Sabtu, 29 November 2014

Mantan Sinuhun

Suatu ketika, dalam kunjungannya ke Solo, Gus Dur berkumpul bersama sejumlah rekan-rekannya antara lain Sinuhun Paku Buwono XII, AS Hikam dan lainnya. Mereka berkumpul bersama dalam sebuah obrolan ringan.

“Kita ini ternyata semuanya sama-sama mantan,” kata Gus Dur di tengah pembicaraan.

“Lha kok bisa, Gus?” tanya Sinuhun

Mantan Sinuhun (Sumber Gambar : Nu Online)
Mantan Sinuhun (Sumber Gambar : Nu Online)

Mantan Sinuhun

“Lha saya, mantan presiden. Hikam ini mantan menteri. Lha yang belum ada, tinggal mantan Sinuhun, panjenengan apa mau jadi mantan Sinuhun?” jawab Gus Dur.

Mendengar jawaban tersebut, semua menjadi tersenyum. Sinuhun yang biasanya terlihat serius pun, kali ini tidak bisa menahan diri untuk tertawa. “Hehe, masa mantan Sinuhun Gus,” kata Sinuhun.

Sebab, mantan sinuhun berarti masa jabatan sebagai seorang raja telah habis karena mangkat alias meninggal. (Ajie Najmuddin)

Haedar Nashir

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir

Haedar Nashir Santri Haedar Nashir

Selasa, 25 November 2014

Muslimat NU Salem Juara Hadrah Ya Lal Wathan

Brebes, Haedar Nashir. Dengan mengantongi nilai 285, grup hadrah Muslimat NU Salem berhasil menjadi juara 1 pada pentas Kesenian Hadrah tingkat Kabupaten Brebes 2017.

Muslimat NU Salem Juara Hadrah Ya Lal Wathan (Sumber Gambar : Nu Online)
Muslimat NU Salem Juara Hadrah Ya Lal Wathan (Sumber Gambar : Nu Online)

Muslimat NU Salem Juara Hadrah Ya Lal Wathan

Pentas ini digelar dalam rangka memperingati Hari Pahlawan 10 November yang digelar Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Jawa Tengah. Juara 2 di raih Muslimat Bumiayu (280,3) dan juara 3 Muslimat Larangan (273,8). 

Sedangkan juara harapan secara berurut diraih Muslimat NU Kersana (273,5), Bulakamba (261,67), dan Banjarharjo (259,8).

Ketua Panitia Hj Farikha menjelaskan, Pentas yang dilombakan itu diikuti 12 peserta se Kabupaten Brebes di gelar di halaman Kantor Kementerian Agama Brebes, Sabtu (4/11). 

Haedar Nashir

Lomba ini merupakan untuk yang kedua kalinya sebagai kemitraan antara Muslimat NU dengan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Jawa Tengah. Tiap peserta membawakan tiga buah lagu yakni Mars dan Hymne Muslimat NU serta Ya Lal Wathan. 

Ketua PC Muslimat NU Brebes Hj Chulasoh menjelaskan, lagu Ya Lal Wathon, merupakan spirit perjuangan yang diciptakan oleh Kiai Wahab Chasbullah pada tahun 1934. 

“Lagu ini mampu mengobarkan semangat para santri dalam syair bahasa arab, sehingga Belanda tidak mengerti arti yang terkandung di dalam syair tersebut,” ungkapnya.

Wakil Ketua Komisi E DPRD Provinsi Jawa Tengah Nur Hasanah yang ikut menyaksikan pagelaran pentas kesenian hadrah tersebut mengaku gembira dengan semangat ibu-ibu Muslimat berkesenian Hadrah. Menurutnya, kesenian Islam hadrah wajib dilestarikan oleh Muslim Indonesia. 

Haedar Nashir

Jangan sampai kekayaan kesenian daerah kita seperti seni hadrah ini diambil oleh orang lain. “Jangan sampai kita berteriak, kalau kesenian milik kita di klaim oleh Negara lain,” tandasnya. 

