Selasa, 29 Oktober 2013

Warga NU Sejahtera, Pertumbuhan Ekonomi Melaju Pesat

Surabaya, Haedar Nashir. Panitia Daerah (Panda) Muktamar ke-33 NU kembali menggelar acara pra muktamar dengan konsep yang berbeda. Kali ini Panda mengonsep dialog interaktif bersama Bapak Chairul Tanjung, CEO Trans Corp di halaman timur Masjid Nasional Al-Akbar Surabaya, Jum’at (3/7).

Dialog yang bertemakan Membangun Kemandirian Ekonomi Rakyat itu dihadiri oleh ratusan orang. Mereka terdiri dari para pengusaha muda, pengusaha santri dan para jamaah Masjid Al-Akbar Surabaya.?

Warga NU Sejahtera, Pertumbuhan Ekonomi Melaju Pesat (Sumber Gambar : Nu Online)
Warga NU Sejahtera, Pertumbuhan Ekonomi Melaju Pesat (Sumber Gambar : Nu Online)

Warga NU Sejahtera, Pertumbuhan Ekonomi Melaju Pesat

Hadir juga KH Miftachul Akyar, Rais Syuriah dan Ketua Tanfidziyah PWNU Jatim, KH Mutawakkil Alallah, Mantan Menteri Pendidikan RI, Prof M Nuh, Direktur Masjid Al Akbar. Tentu Ketua dan Sekretaris Panda Muktamar ke-33 NU turut hadir.

Haedar Nashir

Dalam sambutannya, Gus Ipul atas nama Ketua Panitia Daerah mengucapkan terima kasih kepada Bapak Chairul Tanjung yang bersedia hadir dalam dialog interaktif ini. Gus Ipul berharap dengan adanya dialog bersama Pak CT (Chairul Tanjung) dapat memberikan motivasi kepada kita semua untuk memulai usaha.

Haedar Nashir

Baginya, warga NU harus pintar, cinta tanah air itu semua itu sudah ada di NU. Namun orang kaya ini yang masih sedikit di NU, bisa dihitung angkanya. "Kalau warga NU sejahtera maka pertumbuhan ekonomi melaju cepat," terangnya.

Kiai Mutawakil juga menyampaikan apresiasi kepada panitia daerah yang telah mengadakan acara dialog interaktif bersama Pak CT. "Ini langkah cerdas yang diambil oleh Panda. Karena inilah yang menjadi kebutuhan masyarakat terutama warga NU," terang Kiai Mutawakkil.

Dalam penyampaiannya, Pak CT menyayangkan minimnya umat muslim yang menguasai sektor perekonomian. Dari 88 persen umat muslim, hanya 22 persen yang berperan di dunia usaha dan menguasai sektor perekonomian.

"Umat Islam di Indonesia harus siap membangun perekonomian mandiri, kalau tidak, Indonesia akan menjadi ladang basah bagi negara lain, apalagi tahun ini akan ada MEA," pesannya. ? (Rofii Boenawi/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Daerah, Berita Haedar Nashir

Minggu, 27 Oktober 2013

NU Dorong Pemerintah Indonesia Fasilitasi Penyelesaian Konflik Suriah

Wonosobo, Haedar Nashir. Ketua Umum PBNU KH Said Aqil Siroj mendorong keterlibatan pemerintah Indonesia dalam membantu menyelesaikan konflik Suriah yang saat ini sudah menelan lebih dari 100 ribu nyawa.

“Saat ini masih ada kesempatan sebelum terlambat,” katanya dalam konferensi pers setelah pembukaan rapat pleno PBNU, Sabtu (7/9).

Ia menegaskan, langkah militer yang digagas oleh Amerika Serikat sejumlah negera sekutunya tidak akan menyelesaikan masalah.?

