Minggu, 30 April 2017

Terlalu Berorientasi Fikih, Kesenian Berjarak dengan Pesantren

Pati, Haedar Nashir. Akibat terlalu berorientasi pada ilmu fikih dengan pencekatan yang cenderung hitam putih, kesenian saat ini mengalami jarak dalam kehidupan para santri di berbagi pesantren, padahal pada masa lalu seni dan sastra sangat dekat dengan pesantren.



Terlalu Berorientasi Fikih, Kesenian Berjarak dengan Pesantren (Sumber Gambar : Nu Online)
Terlalu Berorientasi Fikih, Kesenian Berjarak dengan Pesantren (Sumber Gambar : Nu Online)

Terlalu Berorientasi Fikih, Kesenian Berjarak dengan Pesantren

“Pesantren dengan metode pengajaran menggunakan syiir, nadhoman, puji-pujian merupakan ekspresi seni, tapi sekarang telah mengalami penurunan,” tutur Zawawi Imron, dalam dialog Sastra dan Pesantren di Pati, Sabtu (14/7).

Dikatakannya, pada masa-masa pesantren dekat dengan ajaran tasawuf, berbagai bentuk kesenian dengan mudah dapat diakomodasi dan diterima. Melebihi aturan halal haram dalam fikih, tasawuf membuat ibadah menjadi lebih dalam dan bemakna dan diekpresikan dalam berbagai bentuk yang indah.

Haedar Nashir

“Ditunjuknya bilal sebagai muazdin pada zaman Rasulullah menunjukkan unsur keindahan juga sangat dekat dengan ajaran Islam,” tuturnya.

Haedar Nashir

Namun demikian, berkaitan dengan karya sastra, belakangan ini pesantren mengalami perkembangan yang luar biasa. Saat ini penerbit LKiS dan sejumlah penerbit lain yang memiliki orientasi yang sama telah memiliki divisi khusus yang menerbitkan karya para santri sehingga dalam satu tahun, bias diterbitkan puluhan karya sastra.

Untuk mengembangkan kesenian di berbagai daerah atau pesantren, Zawawi yang dikenal sebagai penyair Clurit Emas ini mengusulkan dibentuknya Dewan Kesenian yang mengadakan pertemuan rutin untuk membahas berbagai karya dari anggotanya yang bisa ditampilkan setiap pertemuan.

Saat ini ia juga merupakan salah satu pengajar di Ponpes Al Amin Prenduan dengan sanggar seninya yang memungkinkan para santri untuk mengekpresikan berbagai karya seni yang mereka hasilkan. (mkf)

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Sejarah, Khutbah, Olahraga Haedar Nashir

Bagi Pesantren ini, Hafalan Mengasah Kecerdasan

Pesantren Raudlatul Ulum yang berdiri megah di Desa Guyangan, Kecamatan Trangkil, Kabupaten Pati, Provinsi Jawa Tengah didirikan oleh Almaghfurlah KH Suyuthi Abdul Qodir pada awal 1950-an. Sejak awal berdirinya, pesantren ini terus-menerus mengalami perkembangan dinamis.

Dari hanya belasan santri yang mondok hingga membengkak menjadi 5426 santri pada Am Dirasiy 2014/2015. Dari hanya memiliki sarana prasarana pendidikan yang amat sederhana hingga prasarana pendidikan dan kesehatan yang cukup representatif. Rumah Sakit As-Suyuthiyyah menjadi bukti pesantren ini sangat peduli kesehatan santri dan warga sekitar.

Setelah Sang Pendiri wafat pada Selasa 4 Dzulqa’dah 1979, putra-putra kebanggaan Mbah Suyuthi pun “turun gunung” untuk mengawal Pesantren Guyangan. Sayangnya, KH Salim Suyuthi (putra kedua, wafat 2001) dan KH M Humam Suyuthi (putra kelima, wafat 2010) tidak berumur panjang.

