Selasa, 29 Agustus 2017

PMII Sampang Bantu Korban Banjir

Sampang, Haedar Nashir. Pengurus Cabang Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Kabupaten Sampang, Jawa Timur, prihatin dengan bencana banjir yang merendam rumah warga. Seperti aksi-aksi sebelumnya, Sabtu (21/12), para aktivis PMII membagikan sejumlah makanan untuk para korban.

Selain nasi bungkus, mereka juga membagi-bagikan mie instan yang menjadi kebutuhan korban banjir di wilayah pedesaan. Aksi sosial ini berlangsung di  tiga titik lokasi, yaitu Desa Kemuning, Desa Pandiyan dan Desa Panggung.

PMII Sampang Bantu Korban Banjir (Sumber Gambar : Nu Online)
PMII Sampang Bantu Korban Banjir (Sumber Gambar : Nu Online)

PMII Sampang Bantu Korban Banjir

Abdullah (45), salah satu korban banjir, mengaku sangat gembira dan bersyukur atas bantuan dari para aktivis PMII. "Kami merasa terbantu dengan bantuan yg berharga ini,” katanya.

Haedar Nashir

Menurut dia, musibah banjir yang menimpanya Jumat kemarin telah melenyapkan bahan makanan sehingga keluarganya tidak bisa memasak.

Ketua PC PMII Sampang Syaifullah mengatakan, pihaknya terus berupaya untuk senantiasa berada di garda depan dalam aksi kepedulian sosial.

Haedar Nashir

"Sudah menjadi kewajiban manusia untuk saling tolong menolong, walau dengan dana seadanya hasil urunan para kader. Kami tidak akan pernah diam untuk bahu membahu meringankan beban korban banjir," tandasnya. (Agus Wedi/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Pesantren Haedar Nashir

Senin, 28 Agustus 2017

Pelatihan Pelatih Silat Tingkat Nasional Dimulai

Sleman, Haedar Nashir. Pelatihan Pelatih Tingkat Nasional Pencak Silat Nahdhatul Ulama (PSNU) Pagar Nusa resmi dibuka, Senin (03/03). Pelatihan akan berlangsung selama tujuh hari ke depan (3-9/3), di Gedung Youth Centre Tlogoadi, Mlati, Sleman, DI Yogyakarta.

Acara tersebut dibuka Majelis Pendekar Pencak Silat PSNU Pagar Nusa, yang diwakili oleh Zainal. Sebelum membuka, Zainal menyampaikan mengapa pelatihan tersebut perlu diadakan.

Pelatihan Pelatih Silat Tingkat Nasional Dimulai (Sumber Gambar : Nu Online)
Pelatihan Pelatih Silat Tingkat Nasional Dimulai (Sumber Gambar : Nu Online)

Pelatihan Pelatih Silat Tingkat Nasional Dimulai

Pihaknya mengatakan bahwa salah satu hal utama adalah karena masalah penyeragaman gerakan dasar yang harus sesuai dengan buku panduan. “Sebab selama ini belum ada yang sama antara daerah satu dengan yang lain,” ujarnya.

Haedar Nashir

Berdasarkan penuturan ketua panitia, M. Roghib, acara pelatihan pelatih nasional ini diikuti oleh sekitar 70 peserta yang merupakan delegasi dari berbagai daerah, seperti Jawa Timur, Jawa Tengah, Jawa Barat, DI Yogyakarta, Sumatra Barat, Riau, Kalimantan Timur, Sulawesi Utara, dan sebagainya.

Haedar Nashir

Hadir dalam kesempatan itu beberapa tamu undangan, seperti PCNU Sleman, Polres Sleman, TNI, Pimpinan Wilayah PSNU Pagar Nusa DIY, Pimpinan Pusat PS NU Pagar Nusa, dan sejumlah undangan lain, termasuk pendiri PSNU Pagar Nusa.

Acara pun tampak meriah dengan penampilan group hadrah PMII Ashram Bangsa dan sejumlah atraksi dari PSNU Pagar Nusa. Keduanya berasal dari UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta.

Sebelumnya, dikatakan bahwa acara pelatihan pelatih ini merupakan salah satu rangkaian kegiatan peringatan Harlah Ke-28 Pagar Nusa, dan telah didahului oleh beberapa kegiatan lain. Seperti bedah buku, silaturrahmi majelis pendekar Pagar Nusa, dan puncak peringatan Harlah yang berlangsung di Cibinong, Jawa Barat.

Pelatihan tersebut merupakan salah satu rangkaian dari peringatan hari lahir (Harlah) Pagar Nusa yang jatuh pada tanggal 3 Januari. (Dwi Khoirotun Nisa’/Abdullah Alawi)

.

