Rabu, 14 Juni 2017

Keberadaan Madrasah Harus Membumi di Masyarakat

Jepara, Haedar Nashir. Keberadan madrasah saat ini harus benar-benar berada di tengah-tengah masyarakat. Semakin membuka diri (inklusif) tidak terkesan eksklusif. Hal itu dikemukakan Achmad Makhali, Sekretaris Yayasan Pendidikan Islam (YPI) NU Safinatul Huda Desa Sowan Kidul, Kecamatan Kedung, Kabupaten Jepara, Jawa Tengah.

Jika dulu menyebut madrasah murni pendidikan agama dan terkesan eksklusif, sekarang lanjutnya, hampir sama antara sekolah dan madrasah.? Madrasah ada pelajaran umum juga pelajaran agama. “Murid madrasah pinter sains juga pinter kitab salaf,” terang Kepala MA NU Safinatul Huda ini.?

Keberadaan Madrasah Harus Membumi di Masyarakat (Sumber Gambar : Nu Online)
Keberadaan Madrasah Harus Membumi di Masyarakat (Sumber Gambar : Nu Online)

Keberadaan Madrasah Harus Membumi di Masyarakat

Jika pelajaran salaf dan umum dikuasai, menurut dia, siswa akan menjadi manusia yang seutuhnya.? Mestinya, madrasah saat ini harus semakin mempunyai kepercayaan diri. Sebab nilai plusnya pembelajaran akhlak tidak ditemukan di sekolah umum.?

“Guru dan siswa madrasah tidak boleh minder,” katanya yang juga Sekretaris Pergunu Jepara disela-sela kegiatan Sarasehan “Madrasah Dulu, Sekarang dan Akan Datang” di Madrasah Safinatul Huda, Kamis (15/9) lalu.

Ia menegaskan kini kualitas madrasah juga semakin bagus. Misalnya guru madrasah tidak hanya menempuh S1 dan S2 saja tetapi sudah masuk ke jenjang S3. Itu tidak lain, tambahnya, dalam rangka menerjemahkan slogan Lebih Baik Madrasah, Madrasah Lebih Baik.?

Haedar Nashir

Kegiatan Sarasehan merupakan rangkaian Harlah YPI NU Safinatul Huda ke-61. Dalam Harlah yang berlangsung dua hari itu Rabu-Kamis (14-15/9) juga diisi ? dengan Praktik Qurban, Aneka Lomba, Pentas Rebana, Istighotsah, Tahlil, Ziarah Wali dan Pendiri dan Kilas Balik Berdirinya Yayasan. (Syaiful Mustaqim/Fathoni)?

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Fragmen, Tegal Haedar Nashir

Haedar Nashir

Muktamar Ke-33 NU Soroti Persoalan Utang Luar Negeri

Jombang, Haedar Nashir. Muktamar ke-33 NU yang diselenggarakan di Jombang, Jawa Timur, 1-5 Agustus akan memberikan landasan normatif dan rekomendasi bagi permasalahan hutan luar negeri. Pembahasan ini menjadi kajian Komisi Bahtsul Masail Diniyah Maudlu’iyah yang mendiskusikan persoalan-persoalan secara tematik.

Dalam Draf Materi Muktamar ke-33 NU, tim perumus komisi yang diketuai KH Afifuddin Muhajir ini menjelasan, sejak Indonesia merdeka pada 1945, utang luar negeri tidak pernah terlepas dari Indonesia. Bank Indonesia (BI) mencatat, posisi Utang Luar Negeri (ULN) Indonesia pada akhir triwulan I-2015 mencapai 298,1 miliar dollar AS.

Muktamar Ke-33 NU Soroti Persoalan Utang Luar Negeri (Sumber Gambar : Nu Online)
Muktamar Ke-33 NU Soroti Persoalan Utang Luar Negeri (Sumber Gambar : Nu Online)

Muktamar Ke-33 NU Soroti Persoalan Utang Luar Negeri

Utang tersebut terdiri dari utang luar negeri pemerintah sebesar 132,8 miliar dollar AS (44,5%) dan utang sektor swasta sebesar 165,3 miliar dollar AS (55,5%). Posisi ini tumbuh melambat yakni 7,6 % year on year (yoy) dibandingkan triwulan sebelumnya, yakni 10,2 % (yoy).

Haedar Nashir

“Jika dibandingkan dengan data kekayaan sumber daya alam, kondisi tersebut sangat ironis dan mengkhawatirkan, walau pemerintah dengan indikator ekonomi makro masih menyatakan aman,” bunyi draf materi tersebut.

Haedar Nashir

Akumulasi? utang yang menumpuk membuat pertumbuhan ekonomi tidak bergerak, rawan resiko, dan menimbulkan disinsentif bagi pengelola ekonomi untuk mencapai kinerja baik akibat terlalu besarnya transfer keluar untuk memenuhi kewajiban? utang luar negeri.