NU Dorong Pemerintah Indonesia Fasilitasi Penyelesaian Konflik Suriah (Sumber Gambar : Nu Online)
NU Dorong Pemerintah Indonesia Fasilitasi Penyelesaian Konflik Suriah (Sumber Gambar : Nu Online)

NU Dorong Pemerintah Indonesia Fasilitasi Penyelesaian Konflik Suriah

“Dialog merupakan cara terbaik dalam menyelesaikan masalah ini,” tegasnya.

Haedar Nashir

Kiai Said berharap pemerintah Indonesia berperan lebih aktif dalam mendorong negara-negara Muslim secara bersama-sama menyelesaikan masalah tersebut.

OKI, menurut Kang Said, sejauh ini tidak jelas peran yang dilakukannya. “OKI itu seperti la yamuutu wa la yahya, (tidak kehilatan hidup atau matinya). Ya daripada tidak ada,” tandasnya.?

Haedar Nashir

Dalam pertemuan G20 di Rusia, SBY menegaskan penolakannya atas upaya penyelesaian konflik Suriah dengan cara-cara kekerasan, apalagi tanpa mandat dari PBB.

“Menurut pandangan saya adalah, masyarakat internasional (internastional community), yang diberikan mandat oleh perserikatan bangsa-bangsa untuk melaksanakan sejumlah tugas, yang mengandung tiga elemen tadi tentu tidak semua dilaksanakan oleh international community. Selebihnya dilaksanakan oleh bangsa Syiria, pemerintah Syiria, pemimpin-pemimpin dan tokoh-tokoh Syiria sendiri," kata Presiden dalam keterangan pers di St Petersburg, Jumat sore waktu setempat, seperti dilansir oleh Antara. (Mukafi Niam)

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Kyai, Kajian Haedar Nashir

Minggu, 20 Oktober 2013

Bang Haji Ajak Jamaah Bershalawat

Jombang, Haedar Nashir. Untuk kali kedua, Raja Dangdut H Rhoma Irama berkeliling ke Jawa Timur. Hal itu dilakukan guna mengenal lebih dekat para tokoh dan warga Nahdlatul Ulama.

Bang Haji Ajak Jamaah Bershalawat (Sumber Gambar : Nu Online)
Bang Haji Ajak Jamaah Bershalawat (Sumber Gambar : Nu Online)

Bang Haji Ajak Jamaah Bershalawat

Sabtu (10/5) malam, Bang Haji, sapaan akrabnya berkesempatan melangsungkan silaturahim ke sejumlah kiai dan pengasuh pondok pesantren di Jombang. Raja Dangdut itu hadir dalam rangka haul KH Bisri Syansuri di Pondok Pesantran Mambaul Maarif Denanyar. 

Tampak hadir sejumlah tokoh seperti Muhaimin Iskandar (Ketua Umum DPP PKB dan Menakertrans), Saifullah Yusuf (Ketua PBNU dan Wakil Gubernur Jatim), Ida Fauziyah (Ketua Umum PP Fatayat NU) serta para pejabat dari Pemprov Jatim dan pengurus partai lainnya.

Haedar Nashir

Yang menarik, di ujung sambutan yang mengatas namakan keluarga,  Muhaimin Iskandar mendaulat Raja Dangdut itu untuk memimpin pembacaan shalawat.  "Kita ingin mendengarkan suara Bang Haji melantunkan shalawat," kata Cak Imin. 

Haedar Nashir

"Kita yakin, suara Bang Haji dapat memukau para hadirin," katanya. "Dan kalau sudah memukau, kita yakin jamaah akan mengikuti apa yang dikatakan Bang Haji," tandas keponakan KH Abdurrahman Wahid ini.

Permintaan yang tiba-tiba ini cukup merepotkan Bang Haji yang saat itu didampingi grup shalawat al-Banjari dari Pesantren Mambaul Maarif.

Namun Bang Haji tampak segera menguasai panggung dan memilih shalawat Badar untuk mengajak ribuan jamaah yang hadir untuk bershalawat. 

