Sabtu, 18 Maret 2017

Peduli Lingkungan, Pelajar NU Bersih-bersih Pantai

Purworejo, Haedar Nashir. Puluhan anggota Corp Brigade Pembangunan (CBP) Pengurus Cabang Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (PC IPNU) Kabupaten Purworejo membersihkan sampah-sampah di obyek wisata alam pantai Jatimalang Purwodadi, Purworejo, Jawa Tengah, pada Selasa (22/10).

Peduli Lingkungan, Pelajar NU Bersih-bersih Pantai (Sumber Gambar : Nu Online)
Peduli Lingkungan, Pelajar NU Bersih-bersih Pantai (Sumber Gambar : Nu Online)

Peduli Lingkungan, Pelajar NU Bersih-bersih Pantai

Ketua PC IPNU Kabupaten Purworejo, Sofyan Rizali Zain mengatakan, CPB ini merupakan badan semi otonom dibawah organisasi IPNU yang fokus terhadap permasalahan-permasalahan kemanusiaan, kepedulian lingkungan dan kegiatan-kegiatan sosial.

“Kami sifatnya hanya mewadahi para pelajar yang memiliki minat pada bidang lingkungan. Kegiatan-kegiatan seperti ini, tentu menjadi alternatif bagi mereka untuk beraktifitas secara positif,” terangnya.

Haedar Nashir

Lebih lanjut ia mengatakan, terkait dengan kegiatan kemanusiaan pihaknya mengaku juga turut berpartisipasi terhadap penanggulangan gunung Merapi di Magelang serta longsor di Bruno beberapa waktu yang lalu.

“Hal tersebut tentu menjadi program organisasi untuk turut serta membantu masyarakat yang mengalami kesusahan. Pada saat terjadi letusan Merapi kita melakukan aksi galang dana di Purworejo kemudian menyalurkannya ke Magelang melalui PC IPNU Magelang,”imbuhnya.

Haedar Nashir

Menurutnya, kegiatan-kegiatan seperti ini cukup efektif untuk menanamkan kepakaan sosial terhadap para anggota CBP yang rata-rata merupakan pelajar ini.

Selain itu, kata dia, guna meningkatkan kemampuan serta ketrampilan saat terjun di lapangan, pihaknya juga membekali anggota CPB dengan melakukan pelatihan-pelatihan terkait penanganan bencana, pertolongan pertama serta ketrampilan lainnya.

“Sejak masuk para anggota ini kita diklat selama tiga hari dan kita bekali dengan berbagai materi yang mereka butuhkansaat menjalankan tugas-tugas di lapangan. Kami juga terus mengajak para pelajar agar mau bergabung dengan kegiatan-kegiatan kami,”tandasnya.

Sementara itu, Koordinator Lapangan bakti lingkungan bersih bersih Pantai Jatimalang, Anis Makhrus mengatakan bahwa kegiatan ini merupakan bagian dari rangkaian kegiatan peringatan Sumpah Pemuda 28 Oktober mendatang.

“Ada dua agenda yang akan kita lakukan pada peringatan Sumpah Pemuda tahun ini, yakni bersih-bersih Pantai Jatimalang serta bersih-bersih jalur pendakian Gunung Merbabu 27 hingga 28 Oktober besok,” ujarnya.

Anis menambahkan, alasan dipilihnya pantai Jatimalang ini sebagai lokasi bakti lingkungan karena pantai ini merupakan salah satu obyek wisata alam andalan di Kabupaten Purworejo.

Namun, dia berpendapat, kepedulian pengunjung untuk menjaga kebersihan pantai masih cukup minim. Selain itu, menurutnya pihak pemerintah juga terlihat kurang serius mengelola obyek wisata ini.

“Ini merupakan wujud keprihatinan kami terhadap kondisi pantai yang kotor ini. Kita juga tidak sepenuhnya menyalahkan pengunjung karena pihak pengelola juga tidak menyediakan tempat pembuangan sampah,” katanya.

