Selasa, 21 Februari 2017

Belajar Majukan Pendidikan dari Pesantren Cipasung

Oleh Anggi Afriansyah

Akhir pekan ini, Ahad, 18 September 2016 Pondok Pesantren Cipasung akan menyelenggarakan Peringatan Haul ke-39 Almaghfurlah KH Ruhiat (pendiri Ponpes Cipasung) dan Peringatan Haul ke-9 Almaghfurlah KH M. Ilyas Ruhiat (Pimpinan Pesantren Cipasung 1977-2007). Peringatan haul ini menjadi momen yang tepat untuk mempelajari rekam jejak kedua Ajengan tersebut dalam kontribusinya bagi dunia pendidikan, khususnya di tataran priangan.?

Belajar Majukan Pendidikan dari Pesantren Cipasung (Sumber Gambar : Nu Online)
Belajar Majukan Pendidikan dari Pesantren Cipasung (Sumber Gambar : Nu Online)

Belajar Majukan Pendidikan dari Pesantren Cipasung

Sosok KH Ruhiat dikenal sebagai tokoh yang memiliki keberanian besar dalam perjuangan melawan penjajah. Bersama KH Zaenal Mustafa asal Ponpes Sukamanah, ia aktif berjuang hingga harus rela keluar masuk penjara. Sedangkan, KH Ilyas Ruhiyat, sering disebut Ajengan Santun menjadi Rais Aam PBNU tahun 1994-1999. Keduanya sangat aktif di Jamiyah Nahdlatul Ulama (NU). ?

Mendidik umat

Ponpes Cipasung sudah eksis sejak tahun 1931. Situasi perjuangan kemerdekaan sangat kental ketika itu. Periode di mana perjuangan bangsa sedang bergejolak. Pada awal berdiri, sudah ada 40 orang yang menjadi santri dan belajar dengan K.H. Ruhiat secara langsung. Tak lama kemudian beliau mendirikan Sekolah Agama (Madrasah Diniyah) untuk membina anak-anak usia muda, disusul pendirian Kader Muballigh wal Musyawirin sebagai medium pelatihan dakwah dan musyawarah bagi santri-santri yang sudah dewasa. Di tengah keterbatasan dan berulang kali keluar masuk penjara karena melawan pemerintah kolonial, KH Ruhiat tetap konsisten memperjuangkan pendidikan di pesantren yang ia pimpin.?

Haedar Nashir

Menariknya, KH Ruhiat juga memberikan porsi yang besar bagi kemajuan pendidikan santri putri. Terbukti dari pendirian Kursus Mubalighoh bagi santri putri. Sesuatu yang sangat progresif untuk masa-masa penjahan ketika itu. Kursus Mubalighoh menjadi wahana pelatihan dakwah bagi santri putri dan arena kaderisasi penceramah perempuan. KH Ruhiat sepertinya menyadari bahwa perempuan-perempuan cerdas merupakan aset penting bagi masyarakat. Karena dari rahim perempuan cerdaslah anak-anak bangsa lahir.?

Pasca kemerdekaan Indonesia menjadi momen pertumbuhan lembaga pendidikan formal di bawah naungan Ponpes Cipasung. Perlahan tapi pasti lembaga-lembaga pendidikan formal didirikan. Mulai dari unit pendidikan terendah yaitu Taman Kanak-kanak sampai perguruan tinggi didirikan oleh Ponpes Cipasung. Lembaga-lembaga tersebut didirikan untuk mengakomodir perubahan zaman. Tak hanya diberikan pemahaman yang mumpuni tentang keagamaan, santri pun mesti dibekali kecapakan-kecakapan hidup teknis melalui pendidikan dan pelatihan. Modal dasar pendidikan ini menjadi pegangan bagi para santri untuk mengabdi di masyarakat.

Jika melihat rentang sejarah, pendidikan formal di Ponpes Cipasung sudah mulai didirikan lima tahun pasca kemerdekaan Indonesia. Tahun 1950 didirikan Sekolah Pendidikan Islam (SPI) yang kemudian pada tahun 1953 berubah menjadi Sekolah Menengah Islam Pertama, tahun 1954 didirikan Sekolah Rendah Islam (SRI) yang kemudian berubah menjadi Madrasah Wajib Belajar (MWB) dan kemudian berubah menjadi Madrasah Ibtidaiyah (MI), dan tahun 1959 didirikan Sekolah Menengah Atas Islam (SMAI). Sekolah Persiapan IAIN (SP IAIN) Sunan Gunung Djati cabang Cipasung yang kemudian pada tahun 1978 diubah menjadi Madrasah Aliyah Negeri (MAN) Cipasung.