Dalam pandangan Bang Haji, shalawat adalah ajakan untuk mengenal dan mencintai sosok baginda Nabi Muhamaad SAW. Kegemaran bershalawat adalah di antara manifestasi kecintaan kepada beliau. 

"Apalagi Allah telah memberikan jaminan akan dibalasnya shalawat kita dengan berkali lipat," katanya seraya menyitir sebuah hadits.

Bersama sejumlah kiai dan tokoh serta jamaah yang hadir, Bang Haji melantunkan Shalwat Badar. Suaranya yang khas benar-benar mampu membawa jamaah melantunkan shalawat tersebut dengan khidmat.

Sebelum ke pesantren ini, Bang Haji  berada di Tuban,  bertemu Bupati Tuban Fathul Huda, yang  dilanjutkan  silaturahmi dengan  pengasuh dan santri Pondok Pesantren Langitan, Tuban, yang langsung dilanjutkan untuk berziarah ke makam KH Abdullah Faqih.

Sebelum ke Denanyar, Rhoma  berziarah ke makan Hadratus Syaikh KH Hasyim Asyari, KH Wahid Hasyim dan KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) di Pesantren Tebuireng, sekaligus menemui sang pengasuh, KH Salahuddin Wahid atau Gus Sholah.  

Redaktur    : A. Khoirul Anam

Kontributor: Syaifullah

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Aswaja, Daerah, Nasional Haedar Nashir

Senin, 30 September 2013

Jamsaren: Pesantren Tertua di Surakarta

Bila Pondok Pesantren Jamsaren diklaim sebagai pondok pesantren tertua di Pulau Jawa, barangkali memang ada benarnya. Sebab, pondok pesantren yang berlokasi di Jalan Veteran 263 Serengan Solo ini sudah berdiri sekitar tahun 1750.

Semula, pondok pesantren yang didirikan pada masa pemerintahan Pakubuwono IV ini hanya berupa surau kecil. Kala itu, PB IV mendatangkan para ulama, di antaranya Kiai Jamsari (Banyumas), Kiai Hasan Gabudan dan lain sebagainya. Nama Jamsaren itu juga diambil dari nama kediaman Kiai Jamsari yang kemudian diabadikan hingga sekarang.

Jamsaren: Pesantren Tertua di Surakarta (Sumber Gambar : Nu Online)
Jamsaren: Pesantren Tertua di Surakarta (Sumber Gambar : Nu Online)

Jamsaren: Pesantren Tertua di Surakarta

Namun sayangnya, meskipun pernah disinggahi banyak ulama besar Ahlussunnah wal Jamaah (Aswaja), Pondok Jamsaren hampir tak terlihat lagi kultur ke-Aswajaannya. Hal ini menurut penghulu kraton disebabkan karena pada perkembangannya jarang ada ulama, khususnya dari golongan ulama Aswaja, yang mau mendekat ke kraton, seperti yang dilakukan wali songo atau ulama kraton zaman dulu.

“Ada semacam terputusnya rantai mata sejarah pada pondok ini,” kata Tafsir Anom, KRT Muh. Muhtarom kepada Haedar Nashir, Sabtu (9/2) lalu.

Haedar Nashir

Pondok Jamsaren juga pernah mengalami masa vakum. Vakumnya pondok pada 1830 disebabkan terjadinya operasi tentara Belanda. Operasi itu dimulai lantaran Belanda kalah perang dengan Pangeran Diponegoro pada 1825 di Yogyakarta. Karena kalah, Belanda melancarkan serangkaian tipu muslihat dan selanjutnya berhasil menjebak Pangeran Diponegoro. Karena itu pada 1830, para kiai dan pembantu Pangeran Diponegoro di Surakarta dan PB VI bersembunyi dan keluar dari Surakarta ke daerah lain, termasuk Kiai Jamsari II (putra Kiai Jamsari) dan santrinya.