Anis berharap, melalui kegiatan ini menjadi bisa memberikan contoh kepada pengunjung yang lain untuk peduli terhadap permasalahan kebersihan lingkungan. “Pada kegiatan ini kami juga mengkampanyekan budaya bersih lingkungan kepada pengunjung yang lain,” pungkasnya. (Lukman Hakim/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Ubudiyah, Budaya Haedar Nashir

Jumat, 17 Maret 2017

Universitas Hasyim Asy’ari Jombang Hidupkan Kembali Kajian Sastra

Jombang, Haedar Nashir. Semangat menghidupkan kembali diskusi sastra di Universitas Hasyim Asy’ari (Unhasy) Jombang, Jawa Timur terasa saat Peluncuran sekaligus Bedah Kumpulan Puisi “Cerita Rantau di Balik Senja“ karya 13 mahasiswa Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia (PBSI) Unhasy semester IV, Senin (23/5).

Terlebih lagi, dukungan dan respon positif disampaikan oleh Wakil Rektor II Unhasy H Muhsin Ks, yang hadir pada acara tersebut. “Ini adalah sebuah karya yang perlu diapresiasi,” ungkapnya.

Universitas Hasyim Asy’ari Jombang Hidupkan Kembali Kajian Sastra (Sumber Gambar : Nu Online)
Universitas Hasyim Asy’ari Jombang Hidupkan Kembali Kajian Sastra (Sumber Gambar : Nu Online)

Universitas Hasyim Asy’ari Jombang Hidupkan Kembali Kajian Sastra

Wakil Rektor Unhasy asal Demak tersebut juga berpesan untuk menghidupkan gemar membaca. Karena membaca menjadi kekuatan dalam membentuk pola pikir yang baik, termasuk mendalami sastra.

Di lingkungan Unhasy yang berbasis pendidikan pesantren, menurut Muhsin, terdiri dari 3 prinsip. Yaitu, agama, ilmu dan budaya. “Agama itu memberikan kita ketentraman dan ketenangan. Ilmu itu memberikan kemudahan, membuat hidup kita jadi enak. Sedangkan budaya membuat hidup menjadi indah. Karena itu usaha untuk menghidupkan ketiga hal tersebut harus dilakukan,” ungkapnya.?

Haedar Nashir

Budayawan Binhad Nurrohmat yang hadir sebagai pembicara mengingatkan, bahwa diskusi sastra bukan hal baru di Tebuireng. Tercatat, pada tahun 75-an, Pesantren Tebuireng pernah mengundang Penyair dan Sastrawan WS Rendra. “Ini artinya, Tebuireng sudah mengawali dunia sastra tersebut.”?

Dunia pesantren sendiri, lanjut Binhad, sarat dengan karya sastra. Nadzom-nadzom yang banyak ditemukan dalam literatur klasik adalah salah satu bentuk sastra yang tidak lepas dari dunia santri.?

Binhad juga mengingatkan, sastra lekat dengan budaya kritik. Karena itu, keberanian meluncurkan karya harus dibarengi dengan kesadaran untuk dikritisi. Dalam kritiknya, Binhad mengingatkan untuk membiasakan dalam forum-forum kritik. Sebagaimana buku kumpulan puisi “Cerita Rantau di Balik Senja“ tersebut tidak lepas dari kritik.?

“Beberapa puisi masih lemah. Jelas terlihat karena bekal dan senjata belum lengkap. Senjata tersebut seperti kekuatan metafora, kekayaan diksi, simbol, musikalitas bahasa dan lain sebagainya,” jelasnya.

“Sebab, seorang penyair biasanya punya ide. Akan tetapi ide yang tidak didasari oleh alat dan senjata penyair, maka bisa jadi ide tersebut tidak tersampaikan dengan baik,” imbuhnya.

