Selasa, 16 Mei 2017

Sedekah dengan Ganjaran Dobel

Macau,Haedar Nashir

Senin (5/6) adalah pelaksanaan shalat tarawih malam kesebelas. Tak terasa sudah sampai masuk sepertiga kedua Ramadhan. Rencananya saya akan memimpin tarawih dan witir sebanyak 23 rakaat. Baru dua rakaat baju saya sudah lepek basah oleh keringat. Di ruangan itu kipas terus berputar kencang tanpa henti, namun angin yang berhembus justru laksana uap sauna.

Sedekah dengan Ganjaran Dobel (Sumber Gambar : Nu Online)
Sedekah dengan Ganjaran Dobel (Sumber Gambar : Nu Online)

Sedekah dengan Ganjaran Dobel

Usai witir, bermula dari sebuah pertanyaan obrolan seputar zakat, infak, dan sedekah meluncur satu per satu dari jamaah Indonesia yang berasal dari Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur. Memang diakui potensi zakat umat Muslim yang sedemikian besar belum digarap secara maksimal, walaupun diakui trennya setiap tahun selalu naik.

Salah satu yang menarik kami diskusikan ialah masih luputnya wawasan fiqh prioritas dari Muslim Indonesia. Banyak di antara kita yang menyalurkan sedekah atau infaknya, namun tidak mengindahkan skala prioritas. Padahal seharusnya orangtua, keluarga, dan kerabat dekat lebih dahulu menjadi perhatian utama.

Haedar Nashir

"Iya, Ustad. Kita sering bersedekah kepada fakir miskin ataupun masjid. Tapi lupa sama saudara sendiri yang susah. Seakan akan gak kelihatan," begitu komentar salah satu jamaah.

Haedar Nashir

Harus diakui tak jarang masyarakat kita justru gemar sedekah dan berinfak, namun abai pada keluarga atau kerabat dekat. Padahal ganjaran sedekah terhadap keluarga dan kerabat dekat nilainya dua kali lipat. Pertama, dinilai sedekah. Kedua dinilai sebagai upaya shilah (menyambung silaturahim) sebagaimana tercantum dalam hadits yang diriwayatkan Imam Ahmad, At-Turmudzi dan An-Nasai.

Jika kita merujuk kepada Al-Qur’an, di antaranya terdapat dalam Surat An-Nisa ayat 36 dan An-Nahl ayat 90, berbicara tentang pentingnya berbuat kebaikan kepada keluarga dan kerabat dekat. Bahkan ada satu ayat yang bicara tentang memberi harta pada dzawi al-Qurba", baru kemudian menunaikan zakat seperti yang tercantum dalam Al-Baqarah ayat 177.

Ibadah sosial dan yang memperkuat hubungan silaturahim memang lebih ditekankan di dalam Al-Qur’an ketimbang ibadah yang hanya membawa kenikmatan secara individual. Karena dampak ibadah sosial jauh lebih besar manfaatnya kepada masyarakat.

Malam itu, ditemani segelas kopi saya sampaikan, "Di dalam Islam kita dilarang meminta-minta. Tapi di saat yang sama kita harus memberi sebelum mereka yang membutuhkan, meminta."

Rekan saya, Ustad Muhammad Yunus turut menambahkan, fenomena itu mungkin terjadi karena adanya penyakit hati.

“Sehingga justru urusan harta dan hubungan kekeluargaan menjadi amat sensitif. Perbedaan ekonomi bukan jadi kesempatan untuk saling mengisi, justru yang ‘berada’ tak peduli walau terhadap keluarga sendiri,” papar Ustad asal Banyuwangi, Jawa Timur.