Kiai Salim dan Kiai Humam dipanggil ke haribaan-Nya dalam usia relatif muda. Akhirnya, tersisalah KH Faruq Suyuthi yang setia mendampingi adik bungsunya, KH M Najib Suyuthi, memegang tongkat estafet kepemimpinan Pesantren Guyangan hari kini.

Bagi Pesantren ini, Hafalan Mengasah Kecerdasan (Sumber Gambar : Nu Online)
Bagi Pesantren ini, Hafalan Mengasah Kecerdasan (Sumber Gambar : Nu Online)

Bagi Pesantren ini, Hafalan Mengasah Kecerdasan

Menurut Kiai Najib, santri Guyangan tidak hanya diajarkan intelektual. Namun juga ? menekankan pentingnya akhlakul karimah. “Santri Raudlatul Ulum harus lolos ujian munaqasyah, harus hafal juz amma, harus mencapai nilai standar. Berapa kali sepanjang belum memenuhinya, maka dia akan mengulang,” tegasnya.

Dalam melaksanakan proses belajar mengajar, Pesantren Guyangan mengacu pada materi-materi pelajaran berbasis kitab kuning. Selain itu, juga dilengkapi dengan kurikulum Kemenag dan Kemendikbud. Wal hasil, seluruh mata pelajaran untuk setiap jenjang bisa mencapai angka 30-an. Untuk sekolah lain tidak lebih 20 mata pelajaran.

Hafalan, syarat kenaikan kelas

Haedar Nashir

Setiap santri Guyangan harus siap dengan aneka syarat kenaikan kelas. Syarat mutlak kenaikan kelas di semua jenjang pendidikan antara lain: untuk tingkat Ibtidaiyah, Diniyah, dan Tsanawiyah harus hafal Nahwu (al-Nahwu al-Wadlih) dan Shorof (al-Amtsilat al-Tashrifiyah), untuk tingkat Tsanawaiyah harus hafal Nahwu 1000 bait (Alfiyah Ibnu Malik), untuk tingkat Aliyah harus hafal matan al-Qawaid al-Fiqhiyah 525 bait.

Tradisi menghafal ini, bagi Kiai Najib, sangat mendukung dalam memahami kitab kuning. Pemberlakuan syarat hafalan ini telah dilakukan sejak Raudlatul Ulum didirikan. Tujuannya, memberi bekal santri mengasah kecerdasan. Untuk madrasah atau pesantren di Pati, tinggal Guyangan dan Mathaliul Falah Kajen asuhan KH MA Sahal Mahfudh yang masih mempertahankan hafalan sebagai kenaikan kelas secara turun-temurun.

Haedar Nashir

Kecuali Persyaratan di atas, khusus para santri kelas XII MA dinyatakan tamat dari Pesantren Raudlatul Ulum apabila lulus Ujian Munaqasyah. “Ujian khusus kelas XII (3 Aliyah-red) ini meliputi Baca Kitab Kuning, Hafalan Al-Qur’an 1 Juz, Conversation Bahasa Inggris, Muhadatsah Bahasa Arab, dan membuat Karya Tulis Ilmiah,” papar Kiai Najib.

Selain itu, para santri juga diharuskan meraih nilai standar 75. Tentang Kelakuan, Kerajinan/Kedisiplinan, Kerapian dan Kebersihan, setiap santri? juga harus meraih minimal nilai B dalam aspek ini.

Karena sudah teruji sejak awal, santri Guyangan pun tampil percaya diri ketika lulus. Menurut Ahmad Minan Abdillah, salah seorang pengajar di Guyangan, alumni Guyangan tercatat melanjutkan pengembaraan intelektualnya di 31 kampus baik negeri maupun swasta di dalam negeri. “Selebihnya di 11 kampus mancanegara. Mayoritas di Al-Azhar Kairo Mesir,” ujar salah satu cucu Mbah Suyuthi ini.

Gus Minan menambahkan, tak heran jika Pesantren Raudlatul Ulum memiliki hubungan baik dengan Al-Azhar. Sehingga dosen pengajar bahasa Arab berkebangsaan Mesir pun diperbantukan di Guyangan oleh pihak Al-Azhar.