Haedar Nashir

Tak hanya mengakomodir pendidikan dasar dan menengah, Ponpes Cipasung pun menginisiasi pendidikan tinggi. Sejak tahun 1965 didirikan Fakultas Tarbiyah Perguruan Tinggi Islam Cipasung (PTI Cipasung), tahun 1982 juga didirikan Fakultas Syariah. Kedua Fakultas tersebut menjadi cikal bakal berdirinya Institut Agama Islam Cipasung (IAIC). Pada tahun 1992 didirikan Madrasah Tsanawiyah (MTs) Cipasung melengkapi jenjang pendidikan dasar di Ponpes Cipasung.?

Kemudian, tak hanya bergerak pada pendidikan tinggi bidang keagamaan, pada tahun 1997 didirikan Sekolah Tinggi Teknologi Cipasung (STTC), pada tahun 1999 didirikan Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi Cipasung, pada tahun 2000 dibuka Program Pasca Sarjana UII Jogyakarta kelas khusus Cipasung.

Pendidikan anak usia dini juga menjadi salah satu prioritas penting sehingga membuat Ponpes Cipasung mendirikan TK Islam Cipasung pada tahun 2003. Pada tahun 2009 didirikan Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) Islam Cipasung dan Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) Kesehatan KH Ilyas Ruhiat. ?

Perjalanan sejarah Pondok Pesantren Cipasung dalam memperjuangkan pendidikan anak bangsa secara detil dapat dibaca di website resmi Ponpes Cipasung (www.ponpescipasung.com). Dalam rentang waktu tersebut Ponpes Cipasung sudah mendirikan beragam institusi pendidikan di bawah naungan pesantren. Upaya tersebut merupakan bagian penting bagi peningkatan kualitas sumber daya manusia. Mendidik anak bangsa melalui pendidikan di pesantren.?

Keteladanan

Keteladanan KH Ruhiat dan KH Ilyas Ruhiat menjadi kunci bagi keberlanjutan perjuangan pendidikan Islam di Jawa Barat. Bagaimana pendidikan Islam dapat bersinergi dengan baik dengan pendidikan modern. Proses pendidikan yang tak menjadikan lulusan pesantren menjadi gemar menebar kebencian terhadap yang berbeda paham. Kedua ulama tersebut mencontohkan dengan baik bagaimana umat Islam dapat berkontribusi secara optimal bagi negeri ini. Para santri yang ditempa di pesantren setelah lulus akan berbaur dengan masyarakat serta aktif terlibat dalam proses pembangunan bangsa.?

Ponpes Cipasung sudah memberi teladan bagaimana seorang santri dapat menjadi sosok yang menghadirkan kedamaian dan keteduhan. ? Contoh yang secara nyata diberikan oleh para ulama dan ustadz/ustadzah di Pesantren Cipasung. Mereka memberikan teladan melalui laku harian dan aktivitas nyata yang bermanfaat bagi bangsa. Perjuangan KH Ruhiat dalam membangun Ponpes Cipasung dilanjutkan oleh putra-putri dan cucunya.?

Sosok KH Ilyas Ruhiat mengutip catatan Iip D. Yahya, penulis Buku Ajengan Santun, Biografi KH Ilyas Ruhiat, sebagai seorang pejuang sederhana. Bukan orator handal yang membakar massa di podium, bukan penulis piawai yang merangkai kata-kata. KH Ilyas menurut Iip merupakan guru yang ingin agar murid-muridnya mudah menangkap yang diajarkannya. Beliau adalah pengamal tasawuf, yang sanggup untuk tidak berburuk sangka kepada orang lain dan selalu mampu mengendalikan emosi.

Contoh nyata lainnya dapat dilihat dari perjuangan putra-putri dari KH Ilyas Ruhiat dalam menebar kebermanfaatan bagi sesama. Putra pertamanya, Acep Zamzam Noor, merupakan seniman yang banyak menghasilkan karya. Putri kedua, Ida Nurhalida dikenal sebagai seorang pendidik dan sosok pejuang kesetaraan perempuan. Sedangkan putri ketiganya, Enung Nursaidah menjadi salah satu tokoh inspirasi yang tercatat pada buku “Dari Inspirasi Menjadi Harapan, Perempuan Muslim Indonesia dan Kontribusinya Kepada Islam yang Pluralis dan Damai” diterbitkan oleh LBH APIK.?