"Ibadah sosial bukan hanya membutuhkan tekad dan iming-iming pahala tapi juga kebersihan hati, kearifan serta kepekaan yang tinggi dalam menentukan prioritas," tutup saya. (Saepuloh, dai anggota Tim Inti Dai Internasional dan Media (TIDIM) LDNU yang ditugaskan ke Macau. Kegiatan ini bekerja sama dengan LAZISNU)

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Pahlawan, Nasional Haedar Nashir

Senin, 15 Mei 2017

NU-Negara Nasional dan Formulasi KH Achmad Siddiq

Oleh Nur Kholik Ridwan

Menurut para founding fathers NU, Islam yang diperjuangkan fiddin waddunya wal akhirah dinamakan Islam Ahlussunnah wal Jama’ah, yang mengakui empat madzhab fiqih yang berkembang (Maliki, Hanafi, Syafii dan Hanbali), bertasawuf menurut tradisi Imam Junaid, Imam al-Ghazali dan imam-imam lain di lingkungan Ahlussunnah wal Jama’ah, dan beri’tiqad mengikuti jalan Imam Abu Hasan al-Asyari dan Imam Abu Manshur al-Maturidi, sebagaimana tercantum dalam Anggaran Dasar NU dalam berbagai periode tahun. Oleh generasi berikutnya, hal ini kemudian disebut Ahlussunnah wal Jama’ah an- Nahdliyah, Ahlussunnah wal Jama’ah yang berlaku di lingkungan NU, yang berpijak dalam konteks masyarakat Indonesia dan Nusantara.

NU-Negara Nasional dan Formulasi KH Achmad Siddiq (Sumber Gambar : Nu Online)
NU-Negara Nasional dan Formulasi KH Achmad Siddiq (Sumber Gambar : Nu Online)

NU-Negara Nasional dan Formulasi KH Achmad Siddiq

Islam yang demikian, oleh KH Achmad Siddiq kemudian diformulasi dengan nama Islam rahmatan lil `alamin, jauh sebelum Gus Dur mengemukakan istilah-istilah Islam rahmatan lil `alamin dalam tulisan-tulisannya.

KH Achmad Shidiq mengatakan: “Nahdlatul Ulama didirikan untuk meningkatkan mutu pribadi-pribadi Muslim yang mampu menyesuaikan hidup dan kehidupannya dengan ajaran agama Islam, serta mengembangkannya sehingga terwujudlah peranan agama Islam dan para pemeluknya sebagai rahmat bagi seluruh alam” (KH Achmad Siddiq, Khittah Nahdliyyah, hlm. 12). Rais Am PBNU tahun 1984-1991 itu, juga menegaskan bahwa ciri-ciri diniyah Nahdlatul Ulama itu tercermin pada beberapa hal, di antaranya: “Bercita-cita keagamaan, yaitu izzul islam wal muslimin menuju rahmatan lil`alamin.” (hlm. 15).

Haedar Nashir

Islam rahmatan lil`alamin itu, penamaannya mengambil dari banyak ayat Al-Qur’an yang menyebutkan di antaranya wama arsalnaka illa rahmatan lil`alamin (QS. Al-Anbiya ayat 107).

Dalam ayat ini, terdapat beberapa riwayat yang menyebut Nabi sebagai rahmat yang membentang dan rahmat untuk sekalian alam. Di antara beberapa riwayat itu disebutkan dalam Tafsir Durrul Mantsur fi Tafsir al- Ma’tsur, yaitu riwayat Imam Muslim dari Abu Hurairah berkata: “Dikatakan kepada Rasulullah: ud`u `alal musyrikin. Nabi ber sabda: “inni lam ub`ats la’anan, wainnama buitstu rahmatan”; hadits lain dikeluarkan al- Baihaqi dalam ad- Dala’il dari Abu Hurairah dengan kata: “innama ana rahmatun mahdatun”; ada juga hadis dari Ibnu Hamid dari Ikrimah berkata: “Dikatakan kepada Nabi Muhammad: “Ya Rasulallah ala tal`anu quraisyan bima atau ilaika.” Nabi bersabda: “Lam ub`ats la`anan, innama buitstu rahmatan”; dan juga diriwayatkan oleh Imam athThayalisy, Ahmad, Thabrani, dan Abu Nuaim dalam ad-Dala’ il, dari Abu Umamah berkata: “Berkata Rasulullah Saw.: “Innallaha ba`atsani rahmatan lil `alamin wa hudan lilmuttaqin” (Jalaluddin as- Suyuthi, Durrul Man tsur fi Tafsir al-Ma’tsur, Jilid X, hlm. 405-406).

