Minggu, 09 Maret 2008

Aswaja NU Center Jawa Timur Bentuk Tim Narasumber

Surabaya, Haedar Nashir. Respon masyarakat terhadap keberadaan Aswaja NU Center demikian menggembirakan. Hal mendesak yang harus segera dilengkapi adalah ketersediaan pemateri yang bisa setiap saat dihadirkan.

Aswaja NU Center Jawa Timur Bentuk Tim Narasumber (Sumber Gambar : Nu Online)
Aswaja NU Center Jawa Timur Bentuk Tim Narasumber (Sumber Gambar : Nu Online)

Aswaja NU Center Jawa Timur Bentuk Tim Narasumber

"Karena itu untuk periode ini kami membentuk tim narasumber," kata KH Abdurrahman Navis, Sabtu (3/9) petang. Keberadaan tim tersebut sebagai proses regenerasi sekaligus memberikan jaminan bagi ketersediaan pemateri yang sesuai spesifikasi, lanjut Direktur PW Aswaja NU Center Jatim ini.

Ada tiga tugas utama dari tim yang beranggotakan 13 orang tersebut. "Pertama adalah memberikan tulisan tentang materi keaswajaan untuk dimuat di sejumlah media sosial," kata Pengasuh Pesantren Nurul Huda Surabaya ini. Diharapkan lewat penjadwalan yang rutin, maka setiap narasumber bisa berbagi sudut pandang terkait masalah keaswajaan. "Khususnya yang sedang hangat diperbincangkan di media sosial," lanjutnya.

Sedangkan tugas kedua adalah menyiapkan materi yang disampaikan dalam bentuk shoting video. "Konten atau isinya seputar Aswaja yang akan dishare di yuotube serta Aswaja TV," kata Kiai Navis, sapaan akrabnya. Dengan jumlah nara sumber yang tersedia, diharapkan setiap hari ada materi singkat seputar Aswaja yang disampaikan lewat audio visual tersebut.

Haedar Nashir

Dan yang juga tidak kalah penting adalah keberadaan mereka bisa menjadi narasumber pada kegiatan pendalaman materi yang dikelola Aswaja NU Center. "Karena banyak radio, televisi, sekolah, masjid atau mushalla serta jamaah pengajian yang berkeinginan mendapat pendalaman Aswaja," ungkapnya.

Keberadaan tim narasumber tersebut dibahas secara khusus pada kegiatan taaruf dan rapat kerja (raker) PW Aswaja NU Center Jatim di kantor setempat. Sejumlah nama yang dipercaya sebagai anggota antara lan KH Romadhon Khotib, Ustadz Fathul Qodir, Ahmad Muntaha AM, Nur Fauzi, Multazam Muslih, M. Luqmananul Hakim, HM Nasir Elhaq Abdi, Kholili Hasib, H Abd. Qodir Mahrus, M Syakur Dewa, M Badrul Munir, juga Hj. Mutimmah Faidah.

Kiai Navis juga mengingatkan bahwa para anggota hendaknya lebih peka terhadap problematika keumatan khususnya yang mengemuka di media sosial atau medsos. "Karenanya, harus ada yang ditugasi khusus untuk melakukan pemantauan untuk menangkap problem keumatan yang sedang hangat diperbincangkan," harap dosen di UIN Sunan Ampel Surabaya tersebut. (Ibnu Nawawi/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir

Haedar Nashir Olahraga, Pertandingan Haedar Nashir

Minggu, 05 Agustus 2007

Sholawat Badar Berkumandang untuk SBY

Jakarta, Haedar Nashir. Kehadiran Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) untuk bersilaturrahmi dengan para pengurus Jam’iyyah Ahlith Thariqah Al Mu’tabarah An Nahdliyyah di Asrama Haji Pondok Gede, Senin (30/6) malam mendapatkan sambutan meriah.