? ? ?

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir AlaSantri, Warta, Nasional Haedar Nashir

Mensos Berikan Bantuan Uang kepada Keluarga Korban Perahu Terbalik

Sidoarjo, Haedar Nashir - Menjelang Hari Raya Idul Fitri 1438 H, Menteri Sosial Hj Khofifah Indar Parawansa memberikan bantuan berupa uang senilai Rp.15 juta yang diberikan kepada 8 orang keluarga korban bencana perahu terbalik yang menelan korban jiwa, yang terjadi di Desa Bogem Pinggir Kecamatan Balongbendo Sidoarjo, 13 April lalu.

Bantuan ini diberikan oleh Khofifah kepada keluarga korban bencana di Pendopo Delta Wibawa Kabupaten Sidoarjo, Jumat (23/6) malam dengan didampingi Bupati Sidoarjo, Wakil Bupati Sidoarjo, Kapolresta Sidoarjo, Kepala Dinas Sosial Gresik dan Kepala Dinas Sosial Mojokerta serta jajaran Dinas Sosial Sidoarjo.

Mensos Berikan Bantuan Uang kepada Keluarga Korban Perahu Terbalik (Sumber Gambar : Nu Online)
Mensos Berikan Bantuan Uang kepada Keluarga Korban Perahu Terbalik (Sumber Gambar : Nu Online)

Mensos Berikan Bantuan Uang kepada Keluarga Korban Perahu Terbalik

"Dengan waktu yang sangat singkat, akhirnya bantuan ini segera cair sehingga bisa kami bagikan. Awalnya memang Bupati Sidoarjo cerita kalau keluarga korban mendapatkan bantuan uang senilai Rp.3 juta dari APBD dan harus SK Bupati," kata Hj Khofifah yang juga Ketua Umum PP Muslimat NU itu menirukan cerita Bupati.

Para keluarga korban yang menerima bantuan itu di antaranya Kusnari warga Gagang Kepuhsari Balongbendo, Nur Kholis dan Choirun Nisa warga Desa Bangkalan Wringinpitu Kecamatan Balongbendo, Suriasih dan Misah warga Kalimati Kecamatan Tarik. Selain itu, ada dua orang lainnya, yaitu Ujang warga Desa Wringin Anom Gresik dan Rozikin warga Mojosari Mojokerto.

Haedar Nashir

Bantuan uang total sebesar Rp.120 juta diberikan kepada delapan orang. Masing-masing dari mereka menerima sebesar Rp.15 juta.

Insiden perahu penyeberangan yang terbalik diduga kelebihan muatan itu terjadi di Desa Bogem Pinggir Kecamatan Balongbendo Sidoarjo pada 13 April lalu. Saat itu, perahu sedang menyeberangkan 11 hingga 12 orang dan 7 motor. Diduga kelebihan muatan, akhirnya perahu terbalik dan menelan korban jiwa. (Moh Kholidun/Alhafiz K)

Haedar Nashir

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Hadits Haedar Nashir

Raden Fattah Sebarkan Islam yang “Rahmatan lil Alamin”

Demak, Haedar Nashir. Haul Agung ke-509 Kanjeng Sultan Raden Abdul Fattah Al-Akbar Sayyidin Panotogomo memasuki acara puncaknya, Sabtu (5/4) kemarin dengan mengadakan tahlil akbar dan pengajian umum di depan Masjid Agung Demak sampai ke alun alun.

Hadir dan tampak di panggung kehormatan yang sangat besar dan megah itu Gubernur Jawa Tengah, H Bibit Waluyo, Kakanwil Kemenag Jateng H Imam Khurmain, Wakil Bupati Demak H Dachirin Sa’id, Ketua DPRD Demak H Muchlasin Daenuri beserta Muspida, ketua MUI Demak KH Moh. Asyiq, puluhan habaib, ulama dan kiai.

Raden Fattah Sebarkan Islam yang “Rahmatan lil Alamin” (Sumber Gambar : Nu Online)
Raden Fattah Sebarkan Islam yang “Rahmatan lil Alamin” (Sumber Gambar : Nu Online)

Raden Fattah Sebarkan Islam yang “Rahmatan lil Alamin”

Dalam tausiyahnya KH Ahmad Khalwani menyampaikan sejarah dan keteladanan Kanjeng Sultan Raden Abdul Fattah Al-Akbar Sayyidin Panotogomo sebagai raja Islam pertama di pulau Jawa dalam mengembangkan Agama Islam melalui kekuasaanya yang didampingi wali songo.

