Minggu, 31 Agustus 2014

Novelis Aguk Siapkan Buku Kisah Cinta Gus Dur–Sinta

Jepara, Haedar Nashir. H Aguk Irawan MN, novelis produktif kelahiran Lamongan, Jawa Timur, 1 April 1979 mempunyai ketertarikan untuk menuliskan kisah romantisme cinta KH Abdurrahman Wahid dan Hj Sinta Nuriyah.

Novelis Aguk Siapkan Buku Kisah Cinta Gus Dur–Sinta (Sumber Gambar : Nu Online)
Novelis Aguk Siapkan Buku Kisah Cinta Gus Dur–Sinta (Sumber Gambar : Nu Online)

Novelis Aguk Siapkan Buku Kisah Cinta Gus Dur–Sinta

Hal itu diuraikannya saat ditemui Haedar Nashir usai bedah buku “Maha Cinta” di pesantren Az-Zahra Sekuro Mlonggo Jepara, Sabtu (13/12) malam.

Menurut dia, saat ini penulisan sedang dalam proses penggarapan. Dalam buku itu, ia banyak menggali pada sektetaris Gus Dur, Salamun Ali, membaca buku karya Greg Berton dan menggali data dari sumber lain.

Haedar Nashir

Ditulisnya buku itu, jelas novelis best seller “Penakluk Badai: Novel Biografi KH Hasyim Asy’ari” ingin meneladani cinta Gus Dur. Kisah cinta Gus Dur–Sinta berawal dari keinginan KH Wahab Hasbullah hendak menjodohkan mereka.

Waktu itu, mantan Presiden RI itu masih menempuh studi di Baghdad, namun tak kunjung usai. Di masa-masa PDKT itu, Sinta kerap mengirim surat untuk kekasihnya, Gus Dur. Surat antara Jombang-Baghdad.

Haedar Nashir

Salah satu isi surat Ibu Sinta untuk kekasihnya, waktu itu, Gus Dur boleh gagal dalam menempuh studi, namun sangat berharap kekasihnya tidak gagal dalam cinta.

Kemudian, setelah menjadi suami Gus Dur merupakan sosok yang hormat terhadap istri. “Gus Dur merupakan figur yang hormat terhadap istri. Tidak pernah berkeluh kesah secara langsung dihadapan istri,” kata pengurus bidang Riset dan Pengembangan PP LKKNU ini.

Suatu ketika teh buatan Sinta tidak sesuai harapan Gus Dur. Lalu ia mengirim sepucuk surat dan meminta Sinta meminum sisa tehnya. Hal lain tentang Gus Dur yang romantis sering memberikan Sinta sekuntum bunga.

Terkait judul buku, ia masih merahasikannya. Baginya buku yang ia tulis hendak meneladani kisah cinta Gus Dur-Sinta Nuriyah. (Syaiful Mustaqim/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Pemurnian Aqidah, Makam Haedar Nashir

Jumat, 29 Agustus 2014

KH Miftahul Akhyar: Pola Pendidikan Pesantren adalah Warisan Rasulullah

Jakarta, Haedar Nashir. Pola pendidikan pesantren dengan sistem pondok telah dilakukan oleh Rasulullah SAW. Hal ini dinyatakan oleh Wakil Rais Aam Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Miftahul Akhyar saat memberikan materi dalam kegiatan Halaqah Nasional Penyusunan Kerangka Kurikulum Ma’had Aly yang diselenggarakan oleh Kementerian Agama dengan menggandeng Lakpesdam PBNU, Kamis (2/6) di Jakarta.

Dalam forum yang dihadiri oleh Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin ini, Kiai Miftah menceritakan bahwa dahulu Rasulullah mengumpulkan sekaligus memondokkan sekitar 400 sahabat di Suffah yang secara rutin mengadakan pengajian dan transfer ilmu.

KH Miftahul Akhyar: Pola Pendidikan Pesantren adalah Warisan Rasulullah (Sumber Gambar : Nu Online)
KH Miftahul Akhyar: Pola Pendidikan Pesantren adalah Warisan Rasulullah (Sumber Gambar : Nu Online)

KH Miftahul Akhyar: Pola Pendidikan Pesantren adalah Warisan Rasulullah

“Keterangan tersebut diriwayatkan oleh Ibnu Abbas bahwa Rasulullah bersabda, siapapun nantinya yang meneruskan thalabul ilmi sebagai amanat ilmiah, maka mereka itulah teman-temanku di surga,” terang Kiai Miftah yang hadir bersama Rais Syuriyah PBNU KH Masdar Farid Mas’udi dan Waketum PBNU KH M. Maksoem Mahfoedz.

Sebagai warisan Rasulullah, lanjut Kiai Miftah, pesantren secara konsisten memberikan pengajaran dan pemahaman Islam yang baik dan benar dengan sumber kitab-kitab klasik karangan berbagai ulama masyhur.