Haedar Nashir

Menyimak dari hadits-hadits Nabi itu, ketika diminta melaknat dan mencaci orang-orang Quraisy, justru Nabi Muhammad menimpali: “Saya tidak diutus sebagai caci maki (tidak untuk mencaci maki), tetapi sesungguhnya aku diutus sebagai rahmat (untuk menebarkan kasih sayang).” Islam yang diajarkan itu adalah Islam yang mengedepankan akhlak mulia, bukan hanya pada dimensi apa yang diperjuangkan di mana Islam itu memang mulia, tetapi juga cara-cara memperjuangkan pun dengan akhlak yang mulia.

Oleh KH Achmad Siddiq watak dan ciri-ciri Islam rahamatan lil `alamin itu, disebutkan oleh Al-Qur’an sendiri yang kemudian disimpulkan dengan tiga hal penting: at-tawasuth (QS. Al-Baqarah? ayat 143), al-i’tidal (al- Ma’idah ayat 9), dan at-tawazun (QS. Al-Hadid ayat 25). Di dalam Khittah NU kemudian ditambah lebih lengkap dengan at- tasamuh, dan amar ma’ruf nahi munkar, yang sebelumnya dilengkapi juga dengan Mabadi’ Khaira Ummah (MKU) yang digagas KH Mahfudz Siddiq, yaitu ash-shidqu, al-amanah wa al-wafa bil `ahdi, dan at-ta`awun (disetujui Muktamar NU tahun 1937), yang ditambah pada Muktamar NU tahun 1992 di Lampung dengan dua hal penting, yaitu al-`adalah dan al-istiqamah.

Bentuk dari implementasi sikap at-tawasuth di dalam masalah kenegaraan, menurut KH Achmad Siddiq, tercermin dari sikap dan pandangan Nahdlatul Ulama yang melihat bahwa: (1) Negara nasional yang didiri kan bersama oleh seluruh nasion/ rakyat wajib dijaga dan dipelihara eksistensinya; (2) Penguasa Negara yang sah harus ditempatkan pada kedudukan yang terhormat dan ditaati, selama tidak menyeleweng, atau memerintah ke arah yang tidak bertentangan dengan hukum Allah; (3) Kalau terjadi kesalahan dari pihak pemerintah, cara memperingatkannya melalui tatacara yang sebaik-baiknya (KH Achmad Siddiq, Khittah Nahdliyyah, hlm. 66).

Meski begitu haruslah disadari bahwa peran NU dalam merumuskan dasar negara dan pandangannya dalam bentuk kenegaraan, mengalami proses panjang, baik di dalam adu argumentasi ataupun dalam sejarah politiknya, termasuk dalam riak-riak kecil dan besarnya di tengah gejolak Geosospolek bangsa Indonesia. Dari sudut ini bisa dilihat dari peran NU dalam merumuskan pandangan kenegaraan sebelum Republik Indonesia berdiri, pada masa pendirian bangsa zaman BPUPKI-PPKI, setelah itu dalam perdebatan tahun 1955 di sidang Konstituante, penerimaan Pancasila dan UUD 1945 di dalam Dekrit Presiden Soekarno, dan kemudian sampai pada perumusan dalam soal Pancasila dan asas Pancasila di Munas Alim Ulama tahun 1983 dan Muktamar NU tahun 1984 di Situbondo.

Dari sejumlah peristiwa sejarah itulah, kemudian para kyai NU memberikan argumentasi dan formulasi argumentatifnya, agar bisa dimengerti generasi-generasi baru, seperti yang dilakukan KH Achmad Siddiq, KH Muchit Muzadi, KH Abdurrahman Wahid, KH Masdar Farid Mas`udi, dan banyak tokoh lain. Wallahu a’lam.