Sholawat Badar Berkumandang untuk SBY (Sumber Gambar : Nu Online)
Sholawat Badar Berkumandang untuk SBY (Sumber Gambar : Nu Online)

Sholawat Badar Berkumandang untuk SBY

Seusai doa penutup, jamaah tarekat yang memenuhi ruangan melantunkan sholawat badar yang membuat suasana semakin religius. Mereka berebutan untuk bisa bersalaman dengan orang nomor satu di Indonesia ini.

Dengan sabar, lelaki asal Pacitan ini menyalami satu-persatu jamaah yang sebagian besar berpakaian putih-putih sehingga diperlukan waktu sekitar 10 menit untuk berjalan yang sebenarnya hanya beberapa meter dari gedung menuju mobilnya. Wajah SBY juga tampak ceria dan penuh senyum mendapatkan sambutan yang luar biasa ini. Sesekali, terdengar teriakan “Hidup SBY”.

Haedar Nashir

Beberapa pejabat negara yang mendampingi silaturrahmi Presiden Yudhoyono adalah Menteri Agama Maftuh Basyuni, Menteri Dalam Negeri Mardiyanto, Menko Kesra Aburizal Bakrie, Menkominfo M. Nuh, Sekretaris Kabinet Sudi Silalahi, Menteri Kehutanan MS Kaban dan Gubernur DKI Jakarta Fauzi Bowo.?

Sebenarnya, Presiden dijadualkan membuka acara munas yang berlangsung pada 28-30 Juni ini, namun karena kendala waktu, akhirnya acara dibuka oleh Wapres Jusuf Kalla dan pertemuan dengan presiden dikemas dalam bentuk “Dialog dengan Presiden Yudhoyono”.

Haedar Nashir

Dalam pesannya, SBY mengajak umat Islam untuk membangun peradaban baru dengan mengedepankan peradaban Islam yang menjadi bagian dari peradaban umat manusia. Nilai-nilai perdamaian dan toleransi harus terus dikedepankan. Ia juga meminta agar para ulama mampu membumikan nilai-nilai Islam di Indonesia. (mkf)Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Ahlussunnah, Kajian Islam Haedar Nashir

Kamis, 02 Agustus 2007

Pagar Nusa: Presiden Harus Tegas Terhadap Teroris!

Jakarta, Haedar Nashir - Ketua PP Pencak Silat NU Pagar Nusa M Heru Taufiq menyatakan bahwa Presiden Jokowi harus tegas dalam menindak teroris. Gus Heru menilai, pemerintah hendaknya menetapkan status "darurat terbatas" untuk meningkatkan pengamanan atas ancaman terorisme di DKI Jakarta.

"Presiden Joko Widodo harus bertindak tegas terhadap pelaku teror. Pemerintah harus memutus jaringan teror dengan program deradikalisasi taktis dan sistematis. Memberikan perilaku aman kepada warga negara, sudah menjadi tanggung jawab pemerintah," ungkap Gus Heru, yang juga keluarga dekat Pesantren Tebuireng.

Pagar Nusa: Presiden Harus Tegas Terhadap Teroris! (Sumber Gambar : Nu Online)
Pagar Nusa: Presiden Harus Tegas Terhadap Teroris! (Sumber Gambar : Nu Online)

Pagar Nusa: Presiden Harus Tegas Terhadap Teroris!

Untuk itu, ia menegaskan bahwa penetapan status darurat terbatas menjadi opsi strategis untuk mengantisipasi ancaman teror lanjutan. "Ancaman aksi teror sudah menghantui warga negeri, khususnya di DKI Jakarta. Teror hari ini, bisa saja terjadi di daerah lain, dengan motif dan tujuan yang sama, yakni mengancam keutuhan NKRI," terang Heru.

Haedar Nashir

Ia mengapresiasi kinerja Polri yang cukup tanggap dan dalam waktu singkat melumpuhkan para teroris. "Kita dukung kerja polisi, dan kami memberikan apresiasi atas penanganan dalam waktu yang cukup singkat sehingga bisa memberikan rasa aman pada masyarakat," ucap Gus Heru.