Dari tahun ke tahun, Pesantren Raudlatul Ulum selalu meraih prestasi gemilang baik di bidang Intelektual, Olah Raga dan Seni mulai tingkat Kabupaten, Provinsi hingga Nasional. Prestasi tingkat nasional antara lain masuk sepuluh besar Debat Bahasa Inggris, Musabaqoh Fahmi Kutubit Turats (MFKT) di Jambi. Juara I, Juara III, Juara Harapan II dan III pada Lomba Penulisan Proposal Wirasantri Mandiri Tingkat Nasional di Solo.

“Santri Guyangan juga menjuarai Musabaqoh Qiro’atul Kutub (MQK) Tingkat Nasional di Banjarmasin (Tingkat Ula Bidang Akhlaq, Lughoh, dan Tafsir) serta Juara Lomba Mengarang Berbahasa Inggris Tingkat Nasional, dan Juara II bidang Nahwu dan Tarikh pada Musabaqoh Fahmi Kutubit Turats Tingkat Nasional di NTB,” ujar Gus Minan.

Man jadda wajada

Sedari awal, Santri Guyangan telah akrab dengan kitab kuning. Untuk tingkat tsanawiyah, misalnya, mereka belajar Alfiyah Ibn Malik (Nahwu/Shorof), Tuhfat al-Thullab (Fiqh), Tafsir al-Jalalain (Tafsir), Bulugh al-Maram (Hadis), Dasuqi ala Ummi al-Barahin dan al-Husun al-Hamidiyyah (Tauhid), Ta’lim al-Muta’allim (Akhlaq), Lathaif al-Isyarat (Ushul Fiqh).

“Lalu, Jauhar al-Maknun (Balaghah), Matn al-Rahabiyah (Ilmu Faraid), Durus al-Falakiyah (Ilmu Falak), Minhat al-Mughits (Musthalah Hadis), Mukhtashar Syafi (Ilmu Arudl). Nah, untuk Arudl ini hanya santri putri yang mempelajarinya,” ujar Kiai Najib.

Sedangkan untuk jenjang Aliyah, lanjut Kiai Najib, Fath al-Wahhab (Fiqh), Tafsir al-Jalalain (Tafsir), Tajrid al-Sharih (Hadis), Maraqi al-Ubudiyyah (Akhlaq), Tarikh al-Tasyri’ al-Islamiy (Sejarah Islam), Ghayat al-Wushul (Ushul Fiqh), Uqud Al-Juman (Balaghah), Fath al-Rauf al-Mannan (Ilmu Falak).

“Kemudian, al-Asybah Wa an-Nadhair (Qawaid al-Fiqhiyyah), Minhat al-Mughits (Musthalah Hadis), Ilmu Tafsir al-Suyuthi (Ilmu Tafsir), dan Idhahu al-Mubham (Mantiq). Nah, kalau Mantiq ini hanya dipelajari santri putra,” papar bapak dua anak ini.

Muatan lokal yang masih utuh dan asli ini, tambahkan Kiai Najib, lalu dijumlah dengan kurikulum lainnya sehingga total 32 mata pelajaran. “Ini tentu sangat berat. Meski demikian, Insya Allah ini tidak memberatkan dan menjadi beban sepanjang para santri memiliki komitmen dan kesungguhan. Saya sering katakan pada anak-anak, man jadda wajad (siapa sungguh-sungguh, akan sukses),” pungkasnya. (Musthofa Asrori/Anam)

Foto: Salah satu gedung pendidikan pesantren Roudlotul Ulum yang berdiri megah di Desa Guyangan





Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Hadits Haedar Nashir

Sabtu, 29 April 2017

Gus Dur Islamkan Tradisi Ziarah Kelompok Abangan

Jakarta, Haedar Nashir. Selalu terdapat strategi unik dalam berdakwah, tetapi seringkali orang tidak paham apa yang sebenarnya dilakukan, bahkan ditentang habis-habisan karena dianggap menyalahi pakem yang sudah berlaku umum. Gus Dur seringkali mengalami hal ini.