Haedar Nashir

Selain itu, lajutnya, sebuah karya juga perlu ditashih atau diuji dan dikaji. Proses pengkajian dan pentashihan tersebut dilakukan dalam forum-forum diskusi. Karena itu, sebuah forum diskusi sastra penting artinya untuk dihidupkan. “Sehingga sebelum dicetak, perlu dikaji atau ditashih, sehingga karya sastra menjadi semakin baik,” katanya. (Machtumah/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Kajian, Anti Hoax, AlaNu Haedar Nashir

Rabu, 15 Maret 2017

Pesantren dan Dunia Kecil Bernama Ciputat

Kajian mengenai pesantren kini tidak lagi terjebak pada dikotomi tradisional dan modern. Fenomena labelisasi agama dan ‘revolusi mental’ yang melahap hampir semua isu kebangsaan telah menggiring pesantren bertransformasi menjadi entitas sosial yang tetap layak untuk dikaji. Martin van Bruinessen, Indonesianis asal Belanda, bahkan pernah membuktikan bahwa pesantren mampu menjadi lembaga pendidikan yang adaptif terhadap laju modernisasi.

Nurcholish Madjid pernah memberikan analisis bahwa tahun 2020 merupakan saat kebangkitan kaum santri, yang seringkali disebut sebagai kalangan tradisionalis itu. Analisis tersebut didasarkan pada tumbuhnya generasi santri yang meraih pendidikan tinggi sehingga akan mengimbangi eksistensi kalangan modernis yang lebih dulu mengenyam pendidikan tinggi.

Namun kebangkitan itu tidak diperoleh serta-merta. Sejak dulu, progresivitas gerakan dan pemikiran kaum santri seringkali dianggap sebagai ancaman bagi segelintir pihak. Dalang pembantaian pada peristiwa Gerakan 30 September 1965 dan isu dukun santet pada tahun 1998 adalah tudingan-tudingan negatif yang telah didapatkan oleh kalangan pesantren sejak masa lampau.?

Pesantren dan Dunia Kecil Bernama Ciputat (Sumber Gambar : Nu Online)
Pesantren dan Dunia Kecil Bernama Ciputat (Sumber Gambar : Nu Online)

Pesantren dan Dunia Kecil Bernama Ciputat

Kondisi di masa kini juga masih belum jauh berbeda. Pesantren sebagai properti layak jual bagi kepentingan politis, pesantren sebagai penyemai paham radikalisme, hingga penggunaan narkoba di kalangan pesantren adalah isu terkini yang menjadi trending topic masyarakat kita.?

Dalam konteks pendidikan juga tidak kalah pelik. Pada masa lalu, lulusan pesantren dianggap tidak memiliki legalitas sehingga mereka tidak berhak untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang universitas. Kini, kaum santri bisa bernafas lega setelah pemerintah mengakui pesantren penyelenggara pendidikan keagamaan terutama setelah lahirnya Undang-undang No. 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional.

Jauh sebelum terbitnya undang-undang tersebut, tahun 1980an dapat disebut sebagai permulaan proses kebangkitan kaum santri. Pada masa tersebut pemerintah dan dunia global mulai melirik kaum santri sebagai bagian penting pengembangan bangsa. Lulusan pesantren mulai diberi jalan untuk menempuh pendidikan tinggi baik di dalam maupun di luar negeri.

Laku hidup kaum santri memang terlihat getir bagi para periset. Namun bagi para penulis buku ini, kehidupan ‘kaum sarungan’ adalah sebuah pembuktian bahwa pesantren tidak identik dengan keterbelakangan dan prediksi tentang masa depan yang suram.

Haedar Nashir

Dari Pesantren untuk Dunia menyajikan tujuh belas tulisan mengenai pengalaman hidup para santri yang kini menjadi dosen dan peneliti di Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta. Karya ini bukan kajian yang serius dan akademik, namun buku ini diprediksi mampu menunjukkan peran dan kontribusi kaum santri dalam perkembangan masyarakat Indonesia dan dunia.

Buku ini ditulis oleh para dosen-santri yang telah mengalami pergulatan dalam merasakan manisnya hasil perjuangan yang diperoleh dari dalam pesantren. Atas hasil jerih payahnya itu, mereka merasa memiliki hutang kepada masyarakat dan bangsa Indonesia. Mereka menyadari betul akan harapan bangsa yang disandarkan pada pundaknya.