Haedar Nashir

Untuk itu, tambah Gus Heru, upaya deradikalisasi perlu dikonseptualisasi dengan semangat "hubbul wathan" . "Prinsip Hubbul Wathan ini sudah menjadi semangat kaum pesantren dalam membela bangsa sejak masa kemerdekaan. Tentu saja, semangat ini dapat dikontekstualkan untuk menguatkan NKRI dari ancaman kekerasan jaringan teroris. Pagar Nusa siap membela Indonesia dengan program deradikalisasi berkelanjutan," terang Heru.

Dalam keterangan pers yang diterima media ini, Gus Heru menegaskan bahwa deradikalisasi perlu mengintegrasikan kekuatan aparat negara dan ormas-ormas Islam yang selama ini terbukti membela NKRI.

Siang tadi, Kamis (14/1), sekitar pukul 10.00 WIB terjadi ledakan di kawasan Sarinah, Jakarta. Ledakan keras terjadi di Pos Polisi dan Starbucks Sarinah Jalan MH Thamrin, Jakarta Pusat. Data yang dirilis Polda Metro Jaya, terdapat 20 korban luka, 6 orang anggota polisi, 10 warga sipil, dan 4 Warga Negara Asing. (Red Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Meme Islam Haedar Nashir

Selasa, 27 Februari 2007

Seni Untuk Dakwah ala Santri Ta’mirul Islam

Solo, Haedar Nashir. Islam di Indonesia dapat berkembang dengan pesat, salah satunya karena jasa para Walisongo yang menyebarkan Islam dengan pendekatan kesenian. Wayang, Gamelan dan lain sebagainya menjadi media dakwah untuk menyampaikan ajaran Islam kepada masyarakat yang waktu itu masih banyak menganut paham Hindu-Budha.

Metode ini, berdakwah dengan kesenian, rupanya menjadi inspirasi santri-santri Ma’had Aly Pondok Pesantren Ta’mirul Islam Surakarta. Pada acara Harlah Ma’had Aly yang ke-8, Sabtu (30/3) dihelat acara yang bertema “Dengan Seni Dakwah Menjadi Indah” di Kompleks Pondok Pesantren Ta’mirul Islam Surakarta.

Seni Untuk Dakwah ala Santri Ta’mirul Islam (Sumber Gambar : Nu Online)
Seni Untuk Dakwah ala Santri Ta’mirul Islam (Sumber Gambar : Nu Online)

Seni Untuk Dakwah ala Santri Ta’mirul Islam

Acara tersebut, akan menghadirkan Budayawan Emha Ainun Najib (Cak Nun) beserta grup Kiai Kanjeng. Salah satu panitia, Agus Styawan, menuturkan kesenian dapat menjadi salah satu cara efektif untuk berdakwah.

Haedar Nashir

“Dakwah dengan kesenian ini misalnya, yang sering kami lakukan yakni sholawatan bersama dengan diiringi rebana,“ kata Agus yang juga Ketua Dewan Mahasantri (Dema) Ma’had Aly ini.

Haedar Nashir

Agus melanjutkan tujuan acara ini juga untuk menjalin jalinan silaturahim mahasantri Ma’had Aly dengan masyarakat. Ma’had Aly sendiri merupakan sebuah lembaga pendidikan setingkat perguruan tinggi yang berdiri di bawah naungan Pondok Pesantren Ta’mirul Islam Surakarta.

Redaktur    : A. Khoirul Anam

Kontributor: Ajie Najmuddin

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Santri, Quote, Internasional Haedar Nashir

Kamis, 22 Februari 2007

Jenang Procotan, Tradisi untuk Orang Hamil 9 Bulan

Karanganyar, Haedar Nashir. Menilik namanya, kuliner jenang yang satu ini tidak hanya kuliner biasa. Jenang Procotan menyimpan makna serta gambaran tentang harapan seseorang terhadap proses kelahiran dan  kualitas keturunan dalam sebuah keluarga.

