Sabtu, 29 April 2017

Gus Dur Islamkan Tradisi Ziarah Kelompok Abangan

Jakarta, Haedar Nashir. Selalu terdapat strategi unik dalam berdakwah, tetapi seringkali orang tidak paham apa yang sebenarnya dilakukan, bahkan ditentang habis-habisan karena dianggap menyalahi pakem yang sudah berlaku umum. Gus Dur seringkali mengalami hal ini.

Salah satu amalan Gus Dur adalah berziarah ke makam-makan pendahulu yang dianggap berjasa dalam menyebarkan Islam di Indonesia. Tapi ada kalanya mantan ketua umum PBNU ini memiliki maksud lain dalam berziarah.

Gus Dur Islamkan Tradisi Ziarah Kelompok Abangan (Sumber Gambar : Nu Online)
Gus Dur Islamkan Tradisi Ziarah Kelompok Abangan (Sumber Gambar : Nu Online)

Gus Dur Islamkan Tradisi Ziarah Kelompok Abangan

Di Kroya Jawa Tengah, terdapat sebuah makam yang dikenal sebagai jujukan ziarah kelompok abangan. Tentu saja, di sana mereka bukan membaca tahlil atau yasin, tetapi tradisi tersendiri di luar nilai-nilai keislaman.

Haedar Nashir

Ketika terdapat kesempatan, Gus Dur menziarahi makam tersebut. Kontan saja, para kiai di Kroya protes, mengapa berziarah ke tempat itu yang sudah terkenal menjadi “sarangnya” kelompok abangan dalam menjalankan ritual.?

Haedar Nashir

“Apa Gus Dur tidak tahu ini. Mengapa harus menziarahi makam itu, yang sudah jelas-jelas tokoh abangan” kata sejumlah kiai kepada Gus Dur sebagaimana disampaikan ke sekjen PBNU H Marsudi Syuhud.

Bukan Gus Dur namanya kalau berpikir konvensional. Ia pun menjelaskan “Saya ke sana kan dalam rangka tahlilan, bukan yang lain“

Pelan tapi pasti, setelah diziarahi Gus Dur, makam tersebut semakin ramai, tetapi ada yang berbeda, mereka yang berziarah merubah ritual-ritualnya dengan tahlil dan amalan Islam lain sampai akhirnya tradisi non Islamnya berganti tanpa ada pemaksaan atau klaim bid’ah, sesat dan sejenisnya yang ujung-ujungnya malah menimbulkan perlawanan. ?

Gus Dur juga menziarahi makam Kiai Mahfud, tokoh Angkatan Umat Islam (AUI) dari pesantren Semolangu Kebuman yang tertembak di Gunung Srandil yang ikut membela perjuangan melawan penjajah Belanda, tetapi dituduh memberontak.

“Beliau ingin meluruskan bahwa banyak jasa yang telah ditorehkan Kiai Mahfud dalam membela tahan air,“ ujar Marsudi.

Penulis: Mukafi Niam

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Nasional Haedar Nashir

Kamis, 27 April 2017

Gedung Aswaja Kota Pekalongan Diresmikan Penggunaannya

Pekalongan, Haedar Nashir. Bangunan megah dua lantai di atas lahan seluas 6.728 meter persegi Jalan Sriwijaya 2 Pekalongan, Ahad kemarin (7/11) diresmikan penggunaannya oleh Ketua Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Jawa Tengah Drs H Mohammad Adnan, MA.

Gedung yang diberi nama Gedung Aswaja merupakan bangunan tahap pertama dari dua tahap yang direncanakan. Dimana pada tahap pertama ini yang sudah selesai dibangun ruang pengelola, ruang rapat mini dan sedang. Kemudian sarana pendukung berupa kantor unit usaha simpan pinjam syariah BMT SM NU dan kafe santri serta fasilitas area parkir.

Gedung Aswaja Kota Pekalongan Diresmikan Penggunaannya (Sumber Gambar : Nu Online)
Gedung Aswaja Kota Pekalongan Diresmikan Penggunaannya (Sumber Gambar : Nu Online)

Gedung Aswaja Kota Pekalongan Diresmikan Penggunaannya

Pembangunan tahap kedua berupa gedung pertemuan berkapasitas 2000 kursi yang terletak di belakang bangunan induk saat ini masih dalap tahap proses pengerjaan pondasi.

