Senin, 19 Oktober 2009

Ajengan Menggerakkan Ayat Jadi Klinik

Pengasuh Pondok Pesantren Al-Amin Cicurug Sukabumi Ajengan KH Abdul Basith mengatakan, sebuah negara yang merdeka adalah ketika ada seorang masyarakat sakit, kemudian datang ke rumah sakit, ia tidak perlu membayar, tapi gratis.

Sekarang memang pemerintah Indonesia mengupayakan pelayanan kesehatan melalui BPJS, tapi program tersebut masih berbayar.

Ajengan Menggerakkan Ayat Jadi Klinik (Sumber Gambar : Nu Online)
Ajengan Menggerakkan Ayat Jadi Klinik (Sumber Gambar : Nu Online)

Ajengan Menggerakkan Ayat Jadi Klinik

Tak hanya itu, harga sandang pangan di negara merdeka seharusnya murah atau terjangkau oleh seluruh lapisan masyarakat. Kalau bisa gratis.

“Sekarang ada beras raskin, itu bukan gratis, tapi masih membayar, itu namanya jualan,” katanya dalam bahasa Sunda ketika ditemui di kediamannya pada Senin (18/7). ?

Haedar Nashir

Ajengan yang Ketua PCNU Kabupaten Sukabumi ini, tak hanya diam dengan keadaan itu. Ia mencari akal agar, tetangganya di desa ia tinggal, bisa gratis dalam pengobatan apabila ada yang sakit. Juga bisa membayar beras raskin bagi orang miskin.

Haedar Nashir

Ia pun teringat akan ayat dalam Al-Qur’an bahwa ciri orang yang bertakwa adalah orang-orang yang menafkahkan (hartanya), baik di waktu lapang maupun sempit (QS 3 Ali Imron ayat 134)

Tidak hanya mengetahui atau berbicara, dari ayat itu, ia mengupayakannya. Caranya adalah mendekati tokoh masyarakat untuk mengajak warga menyisihkan uang 500 rupiah per hari.

Ajakan Ajengan Basith itu gayung bersambut, setelah diadakan pertemuan warga sedesa, mereka sepakat dan melakukannya. Dan hasilnya mencengangkan, warga di Desa Nanggerang bisa mengumpulkan uang 25 juta per bulan.

Ketika uang itu dikumpulkan selama 2 tahun, warga Nanggerang mampu membeli mobil ambulans satu, klinik gratis satu, sekretariat Zakat Infak dan Sedekah, serta membebaskan pembelian raskin bagi warga tidak mampu. (Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Khutbah, Amalan Haedar Nashir

Jumat, 25 September 2009

Banjir Terjang Mojoagung, Makam Sayid Sulaiman Aman

Jombang, Haedar Nashir. Banjir besar menerjang sedikitnya 8 desa di Kecamatan Mojoagung, Jombang, Jawa Timur, Jumat (20/2) dini hari. Sebanyak 1,5 rumah warga, sekolah hingga kantor Polsek setempat terendam. Meski demikian, makam salah satu auliya, Mbah Sayid Sulaiman di Betek-Mancilan Mojoagung masih aman dari musibah ini.

"Alhamdulillah, sejak banjir tadi malam saya memantau lokasi menuju makam tidak banjir, mungkin di sekitar makam. Tapi kalau makam tidak," ujar Skaroni, salah satu Anggota BPD Desa Mancilan saat ditemui usai shalat Jumat.

Banjir Terjang Mojoagung, Makam Sayid Sulaiman Aman (Sumber Gambar : Nu Online)
Banjir Terjang Mojoagung, Makam Sayid Sulaiman Aman (Sumber Gambar : Nu Online)

Banjir Terjang Mojoagung, Makam Sayid Sulaiman Aman

Dari pantauan Haedar Nashir, Jumat siang tadi makam seluas lebih dari satu hektar di Dusun Rejoslamet Desa Mancilan itu tampak kering. Beberapa orang bahkan datang melakukan ziarah di makam yang berbatasan antara Mancilan–Betek tersebut.

Haedar Nashir

Hal yang sama juga terlihat di makam Sayid Abdurrahman Al Maghrobi dan Sayid Ahmad Al Maghrobi. Makam yang berada di sebelah Masjid Agung Mojoagung itu juga terbebas dari banjir.

