Kamis, 23 Maret 2017

Makna Penyucian Jiwa

Oleh M Sadullah

--Jiwa adalah ruh. Dengan ruh, manusia bisa mengenal kebaikan dan juga bisa menangkap hal-hal yang baik bagi dirinya. Tidak hanya sebagai fungsi jasadinya saja, tetapi juga sebagai fungsi intelektual, penalaran, dan emosional. Oleh karena adanya sebuah ruh tersebut, fungsi-fungsi di atas dapat berkembang ke arah yang lebih baik.

Makna Penyucian Jiwa (Sumber Gambar : Nu Online)
Makna Penyucian Jiwa (Sumber Gambar : Nu Online)

Makna Penyucian Jiwa

Marilah kita membayangkan sebuah besi. Besi itu fisiknya kuat. Dapat dipakai untuk konstruksi bangunan, menopang jembatan, menahan beban ratusan ton pada setiap harinya, lalu lalang kendaraan dengan muatan yang sangat berat. Ketika besi dicampur dengan baja, maka akan menjadi sedemikian tahan untuk menerima beban yang sangat berat. 

Pertanyaannya, Apakah besi suatu saat akan berkarat dan berkurang fungsinya? Jawabannya adalah iya. Pengurangan fungsi dan kekuatan terjadi karena karat tersebut. Demikian pula dengan ruh kita, suatu saat akan mengalami sifat dan hal-hal yang mengganggu fungsi dan kegunaan utama ruh itu sendiri. Ketika hal tersebut terjadi, akan berakibat pada berkurangnya fungsi dalam menangkap kebaikan. Pada saat itulah kita membutuhkan upaya untuk menyucikan jiwa kita. 

Haedar Nashir

Terkait konsep tentang penyucian jiwa, hal ini telah difirmankan oleh Allah SWT melalui, “Qad aflaha man tazakka”(sungguh bahagialah orang yang dapat menyucikan dirinya). Pada ayat selanjutnya diterangkan, “wadzakarasma rabbihi fa shalla” (kemudian mengingat Allah, asma Allah dan kemudian shalat). 

Mengingat di sini dapat bermakna mengingat Asma Allah, bisa juga bermakna lebih meningkat lagi yaitu mengingat Allah.Atau dapat pula dimaknai dengan hadirnya hati di dalam menyebut asma Allah, yaitu lisan kita menyebut dan hati kita mengingat-Nya. Lebih tinggi lagi dari hal tersebut adalah menghadirkan kebaikan-kebaikan di dalam pikiran, hati, dan perbuatan kita sesuai dengan yang dikehendaki Allah SWT. Itulah tingkatan berdzikir yang sangat tinggi. 

Haedar Nashir

Berdzikir kepada Allah bisa berarti menyebut asma Allah, misalnya melafadzkan kata ”Allah, subhanallah, alhamdulillah, Allahu Akbar dan hauqalah. Demikian bacaan dzikir bisa kita pelajari, terutama yang ma’tsurat seperti yang telah diajarkan oleh Rasullullah SAW. 

Kita menyebut asma Allah saja, sudah terbimbing pelan, selanjutnya berangsur ke pikiran dan hati kita. Apabila kita dapat memasukkan asma Allah yang baik itu dalam memori kita, berarti kita menyertakan ingatan kita pada saat menyebut nama Allah, maka kita mencapai tahap yang nomer dua. Apabila kita berusaha atau mewujudkan kebaikan yang Allah berikan kepada kita menjadi perbuatan, ucapan dan sikap kita, maka kita mencapai tahap dzikir yang nomer tiga, yaitu tahap dzikir yang sangat tinggi.

Mengapa kita perlu menyucikan jiwa? Penyucian jiwa itu menjadi penting, karena iman dan kebaikan manusia itu mengalami  pasang surut. Oleh karena manusia itu hidup dalam pergaulan antar sesamanya, perasaan manusia tidak semuanya stabil terus menerus, melainkan kadang-kadang sedih, bergembira, bersemangat, kurang semangat, maka penyucian jiwa itu penting bagi kita. 