Haedar Nashir

Setelah sekitar 50 tahun kosong, seorang kiai alim dari Klaten yang merupakan keturunan pembantu Pangeran Diponegoro, Kiai H Idris membangun kembali surau, yang kemudian menjadi pesanren, tersebut. Bangunan pondok dibuat lebih lengkap dan diperluas dari kondisi semula. Bersamaan itu pula Sunan Pakubuwono X mendirikan Madrasah,yang diberi nama Madrasah Mambaul Ulum Surakarta.

Materi yang diajarkan adalah kitab-kitab klasik (kitab kuning) berbahasa Arab dan diterjemahkan dengan bahasa Jawa Pegon (bahasa yang disesuaikan dengan susunan bahasa Arab), seperti Nahwu Shorof, Tajwid, Qiroah, Tafsir, Fiqh, Hadits, Mantiq, Tarikh dan Tasawwuf. Metode pengajaran pun dengan cara sorogan (maju satu per satu), sebagian yang lain dengan cara wekton atau blandongan (cara berkelompok), masing-masing membawa kitab sendiri.

Para santri tidak hanya datang dari Solo sekitar, tetapi juga datang dari daerah lain di Pulau Jawa, di antaranya Tegal, Semarang, Banten, Jombang, dan Mojokerto. Pada 1908, mushala pondok pesantren diganti dengan bangunan masjid tembok dan berlangsung hingga sekarang. Pada 1913, sistem pengajian sorogan diganti dengan sistem kelas.

Mencetak Ulama dan Pemimpin Besar

Dalam perkembangannya, pada tahun 1923 M, KH. Idris wafat (dimakamkan di pajang Makam Haji) kemudian diganti oleh KH. Abu Amar (Kyai Jamsari/Kyai Ngabei projowijoto). Pada tahun 1965 KH.Abu Umar wafat. Beliau digantikan oleh putranya, yang salah satunya di ganti oleh KH. Ali Darokah sebagai ketua.

Pondok jamaren mulai thun 1965-1997, secara langsung dipimpin oleh KH. Ali Darokah yang dibantu oleh pengurus pondok. dimana struktur pondok terdiri dari lurah pondok, sekretaris. bendahara, wali santri pondok, staf pengajar, staf keamanan, dan staf dakwah. Pada tanggal 8 juli 1997 KH. Ali Darokah wafat. Sepeninggal beliau pengelolaan Pondok diserahkan kepada pengurus harian pondok dan pengurus pelaksana harian pondok.

Pada periode ini selain pengajian sistem kelas dengan materi pelajaran agama juga diberi materi pelajaran umum untuk menunjang prestasi santri. Pada tahun pertama santri diwajibkan untuk menghapal juz Amma sebagai alah satu bekal santri dalam kehidupan bermasyarakat kelak. 

Sebagai salah satu institusi pendidikan yang telah ditempa oleh perubahan zaman selama berpuluh-puluh tahun, maka dalam mensikapi dunia pendidikan pada dekade ini. Pondok Pesantren Jamsaren menawarkan suatu alternatif sitem pendidikan dimana santri digembleng dengan pengetahuan pendidikan agama islam di pesantren, di sisi lain santri menuntut ilmu pengetahuan umum di sekolah formal dengan harapan agar kelak menjadi profesional muda yang berjiwa Ulama dan pemimpin yang berguna bagi bangsa, agama dan negara.

Beberapa nama besar pernah lahir dari pondok ini, di antaranya Munawir Sazali (mantan Menteri Agama RI) dan Miftah Farid (Ketua MUI Jabar). Dalam perkembangannya, Pondok Pesantren Jamsaren kemudian bekerja sama dengan Yayasan Perguruan Al-Islam Surakarta. (Ajie Najmuddin)

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Khutbah, AlaSantri Haedar Nashir

Selasa, 17 September 2013

Mendokumentasikan Kisah Ajengan dari Mulut ke Mulut

Penulisan sejarah hidup dan perjuangan ajengan Sunda (Jawa Barat) masih terbilang langka, termasuk di Cianjur. Padahal daerah tersebut banyak melahirkan ajengan yang memiliki jaringan kaliber nasional, bahkan yang dikenal sampai mancanegara.