Haedar Nashir

“Selain mencetak generasi mandiri, pesantren juga menghasilkan generasi yang pinter dan bener,” ujarnya.

Dalam konteks Ma’had Aly, imbuhnya, lembaga pendidikan tinggi di pesantren ini harus tetap mewarisi karakter pesantren yang senantiasa menjunjung tinggi keilmuan dan menjaga tradisi yang baik dari para pendahulu (sahabat Nabi dan para ulama).

Haedar Nashir

Kiai asal Jawa Timur ini menegaskan bahwa prinsip ilmu agama yang nanti dikembangkan di Ma’had Aly jangan lepas dengan konteks masyarakat global. Karena menurutnya, perubahan di masyarakat merupakan ayat-ayat Kauniyah dalam sudut pandang teologis.

Lebih jauh, Kiai Miftah menjelaskan, pendidikan di lingkungan pondok pesantren saat ini menghadapi berbagai tantangan globalisasi dengan liberalisasi di berbagai bidang.?

“Oleh karena itu, penyusunan kurikulum bisa diarahkan pada 3 pokok meliputi, Grand Strategi, Grand Design, dan Grand Control. Hal ini agar produk pendidikan pesantren tetap menemui relevansinya dengan perubahan masyarakat di zaman global. Karena secara keilmuan, pesantren sebetulnya sudah mendunia dengan mengkaji berbagai literatur ulama-ulama dunia,” papar Kiai Miftah.

Seperti diinformasikan sebelumnya bahwa Kementerian Agama telah menerbitkan Surat Keputusan (SK) tentang Izin Pendirian Ma’had Aly pada Pondok Pesantren, Ahad (29/5/2016) lalu di Pesantren Tebuireng Jombang. Ada 13 Ma’had Aly yang telah menerima SK dan masing-masing membuka satu dari 6 pilihan program studi, yaitu Sejarah dan Peradaban Islam, Fiqih dan Ushul Fiqih, Tafsir dan Ilmu Tafsir, Hadits dan Ilmu Hadits, Aqidah dan Filsafat, serta Tasawuf dan Tarekat. (Fathoni)

?

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Aswaja Haedar Nashir

Senin, 25 Agustus 2014

Lesbumi MWCNU Gapura Mengadakan Bedah Buku

Sumenep, Haedar Nashir. Perjalanan kreatif seorang penulis layak untuk diungkap ke permukaan agar menjadi referensi bagi yang ingin memahami sebuah karya, dan bagi yang ingin ikut ? berkiprah dalam khazanah tulis-menulis.

Lesbumi MWCNU Gapura Mengadakan Bedah Buku (Sumber Gambar : Nu Online)
Lesbumi MWCNU Gapura Mengadakan Bedah Buku (Sumber Gambar : Nu Online)

Lesbumi MWCNU Gapura Mengadakan Bedah Buku

Hal diatas itulah yang mendorong aktifis Lesbumi MWC NU Gapura menggelar sebuah diskusi sastra bertajuk "Bedah Buku Kumpulan sajak Taneyan" karya penyair Mahwi Air Tawar, pada hari Jumat pagi, 30 Oktober 2015.

Sebagai penyair kelahiran Sumenep, Mahwi Air Tawar berusaha tidak membuang jejak kemaduraannya dalam setiap karya yang ditulisnya baik berupa puisi maupun cerpen.

Haedar Nashir

Kegiatan yang digelar Lesbumi NU (Lembaga Seni Budaya NU) ? menambah semarak kegiatan bersastra di kabupaten Sumenep yang memang identik sebagai kota sastra di Madura.

Acara yang digelar sejak pukul delapan pagi bertempat di aula kantor MWC NU Gapura - Sumenep menghadirkan Syaf Anton Wr dan Ust. Nono Suwarno sebagai pembedah antologi Taneyan. (Dayat/Mukafi Niam)

Haedar Nashir

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Nusantara, Fragmen Haedar Nashir

Sabtu, 23 Agustus 2014

Pertahankan Ciri “Salafiyah” di Tengah Kepungan Madrasah Umum

Di tengah kepungan sejumlah madrasah dan sekolah umum di sekitarnya, madrasah salaf ini tetap teguh mempertahankan kemurnian tradisi salafiyahnya. Tradisi kurikulum berbasis kitab salaf tetap lestari, hafalan kitab kuning, hingga memulai tahun ajaran baru yang berbeda dengan sekolah atau madrasah yang lain.

Pasalnya, madrasah kuno yang mengajarkan 70 persen pelajaran agama dan 30 persen pelajaran umum ini memulai pelajarannya pada bulan Syawwal, bukan Juli seperti sekolah lain. Meski lebih banyak agamanya, pada tahun 1951 disusun kurikulum resmi pelajaran umum yang memasukkan Bahasa Inggris dengan pengajar KH M Rodli Sholeh, salah seorang Rais Syuriyah PBNU, dari Jakarta.