“Sebagai bangsa yang mendambakan kemandirian dan bermartabat di mata dunia, kita menginginkan negara yang bebas utang. Walau tidak mudah, sudah saatnya kita merenungkan kembali kebijakan defisit anggaran yang digunakan untuk mendukung ekspansi fiskal dalam rangka mendorong pertumbuhan ekonomi. Kita tidak boleh selamanya terjebak pada skema pembiayaan utang untuk membiayai pembangunan. Oleh karena itu, dibutuhkan formulasi baru agar pembiayaan pembangunan tidak lagi mengandalkan dari utang.”

Karena itu, Muktamar ke-33 NU akan menjawab tiga pertanyaan utama soal utang luar negeri, antara lain, “Dalam situasi apa negara boleh utang?”, “Untuk kepentingan apa uang hasil utang bisa digunakan?”, dan “Apa yang perlu dilakukan agar negara terbebas dari? utang?”. (Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Ubudiyah, Pemurnian Aqidah, RMI NU Haedar Nashir

Jumat, 09 Juni 2017

FK-GMNU Tuntut Hamid Awaluddin Mundur dari Kabinet

Jakarta, Haedar Nashir
Sekitar 200 orang yang menamakan diri mereka anggota Forum Komunikasi Gerakan Muda Nahdlatul Ulama (FK-GMNU) melakukan unjuk rasa di depan kantor Komisi Pemilihan Umum (KPU) di Jalan Imam Bonjol, Jakarta, Selasa siang, menuntut agar kasus dugaan korupsi di lembaga penyelenggara pemilu itu diusut tuntas, termasuk dengan memeriksa seluruh anggotanya.

Unjuk rasa FK-GMNU, yang antara lain beranggotakan mahasiswa dari UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Universitas Assafi’iyah Jakarta, Universitas Bung Karno, Universitas Nasional, Sekolah Tinggi Agama Islam NU dan anggota Gerakan Pemuda Anshor juga menuntut agar Menteri Hukum dan HAM, Hamid Awaluddin, yang mantan anggota KPU, dicopot jabatannya di Kabinet Indonesia Bersatu.

Menurut koordinator aksi, Ali Abel, kasus dugaan korupsi di KPU perlahan-lahan mulai terungkap, bahwa semua anggotanya terlibat dalam penyelewengan dana penyelenggaraan pemilu 2004 namun pengusutan kasus itu mulai menemui ketidakjelasan.

"Sebab, salah satu tonggak penegakan hukum di Indonesia, yaitu Kementerian Hukum dan HAM masih dijabat oleh salah seorang anggota KPU yang ikut menikmati dana taktis sebesar 20 miliar," kata Abel.

Terkait kasus dugaan yang melibatkan Hamid, FK-GMNU menagih komitmen pemerintahan Susilo Bambang Yudhoyono dan Jusuf Kalla dalam pemberantasan korupsi, karena saat pengambilan sumpah para anggota kabinet 20 Oktober 2004 dinyatakan akan mundur jika terlibat korupsi dan siap menerima sanksi hukum yang berlaku.

Selesai menggelar aksi di KPU, rombongan pengunjuk rasa melanjutkan aksinya ke Departemen Hukum dan HAM di Jalan Rasuna Said, Jakarta, guna menyuarakan tuntutan yang sama.

"Kami belum lupa Pak Susilo Bambang Yudhyono berkali-kali menyatakan akan memimpin sendiri pemberantasan korupsi jika terpilih sebagai presiden. Kini kami juga rakyat Indonesia menunggu realisasi janji tersebut," kata Abel.

Dalam aksinya para pengunjuk rasa mengusung sejumlah poster, yang salah satu di antaranya bertuliskan penagihan janji Presiden Yudhoyono untuk memberantas korupsi.

Mereka juga membentangkan spanduk untuk menyatakan empat tuntutan, yaitu "Usut Tuntas Kasus Korupsi di KPU Sampai ke Akar-akarnya, Copot Hamid Awaluddin dari Jabatan Menteri dan Adili Sesuai dengan Hukum yang Berlaku, Tegakkan Supremasi Hukum Tanpa Pandang Bulu, dan Tuntaskan Agenda Reformasi".(ant/mkf) 

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Khutbah, Nahdlatul Ulama, Amalan Haedar Nashir

FK-GMNU Tuntut Hamid Awaluddin Mundur dari Kabinet (Sumber Gambar : Nu Online)
FK-GMNU Tuntut Hamid Awaluddin Mundur dari Kabinet (Sumber Gambar : Nu Online)

FK-GMNU Tuntut Hamid Awaluddin Mundur dari Kabinet

Kamis, 08 Juni 2017

Mauludan, Warga Sindangwangi Jaga Tradisi dan Pererat Silaturrahim

Majalengka, Haedar Nashir. Dalam rangka menjaga tradisi baik dan mempererat tali silaturrahim, warga Sindangwangi menggelar muludan dan marhabanan yang bertempat di halaman Pondok Pesantren Sabilul Mardiyah Sindangwangi, Majalengka, Jawa Barat, Jumat, (9/1).