Singkatnya, buku ini ditulis sebagai bentuk kepedulian terhadap pengembangan pendidikan masyarakat Indonesia. UIN Syarif Hidayatullah Jakarta secara rutin menghasilkan tokoh intelektual muslim berkaliber internasional mulai dari Harun Nasution, Nurcholish Madjid, Azyumardi Azra, hingga Komaruddin Hidayat. Hal ini tidak dapat dilepaskan dari peran strategis lembaga ini sebagai laboratorium yang menghasilkan generasi kaum santri sehingga menjadi intelektualis muslim yang berwawasan global.

Ciputat adalah rumah kedua bagi mereka bahkan dapat dikatakan sebagai pesantren kedua setelah mereka lulus dari pesantren yang sebenarnya. Seperti halnya pesantren yang adaptif dan progresif, Ciputat juga selalu berkemas menjawab tantangan modernisasi.?

Haedar Nashir

Para dosen-santri ini seolah ingin mengatakan pada kalangan pesantren bahwa para santri harus memiliki cita-cita yang mulia, menggapai pendidikan yang tinggi, dan tidak melupakan jatidirinya sebagai pembelajar yang sabar. Kesabaran dan cita-cita inilah yang mampu menghantarkan para penulis meraih pendidikan maksimal di tingkat doktor (S3) bahkan beberapa diantaranya menjadi profesor dan pernah menduduki jabatan strategis di negara ini.? Dari pesantren dan Ciputat yang terbelakang, kini mereka muncul sebagai tokoh-tokoh berwibawa dalam menghadapi derasnya tantangan modernisasi dunia.

Akhirnya, buku ini seolah ingin menegaskan kebenaran prediksi Nurcholish Madjid di atas. Kaum santri kini mulai diperhitungkan sebagai elemen masyarakat yang mampu memberikan pengaruh bagi sekitarnya. Kebangkitan ini akan terus berjalan dan berharap tidak kembali menjadi terpuruk.

Ringan dan santai ala novel menjadi karakter penulisan buku ini. Bagi mereka yang ingin berkenalan, belajar mencintai, dan bernostalgia dengan dunia pesantren sangat disarankan untuk membaca buku ini.?

Pesantren dulu, kini, dan nanti masih akan tetap menjadi pesantren yang sebenarnya. Selamat membaca!





Info Buku

Judul : Dari Pesantren untuk Dunia: Kisah-kisah Inspiratif Kaum Santri

Editor : Prof. Dr. Komaruddin Hidayat

Edisi : Pertama

Tahun Terbit : 2016

Penerbit : Prenada Media Group

Peresensi

Muhammad Nida’ Fadlan

Peneliti PPIM UIN Jakarta dan Alumnus Pesantren Buntet, Cirebon

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Amalan, Nahdlatul, Quote Haedar Nashir

KPID Jatim Ajak LTN NU Awasi Mutu Siaran

Surabaya, Haedar Nashir

Komisi Penyiaran Indonesia Daerah (KPID) Jawa Timur secara khusus mengajak Pengurus Wilayah Lembaga Talif wan Nasyr Nahdlatul Ulama atau PW LTNNU untuk mengawasi mutu siaran televis dan radio. Hal tersebut penting untuk meningkatkan mutu siaran dan sebagai kontrol masyarakat.

KPID Jatim Ajak LTN NU Awasi Mutu Siaran (Sumber Gambar : Nu Online)
KPID Jatim Ajak LTN NU Awasi Mutu Siaran (Sumber Gambar : Nu Online)

KPID Jatim Ajak LTN NU Awasi Mutu Siaran

"LTN punya tugas untuk turut mengawasi sejumlah siaran yang ditayangkan media radio serta televisi," kata Komisioner KPID Jatim, Mohammad Dawud, Ahad (18/1). Apalagi pada saat yang bersamaan mulai digalakkan pencegahan situs dan organiasasi yang menyecarkan teror.

Dalam pandangan Mohammad Dawud, KPID sendiri sangat terbuka atas keluhan masyarakat yang melakukan protes bila ditemukan muatan yang menyebarkan kebencian, tidak menghargai perbedaan dan ajakan tidak pantas lainnya.