Perjuangan para ajengan yang senantiasa menjadi pemimpin dan panutan masyarakat tidak kecil. Selain mencerdaskan masyarakat, mereka juga bahkan memperjuangankan dan merebut kemerdekaan. Namun, sekali lagi, peran para ajengan tersebut masih dalam cerita lisan.?

Oleh karena itulah Rudy Asyarie dan Ending Bahrudin mengupayakan menuliskannya pada buku berjudul “Ulama Jumhur dari Cianjur”. Menurut penulis buku tersebut, pada pengantarnya, memamg sejarah dan perjuangan ajengan terus hidup karena diceritakan dari mulut ke mulut.

Mendokumentasikan Kisah Ajengan dari Mulut ke Mulut (Sumber Gambar : Nu Online)
Mendokumentasikan Kisah Ajengan dari Mulut ke Mulut (Sumber Gambar : Nu Online)

Mendokumentasikan Kisah Ajengan dari Mulut ke Mulut

Namun, cerita tersebut dikenal terbatas pada lingkup keluarga pesantren dan para santrinya. Sebagian ada yang dituliskan dalam bentuk selebaran yang dibuat pada momentum haul seorang ajengan, sebagian di beberapa media cetak dan daring. (hal. Xiiv)

Kedua penulis mengaku mendasarkan penulisannya pada sumber tersebut, pihak keluarga dan para santri ajengan-ajengan tersebut.?

Haedar Nashir

Buku menyebutkan, sebetulnya Cianjur dihuni manusia sejak 3000-4000 tahun lalu. Bukti keberadaannya adalah situs gunung Padang, berupa bukit batu megalitikum. Hanya punden berundak itu yang menunjukkan adanya ciri-ciri bahwa manusia pernah ada waktu itu.

Kemudian penulis menarik sejarah pendirian Cianjur dari masa datangnya Dalem Cikundul atau dikenal sebagai Raden Aria Waratanudatar I. Ia adalah putra dari Wangsa Goparana, keturunan Prabu Siliwangi yang telah memeluk agama Islam.?

Raden Aria Waratanudatar I mendapatkan tugas dari ayahnya untuk menyebarkan Islam ke wilayah Priangan Barat dengan menetap di daerah Cianjur sekarang. Ia hijrah ke daerah itu dengan membawa sekitar 313 kepala keluarga.?

Haedar Nashir

Sebelumnya, ia pernah nyantri di sebuah pesantren di Gunung Jati, Cirebon. Sehingga suasana keberagamaan Islam di wilayah barunya itu sangat terasa karena dipimpin seorang dalem yang ahli agama. Dalem inilah yang kemudian banyak melahirkan kiai. (hal 8-10).?

Buku ini memuat 25 profil ajengan. Mereka adalah kiai yang lahir di Cianjur dan menyebarkan agama di Cianjur seperti Mama Ajengan KH Ahmad Syatibi, beberapa kiai kelahiran Cianjur yang terkenal di luar daerah seperti Mama Ajengan KH Abdullah bin Nuh, kiai yang dibuang Belanda ke Cianjur yaitu KH Asnawi Banten, kiai kelahiran daerah lain yang terkenal yang sebelumnya pernah berguru di Cianjur seperti KH Sohibul Wafa Tajul Arifin (Abah Anom), serta kiai dari luar negeri (Singapura) yang memiliki hubungan dengan Cianjur, Guru Haji Isa.?