Mauludan, Warga Sindangwangi Jaga Tradisi dan Pererat Silaturrahim (Sumber Gambar : Nu Online)
Mauludan, Warga Sindangwangi Jaga Tradisi dan Pererat Silaturrahim (Sumber Gambar : Nu Online)

Mauludan, Warga Sindangwangi Jaga Tradisi dan Pererat Silaturrahim

Kegiatan ini dihadiri oleh ratusan warga nahdliyin dari NU ranting, ulama dan santri atas inisiatif Satkoryon Banser Sindangwangi.

Mansyur, Kasatkoryon Banser Sindangwangi mengatakan, agenda ini dilaksanakan dengan berpegangan pada Al-mukhafadzotu ala al-qodimi al-sholih wal akhdzu bi al-jadidi al-ashlah (menjaga tardisi lama yang baik dan mengambil tradisi baru yang lebih baik).?

Haedar Nashir

“Atas dasar menjaga tradisi itu kami bersama menggelar acara ini,” terang Mansyur.

Haedar Nashir

Mansyur menambahkan, tak hanya untuk menjaga tradisi pesantren, kami pun berusaha merangkul seluruh elemen masyarakat untuk bahu-membahu dan mempererat tali silaturrahim antarwarga nahdliyin sebagai pencegahan dari rongrongan islam radikal.

Ia berharap, kedepan ketika menggelorakan semangat jaga tradisi dan pererat silaturrahim ini menjadi satu kesatuan utuh dalam menjaga keutuhan NKRI serta memelihara nilai toleransi.

Acara ini dimulai pukul 08:00 WIB dipimpin oleh Ketua MWC NU Sindangwangi, KH. Zaenudin, dilanjutkan tausiyah ditutup doa dan dilanjutkan makan besar bersama seluruh warga yang hadir. (Aris Prayuda/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Pertandingan, Fragmen, Sunnah Haedar Nashir

Pelajar NU Ngoro Jombang Belajar Kerajinan Tangan

Jombang, Haedar Nashir. Pimpinan Anak Cabang Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (IPNU) dan Ikatan Pelajar Putri Nahdlatul Ulama (IPPNU) Kecamatan Ngoro, Kabupaten Jombang, Jawa Timur, menggelar pelatihan kerajinan tangan di aula MWCNU Ngoro, Selasa (17/6).

Sebanyak 20 pelajar NU setempat antusias mengikuti pelatihan tersebut. Mereka belajar membuat asesoris berupa bros dan gantungan kunci.

Pelajar NU Ngoro Jombang Belajar Kerajinan Tangan (Sumber Gambar : Nu Online)
Pelajar NU Ngoro Jombang Belajar Kerajinan Tangan (Sumber Gambar : Nu Online)

Pelajar NU Ngoro Jombang Belajar Kerajinan Tangan

Ketua PAC IPNU Ngoro Mohamad haris mengatakan, kegiatan ini menjadi agenda mingguan pelajar NU Ngoro. “Pelatihan ini merupakan kelima kalinya,” tutur guru SDI Trunojoyo ini.

Haedar Nashir

Menurutnya, pelatihan kerajinan tangan tersebut juga menjadi ajang silaturahmi antarkader, di samping memberi bekal keterampilan kepada pelajar NU agar siap menghadapi  tantangan zaman.

Uswatun Hasanah, Ketua PAC  IPPNU Ngaro, menambahan, hasil kerajianan tanggan berupa bros dan gantungan kunci itu akan dipasarkan di toko-toko di daerah Ngoro.

Haedar Nashir

“Setidaknya ada empat  toko yang siap untuk menerima hasil kerajinan tanggan yang kami buat yaitu koperasi pondok pesantren At-Tadzib , Ponpes Padar dan yang lain di pasar Ngoro Jombang,” pungkas mahasiswa STIT  Urwatul Wusqo Diwek Jombang ini. (Muhamad Anwar/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Cerita Haedar Nashir

Tirakatan Kemerdekaan Hingga Jalan Sehat

Semarang, Haedar Nashir. Warga Banjardowo kecamatan Genuk, kota Semarang menggelar jalan sehat bersama sebagai puncak peringatan Hari Kemerdekaan Ke-69 RI di Banjardowo, Ahad (24/8) pagi. Ketua RW 6 kelurahan Banjardowo, Sutiman, menggunting pita yang menandai awal jalan sehat setelah sepekan sebelumnya mengadakan tirakatan dan tumpengan.