Menebar kebermanfaatan bagi sesama merupakan cita-cita bagi setiap santri yang mengenyam pendidikan di pesantren. Kekhawatiran bagi santri adalah ketika ilmu yang didapatnya tidak dapat diaplikasikan dalam keseharian, tidak bermanfaat bagi masyarakat.?

Berdirinya beragam institusi pendidikan formal dan informal dibawah naungan pesantren merupakan salah satu tujuan agar penyebaran kebermanfaatan dapat dirasakan dalam daya jelajah yang lebih jauh. Alumni Ponpes Cipasung tak hanya menjadi ulama atau kyai, tetapi juga menjangkau profesi lain seperti politisi, birokrat, pengusaha, pendidik, seniman, wartawan dan bidang pekerjaan lainnya.

Pengabdian pesantren bagi komunitas masyarakat memang penting. Pesantren menjadi mercusuar yang memberikan wajah islam yang rahmatan lil alamin. ? Perjuangan K.H. Ruhiat menjadikan Ponpes Cipasung mendidik umat merupakan ikhtiar berharga bagi bangsa. Sebagai kontribusi besar tak hanya untuk umat Islam tapi juga untuk bangsa. Perjuangan besar yang harus dilanjutkan oleh para santrinya.?

Sebagai penutup, karya puitis dari Acep Zamzam Noor dapat menjadi renungan, hari esok adalah perjalananku sebagai petani, membuka ladang-ladang amal dalam belantara yang pekat. Maka, sebagai santri, kita harus terus berjuang, membuka ladang kebajikan, menebar kebermanfaatan, bekerja nyata untuk negeri tercinta.***

?

Penulis adalah Peneliti di Pusat Penelitian Kependudukan LIPI, pernah nyantri di Pondok Pesantren Cipasung, Tasikmalaya, Jawa Barat.

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Pertandingan, Syariah, Kyai Haedar Nashir

Capek Perjalanan Mudik? Mampir Pijat di Posko Pagar Nusa

Batang, Haedar Nashir. Para pendekar Pencak Silat Nahdlatul Ulama Pagar Nusa tidak hanya berpartisipasi mengamankan arus mudik. Di posko Pagar Nusa, para pemudik yang kecapekan bisa mampir beristirahat sembari menikmati pijat gratis.

“Program posko Pagar Nusa ini meliputi terapi sentuh, pijat refleksi, pijat listrik, akupresure metafisika (pijat tenaga dalam). Semua gratis,” kata koordinator Posko Mudik Batang Jawa Tengah, Harun Heru Supriyanto, dihubungi Haedar Nashir, Ahad (4/8).

Capek Perjalanan Mudik? Mampir Pijat di Posko Pagar Nusa (Sumber Gambar : Nu Online)
Capek Perjalanan Mudik? Mampir Pijat di Posko Pagar Nusa (Sumber Gambar : Nu Online)

Capek Perjalanan Mudik? Mampir Pijat di Posko Pagar Nusa

Senin hari ini, posko mudik Pagar Nusa yang berada di Jalan Raya Batang dan Sabah akan didatangi langsung oleh Dewan Ketabiban Pimpinan Pusat Pagar Nusa.

Di posko Pagar Nusa yang berada di pos Dishub Kominfo, Pagar Nusa juga memberikan layanan informasi mudik, terkait rute utama dan jalur-jalur alternatif.

Selain itu, partisipasi utama Pagar Nusa adalah menciptakan rasa aman dan nyaman bagi para pemudik.

Haedar Nashir

Menurut Harun yang juga pengurus bidang pelatihan untuk wasit dan juri Pimpinan Pusat Pagar Nusa, pihaknya telah menempatkan para pendekar di beberapa tempat strategis di sepanjang arus mudik, wilayah Batang, Jawa Tengah.

“Kami juga melakukan ronda keliling di sepanjang jalan kabupaten Batang,” katanya.

Program posko mudik Pagar Nusa Batang ini merupakan tahun tahun keempat. Tahun-tahun sebelumnya mereka membuka posko sendiri.

Haedar Nashir

“Dulu kita membikin posko sendir i, tapi hanya sedikit pemidik yang mau singgah. Sekarang kita bergabung dengan Dishub Kominfo. Tempatnya juga lebih strategis,” kata Harun.