Haedar Nashir

Ketua PWNU Jateng sangat berharap gedung aswaja tidak sekedar untuk tempat rapat maupun pertemuan berskala besar, akan tetapi lebih dari itu gedung aswaja harus menjadi pusat penanaman nilai nilai aswaja, khususnya kepada generasi muda yang saat ini menjadi sasaran empuk kelompok teroris.

Haedar Nashir

"Gedung Aswaja harus bisa menjadi benteng terhadap maraknya kelompok aliran keras yang didengungkan oleh para teroris," ujarnya.

Dikatakan, PCNU dan warga Nahdliyyin Kota Pekalongan patut berbangga atas usaha keras pengurus dalam merealisasikan bangunan Gedung Aswaja yang cukup megah ini. Pasalnya, PWNU Jateng saja hanya memiliki bangunan di atas lahan seluas 3000 meter persegi, sedangkan kantor PCNU Kota Pekalongan dua kali lipatnya.

Tentu, yang terpenting adalah bagaimana memikirkan biaya operasionalnya dan mengisi kegiatan gedung aswaja untuk kepentingan dan kemaslahatan ummat, ujar Adnan.

Gedung Ahlussunnah wal Jamaah (Aswaja) yang dimiliki Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Kota Pekalongan harus bisa menjadi sarana pelatihan dan pendidikan akhlak yang saat ini sedang krisis di kalangan generasi muda.

Jika ini bisa dilakukan, maka Kota Pekalongan akan dijadikan barometer dalam pembangunan akhlaq yang berbasis ajaran aswaja, dan PCNU PCNU yang lain harus bisa mencontohnya.

Lebih lanjut dikatakan, ideologi yang dibawa para teroris yang beraliran keras, sangat tidak tepat diterapkan di bumi Indonesia yang cinta damai. Maka sikap toleran, kebersamaan dan keadilan yang menjadi ciri khas ajaran aswaja harus bisa diaplikasikan dalam kehidupan bermasyarakat.

Menurut Adnan, nama Gedung Aswaja membawa konsekuensi dalam bentuk kegiatan yang kongkrit dalam pembinaan ummat. Karena sikap sikap yang dikembangkan Nahdlatul Ulama secara prinsip beriringan dengan kebijakan pemerintah dalam menata masyarakat agar lebih baik dalam kehidupan sehari hari.

Acara peresmian yang ditandai dengan pengguntingan pita dihadiri oleh utusan Pengurus Ranting NU dan Pengurus Majelis Wakil Cabang (MWC) NU se Kota Pekalongan. Kemudian Pengurus cabang, Badan Otonom, lembaga dan lajnah tingkat cabang serta tamu undangan seperti Damndim 0710, Wakapolres Pekalongan Kota serta puluhan tamu undangan lainnya.

Momentum peresmian gedung aswaja sekaligus dimanfaatkan PCNU untuk menggelar musyawarah Kerja Cabang (Muskercab) ke - 2 NU Kota Pekalongan tahun 2010. Beberapa agenda yang terkait dengan pengembangan gedung aswaja menjadi bahasan pokok dalam muskercab tersebut. Pasalnya, pembangunan gedung yang menghabiskan dana hingga milyaran rupiah belum termasuk rencana pembangunan gedung pertemuan.

Di samping itu, konsolidasi organisasi juga menjadi materi bahasan terkait adanya beberap ranting yang sampai saat ini belum melakukan reformasi pengurus, meski SK nya telah kedaluwarsa. Ditargetkan akhir 2010 ini masalah konsolidasi dapat tuntas dan rencana pelatihan manajemen pengurus yang dijadwalkan pada awal 2011 nanti bisa segera digelar.

Sementara itu, Ketua DPRD Kota Pekalongan H. Mohammad Bowo Leksono, SH., MM dalam  sambutannya mengatakan, warga nahdlliyin Kota Pekalongan harus jeli menangkap peluang terhadap program program pemerintah yang digulirkan, sehingga peran pembangunan masyarakat tidak saja menjadi kewajiban pemerintah saja, akan tetapi ada peran peran dari masyarakat yang harus dijalankan, sehingga bisa seiring dan sejalan

Bowo mengatakan, DPRD bersama Pemerintah Kota Pekalongan siap membantu berbagai kesulitan yang dialami Nahdlatul Ulama, termasuk terhadap persoalan penyelesaian pembangunan gedung pertemuan yang saat ini baru berupa pondasi.