Madrasah apakah itu? Dialah Perguruan Islam Mathali’ul Falah (PIM). Madrasah yang akrab disebut Mathole’ ini kini berdiri megah di Desa Kajen, Kecamatan Margoyoso, Kabupaten Pati, Jawa Tengah. Tepatnya di daerah Kulon Banon, sebelah barat maqbarah waliyullah Syeikh Ahmad Mutamakkin.

Pertahankan Ciri “Salafiyah” di Tengah Kepungan Madrasah Umum (Sumber Gambar : Nu Online)
Pertahankan Ciri “Salafiyah” di Tengah Kepungan Madrasah Umum (Sumber Gambar : Nu Online)

Pertahankan Ciri “Salafiyah” di Tengah Kepungan Madrasah Umum

Selain Mathali’ul Falah, terdapat beberapa lembaga pendidikan lainnya yang melayani para santri di Kajen. Sebut saja Madrasah Salafiyah, Madrasah PRIMA, Madrasah PGIP Hadiwijaya, dan SMK Cordova. Di luar Kajen, sejumlah terdapat madrasah milik desa sebelah seperti Khoiriyah (Waturoyo), Darun Najah (Ngemplak), Manabi’ul Falah (Ngemplak). Masing-masing madrasah satu dengan lain saling melayani tanpa adanya konflik.

PIM didirikan oleh KH Abdussalam pada tahun 1912. Tujuan utamanya mendidik dan mempersiapkan kader-kader bangsa sebagai insan yang memahami agama secara mendalam (tafaqquh fi al-din) baik teori maupun praktik. Harapannya, alumni perguruan ini mampu berperan aktif dalam kehidupan berbangsa dan bernegara (sholih) dalam semangat ketuhanan yang luhur dan terpuji sebagaimana diteladankan Rasulullah SAW (akrom).

Perguruan ini dalam perjalanannya tidak pernah berhenti membimbing siswanya menuju titik kulminasi, yakni “Tafaqquh fi al-Din menuju Insan Sholih-Akrom”. Tujuan inilah yang sampai sekarang dijadikan sebagai pijakan dan visi utama dari penyelenggaraan pendidikan di Mathole’.

Setelah satu abad terlewati (1912-2015), perguruan ini terus mengalami banyak perkembangan di sana-sini. Pada awal berdirinya ketika dipimpin sang pendiri, perguruan ini akrab disebut “Sekolah Arab”. Kemudian pada masa berikutnya ketika dipimpin sang putra, KH Mahfudh Salam (1922-1944), perguruan ini diberi nama Mathali’ul Falah (tempat munculnya orang-orang sukses) dengan kurikulum klasikal dari shifir awwal, tsani dan tsalis.

Haedar Nashir

Pada masa kepemimpinan putra yang lain, KH Abdullah Zen Salam, yang dibantu KH Muhammadun Abdul Hadi (1945-1963), mulai dikembangkan sistem penjenjangan: kelas 1-6 Ibtidaiyah dan kelas 1-3 Tsanawiyah. Selanjutnya di era kepemimpinan KH MA Sahal Mahfudh (1967-2014) dikembangkan lagi menjadi Aliyah untuk putra dan Mu’alimat untuk putri, serta Diniyah Ula dan Wustho. Pendirian Diniyah ini dimaksudkan untuk menampung lulusan SD dan SMP dengan materi agama khusus. Sepeninggal Kiai Sahal, sang Rais Aam Syuriah PBNU tiga periode pada Januari 2014, perguruan ini dipimpin KH Ahmad Nafi’ Abdillah, putra KH Abdullah Salam.

PIM Kajen ini merupakan satu-satunya madrasah yang menggunakan nama resmi “Perguruan Islam.” Ini tentu bukan tanpa maksud, namun ada tujuan di baliknya. Konon, muncul cerita kenapa Kiai Sahal memberi nama “Perguruan Islam” pada Mathali’ul Falah bukan “Madrasah” lantaran spirit dinamisme. Artinya, Kiai Sahal berharap para guru dan anak didik PIM rajin membaca dan mengikuti perkembangan ilmu dan informasi sehingga tidak ketinggalan zaman. Istilah anak muda sekarang disebut “kudet” alias kurang apdet (update-red).

Kukuh Berdiri di Kampung Santri

Perguruan Islam Mathali’ul Falah yang kukuh berdiri di “kampung santri” bernama Kajen ini tentu tak bisa lepas dari sejarah Kajen itu sendiri. Kajen merupakan sebuah desa kecil di Kecamatan Margoyoso, Kabupaten Pati. Dari ibukota Pati, Kajen berjarak kurang lebih 18 Km ke utara. Jika kita berkunjung ke sana dari Semarang, kita bisa naik bus jurusan Surabaya, lalu turun terminal Pati atau halte Puri, sebuah perempatan yang sangat terkenal di daerah itu.