Salah satu amalan Gus Dur adalah berziarah ke makam-makan pendahulu yang dianggap berjasa dalam menyebarkan Islam di Indonesia. Tapi ada kalanya mantan ketua umum PBNU ini memiliki maksud lain dalam berziarah.

Gus Dur Islamkan Tradisi Ziarah Kelompok Abangan (Sumber Gambar : Nu Online)
Gus Dur Islamkan Tradisi Ziarah Kelompok Abangan (Sumber Gambar : Nu Online)

Gus Dur Islamkan Tradisi Ziarah Kelompok Abangan

Di Kroya Jawa Tengah, terdapat sebuah makam yang dikenal sebagai jujukan ziarah kelompok abangan. Tentu saja, di sana mereka bukan membaca tahlil atau yasin, tetapi tradisi tersendiri di luar nilai-nilai keislaman.

Haedar Nashir

Ketika terdapat kesempatan, Gus Dur menziarahi makam tersebut. Kontan saja, para kiai di Kroya protes, mengapa berziarah ke tempat itu yang sudah terkenal menjadi “sarangnya” kelompok abangan dalam menjalankan ritual.?

Haedar Nashir

“Apa Gus Dur tidak tahu ini. Mengapa harus menziarahi makam itu, yang sudah jelas-jelas tokoh abangan” kata sejumlah kiai kepada Gus Dur sebagaimana disampaikan ke sekjen PBNU H Marsudi Syuhud.

Bukan Gus Dur namanya kalau berpikir konvensional. Ia pun menjelaskan “Saya ke sana kan dalam rangka tahlilan, bukan yang lain“

Pelan tapi pasti, setelah diziarahi Gus Dur, makam tersebut semakin ramai, tetapi ada yang berbeda, mereka yang berziarah merubah ritual-ritualnya dengan tahlil dan amalan Islam lain sampai akhirnya tradisi non Islamnya berganti tanpa ada pemaksaan atau klaim bid’ah, sesat dan sejenisnya yang ujung-ujungnya malah menimbulkan perlawanan. ?

Gus Dur juga menziarahi makam Kiai Mahfud, tokoh Angkatan Umat Islam (AUI) dari pesantren Semolangu Kebuman yang tertembak di Gunung Srandil yang ikut membela perjuangan melawan penjajah Belanda, tetapi dituduh memberontak.

“Beliau ingin meluruskan bahwa banyak jasa yang telah ditorehkan Kiai Mahfud dalam membela tahan air,“ ujar Marsudi.

Penulis: Mukafi Niam

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Nasional Haedar Nashir

Kamis, 27 April 2017

Gedung Aswaja Kota Pekalongan Diresmikan Penggunaannya

Pekalongan, Haedar Nashir. Bangunan megah dua lantai di atas lahan seluas 6.728 meter persegi Jalan Sriwijaya 2 Pekalongan, Ahad kemarin (7/11) diresmikan penggunaannya oleh Ketua Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Jawa Tengah Drs H Mohammad Adnan, MA.

Gedung yang diberi nama Gedung Aswaja merupakan bangunan tahap pertama dari dua tahap yang direncanakan. Dimana pada tahap pertama ini yang sudah selesai dibangun ruang pengelola, ruang rapat mini dan sedang. Kemudian sarana pendukung berupa kantor unit usaha simpan pinjam syariah BMT SM NU dan kafe santri serta fasilitas area parkir.

Gedung Aswaja Kota Pekalongan Diresmikan Penggunaannya (Sumber Gambar : Nu Online)
Gedung Aswaja Kota Pekalongan Diresmikan Penggunaannya (Sumber Gambar : Nu Online)

Gedung Aswaja Kota Pekalongan Diresmikan Penggunaannya

Pembangunan tahap kedua berupa gedung pertemuan berkapasitas 2000 kursi yang terletak di belakang bangunan induk saat ini masih dalap tahap proses pengerjaan pondasi.