Salah satu kiai dalam buku tersebut adalah Mama Ajengan Syatibi. Ia adalah guru dari ajengan-ajengan Jawa Barat. Silsilah leluhur terhubung kepada Rasulullah SAW karena masih keturunan Syekh Abdul Muhyi Pamijahan, Tasikmalaya.?

Pada masa nyantrinya, Mama Ajengan Syatibi dikenal cerdas. Pada usia 16 tahun, ia berguru kepada Mama Ajengan Adzro’i, Garut. Di pesantren tersebut ia mampu menghafalakan kitab Nadhom Al-Maqsud, Kailany, Amrity, Alfiyah ibnu Malik, Samarqandy, Jauhar Maknun, dalam waktu 40 hari.?

Mama Syatibi kemudan berguru kepada Mama Gudang, Tasikmalaya, selama 9 tahun. Kemudian melanjutkan pencarian ilmunya ke tanah suci Makkah, kepada Syekh Hasbullah.?

Ada cerita kecerdasan Mama Syatibi ketika berguru kepada Syekh Hasbullah. Suatu ketika, Syekh Hasbullah meminta semua muridnya untuk meneliti kitab Tuhfatu Muhtaj kemudian menuangkan penelitian tersebut dalam bentuk catatan. Para muridnya mengikuti anjuran tersebut, termasuk Mama Syatibi.?

Keesokan harinya, Syekh Hasbullah memeriksa buku muridnya. Ia tertegun ketika mendapati catatan Mama Syatibi.?

Kemudian Syekh Hasbullah mengatakan kepada murid-muridnya bahwa pengajian kitab Tuhfatul Muhtaj dibatalkan karena ia harus berguru terlebih dahulu kepada Mama Syatibi. (hal. 26)

Namun sayangnya, buku tersebut tidak melacak secara detil tahun-tahun penting dan karya para ajengan tersebut. Serta banyak salah ketik yang tidak perlu, yang tentunya mengganggu pembaca. Dan tentu saja, sebagaimana diakui penulisnya, masih banyak fragmen hidup kiai yang ditulis yang tidak tercantum. Juga ajengan-ajengan lain yang belum termasuk dalam buku tersebut.?

DATA BUKU

Judul : Ulama Jumhur dari Cianjur

Penulis ? ? ? ? : Rudy Asyarie dan Ending Bahrudin

Penerbit : Yaspumah Cianjur

Cetakan 1 : 2016?

ISBN : -

Tebal : 120 halaman

Peresensi : Abdullah Alawi

?

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Kajian Islam, Pesantren, Nasional Haedar Nashir

Jumat, 06 September 2013

Khofifah Ditetapkan Pimpin Muslimat NU 2016-2021

Jakarta, Haedar Nashir

Khofifah Indar Parawansa kembali terpilih menjadi Ketua Umum Pimpinan Pusat Muslimat Nahdlatul Ulama periide 2016-2021. Ia memimpin salah satu badan otonom NU tersebut untuk keempat kalinya dengan cara aklamasi di Asrama Haji Pondok Gede, Jakarta, pada Jumat (25/11).

Khofifah Ditetapkan Pimpin Muslimat NU 2016-2021 (Sumber Gambar : Nu Online)
Khofifah Ditetapkan Pimpin Muslimat NU 2016-2021 (Sumber Gambar : Nu Online)

Khofifah Ditetapkan Pimpin Muslimat NU 2016-2021

Menteri Sosial RI tersebut langsung ditetapkan Pimpinan Sidang Laporan Pertanggungjawaban (LPJ) Pimpinan Pusat Muslimat NU 2011-2016 Hj Mahfudloh Ali Ubayd. Pada pukul 01.53, Mahfudloh mengetuk palu sidang tiga kali sebagai penanda sahnya Khofifah menjadi Ketua Umum.

Sebelumnya, seluruh Pimpinan Wilayah menerima tanpa syarat LPJ tersebut. Para Ketua PW juga menyatakan bahwa Pimpinan Cabang di wilayahnya menerima LPJ tersebut sekaligus meminta Khofifah memimpin kembali.