Haedar Nashir

Dari terminal atau Puri, pengunjung naik bus jurusan Tayu turun di pertigaan Desa Ngemplak. Lalu berlanjut naik kendaraan kecil lainnya seperti ojek atau delman yang selalu setia mengantar hingga Desa Kajen. Kajen adalah desa yang sangat padat penduduknya, kendati di luar desa tersebut masih membentang sawah dan tegal yang luas. Luas tanah Kajen sekitar 66.660 ha (0.65 km2) yang terdiri dari 4.710 ha tanah tegalan. Sisanya merupakan tanah pekarangan dan bangunan rumah penduduk.

Secara administratif, Kajen berbatasan dengan empat desa yang mengitarinya. Di sebelah selatan berbatasan dengan Ngemplak Kidul, timur dengan Sekarjalak, utara dengan Waturoyo, dan barat dengan Ngemplak. Kajen praktis di tengah-tengah. Desa yang tak punya sawah atau tambak ini terdiri atas 11 RT dan 2 RW dengan jumlah penduduk asli kurang lebih 3700 jiwa.

Di Kajen terdapat tak kurang dari 40 pesantren. Hampir setiap rumah para kiai atau guru Mathole’ dan beberapa madrasah lainnya merupakan tempat mukim santri. Setidaknya 7000 santri mukim di desa ini. Di antara para kiai, santri, dan warga tercipta hubungan simbiosis mutualisme sehingga Kajen sangat memenuhi syarat disebut sebagai “kampung santri”. Tidak ada konflik terbuka antarkiai, juga tidak ada kesan persaingan antarpesantren.

Santri Wajib Nulis “Skripsi”

Selain ada hafalan kitab kuning sebagai syarat kenaikan kelas sebagaimana tradisi di Pesantren Raudlatul Ulum Guyangan, satu keunikan Mathole’ adalah tradisi mencipta “skripsi” menjelang kelulusan. Tradisi ala kampus ini disebut KTA (Karya Tulis Arab). Dalam menyusun karya tulis ber-Bahasa Arab ini, para santri didampingi seorang musyrif (pembimbing). Membuat KTA menjadi syarat wajib bagi siswa kelas tiga aliyah. Tanpa membuatnya, seorang siswa tidak bisa mengikuti ujian catur wulan.

Tradisi ini mulai diwajibkan sejak tahun 1998. Tujuan program ini untuk mengembangkan dan melestarikan budaya tulis-menulis di kalangan pesantren yang kian surut. Diharapkan budaya serta kemampuan tulis siswa meningkat sehingga ke depan bisa menghasilkan karya yang bermanfaat. Setelah penulisan KTA selesai, penulisnya lalu diuji untuk mengetahui sejauh mana mereka memahami dan menguasai terhadap apa yang ditulisnya. Ujian ini ibarat pertanggungjawaban terhadap apa yang ditulis. Di sinilah nilai-nilai amanah serta tanggung jawab ditanamkan.

Menurut KH Abdul Ghaffar Rozien, santri PIM sudah sejak Ibtidaiyyah dibekali nahwu, sharaf, dan ilmu tatabahasa arab lainnya. Sejak Aliyah mereka mendapatkan ilmu balaghah. Bahkan, di setiap jenjang ada praktik Insya’ (mengarang bahasa arab). KTA dimaksudkan sebagai salah satu media bagi santri PIM mempraktikkan teori dan kecakapan berbahasa Arab secara akademik.

Gus Rozien, sapaan akrabnya, menambahkan, melalui program itu pula para santri memulai riset sederhana. Tentu saja, mereka harus membaca berbagai macam buku referensi. Dari sini mereka berlatih berpikir akademis. Dengan demikian, mereka akan terbiasa menghadapi berbagai macam bentuk tulisan dan perbedaan pendapat ilmiah. “KTA ini dijadikan salah satu indikator keberhasilan pembelajaran Bahasa Arab sekaligus sebagai bahan evaluasi,” ujar putra Kiai Sahal ini.

Tak ayal, tradisi ini membentuk tradisi intelektual alumninya. Pengaruh alumni dan PIM Kajen dalam konteks Jawa Tengah, bahkan nasional, sungguh terasa dan cukup menjadi pusat inspirasi berbagai kalangan. Transformasi sosial di PIM telah menelorkan sejumlah intelektual muda seperti Imam Aziz, Ulil Abshar Abdalla, Badriyah Fayumi, Marwan Ja’far, dan Abdul Ghaffar Rozien.