Nguri-nguri budaya Islam, menurutnya harus terus digelorakan. Dengan adanya pentas hadrah, ghirah (semangat) para ibu-ibu Muslimat makin kencang. Pentas ini sangat positif, terutama dalam pandangan arus bawah, ketimbang budaya barat yang tidak mengandung nilai-nilai pendidikan. 

“Muslimat NU dan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan memiliki keselarasan dalam mengembangkan dan membudayakan kesenian daerah, maka kita bersinergi,” ujar Nur Hasanah yang juga dewan pakar di jajaran PW Muslimat NU Jateng itu. 

Juara 1 pada event ini, akan diuji kepiawaiannya pada pentas yang sama di tingkat eks Karesidenan Pekalongan di Pemalang pada akhir November mendatang. (Wasdiun/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Sejarah, Habib, Sunnah Haedar Nashir

Jumat, 21 November 2014

Gerakan Solidaritas untuk Busung Lapar Dideklarasikan

Jakarta, Haedar Nashir
Sekelompok LSM, dan para aktivis sosial lintas agama yang dipelopori PBNU mendeklarasikan Jaringan Solidaritas untuk Korban Busung Lapar (JSKBL). Deklarasi dilakukan di gedung PBNU, Jln. Kramat Raya 164, Senin (4/7).

Hadir dalam kesempatan deklarasi, anggota Dewan Perwakilan Daerah (DPD) asal Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), GKR Hemas, Ketua PBNU, Andi Jamaro Dulung, Romo Frans Magnis Suseno, Koordinator JSKBL, Dr. Musdah Mulia, Ketua LKKNU, Otong Abdurahman, dan para aktivis yang tergabung di dalamnya.

Gerakan ini, kata Musdah dalam sambutannya dimaksudkan sebagai gerakan kepedulian terhadap maraknya kasus busung lapar di tanah air. Gerakan ini difokuskan untuk menyelamatkan anak-anak yang terancam kelaparan, gizi buruk, busung lapar, dan kematian dini.

"Kita tidak bisa menutup mata, mencuatnya kasus ini karena adanya ketidakadilan ekonomi, maraknya tindakan korupsi dan rapuhnynya institusi demokrasi. Karenanya kami berharap dukungan dari semua pihak untuk membantu saudara kita yang mengalaminya," ujar penulis buku Kesetaraan dan Keadilan Gender dalam Perspektif Islam ini.

Untuk itu, lanjut Musdah, kami telah membentuk 9 tim kerja yang masing-masing menangani divisi tertentu yang dibagi berdasarkan kelompok dan institusi agar gerakan solidaritas ini lebih fokus. Tim itu diantaranya, tim kerja kampanye, tim kerja advokasi, tim kerja jaringan, tim kerja pendataan, tim kerja medis, tim logis dan pendanaan, tim media, tim analisis kebijakan dan tim kerja bantuan kemanusiaan.

Sementara itu wakil koordinator JSKBL, Benny Susetyo Jr mengatakan gerakan solidaritas ini bukan semata-mata gerakan spontanias karena mencuatnya kasus busung lapar, tetapi sebuah gerakan yang sistematis, terstruktur dan memiliki agenda yang jelas untuk menangani munculnya kasus serupa di tanah air. "Kami memiliki program jangka pendek, menengah dan jangka panjang dan sekarang kumpulnya kami disini sekaligus membahas program kerja tersebut," ujarnya.

