Rabu, 12 Januari 2011

Sistem Pesantren di Indonesia Jadi Inspirasi Madrasah di Pakistan

Islamabad, Haedar Nashir. Dalam seminar internasional tentang The Role of Islamic Boarding School and Madrasah in Establishing Islamic Environment to a Nation, Jumat (6/5) yang digelar di International Islamic University (IIU) Islamabad, Rektor IIU, Prof Dr Masoom Yasinzai mengatakan, Indonesia memiliki contoh di mana lembaga pendidikan Pesantren (di Pakistan: Madrasah) telah lama mengintegralkan kurikulum pendidikannya antara ilmu-ilmu agama dengan social sciences, selain juga dengan keterampilan hidup bermasyarakat bahkan entrepreneurship.?

“Madrasah yang berkembang di Pakistan masih terlalu tradisional dan hanya terfokus pada pengkajian ilmu-ilmu syariat (baca; agama),” sambung sang Rektor. Lebih lanjut Rektor menjelaskan bahwa selama ini masih banyak umat Islam yang baru memahami Islam sebatas aturan beribadah dan tidak sebagai faktor pendorong kemajuan peradaban, sehingga Madrasah atau sebagian Universitas Islam hanya menekuni bidang ilmu-ilmu terkait ibadah dan tidak menjamah bidang muamalat.?

Sistem Pesantren di Indonesia Jadi Inspirasi Madrasah di Pakistan (Sumber Gambar : Nu Online)
Sistem Pesantren di Indonesia Jadi Inspirasi Madrasah di Pakistan (Sumber Gambar : Nu Online)

Sistem Pesantren di Indonesia Jadi Inspirasi Madrasah di Pakistan

“Padahal kandungan al-Qur’an hanya memuat 10 persen aspek ibadah dan 80 persennya adalah muamalat,” kritik sang Rektor. Kondisi seperti ini merefleksikan potret umat Islam yang cukup tertinggal dari sisi peradaban saat ini karena menurutnya telah terjadi penggerusan pengamalan beragama umat Islam dari konsep ideal Islam yang dikandungnya. ?

Rektor berharap melalui sharing penerapan tentang sistem pendidikan Pesantren atau Madrasah, masyarakat Pakistan dapat menggali lebih banyak dari pengalaman Indonesia. Kalangan akademisi dan Pemerintah Indonesia diharapkan untuk lebih proaktif mempromosikan sistem pendidikan di Pesantren Indonesia kepada masyarakat Pakistan sehingga bisa menginspirasi hadirnya kurikulum yang integratif dan sesuai dengan misi diturunkannya al-Qur’an sebagai kitab yang mendorong kemajuan di segala bidang.

Haedar Nashir

Hal senada juga disampaikan oleh Dubes RI untuk Pakistan, Iwan Suyudhie Amri, dengan menyetir sejarah awal berdirinya Pesantren Indonesia yang awalnya masih belum dimasukkan ke dalam Sistem Pendidikan Nasional. Dubes RI menyampaikan bahwa seiring dengan perkembangan waktu, Pemerintah Indonesia telah mengakui Pesantren, karena dengan kesadarannya Pesantren telah melakukan evolusi kurikulum dari semata mengajarkan ilmu-ilmu agama juga mengembangkan ilmu-ilmu umum.?

Selain itu menurutnya juga peran yang dimainkan oleh Pondok Pesantren dalam membangun karakter bangsa sangatlah besar. Dubes RI juga menyambut baik tawaran Rektor IIUI untuk lebih mempromosikan sistem Pesantren Indonesia di Pakistan, menggali potensi kerjasama antar Madrasah, selain juga akan terus mengupayakan jalinan kerjasama pendidikan antara Perguruan-Perguruan Tinggi di kedua negara.?

“Peran lembaga pendidikan termasuk pesantren/madrasah dalam memperkuat pilar kesatuan dengan memahami perbedaan sebagai suatu hal yang alamiah diperoleh melalui pendekatan-pendekatan yang inklusif,” tambah Dubes Iwan.?

Lebih jauh pakar pendidikan IIUI, Prof Dr Zafar Iqbal Chaudhary yang didaulat sebagai pembicara, membahas peran Pesantren di Indonesia dalam proses national building. “Pendidikan Pesantren Indonesia adalah model terbaik untuk ditiru karena telah memberikan kontribusi banyak bagi kemajuan negara di segala bidang,” tegasnya. Menurut Zafar, di Pakistan terdapat sekitar 20.000 madrasah/pesantren, namun belum seluruhnya meliliki standar yang memadai seperti yang ada pada Pesantren di Indonesia.?