Haedar Nashir

Bukti penerimaan dan dukungan tersebut disampaikan Ketua Pimpinan Wilayah dengan menyerahkan berkas tertulis kepada Pimpinan Sidang. Penerimaan dan permintaan tersebut termasuk dari Pimpinan Cabang Istimewa Muslimat NU Malaysia, Sudan, dan Arab Saudi. (Abdullah Alawi)

Haedar Nashir

?

?

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Pesantren, Olahraga, Nahdlatul Haedar Nashir

Jumat, 16 Agustus 2013

NU Pacitan Kirim Bantuan di 12 Kecamatan Terdampak Musibah

Pacitan, Haedar Nashir. PCNU Pacitan kembali mendistribusikan bantuan kepada warga terdampak musibah di dua belas kecamatan di Pacitan. Bantuan diserahkan langsung kepada pengurus MWC-NU dan Banomnya dan kemudian disalurkan kepada warga.

NU Pacitan Kirim Bantuan di 12 Kecamatan Terdampak Musibah (Sumber Gambar : Nu Online)
NU Pacitan Kirim Bantuan di 12 Kecamatan Terdampak Musibah (Sumber Gambar : Nu Online)

NU Pacitan Kirim Bantuan di 12 Kecamatan Terdampak Musibah

Saat pemberangkatan distribusi bantuan di halaman Pendopo Kabupaten Pacitan, Sabtu pagi (23/12). Ketua PCNU KH Mahmud melaporkan, bantuan yang disalurkan ini merupakan bentuk pertanggungjawaban amanah dari warga masyarakat yang turut membantu korban musibah di Pacitan. 

"Sejak musibah  banjir 28 November lalu, NU Pacitan mendirikan posko NU-Care dan LazizNU. Sejak itu bantuan terus mengalir dari warga NU dan masyarakat Jawa Timur, Jawa Tengah, Jawa Barat, Luar Jawa, bahkan ada dari luar negeri seperti PCINU Hongkong dan Taiwan," katanya.

Kiai Mahmud berterima kasih atas keterlibatan semua pihak yang memiliki kepedulian dan solidaritas tinggi kepada warga yang tertimpa musibah. Selama posko berdiri, PCNU Pacitan menerima berbagai jenis bantuan. Tak terkecuali bantuan dana. "Hingga hari ini pelaporan kita buat. Total dana yang masuk adalah Rp883.025.600 hampir satu miliar. Alhamdulillah," katanya.

Haedar Nashir

Sesuai dengan arahan pengurus NU dan pemerintah kabupaten, dana tersebut akan disalurkan untuk membantu perbaikan fasilitas umum yang bersifat keagamaan.

"Dana ini akan kita salurkan kepada fasilitas umum yang berkaitan dengan keagamaan, seperti masjid, Madrasah Diniyah, MTs Maarif, dan fasilitas umum lainnya," jelasnya.

Selain menyalurkan bantuan logistik, PCNU juga kembali mengirimkan ratusan relawan dari anggota Banser. Mereka membantu di daerah terdampak bencana.

"Hari ini hadir di tengah kita, ratusan anggota Banser dari berbagai daerah di Jawa Timur yang turut membantu di daerah terdampak bencana di Desa Nglinggangan Kecamatan Pringkuku," imbuhnya.

Kiai Mahmud menyampaikan apresiasi yang tinggi atas kesiapsiagaan Banser selama musibah melanda Pacitan. 

Haedar Nashir

Tampak dalam pemberangkatan distribusi bantuan, sejumlah pengurus PCNU, lembaga dan Badan Otonomnya.

Wakil Bupati Pacitan Yudhi Sumbogo. Selanjutnya, bantuan tersebut dikirim ke seluruh kecamatan dengan menggunakan beberapa kendaraan. (Zaenal Faizin/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Habib, IMNU Haedar Nashir