"Apalagi LTN memiliki jaringan komunikasi dengan kepengurusan serupa di tingkat kota dan kabupaten di Jawa Timur. Cukup sediakan kader dan waktu untuk bisa memantau siaran di berbagai daerah,” kata Sekretaris PW ISNU Jatim ini

Haedar Nashir

M Dawud kemudian memberikan masukan bahwa cara yang bisa dilakukan bila ternyata menemukan siaran yang tidak pantas, maka cukup melayangkan surat ke KPID Jatim dengan menyertakan waktu dan tanggal serta dimana menangkap siaran yang meresahkan tersebut. "Selanjutnya kami dari KPID yang akan menindaklanjuti laporannya," ungkapnya.

Ketua PW LTN NU Jatim, Ahmad Najib AR sangat mengapresiasi ajakan tersebut. "Kami memang memiliki jaringan sampai ke kabupaten dan kota di Jatim, meskipun harus terus dijalin," katanya. Bahkan keberadaan pemantau media memang telah direkomendasikan saat rapat koordinasi dengan kepengurusan LTN se-Jatim beberapa waktu berselang.

Haedar Nashir

"Tinggal bagaimana mengintensifkan komunikasi dan memberikan informasi ini kepada kepengurusan di daerah," kata Gus Najib, sapaan akrabnya. Dengan semakin banyak pihak yang mengawasi mutu siaran, ia mengharapkan kian banyak tayangan yang mendidik masyarakat.

Salah seorang pimpinan di Pondok Pesantren Bayt al-Hikmah Pasuruan ini juga berharap agar frekwensi yang telah diberikan pemerintah dimaknai sebagai sarana mencerdaskan kehidupan bangsa. "Bukan malah menebar keburukan apalagi teror," katanya.

Pada saat yang sama, alumnus pasca sarjana UIN Sunan Ampel Surabaya ini berharap agar pemerintah tegas. "Kami mendukung dan mendesak pemerintah untuk menutup gerakan penyebar terorisme baik di televisi dan radio, termasuk di dunia maya," tandasnya. Karena, lanjutnya, dari sejumlah media inilah gerakan teror akan merayu masyarakat untuk bertindak yang destruktif.

Bagi Gus Najib, tindakan pemerintah dengan menutup website, akun facebook dan media sosial lain dapat juga dilakukan kepada radio dan televisi. "Ini untuk menuutup gerak yang mengarah kepada terorisme," pungkasnya. (Ibnu Nawawi/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Fragmen, Pemurnian Aqidah, Nahdlatul Haedar Nashir

Selasa, 14 Maret 2017

Sidang Komisi Organisasi Tetapkan PMII Jadi Banom NU, Ini Sikap PB PMII

Jombang, Haedar Nashir. Ketua Umum PB PMII, Aminuddin Ma’ruf menggelar jumpa pers setelah PMII ditetapkan menjadi Badan Otonom (Banom) NU melalui putusan di Sidang Komisi Organisasi Muktamar Ke-33 NU yang berlangsung di Pesantren Mamba’ul Ma’arif Denanyar, Jombang, Selasa (4/8).

Aminuddin menilai, bahwa putusan tersebut tetap akan dibawa ke forum tertinggi PMII, yaitu kongres. “Yang jelas, PMII akan konsisten dengan dakwah Aswaja NU,” ujarnya dihadapan puluhan wartawan berbagai media di Media Centre Muktamar NU di SMAN 1 Jombang.

Sidang Komisi Organisasi Tetapkan PMII Jadi Banom NU, Ini Sikap PB PMII (Sumber Gambar : Nu Online)
Sidang Komisi Organisasi Tetapkan PMII Jadi Banom NU, Ini Sikap PB PMII (Sumber Gambar : Nu Online)

Sidang Komisi Organisasi Tetapkan PMII Jadi Banom NU, Ini Sikap PB PMII

Ditanya apakah intinya PMII menolak keputusan Muktamar NU, Aminuddin menjawab bukan demikian artinya. “Karena sebagai sebuah organisasi, PMII memiliki mekanisme tersendiri dalam memutuskan itu, yakni melalui kongres,” jelasnya.

Haedar Nashir

Secara historis, ideologis, dan filosofis, lanjut Aminuddin, PMII berkomitmen untuk terus mengikuti NU dalam rangka dakwah Aswaja di kampus.