Prof M Adnan dalam bukunya, Ta’yid Al Islam, disana dikutip bahwa hati manusia itu bisa berkarat. Kemudian orang-orang bertanya, “Apa obat bagi hati yang berkarat itu?”. Jawabnya, “Membaca Al-Qur’an dan mengingat kematian”.  Apa maksud dari hati yang berkarat itu? Artinya, kalau suatu saat hati kita merasa sulit menerima nasihat, sulit melaksanakan kebaikan,  putus harapan, lemah harapan dan lain sebagainya, saat itulah hati kita diperlukan penyucian jiwa untuk menjaga kesetabilan jiwa kita.

Apakah dalam penyucian jiwa itu harus menyertakan jasad, akal dan kalbu? Jawabnya, “betul”. Dalam penyucian jiwa, Allah SWT memberikan modal kepada kita yang berupa akal pikiran dan panca indera. Tidak hanya itu saja, ternyata Allah SWT memberikan kepada kita semua berupa ruh. Karena dengan ruh tersebut yang paling peka dalam menangkap kebaikan, yang dibantu dengan akal dan panca indera. 

Menurut keterangan Sayid Naqib Al Athas yang dikutip dari Imam Ghazali, ada sesuatu yang disebut dengan jiwa. Didalam jiwa ternyata ada akal. Dimana akal tersebut tidak sendirian dalam membentuk jiwa kita. Ia berkaitan dengan kalbu dan nafs. Akal adalah satu jenis kecakapan yang ada dalam diri kita yang membuat kita sadar dan memiliki kecerdasan. 

Dengan kecerdasan tersebut maka kita dapat mempunyai penalaran. Dengan penalaran maka kita bisa menyusun abstraksi, dan pengetahuan yang makin lama terhimpun semakin banyak. Itulah kemampuan akal manusia. 

Dalam jiwa juga ada kalbu (qalbu). Ketika kita melihat sesuatu sebagai bimbingan dari Tuhan, cahaya dari Tuhan, misalnya ini baik, ini menyelamatkan, maka pada saat itulah sisi kalbu yang bekerja. Contohnya, kalau kawan kita terbaring di rumah sakit maka kita akan merasa bersyukur kepada Allah SWT dengan nikmat kesehatan yang kita miliki. 

Selain itu, ada nafs. Nafs ini sesuatu yang berurusan dengan badan. Contohnya adalah, kalau kita membutuhkan makan dan minum, maka kita merasakan haus dan lapar. 

Maka dari itu, disebut menyucikan jiwa apabila kita mengasah akal kita agar menjadi lebih cerdas, mengasah kalbu kita agar lebih peka dengan kebaikan, dan mengasah nafs kita agar peka terhadap gejala-gejala badaniyah yang kesemuanya kita arahkan dalam kebaikan. 

Mudah mudahan dengan tazkiyatun nafs atau penyucian jiwa ini kita semua mendapat berkahnya bulan Ramadhan, ibadah kita diterima oleh Allah, Amal kebaikan kita dilipat gandakan dan kualitas puasa kita lebih baik dari pada hari-hari sebelumnya. Wallahu A’lam.

M Sa’dullah, (Staf Pengajar di Pondok Pesantren Ath-Thohiriyyah, Purwokerto Banyumas dan Sekretaris LBM PCNU Banyumas).

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Hadits, Internasional Haedar Nashir

Kirab Hari Santri Dimulai dari Surabaya Menuju Jakarta

Surabaya, Haedar Nashir. H Abdul Halim Iskandar sebagai Ketua Panitia Daerah Kirab Hari Santri Nasional menandaskan siap mengawal kesuksesan kegiatan ini. Hal tersebut sebagai upaya untuk melanjutkan cita-cita para ulama dalam menjaga Ahlussunnnah wal Jamaah dan Nahdlatul Ulama dan Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Kirab Hari Santri Dimulai dari Surabaya Menuju Jakarta (Sumber Gambar : Nu Online)
Kirab Hari Santri Dimulai dari Surabaya Menuju Jakarta (Sumber Gambar : Nu Online)

Kirab Hari Santri Dimulai dari Surabaya Menuju Jakarta

Penegasan ini disampaikan Gus Halim, sapaan akrabnya saat memberikan sambutan atas nama panitia. "Hari santri sebagai langkah untuk meneguhkan panji-panji kebangsaan dan kebangsaan," katanya di area Tugu Pahlawan Surabaya, Ahad (18/10) pagi.