Seperti diketahui, sejak Kamis (19/2) malam, banjir bandang akibat luapan sungai Gunting menerjang 8 Desa di Kecamatan Mojoagung, di antaranya Desa Kademangan, Janti, Mancilan, Kedunglumpang, Betek, Gambiran, serta Kauman.

Haedar Nashir

"Dari 8 desa itu, sekitar seribu orang hari ini mengungsi. Pengungsi kita tampung di tiga lokasi, yakni Masjid Janti, Masjid Gambiran, serta RTH Mojoagung," kata Nur Huda ketika ditemui di RTH Mojoagung.

Nur Huda mengatakan, tingginya curah hujan yang terjadi Kamis malam mengakibatkan dua sungai yang melintas di Mojowarno dan Mojoagung meluap. Akibatnya sekitar 1500 pemukiman warga dan beberapa fasilitas pemerintah, seperti sekolah, polsek dan kantor Pos terendam.

"Ketinggian air rata rata 70 centimeter. Bahkan ketinggian air yang berada di pemukiman mencapai 2 meter lebih," ujarnya seraya mengatakan banjir mulai surut, namun hingga siang tadi, beberpa pemukiman waga masih terendam banjir. (Muslim Abdurrahman/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Lomba, Hadits, Warta Haedar Nashir

Kamis, 10 September 2009

Kiai Said: Membangun Peradaban adalah Amalan Paling Mulia

Jombang, Haedar Nashir. Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Said Aqil Siroj, mengingatkan pentingnya ilmu pengetahuan dalam kehidupan beragama, berbangsa dan bernegara. Menguasai ilmu pengetahuan untuk tujuan membangun peradaban disebutnya sebagai amalan paling mulia.

 

Kiai Said: Membangun Peradaban adalah Amalan Paling Mulia (Sumber Gambar : Nu Online)
Kiai Said: Membangun Peradaban adalah Amalan Paling Mulia (Sumber Gambar : Nu Online)

Kiai Said: Membangun Peradaban adalah Amalan Paling Mulia

"Kita tidak bisa hanya mengandalkan kebesaran Mbah Hasyim (KH Hasyim Asyari), Mbah Wahab (KH Wahab Hasbullah) dan kiai-kiai besar lainnya. Kita harus terus belajar dan meningkatkan pengetahuan kita, kita harus membangun peradaban yang semakin baik," ungkap Kiai Said saat menjadi pembicara dalam sesi penguatan Rapat Konsolidasi Nasional Lembaga Kesehatan Nahdlatul Ulama (LKNU) di Universitas Pesantren Tinggi Darul Ulium (Unipdu), Jombang, Jawa Timur, Sabtu (14/4).

 

Kiai Said menambahkan, tidak mengandalkan kebesaran Kiai-kiai terdahulu bukan berarti melupakan jasa-jasanya. Sebaliknya, penguasan ilmu pengetahuan untuk tujuan membangun peradaban yang lebih baik adalan wujud penghargaan yang sebenarnya. "Membangun peradaban itu amalah paling mulia, karena dengan itu kita mengembangkan apa yang sudah dilakukan Kiai-kiai sepuh pendahulu kita," tambahnya tegas.

Haedar Nashir

Rapat Konsolidasi Nasional LKNU yang bertujuan untuk membantu peningkatan pelayanan kesehatan ke masyarakat diapreasi secara positif oleh Kiai Said, karena merupakan salah satu upaya untuk membangun peradaban yang lebih baik. Islam dijelaskannya memiliki sejarah besar di bidang ilmu pengetahuan, salah satunya kesehatan, dengan lahirnya ulama-ulama besar pencetus dan penemu sejumlah teknologi kedokteran.

"Kalau sekarang namanya apoteker. Jangan dikira yang mencetuskan orang Amerika, orang Eropa atau Australia. Ilmu apoteker pertama kali ditemukan oleh Az Zuhri, tokoh Islam, meski saat itu hanyalah cara-cara pengobatan herbal," urai Kiai Said.

