Selasa, 02 Juni 2015

Pramuka Ma’arif NU Didorong Terus Jaga Nasionalisme

Magelang, Haedar Nashir. Pada acara giat wawasan yang diselenggarakan di arena Perwimanas II, Kamis (21/9), peserta kemah diajak untuk meningkatkan kecintaan kepada Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Berkesempatan mengisi acara giat wawasan tersebut, Kolonel Armed Joko Purnomo dari Akademi Militer Magelang.

“Era sekarang perangnya bukan lagi adu otot, tapi proxy war. Indonesia ini ibarat gadis cantik yang diperebutkan banyak negara lain,” kata Kolonel Joko.

Pramuka Ma’arif NU Didorong Terus Jaga Nasionalisme (Sumber Gambar : Nu Online)
Pramuka Ma’arif NU Didorong Terus Jaga Nasionalisme (Sumber Gambar : Nu Online)

Pramuka Ma’arif NU Didorong Terus Jaga Nasionalisme

Menurut penuturan Kolonel Joko, Indonesia diserang oleh berbagai negara lain tapi bukan dengan tentara, tapi dengan narkoba, minuman keras, film-film tidak senonoh, dan lain sebagainya.

“Semua itu dilakukan untuk menghancurkan generasi muda Indonesia agar jadi generasi yang bodoh, malas, tidak mau belajar. Kalau generasi mudanya sudah hancur, sangat mudah sekali menguasai Indonesia,” tambah Kolonel Joko.

 

Haedar Nashir

Supaya negara ini besar, lanjut Kolonel Joko, semua komponen bangsa harus bahu-membahu membangun bangsa dan menjauhkan generasi muda dari barang-barang yang bisa merusak masa depannya. 

“Negara ini punya banyak pulau dari Sabang sampai Merauke dan dari Pulau Miangas sampai Pulau Rote. Ini butuh generasi muda yang cakap untuk mengurusnya di masa depan. Semoga Pramuka Ma’arif bisa menjawab tantangan itu,” ujar Kolonel Joko. 

Kolonel Joko mengajak segenap Pramuka Ma’arif NU di Perwimanas II untuk menjaga dan meningkatkan rasa nasionalisme, agar negara ini bisa menjadi negara besar yang disegani bangsa-bangsa lain di dunia.

“Belajar yang rajin, jangan sampai mencoba narkoba atau pun minum minuman keras. barang-barang itu semua merupakan senjata yang ampuh dari musuh-musuh Indonesia agar negara ini hancur,” tegas Kolonel Joko.

Haedar Nashir

Pada kesempatan tersebut, Kolonel Joko juga menerangkan berbagai masalah yang dihadapi oleh bangsa dan negara ini. Kolonel Joko berharap peserta bisa sadar dan berupaya memperbaiki keadaan.

“Negara ini memiliki kekayaan budaya yang luar biasa. Angklung misalnya, sudah digandrungi negara lain. Bahkan di Australia ada Fakultas Bahasa Jawa. Jangan sampai kalian yang orang Indonesia asli malah tidak merawatnya,” tandas Kolonel Joko. (Nur Rokhim/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Lomba, Sholawat Haedar Nashir

Rabu, 27 Mei 2015

Gembleng Kader, Pagar Nusa Soloraya Ingatkan Komitmen Kebangsaan

Klaten, Haedar Nashir. Selama dua hari (10-11/10), para pendekar Pencak Silat Nahdlatul Ulama (PSNU) Pagar Nusa wilayah Soloraya mendapat gemblengan. Kegiatan yang diikuti sekitar 50-an kader tersebut, dipusatkan di Pesantren Al-Muttaqien Pancasila Sakti Klaten, Jawa Tengah.

Ketua Pimpinan Cabang Pagar Nusa Kartasura Ghulam Abdurrahman menerangkan, acara penggemblengan ini merupakan acara penutup dari rangkaian kegiatan pendadaran yang selama sepekan sebelumnya telah dilaksanakan di daerah masing-masing.