Ketua DPRD Jawa Timur ini juga mengingatkan kepada sejumlah pihak yang mempersoalkan keberadaan Hari Santri Nasional. "Santri itu tidak pernah berbuat ulah, tapi jangan diusik," katanya. Kalau kemudian ada yang melakukan itu, maka ia bersama elemen santri yang lain tidak segan-segan melakukan perlawanan, lanjutnya.

Haedar Nashir

"Kami sebagai santri hanya menunggu komando dari kiai," tandas Gus Halim. Kalau kemudian kiai memberikan aba-aba untuk menyerang mereka yang mempersoalkan Hari Santri Nasional, maka dengan segala kepatuhan akan melaksanakan perintah tersebut, lanjutnya.

Gus Halim juga mengemukakan sejumlah acara pendukung untuk semakin mengenalkan Hari Santri Nasional. "Tadi pagi ada fun run yang diikuti sepuluh ribu peserta," katanya. Besok (19/10) ada seminar nasional yang mengungkap resolusi jihad, serta 22 Oktober mendatang diselenggarakan teatrikal Resolusi Jihad.

Haedar Nashir

Dengan berpidato penuh semangat dan mengenakan pakaian ala Bung Tomo, Gus Halim tidak lupa mengucapkan terimakasih atas upaya berbagai kalangan sehingga 22 Oktober ditetapkan sebagai Hari Santri Nasional. (Ibnu Nawawi/Mukafi Niam)

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Lomba Haedar Nashir

Selasa, 21 Maret 2017

GP Ansor Pragaan Adakan Safari Khatmil Qur’an

Sumenep, Haedar Nashir?

Pimpinan Anak Cabang (PAC) Gerakan Pemuda ? (GP) Ansor Kecamatan Pragaan menggelar safari ramadhan yang diisi dengan khatmil Qur’an secara bergantian di setiap ranting kecamatan Pragaan. Safari pertama kali dimulai di ranting Kaduarah Timur, Rabu (31/5) yang dimulai pukul 14.00 WIB.

GP Ansor Pragaan Adakan Safari Khatmil Qur’an (Sumber Gambar : Nu Online)
GP Ansor Pragaan Adakan Safari Khatmil Qur’an (Sumber Gambar : Nu Online)

GP Ansor Pragaan Adakan Safari Khatmil Qur’an

Safari tersebut merupakan agenda permanen tiap bulan Ramadhan. Pengurus baik Ranting dan PAC wajib hadir untuk mengikutinya.

Ketua PAC GP Ansor Pragaan Moh. Qudsi mengatakan, Safari Ramadhan diinstruksikan pengurus Pimpinan Cabang GP Ansor Sumenep.

Haedar Nashir

"Saya yakin PAC dan pengurus ranting GP Ansor yang barada di Kecamatan lainnya juga kompak dalam mengikuti Safari Ramadhan. Dikarenakan agenda ini murupakan instruksi langsung dari pengurus PC Sumenep," tambahnya Qudsi.

Ketua Ranting GP Ansor Kaduarah Timur Masduqi, yang ditunjuk sebagai tuan rumah Khatmil Qur’an mengaku senang dengan kegiatan tersebut.?

Haedar Nashir

"Kehadiran teman-teman semua merupakan kebanggaan bagi saya selaku tuan rumah," terangnya pungkasnya. (Zainal Arifin/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Nahdlatul Ulama Haedar Nashir

Senin, 20 Maret 2017

Al-Quran, Tafsir Bung Karno dan Pancasila

Bulan Juni adalah bulannya Bung Karno. Sang Proklamator lahir di tanggal 6 Juni dan wafat 21 Juni. 1 Juni juga menjadi Hari Lahir Pancasila, yang ditandai dengan pidato bersejarah Bung Karno di depan Badan Penyelidik Usaha-Usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI) yang isinya menjadi cikal-bakal Pancasila.