Apresiasi positif juga diberikan terkait pilihan lokasi Rapat Konsolidasi Nasional LKNU di Pondok Pesantren Darul Ulum, Jombang, Jawa Timur. Pilihan ini dianggap sebagai wujud semangat kembali ke pesantren yang dicetuskan oleh Kiai Said dalam Muktamar NU di Makasar.

Haedar Nashir

 

Penulis: Emha Nabil Haroen

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Pertandingan, Humor Islam, Santri Haedar Nashir

Kamis, 06 Agustus 2009

Kaum Muda NU Diharap Beri Kontribusi untuk Nahdliyin dan Bangsa

Jombang, Haedar Nashir. Sekitar dua ribu anak muda Nahdlatul Ulama (NU) menghadiri Musyawarah Kamu (Kaum Muda) NU di halaman Universitas Wahab Chasbullah di Tambak Beras, Jombang, Jawa Timur. 

Menteri Agama RI Lukman Hakim Syaifudin mengarepasiasi positif kegiatan tersebut. "Ini positif, kaum muda bisa ikut terlibat dalam Muktamar NU ke-33. Karena itu, pemerintah tentu mengapresiasi dan mendukung kegiatan ini," papar Menteri Lukman, Ahad (2/8).

Kaum Muda NU Diharap Beri Kontribusi untuk Nahdliyin dan Bangsa (Sumber Gambar : Nu Online)
Kaum Muda NU Diharap Beri Kontribusi untuk Nahdliyin dan Bangsa (Sumber Gambar : Nu Online)

Kaum Muda NU Diharap Beri Kontribusi untuk Nahdliyin dan Bangsa

Musyarawarah Kamu NU menurut dia, akan menjadi lebih penting dan bermakna jika memberikan kontribusi, sumbangan bagi kalangan Nahdliyin serta bangsa dan negara.

Haedar Nashir

"Kaum muda merupakan jantung pergerakan, berhimpunnya kaum muda NU ini merupakan potensi luar biasa, anak-anak muda kita ini luar biasa," kata Menteri Lukman yang membuka kegiatan Musyawarah Kamu NU itu pula.

Haedar Nashir

Potensi Kamu NU menurut Menteri Lukman sudah luar biasa dalam berbagai bidamg kehidupan dan tidak seperti dulu-dulu.

"Semoga hasilnya dari Kamu NU bisa menebar kebermanfaatan bagi sessama," demikian Menteri Agama Lukman Hakim Syaifudin pada kegiatan dihadiri KH Maimoen Zubair, Ketua Umum Ikatan Sarjana Nahdaltul Ulama (ISNU) Ali Masykur Musa, Alissa Wahid Koordinator Seknas Gusdurian. 

Musyawarah yang dibuka dengan tepukan rebana oleh Menteri Agama tersebut diikuti kaum muda NU di GP Ansor, Fatayat, IPNU, IPPNU, PMII, KMNU, Gusdurian, dan lain-lain. (Gatot Arifianto/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir IMNU Haedar Nashir

Minggu, 02 Agustus 2009

Mahasiswa Miami Dade College Pelajari Multikulturalisme di Pesantren Tebuireng

Jombang, Haedar Nashir - Setelah menerima kunjungan mahasiswa The Kings College, New York, Amerika Serikat, Pesantren Tebuireng kembali menerima kunjungan mahasiswa asing dari Negeri Paman Sam, Sabtu (3/6). Kali ini, sebanyak 11 mahasiswa dari Miami Dade College berkunjung ke pesantren yang didirikan oleh KH Hasyim Asyari.

"Kunjungan mereka difasilitasi oleh International Office Universitas Airlangga Surabaya," kata Sekretaris Utama Pesantren Tebuireng KH Abdul Ghofar.

Mahasiswa Miami Dade College Pelajari Multikulturalisme di Pesantren Tebuireng (Sumber Gambar : Nu Online)
Mahasiswa Miami Dade College Pelajari Multikulturalisme di Pesantren Tebuireng (Sumber Gambar : Nu Online)

Mahasiswa Miami Dade College Pelajari Multikulturalisme di Pesantren Tebuireng

Dalam kunjungan singkat ini, kata Gus Ghofar, para mahasiswa tampak sangat antusias dan terlibat dalam dialog yang sangat hangat.