“Berkembangnya paham Islam moderat dan menghargai local wisdom juga muncul dari pendidikan hasil Pesantren di Indonesia,” tambah Zafar. “Harus diakui bahwa dunia Islam harus banyak menimba pengalaman dari perkembangan positif ini,” kata Za’far menutup paparannya.?

Haedar Nashir

?

Seminar internasional ini berlangsung lancar dihadiri oleh para dosen IIUI, pejabat dan staf KBRI Islamabad, mahasiswa asing baik dari berbagai negara seperti China, Afrika, Negara-negara Arab, Pakistan, Afghanistan, Thailand, Maladewa, Tajikistan dan lain-lain. Acara ini terselenggara atas kerjasama antara Alumni Pondok Modern Gontor Ponorogo yang belajar di IIUI dengan Fakultas Social Science serta Fakultas Pendidikan Jarak Jauh IIU.?

Menurut Firman dan Ikmal, acara yang digelar dalam rangka peringatan Harlah ke-90 Pondok Modern Gontor ini, mendapatkan apresiasi dari banyak pihak. Salah seorang mahasiswa asal China mengaku kagum dengan perkembangan Islam di Indonesia yang tersebar melalui lembaga pondok Pesantren. Lain lagi dengan Quli Baliy, mahasiswa asal Afrika ? yang terlihat aktif menyimak jalannya seminar mengungkapkan keinginannya untuk melihat langsung sistem pembelajaran di Pesantren Indonesia yang baru saja ia ketahui.?

Para mahasiswa Indonesia yang hadir pun berharap kepada kalangan akademisi maupun pemerintah untuk dapat meneruskan hasil seminar dengan agenda yang lebih nyata semisal pengupayaan saling kunjung, saling sharing atau studi banding antara pimpinan-pimpinan Pesantren/Madrasah dari kedua negara. Mengingat Indonesia dan Pakistan dengan total populasi sebesar 440 juta jiwa dan mayoritasnya adalah muslim, diyakini dapat memberikan kontribusi positif bagi kemajuan Islam di tengah merebaknya berbagai isu negatif yang dialamatkan kepada umat Islam seperti radikalisme, terorisme dan anti modernitas yaitu diantaranya dengan cara mengaktifkan interaksi ? antar tokoh-tokoh Islam yang berada di Pesantren atau Madrasah. (Muladi/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Ulama, Ahlussunnah Haedar Nashir

Kamis, 06 Januari 2011

Menengok Eksotisme Maroko dalam Balutan Tiga Budaya

Negeri Maghrib (matahari terbenam), ketika kita mendengar kalimat ini pastinya akan tertuju ke Afrika Utara, tepatnya Kerajaan Maroko. Yah Maroko..., sebuah negara Islam yang bermadzhab Maliki tulen di ujung barat dunia Islam. Agama Islam di negeri ini dikembangkan dengan menghargai tradisi lokal, seperti yang dilakukan oleh para dai atau Walisongo ketika menyebarkan Islam di tanah Jawa.

Kini Maroko dikenal sebagai negara Arab yang gaul dengan nuansa Eropanya yang kuat, tetapi tak mau kehilangan akar tradisi Arab dan Islam. Kebebasan berpendapat dan tradisi berpikir sangat terbuka di negeri Ibnu Batutah ini. Pemerintah tidak memaksa rakyatnya untuk berpola pikir secara kaku atau seragam. 

Menengok Eksotisme Maroko dalam Balutan Tiga Budaya (Sumber Gambar : Nu Online)
Menengok Eksotisme Maroko dalam Balutan Tiga Budaya (Sumber Gambar : Nu Online)

Menengok Eksotisme Maroko dalam Balutan Tiga Budaya

Barangkali salah satunya adalah karena faktor penguasa Maroko saat ini, Raja Muhammad VI, seorang lulusan Eropa yang berpikiran modern. Ia bertekad untuk memodernkan Maroko, namun tetap melandaskannya kepada ajaran Islam. Wajar, jika berbagai aliran Islam banyak berkembang di negeri ini. 