Tirakatan Kemerdekaan Hingga Jalan Sehat (Sumber Gambar : Nu Online)
Tirakatan Kemerdekaan Hingga Jalan Sehat (Sumber Gambar : Nu Online)

Tirakatan Kemerdekaan Hingga Jalan Sehat

Jalan sehat ini, kata Sutiman, bukan sekadar puncak kemeriahan, tetapi upaya membangun kebersamaan untuk saling memupuk rasa persaudaraan. Sementara Ketua RT 2 RW 6 Muslimin menambahkan, seluruh rangkaian peringatan ini menjadi bentuk rasa syukur warga demi menumbuhkan rasa keberpihakan kepada Tanah Air.

“Puncak peringatan semarak kemerdekaan ini semoga menguatkan tali silaturahmi dan mendekatkan antarwarga,” imbuh Muslimin.

Haedar Nashir

Sementara para remajanya yang tergabung dalam Ikatan Remaja Telaga Muda melanjutkan kemeriahan Hari Kemerdekaan RI dengan menggelar perlombaan balap kelereng dan memasukkan pensil ke dalam botol khusus untuk anak-anak.

Peserta jalan sehat yang terdiri atas kalangan dewasa turut aktif memeriahkan perlombaan dengan mendampingi anak mereka. (Lukni Maulana/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir

Haedar Nashir Nahdlatul Ulama, Daerah Haedar Nashir

Selasa, 06 Juni 2017

Kisah Ulama Diselamatkan dari Maut oleh Binatang Buas

Kasus mati karena binatang buas sudah banyak dijumpai. Cerita selamat dari keganasan binatang ? berbahaya juga kerap kita dengar. Namun, bagaimana dengan kasus lepas dari maut justru karena pertolongan binatang mematikan? Yang terakhir ini kedengarannya aneh tapi betul-betul dialami Abu Hamzah al-Khurasani, ulama sufi pada abad pertengahan.

Dalam sebuah perjalanan ibadah haji, entah bagaimana, ia tiba-tiba terperosok ke lubang sumur. Tentu saja ia kewalahan kembali ke atas. Di tengah ancaman keselamatan jiwanya itu, Abu Hamzah al-Khurasani sempat akan berteriak minta tolong tapi urung. "Tidak. Demi Allah aku tak akan berteriak minta tolong."

Kisah Ulama Diselamatkan dari Maut oleh Binatang Buas (Sumber Gambar : Nu Online)
Kisah Ulama Diselamatkan dari Maut oleh Binatang Buas (Sumber Gambar : Nu Online)

Kisah Ulama Diselamatkan dari Maut oleh Binatang Buas

Belum habis gumam batinnya itu berujar, tiba-tiba ada dua orang melintas di bibir sumur. Tahu ada lubang di dekat mereka, salah seorang di antara keduanya bertutur, "Mari kita tutup bibir sumur ini agar tak ada orang jatuh ke dalamnya."

Bibir sumur pun ditutupi rerimbunan pohon tebu hingga penuh. Ingin sekali Al-Khurasani berteriak. Namun lagi-lagi hatinya melarang. "Aku akan berteriak kepada yang lebih dekat ketimbang mereka berdua (yakni Allah)," gumamnya.

Al-Khurasani akhirnya cuma bisa diam. Tak disangka, beberapa saat kemudian bibir sumur terbuka kembali. Lalu ada yang menurunkan kakinya dan seperti menyuruh al-Khurasani untuk memegangnya. Al-Khurasani pun bergelayutan dengan kaki itu dan keluar dari sumur dengan selamat.

Haedar Nashir

Ia baru sadar bahwa kaki yang menolongnya itu adalah kaki seekor binatang buas (sabu). Sabu juga bisa berarti singa. Kemudian terdengarlah suara, "Wahai Abu Hamzah, bukankah ini lebih baik? Kami selamatkan kami dari kematian dengan hewan mematikan."

Kisah ini bisa kita baca dalam kitab an-Nawadir karya Syekh Ahmad Syihabuddin bin Salamah al-Qalyubi. Cerita tersebut menggambarkan betapa kuatnya keyakinan al-Khurasani terhadap pertolongan Allah. Ia tak berteriak minta tolong karena sedang membersihkan hati dari ketergantungan kepada selain-Nya, bukan lantaran menolak ikhtiar, apalagi bermalas-malasan. Ia sedang menampilkan sikap tawakal yang total, di saat bersamaan meyakini bulat-bulat akan kehadiran Allah setiap saat.

Kasus pertolongan oleh binatang buas yang tak lazim tersebut bisa dilihat sebagai kemuliaan (karomah) dari Tuhan atas kesungguhan Abu Hamzah al-Khurasani dalam bersabar dan berpasrah diri secara penuh kepada-Nya. (Mahbib)

Haedar Nashir

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Berita, Hikmah Haedar Nashir