Sekadar diketahui, LSM yang tergabung dalam solidaritas ini antara lain Suara Ibu Peduli, Kalyanamitra, Perempuan Indonesia, Komisi Hak-KWI, Koalisi untuk Indonesi Sehat, Infid, Elsam, LBN Jakarta, Sanggar Ciliwung, Koalisi Perempuan Indonesia, Fatayat NU, LKKNU, Jaringan Mitra Perempuan Jabotabek, Institut Ecosos, Prakarsa, Perdhaki, KPI Jabar, ICRP, Yayasan Jurnal Perempuan, dan lainnya. (cih)

 

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Berita Haedar Nashir

Gerakan Solidaritas untuk Busung Lapar Dideklarasikan (Sumber Gambar : Nu Online)
Gerakan Solidaritas untuk Busung Lapar Dideklarasikan (Sumber Gambar : Nu Online)

Gerakan Solidaritas untuk Busung Lapar Dideklarasikan

Selasa, 18 November 2014

PCNU Pamekasan: Ulama Sunni Tercoreng

Pamekasan, Haedar Nashir. Kerusuhan yang merenggut nyawa dan korban materi Sampang menjadikan umat Islam beraliran Sunni tercoreng. Pasalnya, tak sedikit media massa yang memberitakan bahwa kejadian biadab tersebut diaktori oleh kelompok Sunni. 

“Bukan beraliran Sunni. Sekalipun kelompok yang bertindak di luar ajaran Islam tersebut mengaku beraliran Sunni, itu tak benar. Hanya oknum belaka. Sebab, aliran Sunni melarang keras setiap tindak kekerasan berbaju agama,” tegas Ketua PCNU Pamekasan KH Abd Ghoffar saat dihubungi Haedar Nashir kemarin (27/8).

PCNU Pamekasan: Ulama Sunni Tercoreng (Sumber Gambar : Nu Online)
PCNU Pamekasan: Ulama Sunni Tercoreng (Sumber Gambar : Nu Online)

PCNU Pamekasan: Ulama Sunni Tercoreng

Koordinator Forum Ormas Islam Pamekasan ini mensinyalir kuat, pasti terdapat pihak ketiga yang berupaya memantik kembali kerusuhan tersebut. Sebab, sebagaimana diketahui, kasus penindasan terhadap kaum Syiah di Sampang sudah lama bergulir.

Karena itu, pengasuh Pondok Pesantren Riyadus Sholihin, Pamekasan ini sangat menyayangkan manakala pihak berwajib kemudian tidak bekerja ekstra mengusut kasus tersebut.

Haedar Nashir

“Polisi harus tanggap apa motifnya, siapa saja yang terlibat di dalamnya, serta proses investigasi mesti jujur,” pungkasnya. 

 

Haedar Nashir

Redaktur    : Hamzah Sahal

Kontributor  : Hairul Anam

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Ulama, Pahlawan Haedar Nashir

Sabtu, 15 November 2014

Tentang Makan dan Kebersahajaan Rasulullah

Pribadi Rasulullah SAW itu sederhana. Beliau dan para sahabatnya selalu hidup dalam keterbatasan, tapi mereka tetap teguh dalam barisan tauhid walaupun dalam keadaan sangat lapar.

    

Keserderhanaan pribadi Rasulullah SAW dan para sahabat dikisahkan oleh Abu Hurairah,”Demi Allah, yang tidak ada sekutu bagi-Nya, (terkadang) aku tidur di atas tanah dengan perut lapar, dan (terkadang) aku ikatkan sebuah batu ke perutku untuk menahan lapar.”

Tentang Makan dan Kebersahajaan Rasulullah (Sumber Gambar : Nu Online)
Tentang Makan dan Kebersahajaan Rasulullah (Sumber Gambar : Nu Online)

Tentang Makan dan Kebersahajaan Rasulullah

Tidak saja soal makanan, Rasulullah dalam hal tidur, beralaskan tikar dan rumahnya sangat sederhana. Kalau ada pakaian yang sobek atau koyak, beliau sendiri yang menambalnya, tidak menyuruh istrinya. Beliau juga memerah sendiri susu kambing untuk keperluan keluarga maupun dijual.

Setiap kali pulang ke rumah, bila dilihat tiada makanan yang siap untuk dimakan, sambil tersenyum Baginda menyingsingkan lengan bajunya untuk membantu istrinya di dapur. Sayidatuna ‘Aisyah mengisahkan, “Kalau Nabi berada di rumah, beliau selalu membantu urusan rumah tangga.”