Haedar Nashir

Ketua PWNU Jateng sangat berharap gedung aswaja tidak sekedar untuk tempat rapat maupun pertemuan berskala besar, akan tetapi lebih dari itu gedung aswaja harus menjadi pusat penanaman nilai nilai aswaja, khususnya kepada generasi muda yang saat ini menjadi sasaran empuk kelompok teroris.

Haedar Nashir

"Gedung Aswaja harus bisa menjadi benteng terhadap maraknya kelompok aliran keras yang didengungkan oleh para teroris," ujarnya.

Dikatakan, PCNU dan warga Nahdliyyin Kota Pekalongan patut berbangga atas usaha keras pengurus dalam merealisasikan bangunan Gedung Aswaja yang cukup megah ini. Pasalnya, PWNU Jateng saja hanya memiliki bangunan di atas lahan seluas 3000 meter persegi, sedangkan kantor PCNU Kota Pekalongan dua kali lipatnya.

Tentu, yang terpenting adalah bagaimana memikirkan biaya operasionalnya dan mengisi kegiatan gedung aswaja untuk kepentingan dan kemaslahatan ummat, ujar Adnan.

Gedung Ahlussunnah wal Jamaah (Aswaja) yang dimiliki Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Kota Pekalongan harus bisa menjadi sarana pelatihan dan pendidikan akhlak yang saat ini sedang krisis di kalangan generasi muda.

Jika ini bisa dilakukan, maka Kota Pekalongan akan dijadikan barometer dalam pembangunan akhlaq yang berbasis ajaran aswaja, dan PCNU PCNU yang lain harus bisa mencontohnya.

Lebih lanjut dikatakan, ideologi yang dibawa para teroris yang beraliran keras, sangat tidak tepat diterapkan di bumi Indonesia yang cinta damai. Maka sikap toleran, kebersamaan dan keadilan yang menjadi ciri khas ajaran aswaja harus bisa diaplikasikan dalam kehidupan bermasyarakat.

Menurut Adnan, nama Gedung Aswaja membawa konsekuensi dalam bentuk kegiatan yang kongkrit dalam pembinaan ummat. Karena sikap sikap yang dikembangkan Nahdlatul Ulama secara prinsip beriringan dengan kebijakan pemerintah dalam menata masyarakat agar lebih baik dalam kehidupan sehari hari.

Acara peresmian yang ditandai dengan pengguntingan pita dihadiri oleh utusan Pengurus Ranting NU dan Pengurus Majelis Wakil Cabang (MWC) NU se Kota Pekalongan. Kemudian Pengurus cabang, Badan Otonom, lembaga dan lajnah tingkat cabang serta tamu undangan seperti Damndim 0710, Wakapolres Pekalongan Kota serta puluhan tamu undangan lainnya.

Momentum peresmian gedung aswaja sekaligus dimanfaatkan PCNU untuk menggelar musyawarah Kerja Cabang (Muskercab) ke - 2 NU Kota Pekalongan tahun 2010. Beberapa agenda yang terkait dengan pengembangan gedung aswaja menjadi bahasan pokok dalam muskercab tersebut. Pasalnya, pembangunan gedung yang menghabiskan dana hingga milyaran rupiah belum termasuk rencana pembangunan gedung pertemuan.

Di samping itu, konsolidasi organisasi juga menjadi materi bahasan terkait adanya beberap ranting yang sampai saat ini belum melakukan reformasi pengurus, meski SK nya telah kedaluwarsa. Ditargetkan akhir 2010 ini masalah konsolidasi dapat tuntas dan rencana pelatihan manajemen pengurus yang dijadwalkan pada awal 2011 nanti bisa segera digelar.

Sementara itu, Ketua DPRD Kota Pekalongan H. Mohammad Bowo Leksono, SH., MM dalam  sambutannya mengatakan, warga nahdlliyin Kota Pekalongan harus jeli menangkap peluang terhadap program program pemerintah yang digulirkan, sehingga peran pembangunan masyarakat tidak saja menjadi kewajiban pemerintah saja, akan tetapi ada peran peran dari masyarakat yang harus dijalankan, sehingga bisa seiring dan sejalan

Bowo mengatakan, DPRD bersama Pemerintah Kota Pekalongan siap membantu berbagai kesulitan yang dialami Nahdlatul Ulama, termasuk terhadap persoalan penyelesaian pembangunan gedung pertemuan yang saat ini baru berupa pondasi.