Di samping itu, bulan Juni 2017 ini bertepatan dengan bulan Ramadhan, di mana merupakan bulan suci Islam yang pada tanggal 17 Ramadhan menjadi hari diturunkannya Al-Quran (Nuzulul Qur’an). Dalam kalender hijriyah, di bulan Ramadhan ini pula Kemerdekaan RI tercapai, yakni tepatnya 9 Ramadhan 1364 H.

Momentum istimewa bagi Indonesia dan Islam ini dimanfaatkan tokoh muda nahdliyin yang sekaligus Wakil Bupati Trenggalek, Muchamad Nur Arifin untuk me-launching buku baru sekaligus buku perdananya yang berjudul “Bung Karno “Menerjemahkan” Al-Quran” diterbitkan oleh Penerbit Mizan. Arifin merupakan Pengurus Lesbumi PBNU dan Ketua Bidang Kominfo Ansor Jawa Timur.

Al-Quran, Tafsir Bung Karno dan Pancasila (Sumber Gambar : Nu Online)
Al-Quran, Tafsir Bung Karno dan Pancasila (Sumber Gambar : Nu Online)

Al-Quran, Tafsir Bung Karno dan Pancasila

Dalam bukunya ini, Arifin mengupas tuntas pemikiran Bung Karno tentang nilai-nilai dasar ideologi keindonesiaan. Namun berbeda dengan buku tentang Bung Karno yang lainnya, buku ini menggunakan perspektif tafsir Al Quran. Secara khusus buku ini memotret pemikiran Bung Karno tentang kebangsaan dan keislaman dalam bingkai ayat-ayat Al Quran. Ini kekhasan yang jarang kita temukan dalam buku-buku tentang pemikiran Bung Karno yang lainnya.

Buku ini dengan tegas menampilkan sosok Bung Karno yang nasionalis sekaligus religius. Pada diri dan pemikiran Bung Karno terkonvergensi keindonesiaan sekaligus keislaman. Bagi Bung Karno, bertuhan itu sekaligus berindonesia, dan berindonesia itu sekaligus berislam. Jadi, tak ada pengkotak-kotakan atas semua itu. Semuanya bersinergi membentuk sebuah filosofi, visi, dan nilai-nilai bersama. Semua nilai itu tercakup dalam Pancasila.

Haedar Nashir

?

Oleh karena itu, menurut Prof. Mahfud M.D, buku ini penting untuk menjelaskan kepada publik tentang keislaman gagasan-gagasan Bung Karno. “Sebab masih banyak yang salah paham seakan-akan Bung Karno adalah tokoh yang sangat sekular yang tak peduli pada agama. Padahal, pandangan dan langkah-langkahnya sangat agamis,” tuturnya.

Buku ini hadir pada saat yang tepat: saat keislaman dan keindonesiaan dipertentangkan, Pancasila versus Khilafah. Di tengah maraknya kalangan hingga ormas muslim radikal yang mempertentangkan Pancasila dan Islam sembari menawarkan gagasan khilafah atau syariat Islam bagi negeri ini.?

Buku ini menyuntikkan kembali kesadaran tentang betapa berharganya nilai-nilai kebangsaan dan keislaman kita. Bahwa semua itu sudah tuntas dirumuskan oleh para founding fathers kita. Tak ada lagi dikotomi antara Indonesia dan Islam. Keduanya lebur, sinergis, sekaligus beyond, seperti yang bisa kita lihat pada figur Bung Karno.

Haedar Nashir

?

Oleh karena itu, komentar Ketua Umum PBNU, KH. Said Aqil Siroj, “buku ini lahir pada waktu yang tepat untuk menjelaskan kepada rakyat Indonesia bahwa asas-asas bangsa ini, terutama Pancasila selaras dan koheren dengan pesan-pesan Al-Quran dan nilai-nilai Islam.”