Meski tidak sebesar tahun lalu, paling tidak bantuan ini dapat meringankan beban panitia pembangunan yang harus merogoh kocek tidak kurang dari 1,9 milyar untuk menyelesaikan pembangunan gedung pertemuan. (iz)

Hadir dalam acara pembukaan selain Ketua PWNU Jawa Tengah, juga Ketua DPRD Kota Pekalongan HM. Bowo Leksono, Anggota DPRD Kota Pekalongan mantan anggota dewan, sesepuh NU dan mantan aktifis NU, Rais dan Ketua PCNU Batang, Kabupaten Pekalongan dan Pemalang serta utusan dari lembaga, lajnah, banom NU Cabang dan utusan dari  WC Ranting NU se Kota Pekalongan. (iz)Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Syariah Haedar Nashir

Masdar: Masjid-masjid NU Harus Dipertahankan

Jakarta, Haedar Nashir. Lepasnya masjid-masjid yang dulu dikelola oleh warga NU harus menjadi keprihatinan bersama agar hal tersebut tidak terus berlangsung. NU secara organisatoris dengan seluruh perangkatnya harus berusaha mempertahankan masjid yang ada agar tak lagi lepas ke tangan pihak lain.

Demikian dikatakan Ketua PBNU Masdar F. Mas’udi dalam pertemuan di Gd. PBNU bersama dengan sejumlah badan otonom NU dalam upaya mengembalikan peran NU diberbagai masjid yang belakangan ini mulai surut. “Kalau perlu masjid-masjid milik warga NU diberi papan nama untuk memperjelas identitasnya,” tandasnya.

Direktur P3M tersebut mengelompokkan masjid dalam dua kategori. Pertama, masjid komunitas yang dimiliki oleh kelompok-kelompok keagamaan seperti NU, Persis, Muhammadiyah dan lainnya. Kedua adalah masjid yang dibangun oleh pemerintah atau masyarakat.

Masdar: Masjid-masjid NU Harus Dipertahankan (Sumber Gambar : Nu Online)
Masdar: Masjid-masjid NU Harus Dipertahankan (Sumber Gambar : Nu Online)

Masdar: Masjid-masjid NU Harus Dipertahankan

“Pemasangan nama di masjid yang memang benar-benar milik warga NU bisa meningkatkan rasa memiliki dan menjaga sekaligus pemenuhan kebutuhan akan rumah kultural keagamaan,” tuturnya.

Selanjutnya ia juga memperkirakan bahwa masjid-masjid yang saat ini masih berstatus sebagai masjid publik di masa yang akan datang juga akan dipaksa untuk memperjelas identitasnya. Hal yang sama telah berlaku di gereja yang semuanya memiliki kaitan dengan kelompok tertentu.

Haedar Nashir

Dalam hal ini pemerintah juga berkepentingan terhadap identitas masjid berkaitan dengan pembinaan yang akan dilakukan karena masjid merupakan tempat tumbuhnya berbagai gagasan, mulai dari gagasan yang baik sampai gagasan yang buruk.

Masdar berpendapat bahwa upaya untuk menghilangkan labelisasi masjid sebagai bagian dari NU muncul pada tahun 1970-an. Akibat tekanan politik Orba, mereka yang mengidentifikasikan diri sebagai orang NU ditindas. Sampai saat ini trauma tersebut masih dirasakan oleh sebagian orang dan ditakutkan suatu saat akan muncul kembali.

Haedar Nashir

Upaya untuk mempertahankan masjid tersebut harus dilakukan secara integral dan komprehensif? dengan melibatkan seluruh komponen NU. “Saat masjid tersebut sudah diperjelas status NU-nya, Lembaga Wakaf harus membantu melakukan sertifikasi tanah. sementara badan-badan otonom NU harus memiliki basis di situ,” tegasnya.

Hal ini dilakukan berdasarkan pengalaman yang ada dimana ada kelompok lain yang berusaha merebut masjid tersebut dengan mengganti para takmirnya, ajarannya bahkan sampai sertifikasi tanahnya sehingga identitas NU hilang dari masjid tersebut. “Mereka menggunakan dalil bahwa masjid adalah rumah Allah yang bisa dimasuki oleh siapa saja, padahal tujuannya untuk menyebarkan ajarannya sendiri,” tegasnya.

Selanjutnya dimasa mendatang, pesantren-pesantren juga harus diperjelas identitasnya sebagai pesantren NU. Ini berkaitan dengan tumbuhnya pesantren-pesantren baru yang tidak menerapkan ajaran aswaja.