Imam Aziz, salah satu Ketua PBNU, saat jadi aktivis di Yogyakarta mendirikan lembaga Kajian Islam dan Sosial (LKiS). Ulil Abshar Abdalla dikenal sebagai penggagas Jaringan Islam Liberal yang cukup menghebohkan. Badriyah Fayumi merupakan anggota FKB DPR yang mengawal kebijakan di bidang Pendidikan. Marwan Ja’far setelah terpilih kedua kalinya sebagai anggota DPR belakangan dilantik Presiden Jokowi sebagai Menteri Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi. Lalu, Abdul Ghaffar Rozien penjaga gawang di Kajen sekaligus direktur Institut Pesantren Mathali’ul Falah (IPMAFA).

Sebagai penerus Kiai Sahal Mahfudh, Gus Rozien berkomitmen tetap teguh mempertahankan substansi salafiyah kendati zaman terus berganti. Manfaatnya tentu saja memelihara tradisi, ilmu, dan akhlaq ulama salaf. “Tentu saja kami melakukan penyesuaian yang diperlukan agar santri PIM menjadi insan shalih serta dapat menyesuaikan diri dengan zaman dan lingkungan masing-masing,” pungkasnya. (Musthofa Asrori)

?

Foto: Salah satu sudut Perguruan Islam Mathaliul Falah (PIM)?

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir AlaNu, Doa Haedar Nashir

Minggu, 10 Agustus 2014

Gelar Baksos, LKNU Madiun Terjunkan Ahli Bekam

Madiun, Haedar Nashir - Lembaga Kesehatan Nahdlatul Ulama (LKNU) Kabupaten Madiun, Jawa Timur, mengadakan kegiatan bakti sosial (baksos) di Dusun Mlaten, Desa/Kecamatan Geger, Kabupaten Madiun, Jawa Timur. Baksos tersebut diwujudkan dengan membuka pengobatan alternatif berupa layanan bekam.

Pada kegiatan yang berlangsung Ahad (22/1) ini, sebanyak tujuh ahli bekam yang dimiliki LKNU didatangkan. Sementara untuk memperoleh informasi terkait keluhan kesehatan, dua orang herbalis juga digandeng demi kelancaran layanan bekam.

Gelar Baksos, LKNU Madiun Terjunkan Ahli Bekam (Sumber Gambar : Nu Online)
Gelar Baksos, LKNU Madiun Terjunkan Ahli Bekam (Sumber Gambar : Nu Online)

Gelar Baksos, LKNU Madiun Terjunkan Ahli Bekam

“Pengobatan Bekam sangat baik bagi kesehatan tubuh. Hal tersebut, menurutnya, selain suatu sunnah yang diajarkan Nabi, juga memperlancar penyumbatan-penyumbatan dalam pembuluh darah,” kata Anwar, salah satu ahli bekam. Menurutnya, dengan dibekam darah-darah kotor terangkat ke permukaan. Hal ini membantu proses pembaharuan darah.

Sulamsri, seorang Herbalis dan pemeriksa kesehatan, mengingatkan kepada para warga agar mengurangi konsumsi makanan ataupun minuman kemasan secara berlebihan. Berdasar hasil data pemeriksaan, banyak dari warga yang tubuhnya mengandung banyak kimia berbahaya.

Haedar Nashir

Sementara pengurus LKNU setempat, Maryono mengatakan, kegiatan baksos ini diharapkan dapat meringankan beban masyarakat dalam menjalani hidup sehat, sesuai dengan tema yang diangkat kali ini, yakni ‘Memelihara Kesehatan dan Menanggulangi Ancaman Secara Optimal. “Masyarakat sudah tidak lagi ada halangan untuk menjaga dan mensyukuri kesehatan,” pungkasnya.

Haedar Nashir

Puluhan warga berbondong bondong menjalani cek kesehatan dan bekam, baik laki-laki ataupun perempuan. Turut terlibat, PAC GP Ansor, Rijalul Ansor, Banser, dan pihak takmir Masjid Baitus Sholihin. (Ali Makhrus/Mahbib)



Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Meme Islam, Cerita Haedar Nashir

Kamis, 07 Agustus 2014

Pesantren Walisongo, Masyhur dengan Dakwah Lewat Seni Rebana

Pondok Pesantren Walisongo Sragen, Jawa Tengah merupakan salah satu pesantren termasyhur dengan dakwah melalui seni rebana oleh para ulama dan kiainya. Perkembangan pesantren yang berdiri tahun 1994 ini cukup pesat, yaitu dengan berdirinya Madin (Madrasaha Diniyah) pada tahun 1999, serta lembaga pendidikan lain di berbagai jenjang dalam rentang pembangunan antara tahun 2006 hingga 2008.