Haedar Nashir

Jika mendengar adzan, beliau cepat-cepat berangkat ke masjid dan cepat-cepat pulang kembali sesudah selesai shalat.

Haedar Nashir

Pernah Baginda pulang pada waktu pagi, dan tentulah amat lapar saat itu. Namun dilihatnya tiada apa pun yang ada untuk sarapan. Yang mentah pun tidak ada, karena ‘Aisyah belum ke pasar. Maka Nabi bertanya,”Belum ada sarapan, ya Humaira? (Humaira adalah panggilan mesra untuk sayidatuna ‘Aisyah yang berarti “Wahai yang kemerah-merahan”).

Aisyah menjawab dengan agak serba salah,”Belum ada apa-apa, wahai Rasulullah.”

Rasulullah lantas berkata,”Kalau begitu, aku puasa saja hari ini.” Tak sedikitpun tergambar rasa akesal di wajahnya.

Sayidatuna ‘Aisyah mengisahkan kesederhanaan Rasulullah SAW tidak pernah memenuhi perutnya. Ketika bersama keluarganya, beliau tidak pernah minta makan kepada istri-istrinya. Jika mereka menghidangkan makanan , beliau pun makan. Beliau memakan apa yang dihidangkan mereka, dan meminum apa yang dihidangkan mereka.”

Walau Nabi Muhammad SAW penuh kesederhanaan, bahkan terkadang tak jarang makan, beliau tetap tegar menjalankan risalah kenabian yang melekat pada dirinya. Pernah suatu ketika, saat beliau menjadi imam shalat, para sahabat melihat gerakan Baginda Nabi antara satu rukun ke satu rukun yang lain amat sukar sekali. Dan mereka mendengar bunyi menggerutuk, seolah-olah sendi-sendi pada tubuh manusia yang paling mulia itu bergeser.

Usai shalat, Sayidina Umar bin Khatab yang tidak tahan melihat keadaan Nabi, langsung bertanya,”Ya Rasulullah, kami melihat seolah-olah engkau menanggung penderitaan yang amat berat. Sakitkah, Ya Rasulullah?”

“Tidak, ya Umar. Alhamdulillah, aku sehat dan segar,” jawab beliau dengan wajah yang senantiasa tersenyum.

“Ya Rasulullah, mengapa setiap kali engkau menggerakan tubuh, kami mendengar seolah-olah sendi bergesekan di tubuh engkau? Kami yakin, engkau sedang sakit,” umar mendesak, cemas.

Akhirnya Rasulullah SAW mengangkat jubahnya. Para sahabat amat terkejut. Perut Baginda yang kempis, kelihatan dililit sehelai kain yang berisi batu kerikil, buat menahan rasa lapar. Batu-batu kecil itulah yang menimbulkan bunyi-bunyi halus setiap kali tubuh Nabi bergerak.

“Ya Rasulullah, adakah bila engkau mengatakan lapar dan tidak punya makanan kami tidak akan mendapatkannya buat engkau?”

Lalu Baginda Nabi menjawab dengan lembut, “Tidak, para sahabatku. Aku tahu, apapun akan engkau korbankan demi rasulmu. Namun apakah akan aku jawab di hadapan Allah nanti bahwa aku, sebagai pemimpin, menjadi beban kepada umatnya? Biarlah kelaparan ini sebagai hadiah Allah buatku, agar umatku kelak tidak ada yang kelaparan di dunia ini, lebih lebih lagi tiada yang kelaparan di akhirat kelak.”

Mengenai makan dan minum, Rasulullah SAW adalah orang tidak kecanduan terhadapnya. Nabi menganjurkan agar mengurangi keperluan makan minum dan tidur.    