Terdapat beberapa indikator bahwa masjid tersebut sebagai masjid NU. Biasanya adanya bedug atau logo NU di dinding atau dalam lembaran waktu sholat. Sesudah kumandang adzan dan sebelum sholat ada puji-pujian kepada allah SWT, sholawat untuk kanjeng Rasulullah SAW atau nasehat kebaikan untuk sesama.

Biasanya sesudah sholat, dibacakan wirid atau doa bersama dipimpin oleh imam, dihangatkan dengan salam-salaman dan bacaan salawat. Secara berkala mereka menyelenggarakan doa bersama dengan ratiban, manaqiban, istighotsah atau salawatan dalam barzanji atau diba’iy serta tahlilan dan doa.

Paling tidak masjid tersebut tidak membid’ahkan bacaan usholli ketika takbiratul ihram, basmalah sebelum baca fatihah dan surat, qunut dalam salat subuh, adzan 2 kali sebelum khutbah jum’at tarawih 20 rakaat, tahlilan, mauludan, Isra’ Mi’raj, Nuzulul Qur’an dan lainnya.(mkf)

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Pertandingan, Budaya Haedar Nashir

Jumat, 21 April 2017

Jangan Salah, Banser Itu Pesantren

Jakarta, Haedar Nashir.

Kepala Satuan Koordinasi Barisan Ansor Serbaguna (Kasatkornas Banser) H Alfa Isnaeni, di Jakarta, Selasa (28/11) menegaskan, Banser merupakan pesantren sehingga tidak layak bagi kader berpikiran sempit tentang organisasi itu.

Jangan Salah, Banser Itu Pesantren (Sumber Gambar : Nu Online)
Jangan Salah, Banser Itu Pesantren (Sumber Gambar : Nu Online)

Jangan Salah, Banser Itu Pesantren

"Kalau kiai mengantar ilmu pada santri, mengelola pesantren. Maka yakinkan juga bahwa Banser adalah pesantren kedisplinan diri, pesantren bela negara, pesantren penjaga Pancasila, pesantren untuk mendulang dan menebar amaliah Nahdlatul Ulama dalam kerangka Aswaja," kata dia.

Ia menambahkan, Banser ialah kader inti Gerakan Pemuda Ansor. Tentu dalam harakah atau gerakan menjadi berbeda dengan kader yang tidak inti.

Haedar Nashir

"Sungguh sangat beruntung bagi Banser disebut sebagai sebagai kader inti. Jadi sesuaikan perilaku di lapangan. Kalau remeh-temeh, tingkat pengabdian rendah, apa pantas disebut kader inti?" kata dia lagi di Markas Komando Satkornas Banser.

Kader inti jika dikirim komandannya, baik pimpinan Ansor atau komandan Banser atas persetujuan Ansor untuk menjadi instruktur, menurut dia, tidak boleh menolak.

"Seperti ? itu konsekuensi menjadi kader penggerak, tidak boleh diam, harus jadi penggerak, disiplin dan bertanggungjawab. Banser ialah pengembang program-program sosial Ansor. Apa yang Ansor perintahkan, laksanakan. Apa yang Ansor putuskan, ? Banser harus melaksanakan dan mengawal, bukan sebaliknya," kata dia mengingatkan.

Haedar Nashir

Kasatkornas Banser itu menambahkan, menjadi Banser harus berusaha memantaskan, mematutkan diri dengan apa yang dilakukan kiai-kiai Nahdlatul Ulama.

"Baru setelah kita memantapkan niatan itu, terus dan teruslah beribadah kepada Allah," demikian Alfa Isnaeni. (Gatot Arifianto/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Meme Islam, News, Berita Haedar Nashir

LDNU dan LPID Adakan Halal bi Halal

Jakarta, Haedar Nashir. Dua lembaga yang bergerak dalam bidang dakwah, Lembaga Dakwah Nahdlatul Ulama (LDNU) dan Lembaga Pusat Informasi Dakwah (LPID) yang semuanya dikelola oleh warga NU menyelenggarakan halal bi halal di Gd. PBNU, Kamis malam (15/11).

Acara halal bi halal yang diselenggarakan mulai pukul 19.00 WIB ini dipenuhi oleh para pengurus dan jamaah yang menjadi binaan kedua organisasi ini. Hadir dalam acara tersebut Ketua LDNU KH Nuril Huda dan Ketua LPID KH Syukron Makmur. Sementara PBNU diwakili oleh KH Tolhah Hasan.