Namun dibalik perkembangan pendidikan yang pesat serta di tunjang dengan fasilitas yang belajar yang lengkap tersebut, pesantren Walisongo ternyata memiliki ciri khas kesenian rebana yang mana dari awal berdirinya pesantren sampai saat ini. Grup rebana tersebut selalu memiliki jadwal dakwah yang padat, artinya seni rebana pesantren Walisongo selalu dapat beradaptasi dengan perkembangan zaman dan teknologi dengan senantiasa berpegang pada ajaran agama, sehingga masyarakat selalu merindukan kehadiran nasihat bijak melalui syair shalawat yang dibawakan rebana walisongo.

Pesantren Walisongo, Masyhur dengan Dakwah Lewat Seni Rebana (Sumber Gambar : Nu Online)
Pesantren Walisongo, Masyhur dengan Dakwah Lewat Seni Rebana (Sumber Gambar : Nu Online)

Pesantren Walisongo, Masyhur dengan Dakwah Lewat Seni Rebana

Secara individu KH Ma’ruf Islamuddin yang merupakan pengasuh pesantren sekaligus penggagas seni rebana Walisongo, memang senang dengan seni, terutama seni tarik suara. Kiai Ma’ruf memiliki moto ‘Dengan ilmu hidup lebih mudah, dengan seni hidup lebih indah, dan dengan agama hidup jadi terarah’, dan moto tersebut juga tertuliskan di studio rekaman Al Muntaha Record milik pesantren Walisongo.

Haedar Nashir

Merujuk dari ciri khas para ulama yang menggunakan seni sebagai media dakwah, Kiai Ma’ruf Islamuddin pun juga menggunakan pedekatan seni. Seni dalam berdakwah merupakan sarana menyebarkan agama Islam yang telah dijelaskan di atas merupakan warisan dari para wali yang telah terbukti telah mengislamkan hampir semua wilayah di Jawa.

Latar belakang dakwah dengan seni rebana

Sementara hal yang melatar belakangi dipilihnya rebana sebagai sarana dalam berdakwah, karena jamaah yang dihadapi sangat heterogen dilihat dari segi keimanan, maka Kiai Ma’ruf menggagas bagaimana caranya dakwah itu disampaikan melalui seni dan bisa dikemas sedemikian rupa sehingga bisa diterima oleh masyarakat. Sehingga munculah ide itu berupa dakwah dengan kesenian musik rebana.

Haedar Nashir

Seiring kemajuan teknologi dan pemenuhan kebutuhan dakwah di masyarakat, maka pesantren Walisongo melakukan upaya dalam mengembangkan dan mempertahankan eksistensi kesenian rebana ini dengan beberapa cara. Diantaranya yaitu menjaring minat dan bakat santri serta siswa melalui kegiatan ektrakurikuler rabana, reorganisasi pemain rebana, mendirikan studio rekaman agar musik rebana bisa dinikmati orang setiap saat dengan kasetnya, dan mendirikan studio radio Walisongo Sragen agar masyarakat bisa mendengarkan ceramah Kiai Ma’ruf dan rebana tanpa melihat langsung.

Ternyata upaya mempertahankan eksistensi rebana tersebut secara tidak langsung juga bepengaruh terhadap meningkatnya jumlah santri. Hal tersebut dikarenakan dalam setiap dakwahnya, baik secara langsung maupun dalam kaset VCD yang diperjual belikan, keberadaan pesantren Walisongo turut serta dipromosikan. Dalam setiap penerimaan santri baru, banyak yang mengaku mengetahui pesantren Walisongo dari kaset maupun dari nada dan dakwah yang ditampilkan rebana Walisongo.

Tidak hanya grup seni rebana yang beranggotakan santri dewasa yang disibukan dengan padatnya jadwal, namun grup seni rebana Madrasah Integral Walisongo pun tahun ini meraih juara tingkat kabupaten dan prestasi itu diraih selama empat kali berturut-turut. (Ahmad Rosyidi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Olahraga Haedar Nashir

Minggu, 03 Agustus 2014

MA Al Rasyid, Dari Kitab Kuning hingga Drumben Akrobatik

Di pinggiran Kota Bojonegoro, tepatnya di Dusun Kendal, Desa Ngumpakdalem, Kecamatan Dander terdapat madrasah swasta tingkat Madrasah Aliyah (MA) bernama MA Ar-Rasyid. Sekolah yang berada di bawah naungan Yayasan Pondok Pesantren Al Rasyid ini dikenal sebagai lembaga pendidikan yang? mengedepankan ilmu keagamaan dan sopan santun sebagai tolak ukur siswa berprestasi. Sehingga, penilaian prestasi tidak hanya terpaku pada nilai akademik tapi juga nilai suluk (akhlak) peserta didik.

Dari sejarahnya, MA Al-Rasyid berdiri sejak awal tahun 1959. Sebelum berdiri MA Ar-Rasyid dulu hanyalah berupa pendidikan berbentuk madrasah diniyah dengan nama Al-Islah. Seperti madrasah diniyah pada umumnya, Madin Al-Islah yang mengklasifikasikan setiap anak didik menjadi tiga tingkatan yakni Madrasah diniyah Ulaa (dasar), Wustho (menengah), dan Ulya (Atas).