Al Miqdam ibn Ma’dikarib berkata, Nabi Muhammad SAW bersabda,”Anak Adam tidak memenuhi suatu bejana yang lebih buruk dari perutnya. Cukuplah bagi anak Adam beberapa potong makanan untuk menguatkan punggungnya. Jika memerlukan lebih banyak lagi, sepertiganya untuk minum dan sisanya untuk bernafas. Sebab akibat dari banyak makan dan minum adalah banyak tidur.” (HR Tirmidzi dan Ibnu Hibban). (Aji Setiawan)

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir AlaSantri, News, Tegal Haedar Nashir

Jumat, 14 November 2014

Gus Sholah: Kita Tak Ingin Pelemahan KPK Kembali Terjadi

Jombang, Haedar Nashir. Pengasuh Pondok Pesantren Tebuireng KH Salahuddin Wahid (Gus Sholah) menilai, keberadaan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) sering mendapatkan gangguan. Padahal, korupsi adalah masalah utama yang harus diperjuangkan untuk memujudkan negara hukum.

Gus Sholah menyampaikan hal tersebut dalam Halaqoh Kebangsaan dengan tema “Masa Depan Pemberantasan Korupsi” di Aula Yusuf Hasyim Tebuireng, Jombang, Jawa Timur, Sabtu (28/3). Hadir dalam kesempatan ini anggota Tim 9, di antaranya Prof Jimly Assidiqie (mantan ketua Mahkamah Konstitusi), Johan Budi (Plt Pimpinan KPK), dan Dr. Bambang Widjayanto dan (pimpinan KPK nonaktif).

Gus Sholah: Kita Tak Ingin Pelemahan KPK Kembali Terjadi (Sumber Gambar : Nu Online)
Gus Sholah: Kita Tak Ingin Pelemahan KPK Kembali Terjadi (Sumber Gambar : Nu Online)

Gus Sholah: Kita Tak Ingin Pelemahan KPK Kembali Terjadi

"KKN, dalam hal ini korupsi, saat reformasi adalah masalah utama yang diperjuangkan untuk diperangi. Dan kita paham waktu itu lembaga hukum tumpul, maka dibentuk KPK," ujar Cucu Hadratussyaikh Muhammad Hasyim Asy’ari ini.

Haedar Nashir

Namun, lanjut Gus Sholah, KPK sering mendapatkan gangguan. Hal ini seperti yang terjadi pada mantan ketua KPK, Antasari Azhar, kemudian Bibit dan Candra. Dan sekarang kasus Abraham Samad dan Bambang W.

Haedar Nashir

"Kita tidak ingin kasus gangguan terhadap KPK terulang kembali," tandasnya menyikapi ditersangkakannya dua pimpinan KPK Abraham Samad dan Bambang Widjajanto atas kasus yang dinilai hanya dicari-cari. "Kalau hanya mencari-cari persoalan atau kasus seseorang, semua orang pasti memiliki masalah, termasuk AS dan BW," ujarnya.

Gus Sholah juga mempertanyakan sikap Presiden terkait penangan korupsi ini. Karena hukum saat ini dinlai tajam ke bawah dan tumpul ke atas. "Saya tidak paham apakah Presiden ngerti apa tidak soal ini," imbuhnya.  

Rencananya, rekomendasi para kiai pesantren dalam halaqoh yang salah satunya menghasilkan dukungan pengutaan kelembagaan hukum untuk memberantas korupsi itu akan disampaikan ke Presiden, DPR, serta pihak-pihak yang terkait dengan lembaga antikorupsi di Indonesia. "Yang paling urgen adalah pengutan kelembagaan hukum, untuk memberantas korupsi, ini yang penting disampaikan," tandasnya.

Sementara itu, sebelumnya Prof Jimli Asshidiqi dalam pemaparannya mengatakan bahwa kasus yang menimpa pimpinan KPK, yakni Abraham Samd dan Bambang Widjayanto, merupakan upaya pelemahan. Selain itu KPK juga diserang dengan kriminalisasi para penyidiknya, juga para pegiat antikorupsinya. "Dulu pernah terjadi pada Antasari Azhar kemudian Bibit-Candra, saya khawatir peradilan sesat atas kasus Antasari Azhar terjadi lagi," tutur anggota Tim 9 ini.  (Muslim Abdurrahman/Mahbib)

 

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Kyai Haedar Nashir