LDNU dan LPID Adakan Halal bi Halal (Sumber Gambar : Nu Online)
LDNU dan LPID Adakan Halal bi Halal (Sumber Gambar : Nu Online)

LDNU dan LPID Adakan Halal bi Halal

Sebelum memimpin LPID, KH Syukron Makmun sendiri merupakan mantan ketua LDNU selama tiga periode pada era Gus Dur sehingga pertemuan ini layaknya seperti kangen-kangenan dengan pengurus lama. Para pengurus LPID lainnya juga merupakan para kiai dan ulama dari kalangan nahdliyyin.

Ketua Panitia H Baden Badruzzaman menjelaskan bahwa upaya untuk mempererat silaturrahmi melalui halal bi halal ini salah satunya juga untuk mengantisipasi maraknya aliran sesat yang kini kerap kali muncul dan meresahkan masyarakat.

Sementara itu, H. Ahmad Jauhari yang mewakili LDNU mengungkapkan bahwa tantangan dakwah dimasa depan menjadi semakin berat. Jika saat ini umat Islam dengan gampang bisa sholat, tahlil dan sholawat dengan gampang, apakah hal yang sama bisa terjadi pada 50 tahun ke depan. Dibeberapa daerah yang umat Islamnya minoritas, seperti di Bali, NTT dan Manado, mereka kesulitan untuk menjalankan ibadah.

“Karena itu, rahmat Allah berupa penduduk beragama Islam yang mayoritas ini harus disyukuri dengan saling bekerjasama, mendukung dan mendorong pengembangan dakwah,” katanya.

Haedar Nashir

Sementara itu KH Syukron Makmun yang merupakan dai kawakan ini menjelaskan berbagai persoalan yang dihadapi umat Islam seperti liberalisasi, sekulerisasi sampai dengan penanaman cara berfikir Barat pada umat Islam.

Haedar Nashir

Liberalisasi yang dilakukan dalam rangka memperlemah iman umat Islam ini disebarkan dengan kedok modernisasi, padahal tujuannya adalah untuk membunuh umat Islam. Menurutnya, kini sudah banyak umat Islam yang mengaku memiliki pemikiran baru, padahal sebenarnya mereka hanya mentransfer dari Barat.

“Kini seorang ustadz tidak boleh menegur perempuan yang membuka auratnya karena ini melanggar HAM,” katanya.

Untuk melawan ini, kini LPID telah menyiapkan penerbitan sejumlah buku seperti Apakah Bid’ah Itu, Pluralisme Menuju Pemurtadan, Sekularisme Membunuh Syariat Islam, Liberalisme dan Yahudi, dan lainnya.

Acara ini diakhiri dengan musafahah atau ramah tamah diantara hadirin. Undangan juga disuguhi musik gambus ala padang pasir untuk menghibur mereka dengan lagu-lagu Islami. (mkf)



Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Nusantara, Olahraga, Internasional Haedar Nashir

Sambut Muktamirin, Ansor Siapkan 4 Posko di Perbatasan Jombang

Jombang, Haedar Nashir. Untuk menyambut sekaligus memandu para peserta Muktamar ke-33 NU di Jombang, Jawa Timur, pada Agustus mendatang, Pimpinan Cabang Gerakan Pemuda Ansor Jombang akan membuka posko di empat titik perbatasan kota.

"Keempat lokasi tersebut adalah di seluruh perbatasan terluar Kabupaten Jombang," tandas Ketua PC GP Ansor Jombang,? Zulfikar Dawam Ikhwanto kepada Haedar Nashir, Kamis (16/4). Lokasi-lokasi itu antara lain Kecamatan Perak yang mempertemukan Jombang dengan Kabupaten Nganjuk, Ploso sebagai kawasan perbatasan dengan Kabupaten Lamongan, Mojoagung sebagai kecamatan terluar dengan Kabupaten Mojokerto, serta Bareng untuk perbatasan dengan Kabupaten Kediri atau Blitar.

Sambut Muktamirin, Ansor Siapkan 4 Posko di Perbatasan Jombang (Sumber Gambar : Nu Online)
Sambut Muktamirin, Ansor Siapkan 4 Posko di Perbatasan Jombang (Sumber Gambar : Nu Online)

Sambut Muktamirin, Ansor Siapkan 4 Posko di Perbatasan Jombang

Keberadaan posko tersebut dirasa penting sebagai bentuk penyambutan kepada muktamirin. "Kalau peserta yang diangkut armada dengan pengawalan petugas, mungkin tidak perlu pemandu menuju lokasi," katanya.