Penulis adalah anggota PP RMINU dan alumnus Pondok Pesantren Darunnajah Banyuwangi



Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Kyai, Nahdlatul, Quote Haedar Nashir

Rabu, 10 Mei 2017

Bahkan Belum Sempat Pulang, Langsung Berangkat Haji

Jakarta, Haedar Nashir. Mustasyar PBNU KH Hafidz Usman yang meninggal Senin (20/10) pagi di Bandung dimakamkan di makam keluarga di Menes, Banten. Jenazah tiba di masjid yang terletak tidak jauh dari rumah singgah keluarga Menes pada sekitar pukul 00.10 dini hari dan langsung disambut ratusan jamaah yang memenuhi masjid.

Bahkan Belum Sempat Pulang, Langsung Berangkat Haji (Sumber Gambar : Nu Online)
Bahkan Belum Sempat Pulang, Langsung Berangkat Haji (Sumber Gambar : Nu Online)

Bahkan Belum Sempat Pulang, Langsung Berangkat Haji

Shalat jenazah dipimpin oleh Rais Syuriyah PWNU Banten, KH Tubagus Abdul Hakim. Sambutan atas nama keluarga disampaikan oleh KH Suhri Usman, adik dari almarhum.

Atas permintaan keluarga, jenazah almarhum dimakamkan di pemakaman keluarga Menes Banten, tepatnya di makam keluarga dari istri Kiai Hafidz yang juga saudara dari istri KH Ma’ani Rusydi.

Haedar Nashir

Sejumlah pengurus NU hadir mengikuti pemakaman mewakili PBNU, antara lain Katib Syuriyah KH Mujib Qulyubi, Pengurus Lembaga Bahtsul Masail PBNU H Sarmidi Husna dan H Mahbub Ma’afi Ramdlan, Ketua Lembaga Wakaf PBNU H Mardini. Terlihat juga mantan politisi PPP Endin Sofihara, dan mantan Ketua PBNU Andi Jamaro.

Menurut Mahbub Ma’afi, Kiai Hafidz meniggal sehari setelah pulang dari haji. Ia datang ke kediamannya di Bandung pada Ahad (19/10). Keesokan harinya Kiai Hafidz tiba-tiba dikabarkan meninggal, tanpa didahului sakit sedikitpun.

Haedar Nashir

“Jadi beliau berangkat haji itu seolah-olah berpamitan. Apalagi tahun ini bertepatan dengan haji akbar. Bahkan sebelum berangkat haji pun beliau belum sempat pulang ke rumah sehabis berkeliling Sumatera dan Sulawesi dalam rangka menjalankan tugas BWI (Badan Wakaf Indonesia),” kata Mahbub.

Pengurus Lembaga Bahtsul Masai PBNU itu menceritakan pengalamannya bersama KH Hafidz Usman terutama saat mendampingi almarhum dalam menyelesaiakan pembukuan hasil bahtsul masail NU sejak Muktamar pertama NU tahun 1926.

“Beliau memimpin tim menyocokkan referensi dari semua keputusan bahtsul masail. Kalau ada kitab yang menjadi referensi tidak ada di PBNU, beliau pesen itu kitab ke Mesir. Beliau salah satu Kiai NU yang ensikopedis, tahu banyak hal. Beliau mempunyai semua kitab yang menjadi rujukan bahtsul masail NU,” katanya.

Sebagai kiai senior, KH Hafidz Usman cukup menghargai pendapat kiai-kiai muda di lingkungan lembaga bahtsul masail. “Beliau tidak pernah marah. Kalau kami membantah atau mendebat beliau, secara etika kan tidak bener, tapi beliau tidak marah,” katanya.