Jenang Procotan, Tradisi untuk Orang Hamil 9 Bulan (Sumber Gambar : Nu Online)
Jenang Procotan, Tradisi untuk Orang Hamil 9 Bulan (Sumber Gambar : Nu Online)

Jenang Procotan, Tradisi untuk Orang Hamil 9 Bulan

Jenang Procotan, atau dikenal juga dengan Jenang Procot, merupakan kuliner khas yang dibuat ketika usia kehamilan seorang perempuan mencapai 9 bulan. Ia sejenis doa agar proses kelahiran berjalan lancar. Bubur ini juga dimakan saat bancakan ketika seorang ibu hamil tua, atau mendekati HPL (hari perkiraan lahir).

"Jenang Procotan ini mengandung makna agar jabang bayi lekas lahir dengan selamat, mak Procot kalau orang Jawa bilang," papar Ngatmi, salah satu warga kaki Gunung Lawu Karanganyar yang sedang membuatkan jenang procot untuk putrinya yang sedang hamil 9 bulan, Jum’at (6/9).

Haedar Nashir

Setelah Jenang Procotan selesai dibuat, Bu Ngatmi, demikian ia biasa disapa, pun membuat nasi tumpeng yang dilengkapi beraneka macam lauk di sekelilingnya. Setelah didoakan, jenang beserta tumpeng tersebut dibagi-bagikan kepada tetangga sekitar. Makna dari tradisi tersebut, agar kelak anak menjadi orang yang suka bersedekah dan berbagi dengan sesama.

Haedar Nashir

Tekstur Jenang Procot sendiri terbilang lembut dan manis, dimana jenang tersebut dibuat dari tepung beras dan paduan bumbu alami seperti daun pandan, gula jawa, serta tambahan pisang raja utuh di tengahnya.

Pisang raja sendiri dimaknai sebagai simbol raja. Harapannya, jika si anak lahir kelak akan menjadi anak yang baik dan berbudi luhur. Jenang ini tergolong istimewa karena selain enak rasanya, di dalamnya juga terkandung nilai budaya. (Ahmad Rosyidi/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Daerah, Tegal Haedar Nashir

Jumat, 09 Februari 2007

Kiai Manan Paparkan 7 Strategi Dakwah dalam Merevitalisasi Masjid

Pringsewu, Haedar Nashir. Saat mengisi Kegiatan Ngaji Ahad Pagi atau Jihad Pagi yang rutin dilaksanakan di Gedung NU Pringsewu, Ahad (14/5), Ketua PBNU KH Abdul Manan Ghani mengajak umat Islam memaksimalkan masjid khususnya di lingkungan NU untuk pengembangan dakwah dan amaliyah ibadah.

"Masjid merupakan tempat membangun peradaban dan aset yang berperan penting dimasyarakat. Membangun Masjid gampang namun memakmurkannyalah yang lebih penting," tegasnya di hadapan jamaah dan Pengurus NU di Kabupaten Pringsewu yang memenuhi Aula gedung tersebut.

Kiai Manan Paparkan 7 Strategi Dakwah dalam Merevitalisasi Masjid (Sumber Gambar : Nu Online)
Kiai Manan Paparkan 7 Strategi Dakwah dalam Merevitalisasi Masjid (Sumber Gambar : Nu Online)

Kiai Manan Paparkan 7 Strategi Dakwah dalam Merevitalisasi Masjid

Maksimalisasi Masjid sebagai tempat dakwah dan ibadah lanjut Kiai yang sebelumnya merupakan Ketua Lembaga Takmir Masjid NU (LTMNU) ini dapat ditempuh dengan berbagai langkah nyata. Lebih lanjut Ia memaparkan tujuh Strategi Dakwah dalam Merevitalisasi Masjid.