 

Penulis: A. Khoirul Anam

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Nasional, Fragmen, Kiai Haedar Nashir

Rabu, 15 Februari 2017

Jaga Tradisi, Ansor Pacitan Gelar Sepak Bola Api Brojo Geni

Pacitan, Haedar Nashir. Ada banyak cara dilakukan untuk memeriahkan datangnya tahun baru Islam. Salah satunya seperti yang dilakukan oleh keluarga besar GP Ansor Pacitan yang menggelar Gebyar 1 Muharram 1437 H dengan tema ‘Islam Nusantara: Agama yang berbudaya, budaya yang beragama’, Selasa malam (14/10) di kawasan wisata pantai selatan Pacitan, Jawa Timur.

Jaga Tradisi, Ansor Pacitan Gelar Sepak Bola Api Brojo Geni (Sumber Gambar : Nu Online)
Jaga Tradisi, Ansor Pacitan Gelar Sepak Bola Api Brojo Geni (Sumber Gambar : Nu Online)

Jaga Tradisi, Ansor Pacitan Gelar Sepak Bola Api Brojo Geni

Khoirul Anam, Ketua GP Ansor Pacitan mengatakan, pihaknya sengaja memperingati tahun baru hijriyah dengan menggelar pagelaran budaya karena didasari rasa keprihatinan atas banyaknya kebudayaan lokal yang mulai hilang tergeser kemajuan zaman.

"Kami ingin mengangkat dan menampilkan kembali kearifan lokal seperti sepak bola api Brojo Geni dan pembacaan Sholawat Khataman Nabi yang biasa dilakukan oleh para sesepuh terdahulu saat datangnya tahun baru hijriyah," katanya dihadapan ratusan anggota banser dan masyarakat.

Haedar Nashir

Dalam kesempatan itu, ditampilkan permainan sepak bola api brojo geni yang dilakukan oleh para santri dari Pondok Tremas Pacitan. Sebelumnya para santri telah melakukan tirakat dengan berpuasa selama seminggu dan telah melewati serangkaian proses latihan.?

Permainan sepak bola api brojo geni dilakukan layaknya pertandingan futsal. Tetapi mereka tidak menggunakan sepatu. Bola yang digunakan merupakan bola khusus yang terbuat dari sabut kelapa. Kemudian bola api itu direndam ke dalam minyak tanah dan disulut api hingga terbakar. Butuh kemampuan khusus untuk memainkan permain ala pesantren itu. Mereka yang pemberani yang sanggup berebut bola dan menendangnya ke gawang.

Haedar Nashir

Antusias pemain dan penonton sepak bola api cukup besar sehingga pertandingan berlangsung dengan semarak. Selama permainan berlangsung, dibacakanlah sholawat dan syi’iran Jawa yang dibawakan oleh jam’iyyah sholawat dari MWCNU Kecamatan Kebonagung Pacitan.

Menurut Agus Susanto salah satu panitia mengatakan, filosofi permainan bola api yang diajarkan oleh kiai kepada para santrinya mempunyai makna yang dalam. Ketakwaan dilambangkan dengan puasa sebelum memulai permainan, pengendalian nafsu dilambangkan dengan bola api yang selalu menyala dan berbuat baik kepada sesama yang dilambangkan kerjasama saling menghargai antar-pemain. (Zaenal Faizin/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Ulama Haedar Nashir

NU Kota Pekalongan Bagikan Beasiswa kepada Siswa Berprestasi

Pekalongan, Haedar Nashir. Koperasi Simpan Pinjam dan Pembiayaan Syariah Syirkah Muawanah Nahdlatul Ulama (KSPPS SMNU) Kota Pekalongan mulai tahun 2017 dan seterusnya akan membagikan keuntungan usaha kepada siswa berprestasi di lingkungan NU.

NU Kota Pekalongan Bagikan Beasiswa kepada Siswa Berprestasi (Sumber Gambar : Nu Online)
NU Kota Pekalongan Bagikan Beasiswa kepada Siswa Berprestasi (Sumber Gambar : Nu Online)

NU Kota Pekalongan Bagikan Beasiswa kepada Siswa Berprestasi

Koperasi yang semula bernama Koperasi Serba Usaha (KSU) Nahdlatut Tujjar itu mulai beroperasi tahun 2004. Kini telah membukukan aset sebesar Rp 119 milyar dengan anggota pendiri sebanyak 85 orang dan ribuan anggota. Koperasi tersebut telah memiliki 1 kantor cabang utama dan 12 kantor cabang yang tersebar di Kota Pekalongan, Kabupaten Pekalongan, Batang, dan Pemalang.