Gembleng Kader, Pagar Nusa Soloraya Ingatkan Komitmen Kebangsaan (Sumber Gambar : Nu Online)
Gembleng Kader, Pagar Nusa Soloraya Ingatkan Komitmen Kebangsaan (Sumber Gambar : Nu Online)

Gembleng Kader, Pagar Nusa Soloraya Ingatkan Komitmen Kebangsaan

“Kita harapkan, dengan penggembelengan ini dapat menguatkan jati diri para kader Pagar Nusa, serta mengingatkan mereka akan tugas utamanya menjaga keutuhan NU dan bangsa,” ujar Ghulam.

Ghulam juga menambahkan, lokasi penggemblengan di pesantren asuhan mendiang Mbah Liem ini juga dimaksudkan untuk mengambil ruh semangat perjuangan Mbah Liem. “Tugas utama kami jelas menjadi benteng terdepan bagi ulama, tapi selain itu dengan mengambil ruh semangat perjuangan Mbah Liem kami juga ingin memunculkan rasa nasionalisme kami dalam menjalankan tugas kami menjaga bangsa Indonesia ini,” ujar dia.

Dalam kegiatan tersebut, para peserta yang berasal Klaten, Solo, dan Kartasura tersebut berziarah ke makam mbah Liem, untuk selanjutnya melakukan longmarch menuju makam Ki Ageng Gribik di daerah Karang Anom, Klaten.

Haedar Nashir

Selain longmarch rangkaian gemblengan juga meliputi uji materi pelatihan dilanjutkan dengan “sambung” dan ditutup dengan pemberian ijazah kepada tiap calon warga Pagar Nusa yang disampaikan Dewan Pendekar Pagar Nusa Soloraya Iman Widodo.

“Semuanya kami lakukan dengan tujuan untuk mempersiapkan kader-kader penggerak, yang militan dan siap baik fisik mental etika maupun spiritual,” tutup Ghulam. (Ajie Najmuddin/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Lomba, Olahraga Haedar Nashir

Haedar Nashir

Selasa, 26 Mei 2015

Said Aqil: NU Miliki Potensi Besar Ubah Tatanan Politik

Garut, Haedar Nashir. Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama Said Aqil Siroj membuka dan menghadiri Palantikan Pengurus Cabang Nadhlatul Ulama Kabupaten Garut di Alun-alun Garut Jumat (08/05). Pelantikan yang dihadiri puluhan ribu warga Nahdilyin tersebut berlangsung meriah.

Said Aqil: NU Miliki Potensi Besar Ubah Tatanan Politik (Sumber Gambar : Nu Online)
Said Aqil: NU Miliki Potensi Besar Ubah Tatanan Politik (Sumber Gambar : Nu Online)

Said Aqil: NU Miliki Potensi Besar Ubah Tatanan Politik

Dalam sambutannya, ia mengatakan PCNU Garut memiliki banyak potensi yang harus digarap.?

"Kita memang bukan partai politik tapi kita memiliki potensi yang sangat besar untuk merubah dan mengawasi tatanan politik," katanya.

Haedar Nashir

Said Aqil yang secara langsung menyaksikan pelantikan tersebut mengatakan bahwa NU di Garut banyak memberikan kontribusi pada dunia pendidikan dan agama. Menurutnya dengan disegarkanya kembali NU Garut diharapkan banyak memberikan kontribusi-kontribusi besar.

Haedar Nashir

Tidak hanya itu, Ketum NU tersebut juga memberikan dukungan penuh pada pemerintah yang akan mengeksekusi narapindana narkoba. Menurutnya pemerintah tidak perlu banyak pertimbangan untuk mengeksekusi mati para terpidana gembong narkotika tersebut.

"Mereka itu dengan sengaja membuat dan mengedarkan barang haram tersebut untuk merusak gernasi muda kita," katanya usai melakukan pelantikan.

Alumni pesantren Lirboyo Kediri ini mengatakan hukuman bagi orang yang merusak tatanan masyarakat adalah harus dihukum mati.?

"Bukan para pengguna yang menjadi korban dari para pengedar, tapi para pengedar harus di hukum mati," tegasnya.

Ceng Mujib, ketua panitia palantikan NU Garut mendukung penuh wacana yang digulirkan oleh ketua umum PBNU tersebut. Pihaknya selalu bekerjasama dengan pemkab Garut dalam memberantas kemaksiatan terutama narkoba.

"Ini akan jadi salah satu program kami ke depan agar kita bisa terbebas dari narkotika," katanya.