KH Hafidz Usman meninggal pada usia 74 tahun. Aktivitasnya di NU dimulai sejak usia muda, sampai menjadi ketua PWNU Jawa Barat. Di PBNU, Jakarta, pertama-tama Kiai Hafidz diminta oleh KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) untuk menjadi salah satu Ketua PBNU. Pada periode berikutnya ia mendapatkan amanah sebagai Rais Syuriyah PBNU. (A. Khoirul Anam)

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Habib, Ubudiyah Haedar Nashir

Senin, 08 Mei 2017

Ini Konsep Tata Kelola Air Menurut Ketua MK

Jakarta, Haedar Nashir. Ketua Mahkamah Konstitusi, Prof Dr Arief Hidayat memberikan ceramah dalam Seminar Nasional tentang Tata Kelola Air yang digelar oleh Lembaga Penanggulangan Bencana dan Perubahan Iklim Nahdlatul Ulama (LPBINU), Rabu (20/5) di lantai 8 Gedung PBNU Kramat Raya Jakarta Pusat.

Ini Konsep Tata Kelola Air Menurut Ketua MK (Sumber Gambar : Nu Online)
Ini Konsep Tata Kelola Air Menurut Ketua MK (Sumber Gambar : Nu Online)

Ini Konsep Tata Kelola Air Menurut Ketua MK

Dalam pemaparannya, Arief menuturkan, air perlu dikelola dengan baik agar kebutuhan manusia dan seluruh makhluk hidup akan air dapat terpenuhi.?

“Pengelolaan air tidak boleh dikuasai oleh swasta, harus dikuasai oleh negara. Itu diatur dalam pasal 33 UUD 1945,” tegasnya di hadapan peserta seminar yang memadati Aula PBNU.

Haedar Nashir

Arief menerangkan, dalam pasal 33 tersebut, seperti yang tertuang dalam Putusan Nomor 36/PUU-X/2012, MK menegaskan bahwa frasa ‘dikuasai negara’ tidak dapat dipisahkan dari frasa ‘sebesar-besarnya kemakmuran rakyat’.?

“Karena jika kedua frasa ini tidak dikaitkan sebagai satu kesatuan yang utuh, maka akan menimbulkan tafsir konstitusional yang kurang tepat. Karena bisa jadi negara menguasai sumber daya alam secara penuh tetapi tidak digunakan untuk sebesar-besar kemakmuran rakyat,” paparnya.

Haedar Nashir

Dalam berbagai putusannya, imbuh salah satu Dewan Pakar ISNU ini, MK selalu berupaya mennguatkan peran negara dalam mengelola, mengawasi, dan memenuh hak atas air untuk kebutuhan dan kesejahteraan rakyat banyak.

“Pengelolaan sumber daya air mesti secara mutlak diselenggarakan oleh negara, sedangkan swasta hanya mendapatkan peran residu manakala pengelolaan sumber daya air oleh BUMN/BUMD sebagai perpanjangan tangan negara tidak dapat melakukan fungsinya,” tegas Arief.?

Selama ini, menurutnya, swasta itu hanya menjual kemasan air. Agar air tetap bersih dan jernih. “Masa’ kita membuat pesawat saja bisa, tetapi mengelola air secara komersil dan mandiri tidak bisa. Inilah salah satu faktor, mengapa kelompok swasta, bahkan swasta asing dengan bebas menjarah, memprivatisasi, dan meliberalisasi mata air rakyat,” tuturnya panjang lebar. (Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Pahlawan, Sholawat Haedar Nashir

Minggu, 07 Mei 2017

Dzikir Bersama, Upaya Kraton Yogya Jaga Kedamaian

Yogyakarta, Haedar Nashir. Warga Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) larut dalam dzikir bersama yang digelar rutin tiap malam Jumat Legi di Masjid Gede Kauman Yogyakarta yang terletak di sebelah barat kompleks Alun-alun Utara Kraton, pada Kamis malam (7/11).

Majelis dzikir yang dikomandoni Gusti KGPH Joyokusumo (adik Sultan HB X) ini merupakan maejlis doa bersama seluruh elemen warga untuk kedamaian Yogya dan Indonesia.