"Pemberian beasiswa kepada anak yang berprestasi di sekolah lingkungan Nahdlatul Ulama adalah sebagai bentuk kepedulian KSPPS SM NU yang dirintis sejak 13 yang lalu," ujar Sulaeman Ketua KSPPS SM NU Kota Pekalongan pada saat Rapat Anggota Tahunan (RAT) di Gedung Aswaja Ahad (12/3).

Dikatakan, sebelumnya PSPPS SMNU juga sudah melakukan dukungan ke lembaga pendidikan khususnya kepada siswa yang kurang mampu, yakni di SMA Hasyim Asyari Pekalongan. Akan tetapi mulai tahun 2017, pihaknya memberikan kepada siswa berprestasi ke seluruh sekolah di lingkungan LP Maarif NU, yakni MI/SD, SMP/MTS, MA/SMA/SMK se-Kota Pekalongan.

Dana yang diberikan selama 6 bulan dan bisa ditarik setiap bulannya untuk biaya SPP dan lain lain diberikan dalam bentuk tabungan siswa. Meski nilainya belum signifikan, dirinya berharap bantuan beasiswa berprestasi bisa membantu anak anak termotivasi untuk lebih giat belajar. Dirinya berjanji setiap tahunnya akan ada peningkatan nilai beasiswa, ujar Sulaeman yang juga pensiunan Bank Mandiri.

Haedar Nashir

Kehadiran KSPPS SMNU berdampak signifikan bagi PCNU Kota Pekalongan khususnya. Karena lembaga keuangan mikro ini adalah wujud kepercayaan warga Nahdliyin kepada lembaga keuangan syariah. Meski di Kota Pekalongan tumbuh dengan subur lembaga semacam itu, tapi tak menyurutkan langkah warga Nahdliyin dan masyarakat umum mempercayakan transaksinya di lembaga yang dikelola anak anak muda NU. (Abdu Muiz/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Ulama, Makam Haedar Nashir

Haedar Nashir

Selasa, 14 Februari 2017

11 Pelajar Raih Beasiswa Penuh Sarjana Melalui Pergunu Lampung

Bandarlampung, Haedar Nashir - Setelah melewati seleksi ketat untuk mendapatkan Beasiswa Sarjana melalui Persatuan Guru NU atau Pergunu Provinsi Lampung, sebanyak 11 pelajar Lampung berhasil terpilih. Seleksi beasiswa yang dilaksanakan untuk tahun ketiga ini meliputi administrasi, mengaji Al-Quran, tes potensi akademik (TPA), wawancara siswa, wawancara orangtua, serta minat dan bakat.

"Seleksi program ini kami melibatkan pihak akademisi dan internal Pergunu Lampung untuk bidang Mengaji Al-Quran, tes potensi akademik (TPA), wawancara, serta minat bakat. Selamat dan sukses karena telah melewati proses tahapan seleksi," kata Ketua Pergunu Lampung H Jamaluddin Malik, Ahad (9/7).

11 Pelajar Raih Beasiswa Penuh Sarjana Melalui Pergunu Lampung (Sumber Gambar : Nu Online)
11 Pelajar Raih Beasiswa Penuh Sarjana Melalui Pergunu Lampung (Sumber Gambar : Nu Online)

11 Pelajar Raih Beasiswa Penuh Sarjana Melalui Pergunu Lampung

Ia menambahkan, para pelajar yang terseleksi ini akan menempuh pendidikan beasiswa penuh di Institut KH Abdul Chalim Mojokerto, Jawa Timur. Program beasiswa penuh S-1 dari Pergunu ini merupakan program berkelanjutan, bahkan hingga jenjang S-3.

Haedar Nashir

Pada kesempatan ini Ketua Tim Seleksi Beasiswa H Erzati Abbas berharap para penerima beasiswa untuk menjaga nama baik keluarga dan juga Pergunu Lampung.

Haedar Nashir

"Anda merupakan orang-orang yang terpilih dan diberikan kesempatan, karena banyak di luar sana yang ingin melanjutkan pendidikan tinggi tetapi terhambat berbagai kendala. Jadi manfaatkan beasiswa ini sebaik-baiknya," ucap Penasehat Pergunu Lampung yang juga Dosen UIN Raden Intan Lampung ini.