Menurutnya Garut belum bebas dari narkotika, setidaknya dengan membulatkan tekad memerangi narkotika menjadi semangat satu untuk memberantas narkotika.?

"Memang sulit untuk memrangi narkotika tapi kita akan terus berupaya untuk memerangi narkotika," tegasnya. (rul/mukafi niam)

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Olahraga, Nahdlatul Ulama, Khutbah Haedar Nashir

Rabu, 13 Mei 2015

Islam Datang ke Nusantara Bukan untuk Merusak Tradisi

Tangerang Selatan, Haedar Nashir. Penulis buku Mahakarya Ulama Nusantara,? Ahmad Ginanjar Sya’ban membuka kajian rutin Islam Nusantara, Sabtu (19/8) dengan mengatakan bahwa Islam datang bukan untuk merusak tradisi.

“Islam datang bukan untuk merusak tradisi bangsa lain,” katanya dalam diskusi yang bertema Manhaj Islamisasi di Nusantara Era Walisongo di Sekretariat Islam Nusantara Center (INC) Ciputat, Tangerang Selatan, Banten.

Islam Datang ke Nusantara Bukan untuk Merusak Tradisi (Sumber Gambar : Nu Online)
Islam Datang ke Nusantara Bukan untuk Merusak Tradisi (Sumber Gambar : Nu Online)

Islam Datang ke Nusantara Bukan untuk Merusak Tradisi

Penyempurnaan itulah yang dilakukan oleh Walisongo dalam menebarkan Islam secara damai. Ginanjar mengutip hadis, Innamaa bu’itstu liutammima makarimal akhlaq.?

Menurutnya, Islam datang itu untuk menyempurnakan hal-hal yang sudah sangat baik, tradisi yang luhur. Hal-hal buruk saja yang bersifat prinsip yang perlu diubah. Sementara hal yang bersifat furuiyah ataupun tahsiniyah tidak perlu diperdebatkan lagi.

Para wali terpilih itu tidak menghancurkan ekosistem, budaya, tradisi, bahkan agama. Direktur Islam Nusantara Center itu mengutip ayat Al-Quran, “Laa ikroha fiddin, tidak ada paksaan dalam agama,” ujarnya.

Haedar Nashir

Dosen Universitas Nahdlatul Ulama Indonesia (Unusia) itu mengutip hadis, “Laa yu’minu ahadukum hatta yukrima jarohu, belum sempurna iman seseorang kalau belum bisa memuliakan tetangganya.”

Haedar Nashir

Saking menghormatinya kepada para penganut agama lain dan tradisi yang sudah ada, Sunan Kudus memfatwakan untuk tidak menyembelih sapi sebagai kurban karena sapi sangat dihormati oleh umat Hindu.

Min babi ikromi jar, tidak menyembelih sapi,” ujarnya.

Wali bernama asli Ja’far Shodiq itu juga membangun masjid yang arsitekturnya senada dengan model bangunan pura pada masa itu. Hal ini pun terdapat di beberapa masjid lainnya, seperti Masjid Agung Demak.

Toleransi sebagai landasan dakwah Walisongo itu menyebabkan cepatnya persebaran Islam di Nusantara. Hal tersebut dikarenakan Walisongo dapat menaklukkan hatinya masyarakat, bukan sekadar wilayah atau kerajaannya.

“Kesuksesan cepatnya Islamisasi masa Walisongo itu karena yang ditaklukkan oleh Walisongo itu bukan wilayah atau kerajaan, tapi hati para penduduknya,” katanya.

Manhaj islamisasi Walisongo itu senada dengan apa yang dilakukan oleh Sultan Muhammad Al-Fatih di Turki Utsmani. Penakluk Konstantinopel itu melarang pasukannya untuk merusak tempat ibadah dan menjarah harta masyarakat Bosnia yang juga ditaklukkannya saat itu.

“Pasukan orang-orang Muslim Turki dilarang merusak, menjarah harta orang-orang Bosnia, mengusik rumah-rumah mereka, memasuki tempat ibadah mereka, gereja-gereja harus tetap dalam keadaan semula,” ujarnya mengutip surat keterangan Sultan Muhammad Al-Fatih kepada masyarakat Bosnia.