Strategi tersebut terangkum dalam doa yang sering diucapkan setiap waktu yaitu "Allahumma Inna Nasaluka Salamatan Fiddin, Waafiyatan Fil Jasad, Wazidatan Fil Ilmi, Wa Barakatan Fi Rizq, wa Taubatan Qablal Maut, Warahmatan Indal Maut, wa Maghfiratan Badal Maut.

Pertama, salamatan fiddin yaitu memaksimalkan masjid sebagai tempat gerakan, pemeliharaan aqidah ummat Islam  ahlus sunnah wal jamaah (aqidah, syariah, akhlak) sesuai dengan sunah Rasulullah, para sahabat, tabiin dan para ulama Salafussalihin.

Haedar Nashir

Hal ini dapat ditempuh dengan langkah nyata seperti Menegakkan shalat berjamaah dan mendata jamaah, Pengajian Al-Qur`an dan Aqidah Aswaja, Sertifikasi Masjid dan pendataan Masjid-Masjid NU.

Haedar Nashir

Kedua adalah Waafiyatan Fil Jasad yaitu memaksimalkan Masjid sebagai tempat gerakan pelayanan kesehatan ummat. Dalam hal ini takmir Masjid dapat menjalin kerjasama Lembaga Kesehatan dalam melayani kesehatan jamaah masjid, penyuluhan kesehatan dan penyuluhan  pola hidup sehat dan menyelenggarakan Gerakan kebersihan masjid serta lingkungan sekitar masjid. Selain itu perlu menghidupkan majlis dzikir, baik jamaah yasin, istighosah, sholawat dan sejenisnya.

Ketiga adalah Waziyadatan fil Ilmi yaitu menjadikan Masjid sebagai tempat gerakan peningkatan Sumber Daya Manusia Jamaah Masjid dan putra-putrinya di bidang keilmuan dan keterampilan. Langkah konkrit yang bisa ditempuh adalah seperti menyelenggarakan bimbingan belajar putra-putri jamaah masjid berbagai bidang keilmuan dan keterampilan sekaligus kaderisasi Remaja Masjid seperti : bahasa Arab, bahasa Inggris, matematika, IPA, IPS, pelatihan MC, dan lain-lain.

Keempat adalah Wabarakatan Fi Rizq yaitu menjadikan Masjid sebagai pusat gerakan pemberdayaan ekonomi ummat. Membuat LAZ, UPZ masjid, GISMAS (Gerakan Infaq Shadaqah memakmurkan Masjid), Membangun Kewirausahaan, Warmas (warung masjid) merupakan salah satu usaha real yang bisa ditempuh.

Kelima adalah Wataubatan Qablal Maut yaitu menjadikan Masjid sebagai pusat gerakan dakwah mengajak dan menyadarkan orang Islam yang belum menjalankan syariat Islam dan dakwah untuk non-muslim sebagai tempat kembali bagi orang-orang yang ingin kembali kepada Allah. 

Hal ini dapat ditempuh dengan Pelatihan dakwah, Penyebarluasan materi Islam melalui berbagai media, Menyediakan pengajian (massal atau privat) untuk orang-orang yang ingin mempelajari dan memperdalam Islam tetapi terkendala waktu dan kesibukan lainnya serta Menyusun materi dan metodologi dakwah sesuai dengan perkembangan.

Keenam adalah Warahmatan Indal Maut yaitu maksimalisasi Masjid Sebagai pusat gerakan kepedulian sosial seperti Menjenguk jamaah yang sakit, Mengantar jamaah sakit ke rumah sakit, Menolong orang-orang yang terkena bencana, Pelatihan pemulasaraan jenazah dan lain lain.