Salah satu Anggota Tim Dwi Rohmadi juga berpesan agar para penerima beasiswa dapat memanfaatkan kesempatan ini sebaik-baiknya. Hal ini dapat ditempuh dengan cara belajar dan berprestasi.

"Tugas mahasiswa adalah belajar. Menuntut ilmu itu kewajiban kita sebagai umat Islam. Jadi Anda kuliah itu diniatkan sebagai ibadah," ujarnya.

Para pelajar terpilih ini direncanakan akan diberangkatkan menuju Mojokerto, Jawa Timur pada 10 Agustus 2017. Pelepasan yang akan dilaksanakan di Kantor bersama LP Maarif NU Lampung dan Pergunu Lampung ini direncanakan akan dilepas oleh Kepala Kanwil Kemenag Lampung. (Muhammad Faizin/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Makam, Fragmen Haedar Nashir

Mencetak "Agent Of Change" Melalui Pesantren

Peresensi: Heri Kurniawan

Judul Buku: Menggerakkan Tradisi

Penulis: Abdurrahman Wahid

Mencetak Agent Of Change Melalui Pesantren (Sumber Gambar : Nu Online)
Mencetak Agent Of Change Melalui Pesantren (Sumber Gambar : Nu Online)

Mencetak "Agent Of Change" Melalui Pesantren

Penerbit: LKiS, Yogyakarta

Cetakan: I, 2007

Tebal: xxii+275 halaman

Haedar Nashir

Sepanjang pengetahuan yang telah tersebar selama ini di kalangan akademisi, aktivis, intelektualis, sepertinya hanyalah mahasiswa yang paling pantas diposisikan sebagai penyandang gelar istilah agent of change (agen perubahan). Padahal, potensi besar seperti itu pun dimiliki oleh lembaga pendidikan non-formal, seperti halnya pesantren. Inilah salah satu dampak dari pemerintahan Orde Baru (Orba) dalam upayanya mengaburkan nilai-nilai sejarah perjuangan panjang nenek moyang bangsa Indonesia dalam merebut kemerdekaan dari tangan penjajah, hanya demi membangun doktrin sejarah bahwa, perjuangan politik mencapai kemerdekaan tidak lebih dari perjuangan bersenjata. Padahal, kita tahu, pasukan tentara baru terbentuk setelah bangsa ini diorganisasikan dalam Republik.

Haedar Nashir

Orba telah mengebiri peran penting lembaga berbasis keagamaan ini dalam sejarah nasional yang pantasnya mendapat penghargaan besar. Tapi, kenapa justru mendapat ketidak-aku-an pemerintah. Dalam konteks perjuangan melawan pemerintah kolonial, pesantren mampu mencetak pejuang-pejuang pergerakan nasional, seperti halnya, tokoh-tokoh; Soekarno, Sjahrir, dan Bung Tomo dengan organisasinya Boedi Utomo yang melahirkan kesepakatan bersama para pemuda-pemudi dalam wadah Sumpah Pemuda yang diperingati setiap 28 Oktober. Lebih parah lagi, lembaga berlatar belakang tradisi budaya ini sempat pula dicurigai sebagai sarang kejumudan, konservatisme, ia menjadi penghalang besar bagi usaha-usaha pembangunan yang digalakkan pemerintah sekitar tahun 1970-an hingga akhir tahun 1980-an. Di sekitar tahun 2004-an ke belakang, pesantren disebut sebagai sarang teroris.

Akibat, tidak banyak yang mengenal sosok, seperti, KH Wahab Chasbullah dari Pondok Pesantren Tambakberas, Jombang, KH Hasyim Asari dari Tebuireng, Jombang, dalam konteks keperjuangannya yang keras telah mampu memobilisasi massa menyerang tentara asing yang ingin menduduki pemerintahan di wilayah Surabaya dan sekitarnya. KH Wahab Chasbullah yang sejak di Mesir menjadi pengikut Sarikat Islam (SI) telah mendirikan Madrasah Nahdhatul Wathan (Kebangkitan Tanah Air) di Surabaya. Madrasah yang menjadi kawah candradimuka generasi muda ini berkembang pesat sampai Gresik, Malang, Pasuruaan, Semarang, Sidoarjo dan Lawang. Satu tahun kemudiaan, tepatnya tahun 1918, ia juga mendiriakan Organisasi Sosial Ekonomi bernama Nahdhatut Tujar (Kebangkitan Para Pedagang). Organisasi inilah yang nantinya menjadi embrio dan berkembang menjadi NU, bahkan menjadi dapur pemikiran NU sendiri. Organ-organ ini, meski berlatar belakang pesantren, jika pandang dari sisi waktu maupun pengaruhnya, tidak kalah dibanding dengan organisasi-organisasi seperti yang digagas Bung Tomo dan kawan-kawan dalam memperjuangkan bangsa ini.