Haedar Nashir

Kiai Khalwani menandaskan, Sultan Fattah dan Walisongo dalam menyebarkan agama Islam di tanah Jawa tidak menggunakan kekerasan dan paksaan namun dengan menggunakan adat kultur toleran dan kasih sayang. Ia menyebarkan Islam sebagai agama yang rahmatan lil ‘alamin, memberikan kedamaian untuk alam semesta. Karena itu dakwanya diterima umat yang pada waktu itu mayoritas beragama Hindu.

Haedar Nashir

“Dalam mengajak rakyatnya, Raden Fattah tidak memakai tombak, keris, pedang apalagi bom, padahal beliau itu kan raja bisa saja pakai kekuasaannya untuk menekan rakyatnya, justru sebaliknya Sultan Fattah dengan telaten syiar dengan adat istiadat, akhirnya bisa diterima dan masuk Islam,” tuturnya

Lebih lanjut Kiai Khalwani mengimbau agar umat Islam berterimakasih kepada Sultan Fattah yang telah berhasil mengislamkan rakyatnya. Cara berterimakasih dapat diwujudkan dengan  melanjutkan perjuangannya dengan prinsip saling menghormati sesama, toleran dan didasari kasih sayang.

“Sultan Demak yang didampingi Walisongo ini mewarisi sifat Nabi Muhammad SAW, santun, sopan, tapi justru mengena di hati rakyatnya sehingga bersedia masuk Islam dan asultan pun menguasai tanah Jawa. Maka tidak ada alasan jika kita berziarah ke Raja Islam dan wali ini dikatakan bid’ah,” tegasnya.

Redaktur     : A. Khoirul Anam

Kontributor : A.Shiddiq Sugiarto

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Budaya, Lomba Haedar Nashir

Berperan untuk Pemuda, Dua PAC GP Ansor Sukabumi Gelar PKD

Sukabumi, Haedar Nashir. Gerakan Pemuda Ansor Kecamatan Simpenan dan Pelabuhan Ratu, Kabupaten Sukabumi berupaya berperan di tengah-tengah masyarakat baik secara jam’iyah maupun jama’ah. Untuk peran tersebut, GP Ansor perlu meningkatkan kapasitas dan kreativitas pemuda, salah satunya melalui Pelatihan Kepemimpinan Dasar (PKD).

Dua GP Ansor yang bertetangga tersebut menggelar PKD untuk pertama kalinyaa di Pondok Pesantren Al-Hidayah Kampung Cihurang RT 3/8, Desa Cidadap, Kecamatan Simpenan pada (25/2) dengan tema Membentuk Pemuda Ansor yang Cerdas demi Kokohnya Persatuan Kebangsaan.?

Berperan untuk Pemuda, Dua PAC GP Ansor Sukabumi Gelar PKD (Sumber Gambar : Nu Online)
Berperan untuk Pemuda, Dua PAC GP Ansor Sukabumi Gelar PKD (Sumber Gambar : Nu Online)

Berperan untuk Pemuda, Dua PAC GP Ansor Sukabumi Gelar PKD

Menurut Ketua PAC GP Ansor Simpenan Tendi Satriadji berharap kegiatan itu menjadi titik awal kemajuan GP Ansor Kecamatan Simpenan dan Palabuhan Ratu dan bisa menjadi inspirasi dan motivasi bagi PAC lainnya.?

Saat ini, kata dia, di Simpenan dan Palabuhanratu, pemuda dari mulai berumur 17 tahun sudah mulai jauh dari pondok pesantren sehingga membaca dan memahami Al-Qur’an sangat rendah. Tak hanya itu, kepedulian mereka terhadap kegiatan hari hari besar keagamaan sangat minim.

“Kami sangat khawatir moral dan paradigmanya ini bisa terpengaruh dan terpancing dengan isu-isu yang berbau SARA dan menebar konflik mengatasnamakan Islam,” katanya kepada Haedar Nashir, Jumat (3/3).

Haedar Nashir

Berdasarkan kehawatiran ini, lanjutnya, sehingga kami mengambil sikap untuk meraih para pemuda dengan cara mengadakan Pelatihan Kepemimpinan Dasar ? yang ? dalam AD/ART Organisasi, yaitu sebagai tujuan organisasi menegakan ajaran Islam Ahlussunnah wal-Jama’ah. (Sofyan Syarif/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir

Haedar Nashir RMI NU, Humor Islam Haedar Nashir

Sabtu, 26 Agustus 2017

Menag Sayangkan Studi Hadist di Indonesia Masih Langka

Tangerang Selatan, Haedar Nashir. Sebagai salah satu cabang utama ilmu keislaman, studi dan pengajaran hadits relatif tertinggal dibandingkan dengan studi Al-Quran, pengajaran fiqh, dan studi tentang tauhid dan tasawuf. Bisa dikatakan bahwa studi hadits di Indonesia relatif marjinal, kalau tidak dikatakan sangat langka. 