Haedar Nashir

Maroko juga dijuluki dengan “Negeri Tiga Budaya”. Dikarenakan tercampurnya akulturasi tiga budaya yang kental, yaitu budaya Timur Tengah, Eropa, dan Afrika. Letak geografis Maroko yang berada di benua Afrika menjadikan Maroko berbudaya Afrika, Kebudayaan Arab Timur Tengah yang diadopsi di sini menjadikan Maroko bernuansa Negeri Timur Tengah dan letak Maroko yang berdekatan dengan Eropa, membuatnya sangat eksotis dengan nuansa Eropanya.

Dari sisi pariwisata, Maroko merupakan negeri eksotis yang kaya dengan obyek wisatanya, ada Gurun Sahara yang merupakan gurun terluas di Afrika, kemudian multaqol bahrain (pertemuan dua laut) antara laut Pasifik dan laut Mediterania, dimana tempat ini digambarkan dalam Firman Tuhan, Al-Qur’an Surat Al-Rahman ayat 19-20, ada juga kota bersejarah, Fez yang disebut kota budaya dan tentunya masih banyak yang lainnya. Maka tak heran, jika Maroko merupakan salah satu negara favorit wisatawan dunia yang sering mereka kunjungi.

Haedar Nashir

Buku yang ditulis oleh kader-kader muda NU ini, mengungkap keeksotisan Maroko dari berbagai sisi; kebudayaan, religiusitas keagamaan, sejarah ulama, pariwisata dan peluang beasiswa yang diberikan kepada pelajar-pelajar dunia, termasuk Indonesia. 

Selain versi cetak, terdapat versi ebook yang  dapat didownload di: wayangforce.co.id, getthescoop.com dan qbaca.com

Judul Buku : Maroko Negeri Eksotis di Ujung Barat Dunia Islam

Penulis: Muannif Ridwan, Hafidzul Umam, Kusnadi El Ghezwa dkk.

Editor: Ardian Syam

Penerbit: Jentera Pustaka

Cetakan: I, Januari 2014

Tebal: 295 Halaman

ISBN: 978-602-14169-8-3

Peresensi: Muannif Ridwan

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Fragmen Haedar Nashir

Sabtu, 01 Januari 2011

Pendidikan Anak Tanggung Jawab Orang Tua, Sekolah Hanya Bantu

Jember, Haedar Nashir

Wakil Sekretaris PCNU Jember Mochammad Eksan menyambut baik “imbauan” Mendikbud RI Anis Baswedan agar para orang tua sebisa mungkin dapat mengantarkan anaknya pada hari pertama masuk sekolah tahun ajaran baru mendatang.

Menurutnya, imbauan tersebut menunjukkan pentingnya keberadaan dan peran orang tua terhadap pendidikan anak-anaknya. Saat ini, katanya, muncul kesan seolah-olah pendidikan hanya tugas dan tanggung jawab guru. Sedangkan orang hanya bersifat membantu.

Pendidikan Anak Tanggung Jawab Orang Tua, Sekolah Hanya Bantu (Sumber Gambar : Nu Online)
Pendidikan Anak Tanggung Jawab Orang Tua, Sekolah Hanya Bantu (Sumber Gambar : Nu Online)

Pendidikan Anak Tanggung Jawab Orang Tua, Sekolah Hanya Bantu

“Anggapan? itu keliru. Yang benar adalah orang tua mempunyai tangung jawab atas pendidikan anaknya. Sedangkan sekolah hanya membantu,” ujarnya kepada Haedar Nashir menyikapi Surat Edaran Mendikbud RI tersebut di Jember, Sabtu (16/7).

Haedar Nashir

Pengasuh Pesantren Nuris 2 Jember itu menambahkan, orang tua mengantarkan anaknya ke sekolah akan memberikan kesan yang lain terhadap si anak. Sang anak? merasa diperhatikan, dan? itu akan mempengaruhi psikologinya dalam menjalani proses pendidikan. Kondisi tersebut tentu sangat beda jika sang anak hanya di antarkan oleh pembantu atau saudaranya. “Dari kondisi itu semangat belajar anak bisa? terbangun lebih meningkat,” jelasnya.