Untuk itulah, merubah kembali paradigma lama dengan yang baru adalah suatu keharusan. Artinya, bukan hanya mahasiswa saja yang pantas dan mampu untuk diikutsertakan sebagai subyek pembangunan bangsa pada saat ini, melainkan lembaga dengan latar belakang kultural, non-formal ini pun layak digabungkan dalam golongan agent af change. Bahkan, jika dilihat dari sejarah tradisi perjuangannya yang panjang, jelas-jelas pesantren telah membuktikan dirinya mampu menjadi agent of change. Gus Dur sendiri—terlepas dari latar belakang kepesantrenannya—menyebut pesantren sebagai subkultural, walaupun masih dalam tataran ideal.

Sebagaimana diuraikan dalam banyak penjelasan sosiologis, sebuah subkultural, minimal harus memiliki keunikan sendiri dalam aspek-aspek berikut; cara hidup yang dianut, pandangan hidup dan tata nilai yang diikuti, serta hirarki kekuasaan intern tersendiri yang ditaati sepenuhnya. Bagi Gus Dur, pesantern sangatlah dinamis, bisa berubah, dan mempuyai dasar-dasar yang kuat untuk ikut serta mengarahkan dan menggerakkan perubahan yang diinginkan. Eksistensi pesantren, sebagai sebuah lembaga kehidupan yang menyimpang dari pola kehidupan umum di negeri ini; terdapatnya sejumlah penunjang yang menjadi tulang punggung kehidupan pesantern; berlangsungnya pembentukakan tata nilai yang tersendiri dalam pesantren, lengkap dengan simbol-simbolnya; adanya daya tarik keluar sehinga memungkinkam masyarakat sekitar menganggap pesantren sebagai alternatif ideal bagi sikap hidup yang ada di masyarakat itu sendiri; dan berkembangnya suatu proses pengaruh-memengaruhi dengan masyarakat di luarnya, yang akan berkulminasi pada pembentukan nilai-nilai baru yang secara universal diterima kedua belah pihak, adalah kriteria yang dirasa cukup oleh Gus Dur menggolongkan "pesantren sebagai subkultural".

Tujuaan Gus Dur menulis buku ini tak lain adalah respon positif munculnya anggapan bahwa pesantren adalah sarang kejumudan, konservatisme, menjadi penghalang besar bagi usaha-usaha pembangunan. Karena, pesantren baginya, sangatlah dinamis, bisa berubah dan mengubah karena memilki dasar-dasar kuat untuk ikut mengarahkan dan mengerakkan perubahan dalam konteks pembangunan bangsa ke depan.

Pesantren sendiri telah sejak lama memegang sistem kepengurusan yang oleh Gus Dur dikatakan sangatlah demokratis yang saat ini mejadi topik berbincangan aktual setiap bangsa. Sistem kepengurusan pesantren adakalanya berbentuk sederhana, di mana kiai memegang kepimpinan mutlak dalam segala hal. Sedangkan, kepemimpinan itu sering kali diwakilkan kepada ustaz senior selaku "lurah pondok". Dalam pesantren yang telah mengenal bentuk organisasi yang lebih komplek, peranan "lurah pondok" ini digantikan oleh susunan pengurus lengkap dengan pembagiaan tugas masing-masing walaupun adakalanya ketuanya masih dinamai "lurah pondok" juga. Walaupun telah berbentuk sebuah pengurus yang bertugas melaksanakan segala sesuatu yang berhubungan dengan jalannya pesantern sehari-hari, kekuasaan mutlak senantiasa masih berada di tangan sang kiai. Dan, sekalipun susunan pimpinan pesantren masih terdapat jarak tak terjembatani antara kiai serta keluarganya di satu pihak dan para asatiz serta santri di lain pihak, kiai bukan primus intern peres, melainkan bertindak sebagai pemilik tunggal (directeur eigenaar).