Haedar Nashir

Sebab itu, imbuhnya, pihaknya memohon kepada para alumni yang bertindak sebagai Muktamirin agar tetap memasukkan poin interdependensi ke dalam draft AD/ART NU.

“Dari memutuskan untuk independen di tahun 1972 dalam Perjanjian Munarjati, kita menjadi interdependen di tahun 1991 di Jakarta, artinya masih mengikuti NU meski tidak secara struktural,” paparnya.

Dalam sejarahnya, PMII memutuskan independen karena alasan politik. "Sekarang NU sudah kembali ke khittah 1926, sudah tidak masuk ke dalam ranah politik praktis sehingga PMII pun harus kembali ke pangkuan NU untuk menjadi Banom," ujar KH Nuril Huda, salah satu pendiri PMII beberapa bulan sebelum Muktamar NU digelar. (Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Kajian, Anti Hoax Haedar Nashir

Senin, 13 Maret 2017

Bupati Brebes Minta Haji Jadi Teladan Masyarakat

Brebes, Haedar Nashir. Meski mengalami keterlambatan akibat delay pesawat di Bandara King Abdul Azis Mekah, jamaah haji dari Kabupaten Brebes pulang ke kampung halamannya dengan selamat. Mereka tiba di Islamic Center Brebes terlambat lima jam dari waktu yang dijadwalkan semula.

Bupati Brebes Hj Idza Priyanti SE menyambut kedatangan haji kelompok terbang (Kloter) pertama di Islamic Center Sabtu dinihari (11/10). Idza mengaku sangat gembira karena tidak ada permasalahan yang menimpa jamaah haji Brebes. Sehingga semuanya dalam keadaan sehat walafiat. Dia berharap, para jamaah haji menjadi haji yang mabrur dan mabrurah.

Bupati Brebes Minta Haji Jadi Teladan Masyarakat (Sumber Gambar : Nu Online)
Bupati Brebes Minta Haji Jadi Teladan Masyarakat (Sumber Gambar : Nu Online)

Bupati Brebes Minta Haji Jadi Teladan Masyarakat

Selain itu, ia meminta mereka agar mampu menjadi contoh tauladan di masyarakat. “Gelar haji menjadi barometer akhlak dan tabiat di masyarakat,” katanya. Dengan tauladan yang telah dicontohkan para jamaah haji Brebes, mudah-mudahan Brebes semakin maju dan sejahtera dibawah naungan dan ridlo dari Allah SWT.

Haedar Nashir

Bupati juga menyambut kedatangan kloter 2 dan 3 di dampingi Kepala Seksi Penyelenggara Haji dan Umrah (Kasi Garahaju) Kementerian Agama (Kemenag) Kab Brebes Drs H Syauqi Wijaya. Kloter 1 sejumlah 363 jamaah tiba di Islamic Center Brebes Sabtu (11/10) pukul 00.30 dini hari dengan menggunakan 9 bus dan 1 bus cadangan.

Sementara kloter kedua yang berjumlah 366 calon haji tiba di Islamic Sabtu (11/10) pukul 08.00 dengan menggunakan 9 bus dan 1 bus cadangan. Sedangkan kloter ketiga yang berjumlah 167 tiba di Islamic Sabtu (11/10) pukul 12.30 mengendarai 4 bus.

Haedar Nashir

Terpisah, Kepala Kantor Kemenag Brebes Drs H Imam Hidayat yang melakukan penjemputan di Asrama Haji Donohudan Solo melaporkan jamaah yang berangkat sejak 30-31 Agustus lalu sudah menunaikan ritual haji dan kembali tiba di Donohudan dengan selamat. Mereka pulang ke Brebes dengan mengendarai 22 bus dan 2 bus cadangan.

Menurut Imam, secara umum kondisi jamaah haji Indonesia asal Brebes dalam keadaan baik, sehat walafiat. Namun demikian ada 2 orang suami istri dari Salem yang tertinggal tidak mengikuti jamaah asal Brebes, tetapi mengikuti kloter 16.