Dzikir Bersama, Upaya Kraton Yogya Jaga Kedamaian (Sumber Gambar : Nu Online)
Dzikir Bersama, Upaya Kraton Yogya Jaga Kedamaian (Sumber Gambar : Nu Online)

Dzikir Bersama, Upaya Kraton Yogya Jaga Kedamaian

Ketua Lembaga Dakwah Nahdlatul Ulama Yogyakarta, Jamiludin yang hadir pada kesempatan itu menilai, dzikir bersama rutin itu menjadi acara penting Kraton Ngayogyokarto untuk melestarikan tradisi dzikir bersama. “Ini merupakan cara khas kraton untuk menjaga kedamaian warganya,” katanya

Haedar Nashir

Jamiludin menambahkan, dzikir bersama merupakan dakwah yang sangat efektif, karena melibatkan banyak sekali jamaah majelis talim di Yogyakarta. Bukan saja warga NU, semua kalangan diundang untuk doa bersama.

Haedar Nashir

Maejlis ini dimulai dengan khataman Al-Quran, kemudian dilanjutkan dengan mujahadah dan wiridan. Dalam kesempatan ini, hadir Rais Syuriah PWNU DIY, KH Asyhari Abta, yang kemudian didaulat untuk memimpin doa. Hadir pula Wakil Ketua PWNU DIY H. Harsoyo. (Muyassaroh Hafidzoh/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Pemurnian Aqidah, News Haedar Nashir

Rais ‘Aam Berharap Syuriyah Mampu Berperan Sentral

Jakarta, Haedar Nashir

Rais ‘Aam PBNU KH Ma’ruf Amin berharap jajaran syuriyah NU di seluruh tingkatan mampu berperan sentral dalam mengendalikan organisasi.?

“Syuriyah itu pengarah, karena itu fungsi-fungsi itu harus dijalankan dengan baik, supaya bisa menggerakkan tanfidziyah,” katanya di Gedung PBNU, Selasa (22/03).?

Rais ‘Aam Berharap Syuriyah Mampu Berperan Sentral (Sumber Gambar : Nu Online)
Rais ‘Aam Berharap Syuriyah Mampu Berperan Sentral (Sumber Gambar : Nu Online)

Rais ‘Aam Berharap Syuriyah Mampu Berperan Sentral

Ia menuturkan, dalam sejarahnya, jajaran syuriyah NU memiliki peran yang sangat sentral sebagaimana dijalankan oleh KH Hasyim Asy’ari dan KH Wahab Hasbullah. Syuriyah harus mampu menjalankan tanpa meminta diperankan.?

“Masalahnya syuriyah itu minta diperankan, bukan memerankan diri. Kalau minta diperankan bukan penggerak, bukan pengarah,” evaluasinya.

Haedar Nashir

Dalam rangka meningkatkan konsolidasi ini KH Ma’ruf Amin secara rutin berkunjung ke sejumlah wilayah NU. “Saya berkunjung ke daerah ada yang memang diundang daerah, ada yang acara lain, kemudian saya menyempatkan untuk konsolidasi,” paparnya.

Sebagai langkah untuk meningkatkan peran tersebut, Kiai Ma’ruf meminta agar jajaran syuriyah membuat pertemuan-pertemuan secara periodik seperti di PBNU yang menggelar rapat setiap bulan.?

“Syuriyah bisa membuat arahan-arahan atau meminta informasi dari tanfidziyah,” jelasnya.

Untuk meningkatkan kapasitas, PBNU akan melakukan kaderisasi syuriyah, supaya syuriyah tidak hanya paham soal baca kitab, tetapi juga mampu melakukan penguasaan terhadap perkembangan dan tantangan organisasi.?

Haedar Nashir

“Dalam konsolidasi ini, kita juga membangun ghirah nahdliyah atau? semangat ke-NU-an. Bagaimanapun kalau tidak ada semangat tidak jalan,” tuturnya.?