Lebih lanjut, pria asal Majalengka itu mengatakan, bahwa orang-orang Bosnia dibebsakan melaksanakan praktik agama mereka, “Orang-orang Bosnia dibebaskan untuk tetap menjalankan ibadah dan keyakinan sesuai yang mereka anut,” katanya. (Syakir NF/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Makam, Budaya, Sholawat Haedar Nashir

Minggu, 10 Mei 2015

Soal ‘Pembegalan’ Madrasah di OSN, Ini Sikap PP LP Ma’arif NU

Jakarta, Haedar Nashir. Pasal 17 ayat (2) UU Sistem Pendidikan Nasional (Sisdiknas) No 20/2003 menyatakan, Pendidikan dasar berbentuk Sekolah Dasar (SD) dan Madrasah Ibtidaiyah (MI) atau bentuk lain yang sederajat serta sekolah menengah pertama (SMP) atau Madrasah Tsanawiyah (MTs) atau bentuk lain yang sederajat.

“Atas dasar itu, kami yang menaungi seluruh pendidikan tingkat dasar dan menengah di lingkungan NU menyampaikan protes keras terhadap perlakuan diskriminatif yang dilakukan oleh Disdik Kabupaten Semarang terhadap tiga MI yang telah menjuarai Olimpiade Sains Nasional (OSN),” tegas Ketua PP LP Ma’arif NU, KH Z Arifin Junaidi melalui rilis yang diterima Haedar Nashir, Rabu (11/3) yang juga mengutip Pasal 4 ayat (1) dan Pasal 5 (1) UU yang sama.

Soal ‘Pembegalan’ Madrasah di OSN, Ini Sikap PP LP Ma’arif NU (Sumber Gambar : Nu Online)
Soal ‘Pembegalan’ Madrasah di OSN, Ini Sikap PP LP Ma’arif NU (Sumber Gambar : Nu Online)

Soal ‘Pembegalan’ Madrasah di OSN, Ini Sikap PP LP Ma’arif NU

Sebagai pengelola pendidikan tingkat dasar dan menengah di lingkungan NU dengan jumlah satuan pendidikan sebanyak 13 ribu unit yang terdiri dari MI, SD, MTs, SMP, MA, SMA, dan SMK, pihaknya meminta kepada:?

Haedar Nashir

(1) Direktur Jenderal Pendidikan Dasar untuk menyertakan 3 (tiga) madrasah, yaitu MI Al-Bidayah di Desa Candi (Juara Pertama Mata Pelajaran Matematika), MI Wonokasihan Jambu (Juara Pertama Mapel IPA), dan MI Kalirejo (Juara Ketiga Mapel IPA) mengikuti seleksi OSN berikutnya di tingkat Provinsi Jawa Tengah sebagaimana mestinya.

(2) Direktur Pendidikan Dasar kedepannya harus menyertakan madrasah sebagai bagian dari pseserta kegiatan OSN, sebagaimana nomenklatur kegiatan tersebut yang tidak membedakan antara madrasah dan sekolah.

Haedar Nashir

Sementara itu, Sekretaris PP LP Ma’arif NU, Zamzami, S.Ag.,M.Si., menjelaskan, menurut angka partisipasi kasar (APK), madrasah juga dijadikan tolak ukur untuk mengevalusi mutu pendidikan nasional.

“Jika keberadaan dan prestasi mereka terdiskriminasi seperti ini, jangan jadikan ajang OSN sebagai tolak ukur mutu sains di tingkat pendidikan dasar,” ujarnya melalui sambungan telepon.

Dia juga menerangkan, madrasah itu satuan pendidikan formal menurut UU, kata ‘nasional’ dalam singkatan OSN secara otomatis kegiatan tersebut merupakan wadah kompetisi untuk seluruh anak bangsa di setiap satuan pendidikan.

“Jadi jelas, pernyataan Disdik Kabupaten Semarang yang menjelaskan bahwa keikutsertaan madrasah di OSN hanya sampai tingkat kabupaten sangat diskriminatif dan tidak mendidik sama sekali,” tandasnya.