Dalam satu subbab khusus, buku ini juga mengupas tentang titik temu Bung Karno dan Nahdlatul Ulama (NU): ijtihad kebangsaan Bung Karno bertemu dengan ijtihad keislaman NU di “terminal” bernama Pancasila. Sesuatu yang disebut oleh penulis buku ini sebagai sinergi yang apik: tokoh besar nasionalis bertemu dengan ormas besar religius dalam sebuah gagasan yang menyatukan kedua latar belakangnya tersebut, yakni nasionalisme-religius. Perpaduan yang memberikan kontribusi tak ternilai bagi Indonesia.

Identitas buku:

Judul : Bung Karno “Menerjemahkan” Al-Quran

Penulis : Muchamad Nur Arifin

Penerbit : Mizan

Terbit : Juni, 2017

Peresensi: Husen Jafar, peneliti dan esais, mengeloka komunitas @SejarahRI.

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Halaqoh, Pertandingan Haedar Nashir

Sabtu, 18 Maret 2017

Peduli Lingkungan, Pelajar NU Bersih-bersih Pantai

Purworejo, Haedar Nashir. Puluhan anggota Corp Brigade Pembangunan (CBP) Pengurus Cabang Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (PC IPNU) Kabupaten Purworejo membersihkan sampah-sampah di obyek wisata alam pantai Jatimalang Purwodadi, Purworejo, Jawa Tengah, pada Selasa (22/10).

Peduli Lingkungan, Pelajar NU Bersih-bersih Pantai (Sumber Gambar : Nu Online)
Peduli Lingkungan, Pelajar NU Bersih-bersih Pantai (Sumber Gambar : Nu Online)

Peduli Lingkungan, Pelajar NU Bersih-bersih Pantai

Ketua PC IPNU Kabupaten Purworejo, Sofyan Rizali Zain mengatakan, CPB ini merupakan badan semi otonom dibawah organisasi IPNU yang fokus terhadap permasalahan-permasalahan kemanusiaan, kepedulian lingkungan dan kegiatan-kegiatan sosial.

“Kami sifatnya hanya mewadahi para pelajar yang memiliki minat pada bidang lingkungan. Kegiatan-kegiatan seperti ini, tentu menjadi alternatif bagi mereka untuk beraktifitas secara positif,” terangnya.

Haedar Nashir

Lebih lanjut ia mengatakan, terkait dengan kegiatan kemanusiaan pihaknya mengaku juga turut berpartisipasi terhadap penanggulangan gunung Merapi di Magelang serta longsor di Bruno beberapa waktu yang lalu.

“Hal tersebut tentu menjadi program organisasi untuk turut serta membantu masyarakat yang mengalami kesusahan. Pada saat terjadi letusan Merapi kita melakukan aksi galang dana di Purworejo kemudian menyalurkannya ke Magelang melalui PC IPNU Magelang,”imbuhnya.

Haedar Nashir

Menurutnya, kegiatan-kegiatan seperti ini cukup efektif untuk menanamkan kepakaan sosial terhadap para anggota CBP yang rata-rata merupakan pelajar ini.

Selain itu, kata dia, guna meningkatkan kemampuan serta ketrampilan saat terjun di lapangan, pihaknya juga membekali anggota CPB dengan melakukan pelatihan-pelatihan terkait penanganan bencana, pertolongan pertama serta ketrampilan lainnya.

“Sejak masuk para anggota ini kita diklat selama tiga hari dan kita bekali dengan berbagai materi yang mereka butuhkansaat menjalankan tugas-tugas di lapangan. Kami juga terus mengajak para pelajar agar mau bergabung dengan kegiatan-kegiatan kami,”tandasnya.

Sementara itu, Koordinator Lapangan bakti lingkungan bersih bersih Pantai Jatimalang, Anis Makhrus mengatakan bahwa kegiatan ini merupakan bagian dari rangkaian kegiatan peringatan Sumpah Pemuda 28 Oktober mendatang.