MA Al Rasyid, Dari Kitab Kuning hingga Drumben Akrobatik (Sumber Gambar : Nu Online)
MA Al Rasyid, Dari Kitab Kuning hingga Drumben Akrobatik (Sumber Gambar : Nu Online)

MA Al Rasyid, Dari Kitab Kuning hingga Drumben Akrobatik

Muridnya ketika itu hanya kurang lebih 18 anak didik yang juga menetap di asrama pondok. Seiringnya berjalannya waktu madrasah diniyah mengembangkan keilmuanya di bidang sosial dengan mendirikan Madrasah Aliyah (MA) Al Rasyid. Tujuannya agar semua anak didik bisa juga menguasai berbagai macam ilmu di bidang formal atau sosial guna membangun bangsa serta Negara sesuai ilmu yang dimilikinya. Selain itu juga belajar? ilmu agama sebagai bekal Tafaqquh Fiddin yang berfungsi pemeliharaan, pengembangaan penyiaran ajaran Ahlus Sunnah Waljamaah.

Sejak mulai berdiri di tahun 1979 sampai sekarang, MA Al-Rasyid mengalami tiga periodedisasi kepemimpinan yang setiap periodenya tetap konsisten menjadi sekolah yang tetap menjunjung nilai kesopanan dalam berakhlaqul karimah.

Haedar Nashir

Haedar Nashir

Di masa awal periode pertama tahun 1979 sampai 1991 MA Al-Rasyid dipimpin oleh KH.Sajjidun. Saat itu, lembaga masih dalam masa sulit karena kesemuanya dalam keterbatasan sarana maupun prasarana bahkan keterbatasan tenaga pendidik.

Pada masa kedua MA Al Rasyid dipimpin oleh H Syamsul Hadi beliau memimpin mulai tahun 1991 sampai 2005 dimana Madrasah yang beliau pimpim belum bisa berkembang secara signifikan. Meski? tenaga pendidik potensial mulai ada yang terus mengabdikan tenaganya untuk sekolah.? Pada periode ini, MA Al-Rasyid sudah mulai banyak dikenal masyarakat luas di Kabupaten Bojonegoro salah satunya selalu tampil dalam pelaksanaan fungsi Kepala Madrasah.

Pada periode ketiga yakni tahun 2006 hingga sekarang MA Al-Rasyid mengalami kemajuan yang sangat pesat di berbagai bidang baik dalam segi pembelajaran serta tenaga pendidik. Sehingga saat ini mumpuni untuk bisa bersaing dengan lembaga sekolah lain, bahkan kini? juga membuka Kelas Unggulan.

Kegiatan pembelajaran di MA Al-Rasyid mencakup pendidikan agama dan pembelajaran kitab kuning. Peserta didik diajarkan ilmu Alquran, Hadis, Nahwu, Sharaf, Fikih, Ushul Fiqih, Tafsir, Imla serta Insya.? Selain itu juga menonjol di bidang ekstrakurikuler, salah satunya di bidang drumben.

Madrasah yang berada di Jalan KHR Moh Rosyid Nomor 28 ini memiliki grup drumben akrobatik. Grup drumben binaan lembaga tersebut tidak hanya sekadar membunyikan alat-alat drumben seperti terompet, simbal, Baritone Horn, bass dan terompet tapi juga dilengkapi atraksi akrobatik? yang biasa dikenal dengan sebutan Air Fighter.

Sesuai dengan namanya, Air Fighter, para personel grup drumben MA Al-Rasyid saat bermain juga melakukan salto dan atraksi udara lainnya. Karena keunikannya ini, tak ayal grup drumben MA Al-Rasyid sering mengikuti berbagai festival bahkan pernah juga diundang di kabupaten-kabupaten luar Bojonegoro. Bisa dibilang, MA Al-Rasyid menjadi pelopor drumben Air Fighter, tak ayal ketika disearch di google kata kunci “Drumbad Air Fighter” yang muncul adalah atraksi salto dari siswa MA Al-Rasyid.

Para personel drumben akrobatik setiap satu pekan sekali belajar teknik-teknik drumben akrobatik dengan para pembina khusus yang sudah piawai. Ektrakurikuler memang sengaja dilaksanakan di luar jam sekolah setiap hari yang dimulai pukul 07.00 pagi hingga 13.00 siang dan di hari libur, yakni hari Jumat. Alasannya, agar para siswa bisa fokus dan tidak mengganggu kegiatan belajar-mengajar.

Selain drumben, ada pula kegiatan ekstra kulikuler lainnya seperti Pramuka,PMR, Olahraga, Muhadhoroh dan Munaqosah. Semua kegiatan itu dilksanakan untuk mengembangkan siswa dari segala potensi yang ada di diri mereka.