Salah satu mahasiswa jurusan Ilmu Politik, Enrique Sepulvedas, menanyakan bagaimana perlakuan terhadap non-Muslim di Pesantren Tebuireng. "Apakah Anda menerapkan kebijakan pintu terbuka untuk mereka yang berbeda agama?" tanya pria blasteran Spanyol-Prancis ini.

Haedar Nashir

Menjawab pertanyaan ini, Mudir Pesantren Tebuireng Lukman Hakim menuturkan bahwa pihaknya sangat terbuka untuk kerja sama yang bersifat lintas etnis dan agama. Dalam beberapa kesempatan, pesantren yang kini diasuh oleh KH Salahuddin Wahid ini juga melakukan kerja sama kegiatan dengan berbagai pihak.

Haedar Nashir

"Di Universitas Hasyim Asyari (Unhasy), bahkan ada salah satu pejabat di Unit Penjamin Mutu yang beragama Hindu," imbuh Pembantu Rektor II Unhasy Muhsin Kasmin. Pria yang telah puluhan tahun mengabdi di Pesantren Tebuireng ini menambahkan, ada juga dosen di Fakultas Teknologi Informatika yang beragama Katolik.

Joshua Elias, mahasiswa jurusan Hubungan Internasional, menanyakan pendapat pengurus Pesantren Tebuireng terhadap aspirasi penegakan syariat Islam di Indonesia. Terhadap pertanyaan ini, mantan Direktur Lembaga Sosial Pesantren Tebuireng (LSPT) Mohammad Asad menjelaskan peran KH Abdul Wachid Hasyim sebagai salah satu perumus Pancasila.

Pria yang sedang menempuh S-3 di Leiden University Belanda itu menuturkan, pendiri Pesantren Tebuireng KH Hasyim Asyari adalah tokoh yang berperan penting dalam memadukan Islam dan nasionalisme melalui doktrin "Cinta Tanah Air adalah bagian dari iman" dan fatwa Resolusi Jihad.

"Jihad yang dimaksud bukanlah upaya memusuhi Barat atau non-Muslim, tapi melawan penjajah kolonial Belanda. Inilah salah satu pondasi nasionalisme di Indonesia," jelasnya.

Dengan gambaran itu, imbuh Asad, jelas sekali pandangan Pesantren Tebuireng terhadap Islam dan kebangsaan. "Kalau hari ini masih ada orang yang memaksakan syariat Islam menjadi dasar negara, atau mendesakkan berdirinya khilafah, maka orang itu mengajak mundur 30 tahun ke belakang," tandasnya.

Isu lain yang didiskusikan para mahasiswa Miami Dade College adalah soal kesetaraan perempuan dalam ajaran Islam. Pertanyaan tersebut dilontarkan oleh Marie Geraldine Georges, seorang mahasiswi kulit hitam yang menempuh studi di jurusan Antropologi.

"Saya melihat, yang hadir sekarang laki-laki semua. Apa memang perempuan tidak boleh berperan di sini?" tanya Maria dengan nada penasaran.

Menjawab pertanyaan tersebut, Muhsin Kasmin menyatakan bahwa perempuan mendapatkan peluang yang sama, sepanjang mempunyai kemampuan yang dipersyaratkan. "Salah satu sekolah di lingkungan Pesantren Tebuireng bahkan pernah dijabat oleh seorang perempuan selama beberapa periode. Kesempatan serupa juga diberlakukan di Unhasy," ungkapnya.

Asad menambahkan, Nyai Khoiriyah Hasyim, salah satu putri KH Hasyim Asyari, bahkan dikenal sebagai ulama perempuan yang sangat terkemuka di zamannya. "Beliau juga tercatat pernah menjadi anggota Syuriah Nahdlatul Ulama," ujarnya.

Di akhir kunjungan, rombongan mahasiswa yang didampingi Prof Michael Lenaghan itu menyempatkan berziarah ke makam KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur). Di kompleks makam, mereka mendapatkan penjelasan bahwa para peziarah biasanya menyalurkan donasi atau infaq di kotak amal yang disediakan. Kotak amal ini dikelola oleh LSPT untuk pelayanan sosial, kesehatan, dan ekonomi bagi dhuafa di sekitar Pesantren Tebuireng.