Dalam pandangannya, dewasa ini budaya dan dunia pergaulan yang begitu terbuka mempunyai risiko tersendiri bagi perkembangan psikologi dan pembentukan karakter anak. Karenanya, hal tersebut membutuhkan campur tangan? dan pengawasan langsung yang lebih intensif dari orang tua. Sebab jika tidak, bukan mustahil karakter anak akan terbangun jauh dari yang diharapkan. “Jadi saya menangkap semangat dari SE Menteri itu adalah agar orang tua bisa berperan lebih dalam proses pendidikan anak-anaknya. Tidak sekadar mengantar. Lalu selesai,” turutnya.

Haedar Nashir

Hal yang sama juga diungkapkan Wakil Ketua Pimpinan Cabang Lembaga Pendidikan Ma’arif Kabupaten Jember, Suroto Bawani. Menurutnya, orang tua tidak cukup hanya membiayai pendidikan dan memberikan uang belanja kepada anaknya. Namun yang juga penting adalah memberikan perhatian sekaligus melakukan pengawasan terhadap anaknya.

“Tugas orang tua sangat berat. Bukan hanya dari sisi keuangan, tapi juga bagaimana menjadikan anak itu cakap sekaligus berakhlak mulia. Sebab, anak adalah amanah dan kelak akan dimintai pertanggungjawabannya di hadapan Allah,” urainya. (Aryudi A. Razaq/Mahbib)Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Berita, Sejarah, Hadits Haedar Nashir

Jumat, 10 Desember 2010

Guru Besar UIN Ar-Raniry Sebut Radikalisme Rentan Berkembang di Aceh

Banda Aceh, Haedar Nashir. Guru Besar Fakultas Tarbiyah Universitas Islam Negeri (UIN) Ar-Raniry Nangroe Aceh Darussalam (NAD), Muhammad Hasbi Amiruddin mengungkapkan kerentanan paham radikalisme dan terorisme berkembang di wilayahnya.

Guru Besar UIN Ar-Raniry Sebut Radikalisme Rentan Berkembang di Aceh (Sumber Gambar : Nu Online)
Guru Besar UIN Ar-Raniry Sebut Radikalisme Rentan Berkembang di Aceh (Sumber Gambar : Nu Online)

Guru Besar UIN Ar-Raniry Sebut Radikalisme Rentan Berkembang di Aceh

"Catatan sejarah masa lalu salah satu penyebab radikalisme dan terorisme mudah berkembang di Aceh," kata Hasbi dalam pembukaan Diseminasi Pedoman Peliputan Terorisme dan Peningkatan Profesionalisme Media Massa Pers dalam Meliput Isu-isu Terorisme yang diselenggarakan oleh Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) dan Forum Koordinasi Pencegahan Terorisme (FKPT) Aceh, Kamis (8/9).

Perkembangan teknologi, lanjut Hasbi, menjadi bumbu tambahan yang menjadikan radikalisme dan terorisme berpotensi tumbuh subur di Aceh. "Lewat medial sosial misalnya, paham dan dogma yang mengajarkan kebencian semakin mudah menyebarluas," tambahnya.

Hal senada diungkapkan oleh Asisten III Bidang Administrasi dan Pemerintahan Umum Sekretariat Daerah Provinsi Nangroe Aceh Darussalam, Syahrul, yang menyebut potensi radikalisme dan terorisme sudah sempat muncul di wilayahnya.

"Kita sama-sama mengetahui sudah pernah ada kamp pelatihan di Jalin, pernah ada tembak menembak di Aceh Besar, dan ada pengikut ISIS yang mengklaim punya empat ribu pengikut di Aceh," ungkap Syahrul.

Haedar Nashir

Untuk meredam agar potensi tersebut tidak berubah menjadi aksi-aksi terorisme, Syahrul menyebut keterlibatan masyarakat sangat dibutuhkan. Pemerintah Provinsi Nangroe Aceh Darussalam memberikan apresiasi yang besar kepada BNPT atas kegiatan pelibatan masyarakat yang sudah dilaksanakan.

Haedar Nashir

"Keterlibatan masyarakat, termasuk media massa akan sangat membantu mencegah terorisme. Media massa harus bisa menyajikan informasi yang benar yang tidak semakin memperkeruh suasana," tegas Syahrul.