MA Al-Rasyid saat ini sudah berusia 36 tahun, di usia yang terbilang sudah matang sebagai lembaga pendidikan dan bisa dikategorikan sebagai pesantren tujuan para peserta didik. Terbukti,? 75 persen siswa MA Al Rasyid berasal dari berbagai daerah luar Bojonegoro selebihnya 25 persen siswa berasal dari masyarakat sekitar Bojonegoro.

Untuk memenuhi tuntutan perkembangan keilmuan, selain jurusan agama, MA Al-Rasyid juga mempunyai dua program jurusan yaitu Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) dan Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS) . Tak hanya itu, pihak madrasah juga menerapkan penggunaan bahasa asing yaitu Bahasa Arab dan Bahasa Inggris yang t rutin digunakan pada waktu pembelajaran efektif.

Tujuannya, agar pengembangan diri setiap siswa dapat terpupuk serta tergali dengan mengalokasikan jadwal tertentu yang dibimbing dan diawasi oleh tenaga pendidik yang berkompeten di bidangnya. Terbukti, banyak raihan prestasi yang diperoleh siswa MA Al-Rasyid,? termasuk prestasi Juara Lomba Pidato Bahasa Inggris.

Untuk memajukan sekolah, setiap bulan sekali pihak yayasan melakukan evaluasi untuk mengukur taraf kemampuan pendidikan sekolah agar terus berkembang dan dapat besaing dengan lembaga sekolah lain. Harapannya, semoga Madrasah Aliyah (MA) Al Rasyid kedepan lebih dapat bisa bersaing dapat mencetak generasi yang cinta terhadap lingkungan Ponpes Al Rasyid serta menjadikan alumni-alumninya? berguna bagi negara sebagai wujud sumbangsih yayasan untuk selalu maju. (Nidhomatum MR)

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Bahtsul Masail, Nahdlatul Haedar Nashir

Jumat, 01 Agustus 2014

Satu Abad Qudsiyah Berakhir di Kecamatan Mejobo

Kudus, Haedar Nashir - Kegiatan Tur Dakwah Keliling Meneladani KHR Asnawi yang digelar keluarga besar Qudsiyyah Kudus dimeriahkan dengan tari sufi diiringi dan rebana Al-Mubarok Qudsiyyah. Dakwah dari desa ke desa ini ditutup dengan pengajian umum yang berlangsung di halaman masjid Suryawiyyah Desa Kirig Kecamatan Mejobo Kabupaten Kudus, Ahad (15/5) malam. Sedikitnya 5.000 pengunjung meramaikan pengajian ini.

Pengajian di Mejobo ini merupakan putaran terakhir kegiatan Tur Dakwah Keliling dalam rangka peringatan satu abad Qudsiyyah. Sebelumnya kegiatan serupa telah berlangsung di Kecamatan Dawe, Bae, Undaan, Kaliwungu, Jekulo, Gebog, dan Jati. Berikutnya kegiatan serupa akan dilaksanakan di luar Kudus, yakni di Demak, Jepara, Semarang, Yogyakarta, dan Jakarta.

Satu Abad Qudsiyah Berakhir di Kecamatan Mejobo (Sumber Gambar : Nu Online)
Satu Abad Qudsiyah Berakhir di Kecamatan Mejobo (Sumber Gambar : Nu Online)

Satu Abad Qudsiyah Berakhir di Kecamatan Mejobo

KH Nor Halim Maruf saat menyampaikan taushiyah mengajak generasi sekarang mengikuti dan menggali model-model dakwah yang dilakukan para pendahulu. "Jasa-jasa para ulama terdahulu, jasa Mbah Kiai Raden Asnawi dalam berdakwah mengembangkan Islam begitu besar," kata Kiai Nor Halim.

Haedar Nashir

Ia menambahkan, para ulama terdahulu begitu ikhlas berjuang mengembangkan Islam dengan ajaran yang santun dan penuh makna. Ia berharap generasi sekarang mampu meneladani dan mengambil hikmah serta meneruskan perjuangan para sesepuh.

Haedar Nashir

Sepuluh jamiyyah rebana dari Kudus dan Pati meramaikan festival hadrah pada Ahad (15/5) siang. Kegitan yang berlangsung sangat meriah ini dimulai jam 10 pagi hingga sore. Tiga grup terbaik mendapatkan trofi dan uang pembinaan dari panitia.

Madrasah Qudsiyyah Menara Kudus merupakan madrasah salaf yang didirikan oleh KHR Asnawi Kudus, salah satu tokoh pendiri Nahdlatul Ulama dari Kudus. Madrasah Qudsiyyah resmi berdiri pada tahun 1337 H. (Kharis/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Lomba Haedar Nashir