Buku ini bisa dikatakan sebuah kontribusi bagi lembaga pesantren yang jarang ditempatkan pada wilayah startegis dalam setiap pembangunan nasional. Akan pula menjadi referensi perbandingan di mata pemerintah dalam membangun kembali bangsa Indonesia ke depan. Karena, tanpa adanya campur tangan dari lembaga-lembaga seperti pesantren yang memilki legitimasi tradisi kebudayaan yang kuat, bisa dimungkinkan tidak akan bisa berjalan mulus pembangunan tersebut. Usaha-usaha pembangunan memang dapat mengabaikan kebudayaan, namun usaha-usaha itu tidak bisa mengabaikan kenyataan bahwa pembangunan mempengaruhi kebudayaan, atau dipengaruhi oleh kebudayaan.

Setidaknya ada tiga alasan yang bisa menempatkan kebudayaan sebagai alat yang memungkinkan pembangunan bisa berlangsung dengan sukses dalam pendahuluan buku Kebudayaan dan Pembangunan: Sebuah Pendekatan terhadap Antropologi Terapan di Indonesia (Jakarta: Yayasan Obor, 1987) oleh Nat. J. Colletta. Pertama, unsur-unsur budaya mempunyai legitimasi tradisional di mata orang-orang yang menjadi sasaran program pembangunan. Kedua, unsur-unsur budaya secara simbolis merupakan bentuk komunikasi paling berharga dari penduduk setempat. Ketiga, unsur-unsur budaya mempunyai aneka ragam fungsi (baik yang wujud maupun yang samar) yang menjadikannya sebagai sarana paling berguna untuk perubahan.



Peresensi adalah alumnus Pondok Pesantren (Ponpes) Khozinatul Ulum, Banan, Gunung Rejo, Kedungpring, Lamongan. Saat ini, mengabdi di Ponpes Mahasiswa Hasyim Asyari DI Yogyakarta.
Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir News, Lomba Haedar Nashir

Senin, 13 Februari 2017

Santri Harus Turun Glanggang

Brebes, Haedar Nashir. Kondisi negara yang diliputi dengan Korupsi dari tingkat atas hingga bawah, menjadi keprihatinan bersama. Sehingga Santri sangat dinanti turun glanggang untuk ikut memberantas korupsi. Jika dibiarkan saja, maka negara akan hancur.

Santri Harus Turun Glanggang (Sumber Gambar : Nu Online)
Santri Harus Turun Glanggang (Sumber Gambar : Nu Online)

Santri Harus Turun Glanggang

Ajakan tersebut disampaikan Ketua Mahkamah Kontitusi (MK) Mahfud MD, saat mengunjungi Pesantren Al Hikmah I Benda Sirampog Brebes, Sabtu (16/2) lalu.

"Orang-orang pesantren selalu tampil untuk menyelamatkan negara, maka ketika negara kita sedang dilanda banjir Korupsi maka santri harus turun glanggang untuk memperbaiki kondisi negara,” ajaknya.

Haedar Nashir

Korupsi sekarang, kata Mahfud, sudah akut dan pemberantasannya sangat sulit karena yang terjadi para pemimpin negeri ini saling sandra. Pemimpin yang ada sudah terlibat korupsi sehingga tidak dapat memberantas korupsi secara tuntas.

Haedar Nashir

Dalam catatan Mahfud MD, sejak paska reformasi sampai sekarang ada 263 pemimpin daerah yang terlibat kasus pidana dan 80 persennya adalah kasus korupsi. “Reformasi yang katanya mau memberantas KKN malah melanjutkan korupsi,” ujarnya.

Begitupun praktek mafia peradilan, benar-benar terjadi di negeri ini, hukum bisa dibeli dan direkayasa. Tuntutan hukum dapat dikompromikan dengan menyuap jaksa, hakim dan juga polisi, sehingga seorang yang tersangkut hukum bisa dihukum ringan bahkan bebas. 

"Peradilan dapat dibeli beramai-ramai oleh para terdakwa, sehingga tidak ada lagi keadilan di negeri ini," kata Mahfud.

Kondisi tersebut tidak mungkin dibiarkan dan untuk membenahinya ditunggu orang-orang dari pesantren untuk selamatkan negara dari kehancuran. Keunggulan pendidikan di pesantren yang didasari agama yang cukup dan mengedepankan moral orang pesantren layak untuk menjadi pemimpin.

"Sekarang sudah terbukti orang pesantren memiliki keunggulan, lembaga-lembaga negara yang bersih dipimpin dan didominasi oleh lulusan pesantren," tandas Mahfud. 

Redaktur     : Hamzah Sahal

Kontributor : Wasdiun

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir AlaSantri, Pendidikan, Amalan Haedar Nashir