Diseminasi Pedoman Peliputan Terorisme dan Peningkatan Profesionalisme Media Massa Pers dalam Meliput Isu-isu Terorisme adalah rangkaian kegiatan dari program Pelibatan Masyarakat dalam Pencegahan Terorisme yang dilaksanakan BNPT bersama FKPT di 32 provinsi se-Indonesia. Satu kegiatan lainnya adalah visit media, kunjungan dan diskusi dengan redaksi media massa pers. (Hadi/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Anti Hoax, Halaqoh, Pendidikan Haedar Nashir

Senin, 06 Desember 2010

Sistem Manajemen Madrasah dan Pesantren Resmi Diluncurkan

Salatiga, Haedar Nashir. Sistem manajemen madrasah dan pesantren (Simapes) versi 1.1 resmi diluncurkan pada saat pembinaan administrasi pondok pesantren II di aula Pesantren Al-Falah Salatiga, Jateng. Pembinaan ini dibuka oleh kepala bagian tata usaha Kantor Wilayah Kementrian Agama Jawa Tengah, Drs H Andewi Susetyo, SH.

Sistem Manajemen Madrasah dan Pesantren Resmi Diluncurkan (Sumber Gambar : Nu Online)
Sistem Manajemen Madrasah dan Pesantren Resmi Diluncurkan (Sumber Gambar : Nu Online)

Sistem Manajemen Madrasah dan Pesantren Resmi Diluncurkan

Simapes menjadi bagian penting pesantren dan madrasah dalam pengorganisasian dan pencataan administrasi. "Terdapat delapan pengendalian dalam sebuah kegiatan ataupun organisasi, mulai perencanaan, pengorganisasisan, kebijakan dan pelaksanaan, prosedur, pembinaan personil, pencatatan, pelaporan dan review internal," ungkap Susetyo.?

Kali ini, M Niam Sutaman, Lc, LLM, MPh, berkesempatan mewakili RMINU Jawa Tengah untuk meluncurkan Simapes versi 1.1 dihadapan ustadz dan santri peserta pramuka santri Nusantara se-Jawa Tengah. Terdapat penambahan dari versi 1.0 untuk menyempurnakan aplikasi administrasi ini.

Haedar Nashir

Simapes menjadi salah satu ikhtiar RMINU Jateng mengembangkan lembaga pendidikan Islam agar menjadi lebih baik. Lembaga yang baik tentu diikuti dengan nidhom (manajemen) yang baik, biasanya lembaga tidak akan berkembang dengan baik tanpa dukungan dari manajemen sebagaimana tujuan yang ingin dicapai.

Selain pelatihan dan sosialisasi simapes versi 1.1 ini, santri yang peserta pramuka santri nusantara tingkat Jawa Tengah berjumlah 160 santri mendapatkan pembinaan dari kwarda Jateng dan Kementrian Agama wilayah Jawa Tengah. Pembinaan ini menjadi salah satu persiapan untuk mengikuti pramuka santri nusantara tingkat nasional pada 31 Mei 2015 di Banjarmasin. (M Zulfa/Fathoni)

Haedar Nashir

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Fragmen, Pertandingan Haedar Nashir

Senin, 29 November 2010

Lailatul Ijtima, PWNU Jateng Bahas Kurikulum Bareng Rektor Unnes

Semarang, Haedar Nashir. Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PW NU) Jawa Tengah bersama Rektor Universitas Negeri Semarang (Unnes), Prof Fathur Rokhman M.Hum akan membahas peluang dan tantangan Kurikulum 2013 di Madrasah dalam kegiatan Lailatul Ijtima yang akan digelar oleh PW NU Jawa Tengah, Rabu (4/2) mendatang.

Lailatul Ijtima, PWNU Jateng Bahas Kurikulum Bareng Rektor Unnes (Sumber Gambar : Nu Online)
Lailatul Ijtima, PWNU Jateng Bahas Kurikulum Bareng Rektor Unnes (Sumber Gambar : Nu Online)

Lailatul Ijtima, PWNU Jateng Bahas Kurikulum Bareng Rektor Unnes

Kegiatan bertajuk ‘Kurikulum 2013 dan Madrasah di Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) Peluang dan Tantangan?’ akan berlangsung di halaman Kantor PW NU Jateng, Jl. Dr. Cipto, No. 180, Kota Semarang.?

Kepanitiaan yang dikoordinatori oleh wakil sekretaris PWNU Jateng, H Amiq Muchlisin, SH menjelaskan, bahwa pelaksanaan lailatul ijtima biasanya pada Rabu pertengahan bulan qamariyah (antara tanggal 13-17).?