Banyak hal telah dilakukan oleh PBNU, tetapi ia menegaskan, tak bisa langsung berubah karena semuanya butuh proses. Dengan membangun sistem yang lebih baik, maka organisasi akan berjalan dengan lebih baik pula. (Mukafi Niam)

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Anti Hoax, AlaSantri, Hikmah Haedar Nashir

Senin, 01 Mei 2017

Yudi Latif: Pancasila Harus ‘Mengatasi’ Negara

Jakarta, Haedar Nashir. Pemikir Keagamaan dan Kenegaraan, Yudi Latif, mengatakan bahwa nilai Pancasila seharusnya “mengatasi” Negara. Bukan di bawah negara. Jika Pancasila di bawah negara, maka ia menjadi alat negara untuk menekan lawan-lawan politik. Ini merupakan pengejawantahan Pancasila sebagai agama publik (civic religion).

Yudi Latif: Pancasila Harus ‘Mengatasi’ Negara (Sumber Gambar : Nu Online)
Yudi Latif: Pancasila Harus ‘Mengatasi’ Negara (Sumber Gambar : Nu Online)

Yudi Latif: Pancasila Harus ‘Mengatasi’ Negara

“Pancasila harus menjadi kritik bagi negara. Salahnya, zaman Orba dulu negara yang berinisiatif, negara menatar, negara pula yang menafsir. Akhirnya, Pancasila menjadi alat negara untuk menakar rakyat,” kata Yudi dalam bedah bukunya bertajuk Revolusi Pancasila di Hotel A-One Jakarta Pusat, Senin (22/5).

Singkat kata, lanjut Yudi, jika pendekatan Pancasila yang dulu vertikal maka sekarang harus horizontal. “Harus melibatkan partisipasi berbagai pihak sehingga Pancasila nantinya menjadi kritik bagi kebijakan negara,” tegasnya.

Oleh karenanya, Yudi berpendapat, Pancasila bisa juga disebut sebagai ‘agama publik’ (civic religion). “Bukan berarti agama yang kita pahami selama ini. Artinya, lebih kepada nilai moralitas dalam kehidupan publik. Terpenting, jangan mengagamakan pancasila atau mempancasilakan agama,” tandasnya.

Pria kelahiran Sukabumi, Jawa Barat ini menambahkan, Pancasila disebut civic karena meskipun nilai-nilainya berasal dari agama tapi tidak identik dengan agama. Nilai-nilai universalnya itu sudah terbagi luas di masyarakat.

Haedar Nashir

“Jadi tidak bisa disamakan dengan yang ada di masjid atau di gereja. Dia sudah menjadi nilai-nilai agama yang menjelma properti publik. Pancasila menampung berbagai elemen dari agama-agama, adat istiadat, gagasan universal, dan lain-lain,” ujarnya.

Yudi Latif mengibaratkan agama-agama bak tower tinggi, lalu Pancasila memotong jembatan supaya antaragama bisa saling bertemu. Nilai-nilai publik inilah yang disebut sebagai agama. Bagi dia, Pancasila menjadi cermin bagi seluruh anak bangsa.?

Kegiatan yang dibuka resmi oleh Kepala Balitbang Diklat Kemenag Abdurrahman Mas’ud ini menghadirkan dua narasumber, Ketua Lakpesdam PBNU Rumadi Ahmad dan Direktur PPIM UIN Syarif Hidayatullah Jakarta Jamhari Ma’ruf.

Tampak juga Kepala Puslitbang Penda Amsal Bakhtiar, Kepala Pusdiklat Teknis Mahsusi, para pejabat Eselon III di lingkungan Balitbang Diklat, serta para Kepala Balai Litbang Agama (BLA) dan Kepala Balai Diklat Keagamaan (BDK) seantero Republik. (Musthofa Asrori/Fathoni)

Haedar Nashir

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Pahlawan, Amalan Haedar Nashir