“Ada dua agenda yang akan kita lakukan pada peringatan Sumpah Pemuda tahun ini, yakni bersih-bersih Pantai Jatimalang serta bersih-bersih jalur pendakian Gunung Merbabu 27 hingga 28 Oktober besok,” ujarnya.

Anis menambahkan, alasan dipilihnya pantai Jatimalang ini sebagai lokasi bakti lingkungan karena pantai ini merupakan salah satu obyek wisata alam andalan di Kabupaten Purworejo.

Namun, dia berpendapat, kepedulian pengunjung untuk menjaga kebersihan pantai masih cukup minim. Selain itu, menurutnya pihak pemerintah juga terlihat kurang serius mengelola obyek wisata ini.

“Ini merupakan wujud keprihatinan kami terhadap kondisi pantai yang kotor ini. Kita juga tidak sepenuhnya menyalahkan pengunjung karena pihak pengelola juga tidak menyediakan tempat pembuangan sampah,” katanya.

Anis berharap, melalui kegiatan ini menjadi bisa memberikan contoh kepada pengunjung yang lain untuk peduli terhadap permasalahan kebersihan lingkungan. “Pada kegiatan ini kami juga mengkampanyekan budaya bersih lingkungan kepada pengunjung yang lain,” pungkasnya. (Lukman Hakim/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Ubudiyah, Budaya Haedar Nashir

Jumat, 17 Maret 2017

Universitas Hasyim Asy’ari Jombang Hidupkan Kembali Kajian Sastra

Jombang, Haedar Nashir. Semangat menghidupkan kembali diskusi sastra di Universitas Hasyim Asy’ari (Unhasy) Jombang, Jawa Timur terasa saat Peluncuran sekaligus Bedah Kumpulan Puisi “Cerita Rantau di Balik Senja“ karya 13 mahasiswa Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia (PBSI) Unhasy semester IV, Senin (23/5).

Terlebih lagi, dukungan dan respon positif disampaikan oleh Wakil Rektor II Unhasy H Muhsin Ks, yang hadir pada acara tersebut. “Ini adalah sebuah karya yang perlu diapresiasi,” ungkapnya.

Universitas Hasyim Asy’ari Jombang Hidupkan Kembali Kajian Sastra (Sumber Gambar : Nu Online)
Universitas Hasyim Asy’ari Jombang Hidupkan Kembali Kajian Sastra (Sumber Gambar : Nu Online)

Universitas Hasyim Asy’ari Jombang Hidupkan Kembali Kajian Sastra

Wakil Rektor Unhasy asal Demak tersebut juga berpesan untuk menghidupkan gemar membaca. Karena membaca menjadi kekuatan dalam membentuk pola pikir yang baik, termasuk mendalami sastra.

Di lingkungan Unhasy yang berbasis pendidikan pesantren, menurut Muhsin, terdiri dari 3 prinsip. Yaitu, agama, ilmu dan budaya. “Agama itu memberikan kita ketentraman dan ketenangan. Ilmu itu memberikan kemudahan, membuat hidup kita jadi enak. Sedangkan budaya membuat hidup menjadi indah. Karena itu usaha untuk menghidupkan ketiga hal tersebut harus dilakukan,” ungkapnya.?

Haedar Nashir

Budayawan Binhad Nurrohmat yang hadir sebagai pembicara mengingatkan, bahwa diskusi sastra bukan hal baru di Tebuireng. Tercatat, pada tahun 75-an, Pesantren Tebuireng pernah mengundang Penyair dan Sastrawan WS Rendra. “Ini artinya, Tebuireng sudah mengawali dunia sastra tersebut.”?

Dunia pesantren sendiri, lanjut Binhad, sarat dengan karya sastra. Nadzom-nadzom yang banyak ditemukan dalam literatur klasik adalah salah satu bentuk sastra yang tidak lepas dari dunia santri.?