Mendengar cerita itu, Michael Lenaghan spontan mengeluarkan dompetnya dan menanyakan lokasi kotak amal tersebut. Pria yang mengaku pernah tiga kali bertemu Gus Dur ini pun bergegas menuju kotak amal dan memasukkan selembar uang dolar Amerika.

Langkah dosen senior itu segera diikuti oleh dua mahasiswanya, Joshua Elias dan Enrique Sepulvedas. Ketika ditanya kenapa ikut memberikan donasi, pria paruh baya ini menjawab singkat, "Thats what friends do," ujarnya dengan nada bangga.

Selain donasi yang dimasukkan ketiga orang ini ke kotak amal, mereka secara kolektif juga menyerahkan donasi sebesar Rp. 1,5 juta kepada LSPT. Donasi ini diterima oleh Mohammad Asad mewakili pengurus LSPT. (Ibnu Nawawi/Alhafiz K)Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Doa, Quote, Nasional Haedar Nashir

Selasa, 19 Mei 2009

Halaqah, RMINU Jateng Sebut 2 Tantangan Besar Pesantren

Salatiga, Haedar Nashir

Pengurus Pesantren Sunan Giri bekerja sama dengan Kantor Wilayah Kementrian Agama (Kanwil Kemenag) Jawa Tengah mengadakan halaqah pesantren dan wawasan kebangsaan serta workshop sistem manajemen pesantren (Simapes), Ahad (24/1/2016). Halaqah ini menghadirkan pembicara Kapolres Salatiga dan Komandan Kodim 0174 Salatiga keduanya berbicara mengenai penguatan pesantren dalam bingkai etika kehidupan bernegara dan implementasi nilai-nilai Pancasila.

Halaqah, RMINU Jateng Sebut 2 Tantangan Besar Pesantren (Sumber Gambar : Nu Online)
Halaqah, RMINU Jateng Sebut 2 Tantangan Besar Pesantren (Sumber Gambar : Nu Online)

Halaqah, RMINU Jateng Sebut 2 Tantangan Besar Pesantren

Hadir perwakilan dari Rabithah Maahid Islamiyah Nahdlatul Ulama (RMINU) Jawa Tengah KH Fadhlullah Turmudzi. Dia menyatakan bahwa RMI memfasilitasi dan meningkatkan ikhtiar pesantren melalui berbagai kegiatan, pelatihan, dan workshop.?

Hal ini sesuai dengan Anggaran Rumah Tangga Nahdlatul Ulama Bab V tentang Perangngkat Organisasi Pasal 17 ayat C 2015 menjelaskan bahwa RMI bertugas melaksanakan kebijakan NU dalam pengembangan pondok pesantren dan pendidikan keagamaan. Pesantren ikut bersama membangun bangsa dan negara pada porsi masing-masing untuk mengantarkan akhlak santri dan meneladani sifat-sifat Nabi SAW.

"Dengan berbagai kegiatan tersebut, mutakhorrijin (alumni pesantren) diharapakan bisa berkiprah di masyarakat sebagaimana yang sudah disampaikan pendahulu kita," ungkap Gus Fad sapaan akrabnya.?

Haedar Nashir

Di samping itu, Gerakan Ayo Mondok tahun lalu perlu adanya tindak lanjut dari pengurus wilayah agar pesantren menjadi pilihan utama. Dengan demikian pesantren harus menyiapkan semuanya. Pesantren harus tahu tentang manajemen atau pengelolan yang baik.?

Terdapat dua langkah yang ditempuh pengurus RMINU Jateng. Pertama, memberikan pelatihan Simapes kepada pesantren. Kedua, menyelenggarakan gerakan Pesantrenku Bersih Pesantrenku Keren (PBPK). Ke depan pesantren harus menjadi percontohan dalam hal kebersihan. Semua itu tak lepas dari dukungan berbagai pihak termasuk pesantren itu sendiri.

Pesantren memiliki dua tantangan besar yang menghadang ke depan. Pertama, dalam hal kebangsaan. Dalam hal ini Nahdlatul Ulama yang didalamnya terdapat pesantren harus berani menaruh nyawa untuk mempertahankan Negara Kesatuan Rakyat Indonesia. Kedua, pesantren itu sendiri harus tetap eksis sebagai lembaga kaderisasi ulama bukan malah menjadi tempat untuk mengkafirkan dan membidahkan orang lain. Tantangan yang lain adalah pengembangan kemandirian ekonomi dan manajemen pesantren.?

