hari agresi militer Israel di Jalur Gaza, sudah lebih 100 warga sipil Palestina meninggal. Mayoritas yang menjadi korban kebiadaban zionis Israel itu adalah para wanita dan anak-anak tak berdosa. Nyawa mereka melayang sia-sia dan ribuan orang terluka. (Abdul Hady JM/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Syariah, Ulama Haedar Nashir

Jumat, 24 November 2017

Serambi Al-Muayyad Kampanyekan “Ayo Mondok”

Solo, Haedar Nashir. Pengurus IPMA Pesantren Al-Muayyad menerbitkan Majalah Serambi Al-Muayyad (MSA) edisi terbaru. Edisi kedelapan yang mengkampanyekan gerakan Ayo Mondok! tersebut akan dirilis pada Haul KH Umar Abdul Mannan, Selasa (7/7).

“Tema khusus MSA Edisi 08 adalah Ayo Mondok,” terang salah satu redaktur MSA, Miftahul Abrori, Sabtu (4/7) lalu.

Serambi Al-Muayyad Kampanyekan “Ayo Mondok” (Sumber Gambar : Nu Online)
Serambi Al-Muayyad Kampanyekan “Ayo Mondok” (Sumber Gambar : Nu Online)

Serambi Al-Muayyad Kampanyekan “Ayo Mondok”

Menurut Miftah hal tersebut merupakan wujud dukungan para santri Al-Muayyad kepada RMI dalam menggalakkan Gerakan Nasional Ayo Mondok. “Wujud dukungan MSA terkait Ayo Mondok, sesuai dengan yang kami mampu adalah mewartakan melalui tulisan di majalah dengan harapan bisa dibaca masyarakat,” ujar dia.

Haedar Nashir

Pada edisi ini, juga akan menyajikan tulisan “Menafsir Bait-bait Shalawat Wasiat Mbah Umar” yang ditulis Dosen UNU Surakarta, Drs. Muhammad Ishom, yang menafsirkan dan menjelaskan makna yang tersembunyi dari shalawat yang dikarang oleh Mbah Umar.

Haedar Nashir

Miftah menjelaskan, selama kegiatan Haul Mbah Umar, majalah yang memiliki slogan Melanggengkan Tradisi, Melanjutkan Silaturrahim ini akan dipajang pada stand bazar IPMA. “Para pengunjung yang berminat, bisa membeli langsung di sana dengan harga Rp. 15.000,” papar dia. (Ajie Najmuddin/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Pesantren Haedar Nashir