Seperti yang telah diinformasikan sebelumnya, OSN dilaksanakan pada 24 Februari lalu di UPTD Tuntang. Peserta juara tersebut bersaing dengan seluruh SD/MI se-Kabupaten Semarang. Setelah pengumuman juara, semua peserta dikumpulkan. Saat itu disampaikan bahwa, dari MI hanya sampai di tingkat kabupaten. (Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Ubudiyah, Kiai, Ulama Haedar Nashir

Rabu, 06 Mei 2015

Darurat Kekerasan Seksual, IPPNU Bentuk Tim Khusus

Jakarta, Haedar Nashir - Kekerasan seksual terhadap perempuan banyak dilakukan orang yang memiliki hubungan dekat dengan korban, seperti ayah, kakak, adik, paman, kakek; suami, atau pacar. Informasi ini mematahkan mitos bahwa rumah senantiasa menjadi tempat yang aman bagi perempuan dan perempuan akan terlindungi bila selalu bersama dengan anggota keluarganya yang laki-laki.

Demikian salah satu poin yang mencuat Focus Group Discussion (FGD) bertema “Sinergikan Langkah, Kawal Kekerasan Seksual” yang digelar Pimpinan Pusat Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (IPPNU) di Gedung PBNU Lanita 5, Jalan Kramat Raya 164, Jakarta, Rabu (25/1).

Darurat Kekerasan Seksual, IPPNU Bentuk Tim Khusus (Sumber Gambar : Nu Online)
Darurat Kekerasan Seksual, IPPNU Bentuk Tim Khusus (Sumber Gambar : Nu Online)

Darurat Kekerasan Seksual, IPPNU Bentuk Tim Khusus

IPPNU menilai, banyaknya jumlah kasus di lingkungan orang-orang terdekat ini bisa jadi terkait dengan kehadiran payung hukum, yaitu UU No. 23 tahun 2004 tentang Penghapusan Kekerasan Dalam Rumah Tangga (PKDRT), yang telah disosialisasikan secara meluas ke masyarakat, bertambahnya lembaga-lembaga yang dapat diakses oleh perempuan korban, serta meningkatnya kepercayaan korban pada proses keadilan dan pemulihan yang dapat ia peroleh dengan melaporkan kasusnya itu.

Haedar Nashir

Sebagai salah satu organisasi yang fokus bergerak di isu perempuan khususnya pelajar dan santri ini mengupayakan berbagai rancangan strategis untuk turut serta andil mengambil bagian penting. Diskusi tersebut bertujuan agar para pelajar dapat bersinergi dengan pemerintah untuk berperan aktif di tengah masyarakat dalam mengatasi kasus kekerasan seksual terhadap perempuan dan anak.

Ketua Umum IPPNU Puti Hasni menyampaikan, kekerasan seksual pada anak sudah sangat darurat. Kasus paedofil Emon dan kasus-kasus lain baru-baru ini menunjukkan ada banyak penjahat seksual berkeliaran di sekitar kita.

Haedar Nashir

“Kekerasan seksual pada anak bukan masalah biasa, Presiden Jokowi sampai mengeluarkan Perppu Kebiri Penjahat Seksual,” ujarnya dalam kegiatan ini diikuti sekitar 35 pelajar dari Jabodetabek.

Atas masalah ini, PP IPPNU akan membentuk tim khusus di tingkat pusat, wilayah, dan cabang untuk melakukan pencegahan, proteksi, dan edukasi, utamanya pada basis pelajar SD, SMP, dan SMU.

Salah seorang narasumber dari Komnas Perempuan, Ema Mukarramah mengajak kepada seluruh kader IPPNU se-indonesia untuk menyuarakan pengawalan RUU Penghapusan Kekerasan Seksual melalui setiap kesempatan dan ruang.

“Mari kita kawal para korban dengan memberikan dukungan korban kekerasan seksual untuk menjadi pulih dan berdaya, temani ke psikolog, perawatan kesehatan, tidak menyalahkan, ajak ke lembaga pendamping korban, bantu menyimpan barang bukti, pelaporan ke kepolisian dan visum, advokasi kampus/sekolah, penguatan keluarga, dan sanksi sosial terhadap pelaku,” pintanya.