Menag Sayangkan Studi Hadist di Indonesia Masih Langka (Sumber Gambar : Nu Online)
Menag Sayangkan Studi Hadist di Indonesia Masih Langka (Sumber Gambar : Nu Online)

Menag Sayangkan Studi Hadist di Indonesia Masih Langka

Demikian disampaikan Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin saat Wisuda Sarjana ke-13 Darus Sunnah International Institute for Hadits Science di Ciputat-Tangerang Selatan, Sabtu (6/6). Selain Pimpinan Darus Sunnah Ali Musthafa Yaqub, hadir pula Rektor UIN Jakarta Dede Rosada seperti dilansir oleh situs kemenag.go.id.

“Kondisi ini terjadi baik di pesantren, madrasah, diniyah maupun perguruan tinggi. Dari sekitar 16.000 lembaga, pesantren yang mendalami studi hadits dapat dihitung dengan jari,” kata Menag.

Haedar Nashir

Dikatakan Menag, pada umumnya pembelajaran hadits di pesantren bukan sebagai ilmu, tetapi lebih banyak mempelajari matan atau periwayatan hadits (sanad) sebagai bagian dari bayan (penjelas) dalam kajian Al-Quran atau tafsir. Metode yang digunakan pun sama dengan pengajaran fiqh, yakni sorogan atau bandongan.

“Hanya ada satu dua pesantren yang secara khusus mengajarkan dan mempelajari hadits sebagai ilmu dan salah satu dari pesantren itu adalah Darus Sunnah,” ucap Menag.

Haedar Nashir

Ditambahkan Menag, kita sebenarnya berharap dari institusi formal Perguruan Tinggi Islam seperti UIN, IAIN, STAIN atau universitas-universitas islam lainnya dalam kajian hadits. Perguruan tinggi Islam ini sebenarnya memiliki sumberdaya ahli hadits, program studi tafsir hadits di fakultas/jurusan ushuluddin, perpustakaan yang memadai, dan koleksi kitab-kitan hadits standar, disamping sistem pembelajarannya yang menekankan berpikir secara kritis dalam kajian Islam dibandingkan pesantren.

“Namun harapan itu tidak sepenuhnya tercapai, karena kajian hadits di perguruan tinggi Islam tampaknya juga masih belum berkembang secara maksimal,” ujar Menag.

Menurut pandangan Menag, program studi tafir hadits yang ada lebih menekankan kajian tafsirnya dibandingkan hadits, sehingga tetap marjinal. Meskipun sudah dibuka kemungkinan memisahkan stusi hadits tersendiri, belum ada perguruan tinggi Islam yang mengkhususkan diri sebagai lembaga kajian hadits.

“Hal ini jauh tertinggal dengan program studi yang populer, seperti pendidikan agama Islam, ekonomi, syariah, penyiaran Islam, atau justru ilmu-ilmu non-keislaman yang tidak merupakan mandat utama perguruan tinggi Islam seperti matematika, bilogi, fisika, kedokteran dan lainnya,” terang Menag.

Menurut Menag, hal ini sebenarnya ironi, karena hadits merupakan sumber otoritatif kedua dalam pengajaran Islam setelah Al-Quran. Disamping fungsi hadits sebagai bayan atau penjelas terhadap ayat-ayat Al-Quran, seluruh ajaran, nilai, dan sendi-sendi keislaman berdasarkan atau bersumber pada sunnah qawliyah, fi’liyah, dan taqririyah baginda Rasulullah SAW. 

“Karena itu, memahami hadits secara benar dan tepat adalah kemestian dalam memahami Al-Quran,” tandas Menag. (mukafi niam).

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir News Haedar Nashir

Kamis, 24 Agustus 2017

LTMNU Bogor Prihatin dengan Kondisi Masjid

Bogor, Haedar Nashir. Pengurus Cabang Lembaga Takmir Masjid Nahdlatu Ulama (PC LTMNU) se-wilayah Bogor (Kabupaten Cianjur, Kabupaten Sukabumi, Kota Sukabumi, Kota Bogor, Kabupaten Bogor dan Kota Depok) mengadakan silaturahim dan konsolidasi.