Sehingga, kata dia, yang sudah pulang saat ini baru 896 jamaah. Pada saat pemberangkatan, istrinya mengalami sakit maka suaminya turut mendampingi dan diberangkatkan mengikuti kloter 16, maka kepulangannya pun ikut juga kloter 16. “Yang bersangkutan memilih pulang tunda untuk menyempurnakan ibadahnya,” tandas Imam.

Salah seorang jamaah haji dari Kloter 1 H Moh Aqso MAg menjelaskan, jumlah jamaah haji dunia saat ini mengalami peningkatan yang luar biasa bila dibandingkan tahun lalu. Namun demikian jamaah haji Brebes yang berangkat lebih awal terasa diuntungkan karena telah melakukan ibadah masih dalam kondisi lengang.

“Meski padat, tapi pemberangkatan awal bagi jamaah Brebes sangat diuntungkan,” kata Aqso ketika di tanya Bupati sesampainya di Brebes. (wasdiun/abdullah alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Amalan Haedar Nashir

Kamis, 09 Maret 2017

Pesantren Al-Istiqomah Gelar Wisuda Akhirussanah

Sukoharjo, Haedar Nashir. Pondok pesantren Al-Istiqomah Sukoharjo menggelar acara wisuda khotmil Quran, sadranan dan khaflah akhirussanah selama dua hari, Selasa-Rabu (25-26/6). Hari pertama diisi dengan sema’an al-Quran, sedangkan hari kedua dilaksanakan kegiatan sadranan, pawai ta’aruf oleh siswa/siswi PAUD, TK, Madin, bhakti sosial, dan acara wisuda khatmil Quran.

Pesantren Al-Istiqomah Gelar Wisuda Akhirussanah (Sumber Gambar : Nu Online)
Pesantren Al-Istiqomah Gelar Wisuda Akhirussanah (Sumber Gambar : Nu Online)

Pesantren Al-Istiqomah Gelar Wisuda Akhirussanah

Menurut pengasuh Pesantren Al-Istiqomah, KH Ismail Thoyib, acara wisuda tahun ini sangat istimewa, karena ada mahasiswi IAIN Surakarta yang mondok di Al-Istiqomah dan dapat menyelasikan Al-Quran bilghaib 30 Juz.

"Ini merupakan kebahagiaan bagi kami, dan semoga ke depan banyak santri-santri mahasiswi IAIN yang mengikuti jejak mereka," tutur Ismail yang juga wakil Rais Syuriyah PCNU Sukoharjo. 

Haedar Nashir

Sementara itu, KH Syarif Rahmat yang mengisi tausiyah puncak acara menyatakan, nabi-nabi terdahulu berimukjizat berbentuk fisik, seperti tongkat Nabi Musa yang membelah air, Nabi Nuh dengan perahunya dan lain-lain. Sedangkan Nabi Muhammad diberi mukjizat Quran yang memiliki kekuatan dhahir maupun spiritual.

"Salah satu contoh kekuatan al-Quran adalah menjelaskan tentang ibadah sholat yang memiliki tiga dimensi. Pertama spiritual (ketenangan hati); kedua medikal (kesehatan jasmani); dan ketiga sosial (menumbuhkan sifat toleran, harmonis dan tawadhu)," jelasnya yang juga Pengasuh Pesantren tahfidz Ummul Quro Pondok Cabe Tangerang. 

Haedar Nashir

Puncak acara Haflah ini dihadiri tokoh-tokoh NU seperti KH Abdurrozaq Shofawi Pengasuh Pesantren Al-Muayyad Solo, KH Ahmad Jablawi Pengasuh Pesantren Popongan Klaten, Nyai Maemunah Pengasuh Pesantren Sirojut Tholibin Grobogan. Acara juga dimeriahkan oleh group rebana Jamuro (jama’ah Muji Rosul) pimpinan Gus Karim Solo.

Pesantren Al-Istiqomah berlokasi di Pucangan Kertasura Sukoharjo. Pesantren ini merupakan salah satu lembaga pendidikan yang ingin mencetak insan yang Qurani, mulai dari tingkat anak-anak sampai mahasiwa.

Redaktur      : Syaifullah Amin

Kontributor  : Ahmad Rosyidi

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Berita, AlaSantri Haedar Nashir