Haedar Nashir

Namun seperti kebanyakan kegiatan muktamar, maka peserta yang datang bisa lebih banyak dari peserta resmi yang akan mengikuti sejumlah sidang. Bahkan dalam perkiraan Saifulah Yusuf, panntia daerah wilayah Jawa Timur, ada sekitar 50 ribu penggembira yang dikenal dengan muhibbin akan memadati Jombang.

Haedar Nashir

"Keberadaan posko tidak semata sebagai syiar dan penghormatan kepada muktamirin, juga sebagai rest area atau tempat peristirahatan setelah menempuh perjalanan darat yang demikian jauh," kata PNS bagian Kesejahteraan Rakyat (Kesra) Pemkab Jombang ini. Di setiap posko juga akan disediakan sejumlah fasilitas, termasuk tukang pijat dan warung, lanjutnya.

Gus Atok, sapaan akrabnya juga menyampaikan bahwa keberadaan posko bisa dimanfaatkan untuk menambah penghasilan. "Karena itu di posko bisa dibuka warung yang menyediakan makanan, minum serta kebutuhan bagi para musafir," terangnya. Para istri pengurus Ansor di sekitar posko bisa menjual kopi dan berbagai kebutuhan perjalanan dengan tambahan fasilitas pijat gratis, lanjutnya.

Ia membayangkan bahwa keberadaan posko tersebut akan sangat membantu bagi para peserta yang belum begitu mengenal dengan baik lokasi sidang dan sejumlah kegiatan selama muktamar berlangsung. "Apalagi lokasi sidang dan penginapan peserta ada di 4 pesantren," ungkapnya. Belum lagi tambahan alun-alun untuk siudang pleno, pemukaan dan penutupan, dan gedung olah raga untuk registrasi peserta dan panggung hiburan.

Di sejumlah titik strategis, Ansor juga akan menurunkan ratusan relawan. Dari mulai menjaga fasilitas umum, sudut yang rawan tindak kriminalitas, juga petunjuk bagi para warga dan peserta yang ingin mendapatkan informasi seputar Jombang dan muktamar. "Karena para relawan Ansor adalah warga asli Jombang, diharapkan bisa memberikan informasi lebih rinci sesuai yang dibutuhkan," pungkasnya. (Syaifullah/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Pesantren Haedar Nashir

Bolehkan Wanita Haid Mengajar Al-Qur’an?

Assalamualaikum. Nama saya Khanza dari Manado Sulut. Saya ingin menanyakan tentang bagaimana hukumnya seorang wanita yang sedang haid lalu belajar dan mengajarkan Al-Quran? bolehkah atau tidak? Karena sejauh ini pendapatnya berbeda, ada yang membolehkan juga ada yang tidak. Terkadang juga menjadi bahan perdebatan. Untuk itu saya mohon penjelasannya. Syukron.

Jawaban

Bolehkan Wanita Haid Mengajar Al-Qur’an? (Sumber Gambar : Nu Online)
Bolehkan Wanita Haid Mengajar Al-Qur’an? (Sumber Gambar : Nu Online)

Bolehkan Wanita Haid Mengajar Al-Qur’an?

Penanya yang budiman, semoga selalu dirahmati Allah SWT. Bahwa dalam masalah membaca Al-Qur’an bagi orang yang sedang haid memang terdapat perbedaan di antara para ulama. Pada dasarnya menurut jumhurul ulama orang yang sedang haid tidak diperbolehkan membaca Al-Qur`an. Hal ini didasarkan kepada beberapa dalil. Di antaranya adalah firman Allah SWT:  

? ? ? ? - ?: 79

Haedar Nashir

“Tidak ada yang menyentuhnya (al-Qur`an) kecuali hamba-hamba yang disucikan” (Q.S. Al-Waqi’ah [56]: 79)

Haedar Nashir

? ? ? ? ? ? ?: ? ? ? ? ? ? ?: " ? ? ? ? ? ? ? ? - ? ?