Meski tidak sebesar tahun lalu, paling tidak bantuan ini dapat meringankan beban panitia pembangunan yang harus merogoh kocek tidak kurang dari 1,9 milyar untuk menyelesaikan pembangunan gedung pertemuan. (iz)

Hadir dalam acara pembukaan selain Ketua PWNU Jawa Tengah, juga Ketua DPRD Kota Pekalongan HM. Bowo Leksono, Anggota DPRD Kota Pekalongan mantan anggota dewan, sesepuh NU dan mantan aktifis NU, Rais dan Ketua PCNU Batang, Kabupaten Pekalongan dan Pemalang serta utusan dari lembaga, lajnah, banom NU Cabang dan utusan dari  WC Ranting NU se Kota Pekalongan. (iz)Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Syariah Haedar Nashir

Masdar: Masjid-masjid NU Harus Dipertahankan

Jakarta, Haedar Nashir. Lepasnya masjid-masjid yang dulu dikelola oleh warga NU harus menjadi keprihatinan bersama agar hal tersebut tidak terus berlangsung. NU secara organisatoris dengan seluruh perangkatnya harus berusaha mempertahankan masjid yang ada agar tak lagi lepas ke tangan pihak lain.

Demikian dikatakan Ketua PBNU Masdar F. Mas’udi dalam pertemuan di Gd. PBNU bersama dengan sejumlah badan otonom NU dalam upaya mengembalikan peran NU diberbagai masjid yang belakangan ini mulai surut. “Kalau perlu masjid-masjid milik warga NU diberi papan nama untuk memperjelas identitasnya,” tandasnya.

Direktur P3M tersebut mengelompokkan masjid dalam dua kategori. Pertama, masjid komunitas yang dimiliki oleh kelompok-kelompok keagamaan seperti NU, Persis, Muhammadiyah dan lainnya. Kedua adalah masjid yang dibangun oleh pemerintah atau masyarakat.

Masdar: Masjid-masjid NU Harus Dipertahankan (Sumber Gambar : Nu Online)
Masdar: Masjid-masjid NU Harus Dipertahankan (Sumber Gambar : Nu Online)

Masdar: Masjid-masjid NU Harus Dipertahankan

“Pemasangan nama di masjid yang memang benar-benar milik warga NU bisa meningkatkan rasa memiliki dan menjaga sekaligus pemenuhan kebutuhan akan rumah kultural keagamaan,” tuturnya.

Selanjutnya ia juga memperkirakan bahwa masjid-masjid yang saat ini masih berstatus sebagai masjid publik di masa yang akan datang juga akan dipaksa untuk memperjelas identitasnya. Hal yang sama telah berlaku di gereja yang semuanya memiliki kaitan dengan kelompok tertentu.

Haedar Nashir

Dalam hal ini pemerintah juga berkepentingan terhadap identitas masjid berkaitan dengan pembinaan yang akan dilakukan karena masjid merupakan tempat tumbuhnya berbagai gagasan, mulai dari gagasan yang baik sampai gagasan yang buruk.

Masdar berpendapat bahwa upaya untuk menghilangkan labelisasi masjid sebagai bagian dari NU muncul pada tahun 1970-an. Akibat tekanan politik Orba, mereka yang mengidentifikasikan diri sebagai orang NU ditindas. Sampai saat ini trauma tersebut masih dirasakan oleh sebagian orang dan ditakutkan suatu saat akan muncul kembali.

Haedar Nashir

Upaya untuk mempertahankan masjid tersebut harus dilakukan secara integral dan komprehensif? dengan melibatkan seluruh komponen NU. “Saat masjid tersebut sudah diperjelas status NU-nya, Lembaga Wakaf harus membantu melakukan sertifikasi tanah. sementara badan-badan otonom NU harus memiliki basis di situ,” tegasnya.