Sementara Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) HM. Asrorun Ni’am Sholeh mengatakan,

kita harus membangun kesadaran kolektif tentang bahaya kekerasan seksual dengan terus mengadakan kampanye dan diskusi-diskusi mekanisme pencegahan seksual, baik terhadap perempuan dan anak. (Mahbib)

Acara ini dilanjutkan dengan pembacaan Ikrar lawan Kekerasan Seksual terhadap Anak dan Perempuan yang langsung dipimpin Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH. Said Aqil Siroj di ruanganya, didampingi Sekjen PBNU H Helmy Faishal Zaini. Berikut butir lengkap ikrar tersebut.

1. Mengutuk terjadinya kekerasan terhadap anak dan perempuan

2. Berjuang secara bersama untuk stop kekerasan terhadap anak dan perempuan dan seluruh faktor yang menyebabkannya. Stop narkoba, pornografi dan seks bebas.

3. Mengajak kepada pemerintah untuk serius melakukan langkah pencegahan dan penanggulangan kasus kekerasan terhadap anak

4. Meminta aparat penegak hukum untuk menghukum mati bagi para pelaku kejahatan seksual pada anak



(Mahbib)
Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Hadits, Sejarah Haedar Nashir

Santri BPUN Ansor Surabaya Berjejaring dengan Santri Lain Kota

Surabaya, Haedar Nashir. Jumat (29/5) malam, sebanyak 69 santri peserta Pesantren Kilat (Sanlat) Bimbingan Belajar Pasca Ujian Nasional (BPUN) Surabaya, tampak bahagia. Bertempat di pesantren An-Nur jalan Karah Agung 9 Surabaya, mereka saling bertegur sapa melalui Video Conference dengan para santri lain di 11 kota di Indonesia.

Video Conference itu digelar di Kantor PP GP Ansor di Jakarta. Hadir dalam acara tersebut Menristek Dikti M Nasir, Mendikbud Anies Baswedan, dan Ketua Umum PP GP Ansor Nusron Wahid.

Santri BPUN Ansor Surabaya Berjejaring dengan Santri Lain Kota (Sumber Gambar : Nu Online)
Santri BPUN Ansor Surabaya Berjejaring dengan Santri Lain Kota (Sumber Gambar : Nu Online)

Santri BPUN Ansor Surabaya Berjejaring dengan Santri Lain Kota

Peserta Sanlat yang aktif melakukan video conference itu berasal dari Surabaya, Jombang, Malang, Ngawi, Kudus, Semarang, Karanganyar, Yogyakarta, Cirebon, Bandung, Serang, dan Pontianak.

Haedar Nashir

Para santri itu saling berkenalan setelah menyimak arahan dan motivasi dari M Nasir, Anies Baswedan, dan Nusron Wahid.

Koordinator Sanlat BPUN Surabaya Abdus Salam mengatakan, para peserta Sanlat BPUN Surabaya ini telah mengikuti bimbingan intensif dalam rangka persiapan masuk Perguruan Tinggi Negeri, sejak Senin (11/5) lalu, dan berlangsung selama satu bulan.

Haedar Nashir

Program Sanlat BPUN adalah hasil kerja sama GP Ansor dan Yayasan Mata Air. Program ini, menurut Salam, bertujuan mengantarkan sebanyak mungkin kader muda NU bisa kuliah di PTN favorit di Indonesia.

Didampingi para pembina Arif, Syafril, dan Anas, Salam menegaskan, para peserta tidak hanya diberikan bimbingan selam sebulan, mereka juga akan terus dipantau hingga sukses masuk PTN.

"Setelah sukses masuk PTN, nanti kita juga kawal. Sehingga mereka diharapkan menjadi bibit-bibit kader NU di kampus," tegas Wakil Ketua GP Ansor Jawa Timur ini.?

Salam menambahkan, selama sebulan selain dibekali sejumlah materi oleh para tutor, para peserta juga mengikuti pengajian kitab, berjamaah, dan aktivitas keagamaan lainnya seperti para santri di pesantren pada umumnya.

"Ya, mereka jadi santri sementara selama sebulan. Maka itu namanya santri kilat, jadi pengasuhnya juga kiai kilat," ujarnya berkelakar.

"Jadi, saya ini juga kiai, tapi kiai kilat," selorohnya seraya tersenyum. (Abdul Hady JM/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Cerita, Bahtsul Masail Haedar Nashir