“Dari Ibnu Umar ra ia berkata: Rasulullah saw bersbada: Tidak boleh orang yang haid dan orang yang dalam keadaan junub membaca ayat Al-Qur`an” (H.R. Ad-Daruquthni)

Namun jika perempuan yang haid ketika membaca al-Quran tujuannya bukan membaca, tetapi misalnya tujuannya adalah untuk mengajar atau membenarkan bacaan yang salah maka dalam kasus seperti ini diperbolehkan. Hal ini sebagaimana orang yang dalam keadaan junub yang masih diperbolehkan membaca Al-Quran selama tidak diniati untuk membaca (misalnya untuk tujuan berdoa, yang ada ayat Al-Qur’annya).

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?  - ? ? ? ? ? ?-? ? ?. 52

“Dan haram membaca al-Qur`an bagi semisal orang junub dengan tujuan membacanya walaupun dibarengi dengan tujuan lainnya, dan menurut pendapat yang kuat tidak haram baginya bila memutlakkan tujuannya. Dan juga tidak haram tanpa adanya tujuan membacanya (al-Qur`an) seperti membenarkan bacaan yang keliru, mengajarkannya, mencari keberkahan dan berdoa,”. (Abdurrahman Ba’alwi, Bughyah al-Mustarsyidin, Bairut-Dar al-Fikr, h. 52)

Bahkan madzhab maliki memperbolehkan perempuan yang haid membaca Al-Quran secara mutlak. Bahkan bagi perempuan yang mengajar atau diajar (guru-murid) yang dalam kondisi haid boleh juga menyentuh mushaf. Alasannya adalah bahwa orang junub itu bisa dengan mudah menghilangkan hal yang bisa membuatnya dilarang untuk menyentuh al-Quran yaitu hadats besar dengan cara mandi besar. Kondisi tersebut berbeda dengan orang yang sedang haid atau nifas. Hal ini didasarkan pada keterangan dibawah ini:    

 

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?. ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? - ? ? ? ? ? ? ? ? ?- ? ? ? 18? ?. 322 - 

“Kalangan dari madzhab maliki berpendapat bahwa orang yang haid boleh baginya membaca Al-Qur`an dalam kondisi masih mengeluarkan darah secara mutlak, baik dalam keadaan atau tidak, atau adanya kekhawatiran lupa hafalan Al-Qur’an-nya atau tidak. Adapun setelah haidnya terputus maka ia tidak boleh membacanya sebelum mandi besar, baik dalam keadaan junub atau tidak, kecuali ia khawatir akan lupa hafalannya”. (Wazarah al-Awqaf wa asy-Syu`un al-Islamiyyah Kuwait, al-Mausu’ah al-Fiqhiyyah al-Kuwaitiyyah, Kuwait-Dar as-Salasil, juz, 18, h. 322 H)    

? ? ? ? ? ? ? : ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?. ? ? ? ? ? ? ? ?. ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? - ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?   ? ? ? ? ? ? ? ?-? ? ? 1? ?. 150-. “(Kecuali bagi orang yang mengajar atau orang yang belajar meskipun dalam kondisi haid atau junub), artinya haram bagi mukallaf menyentuh mushhaf dan membawanya kecuali dalam kondisi sebagai pengajar atau orang yang belajar maka boleh bagi keduanya menyentuh sebagian  atau papan tulis yang bertuliskan ayat-ayat Al-Quran (lauh) dan seluruh mushhaf meskipun keduanya dalam keadan haid ata nifas kerena ketidakmampuan keduanya untuk menghilangkan penghalang. Hal ini berbeda dengan orang junub karena kemampuannya untuk menghilangkan penghalang dengan mandi atau tayammum” (Abi al-Barakat Ahmad bin Muhamad bin Ahmad ad-Dardidi, Asy-Syarh ash-Shaghir ‘ala Aqrab al-Masalik ila Madzhab al-Imam Malik, Bairut-Dar al-Ma’arif, juz, 1, h. 150).

Demikian penjelasan yang dapat kami sampaikan. Jadi yang bisa kami simpulkan, banyak ulama yang memperbolehkan para ustadzah atau guru mengaji (TPA/TPQ) tetap mengajar meskipun sedang dalam keadaan haid. Demikian juga para murid perempuan yang sedang belajar mengaji.

Semoga kita dimudahkan dalam belajar agama, serta dikaruniai ilmu yang bermanfaat dan amal ibadah kita diterima oleh Allah SWT. (Mahbub Ma’afi Ramdlan)

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Olahraga, Ahlussunnah, Internasional Haedar Nashir