Binhad juga mengingatkan, sastra lekat dengan budaya kritik. Karena itu, keberanian meluncurkan karya harus dibarengi dengan kesadaran untuk dikritisi. Dalam kritiknya, Binhad mengingatkan untuk membiasakan dalam forum-forum kritik. Sebagaimana buku kumpulan puisi “Cerita Rantau di Balik Senja“ tersebut tidak lepas dari kritik.?

“Beberapa puisi masih lemah. Jelas terlihat karena bekal dan senjata belum lengkap. Senjata tersebut seperti kekuatan metafora, kekayaan diksi, simbol, musikalitas bahasa dan lain sebagainya,” jelasnya.

“Sebab, seorang penyair biasanya punya ide. Akan tetapi ide yang tidak didasari oleh alat dan senjata penyair, maka bisa jadi ide tersebut tidak tersampaikan dengan baik,” imbuhnya.

Haedar Nashir

Selain itu, lajutnya, sebuah karya juga perlu ditashih atau diuji dan dikaji. Proses pengkajian dan pentashihan tersebut dilakukan dalam forum-forum diskusi. Karena itu, sebuah forum diskusi sastra penting artinya untuk dihidupkan. “Sehingga sebelum dicetak, perlu dikaji atau ditashih, sehingga karya sastra menjadi semakin baik,” katanya. (Machtumah/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Kajian, Anti Hoax, AlaNu Haedar Nashir

Rabu, 15 Maret 2017

Pesantren dan Dunia Kecil Bernama Ciputat

Kajian mengenai pesantren kini tidak lagi terjebak pada dikotomi tradisional dan modern. Fenomena labelisasi agama dan ‘revolusi mental’ yang melahap hampir semua isu kebangsaan telah menggiring pesantren bertransformasi menjadi entitas sosial yang tetap layak untuk dikaji. Martin van Bruinessen, Indonesianis asal Belanda, bahkan pernah membuktikan bahwa pesantren mampu menjadi lembaga pendidikan yang adaptif terhadap laju modernisasi.

Nurcholish Madjid pernah memberikan analisis bahwa tahun 2020 merupakan saat kebangkitan kaum santri, yang seringkali disebut sebagai kalangan tradisionalis itu. Analisis tersebut didasarkan pada tumbuhnya generasi santri yang meraih pendidikan tinggi sehingga akan mengimbangi eksistensi kalangan modernis yang lebih dulu mengenyam pendidikan tinggi.

Namun kebangkitan itu tidak diperoleh serta-merta. Sejak dulu, progresivitas gerakan dan pemikiran kaum santri seringkali dianggap sebagai ancaman bagi segelintir pihak. Dalang pembantaian pada peristiwa Gerakan 30 September 1965 dan isu dukun santet pada tahun 1998 adalah tudingan-tudingan negatif yang telah didapatkan oleh kalangan pesantren sejak masa lampau.?

Pesantren dan Dunia Kecil Bernama Ciputat (Sumber Gambar : Nu Online)
Pesantren dan Dunia Kecil Bernama Ciputat (Sumber Gambar : Nu Online)

Pesantren dan Dunia Kecil Bernama Ciputat

Kondisi di masa kini juga masih belum jauh berbeda. Pesantren sebagai properti layak jual bagi kepentingan politis, pesantren sebagai penyemai paham radikalisme, hingga penggunaan narkoba di kalangan pesantren adalah isu terkini yang menjadi trending topic masyarakat kita.?

Dalam konteks pendidikan juga tidak kalah pelik. Pada masa lalu, lulusan pesantren dianggap tidak memiliki legalitas sehingga mereka tidak berhak untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang universitas. Kini, kaum santri bisa bernafas lega setelah pemerintah mengakui pesantren penyelenggara pendidikan keagamaan terutama setelah lahirnya Undang-undang No. 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional.

Jauh sebelum terbitnya undang-undang tersebut, tahun 1980an dapat disebut sebagai permulaan proses kebangkitan kaum santri. Pada masa tersebut pemerintah dan dunia global mulai melirik kaum santri sebagai bagian penting pengembangan bangsa. Lulusan pesantren mulai diberi jalan untuk menempuh pendidikan tinggi baik di dalam maupun di luar negeri.