Hal ini dilakukan berdasarkan pengalaman yang ada dimana ada kelompok lain yang berusaha merebut masjid tersebut dengan mengganti para takmirnya, ajarannya bahkan sampai sertifikasi tanahnya sehingga identitas NU hilang dari masjid tersebut. “Mereka menggunakan dalil bahwa masjid adalah rumah Allah yang bisa dimasuki oleh siapa saja, padahal tujuannya untuk menyebarkan ajarannya sendiri,” tegasnya.

Selanjutnya dimasa mendatang, pesantren-pesantren juga harus diperjelas identitasnya sebagai pesantren NU. Ini berkaitan dengan tumbuhnya pesantren-pesantren baru yang tidak menerapkan ajaran aswaja.

Terdapat beberapa indikator bahwa masjid tersebut sebagai masjid NU. Biasanya adanya bedug atau logo NU di dinding atau dalam lembaran waktu sholat. Sesudah kumandang adzan dan sebelum sholat ada puji-pujian kepada allah SWT, sholawat untuk kanjeng Rasulullah SAW atau nasehat kebaikan untuk sesama.

Biasanya sesudah sholat, dibacakan wirid atau doa bersama dipimpin oleh imam, dihangatkan dengan salam-salaman dan bacaan salawat. Secara berkala mereka menyelenggarakan doa bersama dengan ratiban, manaqiban, istighotsah atau salawatan dalam barzanji atau diba’iy serta tahlilan dan doa.

Paling tidak masjid tersebut tidak membid’ahkan bacaan usholli ketika takbiratul ihram, basmalah sebelum baca fatihah dan surat, qunut dalam salat subuh, adzan 2 kali sebelum khutbah jum’at tarawih 20 rakaat, tahlilan, mauludan, Isra’ Mi’raj, Nuzulul Qur’an dan lainnya.(mkf)

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Pertandingan, Budaya Haedar Nashir

Jumat, 21 April 2017

Jangan Salah, Banser Itu Pesantren

Jakarta, Haedar Nashir.

Kepala Satuan Koordinasi Barisan Ansor Serbaguna (Kasatkornas Banser) H Alfa Isnaeni, di Jakarta, Selasa (28/11) menegaskan, Banser merupakan pesantren sehingga tidak layak bagi kader berpikiran sempit tentang organisasi itu.

Jangan Salah, Banser Itu Pesantren (Sumber Gambar : Nu Online)
Jangan Salah, Banser Itu Pesantren (Sumber Gambar : Nu Online)

Jangan Salah, Banser Itu Pesantren

"Kalau kiai mengantar ilmu pada santri, mengelola pesantren. Maka yakinkan juga bahwa Banser adalah pesantren kedisplinan diri, pesantren bela negara, pesantren penjaga Pancasila, pesantren untuk mendulang dan menebar amaliah Nahdlatul Ulama dalam kerangka Aswaja," kata dia.

Ia menambahkan, Banser ialah kader inti Gerakan Pemuda Ansor. Tentu dalam harakah atau gerakan menjadi berbeda dengan kader yang tidak inti.

Haedar Nashir

"Sungguh sangat beruntung bagi Banser disebut sebagai sebagai kader inti. Jadi sesuaikan perilaku di lapangan. Kalau remeh-temeh, tingkat pengabdian rendah, apa pantas disebut kader inti?" kata dia lagi di Markas Komando Satkornas Banser.

Kader inti jika dikirim komandannya, baik pimpinan Ansor atau komandan Banser atas persetujuan Ansor untuk menjadi instruktur, menurut dia, tidak boleh menolak.

"Seperti ? itu konsekuensi menjadi kader penggerak, tidak boleh diam, harus jadi penggerak, disiplin dan bertanggungjawab. Banser ialah pengembang program-program sosial Ansor. Apa yang Ansor perintahkan, laksanakan. Apa yang Ansor putuskan, ? Banser harus melaksanakan dan mengawal, bukan sebaliknya," kata dia mengingatkan.