Dan yang terakhir adalah Wa Maghfiratan Badal Maut yaitu Masjid sebagai tempat berdoa untuk mendoakan orang-orang yang telah wafat dengan bentuk kegiatan seperti Talqin Mayyit, mengadakan tahlilan dan yasinan, Ratiban, dibaan, barzanjian, Istighatsah serta Lailatul Ijtima. (Muhammad Faizin/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Nusantara, Hikmah, AlaSantri Haedar Nashir

Rabu, 10 Januari 2007

Perbincangan Rasulullah SAW Usai Shalat Gerhana

Saat gerhana terjadi di masa Nabi, banyak orang mengaitkan fenomena itu dengan wafatnya Ibrahim, putra Rasulullah SAW. Ia adalah putra kesayangan Nabi Muhammad. Dugaan ini langsung dibantah oleh Rasulullah SAW sembari menjelaskan bahwa kejadian gerhana tidak ada kaitannya dengan kematian dan kehidupan siapa pun.

Gerhana hanyalah fenomena alam biasa, yang terjadi atas kehendak Sang Pencipta Alam. “Apabila kalian mendapati fenomena ini, ingatlah Allah,” demikian pesan Nabi Muhammad SAW, (HR Al-Bukhari dan Muslim).

Perbincangan Rasulullah SAW Usai Shalat Gerhana (Sumber Gambar : Nu Online)
Perbincangan Rasulullah SAW Usai Shalat Gerhana (Sumber Gambar : Nu Online)

Perbincangan Rasulullah SAW Usai Shalat Gerhana

Di antara media paling baik untuk mengingat Allah ialah shalat. Makanya shalat gerhana sangat dianjurkan, sunah mu’akkad. Bahkan makruh meninggalkannya. Usai shalat, menurut Madzhab Syafi’i disunahkan dua khotbah, laiknya khotbah hari raya (‘Idul Fitri dan ‘Idul Adlha).

Haedar Nashir

Seketika selesai shalat gerhana, Nabi Muhammad SAW menyempatkan diri berbincang-bincang dengan para sahabatnya. Mungkin obrolan ini dimulai setelah Nabi melaksanakan khotbah. Hasil obrolan itu terekam baik dalam Shahih Muslim. Kisah ini diceritakan oleh Ibnu ‘Abbas yang turut hadir mengikuti shalat gerhana bersama Rasulullah SAW. Berikut petikan obrolannya,

?: ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?: ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?: ? ?: ? ? ?: ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?: ? ? ? ? ?.

Haedar Nashir

Artinya, “Wahai Rasulullah, kami melihat engkau sepertinya mendapatkan sesuatu di tempat anda berdiri ini. Kami juga melihat Anda menahan kedua tangan?” tanya sahabat.

 “Sesungguhnya aku melihat surga. Aku mendapati satu tandan darinya. Sekiranya Kuambil, niscaya kalian akan memakannya selama dunia ini berputar. Aku juga melihat neraka, sebuah pemandangan mengerikan yang belum pernah kusaksikan sebelumnya. Kulihat kebanyakan penghuninya adalah kaum wanita,” kata Rasulullah SAW.

“Apa sebabnya?”

“Lantaran kekufuran mereka,” jawab Rasul.

“Apakah mereka kufur kepada Allah?”

“Mereka kufur terhadap suaminya dan mengingkari kebaikannya. Andaikan kalian berbuat baik kepada salah seorang di antara mereka sepanjang zaman, lalu dia mendapati satu kekuranganmu, ia akan mengatakan, ‘Saya belum pernah melihat kebaikanmu sama sekali,’” kata Rasul.

Obrolan ini memiliki makna yang sangat dalam, terutama bagi kaum perempuan. Ternyata kufur tidak hanya terhadap Allah SWT, tetapi ada juga yang ditujukan kepada suami. Dua jenis kufur ini termasuk perbuatan yang tidak baik.

Sepantasnya seorang istri menghargai setiap jerih payah dan usaha suaminya. Karena bagaimana pun mereka sudah bersusah-payah banting tulang demi kebahagian seorang istri. Wallahu a’lam. (Hengki Ferdiansyah)

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Halaqoh, Khutbah Haedar Nashir