Laku hidup kaum santri memang terlihat getir bagi para periset. Namun bagi para penulis buku ini, kehidupan ‘kaum sarungan’ adalah sebuah pembuktian bahwa pesantren tidak identik dengan keterbelakangan dan prediksi tentang masa depan yang suram.

Haedar Nashir

Dari Pesantren untuk Dunia menyajikan tujuh belas tulisan mengenai pengalaman hidup para santri yang kini menjadi dosen dan peneliti di Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta. Karya ini bukan kajian yang serius dan akademik, namun buku ini diprediksi mampu menunjukkan peran dan kontribusi kaum santri dalam perkembangan masyarakat Indonesia dan dunia.

Buku ini ditulis oleh para dosen-santri yang telah mengalami pergulatan dalam merasakan manisnya hasil perjuangan yang diperoleh dari dalam pesantren. Atas hasil jerih payahnya itu, mereka merasa memiliki hutang kepada masyarakat dan bangsa Indonesia. Mereka menyadari betul akan harapan bangsa yang disandarkan pada pundaknya.

Singkatnya, buku ini ditulis sebagai bentuk kepedulian terhadap pengembangan pendidikan masyarakat Indonesia. UIN Syarif Hidayatullah Jakarta secara rutin menghasilkan tokoh intelektual muslim berkaliber internasional mulai dari Harun Nasution, Nurcholish Madjid, Azyumardi Azra, hingga Komaruddin Hidayat. Hal ini tidak dapat dilepaskan dari peran strategis lembaga ini sebagai laboratorium yang menghasilkan generasi kaum santri sehingga menjadi intelektualis muslim yang berwawasan global.

Ciputat adalah rumah kedua bagi mereka bahkan dapat dikatakan sebagai pesantren kedua setelah mereka lulus dari pesantren yang sebenarnya. Seperti halnya pesantren yang adaptif dan progresif, Ciputat juga selalu berkemas menjawab tantangan modernisasi.?

Haedar Nashir

Para dosen-santri ini seolah ingin mengatakan pada kalangan pesantren bahwa para santri harus memiliki cita-cita yang mulia, menggapai pendidikan yang tinggi, dan tidak melupakan jatidirinya sebagai pembelajar yang sabar. Kesabaran dan cita-cita inilah yang mampu menghantarkan para penulis meraih pendidikan maksimal di tingkat doktor (S3) bahkan beberapa diantaranya menjadi profesor dan pernah menduduki jabatan strategis di negara ini.? Dari pesantren dan Ciputat yang terbelakang, kini mereka muncul sebagai tokoh-tokoh berwibawa dalam menghadapi derasnya tantangan modernisasi dunia.

Akhirnya, buku ini seolah ingin menegaskan kebenaran prediksi Nurcholish Madjid di atas. Kaum santri kini mulai diperhitungkan sebagai elemen masyarakat yang mampu memberikan pengaruh bagi sekitarnya. Kebangkitan ini akan terus berjalan dan berharap tidak kembali menjadi terpuruk.

Ringan dan santai ala novel menjadi karakter penulisan buku ini. Bagi mereka yang ingin berkenalan, belajar mencintai, dan bernostalgia dengan dunia pesantren sangat disarankan untuk membaca buku ini.?

Pesantren dulu, kini, dan nanti masih akan tetap menjadi pesantren yang sebenarnya. Selamat membaca!





Info Buku

Judul : Dari Pesantren untuk Dunia: Kisah-kisah Inspiratif Kaum Santri

Editor : Prof. Dr. Komaruddin Hidayat

Edisi : Pertama

Tahun Terbit : 2016

Penerbit : Prenada Media Group

Peresensi

Muhammad Nida’ Fadlan

Peneliti PPIM UIN Jakarta dan Alumnus Pesantren Buntet, Cirebon

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Amalan, Nahdlatul, Quote Haedar Nashir