Haedar Nashir

Kasatkornas Banser itu menambahkan, menjadi Banser harus berusaha memantaskan, mematutkan diri dengan apa yang dilakukan kiai-kiai Nahdlatul Ulama.

"Baru setelah kita memantapkan niatan itu, terus dan teruslah beribadah kepada Allah," demikian Alfa Isnaeni. (Gatot Arifianto/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Meme Islam, News, Berita Haedar Nashir

LDNU dan LPID Adakan Halal bi Halal

Jakarta, Haedar Nashir. Dua lembaga yang bergerak dalam bidang dakwah, Lembaga Dakwah Nahdlatul Ulama (LDNU) dan Lembaga Pusat Informasi Dakwah (LPID) yang semuanya dikelola oleh warga NU menyelenggarakan halal bi halal di Gd. PBNU, Kamis malam (15/11).

Acara halal bi halal yang diselenggarakan mulai pukul 19.00 WIB ini dipenuhi oleh para pengurus dan jamaah yang menjadi binaan kedua organisasi ini. Hadir dalam acara tersebut Ketua LDNU KH Nuril Huda dan Ketua LPID KH Syukron Makmur. Sementara PBNU diwakili oleh KH Tolhah Hasan.

LDNU dan LPID Adakan Halal bi Halal (Sumber Gambar : Nu Online)
LDNU dan LPID Adakan Halal bi Halal (Sumber Gambar : Nu Online)

LDNU dan LPID Adakan Halal bi Halal

Sebelum memimpin LPID, KH Syukron Makmun sendiri merupakan mantan ketua LDNU selama tiga periode pada era Gus Dur sehingga pertemuan ini layaknya seperti kangen-kangenan dengan pengurus lama. Para pengurus LPID lainnya juga merupakan para kiai dan ulama dari kalangan nahdliyyin.

Ketua Panitia H Baden Badruzzaman menjelaskan bahwa upaya untuk mempererat silaturrahmi melalui halal bi halal ini salah satunya juga untuk mengantisipasi maraknya aliran sesat yang kini kerap kali muncul dan meresahkan masyarakat.

Sementara itu, H. Ahmad Jauhari yang mewakili LDNU mengungkapkan bahwa tantangan dakwah dimasa depan menjadi semakin berat. Jika saat ini umat Islam dengan gampang bisa sholat, tahlil dan sholawat dengan gampang, apakah hal yang sama bisa terjadi pada 50 tahun ke depan. Dibeberapa daerah yang umat Islamnya minoritas, seperti di Bali, NTT dan Manado, mereka kesulitan untuk menjalankan ibadah.

“Karena itu, rahmat Allah berupa penduduk beragama Islam yang mayoritas ini harus disyukuri dengan saling bekerjasama, mendukung dan mendorong pengembangan dakwah,” katanya.

Haedar Nashir

Sementara itu KH Syukron Makmun yang merupakan dai kawakan ini menjelaskan berbagai persoalan yang dihadapi umat Islam seperti liberalisasi, sekulerisasi sampai dengan penanaman cara berfikir Barat pada umat Islam.

Haedar Nashir

Liberalisasi yang dilakukan dalam rangka memperlemah iman umat Islam ini disebarkan dengan kedok modernisasi, padahal tujuannya adalah untuk membunuh umat Islam. Menurutnya, kini sudah banyak umat Islam yang mengaku memiliki pemikiran baru, padahal sebenarnya mereka hanya mentransfer dari Barat.

“Kini seorang ustadz tidak boleh menegur perempuan yang membuka auratnya karena ini melanggar HAM,” katanya.

Untuk melawan ini, kini LPID telah menyiapkan penerbitan sejumlah buku seperti Apakah Bid’ah Itu, Pluralisme Menuju Pemurtadan, Sekularisme Membunuh Syariat Islam, Liberalisme dan Yahudi, dan lainnya.

Acara ini diakhiri dengan musafahah atau ramah tamah diantara hadirin. Undangan juga disuguhi musik gambus ala padang pasir untuk menghibur mereka dengan lagu-lagu Islami. (mkf)



Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Nusantara, Olahraga, Internasional Haedar Nashir