Haedar Nashir

"Saya mengkoordinatori kegiatan ini selama 3,5 tahun dalam dua periode kepengrurusan," ungkap Amiq. ?

Haedar Nashir

Menurutnya, Lailatul Ijtima menjadi media untuk menyosialisasikan hasil Pengurus Wilayah Lembaga Bahtsul Masail Nahdlatul Ulama (PW LBMNU) Jateng. Selain itu, lanjut Amiq, nahdliyyin juga bisa menyampaikan permasalahan secara langsung kepada pengurus wilayah.?

Fathur Rokhman yang juga awan PWNU Jateng akan menerangkan kelebihan dan kekurangan kepada nahdliyyin terkait pendidikan madrasah. Acara akan diawali dengan jamaah shalat Isya, shalat ghaib, tahlil, istighatsah dan penyampaian hasil bahtsul masail dari pengurus wilayah LBMNU Jateng. (M. Zulfa/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Olahraga Haedar Nashir

Rabu, 24 November 2010

Pesilat NU Selalu Siap Jaga NKRI

Semarang, Haedar Nashir. Ketua Pimpinan Wilayah Pencak Silat NU Pagar Nusa Jawa Tengah H Sulatin mengatakan para pesilat yang tergabung dalam Pagar Nusa  selalu siap menjaga keutuhan dan kedaulatan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).  

Pesilat NU Selalu Siap Jaga NKRI (Sumber Gambar : Nu Online)
Pesilat NU Selalu Siap Jaga NKRI (Sumber Gambar : Nu Online)

Pesilat NU Selalu Siap Jaga NKRI

Prinsipnya, kata dia pada saat membuka Kejuaraan Daerah III Pagar Nusa se-Jateng dan DIY, di Pondok Pesantren Azzuhri, Ketileng Semarang, Rabu, (1/1/2015) sore, membela negara adalah kewajiban dan merupakan bagian dari iman. Bagi Pagar Nusa, NKRI adalah harga mati. Dan Pancasila harus selalu jaya.

 

Sulatin menyatakan, mencintai tanah air adalah ajaran Islam yang dibawa Nabi Muhammad SAW. Terlebih NU adalah pendiri negara Indonesia, tentu akan selalu menjaga agar negeri ini selamat dunia akhirat. Tidak akan dibiarkan ada pihak manapun merongrong republik yang diperjuangkan kemerdekaannya oleh para syuhada yang terdiri para ulama.

Haedar Nashir

"Jiwa NU adalah jiwa Indonesia. Pagar Nusa adalah Pagarnya NU dan Bangsa," tutur Sulatin menjelaskan singkatan nama perguruan pencak silat yang dipimpinnya.

Hadir dalam pembukaan tersebut Sekretaris PWNU Jateng Dr  M Arja Imroni, Anggota DPD RI Sulistyo, sejumla pejabat tingkat Jateng, dan para pendekar dan pengurus Pagar Nusa se-Jateng dan DIY.

Haedar Nashir

 

450 Peserta

Ketua Panitia Kejurda III Pagar Nusa Jateng M Ghufron menyampaikan, kejuaraan yang digelar untuk memperingati Maulid Nabi Muhammad SAW dan Harlah PSNU Pagar Nusa ke-29 ini berlangsung selama empat hari, sejak Kamis hingga Ahad (1-4/1).

Sebanyak 450 peserta dari 25 kabupaten/kota se-Jateng dan DIY beserta officialnya, bertanding memperebutkan piala umum dan piala per kategori kelas. Dari jumlah itu, 265 diantaranya adalah atlit laga.

Dijelaskan Ghufron, pertandingan terdiri atas laga per orangan putra dan putri, penampilan wirasangga,  serta peragaan jurus wiraloka beregu.  Laga perorangan dibagi dalam kategori pra remaja (usia 12-14 tahun), remaja (usia 14-17), dan dewasa (usia 17-35).

            

Ratusan penonton dari santri ponpes Azzuhri dan warga masyarakat sekitar Ketileng tumpah ruang menonton acara pembukaannya yang meriah.  Aneka atraksi seni Pencak Silat yang diiringi musik menghibur para penonton di ajang tersebut.  [Mohammad Ichwan/Abdullah Alawi]

            

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Nahdlatul Ulama, Khutbah, Makam Haedar Nashir