LTMNU Bogor Prihatin dengan Kondisi Masjid (Sumber Gambar : Nu Online)
LTMNU Bogor Prihatin dengan Kondisi Masjid (Sumber Gambar : Nu Online)

LTMNU Bogor Prihatin dengan Kondisi Masjid

Acara ini dalam rangka menjawab keluhan warga ahlusunnah waljamaah (Aswaja) yang belakangan banyak diganggu oleh kelompok lain, bertempat di Kantor PCNU Kabupaten Bogor Jl.bina Citra No.5 Kp.Cipayung Kelurahan Tengah kecamatan Cibinong.

Hadir KH Abdul Manan Ghoni, Ketua PP LTMNU, KH Suaedy, wakil ketua Lembaga Perekonomian Nahdlatu Ulama (PP LPNU), pengurus cabang NU dan Pengurus Lembaga Takmir Masjid NU se-korwil Bogor.

 

Haedar Nashir

KH Abdul Manan, mengatakan; masjid jangan hanya dibangun megah-megah tapi sepi dari jamaah. Sepinya warga yang berjamaah, menurutnya dikarenakan beberapa hal, di antaranya; pembangunan masjid hanya mempertimbangkan kemegahan fisiknya. Oleh karena itu ia menegaskan kepada seluruh pengurus lembaga takmir masjid, agar ikut memikirkan persoalan ummat. Kita harus siap menjadi pemimpin sekaligus khadimul ummah (pembantu ummat), baik dalam pencerahan keagamaan dan problem-problem yang dihadapi jamaah.

Haedar Nashir

Adapun ancaman dari kelompok lain, tidak perlu dirisaukan karena nantinya jamaah akan tahu sendiri siapa yang lebih pantas untuk menyampaikan agama. Sebab belakangan ini masyarakat sudah sadar untuk menanyakan segala sesuatunya pada ahlinya. Jika tanya soal mesin pasti ke bengkel, begitu juga tanya agama, masyarakat sudah sadar pasti tanya pada orang yang pernah di pesantren.

Di sisi lain, Takmir masjid harus memperhatikan kesejahteraan ummat. Meminjam Istilah Kiai Masdar Farid Masudi, Rais Syuriyah PBNU, takmir masjid harus bisa menjadikan masjid sebagai spirit kesejahteraan dan kesalehan sosial. Dari rumah (masjid)-Nya kita makmurkan bumi-Nya, imbuhnya.

Sementara Kiai Suaedy mengatakan; kedepan masjid harus mempunyai koperasi tersendiri agar menjauhkan jamaahnya dari pinjaman pasukan rentenir yang dapat mencekik perekonomian keluarga. Dengan adanya koperasi yang dikelola tiap masjid nanti kita dapat membantu mengkoordinasi pemasaran hasil produksi jamaah antara masjid satu dengan masjid yang lain, bahkan masjid antar daerah dan propinsi lain. Dengan usaha ini masjid nantinya tidak perlu lagi meminta-minta sumbangan di tengah jalan. Bahkan dengan adanya koperasi masjid nanti dapat memberikan bantuan-bantuan kepada warga yang kurang mampu, baik untuk beasiswa pendidikan, kesehatan dll.

Kiai Romdon berterimakasih di datangi banyak kiai dan berharap menjadi berkah buat PCNU dan warga Bogor pada umumnya. Ketika ditanya bagaimana persoalan masjid, ia mengatakan keresahan jamaah ahlu sunnah waljamaah terutama di wilayah Bogor dan sekitarnya saat ini sama, yaitu ada aliran-aliran Islam yang berbeda dengan yang sudah berjalan saat ini.

“Tapi, saya sudah menghimbau kepada seluruh Pengurus LTMNU dan LDNU Kabupaten Bogor untuk mengajak dialog dengan baik dengan mereka yang berbeda. Prinsipnya persoalan agama harus kembali kepada al-Quran, Hadist dan ilmunya para sahabat serta ulama. Dalam konteks sekarang yang banyak bermunculan aliran-aliran Islam, mau tidak mau harus kembali pada ulama. Karena mereka adalah pewaris para Nabi (al-Ulama warastatu al—anbiya),”

Sementara Ahsan Ustadzi, sekretaris PCNU Kab. Bogor menghendaki agar silaturahim antar pengurus LTMNU se-wilayah Bogor dapat diagendakan bulanan. Sehingga problem yang dihadapi masyarakat dapat segera terjawab dengan baik. Sebagai ummat Islam tentu tidak dapat dipisahkan dengan masjid sehingga tanpa diundangpun warga masyarakat sudah berduyun-duyun ke masjid. Dengan demikian, masjid tetap menjadi tempat yang paling strategis untuk pengembangan kemaslahatan dan kesejahteraan ummat.

Redaktur: Mukafi Niam

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Sejarah, Doa Haedar Nashir