Haedar Nashir

"Kami melibatkan pihak internal dan eksternal pesantren dalam workshop SIMAPES ini",” ungkap Kepala Seksi Pondok Pesantren Mukhtasit.?

Mukhtasit juga menegaskan, pesantren ke depan perlahan-lahan harus mampu mengimbangi perkembangan zaman dengan menata manajemen agar menjadi lebih baik. Acara ini dihadiri 50 santriwan-santriwati dari 15 pesantren di lingkungan Salatiga. (Zulfa/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Kyai, Daerah, Pendidikan Haedar Nashir

Senin, 11 Mei 2009

Uwais al-Qarni Pingsan di Dekat Makam Rasulullah

Uwais al-Qarni, pemuda saleh asal Yaman, pernah kecewa berat saat jerih payahnya jauh-jauh pergi ke Madinah untuk bertemu Rasulullah ternyata tak membuahkan hasil. Ketika itu ia hanya bertemu dengan istri beliau, A’isyah radliyallâhu ‘anhâ karena Nabi sedang keluar ke medan pertempuran.

Uwais juga tak mungkin menunggu orang yang sangat dirindukannya itu berlama-lama lantaran di Yaman ia sedang meninggalkan sang ibunda yang renta dan sakit-sakitan. Uwais memang terkenal sebagai pemuda dengan pengabdian kepada orang tua yang luar biasa. Rasulullah sendiri memberi catatan khusus kepadanya dan menyebut Uwais sebagai “penghuni langit”.

Uwais al-Qarni Pingsan di Dekat Makam Rasulullah (Sumber Gambar : Nu Online)
Uwais al-Qarni Pingsan di Dekat Makam Rasulullah (Sumber Gambar : Nu Online)

Uwais al-Qarni Pingsan di Dekat Makam Rasulullah



(Baca: Kisah Uwais Al Qarni, Pemuda Istimewa di Mata Rasulullah)


Dalam kesempatan lain, pasca-wafatnya Nabi, ia pergi ke Madinah dalam suatu momen ibadah haji. Dalam kitab Ihyâ’ ‘Ulûmiddîn karya Imam al-Ghazali, melalui cerita Abu Sulaiman, dikisahkan bahwa ketika Uwais sampai di pintu masjid Madinah, Uwais menerima kabar bahwa di masjid tersebut Nabi dimakamkan. Seketika itu ia pingsan.

Haedar Nashir

Saat siuman, Uwais berujar, “Keluarkan aku dari sini. Aku merasa tidak enak di negeri tempat bersemayamnya Rasulullah.”

Di sini Uwais kembali menunjukkan rasa cinta dan hormatnya kepada Nabi Muhammad shallallâhu ‘alaihi wasallam. Rasa tidak nyamannya, atau lebih tepatnya perasaan malu, muncul lantaran ia sesungguhnya tidak berkenan menginjak tanah suatu daerah yang di dalamnya terdapat jasad mulia Rasulullah. Uwais memosisikan Nabi yang sudah wafat selayak ketika beliau masih hidup.

Haedar Nashir

Imam al-Ghazali di kitab yang sama lantas menjelaskan tentang adab berziarah ke makam Rasulullah. Al-Ghazali menggarisbawahi bahwa penghormatan yang setinggi-tingginya mesti ditunjukkan kala berziarah ke makam Rasulullah. Rasa tadhim peziarah mesti tampil sebagaimana saat ia menghadap pribadi mulia yang masih hidup, misalnya, dengan tidak sembarangan menyentuh atau mencium makam beliau.

Rasulullah, kata Imam al-Ghazali, mengetahui kedatangan para peziarah makamnya dan mendengar shalawat dan salam yang disampaikan kepada beliau. Sebuah hadits riwayat Nasai menjelaskan bahwa Allah mengutus malaikat yang bertugas menyampaikan salam kepada Nabi dari umatnya. (Mahbib)Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Bahtsul Masail, Warta, Syariah Haedar Nashir